Ini Dia Yang Bikin OHARA Kali Ini Beda Dengan Yang Sebelumnya!

Sob, kamu pasti sering melihat kuis untuk mencari lima perbedaan seperti gambar di bawah ini

beda

Sekilas, mata kamu pasti “berkata” bahwa kedua gambar di atas itu sama. Tapi ternyata berbeda jika dilihat dengan seksama. Nah, sama banget dengan OHARA tahun ini Sob, sekilas kelihatan sama dengan OHARA yang sudah-sudah, padahal ada beberapa hal yang ternyata beda. Hmmm coba bisa kamu tebak tak?

MC (Master of Ceremony)

Kalau yang satu ini kayaknya sudah bisa kamu tebak, ya kan Sob? Setiap tahunnya kami menampilkan MC yang  berasal dari kelas  teratas sob, itu artinya di OHARA tahun mendatang MC itu sudah lulus dan gak ikutan bareng kita lagi sob. Oleh sebab itulah, MC kondang kita senantiasa berubah, selain itu ya biar kamu gak bosan ngeliatin MC yang samaaaa mulu padahal kan tahun saja berubah, masa iya sih MC-nya gak diubah.

Lomba-Lomba

Yang satu ini mulai sulit ditebak nih, ya LOMBA. Di tahun 2017 ini, kami mengusung jumlah lomba yang sama seperti tahun yang lalu, tujuh mata lomba. Hanya saja  jenis  lombanya beda Sob. Tahun ini kami menghadirkan Social Experiment khusus huat buat kamu yang suka dengan dunia videografi dan melihat fenomena sosial. Satu lomba lagi yakni Lomba Esai, lomba ini dikhususkan bagi kamu yang gemar menulis tentang apapun terkait kondisi bangsa atau fenomena budaya kekinian saat ini.

Alamat web, Tema, Desain

Kali ini tiga kategori kita satukan aja ya sob, biar tulisan ini gak kepanjangan dan hanya bikin kamu bosan nantinya. Mari kita bahas satu persatu, Alamat Web? Ada apa dengan alamat? Ya tentu saja beda sob, kalo tahun lalu kamu akrab dengan alamat olimpiadehumaniora.com maka tahun ini kamu akan “dipaksa” akrab dengan  ohara.smartekselensia.net. Kalau kamu hilangkan kata OHARA dan titik setelahnya, maka kamu akan singgah di laman web sekolah kami (Kudu mampir ya, awas saja kalo gak mampir hihi)

Tema, yang satu ini tentunya harus disegarkan kembali tiap tahunnya. Ya jelas dong, secara kan tiap tahun kami harus menampilkan sesuatu yang beda dan lebih baik. Nah, untuk itulah kami hadirkan tema yang baru yang gak kalah seru, “Tebar Indahnya Budaya Negeri” Diharapkan, kamu, iya kamu, tak hanya sekadar cinta di mulut saja sama negeri kita ini, tapi harus bisa dibuktikan dengan tindakan dan menyebarkan indahnya budaya negeri ini ke seantero dunia..

Yang terakhir, Desain. Yang satu ini tiap tahun yang memang harus diubah, memangnya ada ya yang mau melihat poster itu mulu dari tahun ke tahun? Tapi, maksud kami bukan perbedaan desainnya yang udah pasti beda itu, maksudnya nuansanya yang beda. Kamu akan disuguhi desain yang lebih modern dan SEGAR wuiiih.

Itu dia Sob, sedikit hal yang membedakan OHARA yang kali ini dengan yang sudah-sudah. Seperti yang telah disebutkan kalau kamu liat sekilas  ya OHARA sama aja, maka dari itu kamu perlu datang dan melihat dengan jelas apa yang beda dengan OHARA tahun ini dengan OHARA yang pernah kamu ikuti di tahun sebelumnya. Makanya yuk segera daftarkan dirimu!

Bahkan, Para Sahabat yang Mulia Itupun Pernah Bersitegang

Oleh: Syafei Al Bantanie
GM SMART Ekselensia Indonesia

Kisah ini ditulis dengan indah dalam Sirah Nabawiyah. Kisah yang membuat saya semakin cinta dengan agama ini (Islam), baginda Nabi tercinta, dan para sahabat mulia.

Satu hari, sebakda melakukan perjalanan panjang nan melelahkan, Rasulullah dan para sahabat singgah di sebuah tempat. Haus terasa mencekik. Maklum saat itu tengah musim panas dengan teriknya.

Beberapa sahabat Anshar segera mengambil air. Pun dengan beberapa sahabat Muhajirin. Di tengah perjalanan mengambil air, karena lelah yang sangat, sahabat Anshar bertabrakan dengan sahabat Muhajirin. Tumpahlah air masing-masing. Terjadi ketegangan mulut di antara mereka.

