,

OHARA Menggelorakan Semangat Berbudaya Pemuda Tanah Air

OHARA Menggelorakan Semangat Berbudaya Pemuda Tanah Air

 

Perhelatan akbar Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) 2019 telah resmi dihelat. 700 peserta dari berbagai sekolah di Indonesia berpartisipasi mengikuti gelaran OHARA 2019 yang dihelat di SMART Ekselensia Indonesia, Parung, Bogor, Jawa barat pada 23-24 Oktober 2019.  Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya OHARA  menggadang  enam lomba seperti Lintas Nusantara (Lintara), Opera Van Jampang (OVJ), Story Telling, Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (FAKN), Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), Dokumenter Budaya, dan tambahan Festival Budaya.

 

Menggadang tema “Kreasikan Uniknya Budaya Bangsa” OHARA 2019 bertujuan mengangkat kembali budaya Indonesia yang kaya akan nilai-nilai luhur, dipadu dengan unsur kreativitas generasi muda bangsa. Diharapkan setelah mengikuti OHARA para siswa siswi sekolah menengah pertama maupun atas serta sederajat di Indonesia mampu mempertahankan dan mencintai budaya Indonesia. Di OHARA para peserta diajak merefleksikan budaya Indonesia yang kaya dan khas melalui serangkaian penampilan kesenian yang menggugah kecintaan pemuda-pemudi terhadap bangsanya.

Di tahun ke-11 ini OHARA 2019 banyak mendapatkan apresiasi positif dari pemerintah dan peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Pemerintah memberikan kepercayaan dengan memberikan dua piala bergilir, Piala Gubernur Jawa Barat untuk  kategori lomba Opera van Jampang dan Piala Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk kategori lomba Lintas Nusantara (Lintara). Menurut Drs. Tatang Kurnia, M. M.Pd,  gelaran OHARA harus terus bergulir karena dapat mempererat ukhuwah serta jalinan kerjasama.

 

“Di OHARA para pelajar dapat menjunjung tinggi sportivitas dalam menggelorakan semangat berbudaya, kegiatan ini tak boleh hilang dari peredaran di era penuh teknologi saat ini,” tegasnya.

 

Tahun ini juga menjadi ajang yang banyak diikuti oleh pelajar dan pemuda dari luar Pulau Jawa. Sebut saja Makassar, Sulawesi Selatan dan Samarinda, Kalimantan Timur, turut mengirimkan perwakilannya.

 

Yogha, pemenang Juara 1 Lintara SMP, mengatakan jika OHARA merupakan kegiatan anti mainstream yang menyenangkan apabila diikuti oleh seluruh pelajar di Indonesia, ia berharap jika OHARA bisa terus berjaya hingga beberapa tahun mendatang.

Lain Yogha lain pula Diani, salah satu peserta pemenang Juara 1 Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (FAKN) asal Bandung, baginya OHARA dapat melestarikan kekayaan nusantara melalui cara yang menyenangkan dan kekinian.

“Kami berusaha melibatkan seluruh siswa seluruh Indonesia agar mereka memiliki ikatan yang kuat satu sama lain, selain itu kami juga ingin mereka lebih mencintai Indonesia,” ujar Ridwan Pramudya, Ketua Panitia OHARA 2019.

 

Di tengah maraknya berbagai pemberitaan negatif mengenai pelajar di Tanah Air, OHARA diyakini mampu mewadahi berbagai hal positif yang dimiliki generasi muda Indonesia. (AR).

 

 

 

,

Cuma di OHARA Kamu Bisa Menemukan Uniknya Budaya Indonesia

Cuma di OHARA Kamu Bisa Menemukan Uniknya Budaya Indonesia

 

Olimpiade Humaniora Nusantara kembali menyapa kita semua. Di tahun 2019 yang menjadi tahun ke-11 penyelenggaraannya. OHARA, begitu biasa di sapa, mengangkat tema “Kreasikan Uniknya Budaya Bangsa” dengan harapan seluruh elemen masyarakat mau dan mampu untuk mengembangkan dan mengkreasikan berbagai keragaman budaya bangsa yang melimpah ruah dari ujung Sabang hingga ujung Merauke. Serta mengangkat kembali budaya Indonesia yang kaya akan nilai-nilai luhur, dipadu dengan unsur kreativitas generasi muda bangsa. Sehingga  mendorong para pelajar sekolah menengah di seluruh Indonesia mengenal budaya dan mencintai Indonesia.

