Budaya Salam, Budaya yang Kami Banggakan di SMART

  “Assalamu’alaikum, Ustaz….” “Assalamu’alakum, Ustazah…” Kata-kata tersebut sering kali diucapkan oleh siswa-siswa SMART Ekselensia Indonesia ketika bertemu guru-gurunya, wali asrama, atau orang yang lebih tua di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan. Salam kepada para guru dan/atau wali asrama bergaung di kelas, di luar kelas, di selasar, di masjid, di tangga, dan di mana pun di lingkungan SMART, salah satu sekolah unggul yang berada di Bogor. Ketika pertama kali bergabung di SMART, saya langsung disapa dengan salam tersebut. Sebuah sapaan yang sangat berkesan buat saya mengingat di sekolah-sekolah tempat mengajar sebelumnya saya belum menemukan budaya salam seperti di SMART. Seyogianya, ucapan salam dan budaya positif seperti ini, dimiliki oleh setiap pelajar Muslim di sekolah mana pun. Menyebarkan salam merupakan salah satu sunnah Rasulullah yang perlu diterapkan dalam kehidupan seharihari. Alhamdulillah, guru-guru SMART sudah layak berbangga dengan terbudayakannya salam ini, sebuah budaya untuk mewujudkan model pendidikan berkualitas Sebagai sekolah berasrama, mungkin mudah menerapkan budaya salam. Pekerjaan rumah guru dan wali asrama adalah bagaimana mendidik siswa untuk tetap menerapkan budaya salam ini di masyarakat pada saat mereka sedang liburan atau pulang ke rumahnya. Liburan ke daerah asal ala siswa SMART dinamakan sebagai “pulang kampung”. Saya berharap tinggi sebenarnya bahwa selain siswa dievaluasi ibadahnya oleh orangtuanya pada saat pulang kampung, alangkah baiknya budaya salam ini juga masuk di dalamnya. Substansi dari budaya salam ini adalah bagaimana siswa dapat membangun dan mengembangkan kecerdasan interpersonal. Dengan kecerdasan interpersonal ini, setiap siswa diharapkan mampu hidup dalam kehidupan kolektif. Hidup secara kolektif merupakan fitrah manusia. Hidup secara kolektif membutuhkan tegur sapa, komunikasi, kerja sama, termasuk juga menyelesaikan konflik. Dalam budaya salam ini, guru dan wali asramanya sudah cukup berperan aktif sebagai fasilitator dan pengarah bagi siswa. Bola terakhir sebetulnya ada di tangan siswa untuk mengejawantahkan budaya salam ini di dalam masyarakat ataupun ketika kelak berada di lingkungan perguruan tinggi. []

Aku Menemukanku di SMART

SMART? Apa itu SMART? Aku tidak tahu SMART itu apa, selain sebuah kata dalam bahasa Inggris yang artinya cerdas atau pintar.

Ini adalah kisahku, seorang perantau asal Medan yang ingin menjadi kebanggaan orang tua di Medan.

Oleh: Rizky Dwi Satrio, alumni SMART Angkatan XI berkuliah di Universitas Sebelas Maret.

Hari itu, saat aku kelas 6 SD, tepatnya pada semester 2, aku mendengar kata “SMART Ekselensia Indonesia” dari guruku. Guruku bertanya padaku, “Apakah Satrio mau sekolah di SMART?” Dalam hati aku malah bertanya, “SMART itu sekolah seperti apa?” Sebelum aku mengutarakannya, guruku langsung menjelaskan hal-hal terkait SMART Ekselensia. Guruku sepertinya sudah tahu kebingunganku.

Setelah mendengar semua penjelasannya, aku pun tahu bahwa SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah berasrama yang didirikan untuk anak berprestasi namun orang tuanya kurang dalam finansial, dibangun oleh Dompet Dhuafa, dananya berasal dari zakat, sedekah, infak, dan lain-lain. “Ini kesempatan untukku,” kataku dalam hati dengan sedikit merenung. “Gimana Satrio?” tanya guruku. “ Oh iya, Bu, saya sih mau, tapi belum tentu dengan orang tua saya.” “Ya sudah, ini formulir pendaftarannya. Jika ayahmu setuju, bilang pada Ibu.”

Waktu terasa sangat lama hari itu. Padahal, aku ingin segera memberitahukannya kepada Ayah. Aku terus melihat jam sekolah yang putarannya terasa lama. Tapi, aku baru ingat kalau Ayah sedang bekerja dan biasanya pulang pada waktu maghrib.

Di rumah, setelah pulang sekolah aku memutuskan untuk tidur siang, agar tidak terasa lama menunggu Ayah datang. Kebetulan hari itu aku tidak ada jadwal mengaji, jadi aku bisa tidur.

Akhirnya, setelah lama menunggu, Ayah datang juga. Wajar saja aku sangat ingin memberitahukan hal itu pada Ayah. Pasalnya, aku dan Ibu sudah tak serumah lagi. Aku tinggal bersama Ayah. Ayah dan Ibu sedang mengurus perceraian mereka. Aku sangat sedih melihat keadaan keluargaku, melihat keduanya bertengkar. Aku sering menangis saat berdoa karena memikirkan keadaan keluargaku.

Setelah Ayah selesai mandi dan salat, aku langsung mengatakan informasi di sekolah tadi. “Yah, Ayah setuju tidak kalau Rio sekolah di SMART di Bogor?” “Sekolahnya jelas atau tidak ?” Ayah langsung bertanya. “Rio juga kurang tahu, coba Ayah telepon guru Rio”.

Ayah langsung menelepon guruku. Setelah selesai berbincang, Ayah berkata padaku, “Rio, kalau tekadmu sudah kuat, silakan kamu sekolah di sana, kalau urusan seleksi Ayah yakin kamu pasti lulus”.

Mendengar perkataan tersebut, jantungku langsung berdegup kencang dan mataku berair. Perasaanku antara senang dan sedih, aku tidak menyangka Ayah akan berkata seperti itu.

Bila benar aku diterima, aku sedih karena akan berjauhan dengan keluarga dan teman-teman. Tapi, di sisi lain, hati kecilku berkata bahwa aku tenang dan jauh dari kesedihan yang dialami keluargaku yang mulai hancur. Dengan pergi ke Bogor, aku akan jauh dari masalah dan juga perceraian orangtuaku. Saat itu aku benar-benar sangat sedih. Sebisa mungkin aku ingin pergi jauh dari rumah.

