, ,

Aku Menemukanku di SMART

Aku Menemukanku di SMART

SMART? Apa itu SMART? Aku tidak tahu SMART itu apa, selain sebuah kata dalam bahasa Inggris yang artinya cerdas atau pintar.

Ini adalah kisahku, seorang perantau asal Medan yang ingin menjadi kebanggaan orang tua di Medan.

Oleh: Rizky Dwi Satrio, alumni SMART Angkatan XI berkuliah di Universitas Sebelas Maret.

Hari itu, saat aku kelas 6 SD, tepatnya pada semester 2, aku mendengar kata “SMART Ekselensia Indonesia” dari guruku. Guruku bertanya padaku, “Apakah Satrio mau sekolah di SMART?” Dalam hati aku malah bertanya, “SMART itu sekolah seperti apa?” Sebelum aku mengutarakannya, guruku langsung menjelaskan hal-hal terkait SMART Ekselensia. Guruku sepertinya sudah tahu kebingunganku.

Setelah mendengar semua penjelasannya, aku pun tahu bahwa SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah berasrama yang didirikan untuk anak berprestasi namun orang tuanya kurang dalam finansial, dibangun oleh Dompet Dhuafa, dananya berasal dari zakat, sedekah, infak, dan lain-lain. “Ini kesempatan untukku,” kataku dalam hati dengan sedikit merenung. “Gimana Satrio?” tanya guruku. “ Oh iya, Bu, saya sih mau, tapi belum tentu dengan orang tua saya.” “Ya sudah, ini formulir pendaftarannya. Jika ayahmu setuju, bilang pada Ibu.”

Waktu terasa sangat lama hari itu. Padahal, aku ingin segera memberitahukannya kepada Ayah. Aku terus melihat jam sekolah yang putarannya terasa lama. Tapi, aku baru ingat kalau Ayah sedang bekerja dan biasanya pulang pada waktu maghrib.

Di rumah, setelah pulang sekolah aku memutuskan untuk tidur siang, agar tidak terasa lama menunggu Ayah datang. Kebetulan hari itu aku tidak ada jadwal mengaji, jadi aku bisa tidur.

Akhirnya, setelah lama menunggu, Ayah datang juga. Wajar saja aku sangat ingin memberitahukan hal itu pada Ayah. Pasalnya, aku dan Ibu sudah tak serumah lagi. Aku tinggal bersama Ayah. Ayah dan Ibu sedang mengurus perceraian mereka. Aku sangat sedih melihat keadaan keluargaku, melihat keduanya bertengkar. Aku sering menangis saat berdoa karena memikirkan keadaan keluargaku.

Setelah Ayah selesai mandi dan salat, aku langsung mengatakan informasi di sekolah tadi. “Yah, Ayah setuju tidak kalau Rio sekolah di SMART di Bogor?” “Sekolahnya jelas atau tidak ?” Ayah langsung bertanya. “Rio juga kurang tahu, coba Ayah telepon guru Rio”.

Ayah langsung menelepon guruku. Setelah selesai berbincang, Ayah berkata padaku, “Rio, kalau tekadmu sudah kuat, silakan kamu sekolah di sana, kalau urusan seleksi Ayah yakin kamu pasti lulus”.

Mendengar perkataan tersebut, jantungku langsung berdegup kencang dan mataku berair. Perasaanku antara senang dan sedih, aku tidak menyangka Ayah akan berkata seperti itu.

Bila benar aku diterima, aku sedih karena akan berjauhan dengan keluarga dan teman-teman. Tapi, di sisi lain, hati kecilku berkata bahwa aku tenang dan jauh dari kesedihan yang dialami keluargaku yang mulai hancur. Dengan pergi ke Bogor, aku akan jauh dari masalah dan juga perceraian orangtuaku. Saat itu aku benar-benar sangat sedih. Sebisa mungkin aku ingin pergi jauh dari rumah.

Hari demi hari berlalu aku lewati dengan perkataan Ayah yang selalu teringat di benakku. Sampai-sampai aku berpikir, apakah ini jalan yang terbaik untukku? Saat aku memikirkannya, aku dengan segera menepis jauh pemikiran galau itu.

Detik, menit, dan jam terus berganti, dan saat itu yang aku lakukan hanyalah persiapan untuk seleksi masuk SMART.

Mulai dari menambah jam belajar, berdoa, hingga ikhtiar penunjang. Semunya aku lakukan agar aku bisa mengerjakan soal saat tes nanti. Setelah aku sangat lama menunggu hingga berganti bulan, akhirnya hari untuk seleksi pun tiba. Seleksi pertama adalah tes tulis. Pesertanya telah dilihat nilai rapornya terlebih dahulu; jika nilainya di atas rata-rata, ia pantas untuk tes tulis.

Tes tulis itu diadakan di tempat yang cukup jauh dari rumahku. Jadi, aku bersiap pergi ke sana setelah Salat Subuh. Aku berangkat bersama Ayah mengendarai becak. Ayah memang penarik becak. Walaupun begitu, aku tidak pernah malu, bahkan aku selalu bersyukur.

Setelah cukup lama berkendaraan, akhirnya kami sampai juga. Tempat tesnya sebuah kampus. Aku bersegera masuk ke ruangan tes dan langsung duduk. Aku juga sempat belajar sebelum tes dimulai. “Tes akan segera dimulai!” ucap seorang panitia.