 

Berbicara tentang budaya tentu tak lepas dari warisan berharga nenek moyang kita. Baik itu berupa kebudayaan benda ataupun tak benda, kebudayaan tulisan maupun kebudayaan lisan yang mirisnya hari ini hal tersebut mulai tenggelam seiring berkembangnya zaman. Dengan tujuan mengkreasikan dan membangkitkan kembali uniknya budaya bangsa, OHARA mengakomodasi itu semua. Di OHARA kita akan menemukan Opera Van Jampang, sebuah penampilan seni peran yang menghibur dalam bentuk visual budaya nusantara dijadikan ke dalam bentuk opera disertai dengan guyonan-guyonan. Ada juga Story Telling,  pewarisan seni budaya melalui kemampuan mendongeng menggunakan bahasa Inggris; Kedua lomba tersebut memiliki kesamaan yakni mengangkat tema seputar Legenda dan Pahlawan Nusantara.

 

Kecintaan para siswa sekolah menengah terhadap bangsa dan negara adalah tantangan nyata saat ini. Lintas Nusantara (Lintara) merupakan sebuah lomba dalam OHARA 2019 yang diharapkan dapat menjawab tantangan tersebut dengan perpaduan uji pengetahuan, musikalisasi puisi, akulturasi pakaian adat Indonesia dan lintas alam.

 

Berbeda dengan Lintara, LKTI menjadi spot  untuk mewadahi ide-ide nyata para pemuda agar dapat menyalurkan ide mereka yang dapat diaplikasikan di masyarakat karena sejatinya Ide-ide kreatif para pemuda dari seluruh nusantara tersebut adalah modal penting kemajuan bangsa sehingga  sangat sayang untuk dibiarkan lenyap begitu saja.

 

Dokumenter Budaya menjadi ajang kepedulian siswa dalam mengabadikan budaya dengan media-media kekinian. Dokumenter Budaya mengajak untuk mengetahui jejak-jejak setiap langkah budaya indonesia melalui video yang diolah sedemikian rupa. Yang paling unik dari kegiatan OHARA ini tentunya FAKN, lomba akulturasi kuliner nusantara dan mancanegara yang menuntut pesertanya memiliki inovasi dalam menciptakan masakan baru sehingga menghasilkan budaya baru yang tentunya memperkaya keragaman budaya bangsa kita.

 

Tak ketinggalan hal yang baru di OHARA kali ini adalah Mini Soccer. Perlombaan olahraga sepak bola dengan bentuk lapangan yang lebih kecil dan waktu yang lebih singkat membawa salam silaturahmi dalam hangatnya budaya bangsa.

 

OHARA  bukan sekadar menekankan kecintaan pada budaya, tetapi juga mengajak untuk mencintai budaya negeri sendiri agar tak lekang dimakan zaman. Yuk sama-sama menjaga dan melestarikan budaya kita! (Zaky)

, ,

Hidup Memang Seru Sob!

Sepilu hidup seperti paku

Kadang hidup terasa ngilu

Walaupun itu memang perlu

Agar hidup lebih berlaku

 

Sepilu hidup seperti paku

Menghadapi hidup penuh kelu

Walaupun kadang penuh tipu

Tapi hidup terasa seru

 

, ,

Bukan Sekadar Enigma

 

Gelap kelam gulita ini

Bukan enigma

Tapi ini

memang nelangsa

*

Kesunyian selimuti raga

Kala kita tidak bersua

di tempat nan penuh kaldera

*

Kini keheningan telah sirna

Lewati banyak suka duka

Kala puspa tiba

Siapa mereka….

Siswa kami tercinta..