Hari demi hari berlalu aku lewati dengan perkataan Ayah yang selalu teringat di benakku. Sampai-sampai aku berpikir, apakah ini jalan yang terbaik untukku? Saat aku memikirkannya, aku dengan segera menepis jauh pemikiran galau itu.

Detik, menit, dan jam terus berganti, dan saat itu yang aku lakukan hanyalah persiapan untuk seleksi masuk SMART.

Mulai dari menambah jam belajar, berdoa, hingga ikhtiar penunjang. Semunya aku lakukan agar aku bisa mengerjakan soal saat tes nanti. Setelah aku sangat lama menunggu hingga berganti bulan, akhirnya hari untuk seleksi pun tiba. Seleksi pertama adalah tes tulis. Pesertanya telah dilihat nilai rapornya terlebih dahulu; jika nilainya di atas rata-rata, ia pantas untuk tes tulis.

Tes tulis itu diadakan di tempat yang cukup jauh dari rumahku. Jadi, aku bersiap pergi ke sana setelah Salat Subuh. Aku berangkat bersama Ayah mengendarai becak. Ayah memang penarik becak. Walaupun begitu, aku tidak pernah malu, bahkan aku selalu bersyukur.

Setelah cukup lama berkendaraan, akhirnya kami sampai juga. Tempat tesnya sebuah kampus. Aku bersegera masuk ke ruangan tes dan langsung duduk. Aku juga sempat belajar sebelum tes dimulai. “Tes akan segera dimulai!” ucap seorang panitia.

Tes yang pertama adalah pelajaran kesukaanku, matematika. Soalnya cukup banyak dan ada gambar pizza di salah satu soal. Aku tak menemui banyak kesulitan pada soal-soalnya karena aku sangat suka matematika, dan soal-soalnya pun sudah pernah kupelajari.

Tes yang kedua adalah bahasa Indonesia. Kali ini tugasnya adalah mengarang dengan tema “Sekolahku Masa Depanku” sebanyak satu halaman kertas dobel folio. Aduh, aku belum ada inspirasi saat mengarang. Akhirnya aku memutuskan untuk meletakkan pulpen di atas meja dan duduk bersandar sambil mencari inspirasi. Alhamdulillah, inspirasiku datang pada saat 30 menit sebelum tes usai. Jadi, aku memutuskan untuk menulis dengan secepat-cepatnya. Aku pun selesai tepat waktu dengan karanganku yang berjudul “Dengan Sekolah Masa Depanku Terbentuk.”

Tes yang terakhir adalah pelajaran Pendidikan Agama Islam. Soalnya tidak susah dan bisa kujawab dengan baik walaupun aku belum belajar. Akhirnya tes tulis usai, aku pun bergegas pulang. Aku tidak menaiki becak Ayah seperti saat aku pergi namun menaiki angkot. Di perjalanan ada beberapa orang yang menertawaiku karena aku memakai seragam sekolah di hari Minggu.

Sekitar dua minggu kemudian, aku pun mendapat informasi bahwa aku lulus tes tulis. Aku pun cukup senang dan bersyukur. Sebelumnya aku sudah yakin bahwa aku akan lulus tes tahap satu ini. Beberapa hari setelah pengumuman itu, aku harus tes lagi. Tapi kali ini berupa psikotes. Aku tak tahu apa-apa mengenai psikotes, jadi aku memutuskan untuk tidak belajar apa pun.

Aku pergi bersama Ayah menaiki becak. Hari itu aku memakai baju seragam SD, tapi aku yakin takkan ada yang menertawaiku karena hari itu bukan Minggu. Setelah perjalanan yang cukup jauh dan lama, akhirnya kami pun sampai. Aku pun langsung memasuki ruang tes. Ternyata sisa peserta hanya tinggal tiga anak, salah satunya selain aku adalah siswa bernama Helmi (satu siswa lagi aku lupa namanya). Kami pun memulai tes tersebut. Tesnya cukup mudah karena seperti tebak-tebakan dan menguji kreativitas. Ada soal yang mengharuskanku untuk menggambar dan menghitung.

Setelah tes tersebut selesai, ada satu lagi yang harus kuikuti, yaitu wawancara. Mungkin wawancara ini salah satu bagian dari psikotes. Ketika giliranku diwawancarai, aku ditanya tentang latar belakang diriku

Sampailah pada pertanyaan yang membuatku sedih. “Hal apa yang paling membuat kamu sedih?” tanya si pewawancara. “Perceraian kedua orang tuaku,” jawabku dengan suara terisak. Aku pun tak bisa membendung air mata. Aku menangis dan menaruh kepala di atas meja. Aku terus menangis tanpa henti. Aku merasa itulah kejadian yang paling membuatku sedih dan tak bisa kulupakan selamanya. “Sudah jangan nangis lagi, sabar aja ya,” pewawancara itu menenangkanku.

Beberapa menit kemudian, wawancara pun selesai. Pulangnya aku diantar oleh Helmi dan ayahnya. Ternyata orang tua Helmi dan orang tuaku teman dekat. Di perjalanan mataku masih saja sembab karena aku menangis saat tes.

Aku lega karena rangkaian tes telah selesai. Hanya ada satu tahap lagi, yaitu home visit. Tapi, home visit tidak begitu melibatkan diriku. Benar saja, beberapa hari kemudian kunjungan ke rumahku dilaksanakan saat aku berada di sekolah.

Sekitar dua pekan setelah home visit dilaksanakan, aku mendapat SMS dari Ayah saat ia sedang bekerja. “Kamu lulus ke SMART”.

Alhamdulillah, ucapku dalam hati. Tidak lama kemudian, aku pun langsung sujud syukur atas kelulusanku. Sekarang aku sudah tak di SMART, sudah menjadi mahasiswa. Aku bersyukur Allah menakdirkanku untuk bersekolah di sini. Aku banyak mendapatkan pelajaran berharga di sini, aku mendapatkan teman dan keluarga baru, dan aku menemukan diriku. 

Sebuah Kepercayaan Pada Siswa

 

Aku dipercaya untuk mengajarkan Bahasa Inggris di SMART Ekselensia Indonesia. Sebagai guru full time, ada tiga kelas yang aku ajar, yaitu 2B, 3A, dan 3B. Karena kelas 3A dan 3B bakal menghadapi Ujian Nasional (UN), aku harus membuat mereka siap. Semampuku aku membantu mereka untuk lulus dengan nilai yang memuaskan, khususnya di pelajaranku. Pada try out pertama Diknas dilaksanakan, siswa-siswaku terlihat kurang siap menghadapinya. Hasilnya terbukti, sebagian dari mereka mendapatkan nilai di bawah rata-rata.

