H-5 Penutupan Seleksi Beasiswa SMART

Dapat merasakan pendidikan yang berkualitas adalah sebuah kemewahan tersendiri bagi mereka yang kemampuan finansialnya terbatas. Karenanya, berhasil masuk SMART Ekselensia Indonesia menjadi prestasi yang membanggakan sekaligus membahagiakan.

Tidak hanya mendapat kesempatan melanjutkan sekolah, SMART juga menjadi batu loncatan untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Banyak alumni SMART yang saat ini mendapatkan pekerjaan mapan dengan pendapatan profesional. Pada akhirnya mereka mampu menarik gerbong ekonomi keluarga, semula mustahik kini menjadi muzaki.

Seleksi siswa baru SMART tinggal 5 hari lagi. Masih ada waktu untuk mendaftarkan diri atau merekomendasikan anak-anak berprestasi namun memiliki keterbatasan finansial di sekitarmu. Yuk gunakan kesempatan ini! Melalui www.smartekselensia.net/seleksi2019/

Info lebih lanjut :
Uci Febria : 085285020603
Nur : 087887912000

Mohon sebarkan info ini pada kerabat yang membutuhkan sebagai wujud kepedulian kita pada pendidikan di Indonesia

Menjadi Anggota Parlemen

Pengalaman Menjadi “Anggota Parlemen”

SMART Ekselensia Indonesia telah membawaku ke dalam dunia yang tak pernah kuduga sebelumnya. Tinggal jauh dari kasih sayang Ibu dan Ayah, kebersamaan keluarga yang begitu jauh dalam dirasa. Rasa rindu yang tiada terkira selalu merayap dalam segala malamku, dalam segala sepiku, pun dalam segala lamunanku.

Hari-hari pun berlalu. Kulihat sekelilingku. Lihatlah, be­gitu ceria sekali teman-temanku. Mengapa aku tak dapat seperti mereka, tetap tersenyum dan tertawa walau jauh dari rumah? Beginikah sikap yang harusnya aku miliki: tertawa riang meski jauh dari pandangan keluargaku? Tuhan, sungguh, aku tak yakin olehnya, kertasku selalu basah oleh air mataku keti­ka aku tengah menulis. Pandanganku selalu kosong pada saat sekelilingku tengah asyik bercanda ria satu sama lain.

Dalam keadaan rindu tiada tara yang tengah melanda, guru mengetahui kondisiku, hingga akhirnya dia mengham­piriku dan bernyanyi, tertawa riang menyorotkan mata yang indah dengan ekspresi cantik tak dapat dikata.

Belajar dari ketiadaan

Belajar untuk kemandirian

Mengasah potensi,

Mengukir prestasi,

Bersama kita majukan negeri

Belajar hilangkan kebodohan

Bersama jauhkan kemalasan

Satukan asa, tekadkan jiwa, bersama kita meraih cita

Sekolah kami SMART Ekselensia

Kami dari Sumatera hingga Papua

Hanya satu tekad di dalam diri,

Menjadi pembelajar sejati

Glek! Sungguh kala itu tangisku tumpah ruah, mendengar lagu yang disenandungkan begitu semangat dengan polesan se­nyumnya yang begitu manis—pahlawan tanpa tanda jasaku.

“Itu benar sekali, Dzah,” ucapku sambil mengusap mata.

Nyanyian itu telah menyadarkanku dari mimpi buruk berkepanjangan, yang telah menggerogoti semangatku, se­mangat untuk belajar, semangat untuk bermimpi. Begitulah hari-hari pertama yang aku rasakan saat tinggal dan berseko­lah di sini. Sekarang, tiga tahun telah kulalui dengan tangis, canda, dan tawa bersama teman sepermainan dan seperjuanganku. Bertukar rasa, bertukar asa.

Lampuku yang dulu redup kini tengah bersinar kembali karena mereka yang kini telah menjadi bagian keluarga dalam hidupku. Bersama-sama melawan rasa rindu untuk tetap bela­jar demi masa depan yang telah kami impikan. Mimpiku yang hampir sirna kini kembali dan membentuk diriku menjadi tangguh tiada tandingan.

Pengalaman Tak Terlupakan

Dari sekian banyak cerita, cita rasa, dan segala asa yang aku dapatkan di sekolah tercinta ini, ada satu yang ingin kubagi untuk pembaca buku ini. Yakni kenangan bersama teman se-Indonesia dalam sebuah acara kerja sama Dewan Perwakilan Rakyat dan Universitas Indonesia, yakni Parlemen Remaja 2012.

Cerita berawal dari sebuah lembaran berwarna kuning ukuran A3 dengan gambar latar belakang gedung kura-kura, tertulis besar-besar “PARLEMEN REMAJA 2012” yang diserah­kan kepadaku oleh Ustadz Sucipto.

“Fai, ikutin sana, tulis esai, siapa tahu saja kamu keterima,” ajaknya.

Aku baca sebentar lembaran tersebut. Tertulis sebuah syarat untuk dapat mengikuti acara itu. Acara diperuntukkan bagi siswa-siswi SMA sederajat, diimbau untuk dapat mengirimkan karya tulis esai tentang pandangan mereka mengenai peran DPR terhadap kemajuan demokrasi di Indonesia, selan­jutnya akan dipilih karya terbaik untuk dapat mengikuti acara Parlemen Remaja 2012. Tanpa berpikir panjang segera aku mencari-cari informasi, browsing internet untuk mencari ba­han penulisanku.

Hari berlalu, telah kukirimkan karyaku bersama empat temanku yang juga tertarik. Hari-hari yang kulalui untuk menunggu pengumuman benar-benar telah banyak menyita waktuku. Aku begitu takut, deg-degan, dan gelisah. Semua bercampur aduk selama aku menunggu pengumuman.

Dua mingu berlalu. Hari itu adalah pengumuman esai terbaik yang berhak mengikuti serangkaian acara Parlemen Remaja 2012. Hari puncak campur aduk hatiku datang jua. Dengan langkah gontai beserta jantung yang berdenyut begitu cepatnya aku menuju layar komputer untuk membaca pengumuman. Kulihat daftar nama-nama siswa terpilih. Aku tidak menemukan namaku. Aku gulir mouse ke bawah, mataku tetap menelisik membaca satu per satu nama tertulis dan sesuatu telah membuatku tersentak!

Tertulis sebuah nama: Ahmad Rofai.

Alhamdulillah, ya Allah, segala puji bagi-Mu, namaku ter­tulis dalam jajaran nama siswa pembuat esai terbaik. Hari itu aku sungguh bahagia, tak pernah sedikit pun tebersit dalam pikiranku untuk dapat lolos seleksi. Segera setelah membaca, sontak saat itu juga aku letakkan keningku di atas lantai, ber­tasbih dan memuji-Nya sebagai tanda rasa syukurku atas kesempatan yang diberikan oleh-Nya untukku.

Telah tiba saatnya aku beserta ketiga temanku yang juga lolos seleksi pergi ke acara Parlemen Remaja 2012. Kami diantar Ustadz Wildan dengan mobil angkot langganan kami menuju tempat pertama acara, yakni Balai Sidang Universitas Indonesia. Cuaca begitu terik kala itu, ditambah lagi dengan pengapnya udara dalam angkot jelas membuatku perutku terasa mual. Untuk menghilangkan rasa mual, aku berusaha untuk tidur dalam angkot. Tak terasa ketika aku membuka mata, tujuan telah sampai.

Terlihat siswa-siswi tengah berbincang, saling berkenalan satu sama lain, berfoto-foto ria sembari menunggu acara pembukaan. Sedangkan kami, siswa SMART, hanya berempat, mengobrol sendiri, bermain sendiri. Tak sedikit pun rasa be­rani dari kami untuk dapat berkenalan dengan siswa-siswi lain. Bagaimana tidak, semua dari mereka memakai baju ba­gus dan bermerek pada saat kami hanya memakai seragam yang dibalut jas almamater sekolah kami. Mereka memegang kamera mewah masing-masing, sedangkan kami hanya mem­bawa handycam kecil, yang hasilnya buruk jika digunakan un­tuk berfoto; satu untuk berempat pula. Mereka juga masing-masing membawa notebook, sedangkan handphone pun kami tak punya.

Cuek is the best-lah yang menjadi jargon utama kami kala itu. Kami tetap tidak peduli akan keglamoran mereka. Kami tetap rendah hati dan percaya diri.

