SMART Bertadarus, Kegiatan Berpahala di Sore Hari

IMG-20160815-WA0009

Selain jadwal jam makan bersama; jadwal buka puasa bersama; dan  membaca Al Ma’tsurat rame-rame, ada satu hal lagi yang kami sukai di SMART Ekselensia Indonesia Sob yakni SMART Bertadarus.

Jadi di sekolah kami ada sebuah kebiasaan unik yang mungkin tidak banyak sekolah melakukannya, yap bertadarus. Kegiatan ini kami lakukan selepas Shalat Ashar setiap harinya (kadang selang seling dengan jadwal membaca Al Ma’tsurat rame-rame). Pembacaan Al-Quran sendiri selalu dipimpin oleh guru kami, pak Syahid Kelana, nantinya kami akan mengikuti bacaan beliau. Kegiatan ini biasanya selesai tepat pukul 16.00 WIB, tidak lama kok .

Tapi ada yang berbeda nih di SMART Bertadarus kali ini. “Lho apa sih?” Sekarang kami tak lagi duduk sambil memunggungi yang lain melainkan duduk saling berhadapan. “Faedahnya apa?”  Agar kami bisa mengingatkan teman kami yang mengantuk ketika membaca Quran agar tidak tertidur. Mengantuk itu manusiawi sekali Sob, namun ketika membaca Al-Quran idealnya kita memusatkan pikiran dan berkonsentrasi pada ayat yang kita baca, biar pahalanya makin banyak. Dan Alhamdulillah cara ini terbukti efektif, jika sebelumnya banyak teman kami yang suka tertidur ketika membaca Al-Quran, sekarang sudah tidak pernah lagi karena teman di depannya akan langsung beraksi jika ada yang tertidur.

Oh iya tahukah kamu Sob ternyata ada beberapa manfaat yang bisa kamu dapat ketika membaca Al-Quran lho, apa saja ya?

1. Pahala bagi yang mengajarkannya
2. Pahala bagi yang membacanya
3. Al-Quran akan memberi syafaat pada ahlinya di akhirat
4. Pahala bagi yang berkumpul untuk membaca dan mengkajinya
5. Menentramkan hati
6. Dapat memyembuhkan penyakit
7. Hati kita akan dipenuhi cahaya oleh Allah SWT
8. Kita akan memperoleh kemuliaan dan ibu bapak kita juga akan dirahmati
9. Membaca Quran terang-terangan seperti bersedekah terang-terangan

Wow keren kan Sob? Makanya jangan heran kalau SMART Bertadarus menjadi momen yang juga kami sukai. Selain karena manfaat di atas, momen seperti ini membuat tali persaudaraan diantara kami kian erat. Alhamdulillah. [AR]

IMG-20160815-WA0006 IMG-20160815-WA0007 IMG-20160815-WA0008 IMG-20160815-WA0010

Pengalaman Seru Bersama Pesantren Literasi

Oleh: Nazrul Azmy

“Kling… klung… dung…”, kurang lebih seperti itu suara alunan musik penghilang penat yang menyambut kami saat tiba di Kampung Sindang Barang. Alat-alat musik itu adalah rangkaian bambu yang bergoyang dan menari yang biasa disebut “Angklung” dan sebuah gendang. Alat-alat musik itu dimainkan oleh beberapa orang. Salah seorang pemain mengatakan bahwa seni musik tersebut dinamakan “Angklung Gubrak”. Setelah disambut, kami pun memasuki kawasan yang dapat membuat kami cukup tertarik.

Setelah itu, kami dipersilakan duduk di sebuah saung yang cukup besar. Dari tempat kami disambut sampai ke saung cukup jauh, belum lagi kami dipayungi oleh panasnya mentari, puasa pula. Sesampainya kami di saung, kami dipersilakan untuk menonton Tari Jaipong yang dibawakan oleh teh Asih, beliau adalah angkatan pertama yang mendirikan Kampung Sindang Barang. Teh Asih menari dengan lagu “Bajidor Kahot”. Setelah menyaksikan tarian, kami diberi tahu tentang budaya Sunda oleh kang Ukang. Salah satu budaya Sunda yang beliau jelaskan adalah  “Cimande”, seni seni bela diri. Setelah mendapat penjelasan, kami pun melaksanakan Salat Dzhuhur. Setelah salat, kami kembali ke saung untuk mengikuti kegiatan pelatihan menulis.

“Kita latihan konsentrasi dulu, yuk…!” ajak kak Dini kepada kami. Kemudian, kami disuruh untuk membuat barisan berbentuk lingkaran. Latihan konsentrasi ini dilakukan dengan cara menghitung sambil menunjuk orang yang harus menghitung selanjutnya. Jika sudah ditunjuk, namun masih berpikir lama, maka orang itu akan keluar memisah dari barisan. Pada saat giliranku ditunjuk, aku masih berpikir panjang, aku pun memisahkan diri. Saat aku mundur, aku terpleset dan akhirnya terjatuh. Para manusia yang ada banyak yang menertawaiku, namun ada juga yang merasa kasihan kepadaku. “Kamu kenapa?” tanya mbak Hani. “Tidak apa, kak! Sekadar jatuh terpeleset,” jawabku.

Setelah latihan konsentrasi, kami dipersilakan untuk berkumpul per kelompok. Setelah itu, kami diberikan pertanyaan tentang kepenulisan, lalu mendiskusikan jawabannya. Kemudian, kami—per kelompok—disuruh untuk menjajarkan barang-barang yang kami miliki sampai sepanjang-panjangnya. Waktu penjajaran adalah sesuai dengan habisnya dua putaran sebuah lagu. Kelompok yang paling panjang adalah pemenangnya. Lalu, kami diberikan materi tentang menulis. Sebelum pelatihan, kak Hikaru, sang pelatih, memberikan kalimat persuasif. “Kita harus membawa bekal dari sini!” seperti itu yang dikatakan kak Hikaru.

Tak terasa, jarum jam terus berputar dan sudah menunjukkan pukul lima belas. Kak Hikaru pun memberikan dua hasil karyanya—yang diikut lombakan—kepada kami. Setelah itu, Kak Hikaru memerintahkan kami untuk menulis—dengan jenis tulisan bebas—tentang wisata budaya ke Kampung Sindang Barang. Waktu yang diberikan hanya selama lima menit. Setelah itu, kami dipersilakan untuk beristirahat dan Salat Ashar dengan waktu hanya lima belas menit, setelahnya kembali lagi ke saung.