“Kamu kenapa bisa dapat nilai segitu? Emang soalnya susah banget?” tanyaku kepada salah satu siswa yang mendapatkan nilai terendah.

 “Gak tahu, Zah. Kami baru tahu ada try out itu pas paginya, dan kami belum belajar apa-apa.”

“Kok gitu? Kamu kurang cari informasi mungkin? Ayo nilainya ditingkatkan, nanti Ustadzah kasih bonus kalau sampai nilai kamu meningkat,” kataku mengimingi dengan menyebut sebuah merek wafer.

“Iya, Dzah, nanti mah saya serius ngerjainnya, saya bakal dapet 8, Zah.”

Aku tidak meragukan kemampuan mereka dalam menjawab soal try out, toh mereka adalah anak-anak pilihan. Aku hanya mengkhawatirkan kesungguhan dan keseriusan mereka dalam menghadapi ujian. Beberapa kali aku kurangi jam mengajarku hanya untuk menceramahi mereka agar lebih serius lagi dalam mengerjakan dan menghadapi try out. Sempat aku ingin menyerah dalam situasi seperti ini.

Tapi, aku tersadar, bukankah Allah tidak suka dengan orang yang mudah putus asa? Try out kedua pun dilaksanakan. Kembali aku khawatir dengan hasilnya. Namun, aku percayakan kepada mereka dan pastinya terhadap Allah.

“Semangat, ya… pasti bisa,” ucapku sebelum mereka masuk ruang ujian.

Mereka hanya tersipu, entah apa yang ingin mereka sampaikan.

Tidak Lama Kemudian, HASIL try out kedua keluar. Alhamdulillah, nilai mereka meningkat, dan sebagai penyemangat aku memberikan reward untuk mereka sesuai janji. Ini salah satu apresiasiku terhadap usaha dan kesungguhan mereka. Belum selesai kegembiraanku, try out ketiga siap menanti.

Salah satu usahaku untuk membantu mereka siap menghadapi UN adalah memberikan latihan-latihan soal. Setelah mereka menyelesaikan try out ketiga Diknas, selama tiga jam mata pelajaran (3×40 menit) kami membahas soalsoal di kelas 3A. Berhubung soal Bahasa Inggris ini banyak berupa teks, volume suaraku pun mengecil. Untungnya, seorang siswa mengerti keadaanku.

“Zah, biar saya bantu menjelaskan ya, tadi pagi kan kelompok saya sudah membahas soal yang ini waktu bimbel.”

Bimbel atau bimbingan belajar adalah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di luar jam pelajaran, dimulai sekitar pukul 06.00 sampai 07.00 khusus untuk kelas 3. Aku hanya tersenyum melihat tindakan siswa ini karena biasanya ia suka membuat ribut di kelas dengan pertanyaanpertanyaan yang kadang tidak berhubungan dengan materi yang dibahas. Aku terima niat baiknya. Setelah membahas soal, aku memberikan PR yang harus dikumpulkan besok.

Keesokan harinya, aku mengajar kelas 3B. Jam pelajaran Bahasa Inggris dimulai setelah istirahat. Ketika aku dan siswa kelas 3B sudah di kelas, masih ada beberapa siswa kelas 3A yang singgah karena jam pelajaran selanjutnya belum dimulai.

Dan kesempatan ini pun aku gunakan untuk mengobrol bersama siswa kelas 3A. Aku mengumumkan siapa saja di antara mereka yang masuk ke dalam datiar Klinik Bahasa Inggris (salah satu program sekolah untuk menindaklanjuti anak-anak yang masih lemah dalam mata pelajaran Bahasa Inggris).

“Kamu, Ustazah masukkan ke klinik, ya?” Aku bertanya kepada siswa 3A yang membantuku menjelaskan soal dan jawaban kepada temannya di kelas.

“Iya, Ustazah,” jawabnya sambil tersenyum.

Mendengar jawabannya aku merasa ada yang beda karena biasanya bukan respons seperti itu yang ia berikan. Akan ada tawar-menawar terlebih dahulu sebelum ia mengiyakan pernyataanku.

“Kamu gak masuk ke lab komputer? Kan sebentar lagi kelasnya dimulai?” tanyaku lagi. Jarang-jarang ada siswa yang datang terlambat ke ruang lab komputer.

“Iya, Zah, nanti saja,” jawabnya dengan tatapan yang kosong.

Setelah mengajar aku pun menjalankan aktivitas seperti biasanya. Kemudian ditambah jadwal video conference (VC) yang biasanya aku lakukan seminggu dua sampai tiga kali. Video conference adalah program menghubungkan siswa SMART dengan anak-anak Indonesia yang bersekolah atau berkuliah di luar negeri, seperti di Kanada, Australia, dan Jepang. Mereka berbincang dan bersilaturahim melalui aplikasi Skype. VC dimulai dari pukul 16.00 sampai 17.00. Sambil mengawasi anak-anak melakukan kegiatan VC, aku juga menunggu PR kelas 3A yang mereka kumpulkan hari itu. Beberapa siswa kelas 3A bergantian mengumpulkan tugas mereka, tapi masih ada beberapa siswa yang belum mengumpulkan, mungkin karena lupa.

Di Rumah, Ketika Jam menunjukkan pukul 03.00 aku terbangun. Aku mendengar getaran ponselku yang terletak tidak jauh dari kepalaku. Ada pesan di WhatsApp grup para guru SMART. Betapa kagetnya aku begitu membaca isi pesan yang menyebutkan bahwa ibunda salah satu siswa kelas 3A meninggal dunia pada hari kemarin, tepatnya pagi hari. Rasa kagetku tak berhenti sampai di situ karena aku membaca bahwa yang meninggal adalah ibunda dari anak yang dua hari sebelumnya membantuku menjelaskan jawaban atas soal-soal yang sedang kami bahas. Ya, siswa yang ketika aku tanya tentang klinik, ia hanya menjawab iya dan tersenyum; anak yang ketika di kelas kadang bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran.

Seketika aku terdiam membayangkan wajah siswa itu, yang biasanya ceria dan sering berpendapat tentang apa pun. Aku membayangkan betapa pedih hatinya karena ditinggal ibundanya tersayang, bahkan sekaligus kehilangan calon adiknya yang masih berada di dalam kandungan sang ibunda. Saat itu juga aku berdoa agar hati dan jiwanya kuat menghadapi cobaan dari Allah dalam usia semuda itu.