Tes yang pertama adalah pelajaran kesukaanku, matematika. Soalnya cukup banyak dan ada gambar pizza di salah satu soal. Aku tak menemui banyak kesulitan pada soal-soalnya karena aku sangat suka matematika, dan soal-soalnya pun sudah pernah kupelajari.

Tes yang kedua adalah bahasa Indonesia. Kali ini tugasnya adalah mengarang dengan tema “Sekolahku Masa Depanku” sebanyak satu halaman kertas dobel folio. Aduh, aku belum ada inspirasi saat mengarang. Akhirnya aku memutuskan untuk meletakkan pulpen di atas meja dan duduk bersandar sambil mencari inspirasi. Alhamdulillah, inspirasiku datang pada saat 30 menit sebelum tes usai. Jadi, aku memutuskan untuk menulis dengan secepat-cepatnya. Aku pun selesai tepat waktu dengan karanganku yang berjudul “Dengan Sekolah Masa Depanku Terbentuk.”

Tes yang terakhir adalah pelajaran Pendidikan Agama Islam. Soalnya tidak susah dan bisa kujawab dengan baik walaupun aku belum belajar. Akhirnya tes tulis usai, aku pun bergegas pulang. Aku tidak menaiki becak Ayah seperti saat aku pergi namun menaiki angkot. Di perjalanan ada beberapa orang yang menertawaiku karena aku memakai seragam sekolah di hari Minggu.

Sekitar dua minggu kemudian, aku pun mendapat informasi bahwa aku lulus tes tulis. Aku pun cukup senang dan bersyukur. Sebelumnya aku sudah yakin bahwa aku akan lulus tes tahap satu ini. Beberapa hari setelah pengumuman itu, aku harus tes lagi. Tapi kali ini berupa psikotes. Aku tak tahu apa-apa mengenai psikotes, jadi aku memutuskan untuk tidak belajar apa pun.

Aku pergi bersama Ayah menaiki becak. Hari itu aku memakai baju seragam SD, tapi aku yakin takkan ada yang menertawaiku karena hari itu bukan Minggu. Setelah perjalanan yang cukup jauh dan lama, akhirnya kami pun sampai. Aku pun langsung memasuki ruang tes. Ternyata sisa peserta hanya tinggal tiga anak, salah satunya selain aku adalah siswa bernama Helmi (satu siswa lagi aku lupa namanya). Kami pun memulai tes tersebut. Tesnya cukup mudah karena seperti tebak-tebakan dan menguji kreativitas. Ada soal yang mengharuskanku untuk menggambar dan menghitung.

Setelah tes tersebut selesai, ada satu lagi yang harus kuikuti, yaitu wawancara. Mungkin wawancara ini salah satu bagian dari psikotes. Ketika giliranku diwawancarai, aku ditanya tentang latar belakang diriku

Sampailah pada pertanyaan yang membuatku sedih. “Hal apa yang paling membuat kamu sedih?” tanya si pewawancara. “Perceraian kedua orang tuaku,” jawabku dengan suara terisak. Aku pun tak bisa membendung air mata. Aku menangis dan menaruh kepala di atas meja. Aku terus menangis tanpa henti. Aku merasa itulah kejadian yang paling membuatku sedih dan tak bisa kulupakan selamanya. “Sudah jangan nangis lagi, sabar aja ya,” pewawancara itu menenangkanku.

Beberapa menit kemudian, wawancara pun selesai. Pulangnya aku diantar oleh Helmi dan ayahnya. Ternyata orang tua Helmi dan orang tuaku teman dekat. Di perjalanan mataku masih saja sembab karena aku menangis saat tes.

Aku lega karena rangkaian tes telah selesai. Hanya ada satu tahap lagi, yaitu home visit. Tapi, home visit tidak begitu melibatkan diriku. Benar saja, beberapa hari kemudian kunjungan ke rumahku dilaksanakan saat aku berada di sekolah.

Sekitar dua pekan setelah home visit dilaksanakan, aku mendapat SMS dari Ayah saat ia sedang bekerja. “Kamu lulus ke SMART”.

Alhamdulillah, ucapku dalam hati. Tidak lama kemudian, aku pun langsung sujud syukur atas kelulusanku. Sekarang aku sudah tak di SMART, sudah menjadi mahasiswa. Aku bersyukur Allah menakdirkanku untuk bersekolah di sini. Aku banyak mendapatkan pelajaran berharga di sini, aku mendapatkan teman dan keluarga baru, dan aku menemukan diriku. 

