Siapakah diantara kita yang tidak pernah berbuat dosa? Dosa pandangan kita, dosa pendengaran kita, dosa lisan kita, dosa tangan kita, dan dosa-dosa lainnya yang pernah kita lakukan. Bahkan sehari pun kita tidak bisa lepas dari berbuat dosa.

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda :

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat” (HR Ibnu Maajah no 4241, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Dosa dan maksiat adalah tabiat manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

Tidakkah firman Allah ini dapat melapangkan hati, menghilangkan keresahan, dan menghapuskan kegundahan kita? Ayat diatas adalah seruan untuk segenap orang yang terjerumus ke dalam dosa agar segera bertaubat dan kembali kepada Allah. Sekalipun dosa anak adam sangat banyak, namun kasih sayang Allah jauh lebih luas terhadap hambaNya.

Amalan-amalan Penghapus Dosa

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam kitabnya Majmu’ Al Fatwa memberikan nasihat indah tentang amalan-amalan yang dapat menjadi penghapus dosa.  Beliau berkata, dosa dapat terhapus oleh beberapa hal:

  1. Taubat

Taubat secara bahasa berasal dari kata at-tauba yang dimaknai ‘kembali’. Orang yang bertaubat artinya ia kembali/berpaling dari dosanya [1]. Sementara secara syar’iy taubat adalah meninggalkan dosa karena takut pada Allah, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad untuk tidak melakukannya lagi, dan memperbaiki amalnya. Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin rahimahullahu dalam kitabnya Majalis Syahri Ramadhan [2] mengatakan “Taubat yang diperintahkan Allah Ta’ala adalah taubat nasuha (yang tulus) yang mencakup lima syarat”:

  1. Hendaknya taubat itu dilakukan dengan ikhlas.
  2. Menyesali serta merasa sedih atas dosa yang pernah dilakukan.
  3. Berhenti dari perbuatan maksiat.
  4. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut.
  5. Taubat dilakukan bukan pada saat masa penerimaan taubat telah habis
  6. Istighfar

Istighfar meskipun tampak sama dengan taubat, namun hakikatnya berbeda. Terdapat beberapa perbedaan antara taubat dan istighfar diantaranya:

Pertama: Taubat terdapat batas waktu, sementara istighfar tidak. Hal inilah yang menyebabkan orang yang sudah meninggal dapat dimohonkan ampunan, adapun taubat tidak lagi diterima tatkala nyawa sudah sampai pada kerongkongan.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hashr :10).

Kedua: Taubat hanya bisa dilakukan oleh pelaku dosa itu sendiri, sementara istighfar dapat dilakukan oleh pelaku dosa dan juga orang lain untuknya. Oleh karena itu seorang anak dapat memohonkan ampunan untuk orang tuanya.

Ketiga: Taubat disyaratkan harus berhenti dari dosa yang dilakukan sementara istighfar tidak disyaratkan demikian. Terdapat perselisihan ulama dalam hal ini, namun ada kesimpulan yang sangat baik dari Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili hafidzahullah dalam permasalahan ini [3]. Beliau menjelaskan bahwa istighfar ada dua keadaan:

  • Istighfar untuk dosa yang dilakukan oleh orang lain. Hal ini sebagaimana istighfarnya malaikat untuk orang-orang yang duduk di tempat sholat selama wudhunya belum batal maupun istighfar seorang anak untuk orang tuanya.
  • Istighfar untuk dosa yang dilakukan oleh diri sendiri. Istighfar bagi diri sendiri bermanfaat meski belum bertaubat, namun dengan syarat istighfar yang ia lakukan semata-mata karena rasa takutnya kepada Allah Ta’ala.
  1. Amal Shalih

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

Bertakwalah kepada Allah di manapun anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih).

Hadis ini menunjukan bahwa apabila hamba terjatuh dalam perbuatan dosa, maka hendaklah ia bersegera menghapusnya dengan taubat dan melakukan amal shalih. Dosa yang dibiarkan lama mengendap dalam diri karena tidak segera ditaubati, dikhawatirkan akan menjadi sebab lahirnya perbuatan dosa-dosa lainnya.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam kitabnya Washiyah Sughro [4] menjelaskan bahwa amalan shalih yang dapat menghapus dosa terbagi menjadi dua:

Pertama: Amal shalih yang dapat menghapus dosa tertentu saja. Contohnya yakni pembayaran diyat bagi jamaah haji yang melanggar larangan-larangan ihram.

Kedua: Amal shalih yang dapat menghapus dosa secara umum. Contohnya yakni puasa di bulan Ramadhan yang dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

  1. Musibah menghapuskan dosa

Musibah yang menimpa seorang muslim akan menjadi penghapus dosa baginya apabila ia bersabar dan menerima musibah yang menimpanya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمِّ، وَلاَ حُزْنٍ، وَلاَ أَذًى، وَلاَ غَمِّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا؛ إِلاَّ كَفَّرَ الله بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Apa saja yang menimpa seseorang Muslim seperti rasa letih, sedih, sakit, gelisah, sampai duri yang menusuknya, melainkan Allâh akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya dengan sebab itu semua”. [Muttafaqun ‘alaihi]

Setiap dosa yang dilakukan seorang hamba itu buruk, namun akan jauh lebih buruk apabila ia tidak mau bertaubat atas dosa yang telah dilakukan. Maka hendaklah kita mempergunakan waktu yang kita miliki untuk banyak bertaubat kepada Allah Ta’ala dan melakukan banyak amal kebaikan.