Ingin rasanya waktu segera menunjukkan pukul 06.00 agar aku dapat langsung ke sekolah dan mengetahui keadaannya. Sayangnya, saat aku sampai di sekolah, anak itu ternyata sudah pergi ke  bandara menuju Batam, tempat keluarganya tinggal.

“Semoga ia diberi kekuatan dan keselamatan,” doaku dalam hati.

Kemudian aku menuju kelas untuk menyimpan tas karena setiap hari kami selalu melaksanakan apel pagi pada pukul 06.40. Sesampainya di kelas, kulihat ada kertas jawaban seorang anak yang mungkin diletakkan sekitar pukul 17.00 ke atas karena kemarin aku tidak menemukan apa-apa di atas mejaku. Aku tahu itu kertas jawaban siswa 3A yang harusnya dikumpulkan kemarin.

Setelah kulihat, ternyata di situ tertulis nama “Muhammad Ihda Alhusnayain”, anak yang baru saja ditinggal oleh ibundanya. Dalam keadaan bersedih ia masih berpikir untuk mengumpulkan tugasnya. Dalam keadaan terpuruk dan pasti sangat terpukul, ia masih merasa bertanggung jawab untuk memenuhi tugasnya karena ia tahu dirinya tidak bisa mengumpulkan tugasnya dalam tiga hari ke depan dikarenakan harus pulang menengok keluarganya.

Sekembalinya dari Batam tak banyak yang berubah dari Ihda. Dia tetap semangat menjalani hari-harinya walaupun aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Semoga setelah musibah ini Ihda tetap mempunyai semangat untuk menghadapi UN. Semoga anak ini tetap ceria, tetap aktif dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis untuk ustaz dan ustazahnya, tetap tegar demi adik dan ayahnya, dan  yang pasti semoga ia tambah pintar. Begitu juga dengan siswa-siswa yang lain, khususnya kelas 3 yang semoga tetap diberi semangat dan kecerdasan agar mereka dapat melewati UN dengan baik dan lancar serta mendapatkan hasil yang terbaik.

Aku percaya pada anak-anak pilihan ini.

Bakat Tersembunyi Dibalik Coretan Siswa

Jalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan. Itulah salah satu tujuan field trip kami ketika itu bersama rombongan guru dan siswa SMART Ekselensia Indonesia dari kelas 1 sampai kelas 5. Tentunya ini suatu kegiatan yang meriah dan menyenangkan. Senang rasanya melihat antusiasme para siswa, terutama siswa-siswa kelas 1, yang begitu bersemangat untuk menjumpai atau sekadar menyapa hewan-hewan yang biasanya hanya mereka tonton di TV atau gambar. Aku bertugas mendampingi wali kelas 1 untuk membantu mengawasi dan mendampingi siswa-siswanya. Aku juga naik kendaraan yang sama bersama mereka. Karena aku belum hafal betul nama seluruh siswa kelas 1 dan takut sok tahu serta salah panggil, akhirnya aku bertanya nama dan asal mereka.

 “Hamzah dari Jakarta, Zah,” jawab anak tinggi kurus yang duduk di samping jendela mobil.

“Saya Sukrismon dari Padang, Zah,” sahut anak kedua yang duduknya persis di sebelahku.

“Wah… sama dong, Ustazah juga orang Padang!” kataku senang.

Akhirnya, obrolan kami pun mengalir sepanjangperjalanan. Aku terus berusaha mengetahui latar belakang mereka melalui obrolan-obrolan ringan itu.

“Hamzah sudah pernah ke kebun binatang sebelumnya atau belum?” tanyaku.

“Udah pernah, Zah, sekali, waktu saya masih SD,” jawab Hamzah.

“Kalau Sukrismon, sudah pernah?”

Belum pernah, Zah. Ada sih di dekat rumah saya, tapi kami hanya sekadar lewat, tidak pernah ke sana,” katanya dengan logat Sumatera yang masih kental.

“Lho, kok belum pernah? Memangnya kenapa Sukrismon?” tanyaku penasaran.

“Pengen sih Zah, tapi gak punya uang,” sahutnya polos.

Nyeesss… rasanya wajahku langsung memerah, bodoh sekali menanyakan hal itu dan tidak peka untuk dapat memprediksi jawabannya. Tetapi ia menjawab dengan ringan saja, tanpa beban, walaupun terlihat sekilas keinginannya yang sangat untuk pergi ke sana.

Dalam sekelebat, aku kilas balik ke masa SD. Aku sangat menikmati masa kecilku, terutama saat-saat yang tak terlupakan. Sangat menyenangkan rasanya di waktu istirahat bisa bermain petak umpet, petak jongkok, benteng, main karet, dan lain sebagainya. Begitu pun waktu diajak jalan-jalan ke Taman Mini, Ancol, Ragunan, dan tempat-tempat rekreasi lainnya. Aku pun merasa bahwa seharusnya di masa itu—masa tanpa beban dan menikmati hidup, aku menyebutnya—semua anak kecil sepatutnya sudah pernah

mengunjungi tempat-tempat rekreasi walaupun hanya sekali. Ah, betapa naifnya aku, ternyata masih ada juga anakanak yang kurang beruntung. Aku sungguh terkesan oleh kepolosan Sukrismon. Hmmm, beberapa kali terlintas di benakku, mengapa ia diberi nama Sukrismon? Ia lahir pada tahun 1998, bertepatan dengan tahun terjadinya gonjang-ganjing perekonomian di Indonesia, yang kita kenal dengan sebutan ‘krismon’, krisis moneter. Apakah orangtuanya tidak tahu arti dari krismon? Bukankah nama itu adalah sebuah doa? Apakah menurut mereka nama Sukrismon itu artinya baik? Tak tahulah aku.

Setelah Field Trip ke Ragunan, nama Sukrismon kembali hadir. Bukan karena ia sedaerah asal denganku. Seiring rutinitas sekolah berlanjut, aku cukup sering mendengar bahwa Sukrismon acap kali menjadi biang ribut. Ia tidak henti-hentinya mengganggu teman-temannya. Dengan alasan sekadar iseng, hampir semua dilakukannya secara spontan dan tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Tidak banyak kawannya yang dengan senang hati bersedia menjadi teman dekatnya. Aku jadi bertanya-tanya, mengapa ia seperti itu? Apakah ia tipikal anak yang hiperaktif atau hanya ingin diperhatikan saja? Mungkin saja ia memiliki kelebihan energi yang belum dapat tersalurkan dengan baik.