Mengetahui ketegangan yang terjadi, apa yang dilakukan sahabat-sahabat senior? Sebuah demonstrasi kualitas individu dan akhlak mulia. Sahabat Umar bin Khattab tidak menunjukkan ego sektoralnya dengan membela Muhajirin. Pun dengan sahabat Sa’ad bin Muadz tidak menampilkan ego sektoralnya dengan mendukung Anshar.

Sahabat-sahabat senior itu dengan kata-kata penuh hikmahnya berupaya mengingatkan tentang persaudaraan di antara mereka. Tentang ukhuwah yang telah terajut mesra.

Yang paling memikat hati adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Baginda Rasul menyerukan agar perjalanan segera dilanjutkan agar cepat sampai Madinah. Ada apa dengan Madinah?

Rupanya baginda Rasul ingin membangkitkan memori indah para sahabatnya. Madinah adalah rumah bersama. Di Madinah mereka merajut persaudaraan yang indah. Kualitas persaudaraan yang hanya ada dalam Islam. Sebagaimana, dilukiskan dengan memesona dalam QS. Al-Hasyr ayat 8-10. Mereka, Muhajirin dan Anshar, saling mencintai, mengutamakan saudaranya, dan sama sekali tiada dengki di antara mereka.

Begitu sampai Madinah. Baginda Rasul mengingatkan tentang memori indah persaudaraan para sahabat. Detail dengan sudut-sudut di Madinah yang menjadi saksi bisu betapa indahnya persaudaraan mereka. Para sahabat pun mengharu biru. Mereka yang bersitegang itu saling berpelukan satu sama lain. Mereka saling meminta maaf. Ah, indah sekali. Indah…

Bersaudara sesama muslim memang bukan berarti tiada perselisihan di dalamnya. Bukankah dalam QS. Al-Hujurat ayat 9, sebakda menegaskan Mukmin itu bersaudara, lanjutan ayatnya adalah, “…maka damaikanlah di antara saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Inilah indahnya persaudaraan sesama muslim. Ketegangan dan perselisihan di antara mereka tetap dalam bingkai ukhuwah. Justru hal ini kemudian membuat mereka lebih saling memahami, mengerti, dan menyayangi satu sama lain.

Semoga Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim mengumpulkan kita kembali di surga Firdaus bersama baginda tercinta Nabi Muhammad saw., keluarga, dan para sahabat mulia.

Pulang

Merdu-merdu sayup di telinga,

merah nyalang yang tak padam
menjadi baris kesekian,
untuk pulang untuk waktu,
tanpa lagu

Sebab waktu bukan lagu
yang dapat kau putar ulang,
ada yang hilang mereka bilang,
kata-kata di atas kertas tak lagi sumbang,
degup di jantung tak lagi rumpang,
nyawa di setiap napas tak lagi hilang,

“Karena kau datang”,

Bersama cerita di pintu senja
kita bermain kata,
satu, dua
lalu tertawa,

“Lalu apa?”

Kita bukan sekadar cerita-fiksi yang nyata,
karena mata sudah dapat berbicara:
aksara kita sama makna,

“Boleh aku masuk sekarang?”

—Di sini dingin

(Depok, 2017, Nadhif Putra Widiansah)

Menolong itu Investasi

Oleh: Syafei Al-Bantanie
GM SMART Ekselensia Indonesia

“Menolong layaknya sebuah investasi yang sangat menguntungkan. Kita akan memanennya disaat yang tepat.”

Alkisah, seorang ibu tua terlihat bingung di tepi sebuah jalan yang masih sepi. Mobil itu mogok. Ia tidak tahu harus berbuat apa karena ia tidak mengerti mesin mobil. Saat itu, seorang lelaki muda melintas di jalan itu mengendarai sepeda motor. Ia berhenti tepat di sebelah si ibu. Lelaki muda itu menawarkan bantuannya untuk mengecek mobil. Si ibu mempersilakan dengan senang hati.

Lelaki muda itu membuka kap mobil, mengutak-ngatik kabel-kabel di dalamnya. Kemudian, ia juga tak sungkan untuk masuk ke kolong mobil. Mungkin ada bagian yang harus dibetulkan. Kurang lebih 30 menit, lelaki muda itu mencoba membetulkan mobil si ibu.

“Sudah selesai. Silakan coba nyalakan mesinnya,” ujar si lelaki muda.

Si ibu menyalakan stater, dan suara mesin mobil mulai menyala. Alhamdulillaah, mobil itu sudah bisa berjalan kembali. Si ibu tampak gembira. Ia membuka dompetnya dan mengambil beberapa lembar rupiah. Si ibu menyerahkannya ke lelaki muda itu sambil berucap terima kasih.