Ditulis oleh: Yuli Widiyatmoko

_________________________________________________________________________

Referensi:

[1]        Prof. DR. Shalih Ghanim as-sadlan, At-Taubatu Ilallâh, Maknâhâ, Haqîqatuhâ,
Fadhluhâ, syurutuhâ
, hlm. 10.

[2]       Ibnu Faris, Mu’jam Maqâyis al-Lughah, 1/357.

[3]        Ahmad Anshori. 2017. “Perbedaan Istighfar dan Taubat”. Diakses melalui
https://muslim.or.id/29214-perbedaan-istighfar-dan-taubat.html pada 09 Januari 2019.

[4]       Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, Washiyah Sughro.

ami

Akhir-akhir ini cuaca agak kurang bersahabat. Setiap pagi mendung menggantung, rasa ingin menggulung kembali diri ke dalam selimut. Tapi sebagai generasi penerus bangsa yang kelak akan memimpin negara ini, maka kami buang semua rasa malas dalam diri.

Bel telah berteriak memanggil-manggil kami, itu artinya kami harus bergegas ke lapangan untuk melaksanakan apel pagi. Selama apel berangsung banyak wejangan disampaikan kepala sekolah dan guru-guru, semua wejangan kami serap dan simpan di dalam hati serta pikiran baik-baik. Lepas apel kami bersegera menuju masjid untuk melaksanakan Salat Dhuha, dengan tertib kami memasuki masjid dengan perasaan senang. “Kok senang?” Jelas karena Salat Dhuha terbukti ampuh menenangkan hati sehingga kami siap menghadapi kegiatan belajar mengajar di kelas.

Biasanya setelah melaksanakan Salat Dhuha kami semua akan segera masuk ke kelas masing-masing, namun sekarang berbeda karena teruntuk kelas 1, 2, 3, dan 5 mereka harus tetap berada di masjid. ”Lho apa pasal?” pasalnya kelas-kelas yang disebutkan di atas diharuskan mengikuti Kelas Tahfiz. Kelas Tahfiz mulanya diadakan reguer alias hanya pada saat ada mata pelajarannya saja, tetapi sekarang Kelas Tahfiz digelar setiap hari selepas Salat Dhuha dan sifatnya WAJIB.

P_20170131_073231

Di Kelas Tahfiz kami dikelompokkan berdasarkan kelas dan ditemani seorang pembimbing, surat yang dihapal pun telah ditentukan jadi kami bisa lebih fokus. Jika dirasa hapalan telah mantap segera saja kami setorkan ke pembimbing, nantinya pembimbing akan menilai performa, kemampuan dalam menghapal, dan juga menilai benar atau tidaknya tanda baca dalam surat.

Walau dilaksanakan setiap hari namun tak ada rasa jemu menghampiri, kami malah semangat menyambut kelas ini karena kemampuan menghapal kami meningkat drastis. Ahamdulillah. Nah kira-kira apa saja sih manfaat serta keutamaan menghafal Al-Quran? Berikut keutamaan menghafal Al-Quran:

  1. Allah akan meridho kita
  2. Al-Quran akan menjadi penolong (syafaat) bagi penghafalnya
  3. Benteng dan perisai hidup
  4. Pedoman dalam menjalankan kehidupan
  5. Kedua orangtua kita akan dipakaikan jubah kemuliaan yang tak dapat ditukarkan dengan dunia dan seisinya
  6. Tiap satu huruf adalah satu hasanah hingga 10 hasanah
  7. Dan masih banyaak manfaat lainnya

Kami berharap dengan mengikuti Kelas Tahfiz kemampuan kami menghafal Al-Quran semakin terasah serta tajam, kami juga berharap kelas ini mampu menjadikan kami generasi penerus bangsa yang cinta Al-Quran, aamiin. (AR)

P_20170131_073304 P_20170131_073206 P_20170131_073146 P_20170131_073126 P_20170131_073039 P_20170131_073014 P_20170131_072944

Dompet Dhuafa hadir dengan pedoman lima pilar program, salah satunya adalah pendidikan. Sekolah SMART Ekselensia Indonesia menjadi salah satu program dari pilarnya.

Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, Muhammad Syafi\’i Elbantani (Kak Syaf) mengatakan, program SMART Ekselensia Indonesia berbentuk sekolah bebas biaya untuk anak-anak dhuafa berprestasi dari seluruh Indonesia. Anak-anak dhuafa yang lolos seleksi akan disekolahkan di SMP dan SMA SMART Ekselensia Indonesia pada Lembaga Pengembangan Insani di Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dijelaskan Kak Syaf, anak-anak akan belajar di SMP selama tiga tahun dan di SMA selama dua tahun. Mereka juga akan tinggal di asrama yang segala kebutuhannya telah disediakan oleh donatur Dompet Dhuafa

“Semua anak-anak dibiayai Dompet Dhuafa dari kebaikan para donatur, mulai dari kedatangan, seleksi, biaya pendidikan, makan dan semuanya dicover Dompet Dhuafa, bahkan sampai mereka lulus SMA,” kata Kak Syaf kepada Republika.co.id, Kamis (7/2).

Ia menjelaskan, SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah kepemimpinan. Siswa-siswa SMP dan SMA belajar kurikulum nasional dari pemeritah. Tapi mereka juga belajar kepemimpinan, berbicara di depan umum, berargumentasi dan memecahkan masalah. Artinya mereka belajar keterampilan sebagai seorang pemimpin (personal leadership skill).

