Ingat Sob Ukuran Passion Tak Melulu Kesenangan Pribadi

Ingat Sob Ukuran Passion Tak Melulu Kesenangan Pribadi

Oleh: Yonatan Y. Anggara

 

Semoga kita akan sadar kalau ukuran passion bukan hanya tentang suatu hal yang kita senangi. Passion tidak lantas berhenti pada titik kulminasi yang banyak di bangga bangga kan di media sosial saat ini: pencapaian. Semoga kita akan mengerti bahwa passion berbeda dengan titik nyaman. Bisa jadi, passion justru tumbuh dari sesuatu yang di paksakan. Sesuatu hal yang dulu nya sangat tidak mungkin untuk kita kerjakan.

 

 

Semoga kita akan paham bahwa passion adalah sesuatu hal yang menjadikan kita bermanfaat. Artinya passion tidak melulu tentang ketertarikan kita. Passion adalah hadiah dari ketekunan dan kedisiplinan kita. Semoga kita akan paham bahwa passion adalah sesuatu yang amat kita cintai. Bukan karena kita menyukai atau tertarik denganya, melainkan karena sesuatu itu kita lakukan dengan mengharap ridho Allah semata. Lakukanlah setiap kebaikan dengan penuh ketulusan niat, niscaya passion akan tumbuh beriring dengan kebahagiaan yang semakin melapangkan hati.

 

 

Seperti halnya Abdurahman Bin Auf yang tidak ragu membantu banyak urusan umat muslim. Menyumbangkan harta-hartanya untuk umat. Mungkin sebelum Rasul ada, ia tidak punya passion memberi semenakjubkan itu. Setelah islam datang, Ada suatu hal yang jauh lebih penting dari sekadar passion.

 

 

Seperti halnya Utsman bin Affan yang dengan cekatan memutar otak mengatasi kekeringan waktu itu. Kapitalisasi sumur oleh Yahudi akhirnya disudahi oleh 152 juta harta Utsman. Dengan santainya ia memberikannya pada masyarakat. Mungkin sebelum datang risalah Islam ia tidak punya passion problem solving seperti itu. Setelah Islam datang, ada yang jauh lebih penting dari sekedar passion.

 

 

Seperti halnya Abu bakar yang dengan yakinya merogoh uang sekitar 143 juta hanya untuk menebus budak hitam bernama Bilal yang sedang ditindih batu besar di padang pasir yang panas. Mungkin sebelum datangnya Muhammad itu tidak pernah punya passion take care. Namun setelah Islam datang, ada sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar passion.

 

 

Ada yang jauh lebih penting dari sekadar passion, yaitu menjadi bermanfaat

, ,

Udah Siap Daftar SMART?! Mampir Sini yuk

Assalamualaikum Sob, bagi kamu yang sedang mencari Beasiswa SMP dan Beasiswa SMA yuk daftarkan dirimu di SMART Ekselensia Indonesia Islamic Leadership Boarding School. SMART merupakan sekolah kepemimpinan berasrama tingkat SMP dan SMA di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sekolah ini didanai oleh lembaga zakat Dompet Dhuafa. SMART merupakan salah satu program di bawah naungan Dompet Dhuafa Pendidikan, memiliki visi menjadi sekolah model yang melahirkan generasi berkepribadian Islami, berjiwa pemimpin, mandiri, berprestasi,  dan berdaya guna.

 

Di SMART kamu akan mendapatkan fasilitas seru Sob diantaranya:

  1. Pusat Sumber Belajar (PSB) yang menyediakan sumber belajar seperti buku paket, teacher’s resources, buku referensi, novel, majalah, koran, software pembelajaran dan media pembelajaran.
  2. Laboratorium komputer
  3. Laboratorium IPA
  4. Ruang kelas ber-AC
  5. Asrama sebagai tempat tinggal siswa
  6. Lapangan olahraga (Futsal, Basket, Badminton, Lapangan Sepak Bola)
  7. Sarana Ekstrakurikuler
  8. Ruang seni dan musik