Pukul 14.00, semua peserta dari seluruh penjuru Nusan­tara telah datang dan berkumpul dalam ruangan. Telah ter­pilih 132 siswa-siswi SMA se-Indonesia dari ratusan pengirim esai. Berbagai sambutan dan rangkaian acara pun telah ter­lewati.

Acara akan diadakan selama empat hari, tiga hari per­tama kami menginap di Wisma DPR RI Griya Sabha Bogor. Satu hari terakhir menginap di Wisma Makara UI. Sekiranya inilah yang panitia sampaikan kepada kami. Setelah itu, terketuklah palu oleh ketua panitia bahwa acara Parlemen Remaja 2012 resmi dibuka. Riuh tepuk tangan membuncah sudah, memba­hana memenuhi ruangan beribu kursi itu.

Dua hari di wisma DPR-RI Griya Sabha.

Kini kurasakan betapa nikmat tiada tara dapat tidur di atas kasur yang begitu empuk, ber-AC, mencicipi mandi air panas dengan shower, menonton TV dengan puluhan channel tersedia.

Setiap pagi diawali dengan senam pagi di lapangan, kami berbaris, terlihat beberapa teman teriak, senyum, tertawa terbahak-bahak. Begitu pun aku, menunjukkan betapa baha­gia sekali kami waktu itu.

Siang pun datang, saatnya kami bersiap menuju ruang rapat sidang DPR. Sungguh pertama kali aku memasuki ruangan itu, beribu rasa bangga mencuat dari dalam hatiku. Me­makai jas hitam yang ketika kupakai tampak seperti eksekutif muda yang super penting dalam suatu tatanan negara.

Ruangan itu begitu luas dengan tembok ala bangunan luar negeri seperti yang selalu kulihat dalam film-film, ber­jejer ribuan kursi empuk berwarna cokelat dengan puluhan jejeran meja elegan di depannya. Sungguh tak bisa kugam­barkan bagaimana keindahan serta luasnya ruangan bagi aku yang sejatinya hanyalah siswa papa.

Aku duduk di atas kursi empuk dengan tersodorkan mik­rofon di depanku.

“Selamat datang para pemuda-pemudi gagah Indonesia!”

Sontak suara itu memecahkan suasana yang awalnya tenang menjadi membakar-bakar, sorak-sorai kami bersama tepuk tangan tumpah sudah.

Dua hari tepatnya kami di sana dipersiapkan untuk melakukan simulasi rapat sidang paripurna DPR. Kami diberi berbagai materi tentang apa itu DPR, bagaimana peran par­lemen dalam sebuah negara, serta pemberian pengajaran dalam bentuk pelatihan tentang bagaimana rapat paripurna DPR dapat berlangsung.

Sungguh benar-benar di luar dugaanku, pelatihan-pelatihan yang mereka berikan kepada kami telah membuatku sadar bahwa butuh waktu seharian penuh atau bahkan puluhan hari untuk membahas suatu rumusan undang-undang. Penentuan judul suatu undang-undang saja begitu lama penyelesaian­nya.

Pemberian materi beserta latihan-latihan kepada kami dilakukan dari jam delapan pagi sampai jam sembilan malam. Cukup melelahkan memang, namun herannya semua berja­lan begitu menyenangkan sehingga tidak terasa waktu terus bergulir.

Disiarkan Televisi

Di gedungkura-kura, pelaksanaan simulasi sidang paripurna DPR RI. Merupakan hari ketiga dari kegiatan ini, acara puncak dari sekian kegiatan yang kami jalani. Setelah subuh, telah tersedia bus yang siap mengantar kami menuju Senayan.

Sebelum ke tempat persidangan, kami menuju ruang tamu DPR terlebih dahulu. Seperti biasa ada sambutan dan acara pembukaan. Setelah itu, kami segera menuju ruang sidang paripurna. Berbagai pemeriksaan ketat pun terjadi. Tas kami disensor oleh alat pendeteksi, begitu pula dengan tubuh kami.

Benar-benar mataku tak dapat berkedip. Tempat si­dang itu begitu luas. Deretan kursi terbagi atas fraksi-fraksi, kursinya pun empuk tak terelakkan, mikrofon tersedia di de­pan kami, tertempel di atas meja.

“Acara ini akan disiarkan di TVRI pukul 07.30,” ucap salah satu panitia kepada kami.

Segera aku menghubungi keluargaku di rumah (lewat ponsel yang dipinjamkan pihak asrama) untuk dapat menon­ton diriku, memakai jas hitam, duduk di atas kursi mewah berperan sebagai Dewan Perwakilan Rakyat.

Mungkin pengalaman ini biasa saja buat sebagian Anda, namun tidak buatku. Ada satu pelajaran berharga yang telah aku dapatkan. Berdiskusi bersama anak-anak se-Indonesia dalam acara tersebut membuatku lebih aktif dan kritis selaku pelajar. Selain itu, aku tersadar bahwa selaku pemuda, aku merupakan agen perubahan dalam sebuah dinamika kehidupan. []

Kontributor : Ahmad Rofai

Pelatihan Kepemimpinan

Memulai Dinamika Sekolah Dengan Leadership Camp Ala SMART

Kembali sekolah setelah libur panjang seringkali menjadi hal yang menantang. Banyak siswa yang antusias namun banyak juga yang merasa malas. Tak bisa dipungkiri kondisi itu pun terjadi di SMART Ekselensia Indonesia (SMART). Karenanya, para wali asrama menggagas Leadership Camp untuk siswa SMART.

Leadership Camp tahun ini mengangkat tema “Aku Siap Kembali Berjuang di SMART”. Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari, yaitu pada Jumat hingga Sabtu (11-12/1), di Joglo Resort Ciapus, Bogor. Sebanyak 194 siswa SMART dari seluruh kelas akan mengikuti acara ini.

Training kepemimpinan ini bertujuan untuk mengembalikan kembali jiwa ke-SMART-an siswa, yaitu kepemimpinan, disiplin, mandiri, kebersamaan, dan tanggung jawab. Sebagai sekolah yang mengangkat kepemimpinan sebagai kekhasannya, kegiatan ini menjadi krusial untuk dilakukan.

“Selain mengembalikan jiwa SMART, kegiatan ini juga bertujuan untuk menyamakan frekuensi kejiwaan para siswa agar siap mengikuti dinamika sekolah dan asrama. Acara ini juga dirancang untuk menjalin kembali keharmonisan hubungan antarsiswa”, jelas Nurhayati, Supervisor Marketing komunikasi Dompet Dhuafa Pendidikan.

Berbagai aktivitas telah dirancang untuk mencapai tujuan tersebut. Berkemah dengan tenda, kompetisi antarkelompok, outbond, api unggun, juga Jurit Malam, adalah beberapa aktivitas yang akan dilaksanakan para siswa. Tak lupa sisi kerohanian juga disentuh dengan salat malam, salat berjamaah, hafalan Alquran, zikir Al-Ma’tsurat, dan muhasabah atau kontemplasi bersama.

Liburan kenaikan kelas memang menjadi momen paling dinantikan, terutama oleh para siswa SMART. Karena momen sekali dalam setahun inilah, mereka bisa pulang kampung bertemu dengan keluarga. Memanaskan kembali semangat para siswa menjadi hal krusial agar mereka siap untuk berjuang lagi di SMART. Semoga Leadership Camp ala SMART ini dapat memberikan dampak yang signifikan.

Siswa SMART Ekselensia Indonesia Belajar TIK

“Ustadz gimana cara nyalain TV-nya?”

Awal semester dimulai, sama seperti lima tahun yang lalu ketika pertama kali saya berada di SMART Ekselensia Indonesia. Ketika pertama kali mereka berada di sini, masing-masing anak mempunyai karakteristik berbeda. Kemampuan tentang penguasaan teknologi juga berbeda, terutama kemampuan mereka tentang komputer atau dikenal dengan pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), mata pelajaran yang saya ajarkan untuk anak-anak kelas 1 dan 2. Pelajaran pertama pun dimulai, jelas terlihat kebingungan dari anak-anak lulusan SD ini berkenalan dengan komputer.

“Ustadz gimana cara nyalain TV-nya?” salah seorang anak bertanya kepada saya.

“TV yang mana, Dik?”