 

Sebuah Sentilan Pembangkit Rasa Syukur

Sebuah Sentilan Pembangkit Rasa Syukur

Oleh: Muhammad Wahyudin Nur

Alumni SMART Angkatan 8 Berkuliah di UNPAD Jurusan Sastra Arab

Berangkat dari sebuah ayat,

“Diwajibkan atas kamu berperang,padahal itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui”

Al Baqarah : 216

            Hidup itu gak melulu seperti yang kita mau, seperti sebuah peribahasa yang sering kita dengar atau baca,”Man Proposes, GOD Disposes”. Kita bisa saja membuat  rencana-rencana cantik yang sekilas  membuat hidup kita terasa indah,namun kehendak Allah kadang merubah semua rencana-rencana cantik tersebut. Sebagaimana ayat di atas, ayat yang tak bosan-bosannya teman sekamar saya di Asrama SMART Ekselensia Indonesia, kamar Hammas lantunkan, boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita, dan boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kita. Ayat tersebut benar benar menyentuh hati saya ketika saya lulus dari SMART Ekselensia Indonesia.

            Rencana yang saya buat begitu Indah kala itu, betapa cantiknya ketika membayangkan lulus SNMPTN di sebuah perguruan tinggi ternama di Bogor, mempelajari Ilmu Komputer yang saat itu sangat saya gema,tetapi sebuah keputusan pahit hadir menampar saya terbangun dari angan angan indah tersebut, PLAK! Wahyuddin tidak diterima di kampus tersebut melalui jalur undangan. Saat itu saya begitu yakin dengan nilai-nilai saya, luar biasa, pelajaran besar. Kejadian tersebut begitu menampar saya dan menciptakan galau berkepanjangan. Hingga tersadar , ketika tidak lulus SNMPTN atau jalur undangan, saya harus berjuang untuk SBMPTN atau jalur tes tulis dan jalur mandiri di PTN-PTN incaran saya.

            Belajar dan berdoa agar Allah berikan   yang terbaik adalah usaha terbaik yang bisa saya lakukan. Atas izin Allah saya mendapat kesempatan untuk mencoba SBMPTN di tahun kemarin, dan Alhamdulillah atas izin Allah, lagi-lagi saya tidak diterima. Setelah pengumuman SBMPTN, hari setelahnya adalah pengumuman dari salah satu  jalur mandiri yang saya ikuti, dan hasilnya pun serupa.

            Singkat cerita, selain SBMPTN saya mengikuti 5 ujian mandiri untuk meraih PTN sebagai jenjang selanjutnya dari pendidikan saya saat itu, dan semua gagal. Sedih adalah hal yang saya rasakan, saya kecewa dengan diri saya, mungkin begitu pula dengan SMART, dan begitu pula dengan keluarga saya. “Kemarin belajarnya gimana??” “Doanya kurang kamu,” semua ujian mandiri sudah habis, dan saya  langsung mencari ‘tempat menetap’ bagi saya setelah lulus SMA ini.

 Sesuai dengan rencana yg saya buat apabila tidak lulus di PTN manapun, saya akan menghafal Al-Qur’an, sesuatu yang gagal saya lakukan dalam 5 tahun masa pendidikan di SMART Ekselensia Indonesia. Saya mencari-cari rumah tahfidz yang menerima santri lulusan SMA, dari mulai program 10 bulan, 1 tahun, 2 tahun, saya coba kirim berkas, dan Alhamdulillah saya berkesempatan untuk mencoba seleksi beasiswa menghafal di sebuah rumah tahfidz baru, yang baru saja didirikan. Seleksi kala itu adalah berupa kecepatan menghafal, satu jam per halaman. Saya gagal, saya hanya menyelesaikan setengah halaman dalam satu jam. Saya pun mulai pesimis dan mulai menyusuri google untuk mencari rumah tahfidz lain karena selain yang satu itu, dua rumah tahfiz yang saya daftar kala itu, sudah tutup. Alhasil,rumah tahfidz selain itu, tidak ditemukan. Pada saat itu sya benar benar pasrah kepada ketentuan Allah‘azza wa jalla. Setelah menunggu sekian hari, Alhamdulillah rumah tahfidz tersebut mau menerima saya.