,

Pengalaman Seratus Juta Rupiah Bersama CATCHPLAY Indonesia

Pengalaman Seratus Juta Rupiah Bersama CATCHPLAY Indonesia

Wah sudah memasuki hari ketiga beraktivitas di sekolah nih Sob. Gimana? Sudah bisa menyesuaikan diri dengan pelajaran di sekolah dong? Alhamdulillah sama, kami juga. Oh iya Sob kemarin (16/07) kami mampir ke Gedung Philantropy Dompet Dhuafa untuk menghadiri acara serah terima donasi bersama CATCHPLAY Indonesia. CATCHPLAY sebagai perusahaan penyedia layanan streaming film berbasis daring (online) di Indonesia menyerahkan donasi sebesar Rp100.000.000 melalui Dompet Dhuafa Pendidikan untuk SMART Ekselensia Indonesia lho Sob.
Donasi ini merupakan hasil dari kampanye #SedekahSeruCATCHPLAY yang dimulai pada 1 Mei hingga 9 Juni 2019 lalu. Program #SedekahSeruCATCHPLAY mengajak para pengguna setia CATCHPLAY untuk berdonasi sebesar Rp3000 dari setiap transaksi koleksi Single Rental, donasi ini secara otomatis disisihkan tanpa menaikan harga normal Single Rental.
Melalui program ini CATCHPLAY dan DD Pendidikan bersinergi untuk meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa di bidang pendidikan. Pak Roy Soetanto, Chief Marketing Officer, APAC, CATCHPLAY berharap #SedekahSeruCATCHPLAY menjadi langkah awal untuk membangun awareness para movie lovers terhadap sesama.
“Kami harap program ini mampu membawa perubahan bagi para penerima manfaat. Kami percaya sekecil apapun kontribusi kita, akan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan,” kata Pak Roy Soetanto dalam sambutannya.
Dalam kesempatan kemarin kami juga berkesempatan untuk berbincang banyak hal seputar dunia film dengan kakak-kakak CATCHPLAY. Mbak Lesley, Associate Director CATCHPLAY, berpesan kalau kami harus rajin belajar dan terus semangat dalam menggapai mimpi kami.
“Karena tidak ada yang tidak mungkin selama kalian punya keinginan kuat untuk maju,” kata Mbak Lesley penuh semangat. Kami manggut-manggut tanda mengerti. “Jangan lupa untuk selalu berdoa dan meminta doa kepada orang tua agar apapun yang kalian lakukan berkah,” tuturnya.
Kami sangat berterima kasih kepada CATCHPLAY atas kebaikan dan pengalaman yang tak terlupakan. Semoga CATCHPLAY kian maju dan semakin banyak movie lovers yang menyaksikan film kece di CATCHPLAY.

Tak Perlu Takut, Itu Hanya Lomba

Tak Perlu Takut, Itu Hanya Lomba

 

Ini adalah kisahku sewaktu masih mengenyam pendidikan di SMART, saat ini aku telah berkuliah di Universitas Gajam Mada (UGM), aku harap cerita ini bisa membuatmu lebih semangat untuk belajar.

 

Oleh: Muhammad Fatihkur Rafi, alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di UGM

 

di suatu siang kami para siswa tangguh SMART Ekselensia Indonesia dan beberapa ustaz pergi ke Masjid Raya Kahuripan. Kami semua sangat bersemangat walaupun harus berjalan kaki. Setelah berjalan akhirnya kami sampai ke tempat tujuan. Di sana ustazah yang pergi dengan naik kendaraan masing-masing telah menunggu kedatangan kami.

Sebelum Salat Zuhur dan makan siang, para siswa diminta ke lantai dua masjid. Inilah saat untuk asyik-asyikan. Ustaz Ahmad sudah mempersiapkan beberapa permainan yang akan kami mainkan per kelas. Kunci dari permainan-permainan ini adalah kerja sama tim yang baik. Permainan ini dimulai dari memindahkan bola kecil dengan menggunakan paha. Cara bermainnya adalah seluruh siswa duduk berjejer, lalu cara memindahkan bolanya dengan mengoperkannya dari satu paha ke paha yang lainnya.

Permainan selanjutnya tidak kalah seru, yaitu satu siswa dengan siswa yang lainnya per kelas harus menduduki paha temanya, dan temanya itu juga harus menduduki teman yang lainnya lagi. Permainan pun dimulai, kami saling menduduki paha teman satu dan yang lainnya. Awalnya sih biasa saja, tetapi, selang beberapa menit rasa pegal mulai merambat. Satu per satu kelompok mulai berjatuhan. Akhirnya permainan pun dihentikan dan menyisakan empat kelompok sebagai pemenangnya.

Setelah semua permainan selesai, kami melaksanakan salat berjamaah.  Lalu kami diminta mengambil nasi kotak yang telah disediakan untuk makan siang. Setelah membuka boks makanan, yang kulihat adalah… hati. Oh tidak! Dari kecil aku memang kurang menyukai jeroan. Untunglah di dalam boks masih ada buah kesukaanku, semangka. Yes, Alhamdulillah. Ternyata dibalik kekurangan ada kelebihan.

Selesai makan siang kami menunggu jemputan pulang. Sambil menunggu, aku bermain dengan teman-teman. Karena capek berdiri terus, aku pun duduk di teras dan kebetulan di samping kiriku ada Ustazah Dina dan Ustazah Iif. Saya mengobrol dengan teman di samping kanan.

Beberapa saat kemudian Ustazah Iif baru menyadari kehadiranku. “Eh ada Opick.”

“Bukannya Opick itu nama panggilan Ade Mustopic?” tanya Ustazah Dina kepada Ustadzah Iif.

“Iya, tapi Rafi di rumahnya juga dipanggil Opick,” jawab Ustazah Iif.

Ustazah Dina berseru tanda paham. Kemudian mereka mengobrol, entah membicarakan apa.

Beberapa saat kemudian obrolan kedua guruku berakhir. “Pick, siap-siap lomba ya!” Tiba-tiba Ustazah Iif berkata. “Lomba Zah?” tanyaku. “Iya,” jawab Ustazah Iif beberapa saat kemudian. Aku pun berkata dalam hati, “Yes, akhirnya lomba juga!”