Selain itu, siswa-siswa juga belajar keterampilan kepemimpinan sosial (social leadership). Seperti belajar manajemen organisasi dan rekayasa sosial. Mereka juga diberi pengalaman magang di desa dan membuat proyek sosial di tengah masyarakat

Sehingga siswa SMART Ekselensia Indonesia tidak hanya berpikir untuk kesuksesan pribadi. Tapi mereka juga berpikir bagaimana berkontribusi untuk masyarakat.

“Karena mereka lahir dari Dompet Dhuafa, Dompet Dhuafa lahir untuk memberdayakan masyarakat marginal, maka setiap penerima manfaatnya harus memiliki nilai itu,” ujarnya

Kak Syaf menegaskan, sekolah SMART Ekselensia Indonesia tidak hanya mendidik anak-anak supaya pintar di bidang akademik. Tapi juga melatih mereka supaya memiliki jiwa sosial yang berkontribusi untuk kepentingan umum. Hasilnya sudah bisa dilihat, sebanyak 90 persen lebih, lulusan SMART Ekselensia Indonesia diterima di perguruan tinggi negeri

Alumni SMART Ekselensia Indonesia juga bisa mendapat beasiswa dari pemerintah. Rata-rata mereka menduduki posisi penting di organisasi kampusnya masing-masing. Ini adalah hasil belajar keterampilan kepemimpinan saat mereka belajar di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

“Jadi yang menonjol di sekolah SMART Ekselensia Indonesia selain akademik, juga kepemimpinan siswanya, itu diukur dari kontribusi anak-anak SMART Ekselensia Indonesia kepada masyarakat sekitar,” jelasnya.

Sumber : Republika

Yuk Selami Dalamnya Al-Quran Supaya Hidup Lebih Hidup

 

Halo Sob, Assalamualaikum. Wah kita bertemu lagi di postingan terbaru nih. Maaf ya kalau kami jarang mengunggah tulisan atau informasi seputar SMART, maklum banyak sekali tugas yang harus kami kerjakan. Sebagai permintaan maaf, kami ingin bercerita seputar pengalaman kami para siswa Kelas 4 IPS yang mengikuti Diskusi Produktif Pendidikan kemarin.

Jadi Sob, dulu Syaikh Thanthawi, guru besar Al-Azhar Kairo mengulas dalam tafsirnya Al Jawahir, bahwa Al Qur’an memuat lebih dari 750 ayat tentang alam semesta, dan hanya sekitar 150 ayat fikih. Namun, ulama telah menulis ribuan kitab fikih, tetapi nyaris tidak memperhatikan serta menulis kitab tentang alam raya dan isinya.

Hal ini jelas membuat banyak orang bertanya-tanya (termasuk kami yang awam) tentang korelasi sains dan ayat Al-Qur’an dengan hidup manusia. Sebagai pelajar kami haus sekali akan ilmu pengetahuan, dan untuk mencari jawaban di atas akhirnya pada Kamis (28/03) kami mengikuti Diskusi Produktif Pendidikan bersama Dr. Agus Purwanto, Kreator SMA Trensains (SRAGEN & Jombang), dengan pembahasan Nalar Ayat-Ayat Semesta yang diadakan di Aula Al insan Dompet Dhuafa Pendidikan, Bogor, Jawa Barat.

Menurut Pak Doktor Agus, umat dan para ulama banyak menghabiskan waktu untuk membahas persoalan fikih, dan sering sekali berseteru serta bertengkar karenanya. Mereka lalai atas fenomena terbitnya matahari, beredarnya bulan, dan kelap-kelipnya bintang. Mereka abaikan gerak awan di langit, kilat yang menyambar, listrik yang membakar, malam yang gelap gulita, dan mutiara yang gemerlap. Mereka juga tak tertarik pada aneka tumbuhan di sekitar, binatang ternak, maupun binatang buas yang bertebaran di muka bumi, dan aneka fenomena serta keajaiban lainnya. Padahal di dalam Al-Quran semua sudah dijelaskan secara detail tanpa ada satu unsur pun terlewat di dalamnya.

“Apakah sains tidak relevan dalam Islam? Padahal dalam sejarah keilmuan tercatat bahwa sains modern merupakan sumbangan para ilmuwan muslim terhadap peradaban dunia, terutama ketika Eropa berada dalam dark age,” paparnya.

Selama tiga jam kami dikenalkan dan diajak menyelami ayat-ayat semesta di dalam Al Qur’an. Ia menambahkan jika Al-Qur’an dan sains telah melahirkan ilmuan-ilmuan besar seperti Al-Biruni ahli fisika dan kedokteran, Al-Razi ahli kimia, Al-Khawarizmi ahli matematika, Ibnu Haitsam ahli optik, serta nama-nama seperti Ibnu Sina, Ibnu Farabi, Ibnu Khaldun, Al-Kindi, Ibnu Batutah, Ibnu Rusyd, Al-Saghani, dan masih banyak nama besar lainnya. Wih bangga sekali kami mendengar nama-nama tokoh ini disebut, bikin semakin semangat untuk belajar5.

Dalam penjelasannya Pak Doktor Agus menekankan bahwa sesungguhnya Islam dan Al-Quran tidak pernah bertentangan apalagi bermusuhan dengan sains. Dalam buku Ayat- Ayat Semesta yang ia karang, dan lewat diskusi produktif pendidikan ia ingin menunjukkan bagaimana Al-Quran justru menjadi sumber dari sains modern. Sains dikonstruksi berdasarkan inspirasi wahyu Allah Swt. dalam bangunan ilmu pengetahuannya.