Anak tadi kemudian menunjuk ke monitor komputer. Itulah sebagian dari keawaman anak SMART ketika baru pertama kali masuk ke kelas komputer. Ketika pertama kali saya berada di sini, saya pun sempat kebingungan mulai dari mana saya harus mengajar. Sebabnya, masing-masing dari mereka mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang berbeda tentang komputer, mulai dari yang benar-benar tidak tahu nama masing-masing hardware komputer sampai yang sudah tahu komputer. Apalagi, SMART mempunyai target yang cukup tinggi terhadap siswanya dalam hal penguasaan komputer.

Tantangan lain, sistem operasi komputer yang digunakan di SMART berbeda dengan sistem operasi komputer yang ada di sekolah-sekolah pada umumnya, yakni menggunakan open source software. Otomatis saya harus membuat sendiri administrasi pembelajaran mulai dari silabus sampai ke Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sebab saya belum menemukan sekolah setingkat SMP yang belajar sistem operasi dan program-program yang sama seperti yang ada di SMART ini.

Ada suatu pengalaman yang tidak mudah saya lupakan ketika awal saya bekerja di sini sebagai guru komputer. Ketika itu, saya dihadapkan oleh komputer yang tidak sebanding dengan jumlah siswanya, dalam arti jumlah komputer yang bisa digunakan hanya separuh dari jumlah siswa yang ada. Terlebih lagi komputer komputer tersebut tampak sudah jadul di eranya. Jadi, secara otomatis banyak masalah ketika mulai digunakan oleh siswa yang notabene siswa kelas 1 yang masih belum mengerti sama sekali tentang komputer, apalagi pada saat itu warnet atau rental-rental komputer belum menjamur seperti sekarang ini. Ketika saya tanya sebagian siswa tentang pengetahuan komputer, hampir semuanya belum pernah memegang komputer sama sekali. Belum lagi ada beberapa siswa yang menangis ketika belajar komputer lantaran rindu dengan orangtuanya. Ketika itu saya bertanya pada diri saya sendiri, “Harus dimulai dari manakah semua ini?”

Saya pun berusaha mencari metode-metode yang sesuai untuk menangani hal ini, mulai dari mencoba sesuai dengan text book sampai dengan saya coba-coba sendiri. Pada akhirnya, saya mulai mengerti bahwa yang saya hadapi adalah anak-anak cerdas dan saya yakin mereka akan cepat belajar. Itulah yang muncul dari dalam hati saya sampai saat ini. Ketika saya berpikir mereka adalah anak-anak cerdas, maka saya akan semakin bersemangat untuk belajar dan belajar lagi.

Tidak terasa, tahun kelima akan dilalui para siswa SMART. Sesuai tradisi di SMART, setiap anak yang akan meninggalkan sekolah atau lulus dari sini mereka wajib mengerjakan Karya Ilmiah Siswa SMART (KISS). Ada beberapa siswa yang membuat saya terharu ketika saya mengujikan KISS, karena judul KISS yang diajukan berkaitan dengan komputer. Ya, mereka mengambil topik seputar dunia komputer. Entah mengapa ada perasaan bangga ketika mereka lulus dari sidang KISS.  Segera saja saya teringat masa lalu mereka tatkala pertama kali mengenal mouse, keyboard, monitor, Linux, OpenOffice, sampai akhirnya ia dapat menganalisis kekurangan dan kelebihan sebuah sotiware komputer.

Dan tibalah saatnya mereka harus meninggalkan SMART untuk mengarungi dunia yang sesungguhnya. Momentum wisuda SMART menjadi pembuka semua itu. Pada saat prosesi wisuda, seperti angkatan sebelumnya, para siswa memberikan bunga kertas kepada guru- guru mereka. Ketika itu ada salah satu siswa memberikan bunga kepada saya. Padahal, saya sudah diberi bunga kertas oleh siswa yang lain. Tiba-tiba siswa itu datang dan memeluk saya sambil menangis.

“Ini buat Ustadz. Terima kasih, Ustadz, selama ini sudah membimbing saya, dan maatian saya….”

Setelah ia melepaskan pelukan, saya pun terdiam. Dalam hati saya bertanya-tanya, “Apa sih yang pernah saya berikan pada mereka?”

Meskipun “hanya” mengajar komputer, saya juga ingin membangun harapan untuk mereka. Karena bagaimanapun juga, saya sudah menjadi bagian dari keluarga SMART yang berusaha mengubah senyum-senyum anak bangsa semakin lebar. Saya rasa, mungkin seperti inilah kebanggaan seorang guru, sebuah profesi yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Semoga anak-anak didik saya itu bisa mengamalkan ilmu komputer yang didapat di kemudian hari untuk kebaikan. []

Kontributor : Ari Kholis Fazari (Guru TIK SMART Ekselensia Indonesia)

Teri Rasa Baja

Teri Rasa Baja

Ada keluguan dan kelucuan jika kita mau mengamati kelakuan anak-anak daerah yang bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia. Hal itu dapat ditemukan pada saat mereka melakukan aktivitas belajar, baik di asrama maupun di sekolah. Dua tempat itulah yang menjadikan tereksplorasikannya pengalaman menarik yang didapat dari hasil mengamati tingkah lakunya. Dua sisi keluguan dan kelucuan siswa pada tulisan ini didapat dari aktivitas mereka ketika berada di asrama.

Seperti yang tertulis pada program kerja satu tahun pengajaran SMART, target utama yang menjadi fokus kerja para guru dan wali asrama adalah keseimbangan antara pengetahuan yang berorientasi pada kognitif maupun yang mengoptimalkan peran motorik. Target proses yang bisa menjadi acuan dari para siswa adalah diperkayanya pengalaman belajar mereka. Pengalaman tersebut harus mampu menyatukan dua potensi kognitif yang berpadu dengan motorik sehingga dapat menghasilkan satu inside learning (hikmah) yang bermetamorfosis dalam tingkah laku, yang selanjutnya biasa diistilahkan menjadi satu sikap tingkah laku (afektif).

Dari sisi kognitif, bekal yang harus kita penuhi berupa wawasan guru yang baik. Hal tersebut dapat berupa wawasan pedagogik (pengetahuan mendidik) maupun wawasan profesional keilmuan (wawasan keahlian ilmu). Dua elemen pengetahuan tersebut akan berpadu membentuk sisi keragaman etos kerja dari kinerja dan dedikasi guru.

Sementara pengembangan dari sisi motorik, selain membutuhkan pembekalan strategi pengajaran dan variasi games, juga memerlukan asupan gizi yang layak dari setiap hidangan yang disajikan. Gizi makanan menjadi satu perhatian khusus yang tidak bisa ditinggalkan, baik pada saat makan pagi, makan siang, maupun makan malam.

Khusus untuk biaya makan di SMART; dalam satu hari, biaya yang harus dikeluarkan sebanyak Rp 3 juta untuk 175 siswa. Variasi makanan pun menjadi menu yang cukup bisa dinikmati di setiap harinya. Hal ini yang senantiasa digaungkan untuk menjadi satu kepedulian siswa, sebagai satu bentuk rasa syukur mereka. Bagaimanapun juga, mereka telah mendapatkan banyak nikmat: gedung sekolah yang representatif, makanan yang penuh gizi, guru yang baik, seragam, dan buku mata pelajaran. Semuanya didapat secara gratis alias tak perlu bayar sepeser pun!

Ada satu hal menarik yang pernah diungkapkan oleh salah satu siswa baru. Ketika baru dua minggu merasakan makanan di SMART, ia bertanya kepada saya.  “Ustadz Ahmad, waktu saya sekolah di SD dulu, saya diajarkan untuk selalu mengonsumsi makanan empat sehat lima sempurna. Ada sayur mayur, daging, kacang-kacangan, buah, dan susu,” ujar siswa tersebut.

“Oh begitu. Jadi, di SMART ini kamu tidak merasakan apa yang kamu ketahui sewaktu di SD dulu?” tanya saya menerka arah pembicaraan si siswa.

“Alhamdulillah, Ustadz, semua sudah pernah saya rasakan. Tapi, yang sering saya rasakan sama teman-teman, jenis makanan yang menunya baru, Ustadz. Kandungan vitaminnya juga pasti akan dirasakan baru, Ustadz.”

Saya pun terkejut. “Masya Allah, menu makanan apa itu, Nak?”

Siswa itu pun menjelaskannya dengan sangat antusias.

“Di sini, Ustadz, makanan pagi, siang, dan malam, jika kita mau polakan selama satu Minggu, masakannya tak lain memiliki menu LIMA T Plus SATU B, Ustadz.”