“Maaf ibu, saya tidak bisa menerimanya,” tegas lelaki itu.

“Mengapa? Anda sudah menolong saya. Ini ungkapan terima kasih saya kepada Anda,” terang si Ibu.

“Maaf ibu, bagi saya menolong bukanlah suatu pekerjaan. Karena itu, saya tidak berhak menerima imbalan. Kalau ibu ingin berterima kasih kepada saya, silakan Ibu tolong orang lain yang membutuhkan pertolongan,” terang si lelaki muda.

“Baiklah kalau begitu. Tapi siapa namamu?”

“Namaku Ihsan.”

Si Ibu berpamitan sambil mengucapkan terima kasih. Mobil bergerak meninggalkan lelaki muda itu.

Di tengah perjalanan, si ibu singgah di sebuah kedai. Ia memesan makanan dan minuman. Seorang perempuan yang tengah hamil dengan sigap menyiapkan pesanan si Ibu. Melihat perempuan muda yang tengah hamil itu, si Ibu teringat dengan kata-kata Ihsan, “Kalau Ibu ingin berterima kasih kepada saya, silakan Ibu tolong orang lain yang membutuhkan pertolongan.”

Usai makan dan minum, si Ibu meminta bon. Ketika pelayan perempuan muda itu sedang membuatkan bon, si Ibu pergi tanpa diketahui pelayan perempuan itu. Pelayan perempuan itu menghampiri meja si Ibu. Ia bingung karena tidak mendapati si Ibu di mejanya. Di mejanya tergeletak secarik kertas dan uang yang cukup banyak.

Surat itu tertulis, “Di perjalanan, mobilku mogok. Ada seorang lelaki muda bernama Ihsan yang berbaik hati membetulkan mobilku. Akan tetapi, ia tidak mau menerima imbalan dariku. Ia meminta saya untuk menolong orang lain sebagai imbalannya. Aku melihat kau sedang hamil. Aku ingin membantu biaya persalinan anakmu nanti. Aku tinggalkan uang ini sebagai pembayaran makanan dan minumanku. Sisanya ambillah untuk biaya persalinan anakmu. Semoga kau berbahagia dengan suami dan anakmu.”

Perempuan muda itu berkaca-kaca membaca surat si Ibu. Sore hari, perempuan itu pulang ke rumahnya. Bertemu sang suami yang dicintainya. Malam harinya, saat si suami tertidur pulas karena lelah bekerja, si perempuan itu mengusap kepala suaminya sambil berbisik, “Mas Ihsan, kau tidak usah merisaukan biaya persalinan untuk anak kita. Keikhlasanmu menolong orang lain telah berbuah kebaikan untuk kita.”

***

Betapa indahnya hidup ini jika kita saling menolong satu sama lain. Menolong atas dasar keikhlasan bukan karena ada tujuan dibaliknya. Meski orang yang kita tolong tidak atau belum bisa membalas kebaikan kita, tetapi yakinlah Allah pasti menggerakan tangan-tangan lain untuk menolong kita saat kita membutuhkan pertolongan.

Satu kebaikan kecil bisa berarti besar bagi orang yang membutuhkan. Saya teringat kisah yang diceritakan teman saya. Ia bercerita tentang seorang supir angkot yang masih muda. Disaat jam kerja angkot-angkot berlomba-lomba mencari penumpang untuk mengejar setoran.

Ketika itu, ada seorang Ibu dengan tiga anaknya berdiri di tepian jalan. Setiap angkot yang lewat disetopnya, angkot itu berhenti sejenak, lalu jalan kembali. Tibalah angkot yang disupiri oleh pemuda ini yang distop oleh si Ibu.

“Mas, angkot ini sampe terminal bis ya?” tanya si Ibu.

“Iya, Bu,” jawab supir angkot.

“Tapi, saya tidak punya uang untuk bayar ongkosnya,” ujar si Ibu jujur.

“Nggak apa-apa, Bu. Ayo, naiklah,” sahut pemuda supir angkot.

Si Ibu dan tiga anaknya pun naik. Disaat supir angkot lain berebut penumpang untuk mengejar setoran, pemuda supir angkot ini malah merelakan empat kursi untuk Ibu dan tiga anaknya.

Saat sampai terminal, para penumpang turun juga si Ibu dan tiga anaknya. Ibu ini berucap terima kasih pada si pemuda supir angkot itu. Ada penumpang seorang bapak yang juga turun dan menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah. Pemuda supir angkot itu memberikan kembalian enam belas ribu rupiah, namun bapak itu menolaknya.

“Ambil saja kembaliannya. Itu untuk ongkos Ibu dan tiga anaknya tadi. Dik, terus berbuat baik, ya,” pesan si Bapak itu pada pemuda supir angkot.