Setelah istirahat, kami disuruh untuk membaca, menganalisis, dan memahami isi naskah yang dibuat oleh kak Hikaru. Kami disuruh untuk menemukan perbedaan jenis tulisan dari kedua naskah itu; fiksi atau nonfiksi. Setelah itu, diberitahukan tulisan terbaik tentang wisata tadi. Ternyata, diambil empat karya terbaik, yaitu milik kak Emil, teh Mutsla, kak Anisa, dan mbak Diah. Mereka pun diberi hadiah berupa magnet dari Thailand.

Mentari pun mulai bosan dan lelah berada di atas, turunlah dia ke arah barat. Kak Hikaru berpamitan untuk pulang. Aku dan kawan-kawanku masih bermain permainan tradisional. Para peserta perempuan malah selfie-selfie-an dengan kamera yang mereka miliki—walau sekadar kamera di telepon genggam.

“Dasar, cewek-cewek, sok-sok cakep ye…” sindir kak Akhie.

“Tahu tuh, padahal yang cakap saja tidak ikut foto-foto,” gurau diriku.

“Hm.. Hm..” sahut Teh Lia. “Ada apa, Teh?” tanyaku. “Nggak… dengar sesuatu aja”, jawabnya.

Intensitas cahaya di langit pun mulai berkurang. Kami juga dipersilakan untuk bersiap-siap pulang. Berpamitlah kami kepada kang Ukang. Berjalan pulang sambil menunggu waktu Magrib datang. Capek, kepala pusing, dan gembira menjadi satu rasa dalam diri. “Alhamdulillah, kegiatan tersebut dapat mengisi waktu liburan saat Ramadhan.”

Tongkat Kayu Andalan

Pagi itu, Nusa, siswi SMP tercerdas di kelasnya datang lebih awal dibandingkan teman sekelasnya. Kelas masih sepi. Dia masih asyik membaca buku kesukaannya, buku Fisika.

Tiba-tiba saja, ia melihat bayangan hitam lewat di depan kelasnya. Dia penasaran, lalu ia pun keluar. Sampai di daun pintu, sepotong kayu besar terayun menuju arahnya dan terjatuh di punggungnya. Ia terjatuh tanpa daya lalu pingsan.

***

Bel berbunyi, kegiatan belajar mengajar dimulai. Pak karso, Guru Fisika, segera masuk kelas dan mengabsen.  Satu persatu siswa dipanggil, semuanya hadir kecuali Nusa. Namun tasnya masih tergeletak di bangkunya, dan buku fisika yang ia baca masih terbuka.

Pak Karso mencoba bertanya pada yang lain, ternyata Dani melihatnya masuk kelas beberapa waktu lalu. Tapi bukan itu yang dimaksud pak Karso. Pak Karso mencoba memberitahu kepala sekolah bahwa ada siswinya yang hilang di kelas. Semua guru menyebar keseluruh kelas mengecek kehadiran siswa. Ternyata ada siswa kelas 9 juga yang tidak hadir.

Di lain waktu,  Adian,  kelas 7 juga melihat orang berbaju gelap berjalan dengan cepat. Dia mengikutinya dengan sembunyi-sembunyi namun kehilangan jejaknya. Kepsek dan guru-guru lain coba menyusuri jalan Adian tadi. KBM sementara dihentikan, seluruh siswa/i mencari keberadaan Nusa.

Tapi tiga orang siswa kelas 8 masih berada di dalam kelas. Seorang guru berhenti di depan kelas mereka dan mendengar percakapan, “ Ini tidak  akan berlangsung lama, kita akan selesaikan urusan ini”. Kata salah satu dari  mereka.

Tanpa basa-basi, guru itu pergi ke ruang Kepsek. Guru itu berbicara panjang lebar kepada Kepsek, lalu Kepsek mengambil keputusan, menuju kelas itu kembali. Langkah kaki cepat sang guru dan Kepsek bergaung di lantai koridor kelas. Tiba- tiba langkah mereka terhenti. Sampai di depan kelas bertuliskan 8B, Kepsek dan guru itu terkejut.

Adi, Oran, Yanes, kelas 8B tengah berjalan menuju kantin bersama. Gabruk, 2 kayu tebal menghantam punggung Adi dan Yanes. Mereka pingsan di tempat. Namun Oran lolos setelah melihat bayangan hitam didekat kakinya dan ia lari tanpa melihat ke belakang.

Oran berhenti di belakang gedung yang sepi. Napasnya tersengal. Ya, ia melihatnya, bayangan itu. Ia coba sembunyi dan mengikuti mereka, langkah Oran tak terdengar sama sekali dan ia mengikuti mereka. Mereka berhenti di gedung IT sekolah. Oran penasaran, ia bersebumyi takut ditangkap. Nusa tersenyum dibalik pintu dan menyuruh mereka masuk . Oran tertegun melihat hal itu.

Oran mendekati gedung IT tersebut lalu mencoba mencuri dengar. Nusa mengapresiasi kerja mereka . Bahwa kejadian ini semua adalah skenario Nusa untuk bisa mengambil berkas rahasia di komputer salah satu guru. Setelah mendengar panjang lebar, Oran mulai paham skenario mereka.

Tanpa memberitahu siapa-siapa, ia mencoba untuk menggagalkan rencana mereka. Rencana dia pikirkan dengan matang. Malam harinya, salah satu guru masih lembur, ketika hendak mengunci pintu ruang guru, kembali potongan kayu mengayun ke pungguk guru itu, lalu pingsan. 2 anak buah Nusa menggotongnya ke gedung IT lagi. Oran mengetahui kerja mereka. 1 anak buah mendampingi Nusa mendampingi masuk ke ruang guru.

Sesuai rencana Oran, Ia mengunci pintu ruang guru dengan kunci yang masih tergantung di pintu, lalu mengambilnya. Lalu Oran mematikan pusat aliran listrik ruang guru . Komputer tidak bisa dinyalakan, Ia cepat berlari menuju gedung IT tanpa suara di koridor kelas. Nahas, batang kayu kembali berayun dan kini tepat di bagian lehernya. Ia terjatuh tak berdaya.