 

Kurikulum yang diajarkan di SMART memadukan sistem pendidikan sekolah dan asrama. Sistem pendidikan asrama merupakan sistem yang membimbing dan membina siswa supaya mempunyai kepribadian yang mulia, bertanggung jawab dan mandiri. Sistem ini dituangkan dalam program asrama meliputi:

  • Program vocational skill
  • Program public speaking
  • Program praktik ibadah
  • Program dasar-dasar kepemimpinan

 

Lalu apa saja syarat masuk SMART. Yuk cek di bawah:

    1. Beragama Islam
    2. Berasal dari keluarga dhuafa
    3. Laki-laki
    4. Lulus / akan lulus SD atau sederajat (khusus peserta yang mengikuti Seleksi SMP)
    5. Lulus / akan lulus SMP atau sederajat (khusus peserta yang mengikuti Seleksi SMA)
    6. Usia maksimal 14 tahun pada 31 Juli 2020 (khusus peserta yang mengikuti Seleksi SMP)
    7. Usia maksimal 17 tahun pada 31 Juli 2020 (khusus peserta yang mengikuti Seleksi SMA)
    8. Memperoleh izin orang tua / wali untuk tinggal di asrama
    9. Rata-rata nilai rapor kelas IV – V minimal 7,0 (Seleksi SMP)
    10. Rata-rata nilai rapor kelas VII – VIII minimal 7,5 (Seleksi SMA)
    11. Berbadan sehat dan tidak memiliki penyakit menular
    12. Bersedia mengikuti seluruh tahapan seleksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku
    13. Tidak memiliki anggota keluarga (saudara kandung) yang sedang atau pernah mendapatkan beasiswa Dompet Dhuafa

 

Nah untuk detail lebih lengkap sila mengklik pranala ini ya Sob > KLIK AKU

 

Kamu juga bisa langsung menghubungi panitia pusat: Uci Febria (0812 8299 6939). Batas waktu pendaftaran kami tunggu sampai  25 JANUARI 2020 ya Sob.