Sebagai penanggung jawab bidang perlombaan, aku bertekad ingin mengetahui potensi Sukrismon. Ia pasti punya potensi yang menonjol di bidang tertentu, dan semestinya dapat menjadi curahan perhatian hingga energinya bisa disalurkan untuk melakukan hal-hal yang positif. Sampai suatu hari aku dimintai tolong oleh Ustazah Uci yang ketika itu berhalangan hadir karena tugas lembaga.

Hari itu ada jam pelajarannya, dan aku diminta tolong menyampaikan kepada anak-anak bahwa tugas mereka hari itu adalah meneruskan produk membuat buku yang dikerjakan secara berkelompok sesuai pertemuan sebelumnya.

“Ustad=zah Uci gak masuk ya, Zah?” tanya seorang anak di awal pertemuan dalam kelas.

Iya, Ustazah Uci lagi ada tugas lembaga, dan beliau berpesan kepada Ustazah untuk menyampaikan tugas untuk kalian. Ada yang tahu kira-kira apa tugas dari Ustazah Uci?” aku coba melempar pertanyaan.

“Pasti ngelanjutin produk membuat buku yang kemarin, ya, Zah?” tebak salah seorang siswa.

“Iya, betul, bagi yang kemarin tidak masuk, tolong bergabung dengan kelompok yang sudah ditentukan. Temanya sudah diberi tahu, kan? Hanya melanjutkan yang kemarin, masing-masing kelompok sudah dibagi-bagi berdasarkan judul bab. Dikerjakan di kertas HVS yang kemarin sudah dibagikan, pewarna sudah disiapkan Ustazah Uci bagi yang mau meminjam, dan jangan lupa cantumkan nama-nama kelompok kalian, ya.”

“Dikumpulinnya kapan, Zah?”

“Dikumpulkan hari ini, ya. Maksimalkan waktu yang masih ada.”

 “Kalo enggak dikumpulin sekarang boleh kan, Zah?” tawar siswa yang lain.

“Boleh saja kalau mau nilainya dikurangi. Kalau dikumpulkan lewat dari jam pelajaran Ustazah Uci, maka akan ada pengurangan poin penilaian. Semakin lama kalian mengumpulkan dari batas waktu, maka semakin banyak juga poin produk kelompok kalian yang dikurangi. Ada lagi yang mau ditanyakan?”

Hening sejenak tanda semuanya sudah jelas dan tidak ada lagi yang ditanyakan. Sejenak aku berada di kelas itu, yang dihiasi dengan riuh rendah dan lalu lalang anak-anak yang sibuk mengerjakan dan berkoordinasi dengan teman-teman sekelompoknya, mencari konsep yang sesuai, membagi tugas, maupun berdebat tentang gambar dan pilihan warna. Tampaknya serius sekali. Aku hanya tersenyum.

Beberapa kali aku berkeliling untuk melihat hasil kerja mereka yang masih dalam tahap perampungan. Dan aku tidak heran, gambar mereka umumnya bagus-bagus dan kreatif walaupun mereka baru duduk di bangku kelas 1. Aku tidak tahu apakah karena faktor anak laki-laki yang memang dianugerahi bakat lebih di bidang seni, khususnya menggambar, dibandingkan anak perempuan, ataukah memang kultur di SMART yang siswanya dari zaman ke zaman memiliki bakat menggambar yang menonjol dan di atas rata-rata? Setelah semua karya dikumpulkan, aku beranjak ke ruanganku. Aku pun tergoda untuk melihat hasil kerja anak-anak itu. Aku memeriksanya sambil senyum-senyum, melihat gambar-gambar yang menarik dan kreatif, yang dikolaborasikan dengan teori dan rumus-rumus fisika yang sudah diajarkan Ustazah Uci. Mereka memang cerdas dan anak-anak pilihan. Sampai tibalah di satu kertas, aku terpana melihat suatu gambar yang sangat indah. Sederhana dibandingkan gambar lain yang penuh warna. Gambar yang menarik minatku itu hanya berupa sketsa pensil. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi tampak nyata sekali. Aku penasaran ingin tahu siapa yang membuat gambar itu.

Keesokan harinya, Ustazah Uci berterima kasih dan meminta produk hasil karya anak-anak yang dikerjakan hari sebelumnya. Saat itu juga aku langsung teringat hal yang membuatku penasaran kemarin.

“UN, kemarin aku lihat gambar sketsa tangan di salah satu produk anak-anak, bagus banget deh, padahal cuma pake pensil. Uni tahu enggak siapa yang buat?” tanyaku. Aku memang terbiasa memanggil Ustazah Uci dengan sebutan

Uni” karena kami sama-sama orang Padang.

“Yang mana, Din?” tanya Ustazah Uci sambil mencari gambar yang dimaksud.

“Nah, ini nih, yang ini. Bagus banget kan?” tanyaku meminta persetujuan sambil menunjuk gambar tersebut.

“Oh… iya, emang bagus, ini tuh gambarnya Sukrismon,” kata Ustazah Uci.

Aku pun agak kaget bercampur senang. Akhirnya aku menemukan bakatnya. Belakangan aku diberi tahu, menurut beberapa rekan guru dan guru seni Sukrismon, ia memang berbakat untuk soal seni.

Sampai saat ini, sudah beberapa kali aku merekomendasikannya untuk mengikuti lomba yang berkaitan dengan menggambar. Walaupun ia belum pernah menang, aku yakin suatu saat nanti Sukrismon bisa membawa pulang piala dan mengharumkan nama SMART Ekselensia Indonesia. Jalan masih panjang untuk mengasah keterampilannya menjadi makin baik lagi.

Jika ingin mendengar kisah membuncah asa perjuangan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi dari berbagai penjuru Indonesia, maka tengoklah SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa (SMART). Pada penghujung tahun ajaran 2019/2020 siswa kelas V SMART berjuang melukis asa lolos ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

 

Mengapa mereka mesti berjuang masuk PTN? Karena, dengan berhasil masuk PTN, maka asa untuk melukis cita-cita bisa terjaga. Anak-anak ini memang berasal dari keluarga minus ekonomi, namun cita-citanya membumbung tinggi. Mereka ingin melukis hari esok yang lebih berarti untuk bisa berkontribusi bagi negeri.