Dimulailah perjalanan baru saya dalam menghafal Al-Qur’an. Bukan sekadar membaca tulisan tulisan berbahasa Arab, menghafalnya, lalu menyetorkannya. Mungkin itu yang pertama kali saya lakukan di awal perjuangan menghafal Al-Qur’an, mengejar target, tamat secepat cepatnya, namun setelah menghafal Al-Qur’an sekian juz, hidayah Allah datang.

“Menghafal AlQur’an bukan masalah cepat cepat seperti balap motor, tapi seperti acara Rangking 1 di teve, siapa yg paling lama bertahan dengan AlQur’an, dialah pemenangnya” ucap seorang ustaz di rumah tahfiz saya.

Mulailah saya membaca dan mencoba memahami tiap pesan cinta yang Allah sampaikan untuk hamba-Nya yang mau membaca kalam-Nya.Tak jarang Allah menghantam hati saya dengan kalam-Nya, membuat saya tersadar bahwa selama ini, saya berjalan di atas kesesatan. Allah membuka mata hati saya lewat sebuah training yang sangat terkenal di Indonesia, Private Class Pola Pertolongan Allah. Pesan cinta Allah tidak hanya Ia sampaikan lewat kitab suci-Nya, tapi dalam setiap masalah yang saya hadapi, Allah lampirkan pesan cintaNya. Saat itu saya masih mengidamkan PTN, dan Allah mengembalikan saya kepada kejadian yang lalu ketika tak ada satupun PTN yang berhasil saya raih untuk membaca pesan cintaNya. Kenyataannya, pada saat itu, Allah hendak memanggil saya untuk bermesraan barang sejenak denganNya dan memahamiNya.

8 bulan sudah saya menghafal Al-Qur’an, lalu Allah pertemukan saya dengan SBMPTN lagi.Tepat setahun yang lalu, dia menjadi sumber sakit hati terbesar saya seumur hidup. Namun kali ini, saya benar benar ingin mencobanya kembali. Kali ini, niat saya berubah, saya tidak meminta kepada Allah agar dapat kuliah di mana pun seperti doa saya tahun lalu, saya tidak memaksa Allah untuk memasukkan saya di PTN favorit seperti tahun lalu, do’a saya kali ini,

“Allah, hamba-Mu ini sekarang akan menghadapi ujian yang akan merubah banyak hal, suasana hati, ukhuwah, dan sebagainya. Allah, untuk kali ini, hamba ikhlas apabila tidak dapat PTN yang hamba idamkan sejak dahulu karena hamba sudah memiliki-Mu yang  dengan sangat baik memberikan cinta-Mu pada hamba. Allah, satu hal yang hamba tidak mau terjadi setelah keputusan hasil dari ujian ini diumumkan,dan hamba sangat tidak mau ini terjadi, hamba tidak ingin ada pihak yang kecewa dengan keputusan-Mu nanti, hamba tidak ingin ada ukhuwah yang rusak karena keputusan-Mu kelak, hamba tidak ingin mengecewakan lembaga SMART Ekselensia Indonesia yang telah dengan sangat baik membina hamba atas izin-Mu selama 5 tahun. Hamba mohon pada-Mu ya Rabb, apapun keputusan-Mu, tempatkanlah hamba dalam ridho-Mu, tempatkanlah hamba dalam cinta-Mu, ya Rabb, Engkau yang Maha Penyayang, perkenankanlah ya Rabb”

Yaa kira-kira begitulah isi do’a saya beberapa bulan yang lalu, ada yang gak saya tulis, itu pribadi, hehe. Alhamdulillah, setelah SBMPTN berlalu saya masih dihantui perasaan takut tidak diterima karena ikut tes juga agak maksa minta izinnya ke pihak rumah tahfiz saya, dan teman-teman yang lain gak ada yang se keras saya maksa ke pak direkturnya. Setelah melalui masa penantian hasil sambil menambah nambah hafalan yang belum disetorkan, Alhamdulillah, atas do’a orang-orang yang mendo’akan saya, dan tentu atas kasih sayang Allah, Allah takdirkan saya untuk melanjutkan hidup yang telah Allah amanahkan kepada saya di jurusan Sastra Arab, Universitas Padjajaran.

