Kunjungan Univ Malaysia

UNITAR Malaysia Berikan Apresiasi untuk SMART Ekselensia Indonesia

BOGOR – Dompet Dhuafa Pendidikan mendapat kunjungan dari Universitas Tun Abdul Razak (UNITAR) Malaysia pada hari Sabtu (27/10). UNITAR merupakan salah satu kampus swasta di Malaysia. Kampus ini menggabungkan kelas konvensional dengan penggunaan efisiensi bahan kursus berbasis situs web serta proses pembelajaran online.

Rombongan dari UNITAR sampai di kampus SMART pada pukul 08.00. Mereka diterima di Aula Masjid Al Insan Dompet Dhuafa Pendidikan. Sebanyak 80 orang siswa Kelas 4 dan Kelas 5 SMA SMART Ekselensia Indonesia hadir menyambut dan ikut berdialog bersama saudara serumpun ini. Acara dibuka dengan sambutan dari Abdul Khalim selaku Senior Manager SMART Ekselensia Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari UNITAR yang disampaikan oleh Aziey Mohd selaku Business Development UNITAR.

Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk mengenalkan UNITAR lebih jauh kepada seluruh siswa SMA SMART Ekselensia Indonesia. Pada kesematan ini juga dibahas rencana kerjasama antara UNITAR dengan SMART, yaitu pemberian beasiswa kepada beberapa siswa terpilih untuk melanjutkan pendidikan di UNITAR.

“Saya sangat senang sekali bisa kenal SMART Ekselensia, murid-muridnya pandai-pandai. Saya salut dengan semangat mereka, sampai tadi banyak sekali pertanyaan yang harus saya jawab,” kesan Aziey. Ia juga menambahkan bahwa tidak sulit untuk mendapatkan beasiswa di UNITAR. Pasalnya, seleksi beasiswa hanya akan dilakukan dari nilai raport. “Jadi semangat belajar kalian juga harus ditingkatkan, ya!” pungkas Aziey.

Baik UNITAR maupun SMART berharap ke depan terjalin hubungan baik yang saling mendukung. “Harapannya, dengan adanya kunjungan ini akan terjalin kerjasama yang baik antara SMART dengan UNITAR. Ke depan, akan ada banyak siswa SMART yang melanjutkan pendidikan di luar negeri. Semoga UNITAR salah satu kampusnya,” ungkap Khalim.

Apresiasi Positif dan Kesan Manis untuk OHARA

Apresiasi Positif dan Kesan Manis untuk OHARA

SMART Ekselensia Indonesia baru saja menyelesaikan hajatan besar tahunannya, yaitu pergelaran Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) ke-10. Acara ini digelar pada Rabu dan Kamis kemarin, 24-25 Oktober 2018. Banyak apresiasi positif didapatkan oleh SMART terhadap gelaran OHARA.

Dari pemerintah, SMART mendapat dukungan berupa pemberian dua piala bergilir. Satu piala bergilir dari Gubernur Jawa Barat sejak kepemimpinan Ahmad Heryawan. Piala ini diberikan kepada pemenang lomba Opera Van Jampang. Piala bergilir lain dipersembahkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk pemenang lomba Lintas Nusantara.

Namun, menurut Syarif, seorang konsultan pendidikan yang mengelola sebuah sekolah, seharusnya ajang OHARA ini dapat bekerjasama dengan pemerintah dalam bentuk lain. “Harapan saya, ke depan semoga acara ini bisa ditingkatkan lagi melalui kerjasama dengan pemerintah daerah, sehingga bisa menjadi program pemerintah, dan acara ini bisa terbantu secara finansial dan publikasi,” papar Syarif yang berkesempatan menjadi juri pada Lomba Esai OHARA.

Syarif juga memberikan kesan positifnya terhadap acara ini. “Acara OHARA ini luar biasa karena bisa membawa peserta dari luar daerah. Gaungnya acara ini bisa sampai ke tempat yang jauh, sampai ke daerah Kalimantan dan Sulawesi,” ungkapnya. Ya, tahun ini peserta OHARA ada yang berasal dari kedua pulau tersebut.