 

Syukur alhamdulillah, berkat doa dan dukungan dari berbagai pihak, SMART berhasil menjaga tradisi meloloskan mayoritas siswanya ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Tahun ini SMART berhasil meloloskan 26 dari 30 siswa kelas V (Kelas XII) masuk PTN. Mereka tersebar di berbagai kampus, di antaranya IPB, Unpad, Unibraw, Unair, Unand, USU, Unsoed, Unnes, dan Unsyiah).

 

Anak-anak ini belajar intensif sejak memasuki pertengahan semester I kelas V. Mereka mesti disiplin mengikuti program sukses PTN yang didisain sekolah. Mereka mesti bersabar melewati rasa jenuh dan berdamai dengan rasa penat. Semuanya, demi satu asa lolos seleksi PTN. Dan, kini perjuangan dan pengorbanan itu telah berbuah.

 

Kami haturkan terima kasih kepada para donator dan semua pihak yang telah bergandeng tangan menjaga mimpi dan cita-cita anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi dari berbagai penjuru Indonesia. Semoga semangat kebersamaan ini terus terjaga karena kita cinta Indonesia.

 

SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa merupakan sekolah berasrama bebas biaya jenjang SMP dan SMA yang ditempuh selama lima tahun dengan sistem kredit semester yang diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi dari seluruh provinsi di Indonesia. (MSE)

Cara Ini Jitu Yakinkan Siswa Untuk Sukses

Oleh: Asep Rogia, Guru SMART Ekselensia Indonesia

 

Usai melaksanakan Salat Asar berjamaah, seorang siswa SMART Ekselensia Indonesia datang menghampiri saya.

“Ustaz, bolehkah saya bertanya? Bagaimana caranya agar kita bisa sukses?”

Sejenak saya berpikir, kemudian saya menjawab pertanyaan siswa tersebut.

“Nak, ketahuilah, sungguh sangat sederhana sekali untuk bisa sukses dan berhasil atas target kita. Kita hanya butuh sebuah keyakinan; yakin akan tercapainya setiap target kita.”

“Allah tidak meminta kita bagaimana memikirkan caranya. Yakinlah bahwa Allah akan memberikan jalan kemudahan dalam setiap tahapan pencapaian target kita karena Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Kalau kita yakin bisa berhasil, maka Allah akan memudahkan tercapainya target kita.” Siswa ini menyimak serius perkataan saya.

“Nak, bukankah Rasulullah pada saat berada dalam situasi sulit, seperti saat Perang Badar, selalu yakin bahwa Allah bakal memberikan kemenangan? Nak, kesuksesan dan keberhasilan atas target kita adalah sejauh mana keyakinan kita. Silakan kamu baca kisah-kisah sukses orang-orang hebat di seluruh dunia. Bekal mereka satu: yakin bahwa mereka akan bisa melakukannya.”

“Mereka tidak pernah memikirkan caranya. Sebab, memikirkan caranya, justru hanya akan merintangi proses kreatif yang berjalan di benak mereka. Mereka hanya perlu untuk pandai-pandai melihat peluang, memanfaatkannya, dan kemudian menikmati hasilnya,” lanjut saya menjelaskan.

Memotivasi siswa yang bertanya sudah menjadi kewajiban saya. Mereka harus didampingi agar bisa mencapai cita-citanya. Bersama mimpi-mimpi mereka, saya tanamkan pentingnya berusaha. Dan sebagai konsekuensi dari sekolah unggulan, mereka harus tetap terpantau untuk terus berada dalam jalur yang tepat.

Setelah siswa pertama pergi, datang temannya seorang diri. Seorang siswa kelas 2 yang baru terkena hukuman sekolah berupa rambut dicukur sampai gundul.

“Ustadz, apa hikmah di balik kejadian pahit?”

Tampaknya siswa ini mencoba merefleksikan hukuman yang baru saja diterimanya. Penggundulan rambut siswa di SMART biasanya terkait dengan satu tindakan siswa yang melanggar peraturan.

“Kejadian pahit itu dapat digolongkan menjadi dua: sebagian dari kejadian pahit itu dikarenakan diri kita sendiri, dan sebagian lainnya tidak berada dalam kuasa kita,” jawab saya.

“Nak,” jelas saya, “kebanyakan kejadian pahit dalam kehidupan kita muncul dari tidak adanya ketelitian dan manajemen yang baik dari diri kita. Bila kita tidak menjaga kebersihan, maka kita akan mudah sakit. Di sini kita yang bersalah. Bila kita tidak menaati peraturan berlalu lintas, maka kita rentan mengalami kecelakaan di jalan. Di sini kita juga yang bersalah. Sementara sebagian kejadian pahit yang di luar dari kehendak kita memiliki banyak sebab. Kesulitan membuat tumbuh dan sempurnanya manusia.”

“Kejadian-kejadian pahit dalam kehidupan manusia, kebanyakan sebagai tebusan atas kesalahan-kesalahan manusia sendiri,” tegas saya.

Sejatinya, saya ingin mengajak siswa ini untuk sadar atas akibat perbuatannya yang tidak berdisiplin. Hukuman yang diberikan di SMART tetap dalam kerangka untuk mengingatkan para siswa. Jangan sampai mereka mudai lalai, atau bahkan meremehkan peraturan. Sebagai orang yang diamanahi dalam hal kedisiplinan siswa, saya menyadari tanggung jawab ini tidaklah mudah.

Teringat ketika pertama kali diminta sebagai guru Pendidikan Agama Islam dan tim kedisiplinan di SMART, tertanam dalam hati saya tekad untuk mendisiplinkan siswa dengan segala risiko yang ada di dalamnya. Sadar bahwa bakal ada pro dan kontra terkait dengan pendisiplinan, entah

itu datang dari siswa atau bahkan dari dewan guru, ketika niat sudah tertancap dan ikhlas sudah mendarah, maka saya harus menjalankan amanah ini.

Saya menyadari bahwa pendidikan tanpa disiplin bakal menjadikan siswa liar, sedangkan disiplin tanpa hukuman hanyalah omong kosong. Hukuman dalam dunia pendidikan mutlak adanya. Tentu saja bukan untuk sarana melepaskan amarah, melainkan untuk menunjukkan kualitas disiplin di lembaga pendidikan itu masih terjaga dan peraturan yang dibuat dilaksanakan dengan sepenuhnya. Oleh karena itu, yang menghukum dan dihukum sekalipun harus terikat disiplin yang ada. Hukuman yang ditegakkan harus dalam sarana mengingatkan dan meluruskan. Jadi, kalau dijewer saja bisa mengingatkan tingkah salah siswa, mengapa siswa harus dicubit? Jika dicubit bisa meluruskan perilaku siswa, mengapa siswa harus dipukul?