Aku begitu riang. Maklumlah, dari kelas 1 sampai saat itu aku belum pernah mengikuti lomba resmi.

Beberapa hari kemudian aku diberikan contoh soal Olimpiade Matematika oleh Kak Afdhal Firman. Soalnya susah-susah juga, batinku. Ternyata yang mengikuti lomba bukan hanya aku. Ada lima orang lainnya, yaitu teman seangkatanku Ade Mustopic, dan sisanya siswa Angkatan 8, yaitu Kak Fatih, KaK Afdhal, Kak Muhib, dan Kak Dion. Kami dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Kak Fatih, Kak Afdhal; sisanya tergabung dalam kelompok kedua.

Inilah hari pertama kami mengikuti Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten Bogor. Sekitar pukul 06.30 kami sudah siap untuk berangkat ke MAN 2 Bogor, tempat dilaksanakannya lomba. Menunggu dimulai, kami melaksanakan Salat Dhuha terlebih dahulu di Masjid Raya Bogor, kemudian berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam mengikuti lomba.

Kami kembali ke MAN 2 Bogor untuk mengikuti acara pembukaan. Setelah selesai pembukaan, para peserta  memasuki ruangan lomba yang sudah disediakan. Ruangannya cukup sederhana dengan kursi dan meja terbuat dari kayu. Juga ada kreasi siswa yang menghiasi dinding ruangan itu.

Para pengawas, yang merupakan kakak mahasiswa, mulai membagikan soal olimpiade dan juga kertas buram untuk corat-coret. Beberapa menit kemudian kami mulai membuka soal dan mengisi biodata. Berikutnya kami mulai mengerjakan soal.

Menit demi menit berlalu. Akhirnya waktu habis dan kami berhasil menjawab 14 soal dari 25 soal. Setelah itu kami langsung keluar kelas lalu melaksanakan Salat Zuhur. Setelah salat kami langsung makan di rumah makan padang sebelum akhirnya kami pulang.

Beberapa saat kemudian, kami mendapatkan informasi bahwa kami lolos ke babak selanjutnya, yaitu olimpiade tingkat provinsi di Bandung. Alhamdulillah, kelompokku lolos, namun ternyata kelompok Ade Mustopic belum berhasil lolos.

Dalam perlombaan tingkat provinsi kami menghadapi dua sekolah yang dikenal tangguh. Kami sudah berusaha keras, dan hasilnya kami meraih juara ketiga. Meskipun belum berhasil menjadi juara pertama, aku senang sekali memberikan piala untuk SMART. Itulah piala pertamaku dan piala pertama di Angkatan 9. Piala tersebut bukanlah piala pertama sekaligus piala terakhirku.

 

,

Budaya Salam, Budaya yang Kami Banggakan di SMART

Budaya Salam, Budaya yang Kami Banggakan di SMART

  “Assalamu’alaikum, Ustaz….” “Assalamu’alakum, Ustazah…” Kata-kata tersebut sering kali diucapkan oleh siswa-siswa SMART Ekselensia Indonesia ketika bertemu guru-gurunya, wali asrama, atau orang yang lebih tua di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan. Salam kepada para guru dan/atau wali asrama bergaung di kelas, di luar kelas, di selasar, di masjid, di tangga, dan di mana pun di lingkungan SMART, salah satu sekolah unggul yang berada di Bogor. Ketika pertama kali bergabung di SMART, saya langsung disapa dengan salam tersebut. Sebuah sapaan yang sangat berkesan buat saya mengingat di sekolah-sekolah tempat mengajar sebelumnya saya belum menemukan budaya salam seperti di SMART. Seyogianya, ucapan salam dan budaya positif seperti ini, dimiliki oleh setiap pelajar Muslim di sekolah mana pun. Menyebarkan salam merupakan salah satu sunnah Rasulullah yang perlu diterapkan dalam kehidupan seharihari. Alhamdulillah, guru-guru SMART sudah layak berbangga dengan terbudayakannya salam ini, sebuah budaya untuk mewujudkan model pendidikan berkualitas Sebagai sekolah berasrama, mungkin mudah menerapkan budaya salam. Pekerjaan rumah guru dan wali asrama adalah bagaimana mendidik siswa untuk tetap menerapkan budaya salam ini di masyarakat pada saat mereka sedang liburan atau pulang ke rumahnya. Liburan ke daerah asal ala siswa SMART dinamakan sebagai “pulang kampung”. Saya berharap tinggi sebenarnya bahwa selain siswa dievaluasi ibadahnya oleh orangtuanya pada saat pulang kampung, alangkah baiknya budaya salam ini juga masuk di dalamnya. Substansi dari budaya salam ini adalah bagaimana siswa dapat membangun dan mengembangkan kecerdasan interpersonal. Dengan kecerdasan interpersonal ini, setiap siswa diharapkan mampu hidup dalam kehidupan kolektif. Hidup secara kolektif merupakan fitrah manusia. Hidup secara kolektif membutuhkan tegur sapa, komunikasi, kerja sama, termasuk juga menyelesaikan konflik. Dalam budaya salam ini, guru dan wali asramanya sudah cukup berperan aktif sebagai fasilitator dan pengarah bagi siswa. Bola terakhir sebetulnya ada di tangan siswa untuk mengejawantahkan budaya salam ini di dalam masyarakat ataupun ketika kelak berada di lingkungan perguruan tinggi. []
,

The Power of Kepepet yang Berbuah Manis. Kenangan Indah Bersama TRASHIC

The Power of Kepepet yang Berbuah Manis. Sebuah Kenangan Indah Bersama TRASHIC

 

“Ayo, cepetan!” Sebuah suara memintaku untuk segera bergabung.
“Tunggu sebentar!” Suaraku ikut menggema pagi itu. “Oke, oke aku siap!”
Kuambil langkah seribu dan langsung memburu. Di sana, Yunus, Arif, Jayeng, dan Syahid teman-temanku sudah menanti. Kami tergabung dalam tim TRASHIC (Trash Music) SMART Ekselensia Indonesia. Hari itu kami menggelar pertunjukan musik di kantor Kementerian Keuangan.