Semangat Relawan Semangat Kebaikan

Semangat Relawan Semangat Kebaikan

Oleh: Andi Ahmadi, Pegiat Sekolah Literasi Indonesia
Menjadi relawan itu identik dengan bekerja tanpa bayaran. Bahkan, tak jarang justru uang dari kantong pribadi yang dikeluarkan. Sungguh pekerjaan yang tak banyak orang bisa melakukan.
Jika dilihat dari kacamata materi, relawan memang tak mendapatkan ba
yaran. Karena aktivitasnya murni atas dasar kemanusiaan. Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, menjadi relawan akan mendapatkan bayaran yang sangat berlimpah. Berikut adalah beberapa bayaran yang bisa didapatkkan oleh seorang relawan.
Lingkaran Kebaikan
Orang baik pasti akan dipertemukan dengan orang baik. Begitulah kata orang bijak. Dan nyatanya, hipotesis itu benar adanya. Dalam menjalankan aktivitas sebagai relawan, ada saja orang baik yang akan ditemui. Entah sekadar menjadi teman diskusi, memberikan hidangan saat bersilaturrahmi, memberikan tumpangan transportasi, hingga ada yang sampai menganggap sebagai keluarga sendiri.
Sebagai relawan, kita harus yakin bahwa dari sekian banyak orang yang kita temui, di antaranya pasti ada orang-orang baik yang sefrekuensi. Namun, jika belum juga dipertemukan dengan orang baik, tak ada salahnya kita instrospeksi diri. Jangan-jangan karena niat kita yang belum sepenuhnya baik.
Jaringan yang Luas
Menjadi relawan sudah pasti akan bertemu dengan banyak orang. Mulai dari sesama relawan, aktivis kemanusiaan, komunitas masyarakat yang memiliki kepedulian, para dermawan, hingga pejabat pemerintahan. Dengan jaringan yang luas tersebut, tentu akan bermanfaat bagi seorang relawan. Bukan hanya saat beraktivitas sebagai relawan, tetapi juga bermanfaat untuk dirinya di masa depan. Percaya atau tidak, tidak sedikit orang mendapat rezeki dari jaringan yang didapatkan saat menjadi relawan.
Pengembangan Diri
Salah satu wadah terbaik untuk mengembangkan kapasitas diri adalah di komunitas kerelawanan. Di sana kita akan belajar cara beradaptasi, cara bersosialisasi, cara bernegosiasi, hingga belajar mengembangkan ide-ide kreatif ketika realita tak sesuai dengan ekspektasi. Dan enaknya, belajar di komunitas kerelawanan kita tak perlu takut salah, berbeda dengan saat kita bekerja di perusahaan atau perkantoran. Bagi seorang pembelajar, kesempatan seperti ini jauh lebih berharga dari sekadar materi.
Kebahagiaan Hakiki
Bagaimana perasaan kita ketika melihat orang merasa bahagia dan terbantu dengan apa yang kita lakukan? Kita ikut bahagia bukan? Nah, seperti itulah yang dirasakan relawan. Bagi relawan, kebahagiaan terbesar adalah ketika ia bisa bermanfaat untuk orang lain. Dan tentu saja kebahagiaan seperti ini tak bisa diukur dengan tumpukan uang.
Aliran Pahala
Bayaran terbesar dari seorang relawan adalah aliran pahala yang tak pernah jeda. Seperti yang kita ketahui, ada tiga amal yang pahalanya akan terus mengalir tanpa henti: sedekah jariyah, amal yang bermanfaat, dan doa anak shaleh. Maka, aktivitas kerelawanan bukan hanya tentang membantu sesama, tetapi juga sebagai tabungan pahala yang kelak akan kembali kepada kita.
Dengan segala manfaat kebaikan yang bisa didapatkan, maka menjadi relawan sejatinya adalah sebuah kebutuhan.
Selamat Hari Relawan Internasional

Temnas I KOMPARASI: Tujuh Konsep Mengaqilkan Anak Belum Balig yang Pengasuh Asrama Harus Tahu!

Temnas I KOMPARASI: Tujuh Konsep Mengaqilkan Anak Belum Balig yang Pengasuh Asrama Harus Tahu!

 

 

Bogor – Komunitas Pondok Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) dalam Temnas I KOMPARASI ajak 230 pengasuh asrama selami fenomena legalitas remaja melalui “Strategi Mengaqilkan Anak yang Sudah Balig” bersama Adriano Rusfi, Psikolog,

 

 

Merujuk pada literatur psikologi abad ke-19 tak ada istilah masa remaja (adolescence), karena masa remaja adalah produk abad ke-20 di mana lahir generasi dewasa fisik (balig) namun tak dewasa mental (aqil). Fenomena ini menciptakan fenomena legalitas remaja, seolah-olah anak dibiarkan berlama-lama menjadi anak-anak. Maka, lahirlah generasi yang matang syahwatnya, tetapi tanpa kematangan akal.

 

 

Komunitas Pondok Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) dalam Temu Nasional (Temnas) I KOMPARASI mengajak 230 pengasuh asrama mendalami fenomena ini melalui “Strategi Mengaqilkan Anak yang Sudah Balig Namun Belum Aqil” bersama Adriano Rusfi, Psikolog, yang dilaksanakan Minggu (01/12), di Aula Sinar Cendekian Boarding School, Telaga Sindur, Bogor.

 

 

“Karena masih remaja dan dianggap belum dewasa maka usia remaja dianggap belum matang dan masih belum bisa menentukan sikap hidupnya,” ujar Adriano. Ia menambahkan jika saat ini banyak pemuda sudah balig tapi belum akil. ”Inilah tugas penting seorang pengasuh asrama untuk membimbing siswa binaannya agar mampu berpikir lebih matang, mandiri, dan bisa bertanggung jawab dengan hidupnya,” tegasnya.