***

Oran sadar, namun ia terkejut jika dirinya tengah berada di ruang gelap gedung IT. Ia juga melihat pak Danil guru yang berada di ruang guru tadi. Oran melepaskan ikatan yang melilit tubuhnya dengan kuat. Tali putus, ia segera menyelamatkan pak Danil. Lalu mengajak pak Danil untuk membawa kayu yang ada di sampingnya, mereka keluar dari gedung IT.

Sampai di ruang guru, mereka melihat 2 orang dengan baju hitam. Anak buah Nusa tengah memaksa untuk membuka ruang guru. Lalu Oran balik memukul mereka, BUG,  kini berbalik mereka yang terjatuh pingsan.

***

Keesokkan harinya mereka dibawa ke ruang kedisiplinan dengan pak Syam, keamanan sekolah dengan Kepsek. Mereka mulai diinterogasi.

“Mengapa kalian melakukan semua ini?” ucap pak Syam memulai. “Kami sebenarnya hanya disuruh pak termasuk Nusa,” kata salah satu dari mereka. ”Terus  mengapa harus komputer guru yang diincar?” tanya pak Syam

“Kami sekali lagi hanya disuruh pak. Kami hanya mengikuti skenario yang ada. Kami disuruh kak Norman, kelas 9 untuk mencuri kunci jawaban UTS ganjil, ia tahu bahwa kunci jawaban itu ada di komputer pak Danil,” kata Nusa. Memang benar bahwa pak Danil yang membuat kunci jawaban karena dia adalah bagian kurikulum. Sekolah Nusa bukan sekolah negeri yang harus mengambil dari dinas, namun bagian kurikulum lah yang membuatnya.            Setelahnya, mereka berlima dikeluarkan dari sekolah.

Kalam Kak Amma

13782254_10209108979673465_8916378976840808600_n

Kak Amma Muliya Romadoni, demikian nama lengkapnya, saat ini tengah berjuang menyelesaikan kuliahnya di jurusan Teknik Termo Fluida Intitut Teknologi Bandung. Pria muda yang hobi membaca buku ini lahir di Jakarta, 30 Maret 1992.

Alumni angkatan pertama  SMART Ekselensia Indonesia ini memiliki kecintaaan besar dalam bidang  enterpreneurship. Kegiatan enterpreneurship yang ia tekuni sema masa kuliah adalah wirausaha dan technopreneur. Dalam bidang wirausaha ia menekuni bisnis konveksi khususnya dalam student entrepreneurship center. Technopreneur pun tidak luput digeluti pria muda ini. Ia menjadi CEO AMR Engineering lembaga Training Engineering Software pada tahun 2014. berbagai penghargaan dalam bidang enterpreneur ini didapatkannnya, salah satunya  prestasi sebagai penerima dana wirausaha Student Enterpreneurship Center USU 2011.

Dalam kegiatan keorganisasian di kampus, kakak asal Jakarta ini telah melakoni serangkaian pengalaman baik sebagai anggota ataupun ketua tim.  Organisasi softskill yang pernah ia ikuti antara lain organisasi keislaman khususnya lembaga dakwah kampus (LDK), badan eksekutif mahasiswa (BEM), serta badan pers fakultas teknik. Didalam kegiatan LDK kak Amma -demikian sapaan akrabnya- menjabat sebagai ketua pada tahun 2010-2011. menuru Menjadi staf departemen riset dan teknologi di BEM fakultas telah dijalaninya tahun 2011. Jabatan sebagai ketua redaksi koran “Simetrikal Engineering” di 2012 menjadi pengalaman organisasi berikutnya.

Serangkaian pengalaman berharga ia dapatkan selama berkuliah di jurusan teknik mesin, fakultas teknik, Universitas Sumatera Utara (USU). Ia pernah mengharumkan nama Indonesia dalam kejuaran membuat mobil hemat energi tingkat Asia Pasifik di Filipina tahun 2014. Juara satu kategori urban konsep bahan bakar etanol berhasil diraihnya dalam lomba yang diadakan salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia tersebut.  Tidak tanggung-tanggung, gubernur Sumatera Utara memberikan penghargaan kepada tim pembuat mobil yang dikomandoi olek Kak Amma tersebut.

Bidang penelitian merupakan bidang yang tidak asing beagi kakak kelahiran 30 maret ini. Membantu pengerjaan proyek penelitian tingkat pascasarjana  selama kuliah strata satu (SI) menjadikannya terampil dan memberikan pengalaman lebih untuk bekal pengerjaan penelitian nantinya. Studi Banding dan Presentasi Green Technology USU- USM Malaysia dilaksanakannya di tahun 2011. Selanjutnya, beasiswa dari LPDP  Kementerian Keuangan RI ia raih atas hasiil dari kerja kerasnya dalam berusaha dan belajar.

Kakak angkatan satu SMART EI ini menyatakan bahwa kehidupan di kampus bersifat heterogen. Hal ini tidak lepas dari datangnya berbagai pengaruh baih maupun buruk dalam setiap aktivitasnya. Kita ditantang untuk bisa konsisten dalam memilah-milah pengaruh yang baik maupun yang buruk. Sehingga, kita tidak terbawa arus yang tidak baik. Mengamalkan nilai-nilai baik yang telah diajarkan di SMART EI  menmjadi tantangan nyata karena kehidupan pasca SMART menjadi hambatan yang cukup nyata.

Kakak yang murah senyum ini berpesan kepada seluruh siswa SMART EI  jikalau mengalami kepenatan dalam belajarkarena haus akan ilmu, maka akan memetik hasil yang indah di masa yang akan datang. Pesan selanjutnya adalah elalu jadikan segala aktivitas sebagai ibadah, agar hidup menjadi berkah.

 

Kegiatan Alumni di Kampus?