Semoga siswa-siswa SMART menyadari arti berdisiplin, termasuk ketika mereka menerima hukuman akibat melanggar peraturan sekolah. Pada waktunya nanti, semoga mereka memahami bahwa pendisiplinan merupakan tangga yang akan membimbing mereka meraih kesuksesan.

 

 

Gelap kelam gulita ini

Bukan enigma

Tapi ini

memang nelangsa

*

Kesunyian selimuti raga

Kala kita tidak bersua

di tempat nan penuh kaldera

*

Kini keheningan telah sirna

Lewati banyak suka duka

Kala puspa tiba

Siapa mereka….

Siswa kami tercinta..

 

Lepas SMART Aku Harus Apa?

Oleh: Muhammad Fatih Daffa Alumni SMART Angkatan 8, Saat Ini Berkuliah Di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan School of Life Science and Technology Engineering Program

Kuliah. Masa perubahan status, siswa menjadi ‘maha’siswa. Ya, kini aku adalah seorang mahasiswa. Saat paling tepat untuk membentuk diri, menentukan seperti apa diriku ke depannya. Bertansformasi, layaknya sebuah gerabah yang baru keluar dari cetakannya. Sukses terbentuk menjadi sebuah kendi yang indah, atau pecah karena tak mampu bertahan dalam tungku pembakaran. Masa-masa akhir di kelas XII di SMART, walaupun nilai Ujian Nasionalku tidak cukup memuaskan. Meskipun aku tidak lolos dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan. Aku merasa sangat bersemangat. Seorang remaja yang selama lima tahun terakhirnya selalu diawasi, dibina, diatur, dan didukung, akan tiba saat baginya dilepaskan menuju fase kehidupan selanjutnya. Mengawasi dan mengatur setiap hal yang dilakukan diri.

 

Mencari dukungan dan membuat dukungan untuk diri agar bisa menemukan jalan terbaik bertahan di jalan itu. Kini aku berada di posisi itu. Saat aku bebas mengatur diri, memilih tempat, mencari suasana. Terkadang kebebasan tersebut untuk membuat diriku berada di lingkungan yang baik. Namun, terkadang pula kebebasan tersebut hanya untuk membuat diriku nyaman. Entah apakah itu baik atau buruk. Sangat sulit, benar-benar sulit. Itu yang saat ini kurasakan, betapa aku merindukan saat-saat ketika berada di SMART. Bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat ketika aku bersama teman-temanku merasakan pelatihan dari KOPASSUS.

 

Melakukan posisi taubat (tanyakan pada yang pernah merasakan selainku hehe). Saat itu mungkin fisikku mendapatkan hal “istimewa”, namun aku merasa saat itu lebih baik dari saat ini. Kenyataan adalah kenyataan. Hanya Allah swt. dan diriku yang mampu mengubah takdir dan nasibku. Guruku di SMART selalu menyampaikan ini: “Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha, hasil itu hak prerogatifnya Allah swt”. Untuk setiap orang yang membaca tulisan ini. Kusampaikan padamu, “Hiduplah sesukamu. Namun ingatlah, hal yang baik hanya untuk orang yang baik”. Sekian.

Sebuah Sentilan Pembangkit Rasa Syukur

Oleh: Muhammad Wahyudin Nur

Alumni SMART Angkatan 8 Berkuliah di UNPAD Jurusan Sastra Arab

Berangkat dari sebuah ayat,

“Diwajibkan atas kamu berperang,padahal itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui”

Al Baqarah : 216

            Hidup itu gak melulu seperti yang kita mau, seperti sebuah peribahasa yang sering kita dengar atau baca,”Man Proposes, GOD Disposes”. Kita bisa saja membuat  rencana-rencana cantik yang sekilas  membuat hidup kita terasa indah,namun kehendak Allah kadang merubah semua rencana-rencana cantik tersebut. Sebagaimana ayat di atas, ayat yang tak bosan-bosannya teman sekamar saya di Asrama SMART Ekselensia Indonesia, kamar Hammas lantunkan, boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita, dan boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kita. Ayat tersebut benar benar menyentuh hati saya ketika saya lulus dari SMART Ekselensia Indonesia.

            Rencana yang saya buat begitu Indah kala itu, betapa cantiknya ketika membayangkan lulus SNMPTN di sebuah perguruan tinggi ternama di Bogor, mempelajari Ilmu Komputer yang saat itu sangat saya gema,tetapi sebuah keputusan pahit hadir menampar saya terbangun dari angan angan indah tersebut, PLAK! Wahyuddin tidak diterima di kampus tersebut melalui jalur undangan. Saat itu saya begitu yakin dengan nilai-nilai saya, luar biasa, pelajaran besar. Kejadian tersebut begitu menampar saya dan menciptakan galau berkepanjangan. Hingga tersadar , ketika tidak lulus SNMPTN atau jalur undangan, saya harus berjuang untuk SBMPTN atau jalur tes tulis dan jalur mandiri di PTN-PTN incaran saya.

            Belajar dan berdoa agar Allah berikan   yang terbaik adalah usaha terbaik yang bisa saya lakukan. Atas izin Allah saya mendapat kesempatan untuk mencoba SBMPTN di tahun kemarin, dan Alhamdulillah atas izin Allah, lagi-lagi saya tidak diterima. Setelah pengumuman SBMPTN, hari setelahnya adalah pengumuman dari salah satu  jalur mandiri yang saya ikuti, dan hasilnya pun serupa.

            Singkat cerita, selain SBMPTN saya mengikuti 5 ujian mandiri untuk meraih PTN sebagai jenjang selanjutnya dari pendidikan saya saat itu, dan semua gagal. Sedih adalah hal yang saya rasakan, saya kecewa dengan diri saya, mungkin begitu pula dengan SMART, dan begitu pula dengan keluarga saya. “Kemarin belajarnya gimana??” “Doanya kurang kamu,” semua ujian mandiri sudah habis, dan saya  langsung mencari ‘tempat menetap’ bagi saya setelah lulus SMA ini.