Lihatlah, betapa indah hidup saling tolong-menolong. Andaikan separuh saja penduduk bumi ini berpikir untuk menolong oranglain, maka akan damailah dunia ini. Karena itu, mari kita saling membantu dan menolong satu sama lain. Kita adalah saudara. Saudara itu laksana satu tubuh. Jika satu bagian tubuh merasakan sakit, maka bagian lain ikut merasakannya. Kemudian, sama-sama memulihkan bagian tubuh yang sakit itu.

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim).

Mutiara Hitam, Generasi Y dan Generasi Z

Oleh: Zealandia Sarah

Penerima Manfaat BAKTI NUSA 6 Yogyakarta

 

Setiap pemimpin memiliki masa, dan tiap masa ada pemimpinnya”

Tiap generasi memiliki kekhasannya sendiri, kekhasan yang dibentuk oleh zamannya. Karl Mannheim dalam essai yang ditulisnya pada 1923 “The Problem of Generations” menjelaskan bahwa  sejarah, budaya, dan kondisi politik membentuk generasi muda pada waktu tersebut. Menurut teori karl Mannheim atau biasa dikenal dengan Generation Theory terdapat 5 generasi yang lahir pasca perang dunia II; Baby Boomer, generasi X, generasi Y, generasi  Z, dan generasi Alpha. Tiap generasi tersebut memilki sifat dan kekhasan tersendiri yang terbentuk dari adanya perang dunia II, generasi di Indonesia pun tak luput dari efek perang dunia II ini.

Generasi Baby boomer yang lahir pada tahun 1946-1964 atau yang kira-kira saat ini berusia merupakan generasi awal setelah PD II berakhir, generasi yang  adaptif dengan banyak pengalaman hidup. Generasi baby boomer di Indonesia lahir pasca kemerdekaan, dimana masa-masa tersebut masih awal berdirinya bangsa ini, mereka adalah saksi dan pelaku sejarah dari proses pembentukan awal negara ini, tentunya pengalaman melawan penjajah pasca kemerdekaan seperti agresi militer dan konferensi Asia Afrika . Generasi selanjutnya, yaitu generasi X yang lahir pada tahun 1965-1980 atau yang saat ini berusia 50-an sampai 36. Generasi X menjadi saksi sejarah masa-masa labil pemerintahan, dimana beberapa peristiwa besar terjadi di saat mereka remaja, salah satunya krisis moneter pada zaman pemerintahan Sohearto yang berakhir pada penggulingan kekuasaannya selama 30 tahun. Generasi Y yang lahir pada tahun 1981-1994 atau biasa disebut generasi milenial menjadi generasi awal penggunaan internet, generasi inilah yang saat ini masuk usia produktif di Indonesia. Generasi yang mengalami awal globaliasi ini mulai merasakan bounderless antar negara. Perkembangan internet yang mampu melewati batas antar negara menjadi pemicunya. Generasi Z atau yang lahir pada tahun 1995 hingga 2010, dimana berusia awal 20an dan bangku sekolah menjadi generasi yang sudah kenal dengan internet. Bahkan terdapat ungkapan untuk menandakan generasi gawai ini “generasi menunduk” dimana setiap saat yang dipegang adalah gawai berkoneksi internet.

Perbedaan karakteristik masing-masing generasi tentu membutuhkan pemimpin yang mampu memahami kebutuhan tiap generasi yang dipimpinnya, berbagai macam pendekatan tentu perlu diupayakan. Misalnya, untuk saat ini, dimana dunia maya sudah menjadi setengah dari kehidupan masyarakat, tipe kepemimpinan yang dibutuhkan tentu berbeda dengan masa sebelumnya. Sosok pemimpin yang dekat, mengayomi, gerak cepat lebih disukai dibanding tipe pemimpin yang banyak berorasi.

Tetapi sedikit berbeda ketika bertemu dengan generasi muda suatu pulau bernama Kolorai. Pulau yang berpenghuni hanya sekitar 200 penduduk ini dan termasuk pulau terluar Indonesia, meski masuk kedalam generasi X sampai Z yang identik dengan kemajuan teknologi, pemuda di Kolorai sedikit tertinggal dengan mereka yang tinggal di Jawa. Berada di pulau ujung dari pulau Maluku yang mendapat julukan “Mutiara hitam“  menjadikan akses terhadap internet ataupun teknologi menjadi terhambat. Tentunya untuk ‘mengambil hati’ mereka butuh strategi sendiri-sendiri. Pengamatan di awal adalah hal yang saya lakukan sebelum bergaul dengan mereka. Mengamati cara berkomunikasi, kebiasaan, dan kehidupan sehari-hari adalah hal penting untuk mengetahui cara bergaul dengan mereka. Pemuda Kolorai, sebagian kecil sudah ada yang menempuh kuliah di pulau seberang, namun masih banyak pula yang menetap dan bekerja di pulau Kolorai menjadi nelayan. Mereka sebenarnya pemalu, apalagi berhadapan dengan oang Jawa. Minder. Begitu kata tetua di sini, mereka tidak PD dengan perbedaan tingkat pendidikan dengan kami anak Jawa. Sedikit sulit memang, namun tetap perlu dicoba.

