BElajar Bahasa Asing

Mengasah Kemampuan Bahasa Inggris

Nama saya Rizki Idsam Matura . Kata ‘matura’ dalam nama saya bukanlah nama marga atau nama keluarga, melainkan sebuah singkatan yang menurut penuturan Ibu adalah “Menyumbangkan Tenaga Untuk Rakyat”. Sebuah singkatan yang sangat berat untuk dipikul oleh seorang anak kampung yang sekadar bermimpi ke kota pun tak berani. Hingga suatu ketika mau atau tidak mau saya harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Suatu hari, ketika asyik bermain kelereng, saya dipanggil Abang. Dia menanyakan apakah saya ingin melanjutkan pendidikan di luar Lampung. Sontak saya kaget. Bermalam semalam di rumah teman saja saya tidak berani, apalagi untuk tinggal dalam waktu lama di lingkungan yang tidak saya kenal.

Saya pun bertanya terlebih dahulu kepada Ibu, apakah saya diizinkan untuk pergi dan apakah saya kira-kira kuat untuk hidup tanpa didampingi keluarga. Dengan tenang, Ibu mengatakan kalau saya diizinkan. Beliau juga memberikan kepada saya kekuatan untuk berani merantau. Akhirnya dengan semangat menggebu-gebu saya mengiyakan ajakan Abang saya untuk sekolah di Jawa.

Tidak seperti yang saya perkirakan, seleksi untuk menjadi bagian dari sekolah itu sangat sulit. Selain itu, banyak peserta yang menjadi saingan saya. Seleksi awal yang dilakukan adalah seleksi administratif. Tanpa piagam, tanpa sertifikat, dan tanpa nilai yang menonjol, saya memberanikan diri untuk mengikuti seleksi awal. Satu-satunya kebanggaan saya adalah selalu menjadi tiga besar di kelas.

Alhamdulillah, saya berhasil lolos dalam tahap awal dan siap mengikuti seleksi bidang studi yang diadakan di Ibu Kota. Dalam seleksi inilah saya baru mengenal nama sekolahnya, yaitu SMART Ekselensia Indonesia. Ternyata, setelah bertanya lebih lanjut, saya mengetahui bahwa sekolah ini merupakan salah satu jejaring dari Dompet Dhuafa. Sebelum mengenal SMART, saya terlebih dahulu mengenal Dompet Dhuafa dari programnya yang ada di kabupaten saya, yaitu Kampung Ternak.

Setelah lolos tes bidang studi dan seleksi-seleksi tahap selanjutnya, saya diterima menjadi salah satu bagian dari Siswa SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4. Kelulusan saya ini menjadi cerita tersendiri di desa saya. Betapa tidak, dalam pengumuman tersebut disampaikan pula bahwa saya beserta teman-teman yang terpilih dari Lampung akan pergi dengan menggunakan pesawat.

Sehari sebelum keberangkatan saya, tepatnya pada malam harinya, di rumah saya diadakan syukuran untuk melepas kepergian saya. Dalam acara itu pula tetangga dan kerabat menitipkan nasihat-nasihat untuk saya ketika sudah hidup negeri orang.

Di SMART kami diijinkan untuk mengikuti berbagai ekstrakurikuler untuk menunjang kemampuan non-akademik kami. Ekskul yang saya ikuti adalah English Club, yaitu wadah bagi para siswa SMART yang tertarik untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Selain mempelajari teori-teori dalam kelas, kami juga sering mengetes kemampuan berbahasa Inggris kami dengan orang asing. Caranya? Bule hunting ke tempat-tempat wisata yang banyak dikunjungi turis asing.

Pengalaman bule hunting pertama yang saya ikuti bertempat di Monumen Nasional. Pada kesempatan itu, kami mencari sebanyak-banyaknya turis asing untuk diajak mengobrol. Karena kemampuan berbahasa Inggris saya saat itu tidak terlalu baik, saya lebih sering menjadi pendengar ketika teman-teman saya bertanya kepada bule-bule itu.

Selain sebagai ajang mempraktikkan secara langsung kemampuan berbahasa Inggris, bule hunting merupakan salah satu media kami untuk refreshing mencari udara segar di luar asrama. Maklum, kami hanya diizinkan keluar seminggu sekali. Walaupun begitu, kami tidak serta-merta memanfaatkan aktivitas ini untuk bersenang-senang tak bertanggung jawab karena kami diwajibkan membuat laporan kegiatan (dalam bahasa Inggris tentunya) dan menyerahkan kepada penanggung jawab ekstrakurikuler ini.

Selain bule hunting, sesekali kami menjadi narasumber di RRI Pro 2 Bogor dalam program English Service Programme yang merupakan program kerja sama dengan Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa. Materi yang dibawakan tidak jauh dari kehidupan kami sebagai anak asrama, seperti suka atau duka menjadi anak asrama. Sesuai namanya, tentu saja kami harus menjawab pertanyaan pembawa acara dengan menggunakan bahasa Inggris. Untuk menghindari kesalahan-kesalahan pada saat menjawab pertanyaan, kami melakukan briefing terlebih dahulu dengan pembawa acara.

Baik ketika kami mendengar program ini atau saat kami menjadi pembicaranya, kemampuan berbahasa Inggris kami sedikit demi sedikit meningkat. Seiring dengan peningkatan kemampuan berbahasa Inggris kami, kami dipercaya untuk menjadi penanggung jawab dalam acara-acara berbahasa Inggris yang diadakan sekolah. Seperti pada saat penyelenggaraan Olimpiade Humaniora, saya dipercaya untuk menjadi Koordinator lomba story telling. Atau ketika rombongan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris se-Indonesia di bawah Kementerian Agama datang ke sekolah kami, saya dan teman saya di English Club dipercaya menjadi MC di hadapan orang-orang yang sudah pasti mahir berbahasa Inggris. Grogi? Pasti. Tapi kami berusaha menampilkan yang terbaik sebagai tuan rumah. Hasilnya, kami diapresiasi oleh peserta.

Hal yang paling berkesan selama saya menjadi salah satu anggota English Club adalah ketika kami kedatangan tamu dari Negeri Ginseng, Korea Selatan, tepatnya dari sekolah-sekolah di Pulau Jeju. Mereka tergabung dalam Korea Youth Volunteer Programme. Ada dua tim yang dikirim dalam program ini, satu ke Garut dan satu lagi ke Bogor atau tepatnya ke SMART. Beruntungnya, karena sudah sering diberi tanggung jawab untuk menjadi MC dalam kegiatan berbahasa Inggris, saya dan teman saya kembali diberi kepercayaan untuk menjadi MC pada pembukaan dan penutupan program ini.

Pengalaman menjadi MC pada program ini merupakan pengalaman baru bagi saya, terlebih lagi secara tidak langsung saya membawa nama negara. Untuk itu, saya membutuhkan waktu berhari-hari demi mempersiapkan diri. Mulai dari pemilihan kostum, pembuatan run down acara, bahkan kami sempat dilatih bahasa Korea demi suksesnya acara.

Pada pelaksanaannya, saya tidak hanya berperan sebagai MC yang membuka dan menutup acara, tetapi ikut serta pada program kerelawanan yang mereka lakukan. Selama pelaksanaan program tersebut, kami tidak hanya memperkenalkan dan mengajarkan budaya yang ada di Indonesia, tetapi juga sharing kebudayaan Korea dan Indonesia. []

Piala Pertamaku

Siang itu, kami para siswa tangguh SMART Ekselensia Indonesia dan beberapa ustadz pergi ke Masjid Raya Kahuripan. Kami semua sangat bersemangat dalam perjalanan kali ini walaupun harus berjalan kaki dan terkadang berlari. Setelah berjalan dan berlari akhirnya berangsur-angsur kami sudah sampai ke tempat tujuan. Di sana para ustadzah yang pergi dengan naik kendaraan masing-masing sudah menunggu kedatangan kami.

Sebelum Shalat Zuhur dan makan siang, para siswa diminta ke lantai dua masjid. Inilah saat untuk asyik-asyikan. Ustadz Ahmad sudah mempersiapkan beberapa permainan yang akan kami mainkan per kelas. Kunci dari permainan-permainan ini adalah kerja sama tim yang baik. Permainan ini dimulai dari memindahkan bola kecil dengan menggunakan paha. Cara bermainnya adalah seluruh siswa duduk berjejer, lalu cara memindahkan bolanya dengan mengoperkannya dari satu paha ke paha yang lainnya.