  • Organisasi (Softskill) > Organisasi Islam ( Ketua Lembaga Dakwah Kampus tingkat Fakultas 2010-2011), BEM Fakultas ( Staff Departemen Riset dan Teknologi 2011), Manajer Tim Horas (Ketua Tim Pembuat Mobil USU 2013-2014 ), Chief Editor Koran Simetrikal Engineering 2012
  • Wirausaha (Student Enterpreneurship Center) Konveksi 2010 > Anggota
  • CEO AMR Engineering Lembaga Training Engineering Software (Technopreneur) tahun 2014

 

Pengalaman unik

  • Membawa Indonesia menjuarai kejuaran membuat mobil hemat energi di Filipina kategoribahan bakar ethanol Shell Eco-marathon Asia 2014
  • Mencoba hal yang baru untuk mengerjakan projek penelitian pascasarjana selama menjadimahasiswa S1

Plus dan Minus

  • Lingkungan di SMART sudah homogen ketimbang lingkungan di luar SMART. Olehkarenaituharus bisa memilah segala bentuk kegiatan yang akan dilakukan.
  • Apabila buruk menanamkan nilai yang sudah ditanamkan di SMART, maka akan lebih beratuntuk menjalani kehidupan pasca SMART.

Pesan untuk siswa

  • Jika mengalami kepenatan belajar dikarenakan haus akan ilmu, maka kita akan memetikhasil yang indah di masa yang akan datang
  • Selalu jadikan segala aktifitas sebagai ibadah, agar hidup menjadi berkah

 

Biodata :

Nama : Amma Muliya Romadoni

Alumni : angkatan 1

Asal : Jakarta

Tanggal lahir : 30 Maret 1992

Hobi : Membaca

 

Prestasi :

  • Studi Banding dan Presentasi Green Technology USU- USM Malaysia 2011
  • Penerima Dana wirausaha Student Enterpreneurship Center USU 2011
  • Penghargaan Gubernur Sumatera Utara dalam pelombaan mobil hemat Energi Shell Eco-Marathon Asia 2014
  • Juara I Mobil Hemat Energi Kategori Urban Konsep Bahan Bakar Etanol Shell Eco-Marathon Asia 2014
  • Penerima beasiswa LPDP Kementrian Keuangan RI 2015

Pendidikan :

  • S1 Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU)
  • S2 Teknik Termo Fluida ITB (sedang berjalan)

Akhirnya Kami Lulus!

Kemarin malam (27/05) kami, Angkatan 8, mengadakan acara kumpul untuk terakhir kalinya. Suasana mendung, semua seperti dirundung murung. Mungkin karena nanti setelah lulus kami akan sulit untuk sekadar berkumpul atau bercengkrama seperti dulu. Mengingat itu sedih rasanya, tapi apa mau dikata, memang fasenya seperti itu kan? Malam itu banyak hal kami bicarakan, mulai dari yang sedih sampai menyenangkan. Lalu tiba-tiba kami teringat kalau pakaian wisuda kami belum disetrika, dan kami seperti lupa kalau besok ternyata…. wisuda.

Mari menyetrika, lalu istirahat….

Udara hari ini (28/05) terasa menusuk, dingin dan enak untuk menarik selimut kembali, bahkan sampai membuat mata kami seolah tak mau berkompromi, mungkin karena semalam kami tidur terlalu larut. Namun semangat kami untuk melaksanakan prosesi wisuda mengalahkan itu semua, dengan semangat super akhirnya kami bergegas mandi, memakai pakaian wisuda yang sudah licin disetrika, lalu ramai-ramai menuju Kelas Kimia untuk mengambil toga. Di Kelas Kimia bu Dina sudah menanti kami, mengingatkan agar kami jangan sampai terlambat. Ah segera saja kami memakai toga dan sedikit wefie di sana sini hehe lalu meluncur ke tenda besar tempat dilaksanakannya wisuda. Sesampainya di sana ternyata acara intinya belum dimulai dan kami harus menunggu selama beberapa menit, banyak dari kami yang mengeluh kepanasan karena tebalnya baju wisuda, tapi yasudahlah yang penting hari ini hari besar untuk kami.

Wisuda 16

Akhirnya kami dipanggil masuk ke dalam ruangan wisuda, beberapa dari kami mulai menitikkan air mata ketika lagu Gaudeamus Igitur dan Mars SMART dikumandangkan. 5 tahun, sungguh tak terasa. Rasanya baru kemarin kami ribut masalah sepele, menangis bersama-sama kerena rindu orang tua, dan melakukan kegiatan bersama-sama. Sekarang kami harus berhadapan dengan bab baru dalam hidup kami, bab kelulusan. Sedih, namun kami kuat. Berjauhan dengan orang tua dan saudara dalam waktu 5 tahun membuat kami semua terlatih menghadapi kesedihan, walau akhirnya air mata pasti akan tumpah juga.

Wisuda 13

Oke balik ke prosesi wisuda ya. Mengusung tema ‘Membentang Kebaikan, Menggapai Harapan, Melukis Masa Depan’ di wisuda Angkatan 8 ini banyak hal istimewa kami dapatkan. Seperti misalnya wejangan dan pembelajaran menjadi pribadi sukses dari pak Sendy Aditya Kamesvara, Marketing & Operation Director PT. Metra Digital Media by Telkom Indonesia, menurutnya yang penting dalam hidup itu perjuangan dan keinginan sungguh-sungguh untuk menggapai mimpi yang kita punya, tanpa itu semua maka mimpi kita hanya akan jadi bualan semata. Selain pak Sendy ada juga ibu Sri Nurhidayah, GM Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa yang membesarkan hati kami semua agar tidak minder dengan keadaan karena yang terpenting adalah bagaimana kela bisa sukses dan bermanfaat luas bagi orang lain. Wah pokoknya dua pembicara keren ini sungguh membuat kami merinding dan makin semangat untuk menggapai yang kami cita-citakan. Pun di prosesi wisuda tahun ini kami juga bisa melihat kemajuan adik-adik kelas kami yang tergabung dalam Tim Ansamble, Tari Saman, dan juga Paduan Suara. Sekarang mereka hebat-hebat, musikalitas dan harmonisasi gerakan mereka juga lebih selaras, kerenlah.