“Al-Qur’an tidak sekadar menjadi basis nilai. Di dalamnya mengandung 800 ayat tentang alam, sains, juga teknologi. Maka, Al-Qur’an bisa menjadi epistemologi dalam ilmu, sumber inspirasi dalam kehidupan. Penting diingat jika kita lupa pada sang pencipta maka hidupnya tak akan seimbang. Karena dalam hidup yang utama adalah Allah, maka penting bagi manusia untuk selalu membangkitkan kesadaran akan kebesaran-Nya dalam setiap aktivitas,” tutupnya.

Selesai mengikuti Diskusi Produktif Pendidikan, pengetahuan kami seputar Al-Quran semakin bertambah. Bukan itu saja, kami semakin yakin kalau Al-Quran itu benar-benar pedoman hidup tiada duanya. MasyaAllah. (AR).

Pulang Kampung. Momen spesial yang selalu dinanti oleh siswa SMART Ekselensia Indonesia. Bukan berarti tak betah di boarding school. Namun, pulang selalu memberikan makna dan kesan tersendiri. Kita semua pasti “pulang”. Karenanya, pulang itu fitrah dan kebutuhan asasi. Sungguh mengherankan jika ada di antara kita yang tak mau pulang.

 

Meski pulang kampung tahun ini terasa berbeda karena masih dalam kondisi pandemi. Namun, tetap saja kerinduan untuk pulang terus dinanti. Maka, dengan bertawakal kepada Allah diiringi menerapkan protokol kesehatan, sejak Sabtu pagi, malam, hingga esok dan Ahad malam, siswa SMART secara bergelombang pulang kampung.

 

Teriring doa tulus terpanjatkan di hati. Semoga Allah senantiasa membersamai dan melindungi. Semoga pulang kampung tahun ini memberikan sejuta kesan dan makna. Bahwa kita hidup di dunia tak selamanya. Kita pasti pulang ke negeri sebenarnya. Akhirat yang abadi dan selamanya. Berjumpa dengan Rasulullah tercinta dan puncaknya memandang Allah Subhaanahu Wata’aala.

Inilah SMART, Sekolah Kebanggaan Kami

 

Pada dasarnya pendidikan merupakan hak asasi semua warga negara Republik ini. Tanpa terkecuali bagi anak-anak marjinal. Kondisi ekonomi yang membelit keluarga menghilangkan kesempatan mereka untuk sekolah. Cita-cita yang lazim diinginkan anak-anak seusia mereka pun seolah tidak berhak diraih. Padahal, mereka juga mengharapkan kehidupan layak seperti anak-anak lainnya. Inilah kondisi yang pahit dirasakan oleh anak-anak marjinal di tanah air. Panggilan untuk mengangkat bakat dan harkat anak-anak marjinal itulah yang melatari lahirnya SMART Ekselensia Indonesia.

Bakat dan harkat anak-anak marjinal itu dapat diangkat ke permukaan apabila pendidikan yang diberikan kepada mereka dilakukan dengan baik dan benar. Kehadiran SMART tidak ingin sekadar menjadi sekolah bebas biaya namun abai pada soal kualitas. Selain akses pendidikan yang tidak merata, kualitas guru yang rendah melengkapi potret gelap dunia pendidikan kita. Tidak heran bila dunia pendidikan kita tertinggal jauh dibandingkan negaranegara maju. Karena kualitas gurunya rendah, tidak aneh bila kualitas anak didiknya pun tidak berbeda jauh.

Wajah pendidikan di tanah air juga masih dihiasi kenyataan bahwa siswa dibebani untuk lebih mengejar capaian-capaian akademis. Tidak banyak sekolah yang memilih untuk mengedepankan pembangunan karakter siswa. Akibatnya, maraklah fenomena sontek massal dalam pelaksanaan Ujian Nasional, tawuran antarpelajar, penggunaan narkoba, hingga pergaulan bebas.

Menghadapi tantangan zaman yang terus berubah, sekolah butuh guru yang berkualitas dalam pengajaran sekaligus juga mampu menjadi model bagi siswa. Dua hal ini mutlak adanya untuk membentuk karakter dan prestasi siswa, tidak terkecuali anak-anak marjinal. Sejak didirikan, para pengelola SMART optimis bahwa SMART merupakan modal dasar yang penting untuk memberikan nilai dan karakter kepada anak-anak marjinal. Dalam kondisi pendidikan nasional jauh dari ideal untuk menanamkan nilai dan karakter, SMART memilih untuk membina siswa lulusan SD. Selain sudah bisa dilatih untuk tidak bergantung kepada orangtua masingmasing, siswa pada usia ini lebih mudah dibina sehingga nilai dan karakter dapat tertanam sejak dini.

Pembinaan nilai dan karakter diutamakan karena lulusan SD yang masuk SMART memang dipersiapkan untuk mengikuti program akselerasi. Setamatnya dari jenjang SMA, pendidikan bagi mereka masih berlanjut. Mereka tidak dicetak untuk hanya berpuas diri karena mampu lulus SMA, kemudian menjadikannya sebagai modal untuk mencari pekerjaan. Sebaliknya, mereka justru dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bonafide di dalam dan luar negeri. Untuk membina dan menempa nilai dan karakter sekolah kepada siswa, SMART didesain sebagai sekolah berasrama (boarding school). Sistem sekolah berasrama cocok untuk mengondisikan para siswa agar fokus menggapai mimpimimpinya.