Musik? Musik macam apa itu? Mungkin jika orang melihat kami, alis tertaut dan kening berkerut sembari bertanya-tanya: “apa ini? Mau apa mereka?” Akan segera bertengger tanya di ujung benak. Aku dapat banyak pengalaman dengan jerigen, drum, kaleng-kaleng, dan botol kaca. Dari barang-barang bekas ini aku dapat belajar bagaimana bicara di depan orang lain, membangun kepercayaan diri, dan menampilkan sesuatu yang terbaik bagi orang lain.

“Reza enggak bisa ikut nih, gimana dong?”
“Tenang saja, Ustaz, ada Yunus.”
Kami meyakinkan pembimbing.
“Emang Reza ke mana?”
“Sakit, Ustaz. Enggak memungkinkan untuk ikut,” jelasku.

Kami masih menyibak pagi dengan ketukan-ketukan ritmis sembari merapat nada, mencoba menirukan lagu yang nanti kami mainkan. Tak jarang kami berhenti, mengoreksi, menimbang-nimbang, dan mengulangnya lagi. Lagi dan lagi. Ini memang sulit. Reza tak bisa datang dan kami tak punya banyak pilihan. Yunus yang paling memungkinkan pun masih terasa berbeda. Salah dan teledor, sudah biasa.

Waktu takkan mau berbelas kasih menunggu kami. Namun, bukanlah TRASHIC jika berhenti dan lantas beranjak pergi. Kami terus mencoba dan mencoba lagi. Sedikit rasa malu karena mata-mata yang mencuri pandang dan dengar tak mengentaskan usaha kami. Langit masih biru dan kini ruangan itu mulai ramai dijejali orang. Aku tak kenal dan tak begitu peduli dengan semua itu. Yang kupikirkan adalah bagaimana kami tampil sebaik mungkin dan menghibur mereka semua.

Sesapu pandang kulihat. Warna berkilau, kesan mewah dan kesan priyayi terasa dari bagian depan tamu-tamu yang hadir. Pikirku jahil menari-nari.
“Kementerian Keuangan, wanita-wanita itu istri para pemegang uang, kudengar ini acara ibu-ibu arisan, wah bisa dibayangkan….”
“Ayo masuk!” Arif menyenggolku.
“Ya, ya, santai bro hehehe….”

Kami memasuki ruangan khusus pengisi acara. Sembari menunggu, kami bersantai sejenak. Lelah, pusing, dan pegal masih menggantung. Pikiranku kembali menari. “Apa yang kubawa nanti ya? Aku ingin sekali memberikan sesuatu padanya. Uangku tak mungkin kugunakan karena untuk persediaan hingga pulang kampung. Mungkin, bisa.

“Coba lagi yuk, lancari.” Kuambil stik dan mengajak anggota yang lain ikut bergabung.
“Habis ini siap-siap ya!”
“Sip, Ustaz!”

Yang kami yakini adalah kami harus bermain sebaik-baiknya dan jangan pikirkan soal imbalan. Luruskan niat bahwa kami ingin menghibur dan memberikan yang terbaik. Ustaz selalu berkata demikian.

Aku hanya percaya bahwa aku masih bisa memberikan sesuatu untuknya, untuk mereka.

Kami dipanggil. Kaki melangkah, dan kami telah siap. Kami mulai. Kami tenggelam dalam ketukan dan harmonisasi. Menjaga dan coba selaraskan hingga akhir. Sejenak terlupa tentang apa yang harus kubawa untuknya. Lagu berakhir, kami beristirahat sejenak.

Kubuka percakapan. Kusebut seperti itu dengan penonton. Tidak percakapan dalam arti sebenarnya namun tetap kuanggap begitu. Sekadar hilangkan ketegangan. Aku cukup bisa membaur. Mereka terlihat antusias dan menginginkan satu lagi dari kami.

Penampilan selanjutnya berjalan cukup baik. Yunus lupa dan kehilangan ketukan. Improvisasi darinya selamatkan penampilan kami. Penonton riuh redam, tepuk tangan menyerbu. Kami berhasil lagi. Sedikit celetukan mengatakan bahwa kami harus bermain sekali lagi. Waktu kami habis. Sedikit basa-basi dan penutup dariku, lantas kami turun dari panggung. Senang TRASHIC selalu bisa membuatku senang pada saat seperti ini. Melihat sambutan tadi, aku kembali menepi. Berpikir bahwa kami memang punya sesuatu.

Di ujung acara kami kembali dipanggil. Bukan untuk kembali menggebuk drum, jerigen, dan kaleng namun untuk menerima ‘sedikit’ bingkisan. Jepretan kamera dan blitz silih berganti. Pasang senyum dan bertindak wajar sukses!