Permainan selanjutnya tidak kalah seru, yaitu satu siswa dengan siswa yang lainnya per kelas harus menduduki paha temanya, dan temanya itu juga harus menduduki teman yang lainnya lagi. Permainan pun dimulai, kami pun saling menduduki paha teman satu dan yang lainnya. Awal-awalnya sih biasa saja. Tetapi, selang beberapa menit, rasa pegal pun mulai merambat. Satu per satu kelompok mulai berjatuhan hingga 15 menit. Akhirnya permainan pun dihentikan dan menyisakan empat kelompok sebagai pemenangnya.

Setelah semua permainan selesai, kami melaksanakan shalat berjamaah. Setelah itu kami diminta untuk mengambil nasi boks yang telah disediakan untuk makan siang. Setelah membuka boks makan, yang kulihat adalah… hati. Oh tidak! Dari kecil aku memang kurang menyukai yang namanya jeroan. Untunglah di dalam boks itu juga ada buah kesukaanku, semangka. Yes, alhamdulillah. Ternyata bukan hanya terdapat kekurangan tetapi juga ada kelebihannya.

Kami pun menunggu jemputan pulang. Sambil menunggu, aku bermain-main dengan teman-teman. Karena capek berdiri terus, aku pun duduk di teras dan kebetulan di samping kiriku ada Ustadzah Dina dan Ustadzah Iif. Di sana saya mengobrol dengan teman di samping kananku.

Beberapa saat kemudian Ustadzah Iif baru menyadari kehadiranku. “Eh ada Opick.”

“Bukannya Opick itu nama panggilan Ade Mustopic?” tanya Ustadzah Dina kepada Ustadzah Iif.

“Iya, tapi Rafi di rumahnya juga dipanggil Opick,” jawab Ustadzah Iif.

Ustadzah Dina berseru tanda paham. Kemudian mereka mengobrol, entah membicarakan apa.

Beberapa saat kemudian obrolan kedua guruku berakhir.
“Pick, siap-siap lomba ya!” Tiba-tiba Ustadzah Iif berkata padaku.
“Lomba Dzah?” Aku bertanya.
“Iya,” jawab Ustadzah Iif beberapa saat kemudian.
Aku pun berkata dalam hati, “Yes, akhirnya lomba juga!”

Aku begitu riang. Maklumlah, dari kelas 1 sampai saat itu aku belum pernah mengikuti lomba resmi.

Beberapa hari kemudian aku diberikan contoh soal Olimpiade Matematika oleh Kak Afdhal Firman. Soalnya susah-susah juga, batinku. Ternyata yang mengikuti lomba bukan hanya aku. Ada lima orang lainnya, yaitu teman seangkatanku Ade Mustopic, dan sisanya siswa Angkatan 8, yaitu Kak Fatih, KaK Afdhal, Kak Muhib, dan Kak Dion. Kami dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Kak Fatih, Kak Afdhal; sisanya tergabung dalam kelompok kedua.

Inilah hari pertama kami mengikuti Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten Bogor. Sekitar pukul 06.30 kami sudah siap untuk berangkat ke MAN 2 Bogor, tempat pelaksanaan lomba. Sambil menunggu pelaksanaan dimulai, kami mengerjakan Shalat Dhuha terlebih dahulu di Masjid Raya Bogor, menyusul kemudian berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam mengikuti lomba.

Kami kembali ke MAN 2 Bogor untuk mengikuti acara pembukaan. Setelah selesai pembukaan, para peserta pun memasuki ruangan lomba yang sudah disediakan. Ruangannya cukup sederhana dengan kursi dan meja yang terbuat dari kayu. Juga ada kreasi siswa yang menghiasi dinding ruangan itu.

Para pengawas yang merupakan mahasiswa mulai membagikan soal olimpiade dan juga kertas buram untuk corat-coret. Beberapa menit kemudian kami pun mulai membuka soal dan mengisi biodata kami. Berikutnya kami mulai mengerjakan soal.

Menit demi menit berlalu. Akhirnya waktu pun habis dan kami berhasil menjawab 14 soal dari 25 soal. Setelah itu kami pun langsung keluar kelas lalu kemudian melaksanakan Shalat Zuhur. Setelah shalat kami langsung makan di rumah makan padang sebelum akhirnya kami pulang.

Beberapa saat kemudian, kami pun mendapatkan informasi bahwa kami lolos ke babak selanjutnya, yaitu olimpiade tingkat provinsi di Bandung. Alhamdulillah, kelompokku lolos, namun ternyata kelompok Ade Mustopic belum berhasil lolos.

Dalam perlombaan tingkat provinsi kami menghadapi dua sekolah yang dikenal tangguh. Kami sudah berusaha keras, dan hasilnya kami meraih juara ketiga. Meskipun belum hasil sebagai juara pertama, aku senang sekali memberikan piala untuk SMART. Itulah piala pertamaku dan piala pertama di Angkatan 9. Semoga piala tersebut bukanlah piala pertama sekaligus piala terakhirku. Semoga aku masih bisa mendapat juara lagi ke depannya.

Kontributor : M. Fatihkur Rafi

Jalan Anak Pengayuh Becak

SMART? Apa itu SMART? Aku tidak tahu SMART itu apa, selain sebuah kata dalam bahasa Inggris yang artinya cerdas atau pintar.

Hari itu, saat aku kelas 6 SD, tepatnya pada semester 2, aku mendengar kata “SMART Ekselensia” dari guruku. Guruku bertanya padaku, “Apakah Satrio mau sekolah di SMART Ekselensia?” Dalam hati aku malah bertanya, “SMART itu sekolah seperti apa?” Sebelum aku mengutarakannya, guruku langsung menjelaskan hal-hal terkait SMART Ekselensia. Guruku sepertinya sudah tahu kebingunganku.

Setelah mendengar semua penjelasannya, aku pun tahu bahwa SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah berasrama yang didirikanuntuk anak berprestasi namun orangtuanya kurang dalam finansial, dibangun oleh lembaga amil zakat nasional bernama Dompet Dhuafa, dananya berasal dari zakat, sedekah, infak, dan lain-lain.
“Ini kesempatan untukku,” kataku dalam hati dengan sedikit merenung.
“Gimana Satrio?” tanya guruku.
“ Oh iya, Bu, saya sih mau, tapi belum tentu dengan orangtua saya.”
“Ya sudah, ini formulir pendaftarannya. Jika ayahmu setuju, bilang pada Ibu.”

Waktu terasa sangat lama hari itu. Padahal, aku ingin segera memberitahukannya kepada Ayah. Aku terus melihat jam sekolah yang putarannya terasa lama. Tapi, aku baru ingat kalau Ayah sedang bekerja dan biasanya pulang pada waktu maghrib.

Di rumah, setelah pulang sekolah aku memutuskan untuk tidur siang, agar tidak terasa lama menunggu Ayah datang. Kebetulan hari itu aku tidak ada jadwal mengaji, jadi aku bisa tidur.

Akhirnya, setelah lama menunggu, Ayah datang juga. Wajar saja aku sangat ingin memberitahukan hal itu pada Ayah. Pasalnya, aku dan Ibu sudah tak serumah lagi. Aku tinggal bersama Ayah. Ayah dan Ibu sedang mengurus perceraian mereka. Aku sangat sedih melihat keadaan keluargaku, melihat keduanya bertengkar. Aku sering menangis saat berdoa karena memikirkan keadaan keluargaku.

Setelah Ayah selesai mandi dan shalat, aku langsung mengatakan informasi di sekolah tadi.
“Yah, Ayah setuju tidak kalau Rio sekolah di SMART Ekselensia di Bogor?”
“Sekolahnya jelas atau tidak ?” Ayah langsung bertanya.
“Rio juga kurang tahu, coba Ayah telepon guru Rio.”

Ayah langsung menelepon guruku. Setelah selesai berbincang, Ayah berkata padaku, “Rio, kalau tekadmu sudah kuat, silakan kamu sekolah di sana, kalau urusan seleksi Ayah yakin kamu pasti lulus.”

Mendengar perkataan tersebut, jantungku langsung berdegup kencang dan mataku berair. Perasaanku antara senang dan sedih, aku tidak menyangka Ayah akan berkata seperti itu.