Melalui sekolah berasrama, siswa tidak sekadar dibina secara nilai dan karakter, namun juga disiapkan untuk menempuh pendidikan akselerasi, yakni menyelesaikan jenjang pendidikan SMP SMA selama lima tahun. Siswa ditempatkan di asrama karena akan memudahkan dalam pengayaan materi pelajaran. Saat yang sama, lebih efektif dan efisien secara waktu karena konsentrasi mereka dilatih agar terpusat pada aktivitas belajar.

Penerapan program SKS di SMART dapat dilakukan karena dalam setiap pelajaran memuat materi esensial dan non-esensial, sebagaimana yang diatur dalam Sistem Kurikulum Pendidikan Nasional. Dengan menerapkan skala prioritas di antara materi esensial dan non-esensial, pemberian pelajaran dapat diefisiensikan sekaligus diefektifkan. Dengan demikian, masa pendidikan yang umumnya enam tahun dapat ditempuh dalam waktu lima tahun tanpa ada pengurangan kualitas pengajaran ataupun prestasi akademis peserta didik. Ringkasnya, program akselerasi di SMART bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan bernalar siswa secara lebih komprehensif dan optimal, serta mengembangkan kreativitas siswa secara optimal.

 

Siswa SMART berasal dari seluruh penjuru tanah air. Mereka dipersatukan oleh kesamaan latar belakang ekonomi keluarga. Keragaman menjadi niscaya seiring bertemunya anak-anak berbakat itu di SMART. Menghadapi perbedaan suku, bahasa, bahkan karakter, SMART memiliki kiat-kiat khusus untuk mendayagunakannya sebagai sebuah kekuatan. SMART membiasakannya semua warganya untuk bersikap toleran dan saling menghargai perbedaan yang ada. Dalam pembelajaran, siswa selalu diingatkan dan disadarkan bahwa mereka adalah orang Indonesia yang memiliki kewajiban menjaga harkat dan martabat sebagai bangsa yang besar. Siswa juga belajar untuk menghargai adat istiadat tempatnya berasal. Rasa keindonesiaan yang kental dalam lingkungan SMART membuat mereka siap menghadapi kehidupan global yang tanpa sekat seperti saat ini. Efek teknologi yang sangat pesat menjadikan batas-batas geografis sebuah negara tidak menjadi penghalang bagi siapa pun untuk dapat menjalin hubungan, termasuk pada siswa yang berlatar belakang dari keluarga marjinal.

Kesadaran ini dibangun di SMART untuk memberikan pemahaman kepada setiap siswa bahwa mereka bukan saja pantas maju sebagai warga Indonesia, tapi juga sebagai warga dunia. Dengan demikian, siswa SMART mampu menjadi pemimpin global dengan tetap memegang warna keindonesiaannya

 

Pada awal berdiri, SMART sudah berkreasi mengembangkan program khas yang diimplementasikan di sekolah dan akan dikontribusikan bagi dunia pendidikan di tanah air. Bentuknya berupa pembentukan karakter, kepemimpinan, wirausaha, program kemandirian, program interaktif dengan masyarakat, serta penanaman disiplin. Saat awal berdiri, para siswa SMART sudah dicitakan tidak hanya menduduki kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) berkelas di tanah air, namun juga di kampus-kampus mancanegara. Untuk mencapainya, siswa SMART sudah dikondisikan dengan penggunaan dwibahasa (bilingual). Tidak ada yang salah dengan mendorong anak-anak marjinal untuk terus menggapai impiannya yang setinggi langit sekalipun. Terbukti siswa-siswa dari pelbagai penjuru tanah air itu mampu menembus ketatnya persaingan menjadi mahasiswa kampus negeri favorit. Sampai saat ini, SMART masih mempertahankan tradisi setiap tahun lulusannya 100 persen dapat menembus PTN terbaik dan berakreditasi A. Atas capaian yang ada itu, segenap jajaran di SMART tidak ingin berpuas diri. Masih ada capaian yang perlu dituju: menjadikan SMART sebagai Sekolah Kelas Dunia (World Class School).

Untuk menjawab visi menjadi Sekolah Kelas Dunia, SMART membuat beberapa strategi, yakni menyiapkan SDM berkualitas dan berdaya saing global, menjalankan sistem pendidikan terbuka dan diakui dunia, menyiapkan fasilitas dan teknologi yang bernuansa budaya global, menghasilkan lulusan yang berkarakter dan berdaya saing global, serta membangun jaringan dengan seluruh pemangku kepentingan. []

 

SMART Ekselensia Indonesia (SMART) ialah Leadership Boarding School untuk tingkat SMP-SMA. Sekolah ini didirikan oleh lembaga zakat nasional Dompet Dhuafa pada 2004. Hingga kini SMART telah meluluskan lebih dari 600 siswa yang berasal dari seluruh Indonesia dan sukses mengantarkan 90% alumninya melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit di seluruh Indonesia.

Sejak berdiri, SMART telah menerapkan program akselerasi untuk level SMA yang kemudian digantikan dengan program percepatan dengan SKS (Sistem Kredit Semeater) berdasarkan Keputusan Nomor 819/17/88-set-Disdik dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat pada Oktober 2018.

 

Selama 16 tahun, siswa SMART telah meraih berbagai prestasi nasional di bidang akademik maupun non-akademik. SMART juga berhasil mengantarkan siswa-siswanya ke perguruan tinggi favorit di Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Airlangga (Unair), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Andalas (Unand), Universitas Hasanudin (Unhas), dan beberapa perguruan tinggi negeri lainnya.

 

 

Selama berkuliah, para alumni masih mendapat bimbingan dari para guru agar tetap terjaga perilaku dan prestasinya selama di kampus. Untuk menambah kebermanfaatan, di tahun pelajaran 2021/2022 SMART Ekselensia Indonesia kembali membuka pendaftaran dengan menerima siswa lulusan SMP/sederajat.