Wanita yang menyerahkan bingkisan ini pastilah orang penting. Aku lupa siapa atau posisinya, yang jelas ia seperti orang yang memiliki pengaruh besar.

Sedikit berat bingkisan ini. Tak tahulah apa isinya. Bukan sekarang saatnya. Kami kembali ke ruangan pengisi acara. Bingkisan dibuka dan aku langsung berpikir untuk memberikan ini pada mereka.

“Al-Qur`an untuk Ayah dan Ibu. Pasti mereka senang!” Sorakku dalam hati.

Aku harap generasi TRASHIC terbaru di SMART juga memiliki semangat pantang kendur dalam situasi apapun. Ingat kalau kalian adalah anak-anak terplih maka lakukan yang terbaik.

 

 

,

Inilah SMART, Sekolah Kebanggaan Tempat Kami Berjuang

Inilah SMART, Sekolah Kebanggaan Kami

 

Pada dasarnya pendidikan merupakan hak asasi semua warga negara Republik ini. Tanpa terkecuali bagi anak-anak marjinal. Kondisi ekonomi yang membelit keluarga menghilangkan kesempatan mereka untuk sekolah. Cita-cita yang lazim diinginkan anak-anak seusia mereka pun seolah tidak berhak diraih. Padahal, mereka juga mengharapkan kehidupan layak seperti anak-anak lainnya. Inilah kondisi yang pahit dirasakan oleh anak-anak marjinal di tanah air. Panggilan untuk mengangkat bakat dan harkat anak-anak marjinal itulah yang melatari lahirnya SMART Ekselensia Indonesia.

Bakat dan harkat anak-anak marjinal itu dapat diangkat ke permukaan apabila pendidikan yang diberikan kepada mereka dilakukan dengan baik dan benar. Kehadiran SMART tidak ingin sekadar menjadi sekolah bebas biaya namun abai pada soal kualitas. Selain akses pendidikan yang tidak merata, kualitas guru yang rendah melengkapi potret gelap dunia pendidikan kita. Tidak heran bila dunia pendidikan kita tertinggal jauh dibandingkan negaranegara maju. Karena kualitas gurunya rendah, tidak aneh bila kualitas anak didiknya pun tidak berbeda jauh.

Wajah pendidikan di tanah air juga masih dihiasi kenyataan bahwa siswa dibebani untuk lebih mengejar capaian-capaian akademis. Tidak banyak sekolah yang memilih untuk mengedepankan pembangunan karakter siswa. Akibatnya, maraklah fenomena sontek massal dalam pelaksanaan Ujian Nasional, tawuran antarpelajar, penggunaan narkoba, hingga pergaulan bebas.

Menghadapi tantangan zaman yang terus berubah, sekolah butuh guru yang berkualitas dalam pengajaran sekaligus juga mampu menjadi model bagi siswa. Dua hal ini mutlak adanya untuk membentuk karakter dan prestasi siswa, tidak terkecuali anak-anak marjinal. Sejak didirikan, para pengelola SMART optimis bahwa SMART merupakan modal dasar yang penting untuk memberikan nilai dan karakter kepada anak-anak marjinal. Dalam kondisi pendidikan nasional jauh dari ideal untuk menanamkan nilai dan karakter, SMART memilih untuk membina siswa lulusan SD. Selain sudah bisa dilatih untuk tidak bergantung kepada orangtua masingmasing, siswa pada usia ini lebih mudah dibina sehingga nilai dan karakter dapat tertanam sejak dini.

Pembinaan nilai dan karakter diutamakan karena lulusan SD yang masuk SMART memang dipersiapkan untuk mengikuti program akselerasi. Setamatnya dari jenjang SMA, pendidikan bagi mereka masih berlanjut. Mereka tidak dicetak untuk hanya berpuas diri karena mampu lulus SMA, kemudian menjadikannya sebagai modal untuk mencari pekerjaan. Sebaliknya, mereka justru dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bonafide di dalam dan luar negeri. Untuk membina dan menempa nilai dan karakter sekolah kepada siswa, SMART didesain sebagai sekolah berasrama (boarding school). Sistem sekolah berasrama cocok untuk mengondisikan para siswa agar fokus menggapai mimpimimpinya.

Melalui sekolah berasrama, siswa tidak sekadar dibina secara nilai dan karakter, namun juga disiapkan untuk menempuh pendidikan akselerasi, yakni menyelesaikan jenjang pendidikan SMP SMA selama lima tahun. Siswa ditempatkan di asrama karena akan memudahkan dalam pengayaan materi pelajaran. Saat yang sama, lebih efektif dan efisien secara waktu karena konsentrasi mereka dilatih agar terpusat pada aktivitas belajar.

Penerapan program SKS di SMART dapat dilakukan karena dalam setiap pelajaran memuat materi esensial dan non-esensial, sebagaimana yang diatur dalam Sistem Kurikulum Pendidikan Nasional. Dengan menerapkan skala prioritas di antara materi esensial dan non-esensial, pemberian pelajaran dapat diefisiensikan sekaligus diefektifkan. Dengan demikian, masa pendidikan yang umumnya enam tahun dapat ditempuh dalam waktu lima tahun tanpa ada pengurangan kualitas pengajaran ataupun prestasi akademis peserta didik. Ringkasnya, program akselerasi di SMART bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan bernalar siswa secara lebih komprehensif dan optimal, serta mengembangkan kreativitas siswa secara optimal.