Saya pun langsung menimpalinya dengan pertanyaan yang lebih spesifik lagi.

“Wah, makanan apa lagi itu, ya? Saya baru mendengarnya selama hampir empat tahun mengajar di sini, lho. Makanan apa itu, Nak?”

Siswa baru itu pun dengan sigap kembali menguraikan.

“Setiap kita makan selama hampir dua Minggu, menu lauknya tak jauh dari… toge, tempe, tahu, terong, dan teri rasa baja, Ustadz. Kenapa teri ada rasa bajanya, Ustadz?”

“Itu teri kok ada rasa bajanya? Kira-kira kenapa, Nak?”

“Iya, Ustadz, karena dimasaknya kurang matang atau setengah mentah. Itu ikan teri. Jadi, alot rasanya. Susah dikunyah!”

Saya berusaha bersikap bijak menghadapi siswa baru ini.

“Oh, itu maksud dari menu dan vitamin barunya, Nak.”

“Semua yang baru tidak selamanya baik buat saya, Ustadz.”

“Apanya yang tidak baik?”

“Jika kita selalu disuguhkan yang baru-baru,” terang siswa itu, “kita akan melalaikan yang lama-lama atau yang telah lalu. Dan itu yang tidak baik, Ustadz. Ayah kandung dan ibu kandung kita kan bukan orang baru. Mereka orang yang sudah lama menemani kita, membimbing kita, mendidik kita, masak mereka mau dilupakan, Ustadz? Itu yang pertama, Ustadz.”

Saya menyimak kata-kata siswa yang luar biasa ini.

“Ada lagi yang kedua, Ustadz. Kampung kita semua jenis budayanya, makanannya, ciri khas yang menjadikan rindu ini terus ada di dalam hati. Itu semua kan keunikan yang ada di masa lalu, yang memang tidak boleh kita lupakan, Ustadz?” Saya segera menangkap arah pernyataan penuh hikmah ini.

“Subhanallah, itu yang Ustadz maksud, Nak. Jangan pernah kita terlena dengan fasilitas yang ada, bahkan hati-hati dengan fasilitas yang ada. Jika kita tidak pandai mengaturnya, fasilitas itu akan menjadi penghambat semangat belajar kita. Kalau semangat sudah terhambat, yang muncul adalah sifat malas, acuh tak acuh dengan prestasi. Yang ada, tinggal kita yang ditinggal maju oleh teman-teman kita.”

“Saya paham, Ustadz. Saya juga paham kenapa ikan teri sengaja dibuat alot.”

Saya tercekat heran. “Kenapa, Nak?”

“Teri itu sengaja dimasak alot supaya kita punya mental seperti baja. Kuat, kokoh, dan tangguh dalam belajar.”

Saya mengacungkan jempol atas jawabannya.

“Anak cerdas!” spontan saya memujinya walau di dalam hati. Dan saya tidak lupa segera mendoakan kesuksesan baginya, baik di dunia maupun di akhirat. []

Terima kasih koki SMART Ekselensia Indonesia

Terima Kasih, Koki

Disadari atau tidak, waktu terasa begitu cepat berada di sekolah ini. Saya kembali bertemu dengan siswa angkatan 5 SMART Ekselensia Indonesia. Satu tahun saya tidak pernah bersama mereka secara formal di kelas. Kali ini, mereka telah menginjakkan kaki di jenjang terakhir di sekolah ini, kelas 5. Pertama kali mengajar di sekolah nonprofit ini, mereka masih kelas 1.

Di awal tahun pelajaran 2012/2013, saya memulai pertemuan dengan siswa kelas 5 dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan terkait data diri siswa. Salah satu pertanyaan yang harus dijawab adalah “Berapa tinggi dan berat badanmu sekarang?”. Pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab dengan cepat dan tepat oleh siswa. Namun, nyatanya mereka membutuhkan waktu lebih dari lima menit untuk menjawab pertanyaan dasar tersebut. Ini bukti kalau ada masalah di sini. Pertanyaan lain adalah “Berapa pertambahan tinggimu dari kelas satu sampai saat ini?”.

Pertanyaan ini bisa dijawab dengan mudah karena tinggal mengurangi tinggi badan sekarang dengan tinggi badan ketika pertama kali datang ke SMART empat tahun yang lalu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab di dalam sebuah kertas kecil. Sisa pertanyaan sepertinya tidak perlu saya deskripsikan di sini.

Jawaban siswa terkait pertanyaan kedua memang sangat bervariasi. Ada yang cuma 3,5 cm, 8 cm, bahkan ada yang mencapai 40 cm. Jawaban-jawaban tersebut menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa rata-rata pertambahan tinggi siswa adalah antara 20-30 cm. Saya pun dapat menyimpulkan bahwa ada pengaruh gizi yang berbeda yang siswa dapatkan ketika mereka di rumahnya masing-masing dengan di SMART. Perbedaan yang cukup signifikan dari segi kuantitas maupun kualitas. Pertama kali tiba ke sekolah ini, tinggi mereka berkisar 125-160 cm. Angka terakhir pun sangat jarang ditemukan. Biasanya siswa yang tingginya mencapai angka tersebut adalah siswa yang sebelum diterima di sekolah ini telah bersekolah selama satu tahun di jenjang menengah (SMP).

Perbedaan ini seolah mempertegas cerita beberapa siswa terkait kondisi mereka di desanya. Salah satunya adalah menu makanan. Beberapa kali saya mengobrol dengan siswa yang berasal dari Indonesia bagian timur. Obrolan terkait menu makanan mereka sehari-hari yang menurut mereka jauh lebih tidak enak dan tidak bergizi dibandingkan di SMART. Fatqur, misalnya, siswa yang berasal dari Banggai, pernah mengatakan bahwa jarang sekali bisa makan dengan nasi. Ia bersama keluarganya yang berdomisili tidak jauh dari pantai lebih sering makan ikan tanpa nasi. Sepintas sangat bergizi karena setiap hari bisa mengonsumsi ikan laut. Kemiskinanlah penyebab utama sulitnya mereka mengonsumsi nasi yang harganya bisa sama dengan harga satu sak semen di Pulau Jawa. Namun, konsumsi makanan laut tanpa diimbangi sayur-sayuran dan buah-buahan tidak terlalu bagus. Tidak ada keseimbangan antara karbohidrat, vitamin, kalsium, dan mineral.

Andi, siswa yang berasal dari Sorong, pernah bercerita kalau keluarganya sanggup menikmati olahan dari ayam hanya satu kali dalam tiga bulan. Harga ayam di sana sama sekali tidak terjangkau oleh orangtuanya yang hanya bekerja sebagai pekerja bengkel kecil. Akhirnya, makanan sehariharinya tidak jauh dari sagu dan ikan hasil tangkapan sendiri. Itu pun kalau ada. Kalau tidak, ya makan sagu saja ditemani garam.  Sungguh ironis!

Mungkin hal tersebut bisa dianggap wajar karena terjadi terhadap siswa yang berasal dari Indonesia bagian timur. Namun, bagaimana kalau yang bercerita adalah siswa yang berasal dari Pulau Jawa? Kisah yang satu ini memang tidak saya dapatkan secara lisan; kisah ini berbentuk audiovisual. Sedih saya ketika melihat sebuah video yang telah diunggah di salah satu situs penyedia video tentang keluarga Ahmad Darmansyah, salah satu siswa SMART yang telah meraih prestasi di tingkat nasional. Dalam video yang berdurasi sekitar delapan menit itu, kita bisa melihat bagaimana perjuangan keluarga Ahmad dalam mencari nafkah. Orangtua Ahmad hanya seorang pengusaha tahu skala rumah (industri rumah tangga) yang pendapatannya hanya cukup untuk makan sehari-hari, yang mungkin tidak pernah diperhitungkan kandungan gizinya. Boro-boro untuk menabung atau menyekolahkan anak-anaknya, untuk membeli bahan baku tahu saja ia kesulitan.

Di tempat lain, saya mendapat cerita yang disampaikan salah satu pengajar SMART.

“Ane kaget, ternyata Muhib bisa marah-marah terhadap orangtuanya waktu pulang kampung,” Ustadz Cipto memulai pembicaraan dengan saya. Ceritanya berisi cerita tentang salah satu siswa SMART angkatan 8 yang bernama Muhibudin.

“Kenapa emang?” saya menimpali.