WALLAHI, saya melihat dengan jelas pertolongan Allah pada kejadian ini. Kejadian ini membuat saya semakin melek dengan nyatanya cinta Allah pada hamba-Nya. Sastra Arab bukanlah bagian dari mimpi saya tahun lalu, rencana saya pun bukan disitu melainkan di psikologi, beberapa bulan yang lalu saya serahkan semua buku-buku yang menunjang untuk latihan SBMPTN kepada saudara dan teman saya karena saya sudah gak yakin untuk dapat ikut serta di SBMPTN 2017. Alhamdulillah, Allah beri saya sebuah buku kumpulan soal SOSHUM untuk belajar seharga Rp 50.000. Murah, bukan? Ketika SMA basic saya SAINTEK, dan Allah tuntun saya ke arah SOSHUM, saya buka buku soal-soal SOSHUM itu, Alhamdulillah ketika tes, ada beberapa materi yang dahulu saya pelajari selama duduk di kelas 10, dan atas izin Allah, saya diterima di Universitas Padjajaran dengan Pertolongan Allah.

 

,

DI OHARA, KULINER PUN TAK LUPUT DARI AKULTURASI

DI OHARA, KULINER PUN TAK LUPUT DARI AKULTURASI

Indonesia terkenal dengan keanekaragaman kuliner daerah yang menggoyang lidah. Aneka kuliner ini juga merupakan warisan budaya yang dilestarikan secara turun-temurun. Selain itu, kuliner juga menjadi ikon identitas setiap daerah di nusantara.
Nah, apa jadinya jika kuliner tersebut mengalami akulturasi? Wah, menarik pastinya! Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) menantang para pelajar SMA/sederajat untuk ikut dalam cabang lomba Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (FAKN). Dalam ajang ini, para peserta ditantang kreativitasnya untuk menggabungkan dua atau lebih kuliner nusantara dari daerah-daerah yang berbeda.
Selain melahirkan menu baru, tingkat kesulitan dari lomba ini adalah tidak menghilangkan kekhasan dari menu aslinya. Ditambah lagi, menu baru itu juga harus menggugah selera dan nikmat rasanya. Satu lagi yang lebih menarik, peserta FAKN juga diperbolehkan membuka stand bazar untuk menjual produk akulturasinya tersebut.
Humm, Mimin nggak sabar nih ingin mencicipi hasilnya. Kamu juga? Yuk, daftar OHARA! Masih ada waktu 15 hari lohhh!
Informasi selengkapnya dan pendaftaran online dapat diakses di www.smartekselensia.net/ohara2019
Atau kontak narahubung :
● 081288338840 (Markom DD Pendidikan)
● 081291387493 (Masfufatun)
● 081287818831 (Mezi)
OHARA 2019,Kreasikan Uniknya Budaya Bangsa
,

Jaya Terus Anak IPS!

Jaya Terus Anak IPS!

Oleh: Reza Bagus Yustriawan
Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX, Mahasiswa Sosiatri FISIP UGM 2017

Anak IPS? Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata IPS? Nakal? Suka tawuran? Kumpulan begundal? Kalau ya, berarti pikiranmu sudah terkontaminasi dengan “pepatah”  orangtua zaman dulu. Memang, kata siapa semua anak IPS itu begundal? Anak IPS itu seharusnya dihormati tahu, karena anak IPS gemar melestarikan budaya Indonesia melalui beragam ilmu sosial yang diajarkan para guru tercinta.

Namun, suka duka sebagai anak IPS yaa banyak juga sih, diantaranya, dicap kalau mereka yang masuk jurusan IPS itu tak elok dan akan sulit mencari pekerjaan di masa depan. Padahal nih yaa, tanpa kehadiran anak IPS, mungkin anak cucu kita tak akan tahu Tari Saman asal Aceh, Kujang, Rencong, Sejarah Indonesia, bahkan sejarah aku dan dia. Ini bercanda hehe.