 

Siswa SMART berasal dari seluruh penjuru tanah air. Mereka dipersatukan oleh kesamaan latar belakang ekonomi keluarga. Keragaman menjadi niscaya seiring bertemunya anak-anak berbakat itu di SMART. Menghadapi perbedaan suku, bahasa, bahkan karakter, SMART memiliki kiat-kiat khusus untuk mendayagunakannya sebagai sebuah kekuatan. SMART membiasakannya semua warganya untuk bersikap toleran dan saling menghargai perbedaan yang ada. Dalam pembelajaran, siswa selalu diingatkan dan disadarkan bahwa mereka adalah orang Indonesia yang memiliki kewajiban menjaga harkat dan martabat sebagai bangsa yang besar. Siswa juga belajar untuk menghargai adat istiadat tempatnya berasal. Rasa keindonesiaan yang kental dalam lingkungan SMART membuat mereka siap menghadapi kehidupan global yang tanpa sekat seperti saat ini. Efek teknologi yang sangat pesat menjadikan batas-batas geografis sebuah negara tidak menjadi penghalang bagi siapa pun untuk dapat menjalin hubungan, termasuk pada siswa yang berlatar belakang dari keluarga marjinal.

Kesadaran ini dibangun di SMART untuk memberikan pemahaman kepada setiap siswa bahwa mereka bukan saja pantas maju sebagai warga Indonesia, tapi juga sebagai warga dunia. Dengan demikian, siswa SMART mampu menjadi pemimpin global dengan tetap memegang warna keindonesiaannya

 

Pada awal berdiri, SMART sudah berkreasi mengembangkan program khas yang diimplementasikan di sekolah dan akan dikontribusikan bagi dunia pendidikan di tanah air. Bentuknya berupa pembentukan karakter, kepemimpinan, wirausaha, program kemandirian, program interaktif dengan masyarakat, serta penanaman disiplin. Saat awal berdiri, para siswa SMART sudah dicitakan tidak hanya menduduki kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) berkelas di tanah air, namun juga di kampus-kampus mancanegara. Untuk mencapainya, siswa SMART sudah dikondisikan dengan penggunaan dwibahasa (bilingual). Tidak ada yang salah dengan mendorong anak-anak marjinal untuk terus menggapai impiannya yang setinggi langit sekalipun. Terbukti siswa-siswa dari pelbagai penjuru tanah air itu mampu menembus ketatnya persaingan menjadi mahasiswa kampus negeri favorit. Sampai saat ini, SMART masih mempertahankan tradisi setiap tahun lulusannya 100 persen dapat menembus PTN terbaik dan berakreditasi A. Atas capaian yang ada itu, segenap jajaran di SMART tidak ingin berpuas diri. Masih ada capaian yang perlu dituju: menjadikan SMART sebagai Sekolah Kelas Dunia (World Class School).

Untuk menjawab visi menjadi Sekolah Kelas Dunia, SMART membuat beberapa strategi, yakni menyiapkan SDM berkualitas dan berdaya saing global, menjalankan sistem pendidikan terbuka dan diakui dunia, menyiapkan fasilitas dan teknologi yang bernuansa budaya global, menghasilkan lulusan yang berkarakter dan berdaya saing global, serta membangun jaringan dengan seluruh pemangku kepentingan. []

 

Pokoknya Lailatul Qadr Jangan Sampai Lolos

Pokoknya Lailatul Qadr Jangan Sampai Lolos

 

Tahukah kamu Sob kalau ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan? Yak benar sekali Malam Lailatul Qadr. Lailatul Qadr ialah malam penuh berkah, oleh karena itu momen ini harus kita maksimalkan sebaik mungkin Sob. Seperti yang diriwayatkan oleh. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha:

 

كَانَ النَّبِىُّ gإِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Apabila Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.”

 

Lalu bagaimana cara kita memburu Lailatul Qadr? Caranya adalah dengan memperbanyak Salat Malam, membaca Al-Quran, zikir, berdoa, membaca shalawat, tasbih, istigfar, I’tikaf, dan lainnya. Imam at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang lainnya telah meriwayatkan dari Ummul Mukminin, Aisyah RA, ia berkata: ‘Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, jika aku telah mengetahui kapan malam Lailatul Qadar itu, maka apa yang aku katakan pada malam tersebut?’ Beliau menjawab: ‘Katakanlah:

 

اَللّٰهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

 

‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’

(Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).

 

 

 

Jaga Diri, Tahan, Supaya Puasamu Berkah

Sob tahukah kamu kalau selama Ramadan kita kudu banget menjaga diri agar puasa kita berkah dan mendapatkan pahala berlimpah. Hanya saja sebagai pelajar kadang kita suka bertingkah nyeleneh yang tanpa disadari dapat membuat pahala puasa kita berkurang, bahkan menguap entah ke mana. Sayang banget kan kalau sampai seperti itu. Nah supaya puasa kita tetap dalam jalur yang baik, yuk kita menjaga yang perlu dijaga.

 

“Hah maksudnya bagaimana?” Langsung simak saja video di bawah ini ya. Tetap semangat puasanya Sob.