“Dia memprotes ibunya karena membagi sebutir telur goreng menjadi empat bagian agar bisa dimakan bersama anggota keluarga lain. Padahal, di sekolah ia bisa mendapatkan sebuah telur yang utuh, diberi bumbu macam-macam pula!”

Saya tidak tahu harus menjawab apa lagi. Namun, kisah-kisah di atas tampaknya mewakili kondisi semua siswa yang memang berlatar belakang dhuafa ini. Gizi, ah, itu mungkin istilah asing bagi orangtua mereka di desa sana. Istilah yang sama sekali tidak pernah ada dalam memori ingatan mereka. Bisa membesarkan anak mereka sampai melewati tahap yang bernama bayi, anak-anak, remaja, atau bahkan dewasa itu sudah menjadi sebuah prestasi. Tidak peduli dengan terpenuhinya gizi atau tidak. Toh mereka “berhasil” mendidik anak-anak cerdas dan rendah hati, yang akhirnya terpilih dari ratusan anak Indonesia yang mendaftar di sekolah yang berlokasi di Parung, Bogor ini.

Kendatipun demikian, kadang-kadang, kondisi siswa yang “kurang gizi” ini menimbulkan pemandangan yang cukup unik. Salah satu pemandangan tersebut terjadi pada sebuah pertandingan futsal yang diselenggarakan SMART dalam rangkaian acara Olimpiade Humaniora. Lomba yang sangat banyak peminatnya ini dikhususkan untuk siswa jenjang SMP atau sederajat. Salah satu pesertanya adalah tuan rumah sendiri, yang kemudian disebut tim SMART.

Di pertandingan pertama, tim SMART melawan salah satu SMP yang berasal dari daerah Parung. Yang menarik dalam pertandingan tersebut adalah adanya perbedaan yang sangat signifikan pada postur para pemain yang membela masing-masing tim. Siswa SMART, yang merupakan siswa jenjang pertama dan kedua, terlihat seperti para liliput di antara para pemain dari sekolah milik pemerintah tersebut. Sungguh seperti David dan Goliath. Bisa ditebak pemenangnya? Yang pasti siswa-siswa imut tersebut telah memberikan perlawanan yang maksimal meskipun akhirnya hanya mampu mencetak dua gol, berbanding lima gol dari kerja lawan. Lagi-lagi penyebabnya adalah gizi.

Itu semua berawal dari cerita yang disampaikan secara langsung atau tidak. Mau bukti yang lebih sahih? Datanglah ke sekolah kami. Lihatlah siswa-siswa yang masih di dua jenjang paling awal. Kulit mereka tidak hanya hitam, namun maaf, kusam, dekil, dan lusuh. Kulit tersebut membungkus tulang-tulang yang terlihat lebih dominan dibandingkan dengan daging. Daging tampaknya bersifat maya dalam tubuh mereka. Lemak? Dari apa mereka mendapatkan lemak jika daging saja tidak pernah mereka makan? Lebih parah lagi, rangkaian tulang dan selimut kulit tersebut memberikan aroma yang tidak pernah saya temukan sebelumnya. Bauyang hampir tidak bisa didefinisikan oleh indra penciuman saya. Bau yang tidak bisa dideskripsikan oleh kata-kata.

Cerminan dari ketidakmampuan pemerintah menjadikan warganya hidup layak sesuai dengan visi dan misi negara ini. Rasa syukur sudah selayaknya diucapkan oleh siswasiswa cerdas tersebut. Lima tahun berada si sekolah ini, penampilan mereka berubah drastis, seperti sebuah jeans bolong yang baru saja dipermak. Bagaimana tidak, selain mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas, mereka memiliki tim koki (yang kemudian lebih sering disebut pantry oleh pihak-pihak yang menghuni Bumi Pengembangan Insani) yang peduli terhadap kandungan gizi pada setiap masakan yang mereka masak. Tidak perlu pengetahuan yang mendalam tentang gizi ini. Saya bisa menyimpulkan hal ini dari realitas yang memang nyata. Buktinya? Menunya pun variatif. Ukuran lauknya besar-besar. Tidak jarang pula disertai dengan segelas es buah atau bahkan jus yang variatif pula. Sesekali bahkan disediakan susu dalam kemasan.

Meskipun sering dikeluhkan oleh siswa, masakan yang koki masak setiap harinya tidak pernah saya caci. Selalu nikmat di lidah dan tidak pernah membuat saya tidak berselera makan. Oleh karena itu, tidak perlu heran ketika melihat siswa SMART angkatan berapa pun ketika mereka telah menginjakkan kaki di kelas 5, kulit mereka semakin bersih, postur proporsional, dan yang pasti lebih wangi dibandingkan empat atau lima tahun yang lalu. Tidak bisa dimungkiri bahwa ada campur tangan tim koki yang peduli terhadap keseimbangan gizi para siswa. Maka, jangan pernah sungkan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Terima kasih koki! []

Penulis : J. Firman Sofyan (Guru Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indonesia)

Belajar jujur dari pemetaan

Pelajaran pemetaan bisa buat kita Jujur

Bukan perkara mudah memadatkan materi Geografi kelas 5 IPS selama satu tahun menjadi hanya satu semester di SMART Ekselensia Indonesia. Kesulitan yang aku yakin hampir dialami oleh semua guru Geografi SMA, khususnya yang mengajar kelas XII IPS, karena akan menghadapi UN dan SNMPTN. Namun, inilah pembelajaran aktif dan menyenangkan yang justru akan lebih membantu siswa dalam memahami keterampilan pemetaan.

Hari itu cuaca cerah dan terik matahari menggetarkan semangat kami yang siang itu akan berjalanjalan mengelilingi lingkungan sekolah. Aku bersama siswa kelas 5 siang ini akan melakukan praktik pemetaan untuk membuat denah sekolah. Ya, hanya membuat denah gedung sekolah. Tidak begitu luas memang, tetapi inilah pembelajaran agar siswa lebih memahami kondisi ruang tempat mereka tinggal dan beraktivitas.

Keterampilan pemetaan ini sangat dibutuhkan siswa dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam memahami ruang. Misalnya saja ketika seorang siswa yang baru melakukan perjalanan tiba-tiba tersesat ataupun kebingungan tak tahu arah pulang. Atau ketika siswa kebingungan mencari tempat strategis untuk memasang mading sekolah.

Awal praktik pemetaan ini, aku membagi siswa menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok sudah menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk pengukuran di lapangan, antara lain kompas bidik, meteran, busur, penggaris, dan alat tulis. Kecuali alat tulis, peralatan-peralatan tersebut dipinjam dari laboratorium sekolah kami. Keterbatasan peralatan (misalnya saja kompas yang cuma ada dua) tidak menjadi halangan dalam proses pembelajaran ini.

Tahap pertama, aku mengarahkan siswa menentukan titik pusat untuk membidik arah utara dan mengetahui sudut azimuth. Pada tahap ini, siswa dituntut untuk sangat teliti dalam melihat ukuran sudut di kompas karena akan sangat menentukan arah pengukuran selanjutnya. Jika terjadi kesalahan, maka gambar denah gedung sekolah tidak akan seperti bentuk aslinya. Titik pusat atau titik awal pengukuran dimulai dari tiang bendera, kemudian kompas diarahkan ke sudut titik selanjutnya.

“Oke, sekarang lihat jarum jam di kompas dan arahkan menuju arah utara.”

“Ustadzah, kok saya menghadap sini arah utaranya? Beda sama Alif?” sahut Ruly.

“Gak mungkin, pasti sama. Coba posisi badan jangan berubah-ubah, pegangnya yang benar,” jawabku meyakinkan Ruly.

“1600… 1650… 1610… 400… 1600 lebih…” lapor beberapa siswa yang membidik dengan kompas.

“400? Rasanya tidak mungkin! Coba Ustadzah lihat.”

Aku sebenarnya masih ingin meyakinkan bahwa alatnya dalam kondisi baik, tetapi ketika aku lihat ternyata benar kompas itu sudah rusak. Arah utara yang ditunjukkan salah. Padahal, kompas inilah yang pernah dibawa salah seorang ustadzah ke luar negeri untuk menunjukkan arah kiblat.

“Maaf, ya, tadi Ustadzah gak percaya.”

“Tuh kan, Ustadzah, saya benar kan?”