Walau begitu, ada enaknya juga jadi anak IPS, misalnya, tak perlu berurusan dengan angka-angka ajaib, tak perlu mencari bilangan-bilangan rumit, dan tak perlu berpikir terlalu banyak (maksudnya tak perlu berurusan dengan kimia, matematika, fisika, dan pelajaran eksakta lainnya). Jadi, kalau belajar yaa gitu-gitu aja, enak, nyantai, nggak perlu kalkulator, nggak perlu ngitung-ngitung pergerakan setiap benda di bumi. Palingan ngitung-ngitung cuma dipake sekali-kali­—misal di kantin, ngitung utang—.

Hayoo… Ngaku…

Kalau nggak enaknya jadi Anak IPS juga banyak, salah satu yang paling gue keselin itu kita harus ngapalin nama-nama orang luar yang nggak jelas. Ada juga tanggal-tanggal. Boro-boro nginget tanggal lahir orang, tanggal lahir orang tua aja nggak tau, ya nggak?? Ngaku lho!! Ngaku!! Sedangkan, tanggal peristiwa kesaktian aku saja, aku nggak inget, apalagi hari kesaktian pancasila??

Jangan dikira jadi anak IPS itu nggak ribet. Mungkin selama ini banyak yang bilang kalau yang ribet itu cuma anak IPA doang, harus bawa termometer lah, labu melerleyer lah, spiritus lah. Eh!! Jangan salah!! Anak IPS juga ribet, malah lebih ribet, disuruh bawa peta lah, buat peta lah, menggali fosil lah, buat peta sambil menggali fosil lah, berkomunikasi dengan manusia-manusia purba lah. Ribetan mana hayo??

Yaa, ribet dua-duanya lah.

Aku sebenarnya agak resah, soalnya IPS di Indonesia dianggap tempatnya anak-anak buangan.

Aku nggak setuju!!

Pertama, karena aku juga anak IPS. Kedua, yaitu kalau nggak ada IPS nggak ada psikolog, kalau nggak ada psikolog nggak ada yang bisa nolongin orang stres, kalau terlalu banyak orang stres semua jadi stres, kalau semua orang stres entar mati. Wahhh!!! Kalau nggak ada anak IPS ujung-ujungnya nyawa semua orang mati. Ngeri banget kan akibatnya??

*Ngaco

,

Yuk Cintai Budaya Lewat OHARA. Detail Liat Di Sini Sob

Yuk Cintai Budaya Lewat OHARA. Detail Liat Di Sini Sob

 

Halo para Pejuang Budaya dan Sahabat Pendidikan.. ada kabar baik untuk kalian nih! Pendaftaran Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) 2019 resmi dibuka!!
Ayo pelajar SMP dan SMA sederajat di seluruh Indonesia, jangan lewatkan kesempatan ini! Ada Piala Bergilir dari Kemendikbud dan Gubernur Jawa Barat yang bisa kalian perebutkan. Ada sertifikat tingkat nasional, Piala Tetap OHARA, serta total hadiah puluhan juta rupiah yang bisa kalian bawa pulang. Ditambah lagi kesempatan bertemu para peserta se-Indonesia dan keseruan-keseruan lain yang sayang untuk dilewatkan.
Pendaftaran OHARA dibuka sampai 16 Oktober 2019 lho… Ini dia perlombaan dan acara yang hanya ada di OHARA 2019:
A. Kompetisi Khusus untuk Pelajar SMA sederajat:
1. Festival Akulturasi Kuliner Nusantara
2. Dokumenter Budaya
B. Kompetisi Khusus untuk Pelajar SMP sederajat:
1. Lintas Nusantara
2. Lomba Karya Tulis Ilmiah
3. Mini Soccer
C. Kompetisi untuk Pelajar SMP dan SMA sederajat:
1. Opera Van Jampang
2. Story Telling
D. Acara untuk Umum:
Festival Budaya
Informasi selengkapnya dan pendaftaran online dapat diakses di www.smartekselensia.net/ohara2019
Atau kontak narahubung:
• 081291387493 (Masfufatun)
• 081287818831 (Mezi)
Tunggu apalagi teman-teman? Ayo, tunjukkan kepedulianmu pada budaya bangsa karena nasib negeri ini ada di tangan kita!
OHARA 2019, Kreasikan Uniknya Budaya Bangsa
Salam Pejuang Budaya!
, ,

Katanya Cinta Budaya, Kok Belum Daftar OHARA?