Wisuda 2

Wisuda 3

Wisuda 4

Wisuda 6

Wisuda 7

Wisuda 9

Sesi demi sesi berlalu, sampailah kami di sesi di mana kami resmi menjadi alumni SMART Ekselensia Indonesia, sesi pengalungan dan pemberian sertifikat selama belajar di sini. Satu per satu nama kami dipanggil, satu per satu tali topi toga kami dipindah, senang dan sumringah terpancar di raut wajah kami. Jelas kami senang karena akhirnya bisa menamatkan pendidikan tingkat sekolah menengah dengan hasil yang baik, tak ada yang lebih menyenangkan dari itu. Setelah semua nama dipanggil, setelah kami semua duduk di bangku masing-masing, tak dinyana ternyata ada pengumuman tambahan, pengumuman wisudawan terbaik. Dag dig dug dag dig dug kami menerka-nerka kira-kira siapa yang berhasil menyabet gelar bergensi tersebut. Wisudawan terbaik merupakan gelar yang diberikan pada siswa terbaik selama belajar di SMART dalam kurun waktu lima tahun, penilaiannya sendiri dilakukan oleh para guru dan juga guru di asrama. Kami masih menanti, menanti dan menanti. Hingga akhirnya nama Muhammad Fatih Daffa terucap dari mulut pak July, Kepala Sekolah kami, sorak sorai sontak memenuhi ruangan karena Fatih memang selama ini dikenal menjadi siswa yang selalu di depan. Karena Fatih terpilih menjadi wisudawan terbaik maka ada dua tugas menanti Fatih di atas panggung, serah terima kendi ilmu pada adik kelas kami di Angkatan 13 –yang baru akan mulai belajar selepas Lebaran nanti- dan pembacaan ikrar alumni. Alhamdulillah semua dilakukan Fatih dengan baik.  Tak ketinggalan pada kesempatan tadi 11 orang yang berhasil lolos SNMPTN juga mendapatkan sesinya sendiri.

Wisuda 15

Wisuda 14

Wisuda 12

Oh iya seperti wisuda tahun-tahun sebelumnya alumni SMART dari berbagai angkatan pasti datang. Namun pada kesempatan kali ini agak berbeda karena salah satu alumni SMART, panggil saja ia kak Ama, yang saat ini sedang mengambil S2 di ITB memaparkan tentang IKA SMART Ekselensia Indonesia alias Ikatan Keluarga Alumni SMART Ekselensia Indonesia. Jadi IKA SMART Ekselensia Indonesia merupakan wadah bagi semua alumni SMART, para alumni akan ditempatkan dalam satu “rumah”, nah ada beberapa ketentuan yang harus diikuti para alumni agar hubungan mereka kian erat. Eh ternyata baru sadar kalau kami saat ini telah resmi menjadi alumni SMART. Bikin baper sih.

Wisuda 11

Setelah melewati beberapa sesi yang agak membosankan, sampailah kami dipenghujung acara, lebih tepatnya acara puncak. Di acara puncak ini para tamu undangan kami “paksa” menyaksikan video angkatan kami, syukurlah hasilnya melegakan karena banyak dari mereka yang terpingkal-pingkal. Sebelum video berakhir teman kami membawakan teatrikal puisi yang mampu menyihir tamu undangan yang datang dan membuat guru kami menangis. Tangisan makin banyak terlihat ketika kami yang ber-32 tampil menyanyikan lagu untuk guru kami tersayang, usai menyanyikan lagu kami semua meminta maaf pada mereka dengan berderai air mata. Berat rasanya meninggalkan SMART, berat rasanya meninggalkan kenangan indah selama lima tahun bersama, berat rasanya melupakan semua hal indah indah ketika kami di sini. Berat sekali *baper lagi deh.

Wisuda 8

Tak ada kata yang bisa kami ucapkan selain terima kasih, ini bukanlah perpisahan hanya sebuah pertemuan kembali yang tertunda. Terima kasih SMART atas pengalaman lima tahun yang tak terlupakkan.

 

KAMI SUDAH LULUS! DUNIA KAMPUS TUNGGU KAMI!

 

Titian Tangga Asrama

Oleh: Andrian Eka Wijaya.

Kelas 5 Jurusan IPA Angkatan 8.

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

DSC_0167Pertama, saya ingin berterima kasih pada Allah SWT. Kedua, tak lupa shalawat serta salam tetap tercurah pada Nabi Muhammad SAW. Ketiga, pembuka tulisan ini memang aneh tapi bodo amat, ya saya mau cerita tentang kehidupan selama saya hidup di SMART Ekselensia Indonesia atau lebih tepatnya curahan hati yang saya alami selama di SMART Ekselensia Indonesia.

SMART Ekselensia Indonesia. Sekolah berasrama yang ditempuh hanya dalam kurun waktu 5 tahun. Nah diantara kalian siapa coba yang gak tahu asrama? Di SMART kami juga tinggal di asrama lho. Di asrama kami “dipaksa” untuk bisa hidup mandiri dengan sendirinya seperti mencuci baju, piring, beres-beres, dan masih banyak lagi. Hufffft….banyak lah pokoknya. Percaya atau tidak, tapi saya bangga menjadi anak asrama. Kenapa? Karena ternyata anak asrama itu tak seperti anak-anak kebanyakan di luar sana, dengan hidup di asrama mental kami ditempa dari cengeng jadi tidak cengeng, dari malas jadi rajin, dari kotor jadi bersih. Eh tapi yang terakhir cuma pengin pencitraan saja hehe.

Asrama, asrama, asrama. Memang bosan sih hidup di asrama yang kerjaanya ya itu…itu…itu…saja. Mulai dari bangun sampai tidur lagi yang dilihat hanya itu-itu doang shay. Tapi ada satu hal yang saya kagumi dari Asrama SMART. Apa itu? Itu adalah “tangga” kenapa tangga? Karena tangga sudah seperti bagian dari hidup siswa di Asrama SMART. Mulai dari mau berangkat sekolah turun tangga, pulang sekolah naik tangga, mau makan kudu mesti harus lewat tangga, sampe mau tidur pun juga ketemu tangga … huh … bosan. Tapi karena tangga kami jadi kuat karena secara tidak langsung kami berolahraga tiap hari. Karena tangga juga saya jadi yakin kalau cita-cita itu memang harus dikejar, perlahan tapi pasti.

Saya yakin kelak saya dan teman-teman lainnya akan jadi mutiara yang bersinari ketika keluar dari asrama SMART, sehingga nanti kami akan dapat menyinari lingkungan sekiranya dengan cahaya keindahan hahaha… sekian curahan hati saya tentang hidup di Asrama SMART. Terimakasih sudah mau membaca tulisan saya yang singkat padat jelas bermakna.

 

HIDUP ASRAMA!

Cita-Cita?

Oleh: Afdal Firman.

Kelas 5 Jurusan IPA Angkatan 8.