 

 

Fenomena legalitas remaja tersebut menimbulkan banyak kerancuan di publik, salah satunya jika pemuda berusia tujuh belas tahun sudah mampu berbuat kejahatan, tetapi karena usianya, status hukumnya masih masuk dalam kategori anak-anak. Menurut Adriano dalam Islam seseorang sudah memasuki tahap balig maka ia dianggap telah dewasa.

 

 

“Ketika pemuda telah balig seharusnya ia dididik sebagai manusia dewasa, sesuai usianya. Hanya saja umat Islam ikut latah dengan pembenaran atas keliru didik yang fatal ini,” ujar Adriano.

 

 

Adriano menjelaskan, pengasuh asrama memiliki tugas besar membawa kehidupan siswa sekolah berasrama dan pondok pesantren kepada situasi ideal. “Pengasuh asrama disarankan tak hanya mencari sumber masalah (trouble shooting), tapi juga sebagai pemecah masalah (problem solving) melalui pendekatan terbaik,” jelasnya.

 

 

Dalam pemaparannya Adriano mengonsep tujuh hal yang dapat dilakukan pengasuh asrama sebagai strategi mengaqilkan anak balig  antara lain

  • Jangan menganggap periode remaja sebagai keniscayaan, karena remaja adalah produk kebudayaan,
  • Didiklah anak-anak menjadi dewasa bukan setengah dewasa, melalui pendekatan diskusi
  • Didik mereka bertanggung jawab atas perbuatan mereka menggunakan pendekatan consequential learning,
  • Libatkan mereka dengan permasalahan hidup; jangan sterilkan mereka dari hidup dan perjuangannya
  • Besarkan mereka di tengah realitas untuk memecahkan masalah
  • Didik mereka belajar untuk mencari nafkah, walaupun hanya sekadar menambah uang jajan,
  • Ajari mereka berorganisasi, berempati terhadap problematika sosial, dan berpikir untuk menemukan solusinya.

 

 

“Anak bukan makhluk bodoh, belajar terpenting bagi mereka ialah belajar menjadi dewasa. Latih mereka dan jadikan asrama tempat berkehidupan,” tutupnya. (AR)

 

 

Temnas I KOMPARASI: Adab Jangan Pernah Diabaikan!

Temnas I KOMPARASI: Adab Jangan Pernah Diabaikan!

 

 

Bogor – Krisis adab, KOMPARASI menggelar Kajian pengasuhan seputar metode implementasi kurikulum adab dalam gelaran Temnas I KOMPARASI bersama Dr. Ardiansyah, M.Pd.I, Pengasuh Pesantren At Taqwa Depok.

 

 

Anak dianalogikan seperti kertas putih yang bisa ditulis dengan tulisan apa saja, sebab itulah peran orang tua sangatlah vital karena keberhasilan dalam mendidik anak tergantung dari pendidikan yamg diberikan orang tuanya, namun untuk mereka yang bersekolah asrama atau pondok pesantren keberhasilan mendidik anak ditentukan oleh orang tua (pengasuh asrama) di tempat mereka belajar saat ini. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk memproduksi manusia yang baik secara agama (good man), tak sekadar menjadi masyarakat baik (good citizen). Elemen terpenting dalam pendidikan Islam adalah penanaman adab.

 

 

Pentingnya menanamkan adab di sekolah berasrama dan pondok pesantren merupakan standar tersendiri yang harus dipahami pengasuh asrama, oleh sebab itu Komunitas Pondok Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) dalam Temu Nasional (Temnas) I KOMPARASI menggelar kajian pengasuhan seputar metode implementasi kurikulum adab di Aula Sinar Cendekian Boarding School, Telaga Sindur, Bogor, pada Sabtu (30/11).