Katanya Cinta Budaya, Kok Belum Daftar OHARA?

 

Halo para Pejuang Budaya dan Sahabat Pendidikan.. ada kabar baik untuk kalian nih! Pendaftaran Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) 2019 resmi dibuka!!
Ayo pelajar SMP dan SMA sederajat di seluruh Indonesia, jangan lewatkan kesempatan ini! Ada Piala Bergilir dari Kemendikbud dan Gubernur Jawa Barat yang bisa kalian perebutkan. Ada sertifikat tingkat nasional, Piala Tetap OHARA, serta total hadiah puluhan juta rupiah yang bisa kalian bawa pulang. Ditambah lagi kesempatan bertemu para peserta se-Indonesia dan keseruan-keseruan lain yang sayang untuk dilewatkan.
Pendaftaran OHARA dibuka sampai 16 Oktober 2019 lho… Ini dia perlombaan dan acara yang hanya ada di OHARA 2019:
A. Kompetisi Khusus untuk Pelajar SMA sederajat:
1. Festival Akulturasi Kuliner Nusantara
2. Dokumenter Budaya
B. Kompetisi Khusus untuk Pelajar SMP sederajat:
1. Lintas Nusantara
2. Lomba Karya Tulis Ilmiah
3. Mini Soccer
C. Kompetisi untuk Pelajar SMP dan SMA sederajat:
1. Opera Van Jampang
2. Story Telling
D. Acara untuk Umum:
Festival Budaya
Informasi selengkapnya dan pendaftaran online dapat diakses di www.smartekselensia.net/ohara2019
Atau kontak narahubung:
• 081291387493 (Masfufatun)
• 081287818831 (Mezi)
Tunggu apalagi teman-teman? Ayo, tunjukkan kepedulianmu pada budaya bangsa karena nasib negeri ini ada di tangan kita!
OHARA 2019, Kreasikan Uniknya Budaya Bangsa
Salam Pejuang Budaya!
,

Kurikulum Keunikan SMART Tampil di Forum Internasional

Kurikulum Keunikan SMART Tampil di Forum Internasional

Solo – Ajang The 3rd International Conference on Learning Innovation and Quality Education 2019 (ICLIQE) telah di gelar di Solo pada tanggal 7 September 2019. Acara ini dihadiri oleh peserta dari berbagai negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan, Rumania serta Indonesia. Sebanyak 240 presenter hadir menyampaikan berbagai makalah terkait peningkatan kualitas pendidikan melalui literasi dan teknologi untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0.
Dompet Dhuafa Pendidikan (DD Pendidikan) sebagai lembaga yang berkhidmat pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemberdayaan dana zakat, infaq, shodaqoh, wakaf (ZISWAF) dan dana halal lainnya dalam bidang pendidikan aktif berkontribusi pada acara tersebut. Dezya S Prawira sebagai peneliti dari DD Pendidikan mempresentasikan penelitian tentang “Pengaruh Kurikulum Keunikan pada Kesejahteraan Psikologis yang Dimiliki oleh Siswa dan Alumni SMART Ekselensia Indonesia”.
Penelitian ini berbicara tentang membandingkan tingkat Kesejahteraan Psikologis baik siswa dan alumni dari SMART Ekselensia Indonesia. Seperti diketahui SMART Ekselensia Indonesia merupakan program DD Pendidikan, sekolah menengah jenjang SMP dan SMA bebas biaya dan berasrama dengan program percepatan sistem kredit semester (SKS) dan pendidikan kepemimpinan yang diperuntukan bagi anak-anak pilihan dari seluruh Indonesia.
Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Kurikulum Keunikan yang diterapkan di SMART Ekselensia Indonesia membawa efek positif bagi siswa mereka.
Tantangan dari revolusi industri 4.0 dalam sektor pendidikan harus dijawab oleh berbagai pihak. Maka kehadiran DD Pendidikan dalam acara ICLIQE menjadi bentuk kepedulian Dompet Dhuafa dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.