Pendekatan untuk menjalin komunikasi dengan mereka dimulai dengan bertemu langsung, mengungkapkan maksud kedatangan kami ke pulau tersebut, bertemu langsung di dalam satu ruangan dan selanjutnya mengobrol menjadi lebih mudah. Mengikuti kegiatan keseharian mereka juga menjadi pendekatan yang cukup ampuh untuk menghilangkan sekat anak kota dan anak desa. Pemuda Kolorai suka berolahraga, berenang, voli, an sepakbola, perempuan dan laki-laki semuanya ahli bermain. Dari hal tersebut lah kami perlahan-lahan mulai menjadi bagian dari mereka. Masuklah pada tenggat program pengabdian dijalankan. Program yang dibuat sebelumnya harus mengalami banyak perubahan melihat berbedanya antara ekspektasi dengan kondisi sesungguhnya. Meskipun banyak berubah tetap keberlanjutan harus dipertahankan. Tentu hal itu tetap harus ada, mengingat keberadaan kami di sana hanya satu setengah bulan. Setelah tidak adanya kami, program tetap harus berlanjut. Pulau Kolorai pada tahun 2015 ditetapkan dinas pariwisata sebagai pilot project desa wisata di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Untuk mendukung program pemerintah ini, berbagai usaha kami lakukan, salah satunya adalah menyadarkan masyarakat akan tanggap bencana. Pariwisata yang terintegrasi tentunya butuh mekanisme evakuasi bencana yang baik untuk saat-saat genting, karena tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian bencana alam, khususnya, sering terjadi di wilayah teritori Indonesia. Berdasarkan peta bencana 2016 yang dikeluarkan oleh BNPB, pulau Kolorai masuk dalam zona rawan bencana tsunami. Bencana tsunami merupakan salah satu bencana yang tidak mudah untuk diprediksi, saat ini teknologi prediksi tsunami jarang ditemukan di Indonesia, hanya daerah-daerah tertentu saja yang memilikinya, dan sayangnya Kolorai bukan salah satu yang memilikinya. Oleh sebab itu, penyadaran tanggap bencana secara manual harus dilakukan, terlebih ketika daerah tersebut menjadi destinasi kedatangan wisatawan.

Melihat kondisi masyarakat setempat dan kondisi lingkungan seperti di atas, maka program sadar tanggap bencana dapat dilakukan di saat-saat terakhir. Masyarakat Kolorai lebih banyak didominasi dengan mereka yang berumur produktif. Pemuda Kolorai lebih senang untuk melihat langsung bukti daripada penjelasan panjang lebar, maka dari itu kami tunjukkan peta rawan bencana yang kami dapatkan dari laman BNPB, dari peta tersebut mereka menjadi paham keberadaan pulau mereka dan dengan hanya ditambah penjelasan kondisi fisik sedikit soal daerah mereka, mereka sudah paham mengenai tingkat rawan bencana daerah yang mereka tinggali. Ekskekusi selanjutnya adalah dengan membuat jalur evakuasi bencana. Pulau Kolorai yang kecil dan relatif datar sedikit menjadi kesulitan untuk menemukan lokasi yang pas untuk menjadi titik kumpul evakuasi warga ketika sewaktu-waktu bencana terjadi. Pemuda Kolorai akan senang ketika dilibatkan dalam sebuah penyelesaian masalah di tempatnya. Maka dari itu, kami melibatkan langsung mereka dalam penentuan jalur yang cepat dan efektif evakuasi. Dengan hanya penjelasan singkat tentang kriteria jalur evakuasi dan titik kumpul, mereka dengan cepat mampu menentukan jalan jalan yang sesuai. Dengan terlibatnya mereka langsung dalam pemecahan masalah, mereka menjadi merasa bagian penting bagi keberlanjutan program ini dan tentunya rasa tanggung jawab untuk menjadi garda terdepan dalam penyelamatan bencana tumbuh, sehingga tanpa perlu disuruh lagi mereka sudah paham untuk melaksanakan tanggap bencana.