Lalu bagaimana kesan peserta dari pulau terjauh itu tentang OHARA? “Bergabung di acara OHARA ini bisa mengasah kepedulian kita sebagai pelajar terhadap budaya Indoesia. Di samping itu, dengan OHARA juga kita dapat mencari solusi atas permasalah sosial yang ada di masyarakat, jadi kita tidak hanya mementingkan diri sendiri namun mementingkan orang lain juga,” ungkap Nur Danil, siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Gowa, Makasar, Sulawesi Selatan. Nur mengikuti Lomba Esai pada OHARA kali ini. Esainya berjudul “Konsolidasi Budaya Siri’Na Pacce Melalui Eksistensi Sikap Sipakatau, Sipakainge dan Sipakalebbi di Kalangan Pemuda Bugis Makassar”

Kesan positif lainnya juga datang dari para siswa SMP 1 Kemang, Bogor. Tim mereka menjuarai Lomba Lintas Nusantara dan berhak menyimpan piala bergilir dari Kemendikbud tahun ini.

“Ajang OHARA sangat baik untuk pemuda dan pemudi Indonesia. Kita dapat jauh memperdalam pengetahuan tentang budaya-budaya Indonesia. Karena pemuda sekarang banyak yang lebih dekat dengan budaya asing, dan dengan adanya ajang ini bisa membuktikan generasi zaman now tidak lupa dengan budaya Indonesia dan tidak menganggapnya sebagai hal yang kuno,” ungkap mereka.

Demikianlah, perhelatan OHARA telah berakhir. Untuk tuan rumah, acara ini juga menjadi ajang pembinaan bagi para siswa SMART. Mereka dapat berlatih mengelola event, berlatih tampil di depan banyak orang, juga berlatih menjalin relasi dengan orang baru.

OHARA juga menjadi sarana open house untuk SMART. Para siswa pun mengeluarkan banyak tampilan seni mereka yang memukau hadirin. Sukses selalu, SMARTies!

Day 1

Olimpiade Budaya Pertama di Indonesia Resmi Dibuka

Pagi ini, Rabu (24/10), Olimpiade Humaniora Nusantara atau OHARA resmi dibuka. Olimpiade ini, hanya ada satu-satunya dan pertama di Indonesia. SMART Ekselensia  Indonesia (SMART) yang menginisiasinya. Dan, kali ini adalah tahun ke-10 OHARA digelar.

OHARA dibuka secara resmi oleh Asep Sudarsono, S.Pd.M.M, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Barat Wilayah 1. Dalam sambutannya, Asep memberikan apresiasi terhadap olimpiade ini. “Untuk berhasil itu ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, install pengetahuan dengan cara belajar, kedua install keahlian dengan mengikuti beberapa latihan, dan ketiga install pengalaman dengan hadir dalam kegiatan positif, seperti OHARA ini,” ungkap Asep. Tak lupa Asep juga berpesan bahwa dalam kompetisi, menang kalah itu hal yang biasa. Ia meminta pihak yang kalah untuk bersabar, dan bersyukur bagi yang menang.

OHARA dihelat bukan semata untuk mewadahi para pemuda yang sangat bergelora dalam kompetisi, namun acara ini membawa misi penting. Hal ini disampaikan oleh General Manager Sekolah Ekselensia Indonesia, Agung Pardini, dalam sambutannya. “OHARA ini diharapkan dapat menjadi pemantik untuk semua siswa lebih mengenal budaya yang ada di Indonesia dan akhirnya dapat menjadi manusia produktif,” papar Agung.

Perhelatan OHARA tahun ini mengangkat tema “Satukan Harmoni Budaya Nusantara”, sebuah ajakan kepada anak-anak muda untuk tidak hanya melestarikan, namun membuat keragaman budaya ini menjadi sebuah harmoni. Para peserta OHARA pun berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tercatat, sebanyak 268 siswa dari 37 sekolah menjadi peserta acara masterpiece ini. Selain berasal dari Pulau Jawa, peserta terjauh berasal dari Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Selatan.