Aku tersenyum mendengar perkataan siswa tersebut. Di sekolah ini, sejatinya aku masih belajar. Belajar memahami diri bahwa menjadi seorang guru tidak selalu menjadi orang yang selalu benar. Aku harus terbuka, termasuk dengan siswa, terlebih siswa yang intelektualitasnya di atas rata-rata pandai seperti di SMART ini. Tidak perlu penjelasan banyak untuk memahamkan mereka pada sebuah materi, termasuk soal penggunaan kompas karena mereka lebih bersemangat belajar dengan melakukannya sendiri.

“Learning by doing… Ustadzah!” celetuk sebagian besar siswa-siswaku itu.

Aku benar-benar melihat kesungguhan mereka dalam memahami apa yang belum mereka ketahui. Aku bukan hanya melihat sosok siswa-siswa biasa, tapi siswa yang ingin sukses. Aku lantas teringat dengan kata-kata salah seorang di antara mereka, “Ustadzah, saya berani meninggalkan kampung halaman dan keluarga saya, maka saya juga harus sukses dan saya yakin saya sukses. Sukses sekarang, sukses juga masa depan saya!”

Belajar jujur dari pemetaan

Tahap berikutnya adalah pengukuran jarak dengan meteran. Di sini dibutuhkan kerja sama yang apik agar pengukuran jarak sebenarnya bisa cepat dan tepat. Setelah pengukuran jarak, tahapan pertama dilakukan kembali, yakni membidik arah untuk titik selanjutnya dengan kompas dan terus dilakukan pengukuran jarak di lapangan. Begitu seterusnya hingga kembali ke titik awal, setelah mengelilingi gedung sekolah.

Kegiatan ini adalah kegiatan outdoor pertama yang aku lakukan sebagai pembelajaran untuk siswa. Aku jadi bisa melihat karakter siswa dengan lebih jelas, ada yang inisiatif, kreatif, sok mengatur, serius, dan cerewet mengoordinasikan teman-temannya. Meskipun demikian, aku lihat semua siswa mau bekerja sama, baik antarsiswa di dalam kelompok maupun siswa di luar kelompok. Bagaimanapun juga, pengukuran di lapangan, khususnya mengukur gedung sekolah, sangat mengandalkan kesolidan tim, terlebih lagi alat praktiknya terbatas.

Setelah semua pengukuran selesai dilakukan, tahap berikutnya adalah menggambarkan hasil pengukuran di lapangan dengan skala tertentu. Di tahapan inilah siswa dapat memahami dengan baik peran skala peta dalam menggambarkan kondisi lingkungan asli atau ukuran sesungguhnya dengan perbandingan tertentu agar dapat digambarkan ke bidang datar yang memiliki ukuran terbatas. Masing-masing kelompok harus dapat menggambarkan ke bidang datar. Ukuran yang digunakan adalah kertas A4, dengan skala peta ditentukan masing-masing kelompok. Dari hasil akhir pengukuran akan terlihat, apakah bentuknya sudah sesuai dengan bentuk aslinya. Apakah sama bentuknya antarkelompok, atau apakah ada gambar denah yang tidak terbentuk karena pengukuran di lapangan kurang tepat sehingga penentuan skala peta pun tidak sesuai.

“Ustadzah, kok gambarnya gak sama, ya?” cetus Sayfodin.

“Harusnya sama, kalaupun beda harusnya tidak terlampau jauh selisihnya,” jawabku.

Aku menghampiri kelompoknya, memastikan mengapa denahnya tidak sesuai. Beberapa menit kuperhatikan gambar dan datanya. Memang ada yang salah.

“Kami mengulang aja, Ustadzah.”

“Tidak perlu, kalau sudutnya sama, bisa ditarik garis lurus saja.”

“Tapi data kami salah, Ustadzah. Kami belajar jujur dong, Ustadzah.”

Tanpa dihiraukan lagi kelompok Sayfodin langsung mengulang pengukuran sudut dengan kompas. Dengan waktu yang terbatas, mereka berjanji dapat menyelesaikannya. Tak lama berselang, kelompok lainnya mulai mengalami kegundahan.

“Kok gak sesuai, ya, dengan skalanya?” salah seorang siswa dalam kelompoknya terheran-heran.

Kebenaran data yang didapat ketika pengukuran menjadi hal yang mutlak agar gambar yang diinginkan sesuai dengan bentuk aslinya. Mulailah mereka mengulang beberapa pengukuran. Sebenarnya mereka bisa saja memanipulasi data karena sudah terlihat bentuknya. Ini akan memudahkan mereka. Tetapi para siswa itu memilih untuk tidak melakukannya. Meski jam menunjukkan hampir pukul tiga sore, mereka tetap mengulang beberapa pengukuran yang dibutuhkan.

“Ayo, semangat! Tuntaskan… selesaikan semua dengan kejujuran!”

“Ustadzah, kalo orang bikin peta, mudah saja, ya,berbohong? Buktinya, kalo kami mau, bisa saja kami berbohong. Mudah saja bagi kami untuk memanipulasi data,” ujar seorang siswa.

“Sangat mudah, bahkan dengan teknologi digital pun akan menjadi sangat mudah, tapi lakukanlah pekerjaanmu dengan hati nurani,” jawabku sambil tersenyum.

Alhamdulillah, melalui kejujuran, semua pekerjaan mereka selesaikan pada pukul 15.30, bertepatan dengan kumandang azan Shalat Ashar. Mereka menyelesaikannya dengan baik walaupun yang digambar baru dengan pensil dan belum sempat dirapikan. Semua kelompok bentuk gambarnya sama.

Siang dan sore itu, aku memperoleh keyakinan bahwa pembelajaran yang mengajak siswa lebih aktif dan menyenangkan adalah pembelajaran yang luar biasa. Siswa bukan hanya memahami pelajaran sebagai kewajiban seorang pelajar, tetapi juga siswa dapat belajar dan melatih karakter-karakter yang baik seperti kerja sama, bersungguhsungguh, dan jujur. []

Guru TIK terkejut ketika siswa SMART bisa lakukan hal ini

Guru TIK terkejut ketika siswa SMART bisa lakukan hal ini

Selasa pagi mengawali pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMART Ekselensia Indonesia. Diawali dengan kelas 3 yang mendapatkan materi web programming. Sebagai langkah awal, untuk memperkenalkan HyperText Markup Language (HTML), saya meminta para siswa untuk mencari definisi HTML melalui internet, kemudian menuliskannya dalam secarik kertas. Setelah itu, saya bersama dengan para siswa menarik kesimpulan dari materi tersebut.

Ketertarikan para siswa sangat terlihat dari beberapa pertanyaan terkait dengan web programming. Misalnya aplikasi web programming dalam dunia kerja. Pertanyaan siswa tersebut, saya jawab dengan sebuah cerita tentang kakak tingkat saya di kampus yang kala itu bekerja sebagai freelance programming di salah satu perusahaan BUMN terkemuka. Dia mendapat sebuah proyek untuk membangun sebuah web dengan bahasa pemrograman ASP.net.

“Berapa penghasilan yang didapatkan dari proyek itu, Ustadazah?” seorang siswa menginterupsi.

“Yang saya tahu, setelah menyelesaikan proyek itu, beliau memberangkatkan keluarganya naik haji,” jawab saya.

Mendengar jawaban saya, wajah para siswa tampak makin bersemangat. Pekan berikutnya, saya membawa sebuah kotak yang berisi gulungan-gulungan kertas kecil.

“Ustadzah, apa isi dari gulungan-gulungan kertas kecil itu?” tanya salah satu siswa.

Dengan nada penasaran, siswa yang lain bertanya, “Memang kita mau ngapain sih hari ini, Ustadzah?”

Saya meminta para siswa untuk berhitung dan membentuk kelompok. Saya memanggil satu orang perwakilan kelompok untuk maju mengambil salah satu gulungan kertas tersebut. Kertas-kertas tersebut berisikan tema pembuatan web sederhana yang akan dikerjakan oleh tiap-tiap kelompok.

Hasilnya sangat menakjubkan. Sebuah web sederhana yang sangat menarik dan kreatif dari tiap-tiap kelompok. Bahkan, melalui internet, mereka dapat mengkreasikan lebih menarik lagi. Ada yang menambahkan tag <marquee> agar tulisan dapat berjalan. Ada yang mengganti background dengan gambar dan foto sehingga tampilan web menjadi sangat menarik dan unik. Sebuah awalan yang menakjubkan.