Bila benar aku diterima, aku sedih karena akan berjauhan dengan keluarga dan teman-teman. Tapi, di sisi lain, hati kecilku berkata bahwa aku tenang dan jauh dari kesedihan yang dialami keluargaku yang mulai hancur. Dengan pergi ke Bogor, aku akan jauh dari masalah dan juga perceraian orangtuaku. Saat itu aku benar-benar sangat sedih. Sebisa mungkin aku ingin pergi jauh dari rumah.

Menyiapkan Masuk Seleksi

Hari demi hari berlalu aku lewati dengan perkataan Ayah yang selalu teringat di benakku. Sampai-sampai aku berpikir, apakah ini jalan yang terbaik untukku? Saat aku memikirkannya, aku dengan segera menepis jauh pemikiran galau itu.

Detik, menit, dan jam terus berganti, dan saat itu yang aku lakukan hanyalah persiapan untuk seleksi masuk SMART.

Mulai dari menambah jam belajar, berdoa, hingga ikhtiar penunjang. Semunya aku lakukan agar aku bisa mengerjakan soal saat tes nanti. Setelah aku sangat lama menunggu hingga berganti bulan, akhirnya hari untuk seleksi pun tiba. Seleksi pertama adalah tes tulis. Pesertanya telah dilihat nilai rapornya terlebih dahulu; jika nilainya di atas rata-rata, ia pantas untuk tes tulis.

Tes Tulis, UJian Pertamaku

Tes tulis itu diadakan di tempat yang cukup jauh dari rumahku. Jadi, aku bersiap pergi ke sana setelah Shalat Subuh. Aku berangkat bersama Ayah mengendarai becak. Ayah memang penarik becak. Walaupun begitu, aku tidak pernah malu, bahkan aku selalu bersyukur.

Setelah cukup lama berkendaraan, akhirnya kami sampai juga. Tempat tesnya sebuah kampus. Aku bersegera masuk ke ruangan tes dan langsung duduk. Aku juga sempat belajar sebelum tes dimulai.
“Tes akan segera dimulai !” Ucap seorang panitia.

Tes yang pertama adalah pelajaran kesukaanku, matematika. Soalnya cukup banyak dan ada gambar pizza di salah satu soal. Aku tak menemui banyak kesulitan pada soal-soalnya karena aku sangat suka matematika, dan soal-soalnya pun sudah pernah kupelajari.

Tes yang kedua adalah bahasa Indonesia. Kali ini tugasnya adalah mengarang dengan tema “Sekolahku Masa Depanku” sebanyak satu halaman kertas dobel folio. Aduh, aku belum ada inspirasi saat mengarang. Akhirnya aku memutuskan untuk meletakkan pulpen di atas meja dan duduk bersandar sambil mencari inspirasi. Alhamdulillah, inspirasiku datang pada saat 30 menit sebelum tes usai. Jadi, aku memutuskan untuk menulis dengan secepat-cepatnya. Aku pun selesai tepat waktu dengan karanganku yang bejudul “Dengan Sekolah Masa Depanku Terbentuk.”

Tes yang terakhir adalah pelajaran Pendidikan Agama Islam. Soalnya tidak susah dan bisa kujawab dengan baik walaupun aku belum belajar.
Akhirnya tes tulis usai, aku pun bergegas pulang. Aku tidak menaiki becak Ayah seperti saat aku pergi namun menaiki angkot. Di perjalanan ada beberapa orang yang menertawaiku karena aku memakai seragam sekolah di hari Minggu.

Sekitar 2 minggu kemudian, aku pun mendapat informasi bahwa aku lulus tes tulis. Aku pun cukup senang dan bersyukur. Sebelumnya aku sudah yakin bahwa aku akan lulus tes tahap satu ini. Beberapa hari setelah pengumuman itu, aku harus tes lagi. Tapi kali ini berupa psikotes. Aku tak tahu apa-apa mengenai psikotes, jadi aku memutuskan untuk tidak belajar apa pun.

Ujian Psikotest

Aku pergi bersama Ayah menaiki becak. Hari itu aku memakai baju seragam SD, tapi aku yakin takkan ada yang menertawaiku karena hari itu bukan Minggu. Setelah perjalanan yang cukup jauh dan lama, akhirnya kami pun sampai. Aku pun langsung memasuki ruang tes. Ternyata sisa peserta hanya tinggal tiga anak, salah satunya selain aku adalah siswa bernama Helmi (satu siswa lagi aku lupa namanya). Kami pun memulai tes tersebut. Tesnya cukup mudah karena seperti tebak-tebakan dan menguji kreativitas. Ada soal yang mengharuskanku untuk menggambar dan menghitung.

Setelah tes tersebut selesai, ada satu lagi yang harus kuikuti, yaitu wawancara. Mungkin wawancara ini salah satu bagian dari psikotes. Ketika giliranku diwawancarai, aku ditanya tentang latar belakang diriku

Sampailah pada pertanyaan yang membuatku sedih.
“Hal apa yang paling membuat kamu sedih?” Tanya si pewawancara.
“Perceraian kedua orangtuaku,” jawabku dengan suara terisak.
Aku pun tak bisa membendung air mata. Aku menangis dan menaruh kepala di atas meja. Aku terus menangis tanpa henti. Aku merasa itulah kejadian yang paling membuatku sedih dan tak bisa kulupakan selamanya.
“Sudah jangan nangis lagi, sabar aja ya.” Pewawancara itu menenangkanku.

Beberapa menit kemudian, wawancara pun selesai. Pulangnya aku diantar oleh Helmi dan ayahnya. Ternyata orangtua Helmi dan orangtuaku teman dekat. Di perjalanan mataku masih saja sembab karena aku menangis saat tes.

Aku lega karena rangkaian tes telah selesai. Hanya ada satu tahap lagi, yaitu home visit. Tapi, home visit tidak begitu melibatkan diriku. Benar saja, beberapa hari kemudian kunjungan ke rumahku dilaksanakan saat aku berada di sekolah.

Sekitar dua pekan setelah home visit dilaksanakan, aku mendapat SMS dari Ayah saat ia sedang bekerja.
“Kamu lulus ke SMART Ekselensia.”

Alhamdulillah, ucapku dalam hati. Tidak lama kemudian, aku pun langsung sujud syukur atas kelulusanku.

Kontributor : Rizky Dwi Satrio

Pengumuman Hasil Seleksi SNB SMP dan SMA SMART Ekselensia Indonesia 2019

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi SNB SMART Ekselensia 2019
Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi SNB SMART Ekselensia 2019

Selamat kepada 521 siswa yang lulus tahap seleksi adminstrasi & berhak mengikuti tes akademik SMART Ekselensia Indonesia pada tanggal 16/17 Februari 2019

(List daftar dalam tabel pdf)

Bagi wilayah Jabodetabek tes dilaksanakan di Bumi pengembangan insani DD Pendidikan jl. Raya parung km.42 Desa Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor pada tanggal 17 Februari dan untuk selain Jabodetabek dilaksanakan di Panitia daerah masing-masing pada tanggal 16/17 Februari 2019 (Alamat di sertakan)

Tes akademik :
SMP : Matematika, B.Indonesia dan Pendidikan Agama Islam

SMA : Matematika, B.Indonesia Pendidikan Agama Islam, B. Inggris dan Ilmu Pengetahuan Alam

Pelaksanaan Tes Seleksi SMART

  1. Sumatra Utara : 16 Februari 2019
  2. Sumatra Barat : 16 Februari 2019
  3. Riau : 17 Februari 2019
  4. Kepri Batam : 16 Februari 2019
  5. Jambi : 17 Februari 2019
  6. Sumatra Selatan : 17 Februari 2019
  7. Bangka Belitung : 16 Februari 2019
  8. Lampung : 17 Februari 2019
  9. Banten : 16 Februari 2019
  10. Jabodetabek : 17 Februari 2019
  11. Jawa Barat : 16 Februari 2019
  12. Jawa Tengah – Semarang : 16 Februari 2019
  13. Jateng Purwokerto : 16 Februari 2019
  14. Yogyakarta : 16 Februari 2019
  15. Malang : 17 Februari 2019
  16. Bali : 17 Februari 2019
  17. Kalbar : 16 Februari 2019
  18. Kalimantan Selatan : 17 Februari 2019
  19. Sulawesi Selatan : 16 Februari 2019
  20. Sulawesi Tenggara : 17 Februari 2019
  21. Sulawesi Tengah : 16/17 Februari 2019
  22. Nusa Tenggara Barat : 17 Februari 2019
  23. Nusa Tenggara Timur : 16 Februari 2019

SMART Ekselensia Indonesia Cetak Generasi Pemimpin

Dompet Dhuafa hadir dengan pedoman lima pilar program, salah satunya adalah pendidikan. Sekolah SMART Ekselensia Indonesia menjadi salah satu program dari pilarnya.

Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, Muhammad Syafi\’i Elbantani (Kak Syaf) mengatakan, program SMART Ekselensia Indonesia berbentuk sekolah bebas biaya untuk anak-anak dhuafa berprestasi dari seluruh Indonesia. Anak-anak dhuafa yang lolos seleksi akan disekolahkan di SMP dan SMA SMART Ekselensia Indonesia pada Lembaga Pengembangan Insani di Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dijelaskan Kak Syaf, anak-anak akan belajar di SMP selama tiga tahun dan di SMA selama dua tahun. Mereka juga akan tinggal di asrama yang segala kebutuhannya telah disediakan oleh donatur Dompet Dhuafa

“Semua anak-anak dibiayai Dompet Dhuafa dari kebaikan para donatur, mulai dari kedatangan, seleksi, biaya pendidikan, makan dan semuanya dicover Dompet Dhuafa, bahkan sampai mereka lulus SMA,” kata Kak Syaf kepada Republika.co.id, Kamis (7/2).

Ia menjelaskan, SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah kepemimpinan. Siswa-siswa SMP dan SMA belajar kurikulum nasional dari pemeritah. Tapi mereka juga belajar kepemimpinan, berbicara di depan umum, berargumentasi dan memecahkan masalah. Artinya mereka belajar keterampilan sebagai seorang pemimpin (personal leadership skill).

Selain itu, siswa-siswa juga belajar keterampilan kepemimpinan sosial (social leadership). Seperti belajar manajemen organisasi dan rekayasa sosial. Mereka juga diberi pengalaman magang di desa dan membuat proyek sosial di tengah masyarakat

Sehingga siswa SMART Ekselensia Indonesia tidak hanya berpikir untuk kesuksesan pribadi. Tapi mereka juga berpikir bagaimana berkontribusi untuk masyarakat.

“Karena mereka lahir dari Dompet Dhuafa, Dompet Dhuafa lahir untuk memberdayakan masyarakat marginal, maka setiap penerima manfaatnya harus memiliki nilai itu,” ujarnya

Kak Syaf menegaskan, sekolah SMART Ekselensia Indonesia tidak hanya mendidik anak-anak supaya pintar di bidang akademik. Tapi juga melatih mereka supaya memiliki jiwa sosial yang berkontribusi untuk kepentingan umum. Hasilnya sudah bisa dilihat, sebanyak 90 persen lebih, lulusan SMART Ekselensia Indonesia diterima di perguruan tinggi negeri

Alumni SMART Ekselensia Indonesia juga bisa mendapat beasiswa dari pemerintah. Rata-rata mereka menduduki posisi penting di organisasi kampusnya masing-masing. Ini adalah hasil belajar keterampilan kepemimpinan saat mereka belajar di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

“Jadi yang menonjol di sekolah SMART Ekselensia Indonesia selain akademik, juga kepemimpinan siswanya, itu diukur dari kontribusi anak-anak SMART Ekselensia Indonesia kepada masyarakat sekitar,” jelasnya.

Sumber : Republika

“Ayo, cepetan!” Sebuah suara memintaku untuk segera bergabung.
“Tunggu sebentar!” Suaraku ikut menggema pagi itu. “Oke, oke aku siap!”
Kuambil langkah seribu dan langsung memburu. Di sana, Yunus, Arif, Jayeng, dan Syahid teman-temanku sudah menanti. Kami tergabung dalam tim Trashic (Trash Music) SMART Ekselensia Indonesia. Hari itu kami menggelar pertunjukan musik di kantor Kementerian Keuangan.

Musik? Musik macam apa itu? Mungkin jika orang melihat kami, alis tertaut dan kening berkerut sembari bertanya-tanya: apa ini? Mau apa mereka? Akan segera bertengger tanya di ujung benak. Aku dapat banyak pengalaman dengan jerigen, drum, kaleng-kaleng, dan botol kaca. Dari barang-barang bekas ini aku dapat belajar bagaimana bicara di depan orang lain, membangun kepercayaan diri, dan menampilkan sesuatu yang terbaik bagi orang lain.

“Reza enggak bisa ikut nih, gimana dong?”
“Tenang saja, Ustadz, ada Yunus.”
Kami meyakinkan pembimbing.
“Emang Reza ke mana?”
“Sakit, Ustadz. Enggak memungkinkan untuk ikut,” jelasku.

Kami masih menyibak pagi dengan ketukan-ketukan ritmis sembari merapat nada, mencoba untuk menirukan lagu yang nanti kami mainkan. Tak jarang kami berhenti, mengoreksi, menimbang-nimbang, dan mengulangnya lagi. Lagi dan lagi. Ini memang sulit. Reza tak bisa datang dan kami tak punya banyak pilihan. Yunus yang paling memungkinkan pun masih terasa berbeda. Salah dan teledor, sudah biasa.

Waktu takkan mau berbelas kasih menunggu kami. Namun, bukanlah Trashic jika berhenti dan lantas beranjak pergi. Kami terus mencoba dan mencoba lagi. Sedikit rasa malu karena mata-mata yang mencuri pandang dan dengar tak mengentaskan usaha kami. Langit masih biru dan kini ruangan itu mulai ramai dijejali orang. Aku tak kenal dan tak begitu peduli dengan semua itu. Yang kupikirkan adalah bagaimana kami tampil sebaik mungkin dan menghibur mereka semua.

Sesapu pandang kulihat. Warna berkilau, kesan mewah dan kesan priyayi terasa dari bagian depan tamu-tamu yang hadir. Pikirku jahil menari-nari.
“Kementerian Keuangan, wanita-wanita itu istri para pemegang uang, kudengar ini acara ibu-ibu arisan, wah bisa dibayangkan….”
“Ayo masuk!” Arif menyenggolku.
“Ya, ya, santai bro hehehe….”

Kami memasuki ruangan khusus pengisi acara. Sembari menunggu, kami bersantai sejenak. Lelah, pusing, dan pegal masih menggantung. Pikiranku kembali menari. “Apa yang kubawa nanti ya? Aku ingin sekali memberikan sesuatu padanya. Uangku tak mungkin kugunakan karena untuk persediaan hingga pulang kampung. Mungkin, bisa.

“Coba lagi yuk, lancari.” Kuambil stik dan mengajak anggota yang lain ikut bergabung.
“Habis ini siap-siap ya!”
“Sip, Ustadz!”

Yang kami yakini adalah kami harus bermain sebaik-baiknya dan jangan pikirkan soal imbalan. Luruskan niat bahwa kami ingin menghibur dan memberikan yang terbaik. Ustadz selalu berkata demikian.

Aku hanya percaya bahwa aku masih bisa memberikan sesuatu untuknya, untuk mereka.

Kami dipanggil. Kaki melangkah, dan kami telah siap. Kami mulai. Kami tenggelam dalam ketukan dan harmonisasi. Menjaga dan coba selaraskan hingga akhir. Sejenak terlupa tentang apa yang harus kubawa untuknya. Lagu berakhir, kami beristirahat sejenak.

Kubuka percakapan. Kusebut seperti itu dengan penonton. Tidak percakapan dalam arti sebenarnya namun tetap kuanggap begitu. Sekadar hilangkan ketegangan. Aku cukup bisa membaur. Mereka terlihat antusias dan menginginkan satu lagi dari kami.

Penampilan selanjutnya berjalan cukup baik. Yunus lupa dan kehilangan ketukan. Improvisasi darinya selamatkan penampilan kami. Penonton riuh redam, tepuk tangan menyerbu. Kami berhasil lagi. Sedikit celetukan mengatakan bahwa kami harus bermain sekali lagi. Waktu kami habis. Sedikit basa-basi dan penutup dariku, lantas kami turun dari panggung. Senang Trashic selalu bisa membuatku senang pada saat seperti ini. Melihat sambutan tadi, aku kembali menepi. Berpikir bahwa kami memang punya sesuatu.

Di ujung acara kami kembali dipanggil. Bukan untuk kembali menggebuk drum, jerigen, dan kaleng namun untuk menerima ‘sedikit’ bingkisan. Jepretan kamera dan blitz silih berganti. Pasang senyum dan bertindak wajar sukses!