 

 

Dr. Ardiansyah, M.Pd.I, Pengasuh Pesantren At Taqwa Depok, secara tegas mengatakan  jika adab jangan pernah diabaikan, mengingat sekolah berasrama dan pondok pesantren adalah tempat paling tepat untuk menumbuhkan adab. “Ini PR bagi  para pengasuh asrama karena saat ini dunia mulai krisis adab,” tegas Ardi. “Krisis adab tersebut ditandai dengan munculnya kezhaliman di mana manusia gemar meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, maraknya kedunguan-melakukan sesuatu karena satu tujuan hanya saja caranya salah, dan kegilaan yang tak terkontrol melalui ide dengan tujuan keliru,” tambahnya

 

 

Penanaman adab dapat  pengasuh asarama lakukan melalui dua cara yakni melalui Ta’dib (penanaman adab) dan Ta’lim (pengajaran ilmu). “Ada tujuh ,etode penanaman adab yang bisa pengasuh asrama lakukan antara lain sampaikan ilmu tentang adab, kaitkan adab dengan keimanan, jadilah sosok teladan, jangan bosan dengan oembiasaaan, amalkan dengan penuh keikhlasan, berikan penegakakkan disiplin, jangan lupa berdoa,” jelas Ardi.

 

 

Menurut Ardi poin lain yang harus diutamakan oleh pengasuh asrama ialah ubah framework atau cara pandang untuk ditekankan pada murid-murid. “Dunia pendidikan akan mengalami banyak perubahan, pengasuh asrama harus mampu mengejar perubahan yang ada dengan membuat terobosan, dengan catatan adab harus tetap dijaga

 

 

Menutup kajian pengasuhan, Ardi berpesan, bahwa pengasuh asrama harus bisa menghasilkan orang-orang cerdas dan beradab, yang tahu bagaimana menyiapkan masa depan  mereka dalam mengonsep dan mengaplikasikan ilmu disertai adab baik. (AR)

 

KOMPARASI Ajak Pengasuh Asrama Melek Penyimpangan Seksual Anak Usia Balig

KOMPARASI Ajak Pengasuh Asrama Melek Penyimpangan Seksual Anak Usia Balig

 

 

Bogor – Komunitas Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) menggelar Temu Nasional (Temnas) KOMPARASI untuk minimalisasi permasalahan penyimpangan seksual pada anak usia balig dengan mengundang dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK dokter Spesialis Kulit dan Kelamin merangkap Aktivis Profesional Independen.

 

 

Komunitas Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) menggelar Temu Nasional (Temnas) KOMPARASI perdana setelah sepuluh tahun komunitas pengasuh asrama se-Indonesia ini digagas oleh SMART Ekselensia Indonesia. Sebanyak 230 peserta dari beragam sekolah berasrama dan pondok pesantren di Indonesia mengikuti perhelatan akbar tahunan ini guna meningkatkan kapasitas mereka sebagai pengasuh asrama.

 

 

Tema Transformasi Pengasuhan: Membangun Generasi Peradaban menjadi acuan mencari solusi terhadap permasalahan di asrama. “Di asrama banyak problematika yang membutuhkan solusi terbaik, karena itulah KOMPARASI dihelat agar para pengampu asrama bisa memberikan paradigma baru tentang pengasuhan kepada pengurus asrama lainnya,” kata Hodam Wijaya, Ketua KOMPARASI.

 

 

Hodam mengungkapkan jika salah satu masalah yang ditakutkan terjadi di dalam asrama ialah terjadinya penyimpangan seksual pada anak usia balig. Supaya para pengasuh asrama lebih melek dan bisa minimalisasi permasalahan ini KOMPARASI mengundang dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK., dokter Spesialis Kulit dan Kelamin merangkap Aktivis Profesional Independen.

 

 

“Manusia diciptakan hanya dua jenis kelamin laki laki dan perempuan, derajatnya sama hanya tugasnya yang berbeda,” kata sosok tegas yang dipercaya sebagai Saksi Ahli di Mahkamah Konstitusi untuk Pasal Permisifitas Seksual. Dokter Inong juga mengkritisi maraknya situs-situs porno di internet, menurutnya situs-situs porno menyumbang terjadinya penyimpangan seksual. “Sudah saatnya para pengasuh asrama melek internet, jangan sampai dikelabui oleh siswa binaan. Saya sangat berharap agar ada langkah nyata berupa pemblokiran terhadap seluruh situs porno yang saat ini ada di dunia maya,” ujar dokter Inong, sapaan akrabnya.