Agni Ardi Rein menanyakan hal yang belum pernah terpikirkan oleh teman-temannya. Sebuah pertanyaan yang unik dan menarik pada pekan berikutnya.

“Ustadzah, kalau blog itu bisa dijual gak sih?” Sontak saya sedikit terkejut. Kemudian saya menjawab dengan sebuah pertanyaan,

“Memangnya, trafic blogmu sudah berapa banyak?”

“Kurang lebih sekitar 12 ribu, Ustadzah.”

Saya kembali terkejut, tapi bercampur kagum. Ternyata siswa SMART yang menggunakan komputer dalam waktu yang relatif sedikit mampu membuat sebuah blog dengan pengunjung sebanyak itu.

“Subhanallah, sungguh menakjubkan!” Kalimat ini yang bisa saya katakan untuk Agni.

Sore harinya saya bertanya kepada salah satu rekan di Bandung. Dia adalah freelance animator. Saya bertanya tentang jual-beli blog.

“Bisa. Sebuah blog dapat diperjualbelikan seperti barang lainnya,” jawab rekan saya, yang kemudian memberikan alamat situs jual-beli blog. Esok harinya, saya menyampaikan informasi ini kepada Agni.

Nama blog milik Agni tutor-tekno.blogspot.com. Isinya segala hal tentang teknologi komputer. Bahkan apa yang dipelajarinya di laboratorium komputer (labkom) saat mata pelajaran TIK dituliskan di blognya itu. Sebuah karya yang sangat luar biasa dan layak dijadikan teladan untuk siswa yang lainnya.

Tiga pak kertas origami saya bawa ke pertemuan pekan berikutnya. Selain kertas origami dan dua gulung tali rafia berwarna ungu dan kuning, saya menyediakan peralatan utama, yaitu spidol, pensil, pensil warna, board marker/ permanent, dan pelubang kertas. Raut wajah bingung dengan seribu tanya terpancar dari wajah para siswa.

“Hari ini kita ngapain, Ustadzah? Kita mau buat produk atau display, ya?” Saya hanya menjawab dengan tersenyum dan mengangguk sambil membawa peralatan-peralatan tersebut ke depan kelas. Saya pun menjelaskan mengenai produk yang akan dibuat oleh para siswa. Produk mata pelajaran TIK biasanya selalu terkait dengan komputer, baik itu sotfware maupun hardware. Namun, kali ini produk TIK adalah membuat sebuah buku saku sederhana yang berisi tentang materi-materi HTML dan CSS (Cascading Style Sheets) seperti membuat border, menampilkan foto atau gambar, dan mengubah warna tulisan dan background.

Alhasil, lab komputer SMART yang terdiri dari 22 unit PC itu pun disulap menjadi tempat pameran kriya berupa buku saku sederhana. Suatu hal yang unik dan menarik untuk berbagi ilmu. Bukan hanya melalui sebuah web/blog sebagai sarana untuk menyampaikan ilmu baru. Sebuah buku saku sederhana pun dapat menjadi sarana yang menarik untuk berbagi ilmu.

Berada jauh dari orangtua adalah keadaan yang tidak mudah untuk dihadapi seorang siswa. Walaupun begitu, siswa-siswa SMART masih menunjukkan prestasi di kelas dan di luar sekolah. Mereka juga mampu mempelajari sesuatu secara otodidak meskipun bukan dengan fasilitas pribadi. Di asrama, mereka tidak mendapatkan komputer secara individu. Untuk dapat mengerjakan tugas sekolah ataupun tugas tambahan di luar jam kegiatan belajar mengajar, para siswa harus mengambil form di labkom SMART. Form ini kemudian ditandatangani oleh guru yang memberikan tugas dan penanggung jawab labkom. Dan pada akhirnya, jika disetujui, ditandatangani oleh kepala sekolah SMP atau SMA.

Bukan hal yang sederhana. Namun, demi tanggung jawab, mereka mampu melakukan ini dengan baik dan disiplin. Sering kali saya mendapati para siswa yang mengerjakan tugas yang lain di luar mata pelajaran TIK di labkom, seperti tugas membuat majalah beserta isinya, atau membuat desain sertifikat, piala, dan piagam perlombaan yang diadakan sekolah.

Itulah yang membedakan SMART Ekselensia Indonesia dengan sekolah pada umumnya, sekolah formal berbayar dan tidak berasrama. Jika setiap hari anak-anak di luar SMART mendapat curahan kasih sayang dari kedua orangtua dan keluarga serta mendapat kebebasan untuk bermain, menonton televisi, dan menggunakan komputer; maka tidak dengan para siswa di SMART.

SMART sangat berbeda. Siswa di sekolah ini berasal dari kaum dhuafa, dengan latar belakang keluarga dan adat istiadat yang berbeda-beda. Ada yang sudah pernah mengenal komputer di kampung halamannya. Namun, tidak sedikit yang belum pernah memegang komputer sekali pun. Maka, saat di sekolah ini, mereka diperkenalkan dengan betapa menakjubannya pemanfaatan teknologi komputer untuk kegiatan positif. Dampaknya, kreativitas siswa SMART yang tak terbatas dapat disalurkan ketika mereka berada di labkom. Tidak hanya saat pembelajaran TIK, tapi juga pembelajaran mata pelajaran lainnya, misalnya untuk membuat presentasi.

Jumlah jam penggunaan yang relatif singkat ternyata sama sekali tidak menjadi hambatan untuk berkreasi dan berprestasi lebih. Sebagai bukti, saat ini, website SMART dikelola oleh siswanya sendiri. Sebuah proses belajar yang cepat. Hal ini merupakan prestasi yang luar biasa, dan tidak semua orang dapat melakukannya. []

Mogok Siswa Rantau

Mogok Sekolah Siswa Rantau

Cerita ini tentang pengalaman saya selaku wali kelas di SMART Ekselensia Indonesia. Suatu pagi saya mendapat laporan dari wali asrama bahwa salah seorang siswa saya tidak mau sekolah.

“Penyebabnya apa, ya, Pak?” tanya saya pada wali asrama.

“Dia selalu ingat rumah, kampung halamannya. Dia selalu ingat ibunya.”

“Oh, begitu, ya, Pak.”

Selepas kerja, pada hari yang sama, saya ke asrama menemui siswa tersebut. Saya coba mengajaknya mengobrol.

Tapi, jawabannya hanya satu, yaitu diam seribu bahasa. Saya tahu ia tidak mungkin langsung percaya dengan saya sehingga ketika saya menemuinya, ia hanya diam. Akhirnya, saya pun pulang dengan tangan hampa.

Keesokan harinya saya mencoba lagi. Kali ini saya mencari tahu ke teman-teman guru yang dekat dengannya supaya saya bisa menggali banyak informasi. Dengan banyak mengetahui informasi tentangnya, saya bisa membantunya kembali bersemangat ke sekolah.

Hari itu juga ia masih dengan kondisi yang sama. Ia tidak mau sekolah, dan ingin pulang ke kampung halamannya tanpa alasan yang jelas. Saya pun tidak putus asa membujuknya untuk kembali ke sekolah.

Saya menggali lagi informasi ke beberapa guru yang bekerja lebih lama dari saya di SMART.

“Kenapa ya siswa saya itu tidak mau sekolah?” kembali saya mengajukan pertanyaaan yang sama.

“Hal yang wajar terjadi di sini, Tadz. Itu adalah masa ia beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Wajar jika terjadi pada siswa kelas 1,” tukas salah seorang guru.

Jawaban dari rekan guru itu membuat saya bersemangat.

Hanya soal adaptasi. Tetapi, dalam hati saya bergemuruh: harus saya mulai dari mana mengatasinya?

Jangankan untuk kembali sekolah, mengajaknya mengobrol saja ia bergeming.

Sehari, dua hari, sampai satu minggu, belum ada cara yang tepat untuk mendekati anak ini. Tiba-tiba saya

teringat perkataan seorang teman bahwa segala sesuatu itu tergantung ridha orangtua kita. Jadi, dalam hal ini doa orangtua sangat berpengaruh pada kesuksesan anaknya.

Saya pun bertanya kembali ke salah seorang wali asrama. “Penyebab dia tidak mau sekolah apa ya, Pak?”

“Dia selalu ingat ibunya, Tadz,” jawab seorang ustadz.

Mendengar jawaban itu, saya langsung berpikir, mungkin ketika ia berangkat ke SMART, ibunya belum sepenuhnya ridha melepas kepergian anaknya.