Meski berbeda, jauh dari pembangunan bukan berarti tidak dapat berkembang. Menjadi pemimpin bukanlah perkara gampang, apalagi membangun jiwa pemimpin pada diri orang lain. Membangunnya bukan perkara yang sekedipan mata dapat langsung terwujud, perlu usaha, strategi yang apik dan pengenalan mendalam pada jiwa yang dibangun untuk dapat mewujudkannya. Dan tentu hal tersebut tidaklah secepat larinya Buroq. Pengamatan terhadap kunci-kunci pembangun dan sentuhan awal pada titik yang dibutuhkan adalah langkah yang cukup mampu menyingkat waktu pembentukan jiwa pemimpin. Kesensitifan hati dan ketajaman membaca lingkungan adalah keahlian yang perlu dimiliki untuk menjadi dan membentuk pemimpin berkarakter.

Furqan dan Impiannya Berkurban

furqan

Bukan hal mudah merantau di usia belia, selalu ada tantangan serta pergolakan dalam diri ketika memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga tercinta di kampung halaman. Namun berbeda dengan Muhammad Furqan, ia berkomitmen pada dirinya bahwa merantau dapat mengasah jiwa pekerja keras sekaligus menjadi sarana pengaktualisasian kemandirian dalam dirinya.

Saat ini Furqan, sapaan akrabnya, duduk di kelas 2A Sekolah Menengah Pertama (SMP) SMART Ekselensia Indonesia. Ia dilahirkan di Lubuk Alung, Sumatera Barat, pada 24 September 2003. Sekembalinya dari kampung halaman pada momen Pulang Kampung SMART Januari lalu Furqan memiliki tekad berkurban untuk ibunda tercinta. Karena menurutnya saat ini ia belum mampu untuk menghajikan ibunya, maka ia memilih alternatif lain yakni berkurban. Sejak saat itu ia mulai menabung, sedikit demi sedikit uang bulanan dari sekolah ia kumpulkan, namun ia merasa kalau hanya mengandalkan uang bulanan sekolah saja tak akan mungkin mengejar target berkurban bulan September nanti. Berbekal informasi dari para ustaz dan usatazah di sekolah ia mulai bergerilya membantu dua ustaz asrama berjualan makanan ringan.

Di usianya yang menginjak empat belas tahun, Furqan dikenal sebagai sosok pekerja keras, penuh semangat, dan tak pernah mengeluh. Selain berjualan, disela-sela kesibukannya ia juga menjadi relawan di Perpustakaan Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Setiap harinya Furqan mampu menghasilkan Rp 15.000,00 dari hasil menjajakan makanan ringan, ia berkelana dari satu asrama ke asrama lainnya menawarkan beragam penganan untuk dijual, menurut Furqan dalam hitungan menit jualannya pasti habis. “Per hari saya biasa menabung Rp 5000,00 sampai Rp 15.000,00; beruntung saya tak begitu suka jajan terlalu banyak sehingga bisa fokus mengelola keuangan pribadi,” tandasnya.

“Sulit”, adalah kata pertama yang Furqan ucapkan ketika ditanya bagaimana membagi waktu antara sekolah dan berdagang, apalagi Furqan masih tercatat sebagai seorang pelajar SMP dan juga seorang relawan. Kesibukan nan padat, tugas sekolah yang menumpuk serta kegiatan ekstrakulikuler kadang menjadi tantangan terbesar baginya. “Biasanya saya membawa serta Pekerjaan Rumah (PR) ketika berdagang, jadi ketika belum banyak pembeli saya bisa mengerjakan PR atau biasanya saya mengerjakan PR dulu baru berdagang,” ujarnya.

Furqan mengaku jika ibu di kampung halaman merupakan motivasi terbesarnya dalam berdagang, “Kalau lagi malas biasanya saya teringat ibu di rumah. Saya teringat betapa keras usaha ibu berdagang untuk membiayai hidup kami. Ibu adalah motivasi terbesar agar saya bisa bangkit dan tidak malas berlarut-larut,” tambahnya.

Berkat usaha kerasnya, Furqan akhirnya berhasil memenuhi impian besar dalam hidupnya yakni membeli kambing untuk dikurbankan September nanti. “Perasaan saya saat ini senang sekaligus sedih. Senang karena akhirnya bisa berkurban untuk ibu di kampung halaman, sedih karena ibu tidak ada di sini untuk menyaksikan sendiri kambing yang saya pilihkan untuknya,” ucapnya berkaca-kaca penuh haru.

Ia berpesan agar tak menjadikan ketidakmampuan sebagai alasan untuk tak berkurban, karena ketika sudah bertekad maka Allah akan membantu memenuhi niat baik tersebut. “Jangan lupa tekadkan niat tersebut untuk orang-orang tercinta karena ridho Allah ada pada ridho mereka,” tandasnya. (AR)

Membangun Semangat Baru Pertanian Menuju Indonesia Jaya

Membangun Semangat Baru Pertanian Menuju Indonesia Jaya

Oleh: Syahrizal, Kelas XII IPS

Makan dan minum merupakan aktivitas yang tidak pernah dilewati oleh manusia di dunia. Bagaimana tidak? Manusia membutuhkan nutrisi dengan melakukan aktivitas makan dan minum untuk memenuhi kebutuhan dan menjalankan segala kegiatan dengan optimal. Bahan makanan yang dimakan manusia dapat berasal dari mana saja, dari darat atau pun perairan.