Selamat Kepada 50 Siswa Terpilih Penerima Beasiswa SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 16

Selamat Kepada 50 Siswa Terpilih Penerima Beasiswa SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 16

SMART Ekselensia Indonesia (SMART) baru saja menyelesaikan Seleksi Nasional Beasiswa (SNB) untuk mencari siswa terbaik sebagai penerima manfaat program ini. Seleksi sendiri merupakan rangkaian proses yang dirancang untuk menjadi saringan paling efektif, guna memastikan para penerima manfaat SMART benar-benar layak. Hal tersebut dilakukan karena dana SMART berasal dari zakat masyarakat, sehingga harus dipastikan sampai kepada yang berhak.
SNB sendiri telah dimulai dari tujuh bulan lalu, tepatnya sejak November 2018. Rangkaian panjang proses seleksi tersebut meliputi publikasi, pendaftaran, seleksi berkas, test akademik, psikotes, home visit, rapat penentuan akhir dan pengumuman. Adapun sistem seleksi yang digunakan adalah sistem gugur, setiap pendaftar yang tidak lolos pada satu tahap, tidak bisa mengikuti tahapan selanjutnya.
Dari 360 pendaftar yang masuk, SMART hanya menerima 40 siswa untuk jenjang SMP. Sedangkan untuk  SMA hanya 10 anak yang diterima dari 174 pendaftar. Para siswa tersebut mewakili semua wilayah seleksi, yaitu Sumatera utara, Riau, kepri – batam, kepri – natuna, Sumatera Barat, jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, banten, jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah – semarang, jawa tengah – Purwokerto, yogyakarta, Jawa Timur, Malang, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, NTB, NTT, Maluku, sabah, Serawak
Selamat kepada para siswa baru Angkatan 16! Selamat datang di keluarga besar SMART Ekselensia Indonesia! Selamat menjadi calon pemimpin bangsa ini, dan selamat menebar kemanfaatan yang lebih luas!
Informasi lebih lanjut kunjungi www.smartekselensia.net atau kontak ke 08812374484 atau 08128833840 (Markom Dompet Dhuafa Pendidikan)

Bingung Sama Target Ramadan? Baca Tulisan Ini Sob!

Bingung Sama Target Ramadan? Baca Tulisan Ini Sob!

 

Wah gak kerasa ya Sob dua hari lagi kita akan bertemu lagi dengan Bulan Ramadan. Nah kalau boleh tau target Ramadan kamu apa nih Sob?

 

Memang gak mudah membuat target selama bulan Ramadan Sob, tapi gak ada salahnya juga kalau kita mulai menyusun strategi agar Ramadan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Jika kamu masih bingung menyusun target Ramadan, kami punya tujuh tips jitu supaya target Ramadanmu tercapai. Yuk simak tulisan di bawah.

 

1. Berpuasa Penuh Satu Bulan Ramadan

Karena hukumnya wajib maka sudah seharusnya kita melaksanakan puasa Ramadan sebulan penuh, sesibuk dan sebanyak apapun PR kita kecuali jika ada kondisi yang mengharuskan untuk tidak berpuasa. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

2. Melaksanakan Salat Malam Setiap Hari

Melaksanakan salat malam selain berpahalan, juga baik untuk kesehatan badan. Oleh karena itu Rasulullah Saw. Pernah bersabda, “Barangsiapa mendirikan shalat malam di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala Allah semata, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

3. Melaksanakan Itikaf

I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dalam rangka mencari keridhaan Allah Swt. dan bermuhasabah (introspeksi) atas perbuatan-perbuatan yang telah kita lakukan selama ini. Iktikaf ada baiknya diniatkan semata-mata untuk mendekatkan diri dan mengharapkan ridho Allah Swt. I’tikaf dianjurkan dilaksanakan jelang sepuluh hari terakhir Ramadan

 

4. Mencari Lailatul Qadr

Di sepuluh hari terakhir Ramadan kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dikarenakan adanya Lailatul Qadar atau malam kemuliaan, malam yang lebih mulia dari 1000 bulan atau setara dengan 83 tahun 4 bulan.

 

5. Memperbanyak Sedekah dan Memberi Makan Orang yang Berpuasa

Bulan Ramadan merupakan bulan penuh berkah, di bulan ini Allah Swt. melipatgandakan pahala dari kebaikan yang kita perbuat, maka tidak ada salahnya jika kita berbagi kepada sesama dengan bersedakah dan memberi makan orang berpuasa. Rasulullah Saw. Bersabda,“Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)

 

6. Memperbanyak Membaca Al Quran dan Mengkhatamkan Al-Quran

Ada baiknya kita meluangkan waktu dan mengkhususkan membaca Al-Qur’an minimal satu juz setiap hari sehingga bisa mengkhatamkan Al-Qur’an. Rasulullah Saw. bersabda, “Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dan lebih akan dermawan lagi di bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya pada setiap malam, lalu saling membacakan al-Qur’an dengannya.” (HR. Bukhari)

 

7. Membayar Zakat

Zakat dalam segi istilah adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dan sebagainya). Nah jangan lupa ingatkan kakak atau keluarga di rumah tentang pentingnya mengeluarkan zakat fitrah ya Sob.

 

Mengejar target di atas bukan berarti kita meninggalkan ibadah lain seperti melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah. Mudah-mudahan target yang telah disebutkan diatas tercapai. Dan disaat kita selesai berpuasa di bulan Ramadan secara penuh, mudah-mudahan kita bisa menjadi orang yang semakin bertaqwa ya Sob. Aamiin.