Wanita yang menyerahkan bingkisan ini pastilah orang penting. Aku lupa siapa atau posisinya, yang jelas ia seperti orang yang memiliki pengaruh besar.

Sedikit berat bingkisan ini. Tak tahulah apa isinya. Bukan sekarang saatnya. Kami kembali ke ruangan pengisi acara. Bingkisan dibuka dan aku langsung berpikir untuk memberikan ini pada mereka.

“Al-Qur`an untuk Ayah dan Ibu. Pasti mereka senang!” Sorakku dalam hati. []

Kontributor : Panji Laksono (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)

melalui-homestay-dompet-dhuafa-ajak-orang-tua-asuh-inspirasi-siswa-_150718084717-449

Pengalaman Baru ketika Homestay

Pertengahan Ramadhan pun tiba. Siswa SMART Ekselensia Indonesia diprogramkan untuk beriktikaf di masjid-masjid selama liburan dua minggu menjelang Idul Fitri. Karena aku baru kelas 1 SMP, aku beriktikaf di Masjid “Al-Insan”, masjid satu lingkungan dengan sekolahku. Kelas yang lebih besar dari kelasku beriktikaf di luar lingkungan SMART, ada yang sampai Ciputat.

Bagi sebagian temanku, iktikaf di luar lingkungan SMART terasa menyenangkan. Ada suasana baru, katanya. Tapi, aku lebih suka di masjid dekat asrama karena aku belum terbiasa dengan lingkungan asing.

Satu dua hari aku memang masih bisa menikmati. Barulah pada hari ketiga aku sudah mulai bosan tinggal di dalam masjid. Tiga hari saja sudah terasa bosan, apalagi dua Minggu. Walau begitu, aku berusaha untuk bertahan. Bocoran dari kakak kelas, dua minggu itu tidak hanya iktikaf yang dilaksanakan, tetapi ada kegiatan satu lagi, yaitu home stay.


“Kak, home stay itu apa sih?” tanyaku pada seorang kakak kelas.
“Home stay itu kegiatan mengajak anak dhuafa untuk bersenang-senang oleh para donatur lembaga.”

Mendengar jawaban itu aku mulai merasa tidak bosan tinggal di masjid. Aku juga berpikir kenapa harus bosan di masjid padahal berada di dalamnya diniatkan untuk ibadah.
Dua hari kemudian aku mendapat kabar dari ustadz yang beriktikaf bersama kami bahwa aku dan temanku Ade mendapat undangan untuk home stay bersama donatur yang katanya seorang perwira TNI. Aku dan Ade tentu saja sangat senang karena tidak semua siswa mendapatkan home stay.

Menunggu Penjemputan

Hari-hari demi hari aku menunggu untuk mendapat jemputan dari donatur yang mau mengajak kami. Setelah dinanti-nanti aku mendapat kabar lagi dari ustadz yang sama bahwa home stay aku dan Ade dibatalkan. Sang donatur ada urusan yang lebih penting. Mendengar penjelasan itu, aku dan Ade merasa kecewa dan sedih. Aku berusaha bersabar dan berkata dalam hati bahwa mungkin itu bukan rezekiku.

Hari kecewa dan sedih sudah berlalu. Waktunya untuk semangat memperbanyak ibadah. Saat iktikaf kami paling banyak membaca Al-Quran. Selain membacanya merupakan perintah Allah, guru mengaji kami juga menyuruh semua siswa untuk mengkhatamkan Al-Quran saat Ramadhan.

Satu minggu berlalu aku pun sudah mengkhatamkan Al-Quran. Saat itu pun aku senang karena baru pertama kali aku mengkhatamkan Al-Quran. Setelah khatam, aku tidak berhenti membaca Al-Qur`an, aku pun mulai dari awal lagi. Tidak lama kemudian aku mendapat kabar lagi dari ustadz yang beriktikaf bersama kami bahwa aku mendapat undangan home stay lagi dari donatur lain. Kali kedua itu tidak hanya aku, ada Ade, Kak Dian, dan Kak Umar. Kami semua sangat senang, setelah itu aku langsung bersyukur pada Allah

Seperti biasa, sebelum berangkat home stay kami menunggu jemputan dari donatur. Detik demi detik mulai berlalu, menit demi menit berlalu, jam demi jam berlalu. Tidak sia-sia aku bersabar akhirnya datang juga jemputan. Aku berangkat dua hari sebelum Lebaran. Aku menaiki angkot untuk mencapai tujuan.

Pengalaman di “Rumah Baru”

Saat aku sampai di tujuan, tampaklah rumah yang cukup bagus, halamannya luas, dan banyak sepedanya. Di dalam satu area itu ada empat rumah. Rumah ke satu adalah rumah yang mengantar kami. Rumah yang kedua rumah saudaranya; di sanalah aku dan Ade tinggal. Rumah yang ketiga dan keempat masih rumah saudaranya juga. Jadi, satu area itu sekeluarga.

Saat masuk rumah aku merasa malu dilihat orangtua home stayku. Saat aku masuk ke rumah dengan mengucapkan salam, saat itu juga aku langsung disuruh duduk oleh orang yang dipanggil ‘Bapak’. Aku dan Ade ditanya nama asal daerah, kelas, dan cita-cita.

Tidak lama kemudian seorang wanita keluar dari kamar mandi dengan membawa anak kecil yang baru saja dimandikan. Beliau bertanya kepada kami hal yang sama, setelah itu kami disuruh menyimpan barang-barang kami di kamar. Kami disuruh mandi terlebih dulu sebelum akhirnya diminta ke meja makan untuk berbuka puasa bersama.

Aku senang sekali karena baru pertama kali datang sudah diajak berbuka puasa bersama. Berbukanya pun dengan sup buah makanan. Setelah berbuka bersama kami langsung pergi ke masjid untuk melaksanakan Shalat Maghrib berjamaah. Sepulangnya ke rumah, aku menonton televisi terlebih dahulu sembari menunggu azan isya. Setelah azan berkumandang, kami kembali ke masjid untuk melaksanakan Shalat Isya dan Tarawih. Keesokan harinya, setelah Shalat Subuh pagi-pagi sekali kami diajak untuk bersepeda mengelilingi kompleks. Sore hari, aktivitas kami di rumah itu sama seperti kemarin harinya.

Pada malam takbiran atau semalam sebelum Lebaran, aku dikasih oleh Ibu baju lebaran yang sangat bagus. Setelah itu aku dan Ade diajak untuk makan malam bersama. Saat itu banyak keluarga Bapak dan Ibu berdatangan untuk silaturahim. Aku merasa malu, saat itu hanya aku, Ade, Kak Dian dan Kak Umar saja yang bukan anggota keluarga mereka. Padahal, sebenarnya aku dan yang lainnya dianggap sebagai keluarga oleh Bapak, Ibu, dan yang lainnya. Malam itu juga langit dihiasi oleh bintang kembang api yang meledak-ledak di udara. Tak terasa malam sudah menjemput, rasa kantuk sukar dielakkan. Aku pun langsung ke kamar untuk tidur.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami berangkat untuk menunaikan Shalat Idul Fitri. Setelah shalat kami mengunjungi para tetangga untuk bersilaturahim; setelah itu, kembali ke rumah untuk menyambut tamu yang datang.

Pada hari Lebaran kedua, aku dan Ade diajak Bapak dan Ibu ke Bandung. Di Bandung aku tinggal bersama anak-anak Bapak dan Ibu. Saat diajak aku sangat senang sekali karena tempat saudara yang mau dikunjungi itu dekat dengan rumah ibu kandungku. Dengan demikian, ibu kandungku bisa bertemu denganku walaupun hanya sebentar.

Setelah ibu kandungku pulang, kami langsung kembali lagi ke Bogor. []

Kontributor : Aldi Maulana (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)

Desa Terisolir dikunjungi SMART Ekselensia Indonesia.

Belajar dari Kesederhanaan Desa Cibuyutan

Jumat itu azan subuh baru saja selesai dikumandangkan. Tapi, tidak seperti biasanya. Aku telah memakai seragam sekolah untuk Shalat Subuh. Bukan cuma aku yang telah bersiap-siap, tapi semua siswa kelas 4 IPS SMART Ekselensia Indonesia juga sudah siap. Beberapa menit kemudian iqamah pun dikumandangkan. Aku langsung bergegas menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah di Masjid “Al-Insan”. Dalam balutan dinginnya subuh, aku tetap menghadapkan diriku ke hadapan-Nya. Aku pun mengikuti serangkaian Shalat Subuh mulai dari takbiratul ihram sampai berakhirnya zikir.