Saat ini, di televisi ataupun media lainnya kita sering mendengar masalah mengenai pangan ataupun pertanian. Ada permasalahan mengenai daerah kekurangan makanan, bayi kurang gizi atau sawah di sejumlah daerah yang kekeringan dan terancam gagal panen. Hal ini mengisyaratkan bahwa pangan merupakan topik yang sangat krusial. Masalah pangan juga menjadi permasalahan utama di masyarakat karena kita tidak akan pernah luput darinya.

Berbicara mengenai pangan pasti selalu berkaitan dengan pertanian. Pertanian merupakan aktivitas mengolah lahan dan mengembangkan berbagai komoditi yang digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan manusia. Banyak sekali orang bertanya mengapa di negeri kita tercinta, Indonesia, masih banyak yang merasakan lapar dan kekurangan gizi? Padahal, di negeri kita tercinta banyak sekali lahan subur dan produktif. Dengan luas sekitar 1,9 juta km persegi (Sumber : IPS 3 SMP/MTs Erlangga) bukan tidak mungkin Indonesia dapat memenuhi segala kebutuhan rakyatnya.

Titik krusial dari permasalahan pangan adalah dalam hal produksi. Masyaakat seakan lupa dengan permasalahan penting ini dan hanya berfokus kepada pemberitaan media saja tanpa ada aksi nyata dalam menanggapinya.

Menurut ensiklopedia ekonomi, produksi adalah proses penambahan nilai dari suatu barang/jasa untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. Dalam teori produksi kita mengenal empat faktor utama kemajuan produksi. Faktor tersebut antara lain Sumber Daya Alam, Tenaga Kerja, dan Modal serta Kewirausahaan.

Sumber Daya Alam sebagai faktor pertama memiliki peranan yang cukup penting. Manusia sebagai makhluk yang tinggal di bumi tentu saja mengolah lahan di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sejak zaman dahulu bahkan zaman purba manusia sudah dikenal mengolah lahan-lahan subur. Akan tetapi, kini permasalahan justru menghampiri sumber daya alam. Saat ini banyak sekali lahan-lahan kritis di sejumlah daerah dan kurangnya lahan yang dapat dikembangkan sebagai lahan pertanian. Lahan pertanian semakin menyusut dikarenakan kebutuhan manusia akan lahan akan tempat tinggal dan area bisnis lainnya. Pada akhirnya produksi pangan pun menurun.

Yang kedua, tenaga kerja. Dalam rangka mengolah lahan pertanian dibutuhkan para tenaga kerja yang terampil. Akan tetapi, saat ini jumlah petani di Indonesia semakin menyusut. Banyak para petani yang alih profesi dan merantau ke ibu kota. Mereka berdalih jika hanya menjadi petani, kehidupan tidak akan berkembang dan pendapatan tidak akan meningkat. Keterampilan untuk mengolah lahan lebih optimal juga semakin berkurang.

Ketiga, sektor modal. Sektor ini berperan penting untuk membiayai aktivitas produksi padi. Dalam sektor ini seringkali mengalami kendala yaitu kurangnya dana untuk mengolah lahan. Mulai dari pembelian bibit, pemupukan, peralatan, dll.

Keempat, sektor kewirausahaan. Sektor ini berperan dalam meningkatkan minat seseorang untuk berusaha membangun potensi di aktivitas perekonomian sehari-hari. Namun, minat dalam berwirausaha dan menunjukan usaha nyata para pemuda di Indonesia dalam bidang pertanian masih kurang dari harapan. Inovasi-inovasi yang dilanjutkan hanya segelintir saja.

Aksi nyata pertama dari sisi sumber daya alam. Sumber daya lahan di Indonesia yang semakin menyempit dapat dikelola menjadi lahan produktif dengan teknik urban farming. Masyarakat di perkotaan dapat memanfaatkan areal di sekitar rumahnya dengan menanam apotek hidup. Kegiatan ini mungkin dapat dilakukan walau masih terdapat kekurangan.

Aksi nyata kedua adalah menambah lahan pertanian efektif yang tadinya 45 juta hektare menjadi 60 juta hektare dengan memerhatikan apek kubutuhan lahan perumahan serta merevitalisasi lahan kritis tanpa merusak area lingkungan yang dilindungi.