 

DSC_0146“Apa cita-citamu, Afdal? Tanya ayahku. Pertanyaan itu dilontarkan oleh ayahku lima tahun yang lalu. Lantas aku menjawabnya, “pemain bola professional, yah”. Ia terlihat manggut-manggut seraya bertanya kembali, “memang itu bisa dikatakan cita-cita?” sekenanya aku menjawab, “Cuma itu yang aku tahu yah, dan aku rasa aku bisa bermain bola. Lagipula jadi TNI, dokter, Polisi sudah pasaran yah”. Ayahku termangu mendengar jawabanku, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya setelah itu. Ada jeda panjang yang membuat suasana tak mengenakkan kala itu.

Dulu mungkin aku tidak tahu kenapa ayah menanyakan cita-cita kepadaku, tapi sekarang aku tahu jawabannya. Tak ubahnya seorang guru, ayahku merupakan orang pertama yang ingin melihat anaknya sukses. Begitu pun ibuku.

Ketika itu aku ingin masuk SSB selepas SD, namun sekolah menawarkan beasiswa SMART padaku. Dengan restu orang tua aku mengikuti tes beasiswa tersebut. Selepas tes aku yakin sekali tidak lulus. Banyak sekali kotak jawaban yang kosong. Lalu aku berpikir mungkin menjadi pesepakbola merupakan pilihan yang tepat, oleh karenanya aku aku meminta kepada ayahku untuk dibelikan sepatu bola. Setelah sekian lama nego akhirnya ayah membelikanku sepatu bola. “Nih Dal sepatu bolanya. Besok daftarnya ayah temanin,” ucap ayahku. Ucapannya membuat hatiku senang, namun kesenangan itu tak bertahan lama, rasa bahagia itu digantikan rasa sedih yang menggelora. Namun ini bukan sedih pada umumnya, rasa sedih ini merupakan ungkapan kebahagiaan yang tidak dapat digambarkan.

Aku lulus seleksi beasiswa SMART, yap aku lulus, hilang sudah perbendaharaan kata-kataku setelah melihat pengumuman itu. Sebentar lagi aku akan berpisah dengan mereka yang kucintai. Cita-citaku kukubur, sepatu itu? Sepatu itu hanya kutaruh di dapur. Sedih, namun orang tuaku selalu punya obat untuk kesedihanku. “Ingat ketika dulu ayah bertanya tentang cita-cita?” Tanya ayahku seraya meredakan suasana hatiku. “Ya ayah,” jawabku singkat. “Sebagaimana darah Minang mengalir dalam tubuhku, aku ingin menjadi pengusaha,” jawabku sekenanya lagi. Berbinar mata ayahku mendengar kata-kata tersebut. Tentu ayahku senang karena anak-anaknya memiliki cita-cita yang jelas. Menurut ayahku, cita-cita yang tak jelas. SMART serasa menjawab semuanya.

Sekarang aku diambang pintu untuk memulai perjalanan mencari perwujudan cita-citaku. Tak terasa 5 tahun ditempa di kawah candradimuka SMART Ekselensia Indonesia telah kulewati segala prosesnya dengan caraku sendiri. Cita-cita yang kubanggakan dulu benar-benar telah kukubur untuk selamanya. Kini udara terasa sangat sejuk untuk kuhirup. Sebentar lagi aku akan melihat wajah bahagia orangtuaku. Yang dulu teramat sulit untuk menemukannya. Namun pada saat harinya tiba, wajah bahagia itu akan sangat mudah ditemukan. Semudah membalik telapak tangan

Ke mana sekarang?

Mengejar perwujudan cita-citaku!!!

 

Bogor, 26 Mei 2016

KAISS “Sang Penentu”

2015-07-04-22-16-37_deco-01

Oleh: Muhibuddin

Kelas 5 Jurusan IPA Angkatan 8

 

Yang namanya tugas akhir pasti selalu diidentikkan dengan skripsi atau tesis dan biasanya dilakukan oleh mahasiswa yang akan menyelesaikan pendidikan sarjana atau masternya. Tapi kalau di SMART Ekselensia Indonesia jelas berbeda, tugas akhir  berlaku untuk para siswa kelas 5 (setara kelas 3 SMA di sekolah lain) yang akan menyelesaikan jenjang sekolah menengah atas mereka di sini. Memang tak serupa skripsi atau tesis sih melainkan lebih kepada karya ilmiah yang biasa kami sebut Karya Ilmiah Siswa SMART (KAISS). Mungkin ini hanya karya ilmiah, tetapi harga yang harus dibayar setara dengan skripsi dan tesis, yakni kelulusan.

Sayang, tidak semua siswa menganggap serius KAISS sejak awal, ada yang masih bercanda dan santai-santai. Sedangkan siswa yang serius menganggap KAISS harus diselesaikan segera; mereka mulai mengajukan judul, bimbingan dan lain-lain. Tidak semua berjalan sesuai yang diharapkan, ada yang tidak diterima judulnya, ada yang kebingungan harus mulai dari mana, bahkan ada yang harus berganti judul di tengah jalan karena ada beberapa masalah.

Saya Muhib, salah satu siswa yang baru saja menyelesaikan hal  mengerikan di atas. Mengerikan? Ya, memang mengerikan. Untuk mengajukan judul saja banyak pertimbangan, harus ini lah harus itu lah, katanya sih kalau sudah bisa membuat KAISS nanti ketika berkuliah akan mudah membuat karya ilmiah. Saya akui memang tidak mudah menyelesaikan KAISS, banyak keterbatasan karena di sini kami berasrama dan fasilitas terbatas, oh iya juga sering tersandung karena keterbatasan dana. Ada yang menikmati dan ada juga yang terus mengeluh mengerjakan ini semua, kalau saya happy happy saja. Ketika sidang KAISS berlangsung ada yang berjalan lancar, ada juga yang melalui banyak hambatan di sana sini, tapi Alhamdulillah kalau saya termasuk yang dimudahkan.

Pesan saya untuk adik-adik kelas, ada baiknya semua yang kalian ingin teliti dikonsep dari sekarang dan jangan menunda-nunda. Kumpulkan data sebaik-baiknya, jangan hanya terpaku pada informasi daring di laman web karena referensi dari buku lebih menunjang untuk sebuah karya tulis karena dapat dipertanggungjawabkan. Satu hal yang pasti, nikmati saja semua prosesnya. Jatuh bangun ketika membuat KAISS anggap saja sebagai bumbu penyedap, kalau jatuh ya bangun lagi, tak perlu takut.