Saya pun langsung menghubungi ibunya. Kemudian saya, selaku wali kelas, menjelaskan persoalan anaknya di SMART.

“Bu, anak Ibu sudah beberapa minggu ini tidak mau sekolah.”

“Iya, Pak, saya juga sudah dapat informasi ini dari anak saya melalui telepon,” ibunya menjawab sambil terisak menahan tangis.

“Bu, dia tidak mau sekolah karena selalu ingat akan kampung halaman, dan dia selalu ingat Ibu.”

Sebelum berbicara dengan ibu anak itu, saya selalu berkonsultasi dengan guru Bimbingan Konseling (BK). Dari guru BK-lah saya mendapatkan data psikologis siswa tersebut, seperti hasil psikotes.

“Bu, cobalah untuk mengikhlaskan dia untuk sekolah di sini. Karena doa Ibulah yang bisa mengantarkan kesuksesan anak Ibu. Anak Ibu cerdas. Akan tetapi, semuanya tergantung Ibu, yang bisa Ibu lakukan sekarang berdoa, dan saya pun di sini berusaha semampu saya agar bisa membimbing putra Ibu.”

Ibunya pun menjawab, “Iya, Pak, memang salah saya juga, saya selalu ingat dia.”

“Nah, mungkin itu, Bu, yang menjadi penyebabnya. Jadi, mulai sekarang, coba Ibu relakan kepergiannya untuk sementara ini, dan berdoa untuk kesuksesan dirinya.”

“Baik, Pak, akan saya coba.”

Keesokan harinya saya pun berupaya kembali membujuk anak itu untuk bersekolah.

Siang itu, saya ke asrama ditemani guru BK. Sampai di asrama, kami mencarinya. Terlihat ia sedang menangis di sudut koridor asrama sambil memegang buku. Saya mendekatinya. Ia sebenarnya tahu kehadiran saya. Tapi, sepertinya ada penolakan dari dalam hatinya sehingga ia langsung diam sambil berpura-pura melihat bukunya.

Saya coba mengajaknya bicara, sekadar menanyakan kabar. Seperti biasa, ia hanya diam. Pandangan mata saya beralih ke bukunya. Buku yang dipegangnya buku Fisika.

Sepertinya ia sangat suka dengan pelajaran tersebut. Tiba- tiba saya mendapatkan ide.

“Lagi belajar apa, Dik?”

Ia tidak menjawab dengan lisannya, hanya menunjukkan bukunya dan bab yang sedang dipelajarinya.

Saya pun duduk di sebelahnya. “Kamu sangat suka pelajaran Fisika, ya, Dik?” Anak itu hanya mengangguk.

“Wah, hebat, ya, tapi sayang kalau kemampuan dan kesukaan kamu harus berhenti di sini.”

Dia pun menatap saya. Saya pun mencoba membuka diri.

“Saya juga lulusan Teknik, Dik, Teknik Elektro, tepatnya. Dasar dari beberapa kuliah teknik adalah Fisika.”

Dia masih menatap saya.

“Kamu asalnya dari mana?”

Saya sebenarnya tahu jawabannya, tapi sengaja mengajukan pertanyaan ini untuk melancarkan “aksi” berikutnya.

Benar! Ia akhirnya menjawab untuk pertama kalinya ke saya, “Saya dari Sumatera Barat, Pak.”

“Bukannya di Sumatera itu banyak sekali pertambangan?” Ia mengangguk.

“Wah, harusnya kamu bangga bisa sekolah di sini! Bakat kamu bisa tersalurkan. Setelah kamu selesai sekolah di sini, kamu bisa kuliah di Teknik karena sekolah ini membantu kamu sampai masuk kuliah. Kalau kamu memaksakan diri untuk pulang, apa kamu bisa sekolah seperti sekolah di sini? Guru-guru di sini sangat perhatian dan baik ke kamu.” Ia terdiam.

“Sekolah ini siap mengantarkan kamu ke tempat kuliah yang kamu inginkan. Apalagi di Sumatera banyak sekali pertambangan. Kamu bisa kuliah di Teknik Pertambangan, Teknik Geologi, atau Teknik Perminyakan karena dasar Fisika kamu bagus. Selepas kuliah, kamu bisa kembali ke rumah kamu, dan insya Allah posisi kamu ketika bekerja di sana akan lebih dihargai karena keahlianmu. Tetapi, kalau kamu berhenti di sini, dan kamu pulang, apa yang kamu dapat? Kamu tidak akan dapat apa-apa. Selepas sekolah, apakah kamu bisa kuliah? Apakah sekolah kamu akan sama dengan sekolah di sini, yang mencarikan siswanya beasiswa?” Ia masih bungkam.

“Cobalah pikirkan lagi, Dik, kamu punya kesempatan untuk sukses. Jangan disia-siakan.”

Ia tetap membisu, tidak sepatah kata pun keluar dari lisannya. Saya pun pamit padanya.

Saya terkejut bercampur senang. Anak itu tampak di sekolah bersama teman-temannya. Berminggu-minggu tidak mau sekolah, akhirnya ia kembali seperti anak-anak SMART. Ceria belajar dan bermain dengan teman temannya. Ia juga sudah tidak canggung lagi mengobrol dengan saya.

Saya tahu, ia anak yang cerdas. Terbukti, pelajaran yang ditinggalkan selama ia mogok sekolah mampu dikejarnya. Ia tidak lagi rapuh hanya karena merindukan keluarganya di rumah, terutama sang ibu.

Saya bersyukur atas perubahan yang dialaminya. Sesyukur saya mengenang kisah yang terjadi lima tahun silam pada Mitra Pargantian. Mitra tidak hanya membahagiakan kami di sini dengan kelulusannya di SMART, tetapi juga mewujudkan impiannya berkuliah di Teknik. Memilih untuk merantau menuntut ilmu di pulau seberang di Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. Sebuah jalan kesuksesan tengah dirintisnya, dengan tetap dibersamai ridha orangtuanya. – Ari Kholis Fazari (Guru SMART Ekselensia Indonesia

-Diambil dari kisah dalam buku “Marginal Parenting”

Cinta Budaya Islam, DD Pendidikan dan Dapoer Enterprise Gelar Lomba Marawis

Gempuran budaya asing yang sangat masif pada generasi muda islam membuat khawatir berbagai pihak. Jika dibiarkan, maka budaya islam bisa hilang ditelan zaman termasuk marawis. Menyadari hal tersebut, DD Pendidikan dan Dapoer Enterprise bekerjasama gelar lomba marawis pada hari Sabtu, 24 November 2018 di Mall Blok M.

Boyke selaku Ketua Panitia dari Dapoer Enterprise menyampaikan bahwa event ini dilaksanakan sekaligus untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad 1440 H.

“Saya berharap kedepan marawis dapat dijadikan sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di berbagai sekolah. Jangan sampai marawis tergerus zaman sebagaimana budaya Betawi saat ini” lanjut Boyke

Dalam acara lomba hari ini, tim marawis SMART Ekselensia Indonesia DD Pendidikan berkesempatan tampil menjadi pembuka acara. Wildan selaku vokalis menyampaikan bahwa dirinya sangat senang mendapatkan pengalaman tampil didepan banyak orang. Wildan yang berasal dari Kalimantan Selatan ini juga bercita-cita mengikuti jejak kakaknya yaitu sebagai vokalis marawis.

Salah satu peserta lomba marawis, Muhammad Farhan Nabil dari SMPIT Insan Mubarok juga menyampaikan harapannya.

“Saya berharap agar marawis bisa menjadi sarana untuk menyebarkan kebaikan islam” celoteh Farhan sapaan akrabnya.

Dalam sambutannya, Zulfa dari DD Pendidikan memotivasi peserta agar jangan menganggap perlombaan sebagai beban.

“Hilangkan rasa takut kalah, takut dimarahin, dan ketakutan lainnya. Tapi jadikan moment ini sebagai ajang silaturahmi antar sekolah, guru, dan lembaga lain, dan jadikan perlombaan ini sebagai ajang senang-senang” pesan Zulfa.

Selain untuk menjalin silaturahmi, lomba marawis ini diharapkan dapat menguatkan kolaborasi antara Dapoer Enterprise dan Blok M dengan Dompet Dhuafa Pendidikan.

Tentunya semua pihak juga berharap agar acara ini semakin menambah rasa cinta pada budaya islam termasuk marawis.