 

 

 

Persyaratan Umum

1. Beragama Islam.
2. Berasal dari keluarga kurang mampu/majinal
3. Laki-laki.
4. Berbadan sehat dan tidak memiliki penyakit menular.
5. Bersedia mengikuti seluruh tahapan seleksi sesuai dengan ketentuan berlaku.
6. Tidak memiliki anggota keluarga (saudara kandung) yang sedang atau pernah mendapatkan beasiswa Dompet Dhuafa.
7. Memperoleh izin orang tua/wali untuk tinggal di asrama.

 

SMP

1. Lulus/akan lulus SD atau sederajat
2. Usia maksimal 14 tahun pada 31 Juli 2021
3. Rata-rata nilai rapor kelas IV-V minimal 7,0

 

SMA

1. Lulus/akan lulus SMP atau sederajat
2. Usia maksimal 17 tahun pada 31 Juli 2021
3. Rata-rata nilai rapor kelas VII-VIII minimal 7,5

 

 

Persyaratan Khusus

1. Mengisi formulir pendaftaran calon peser ta seleksi nasional beasiswa SMART
tahun 2021/ 2022 yang disediakan panitia.
2. Menempelkan pas foto calon peser ta ukuran 4×6 di formulir pendaftaran.
3. Melampirkan fotokopi rapor kelas IV hingga V yang telah dilegalisasi oleh pihak
sekolah asal (Seleksi SMP).
4. Melampirkan fotokopi rapor kelas VII dan VIII yang telah dilegalisasi oleh pihak
sekolah asal (Seleksi SMA).
5. Melampirkan fotokopi piagam penghargaan/ sertifikat (bila ada).
6. Melampirkan fotokopi akte kelahiran/ surat kenal lahir.
7. Melampirkan fotokopi kar tu keluarga dan KTP Orang Tua/ Wali yang berlaku.
8. Melampirkan Surat Pernyataan Tidak Merokok.

 

 

Alur dan Tahapan Seleksi

– Pendaftaran: Desember 2020 – 25 Januari 2021
– Seleksi administrasi: Januari 2021
– Tes kompetensi mata pelajaran: Februari 2021
– Psikotes dan wawancara: Maret 2021
– Home visit: April 2021
– Pantuhir: April 2021
– Pengumuman: Mei 2021

 

 

Yuk unduh formulir pendaftarannya di bawah ini:

 

Unduh formulir pendaftaran untuk SMP pada link berikut: KLIK DI SINI 

Unduh formulir pendaftaran untuk SMA pada link berikut: KLIK DI SINI

 

 

Cek juga lis panitia daerah yang bisa dihubungi di sini Panitia Daerah

 

 

Pendaftaran dan penyerahan berkas adiministrasi akan kami buka sampai Januari 2021. Pantengin terus akun kami untuk update informasi terbaru seleksi SNB SMART ya.

 

Tak Perlu Takut, Itu Hanya Lomba

 

Ini adalah kisahku sewaktu masih mengenyam pendidikan di SMART, saat ini aku telah berkuliah di Universitas Gajam Mada (UGM), aku harap cerita ini bisa membuatmu lebih semangat untuk belajar.

 

Oleh: Muhammad Fatihkur Rafi, alumni SMART Angkatan 9 saat ini berkuliah di UGM

 

di suatu siang kami para siswa tangguh SMART Ekselensia Indonesia dan beberapa ustaz pergi ke Masjid Raya Kahuripan. Kami semua sangat bersemangat walaupun harus berjalan kaki. Setelah berjalan akhirnya kami sampai ke tempat tujuan. Di sana ustazah yang pergi dengan naik kendaraan masing-masing telah menunggu kedatangan kami.

Sebelum Salat Zuhur dan makan siang, para siswa diminta ke lantai dua masjid. Inilah saat untuk asyik-asyikan. Ustaz Ahmad sudah mempersiapkan beberapa permainan yang akan kami mainkan per kelas. Kunci dari permainan-permainan ini adalah kerja sama tim yang baik. Permainan ini dimulai dari memindahkan bola kecil dengan menggunakan paha. Cara bermainnya adalah seluruh siswa duduk berjejer, lalu cara memindahkan bolanya dengan mengoperkannya dari satu paha ke paha yang lainnya.

Permainan selanjutnya tidak kalah seru, yaitu satu siswa dengan siswa yang lainnya per kelas harus menduduki paha temanya, dan temanya itu juga harus menduduki teman yang lainnya lagi. Permainan pun dimulai, kami saling menduduki paha teman satu dan yang lainnya. Awalnya sih biasa saja, tetapi, selang beberapa menit rasa pegal mulai merambat. Satu per satu kelompok mulai berjatuhan. Akhirnya permainan pun dihentikan dan menyisakan empat kelompok sebagai pemenangnya.

Setelah semua permainan selesai, kami melaksanakan salat berjamaah.  Lalu kami diminta mengambil nasi kotak yang telah disediakan untuk makan siang. Setelah membuka boks makanan, yang kulihat adalah… hati. Oh tidak! Dari kecil aku memang kurang menyukai jeroan. Untunglah di dalam boks masih ada buah kesukaanku, semangka. Yes, Alhamdulillah. Ternyata dibalik kekurangan ada kelebihan.

Selesai makan siang kami menunggu jemputan pulang. Sambil menunggu, aku bermain dengan teman-teman. Karena capek berdiri terus, aku pun duduk di teras dan kebetulan di samping kiriku ada Ustazah Dina dan Ustazah Iif. Saya mengobrol dengan teman di samping kanan.