Para teknokrat di Indonesia juga dapat beraksi nyata untuk membantu para petani di daerah untuk dapat mengelola lahan pertanian lebih produktif dan optimal. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan dan peningkatan produksi, sehingga dibutuhkan transfer teknologi untuk mencapainya. Jumlah para petani muda di Indonesia juga harus ditingkatkan selaras dengan penambahan luas areal pertanian.

Dalam meningkatkan produksi petanian diperlukan penambahan modal. Bantuan kredit lunak dari pemerintah ataupun swasta dalam pemenuhan modal untuk membangun pertanian Indonesia. Selain pemberian modal secara langsung, berbagai lembaga dapat mengoptimalkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk penambahan kemampuan dan pengalaman seperti Pertanian Sehat Indonesia dan Kampung Ternak Nusantara Dompet Dhuafa.

Pendidikan tidak boleh luput sebagai faktor yang menentukan kesuksesan kedaulatan pangan. Pemerintah saat ini menciptakan kurikulum nasional yang memuat mata pelajaran prakarya. Dalam prakarya, siswa-siswa diharapkan berwirausaha secara aktif dan kreatif. Para siswa dilatih untuk menumbuhkan jiwa kemandirian dalam mengolah potensi yang ada di lingkungan sekitar. Dengan ini –produksi hasil pertanian–diharapkan untuk meningkat seiring dengan adanya materi budidaya pertanian.

Di samping peningkatan faktor-faktor produksi, diperlukan pula pola pengawasan yang aktif dan bijaksana. Kegiatan-kegiatan yang dapat mengurangi porduksi hasil pertanian secara tidak baik dan illegal harus dihentikan secara tegas. Jika tidak, usaha-usaha kita dalam peningkatan hasil pertanian akan sulit tercapai.

Bangsa kita sebenarnya memiliki potensi sangat besar untuk mencapai kedaulatan pangan. Pangan sendiri menurut UU No.7 1996 menyatakan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia. Tentu saja sedari sekarang kita bangsa Indonesia harus menyiapkan SDM yang berkualitas untuk meneruskan pelaksanaan pembangunan nasional.

Setiap elemen masyarakat harus turut serta dalam membangun ketahanan pangan di negeri tercinta ini. Kampanye tidak menyia-nyiakan makanan dan program penggantian produk beras dapat dilakukan untuk mecapai ketahanan pangan di Indonesia. Dengan jumlah penduduk 237.556.336 jiwa (BPS : 2010) bukan tidak mungkin Indonesia menjadi negara paling maju dalam ketahanan pangan sesuai yang dicita-citakan rakyat di seluruh penjuru nusantara.

Ibu

Oleh: Anggi Nur Cholis

Hidup atau mati
Keringat bercucuran dari tubuhnya
Teriak keras pada dunia
Sampai nyawa pun rasa tercekat

Hidup
Tampaklah senyum di bibirnya
Bahagia penuh pada hatinya
Walaupun mati di depan mata

Bahagia
Guru terbaik sepanjang masa
Walaupun dia pernah terluka
Senyum bahagia tetap ada

Hanya Jika Kita

Oleh: Nadhif Putra Widiansah
(Kelas XII IPA)

Masih terus ku mencari
namun tak jua kutemukan
hingga semua diujung pencarian

Telaga waktu hisap semua daya
dikala letih tuk usaha
peluh hujani bebatuan
terka semua yang kurasakan

Senyuman dan candamu
selalu dapat kubayangkan
wajahmu dan hatimu
telah terlalu lama kudambakan

Mungkinkah,
bila kita kan selalu bersama
mungkinkah,
cintaku dan cintamu selamanya
hanya jika kita bersama
dan engkau milikku
milikku

SMART Kereta Api Amanat

IMG-20170814-WA0000

Oleh: Asep Rogia
Keasiswaan SMART Ekselensia Indonesia

Manusia tidak hidup sendirian,
sambung info, sambung rasa,
dobrak kesenjangan “sementara” nasib & sikon, buka kebuntuan

Umur itu pendek,
gagah, tampan, kuat itu sebentar,
cantik, molek, cakep itu sekejap,

Sehat itu naik turun
Pintar itu hanya sebidang
Kaya itu hanya pinjaman
Jabatan hanya ujian
Pujian itu sandiwara
Sanjungan itu fatamorgana
Penghargaan itu permainan

SMART ibarat kereta api sudah berjalan dan memiliki rel hingga di akhir perjalanannya,
lokomotif dan gerbongnya boleh berganti apalagi masinis dan penumpangnya.

Ini kereta api “AMANAT”umat Islam seluruh dunia,
Tetapi rel dan akhir perjalanannya sudah dibuat oleh para pendirinya,
tidak boleh diubah apalagi diganti.