Setelah menyelesaikan semua tugasku di masjid, aku melanjutkan langkahku ke lapangan apel. Dari kejauhan terlihat siswa kelas 4 IPS lainnya sedang menikmati sarapannya masing-masing. Aku terus menyusuri koridor sekolah yang diterangi oleh lampu. Sampai di keramaian tersebut, aku mengambil sarapan yang telah disediakan. Sarapan kali ini adalah nasi goreng yang ditemani satu telur mata sapi dan dua buah nugget. Tanpa basa-basi, aku langsung menyantap sarapan tersebut. Perut yang tadinya kosong akhirnya terisi sebagai penambah kekuatan siang nanti.


Setelah selesai makan, aku berjalan mendekati tong sampah untuk membuang kotak nasi yang telah kosong. Aku melihat ada sebuah motor yang memasuki gerbang sekolah. Sorotan cahaya lampu motor tersebut sangat menyilaukan sehingga aku tidak dapat melihat wajah sang pengendaranya. Setelah motor berhenti, barulah terlihat wajah pengendara tersebut walaupun tidak jelas karena matahari belum menampakkan wajahnya. Ternyata itu adalah Ustadzah Dini yang diantar oleh suaminya. Dialah yang akan mendampingi kami kali ini menuju ke Desa Cibuyutan. Cibuyutan merupakan desa terisolasi di Jawa Barat, letaknya ada di Kecamatan Sukarasa, Kabupaten Bogor.

Perjalanan Menuju Desa Cibuyutan


Pukul 06.30 kami mulai memasukkan barang-barang yang akan dibawa ke tempat tujuan. Barang yang dibawa adalah nasi untuk makan siang, air minum, dan snack untuk persediaan di jalan. Setelah semua beres, kami pun berangkat dengan menggunakan dua mobil. Sekitar 10 menit setelah meninggalkan lingkungan sekolah, kami harus berhenti lagi untuk menyinggahi salah satu pendamping lainnya, Ustadz Ahmad. Kami menunggu selama kurang lebih 30 menit, setelah itu mobil melanjutkan perjalanannya kembali.

Pada saat memasuki tol, aku merasa mengantuk. Aku pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tidurku semakin nyenyak, ditambah dengan segarnya udara pagi yang masuk melalui jendela yang sengaja kubiarkan terbuka.

Kondisi jalan yang tidak rata membangunkanku dari tidur. Matahari telah sepenuhnya menampakkan dirinya, cahaya mentari mengintip dari sela-sela jendela mobil, cahayanya menyilaukan mataku. Tak terasa mobil telah melewati setengah dari perjalanan. Aku mencoba mengintip dari jendela mobil. Terlihat hamparan sawah yang luas terhampar di sekitar sisi jalan yang kami lewati. Setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya kami semakin dekat dengan tujuan. Justru pada saat itulah hal yang paling memusingkan bagi kami. Ustadz Ahmad dan Ustadzah Dini saling bergantian menanyai warga tentang jalan menuju Desa Cibuyutan. Setelah beberapa kali bolak-balik di jalan yang sama, akhirnya kami menemukan jalan yang menuju ke lokasi yang dicari-cari.
Sebelum melanjutkan perjalanan, kami beristirahat sebentar di sebuah masjid. Di masjid tersebut kami melepas penat selama 15 menit. Kemudian beberapa orang perwakilan dari kami melakukan survei jalan yang akan dilewati. Setelah mendapat laporan dari mereka yang melakukan survei, akhirnya kami menyusul mereka ke sana.

Desa yang Terisolir

Kami harus berjalan kaki untuk masuk ke desa tersebut. Jalan yang kami lalui bukanlah jalan aspal, melainkan kumpulan batu yang disusun secara rapi selebar kira-kira 2,5 meter. Setelah berjalan kaki selama 30 menit, kami berkumpul pada sebuah pondok pesantren. Di pondok pesantren itulah kami melakukan makan siang dan Shalat Jumat. Kami memilih untuk makan siang terlebih dahulu. Menu untuk makan siang adalah ayam goreng, sayur, dan saus sebagai teman dari nasi. Setelah menyelesaikan santap siang, kami melanjutkan kegiatan dengan Shalat Jumat.
Setelah menjalankan Shalat Jumat, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Cibuyutan. Sebelum berangkat, kami melakukan briefing terlebih dahulu. Setelah semua siap, tibalah tantangan yang sebenarnya. Kami akan berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer. Jalannya pun menanjak dan lebarnya hanya satu meter dan hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua. Mungkin banyak yang iri pada Ustadzah Dini karena beliau pergi dengan menggunakan ojek. Tapi harap dimaklumi, Ustadzah Dini menggunakan ojek karena dalam keadaan hamil.

Aku berjalan berbarengan dengan Tan dan Kasman. Kami bertiga terus berjalan tanpa ada istirahat. Adapun siswa yang lain banyak yang memilih beristirahat karena kecapekan. Kami bertiga terus berjalan tanpa henti. Jalan yang terbuat dari batu membuat kaki kami terasa sakit.

Panasnya terik matahari terus menemani setiap langkah kaki kami. Jalan yang menanjak ditambah panasnya terik matahari membuat keringat kami mengalir dengan deras dan membasahi baju yang kami kenakan. Tan dan Kasman sempat membuka baju mereka karena kepanasan. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan segerombolan kerbau. Untungnya, kerbau-kerbau tersebut menghindar begitu melihat kami sehingga kami bisa melewatinya. Sementara itu, Ridhwan yang ada di belakang kami terlihat ketakutan melihat kerbau yang mulai lepas kendali.

Di sepanjang perjalanan menuju Desa Cibuyutan, aku melihat pemandangan yang sangat indah. Ada hamparan sawah yang sangat luas. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan sawah yang hijau. Kehidupan di sana terlihat masih sangat alami. Belum ada mesin yang digunakan untuk membajak sawah. Tenaga kerbau masih menjadi sumber kekuatan untuk membajak sawah. Rumah-rumah yang kulihat juga masih sangat tradisional, kayu masih menjadi bahan dasar dalam pembuatan rumah warga.

Kami terus menyusuri jalan yang hanya satu arah tersebut hingga kami dihadapkan pada tantangan baru. Ada dua cabang jalan yang harus kami pilih. Setelah melakukan perundingan, akhirnya kami memutuskan untuk memilih jalan yang kiri. Kami terus berjalan menyusuri jalan tersebut hingga kami menemukan sebuah rumah warga setempat. Dari kejauhan telah terlihat banyak atap-atap rumah yang mengintip dari balik pepohonan yang rindang.

Setelah sekian lama berjalan, akhirnya kami mulai memasuki Desa Cibuyutan. Sesampainya di dalam desa, kami mulai mencari Ustadzah Dini. Setelah mencari di sekitar desa, akhirnya kami memutuskan untuk menanyai salah seorang warga. Genta menanyai warga tersebut menggunakan bahasa Sundanya, bahasa sehari-hari warga di sana. Warga tersebut memberi tahu bahwa Ustadzah Dini sedang berada di sekolah. Lalu kami segera menuju ke sekolah yang ditunjukkan warga.

Setelah berhasil menemukan sekolah yang dimaksud, kami belum melihat tanda-tanda keberadaan pendamping kami tersebut. Kami terlihat seperti orang yang tak tahu arah tujuan, dan kami memutuskan untuk duduk di sebuah bangku yang terdapat di depan sekolah tersebut. Tak lama kemudian datanglah Zuhhad menghampiri kami dengan wajah yang kelelahan, dan sekarang kami terlihat seperti lima orang siswa yang kebingungan.

Setelah mengobrol cukup lama di bangku tersebut, Genta mulai frustrasi dan memilih untuk meninggalkan kami berempat. Tak berselang lama setelah Genta meninggalkan kami, terdengar suara yang memanggil kami dari arah belakang. Setelah kami menoleh ke belakang, ternyata itu adalah suara pendamping kami yang dari tadi kami diajak bermain petak umpat. Ustadzah Dini mempersilakan kami untuk beristirahat di salah satu ruang sekolah tersebut. Pada saat kami mau memasuki ruangan sekolah tersebut, terlihat seseorang sedang berlari ke arah kami. Ternyata Genta yang tadi meninggalkan kami.