Beberapa saat kemudian Ustazah Iif baru menyadari kehadiranku. “Eh ada Opick.”

“Bukannya Opick itu nama panggilan Ade Mustopic?” tanya Ustazah Dina kepada Ustadzah Iif.

“Iya, tapi Rafi di rumahnya juga dipanggil Opick,” jawab Ustazah Iif.

Ustazah Dina berseru tanda paham. Kemudian mereka mengobrol, entah membicarakan apa.

Beberapa saat kemudian obrolan kedua guruku berakhir. “Pick, siap-siap lomba ya!” Tiba-tiba Ustazah Iif berkata. “Lomba Zah?” tanyaku. “Iya,” jawab Ustazah Iif beberapa saat kemudian. Aku pun berkata dalam hati, “Yes, akhirnya lomba juga!”

Aku begitu riang. Maklumlah, dari kelas 1 sampai saat itu aku belum pernah mengikuti lomba resmi.

Beberapa hari kemudian aku diberikan contoh soal Olimpiade Matematika oleh Kak Afdhal Firman. Soalnya susah-susah juga, batinku. Ternyata yang mengikuti lomba bukan hanya aku. Ada lima orang lainnya, yaitu teman seangkatanku Ade Mustopic, dan sisanya siswa Angkatan 8, yaitu Kak Fatih, KaK Afdhal, Kak Muhib, dan Kak Dion. Kami dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Kak Fatih, Kak Afdhal; sisanya tergabung dalam kelompok kedua.

Inilah hari pertama kami mengikuti Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten Bogor. Sekitar pukul 06.30 kami sudah siap untuk berangkat ke MAN 2 Bogor, tempat dilaksanakannya lomba. Menunggu dimulai, kami melaksanakan Salat Dhuha terlebih dahulu di Masjid Raya Bogor, kemudian berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam mengikuti lomba.

Kami kembali ke MAN 2 Bogor untuk mengikuti acara pembukaan. Setelah selesai pembukaan, para peserta  memasuki ruangan lomba yang sudah disediakan. Ruangannya cukup sederhana dengan kursi dan meja terbuat dari kayu. Juga ada kreasi siswa yang menghiasi dinding ruangan itu.

Para pengawas, yang merupakan kakak mahasiswa, mulai membagikan soal olimpiade dan juga kertas buram untuk corat-coret. Beberapa menit kemudian kami mulai membuka soal dan mengisi biodata. Berikutnya kami mulai mengerjakan soal.

Menit demi menit berlalu. Akhirnya waktu habis dan kami berhasil menjawab 14 soal dari 25 soal. Setelah itu kami langsung keluar kelas lalu melaksanakan Salat Zuhur. Setelah salat kami langsung makan di rumah makan padang sebelum akhirnya kami pulang.

Beberapa saat kemudian, kami mendapatkan informasi bahwa kami lolos ke babak selanjutnya, yaitu olimpiade tingkat provinsi di Bandung. Alhamdulillah, kelompokku lolos, namun ternyata kelompok Ade Mustopic belum berhasil lolos.

Dalam perlombaan tingkat provinsi kami menghadapi dua sekolah yang dikenal tangguh. Kami sudah berusaha keras, dan hasilnya kami meraih juara ketiga. Meskipun belum berhasil menjadi juara pertama, aku senang sekali memberikan piala untuk SMART. Itulah piala pertamaku dan piala pertama di Angkatan 9. Piala tersebut bukanlah piala pertama sekaligus piala terakhirku.

 

The Power of Kepepet yang Berbuah Manis. Sebuah Kenangan Indah Bersama TRASHIC

 

“Ayo, cepetan!” Sebuah suara memintaku untuk segera bergabung.
“Tunggu sebentar!” Suaraku ikut menggema pagi itu. “Oke, oke aku siap!”
Kuambil langkah seribu dan langsung memburu. Di sana, Yunus, Arif, Jayeng, dan Syahid teman-temanku sudah menanti. Kami tergabung dalam tim TRASHIC (Trash Music) SMART Ekselensia Indonesia. Hari itu kami menggelar pertunjukan musik di kantor Kementerian Keuangan.

Musik? Musik macam apa itu? Mungkin jika orang melihat kami, alis tertaut dan kening berkerut sembari bertanya-tanya: “apa ini? Mau apa mereka?” Akan segera bertengger tanya di ujung benak. Aku dapat banyak pengalaman dengan jerigen, drum, kaleng-kaleng, dan botol kaca. Dari barang-barang bekas ini aku dapat belajar bagaimana bicara di depan orang lain, membangun kepercayaan diri, dan menampilkan sesuatu yang terbaik bagi orang lain.

“Reza enggak bisa ikut nih, gimana dong?”
“Tenang saja, Ustaz, ada Yunus.”
Kami meyakinkan pembimbing.
“Emang Reza ke mana?”
“Sakit, Ustaz. Enggak memungkinkan untuk ikut,” jelasku.

Kami masih menyibak pagi dengan ketukan-ketukan ritmis sembari merapat nada, mencoba menirukan lagu yang nanti kami mainkan. Tak jarang kami berhenti, mengoreksi, menimbang-nimbang, dan mengulangnya lagi. Lagi dan lagi. Ini memang sulit. Reza tak bisa datang dan kami tak punya banyak pilihan. Yunus yang paling memungkinkan pun masih terasa berbeda. Salah dan teledor, sudah biasa.