 

Perilaku menyimpang pada anak usia balig disinyalir mampu mengakibatkan penurunan moral, harkat, dan martabat pelakunya dalam kehidupan individu hingga sosial. “Bagaimanapun perilaku menyimpang bernama LGBT harus diatasi, tugas para pengasuh asramalah untuk bisa meminimalisasi terjadinya penyimpangan melalui langkah-langkah khusus,” tambahnya.

 

 

Dalam materinya Inong memamparkan langkah khusus agar para pengasuh asrama bisa menerapkan pencegahan dini terjadinya penyimpangan seksual di sekolah berasrama dan pondok pesantren.”Ada lima cara yang bisa pengasuh asrama lakukan agar penyimpangan seksual. Pertama cari penyebab terjadinya penyimpangan seksual, jelaskan akibat penyimpangan seksual kepada siswa binaan, bentuk pencegahan terjadinya penyimpangan seksual dengan melakukan kegiatan positif bersama, cari indikator anak mengalami penyimpangan seksual, dan pahami penanganan anak yang terindikasi penyimpangan seksual,” tutupnya. (AR)

 

 

Tingkatkan Kompetensi Pengurus Asrama se-Indonesia, KOMPARASI Gelar TEMNAS I KOMPARASI

Tingkatkan Kompetensi Pengurus Asrama se-Indonesia, KOMPARASI Gelar TEMNAS I KOMPARASI

 

 

Bogor – Membangun generasi peradaban, Komunitas Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) ajak pengasuh asrama dari berbagai pondok pesantren dan sekolah berasrama se-Indonesia ambil bagian guna tingkatkan kompetensi mereka dalam pengasuhan.

 

Pondok pesantren dan sekolah berasrama kini sudah menjadi bagian dari sistem pendidikan di Indonesia. Pondok pesantren sendiri telah ada sejak abad ke enam belas dan memiliki kurikulum serta sistem pembelajaran sendiri, banyak tokoh pendiri bangsa lahir dari sistem pendidikan pondok pesantren. Sementara sekolah berasrama muncul pada pertengahan 1990-an sebagai upaya mengawinkan pendidikan umum dan pesantren. Baik pondok pesantren dan sekolah berasrama berupaya memadukan antara kehangatan keluarga dan suasana Islami.

 

“Salah satu bagian penting dan ujung tombak dalam proses pendidikan di pondok pesantren dan sekolah berasrama adalah kehangatan pengasuhan oleh wali asrama. Merekalah pengganti peran orang tua bagi siswa, peran yang begitu besar dan strategis,” kata Hodam Wijaya, Ketua KOMPARASI.

 

Menurut Hodam membentuk generasi unggul yang mampu membangun peradaban pendidikan bisa dimulai dari rumah, hanya saja untuk anak-anak yang mengenyam pendidikan di sekolah berasrama atau pondok pesantren pihak sekolah perlu memberikan contoh baik dari karakter orang tua. “Di dalam sekolah berasrama seorang wali asrama wajib menciptakan suasana kekeluargaan sehingga kedekatan bisa terbangun, dan anak-anak yang jauh dari orang tua bisa merasakan kasih sayang orang tua mereka. Namun bagian ini tidak begitu mendapatkan perhatian yang serius di beberapa pondok dan sekolah berasrama,” tambahnya

 

.

Sebagai upaya membangun generasi peradaban serta menciptakan ikatan yang kuat antara wali asrama dan siswa, KOMPARASI menghelat Temu Nasional (TEMNAS) I KOMPARASI di Sinar Cendekia Boarding School, Gunung Sindur, Jawa Barat. Mengusung tema Transformasi Pengasuhan: Membangun Generasi Peradaban, selama dua hari (30/11-01/12) 230 peserta dari berbagai pondok pesantren dan sekolah berasrama se-Indonesia ambil bagian guna meningkatkan kompetensi mereka dalam pengasuhan.