Di sekolah tersebut, kami menunggu kedatangan rombongan kami yang lainnya. Setelah semua anggota rombongan lengkap, kami di ajak untuk mengunjungi rumah Pak RT Desa Cibuyutan oleh salah seorang guru di sekolah tersebut. Beliau jugalah yang tadi menyambut kami di sekolah dan menyiapkan minuman. Sampai di rumah Pak RT, kami disambut hangat oleh beliau dan warga desa.

Tugas Dimulai

Setelah mendapatkan izin dari Pak RT, barulah kami melaksanakan tugas kami. Kami datang ke desa ini bukan tanpa ada tujuan. Tujuan kami adalah untuk survei lapangan. Bukan hanya itu, kami juga mendapat tugas dari mata pelajaran sosiologi untuk mewawancarai beberapa warga tentang unsur-unsur kebudayaan yang ada di desa tersebut. Sebelumnya kami telah dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan tugas ini. Hasil dari wawancara akan kami buat dalam bentuk makalah.

Setelah diberi aba-aba, barulah kami berpencar ke semua sudut desa untuk mencari narasumber yang akan diwawancarai. Setelah berkeliling desa, akhirnya aku dan anggota kelompokku memutuskan untuk menanyai salah seorang ibu yang sedang duduk di teras rumahnya. Sesi wawancara berjalan dengan lancar. Aku dan beberapa kelompok lain yang telah menyelesaikan tugasnya segera berkumpul kembali ke tempat awal. Di sana terlihat Ustadz Ahmad sedang asyik makan durian pemberian warga yang baru saja selesai memanennya. Kami pun juga mendapat bagian dalam menyantap buah yang baunya menggoda itu.

Setelah semua kelompok berkumpul, kami mengambil beberapa foto untuk dokumentasi sebagai bukti laporan ke sekolah. Selanjutnya kami kembali ke sekolah tadi untuk melaksanakan Shalat Ashar. Setelah shalat, kami mengambil beberapa foto lagi di depan sekolah tersebut bersama dengan Pak RT dan juga guru yang mengajar di sana. Setelah selesai sesi foto-foto, kami berpamitan pulang kepada Pak RT dan mulai berjalan kembali melewati jalan yang telah membuat kaki kami pegal-pegal.

Mengambil Hikmah

Walaupun tubuh sangat capek, kami senang bisa bersilaturahim dengan orang-orang yang masih bisa bertahan hidup dalam keterisolasian. Kami juga bisa memetik beberapa hikmah dari kunjungan kali ini. Salah satunya adalah kami harus bersyukur karena masih bisa menikmati cahaya lampu di dalam gelapnya malam. Masih bisa menikmati segarnya air dalam jumlah yang banyak, padahal bagi warga Desa Cibuyutan air itu barang berharga yang susah didapatkan.

Setelah selesai dengan semua kegiatan di Desa Cibuyutan, kami segera memasuki mobil dan bersiap-siap untuknkembali ke sekolah. Dalam perjalanan pulang, hari mulai mendung dan meneteskan air dari langit. Hujan mulai membasahi bumi yang makin lama makin deras. Hari mulai gelap, matahari mulai menyembunyikan wajahnya. Akhirnya malam pun tiba, kami masih terus melanjutkan perjalanan dengan keadaan jalan yang becek karena hujan. []

Kontributor : Miftahul Chairi (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)

H-5 Penutupan Seleksi Beasiswa SMART

Dapat merasakan pendidikan yang berkualitas adalah sebuah kemewahan tersendiri bagi mereka yang kemampuan finansialnya terbatas. Karenanya, berhasil masuk SMART Ekselensia Indonesia menjadi prestasi yang membanggakan sekaligus membahagiakan.

Tidak hanya mendapat kesempatan melanjutkan sekolah, SMART juga menjadi batu loncatan untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Banyak alumni SMART yang saat ini mendapatkan pekerjaan mapan dengan pendapatan profesional. Pada akhirnya mereka mampu menarik gerbong ekonomi keluarga, semula mustahik kini menjadi muzaki.

Seleksi siswa baru SMART tinggal 5 hari lagi. Masih ada waktu untuk mendaftarkan diri atau merekomendasikan anak-anak berprestasi namun memiliki keterbatasan finansial di sekitarmu. Yuk gunakan kesempatan ini! Melalui www.smartekselensia.net/seleksi2019/

Info lebih lanjut :
Uci Febria : 085285020603
Nur : 087887912000

Mohon sebarkan info ini pada kerabat yang membutuhkan sebagai wujud kepedulian kita pada pendidikan di Indonesia

Menjadi Anggota Parlemen

Pengalaman Menjadi “Anggota Parlemen”

SMART Ekselensia Indonesia telah membawaku ke dalam dunia yang tak pernah kuduga sebelumnya. Tinggal jauh dari kasih sayang Ibu dan Ayah, kebersamaan keluarga yang begitu jauh dalam dirasa. Rasa rindu yang tiada terkira selalu merayap dalam segala malamku, dalam segala sepiku, pun dalam segala lamunanku.

Hari-hari pun berlalu. Kulihat sekelilingku. Lihatlah, be­gitu ceria sekali teman-temanku. Mengapa aku tak dapat seperti mereka, tetap tersenyum dan tertawa walau jauh dari rumah? Beginikah sikap yang harusnya aku miliki: tertawa riang meski jauh dari pandangan keluargaku? Tuhan, sungguh, aku tak yakin olehnya, kertasku selalu basah oleh air mataku keti­ka aku tengah menulis. Pandanganku selalu kosong pada saat sekelilingku tengah asyik bercanda ria satu sama lain.

Dalam keadaan rindu tiada tara yang tengah melanda, guru mengetahui kondisiku, hingga akhirnya dia mengham­piriku dan bernyanyi, tertawa riang menyorotkan mata yang indah dengan ekspresi cantik tak dapat dikata.

Belajar dari ketiadaan

Belajar untuk kemandirian

Mengasah potensi,

Mengukir prestasi,

Bersama kita majukan negeri

Belajar hilangkan kebodohan

Bersama jauhkan kemalasan

Satukan asa, tekadkan jiwa, bersama kita meraih cita

Sekolah kami SMART Ekselensia

Kami dari Sumatera hingga Papua

Hanya satu tekad di dalam diri,

Menjadi pembelajar sejati

Glek! Sungguh kala itu tangisku tumpah ruah, mendengar lagu yang disenandungkan begitu semangat dengan polesan se­nyumnya yang begitu manis—pahlawan tanpa tanda jasaku.

“Itu benar sekali, Dzah,” ucapku sambil mengusap mata.

Nyanyian itu telah menyadarkanku dari mimpi buruk berkepanjangan, yang telah menggerogoti semangatku, se­mangat untuk belajar, semangat untuk bermimpi. Begitulah hari-hari pertama yang aku rasakan saat tinggal dan berseko­lah di sini. Sekarang, tiga tahun telah kulalui dengan tangis, canda, dan tawa bersama teman sepermainan dan seperjuanganku. Bertukar rasa, bertukar asa.

Lampuku yang dulu redup kini tengah bersinar kembali karena mereka yang kini telah menjadi bagian keluarga dalam hidupku. Bersama-sama melawan rasa rindu untuk tetap bela­jar demi masa depan yang telah kami impikan. Mimpiku yang hampir sirna kini kembali dan membentuk diriku menjadi tangguh tiada tandingan.

Pengalaman Tak Terlupakan

Dari sekian banyak cerita, cita rasa, dan segala asa yang aku dapatkan di sekolah tercinta ini, ada satu yang ingin kubagi untuk pembaca buku ini. Yakni kenangan bersama teman se-Indonesia dalam sebuah acara kerja sama Dewan Perwakilan Rakyat dan Universitas Indonesia, yakni Parlemen Remaja 2012.

Cerita berawal dari sebuah lembaran berwarna kuning ukuran A3 dengan gambar latar belakang gedung kura-kura, tertulis besar-besar “PARLEMEN REMAJA 2012” yang diserah­kan kepadaku oleh Ustadz Sucipto.

“Fai, ikutin sana, tulis esai, siapa tahu saja kamu keterima,” ajaknya.