Al-Qur’an dan Mahkota Kemuliaan

IMG-20160518-WA0007

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie.

(GM Sekolah Model Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, Penulis 48 Buku)

Basyir, demikian remaja asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ini biasa disapa oleh guru-guru dan teman-temannya di SMART Ekselensia Indonesia (SMART EI). Ahmad Basyir Najwan, demikian nama lengkap pemberian orangtuanya, adalah salah seorang siswa SMP  SMART EI yang berprestasi pada dua bidang keilmuan sekaligus. Yakni ilmu Agama dan ilmu umum. Pada bidang ilmu umum, Basyir adalah finalis Olimpiade Sains Nasional cabang IPA. Sedang, pada bidang ilmu Agama, Basyir telah memiliki hafalan Al-Qur’an di atas 20 juz.

Terkhusus untuk hafalan Al-Qur’an Basyir memang bercita-cita menjadi hafizh. Ia ingin menghafal Al-Qur’an 30 juz. Karena itulah, Basyir mengikuti program Takhasus Tahfizh di SMART EI. Ia ingin memberikan hadiah terindah untuk Ibu dan Ayahnya. Yakni, mahkota kemuliaan di surga kelak. Ia ingin memuliakan Ibu dan Ayahnya dengan hafalan Al-Qur’annya.

Basyir menyadari betapa besar jasa orangtuanya, terkhusus Ibunya. Ibunya bersimbah darah dan bertaruh nyawa saat melahirkannya. Sakitnya saat melahirkan membuat ribuan syaraf sang Ibu seolah terputus. Rasa sakit yang hanya bisa ditanggung oleh perempuan. Bahkan, laki-laki yang secara kasat mata fisiknya lebih kuat, tak akan sanggup menanggung sakitnya melahirkan.

Begitu sang anak lahir, Ibu spontanitas menyunggingkan senyumnya yang berbuncah. Seolah hilang rasa sakit itu seketika. Sang anak diciumi dengan hangat. Hari-hari selanjutnya Ibu terus melimpahi sang anak dengan kasih sayang. Disusui hingga 2 tahun. Di rawat dan dibesarkan dengan harapan sang anak kelak menjadi anak saleh yang berbakti.

Maka, sebuah kewajiban bagi anak untuk berbakti kepada Ibunya. Menjadi tempat bersandar bagi Ibunya dihari senjanya. Menjadi tumpuan harapan saat kesendiriannya. Menjadi syafaat di akhirat dengan kesalehannya. Inilah yang terukir di hati Basyir. Ia ingin Ibunya bangga memiliki anak sepertinya. Maka, hadiah terbaik yang ingin dipersembahkan itu adalah hafalan Al-Qur’an secara sempurna 30 juz.

Lahir di tengah keluarga kurang beruntung secara ekonomi tidak membuat Basyir kehilangan cita-cita. Berbekal doa dan semangat dari orangtuanya, setelah dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa SMART EI, Basyir mantap merantau ke Bogor untuk sebuah misi besar sebagai muslim. Menuntut ilmu di SMART Ekselensia Indonesia Islamic Boarding School. Sebuah sekolah jenjang SMP dan SMA yang didirikan oleh Dompet Dhuafa sebagai kontribusi nyata untuk memutus rantai kebodohan dan kemiskinan.

Sejak berdiri 2004 hingga kini 2016, SMART EI telah meluluskan 7 angkatan dengan torehan 100% lulusannya diterima di perguruan tinggi negeri. Harapannya anak-anak ini kelak bisa memutus rantai kemiskinan keluarganya. Tidak hanya itu, kelak anak-anak ini pun diharapkan bisa berkontribusi bagi umat, bagi anak-anak kurang beruntung lainnya untuk memperoleh pendidikan yang baik.

Kembali ke cerita Basyir. Ketika menginjakkan kaki di SMART dan mengawali proses pembelajaran, anak ini memang sudah terlihat kecerdasannya. Semua mata pelajaran selalu mendapat nilai bagus. Belajar bersama para guru yang berdedikasi adalah nikmat yang sangat disyukurinya. Di SMART EI pula minatnya untuk menghafal Al-Qur’an mulai tumbuh dan berbunga. Ust Syahid, guru Tahfizh, adalah orang yang selalu mengompori Basyir untuk menghafal Al-Qur’an. Guru Tahfizh yang juga Shivu Thifan Po Khan ini memang terkenal “tukang kompor” yang positif bagi murid-muridnya. Terkadang anak-anak diajak menghafal Al-Qur’an sambil berlatih jurus-jurus Thifan.

Basyir sangat menikmati proses pembelajaran Al-Qur’an di SMART EI. Tak heran perkembangan hafalannya berjalan cepat. Saat ini Basyir duduk di kelas 3 SMP SMART EI dan telah memiliki hafalan Al-Qur’an lebih dari 20 juz. Targetnya sebelum lulus SMA SMART EI, Basyir telah menyelesaikan hafalannya. Berkat hafalan Al-Qur’annya, Basyir memperoleh hadiah umroh dari sebuah bank syariah pada Desember 2015 lalu.

Teriring doa dari kami, nak. Semoga kau segera menyelesaikan hafalan Al-Qur’anmu dan menghadiahkannya untuk Ibumu, terutama untuk almarhum Ayahmu. Semoga pula sekolah ini semakin berkah dengan lahirnya para penghafal Al-Qur’an yang saleh. Semoga pula kebaikannya turut mengalir kepada guru-guru yang berdedikasi mengajarkan ilmunya di sekolah ini.

Mahasuci Allah dan segala puji hanya untuk-Nya.    

Ramadhan Berkah di SMART Ekselensia Indonesia

Oleh: Farid Ilham.

Kelas 5 Jurusan IPA

 

DSC_0158Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, itu memang betul, ya betul karena berkahnya gak main-main. Mulai dari shalat sunat yang pahalanya seperti shalat wajib, dll. Pokoknya segala kebaikan yang dinilai Allah baik – insha Allah- pahalanya akan dilipatgandakan di bulan Ramadhan.