 

“Kami memfasilitasi peserta dengan berbagai bentuk kegiatan supaya insight seputar dunia pengasuhan semakin kaya, kegiatannya antara lain kajian pengasuhan bersama pakar di bidangnya, lokakarya pengasuhan bersama pembicara yang berpengalaman, dan diskusi ringan terkait persoalan pengasuhan termasuk di dalamnya solusi serta ide-ide baru terkait pengasuhan,” jelas Hodam.

 

 

Selain menggelar ragam kegiatan mumpuni, TEMNAS I KOMPARASI juga menekankan pada kompetensi peserta dengan mengundang Drs. Adriano Rusfi, S.Psi., Dr. Adian Husaini, dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK.; Fitria Laurent, Founder Sahabat Edukasi; dan Aang Hudaya, Co-founder Gema Rapi bahasa.

 

“Meski TEMNAS I KOMPARASI baru dilaksanakan perdana, tapi kami yakin mampu menciptakan konsolidasi dan revitalisasi para pengasuh asrama se-Indonesia. Ini menjadi solusi terhadap permasalahan di asrama karena para pengampunya bisa memberikan paradigma baru tentang pengasuhan kepada pengurus asrama lainnya,” tutup Hodam. (AR)

Sob Pemuda Harus Punya Karakter yang Kokoh lho

Sob Pemuda Harus Punya Karakter yang Kokoh lho

Oleh: Aidil Ritonga

 

 

 

Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendirian. Ia selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

 

 

 

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad Saw) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya”.

 

 

 

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk di antara penduduk Mekah yang paling kejam.

 

 

 

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil dua pelajaran yaitu sebagai berikut:

 

 

 

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

 

 

 

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah Saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan itu diawali dengan merubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah saw. menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut akidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

 

 

 

 

Akidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, akidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satu pun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

 

 

 

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa akidah yang benar. Jika akidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

 

 

 

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam.

Kalo Gak Jago Silat, Bukan Anak SMART!

Kalo Gak Jago Silat, Bukan Anak SMART!

 

 

Tahukah kamu Sob kalau sejak 2009 SMART Ekselensia Indonesia (SMART) membuka ekstrakulikuler Pencak Silat sebagai upaya mengasah kemampuan bela diri para siswanya serta menjaga kelestarian budaya bangsa? Nah SMART selalu mendorong kami untuk terus berprestasi, tak tanggung-tanggung SMART telah menorehkan prestasi mumpuni hingga tingkat nasional. Minggu (17/11), empat teman kami mengikuti Kejuaraan Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Cup 3 di Kampus UIN Ciputat, perhelatan nasional tahunan ini digadang-gadang menjadi barometer pesatnya peminatan pemuda terhadap Pencak Silat. Wow.

 

satu-satunya perempuan di sana itu teman kami Sob, berbeda perguruan tetapi tetap satu untuk mewujudkan pancak silat dikenal generasi milenial

 

“Sebelum bertanding kami rutin latihan dan menjaga pola makan agar dapat melakukan yang terbaik ketika memasuki arena,” ujar Rama, Kelas 5 IPA asal Yogyakarta. Menurutnya ini bukan kali pertama SMART mengikuti kejuaraan silat nasional Sob. “SMART sudah sering mengikuti pertandingan Pencak Silat tingkat nasional, mengikuti kejuaraan membuat kami memahami strategi ketika bertanding,” tambahnya.

 

 

 

Setelah melewati serangkaian pertandingan, teman kami yang mengikuti Kejuaraan Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Cup 3 berhasil menggondol 3 Medali Emas serta 1 Medali Perak dan berhasil menyabet gelar Pesilat Terbaik, keempat teman kami tersebut antara lain Agil Munawar: Peraih Medali Emas dan Pesilat Terbaik, M. Tsalats Ramadhani Masykur: Peraih Medali Emas, Syarif Andi Nurrohman: Peraih Medali Emas, dan Izat Hamdanil: Peraih Medali Perak.