Aku baca sebentar lembaran tersebut. Tertulis sebuah syarat untuk dapat mengikuti acara itu. Acara diperuntukkan bagi siswa-siswi SMA sederajat, diimbau untuk dapat mengirimkan karya tulis esai tentang pandangan mereka mengenai peran DPR terhadap kemajuan demokrasi di Indonesia, selan­jutnya akan dipilih karya terbaik untuk dapat mengikuti acara Parlemen Remaja 2012. Tanpa berpikir panjang segera aku mencari-cari informasi, browsing internet untuk mencari ba­han penulisanku.

Hari berlalu, telah kukirimkan karyaku bersama empat temanku yang juga tertarik. Hari-hari yang kulalui untuk menunggu pengumuman benar-benar telah banyak menyita waktuku. Aku begitu takut, deg-degan, dan gelisah. Semua bercampur aduk selama aku menunggu pengumuman.

Dua mingu berlalu. Hari itu adalah pengumuman esai terbaik yang berhak mengikuti serangkaian acara Parlemen Remaja 2012. Hari puncak campur aduk hatiku datang jua. Dengan langkah gontai beserta jantung yang berdenyut begitu cepatnya aku menuju layar komputer untuk membaca pengumuman. Kulihat daftar nama-nama siswa terpilih. Aku tidak menemukan namaku. Aku gulir mouse ke bawah, mataku tetap menelisik membaca satu per satu nama tertulis dan sesuatu telah membuatku tersentak!

Tertulis sebuah nama: Ahmad Rofai.

Alhamdulillah, ya Allah, segala puji bagi-Mu, namaku ter­tulis dalam jajaran nama siswa pembuat esai terbaik. Hari itu aku sungguh bahagia, tak pernah sedikit pun tebersit dalam pikiranku untuk dapat lolos seleksi. Segera setelah membaca, sontak saat itu juga aku letakkan keningku di atas lantai, ber­tasbih dan memuji-Nya sebagai tanda rasa syukurku atas kesempatan yang diberikan oleh-Nya untukku.

Telah tiba saatnya aku beserta ketiga temanku yang juga lolos seleksi pergi ke acara Parlemen Remaja 2012. Kami diantar Ustadz Wildan dengan mobil angkot langganan kami menuju tempat pertama acara, yakni Balai Sidang Universitas Indonesia. Cuaca begitu terik kala itu, ditambah lagi dengan pengapnya udara dalam angkot jelas membuatku perutku terasa mual. Untuk menghilangkan rasa mual, aku berusaha untuk tidur dalam angkot. Tak terasa ketika aku membuka mata, tujuan telah sampai.

Terlihat siswa-siswi tengah berbincang, saling berkenalan satu sama lain, berfoto-foto ria sembari menunggu acara pembukaan. Sedangkan kami, siswa SMART, hanya berempat, mengobrol sendiri, bermain sendiri. Tak sedikit pun rasa be­rani dari kami untuk dapat berkenalan dengan siswa-siswi lain. Bagaimana tidak, semua dari mereka memakai baju ba­gus dan bermerek pada saat kami hanya memakai seragam yang dibalut jas almamater sekolah kami. Mereka memegang kamera mewah masing-masing, sedangkan kami hanya mem­bawa handycam kecil, yang hasilnya buruk jika digunakan un­tuk berfoto; satu untuk berempat pula. Mereka juga masing-masing membawa notebook, sedangkan handphone pun kami tak punya.

Cuek is the best-lah yang menjadi jargon utama kami kala itu. Kami tetap tidak peduli akan keglamoran mereka. Kami tetap rendah hati dan percaya diri.

Pukul 14.00, semua peserta dari seluruh penjuru Nusan­tara telah datang dan berkumpul dalam ruangan. Telah ter­pilih 132 siswa-siswi SMA se-Indonesia dari ratusan pengirim esai. Berbagai sambutan dan rangkaian acara pun telah ter­lewati.

Acara akan diadakan selama empat hari, tiga hari per­tama kami menginap di Wisma DPR RI Griya Sabha Bogor. Satu hari terakhir menginap di Wisma Makara UI. Sekiranya inilah yang panitia sampaikan kepada kami. Setelah itu, terketuklah palu oleh ketua panitia bahwa acara Parlemen Remaja 2012 resmi dibuka. Riuh tepuk tangan membuncah sudah, memba­hana memenuhi ruangan beribu kursi itu.

Dua hari di wisma DPR-RI Griya Sabha.

Kini kurasakan betapa nikmat tiada tara dapat tidur di atas kasur yang begitu empuk, ber-AC, mencicipi mandi air panas dengan shower, menonton TV dengan puluhan channel tersedia.

Setiap pagi diawali dengan senam pagi di lapangan, kami berbaris, terlihat beberapa teman teriak, senyum, tertawa terbahak-bahak. Begitu pun aku, menunjukkan betapa baha­gia sekali kami waktu itu.

Siang pun datang, saatnya kami bersiap menuju ruang rapat sidang DPR. Sungguh pertama kali aku memasuki ruangan itu, beribu rasa bangga mencuat dari dalam hatiku. Me­makai jas hitam yang ketika kupakai tampak seperti eksekutif muda yang super penting dalam suatu tatanan negara.

Ruangan itu begitu luas dengan tembok ala bangunan luar negeri seperti yang selalu kulihat dalam film-film, ber­jejer ribuan kursi empuk berwarna cokelat dengan puluhan jejeran meja elegan di depannya. Sungguh tak bisa kugam­barkan bagaimana keindahan serta luasnya ruangan bagi aku yang sejatinya hanyalah siswa papa.

Aku duduk di atas kursi empuk dengan tersodorkan mik­rofon di depanku.

“Selamat datang para pemuda-pemudi gagah Indonesia!”

Sontak suara itu memecahkan suasana yang awalnya tenang menjadi membakar-bakar, sorak-sorai kami bersama tepuk tangan tumpah sudah.

Dua hari tepatnya kami di sana dipersiapkan untuk melakukan simulasi rapat sidang paripurna DPR. Kami diberi berbagai materi tentang apa itu DPR, bagaimana peran par­lemen dalam sebuah negara, serta pemberian pengajaran dalam bentuk pelatihan tentang bagaimana rapat paripurna DPR dapat berlangsung.

Sungguh benar-benar di luar dugaanku, pelatihan-pelatihan yang mereka berikan kepada kami telah membuatku sadar bahwa butuh waktu seharian penuh atau bahkan puluhan hari untuk membahas suatu rumusan undang-undang. Penentuan judul suatu undang-undang saja begitu lama penyelesaian­nya.

Pemberian materi beserta latihan-latihan kepada kami dilakukan dari jam delapan pagi sampai jam sembilan malam. Cukup melelahkan memang, namun herannya semua berja­lan begitu menyenangkan sehingga tidak terasa waktu terus bergulir.

Disiarkan Televisi

Di gedungkura-kura, pelaksanaan simulasi sidang paripurna DPR RI. Merupakan hari ketiga dari kegiatan ini, acara puncak dari sekian kegiatan yang kami jalani. Setelah subuh, telah tersedia bus yang siap mengantar kami menuju Senayan.

Sebelum ke tempat persidangan, kami menuju ruang tamu DPR terlebih dahulu. Seperti biasa ada sambutan dan acara pembukaan. Setelah itu, kami segera menuju ruang sidang paripurna. Berbagai pemeriksaan ketat pun terjadi. Tas kami disensor oleh alat pendeteksi, begitu pula dengan tubuh kami.

Benar-benar mataku tak dapat berkedip. Tempat si­dang itu begitu luas. Deretan kursi terbagi atas fraksi-fraksi, kursinya pun empuk tak terelakkan, mikrofon tersedia di de­pan kami, tertempel di atas meja.

“Acara ini akan disiarkan di TVRI pukul 07.30,” ucap salah satu panitia kepada kami.

Segera aku menghubungi keluargaku di rumah (lewat ponsel yang dipinjamkan pihak asrama) untuk dapat menon­ton diriku, memakai jas hitam, duduk di atas kursi mewah berperan sebagai Dewan Perwakilan Rakyat.

Mungkin pengalaman ini biasa saja buat sebagian Anda, namun tidak buatku. Ada satu pelajaran berharga yang telah aku dapatkan. Berdiskusi bersama anak-anak se-Indonesia dalam acara tersebut membuatku lebih aktif dan kritis selaku pelajar. Selain itu, aku tersadar bahwa selaku pemuda, aku merupakan agen perubahan dalam sebuah dinamika kehidupan. []

Kontributor : Ahmad Rofai