 Sesuai dengan rencana yg saya buat apabila tidak lulus di PTN manapun, saya akan menghafal Al-Qur’an, sesuatu yang gagal saya lakukan dalam 5 tahun masa pendidikan di SMART Ekselensia Indonesia. Saya mencari-cari rumah tahfidz yang menerima santri lulusan SMA, dari mulai program 10 bulan, 1 tahun, 2 tahun, saya coba kirim berkas, dan Alhamdulillah saya berkesempatan untuk mencoba seleksi beasiswa menghafal di sebuah rumah tahfidz baru, yang baru saja didirikan. Seleksi kala itu adalah berupa kecepatan menghafal, satu jam per halaman. Saya gagal, saya hanya menyelesaikan setengah halaman dalam satu jam. Saya pun mulai pesimis dan mulai menyusuri google untuk mencari rumah tahfidz lain karena selain yang satu itu, dua rumah tahfiz yang saya daftar kala itu, sudah tutup. Alhasil,rumah tahfidz selain itu, tidak ditemukan. Pada saat itu sya benar benar pasrah kepada ketentuan Allah‘azza wa jalla. Setelah menunggu sekian hari, Alhamdulillah rumah tahfidz tersebut mau menerima saya.

Dimulailah perjalanan baru saya dalam menghafal Al-Qur’an. Bukan sekadar membaca tulisan tulisan berbahasa Arab, menghafalnya, lalu menyetorkannya. Mungkin itu yang pertama kali saya lakukan di awal perjuangan menghafal Al-Qur’an, mengejar target, tamat secepat cepatnya, namun setelah menghafal Al-Qur’an sekian juz, hidayah Allah datang.

“Menghafal AlQur’an bukan masalah cepat cepat seperti balap motor, tapi seperti acara Rangking 1 di teve, siapa yg paling lama bertahan dengan AlQur’an, dialah pemenangnya” ucap seorang ustaz di rumah tahfiz saya.

Mulailah saya membaca dan mencoba memahami tiap pesan cinta yang Allah sampaikan untuk hamba-Nya yang mau membaca kalam-Nya.Tak jarang Allah menghantam hati saya dengan kalam-Nya, membuat saya tersadar bahwa selama ini, saya berjalan di atas kesesatan. Allah membuka mata hati saya lewat sebuah training yang sangat terkenal di Indonesia, Private Class Pola Pertolongan Allah. Pesan cinta Allah tidak hanya Ia sampaikan lewat kitab suci-Nya, tapi dalam setiap masalah yang saya hadapi, Allah lampirkan pesan cintaNya. Saat itu saya masih mengidamkan PTN, dan Allah mengembalikan saya kepada kejadian yang lalu ketika tak ada satupun PTN yang berhasil saya raih untuk membaca pesan cintaNya. Kenyataannya, pada saat itu, Allah hendak memanggil saya untuk bermesraan barang sejenak denganNya dan memahamiNya.

8 bulan sudah saya menghafal Al-Qur’an, lalu Allah pertemukan saya dengan SBMPTN lagi.Tepat setahun yang lalu, dia menjadi sumber sakit hati terbesar saya seumur hidup. Namun kali ini, saya benar benar ingin mencobanya kembali. Kali ini, niat saya berubah, saya tidak meminta kepada Allah agar dapat kuliah di mana pun seperti doa saya tahun lalu, saya tidak memaksa Allah untuk memasukkan saya di PTN favorit seperti tahun lalu, do’a saya kali ini,

“Allah, hamba-Mu ini sekarang akan menghadapi ujian yang akan merubah banyak hal, suasana hati, ukhuwah, dan sebagainya. Allah, untuk kali ini, hamba ikhlas apabila tidak dapat PTN yang hamba idamkan sejak dahulu karena hamba sudah memiliki-Mu yang  dengan sangat baik memberikan cinta-Mu pada hamba. Allah, satu hal yang hamba tidak mau terjadi setelah keputusan hasil dari ujian ini diumumkan,dan hamba sangat tidak mau ini terjadi, hamba tidak ingin ada pihak yang kecewa dengan keputusan-Mu nanti, hamba tidak ingin ada ukhuwah yang rusak karena keputusan-Mu kelak, hamba tidak ingin mengecewakan lembaga SMART Ekselensia Indonesia yang telah dengan sangat baik membina hamba atas izin-Mu selama 5 tahun. Hamba mohon pada-Mu ya Rabb, apapun keputusan-Mu, tempatkanlah hamba dalam ridho-Mu, tempatkanlah hamba dalam cinta-Mu, ya Rabb, Engkau yang Maha Penyayang, perkenankanlah ya Rabb”

Yaa kira-kira begitulah isi do’a saya beberapa bulan yang lalu, ada yang gak saya tulis, itu pribadi, hehe. Alhamdulillah, setelah SBMPTN berlalu saya masih dihantui perasaan takut tidak diterima karena ikut tes juga agak maksa minta izinnya ke pihak rumah tahfiz saya, dan teman-teman yang lain gak ada yang se keras saya maksa ke pak direkturnya. Setelah melalui masa penantian hasil sambil menambah nambah hafalan yang belum disetorkan, Alhamdulillah, atas do’a orang-orang yang mendo’akan saya, dan tentu atas kasih sayang Allah, Allah takdirkan saya untuk melanjutkan hidup yang telah Allah amanahkan kepada saya di jurusan Sastra Arab, Universitas Padjajaran.

WALLAHI, saya melihat dengan jelas pertolongan Allah pada kejadian ini. Kejadian ini membuat saya semakin melek dengan nyatanya cinta Allah pada hamba-Nya. Sastra Arab bukanlah bagian dari mimpi saya tahun lalu, rencana saya pun bukan disitu melainkan di psikologi, beberapa bulan yang lalu saya serahkan semua buku-buku yang menunjang untuk latihan SBMPTN kepada saudara dan teman saya karena saya sudah gak yakin untuk dapat ikut serta di SBMPTN 2017. Alhamdulillah, Allah beri saya sebuah buku kumpulan soal SOSHUM untuk belajar seharga Rp 50.000. Murah, bukan? Ketika SMA basic saya SAINTEK, dan Allah tuntun saya ke arah SOSHUM, saya buka buku soal-soal SOSHUM itu, Alhamdulillah ketika tes, ada beberapa materi yang dahulu saya pelajari selama duduk di kelas 10, dan atas izin Allah, saya diterima di Universitas Padjajaran dengan Pertolongan Allah.

 

Sepilu hidup seperti paku

Kadang hidup terasa ngilu

Walaupun itu memang perlu

Agar hidup lebih berlaku

 

Sepilu hidup seperti paku

Menghadapi hidup penuh kelu

Walaupun kadang penuh tipu

Tapi hidup terasa seru