 

 

“Kami bangga bisa kembali membawa nama baik sekolah di kancah nasional, kami juga bangga bisa menjadi bagian dari Pencak Silat yang sudah dikenal di mancanegara sebagai jenis seni bela diri. Kami sebagai penerus generasi bangsa akan terus menjaga Pencak Silat sebagai salah satu tradisi yang ada di Indonesia dan telah diwariskan dari generasi ke generasi,” tandas Rama. (AR)

,

OHARA Menggelorakan Semangat Berbudaya Pemuda Tanah Air

OHARA Menggelorakan Semangat Berbudaya Pemuda Tanah Air

 

Perhelatan akbar Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) 2019 telah resmi dihelat. 700 peserta dari berbagai sekolah di Indonesia berpartisipasi mengikuti gelaran OHARA 2019 yang dihelat di SMART Ekselensia Indonesia, Parung, Bogor, Jawa barat pada 23-24 Oktober 2019.  Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya OHARA  menggadang  enam lomba seperti Lintas Nusantara (Lintara), Opera Van Jampang (OVJ), Story Telling, Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (FAKN), Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), Dokumenter Budaya, dan tambahan Festival Budaya.

 

Menggadang tema “Kreasikan Uniknya Budaya Bangsa” OHARA 2019 bertujuan mengangkat kembali budaya Indonesia yang kaya akan nilai-nilai luhur, dipadu dengan unsur kreativitas generasi muda bangsa. Diharapkan setelah mengikuti OHARA para siswa siswi sekolah menengah pertama maupun atas serta sederajat di Indonesia mampu mempertahankan dan mencintai budaya Indonesia. Di OHARA para peserta diajak merefleksikan budaya Indonesia yang kaya dan khas melalui serangkaian penampilan kesenian yang menggugah kecintaan pemuda-pemudi terhadap bangsanya.

Di tahun ke-11 ini OHARA 2019 banyak mendapatkan apresiasi positif dari pemerintah dan peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Pemerintah memberikan kepercayaan dengan memberikan dua piala bergilir, Piala Gubernur Jawa Barat untuk  kategori lomba Opera van Jampang dan Piala Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk kategori lomba Lintas Nusantara (Lintara). Menurut Drs. Tatang Kurnia, M. M.Pd,  gelaran OHARA harus terus bergulir karena dapat mempererat ukhuwah serta jalinan kerjasama.

 

“Di OHARA para pelajar dapat menjunjung tinggi sportivitas dalam menggelorakan semangat berbudaya, kegiatan ini tak boleh hilang dari peredaran di era penuh teknologi saat ini,” tegasnya.

 

Tahun ini juga menjadi ajang yang banyak diikuti oleh pelajar dan pemuda dari luar Pulau Jawa. Sebut saja Makassar, Sulawesi Selatan dan Samarinda, Kalimantan Timur, turut mengirimkan perwakilannya.

 

Yogha, pemenang Juara 1 Lintara SMP, mengatakan jika OHARA merupakan kegiatan anti mainstream yang menyenangkan apabila diikuti oleh seluruh pelajar di Indonesia, ia berharap jika OHARA bisa terus berjaya hingga beberapa tahun mendatang.

Lain Yogha lain pula Diani, salah satu peserta pemenang Juara 1 Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (FAKN) asal Bandung, baginya OHARA dapat melestarikan kekayaan nusantara melalui cara yang menyenangkan dan kekinian.

“Kami berusaha melibatkan seluruh siswa seluruh Indonesia agar mereka memiliki ikatan yang kuat satu sama lain, selain itu kami juga ingin mereka lebih mencintai Indonesia,” ujar Ridwan Pramudya, Ketua Panitia OHARA 2019.

 

Di tengah maraknya berbagai pemberitaan negatif mengenai pelajar di Tanah Air, OHARA diyakini mampu mewadahi berbagai hal positif yang dimiliki generasi muda Indonesia. (AR).