Waktu takkan mau berbelas kasih menunggu kami. Namun, bukanlah TRASHIC jika berhenti dan lantas beranjak pergi. Kami terus mencoba dan mencoba lagi. Sedikit rasa malu karena mata-mata yang mencuri pandang dan dengar tak mengentaskan usaha kami. Langit masih biru dan kini ruangan itu mulai ramai dijejali orang. Aku tak kenal dan tak begitu peduli dengan semua itu. Yang kupikirkan adalah bagaimana kami tampil sebaik mungkin dan menghibur mereka semua.

Sesapu pandang kulihat. Warna berkilau, kesan mewah dan kesan priyayi terasa dari bagian depan tamu-tamu yang hadir. Pikirku jahil menari-nari.
“Kementerian Keuangan, wanita-wanita itu istri para pemegang uang, kudengar ini acara ibu-ibu arisan, wah bisa dibayangkan….”
“Ayo masuk!” Arif menyenggolku.
“Ya, ya, santai bro hehehe….”

Kami memasuki ruangan khusus pengisi acara. Sembari menunggu, kami bersantai sejenak. Lelah, pusing, dan pegal masih menggantung. Pikiranku kembali menari. “Apa yang kubawa nanti ya? Aku ingin sekali memberikan sesuatu padanya. Uangku tak mungkin kugunakan karena untuk persediaan hingga pulang kampung. Mungkin, bisa.

“Coba lagi yuk, lancari.” Kuambil stik dan mengajak anggota yang lain ikut bergabung.
“Habis ini siap-siap ya!”
“Sip, Ustaz!”

Yang kami yakini adalah kami harus bermain sebaik-baiknya dan jangan pikirkan soal imbalan. Luruskan niat bahwa kami ingin menghibur dan memberikan yang terbaik. Ustaz selalu berkata demikian.

Aku hanya percaya bahwa aku masih bisa memberikan sesuatu untuknya, untuk mereka.

Kami dipanggil. Kaki melangkah, dan kami telah siap. Kami mulai. Kami tenggelam dalam ketukan dan harmonisasi. Menjaga dan coba selaraskan hingga akhir. Sejenak terlupa tentang apa yang harus kubawa untuknya. Lagu berakhir, kami beristirahat sejenak.

Kubuka percakapan. Kusebut seperti itu dengan penonton. Tidak percakapan dalam arti sebenarnya namun tetap kuanggap begitu. Sekadar hilangkan ketegangan. Aku cukup bisa membaur. Mereka terlihat antusias dan menginginkan satu lagi dari kami.

Penampilan selanjutnya berjalan cukup baik. Yunus lupa dan kehilangan ketukan. Improvisasi darinya selamatkan penampilan kami. Penonton riuh redam, tepuk tangan menyerbu. Kami berhasil lagi. Sedikit celetukan mengatakan bahwa kami harus bermain sekali lagi. Waktu kami habis. Sedikit basa-basi dan penutup dariku, lantas kami turun dari panggung. Senang TRASHIC selalu bisa membuatku senang pada saat seperti ini. Melihat sambutan tadi, aku kembali menepi. Berpikir bahwa kami memang punya sesuatu.

Di ujung acara kami kembali dipanggil. Bukan untuk kembali menggebuk drum, jerigen, dan kaleng namun untuk menerima ‘sedikit’ bingkisan. Jepretan kamera dan blitz silih berganti. Pasang senyum dan bertindak wajar sukses!

Wanita yang menyerahkan bingkisan ini pastilah orang penting. Aku lupa siapa atau posisinya, yang jelas ia seperti orang yang memiliki pengaruh besar.

Sedikit berat bingkisan ini. Tak tahulah apa isinya. Bukan sekarang saatnya. Kami kembali ke ruangan pengisi acara. Bingkisan dibuka dan aku langsung berpikir untuk memberikan ini pada mereka.

“Al-Qur`an untuk Ayah dan Ibu. Pasti mereka senang!” Sorakku dalam hati.

Aku harap generasi TRASHIC terbaru di SMART juga memiliki semangat pantang kendur dalam situasi apapun. Ingat kalau kalian adalah anak-anak terplih maka lakukan yang terbaik.

 

 

 

“Meski terasa letih, engkau tak letih memberi. Agar mimpi kami terlaksana …,“ demikianlah petikan puisi berjudul Insan Berdedikasi karya Rafa Al-Fayed, siswa SMP SMART Ekselensia Indonesia. Selain dibawakan dengan memukau oleh rekan-rekan sejawatnya, puisi karya Rafa tersebut juga apik memotret bagaimana keseharian seorang guru.

.
Ya, gelar Insan Berdedikasi memang layak disandangkan kepada para guru, di samping Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Tak peduli sepelik apa pun masalah yang ada di rumah, mereka tetap tampil dengan wajah sumringah, demi menunaikan kewajiban mendidik anak-anak bangsa. Jika kita semua meyakini bahwa pendidikan adalah tiket untuk membawa suatu bangsa kepada kejayaan, gurulah ujung tombak untuk mendapatkan tiket itu. Tentu saja hal itu membuat tugas guru menjadi vital. Semapan apa pun sistem pendidikan dalam sebuah negara dibangun, tak akan berarti jika guru-gurunya tak memiliki dedikasi.

 

Karenanya, pada momen Hari Guru Nasional ini, kami ingin berucap terima kasih kepada seluruh guru Indonesia. Sungguh dedikasimu tak terbayar, jasamu tak terukur. Hanya Allah saja yang kuasa membalas semua lelahmu.

 

Semoga keberkahan menyertai setiap langkahmu, Guru …