Sebagai siswa SMART Ekselensia Indonesia, saya bisa dibilang aktif karena mengikuti banyak ekstrakulikuler *pret! Salah duanya adalah nasyid dan Trashic alias Trash Music. Di bulan Ramadhan saya dan teman-teman  mendapatkan banyak berkah dari dua ekstrakulikuler tersebut. Seakan sudah menjadi kebiasaan  tim Trashic dan nasyid akan banyak orderan di bulan penuh berkah tersebut *asek. Begitupun dengan Ramadhan 1436 H kemarin, macam artis kami banyak penggilan ke sana dan ke sini.

Sebenarnya banyak yang ingin saya ceritakan, tapi karena kayaknya kebanyakan jadi saya tulis tiga cerita saja yang menurut saya paling berkesan di dalam dompet saya, eh hati saya maksudnya, uhuk. Yang pertama adalah cerita ketika Trashic tampil di Desa Cilincing, Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Indonesia, Bumi, Galaksi Bima Sakti. Nah kalau gak salah saat itu masih awal-awal bulan Ramadhan, saya dan teman-teman diundang oleh Remaja Masjid Sunda Kelapa untuk menghibur masyarakat dan juga tamu yang datang. Konon katanya masjid ini lekat sekali dengan sejarah Raden Fatahillah –Kalau gak salah sih-. Yang unik dari tempat kami tampil kala itu ya lingkungannya, kami tampil di pinggir laut. Semula saya pikir akan berhadapan dengan pemandangan dan aroma laut yang khas, namun saya gak nyangka ternyata baunya semerbak sekali alias bau. Sebelum tampil saya dan teman-teman sempat berkeliling dan terkejut karena mendapati air lautnya  berwarna hitam dan sampahnya bejibun. Mungkin hal itulah yang menyebabkan timbulnya bau menyengat seperti bau ikan asin bercampur sampah yang usianya ratusan tahun, Subhanallah.  Yasudahlah, akhirnya kami memutuskan untuk kembali karena giliran kami tampil telah tiba, acara ini diisi oleh banyak pengisi acara, sayang penontonnya seperti tak antusias malah cenderung sepi. Semua berbeda ketika kami tampil, luar biasa, Allahu Akbar! Warga yang tadinya tak antusias mulai berdatangan, mulai dari yang imut-imut sampai yang gak imut, dari yang muda sampai yang gak muda lagi berkumpul membentuk kerumunan, bahkan kalau saya tak salah ingat ada yang naik sampai ke atap masjid untuk menonton kami. Bangganya kami. Setiap kali selesai bermain kami diminta main lagi, jadilah kami main sampai sebulan di sana, hehe bercanda. Tampil maksimal sudah, saatnya kami pulang, namun penonton seperti enggan melepas kami. Tapi mau bagaimana lagi kami harus pergi karena sudah semakin larut dan perjalanan menuju asrama masih panjang. Akhirnya kami berpamitan diiringi lagu Indonesia Raya, lah, tepuk tangan maksudnya.

Cerita kedua masih tentang Trashic. Ini cerita ketika saya dan tim Trashic manggung di Hotel Sultan, Jakarta. Kami jadi pengisi Ramadhan Fair, ada banyak kegiatan di acara tersebut seperti buka bersama. Karena hotelnya bukan hotel ecek-ecek maka hidangannya pun tidak main-main, pokoknya ntap! Karena jarang menyantap makanan sekelas itu kami jadi kalap dibuatnya, semua kami cicipi dari ujung ke ujung. Perut super kenyang, hati sangat senang. Di acara tersebut turut hadir mbak Terry Putri sebagai pembawa acara, ia makin cantik semenjak berhijab, jadi saja saya pengin foto bareng hehehehe. Setelah selesai tampil kami dibekali kue-kue yang banyak sekali, Alhamdulillah ada oleh-oleh untuk kawan-kawan di asrama.

Nah cerita ketiga ini tentang grup nasyid kami yang bernama Voicexelensia (ribet yah namanya hehe). Kala itu kami diminta untuk tampil di acara santunan anak yatim dan dhuafa yang diadakan MNC TV, kami tampil dihadapan ratusan tamu undangan termasuk kawan-kawan kami di SMART EI karena mereka semua diajak berpartisipasi. Awalnya kami hanya tampil untuk satu segmen, setelah selesai tiba-tiba seorang kru MNC TV memanggil kami dan kami diminta untuk tampil dihadapannya. Waw ternyata ia merupakan salah satu kru inti DMD Show yang tayang tiap Selasa-Kamis pukul 19.00 WIB, tak disangka kami disuruh tampil di acara DMD Show, kami senangnya luar biasa karena bisa tampil di teve. Saking senangnya sampai kami menelpon orang tua kami satu-satu hahahaha. Menurut kru yang bertugas kami harus tampil pukul 20.00 WIB, ternyata pukul 20.00 WIB acara DMD Show baru mengudara dan kami baru akan tampil pukul 22.00 WIB, sedaaaap sedap ngantuk. Sebelum tampil kami di-make up bak selebriti, lumayan akhirnya merasakan di-make up-in make up artist hehe. Ketika waktu tampil tiba kami deg-degan karena banyak sekali artis di sana, tapi kami cuek saja bahkan gak mikirin hasilnya bagaimana, yang penting tampil ketemu JuPe. Sudah hahahaha. Tapi karena tampilnya malam, kami yakin sebagian teman, keluarga, bahkan karyawan Dompet Dhuafa Pendidikan pasti telah terlelap, namun tak apalah. Keesokan harinya tim Nasid Voicexlensia mendadak jadi artis di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan, ternyata ada karyawan yang merekam performa kami dan menyebarkannya, wah begini ya rasanya jadi artis hehe.

Dan Ramadhan 1436 H kemarin menjadi Ramadhan terakhir saya di SMART EI…

Selama di SMART EI pengalaman seperti ini akan selalu saya kenang, sebenarnya masih banyak pengalaman menyenangkan lainnya yang tak akan saya lupakan. Berada di sini bagaikan berada di rumah sendiri, saya dan kami semua diayomi dan disayang bagai adik sendiri. Sebentar lagi waktu saya akan berakhir, saya akan lulus dari SMART EI. Rasa sedih pasti akan saya rasakan, namun saya akan terus mengingat semua hal indah yang saya dapat selama di SMART EI.