SMART pun berlaku sebagai tuan rumah yang memuliakan tamunya. Berbagai sajian telah disiapkan untuk menyambut dan menghibur para tamu yang hadir. Sebagai pembukaan, siswa-siswa berbakat SMART menyuguhkan Tari Saman yang disambut para hadirin dengan sangat meriah. Selain itu, para siswa SMART hari ini juga tampil dalam teater mini musikal, dan akustik. Rangkaian tampilan seni ini merupakan suplemen untuk mengolah rasa para siswa SMART juga sebagai bentuk pelestarian budaya.

SMART sendiri sebenarnya adalah miniatur Indonesia. Para siswa sekolah berlabel “Islamic Leadership Boarding School” ini berasal dari seluruh penjuru nusantara, dan mewakili keragaman budaya Indonesia. Sekolah menengah berasrama bebas biaya ini didirikan oleh Dompet Dhuafa pada tahun 2004. SMART hadir untuk memberikan kesempatan pada anak-anak berprestasi namun memiliki keterbatasan ekonomi, agar dapat mengakses pendidikan yang berkualitas. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Yuli Pujihardi, Direktur Zona Madina, selaku perwakilan dari Dompet Dhuafa. “Permasalahan yang dihadapi dhuafa salah satunya adalah pendidikan dan kami, Dompet Dhuafa menyediakan SMART untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan adanya OHARA ini diharapkan dapat membentuk anak yang memiliki adab, berbudaya dan bangga dengan budaya Indonesia,” terang Yuli.

OHARA telah dilaksanakan sejak tahun 2009 lalu. Lebih dari 1.500 siswa telah menjadi pesertanya. Tahun ini, para peserta OHARA akan berlaga dalam lima kompetisi budaya, yaitu Opera Van Jampang (OVJ), Lintas Nusantara (Lintara), Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (FAKN), Story Telling, dan Lomba Esai. Beragam penghargaan telah disediakan untuk para pemenang.

Piala bergilir Gubernur Jawa Barat akan dibawa pulanh oleh pemenang lomba OVJ. Demikian juga untuk pemenang lomba Lintara, mereka akan mendapatkan piala bergilir dari  Kemendikbud. Sedangkan untuk lomba FAKN, Essay dan Story Telling akan mendapatkan uang pembinaan.

Tari Saman Ohara part 1

Cara SMART Ajak Anak Muda Harmonikan Budaya Nusantara

Seiring masifnya arus globalisasi yang melanda negeri ini, kekhawatiran akan semakin tergerusnya budaya nusantara semakin mencuat. Hal itu bukan tanpa alasan. Seiring dunia yang makin tanpa batasan, dengan bantuan teknologi yang juga makin canggih, budaya asing makin kuat pula menggempur. Sasaran utamanya tentu saja anak-anak muda selaku pengguna aktif teknologi kekinian. Maka budaya yang notabenenya adalah identitas bangsa besar ini pun, tak bisa dielakkan dari krisis yang akan melandanya.

Bertolak dari pemikiran tersebut, SMART Ekselensia Indonesia (SMART) melakukan tindakan nyata. Sejak 2009 lalu, sekolah berlabel Islamic Leadership Boarding School ini menginisiasi OHARA, singkatan dari Olimpiade Humaniora Nusantara setiap tahunnya. Selayaknya olimpiade, OHARA juga berformat kompetisi. Perlombaan kreasi budaya antar sekolah ini sudah berlevel nasional. Pesertanya adalah siswa SMP-SMA sederajat. Tahun ini merupakan perhelatan OHARA yang ke-10. Telah lebih dari 1500 siswa dari seluruh Indonesia menjadi peserta olimpiade ini.

Tahun ini OHARA mengangkat tema “Satukan Harmoni Budaya Nusantara”. Sesuai dengan  tujuan dihelatnya OHARA itu sendiri, yaitu untuk memperkuat pengetahuan generasi muda dalam hal kebudayaan dan keharmonisan nusantara. Olimpiade ini akan berlangsung selama dua hari pada tanggal 24-25 Oktober 2018, berlokasi di sekolah SMART, Desa Jampang, Kemang, Kabupaten Bogor.

Sebanyak 286 siswa yang berasal dari 36 sekolah akan berlaga dalam OHARA. Mereka akan berkompetisi di lima cabang lomba, yaitu Lomba Essay, FAKN, Story Telling, Lintara, dan OVJ. Lomba Esai adalah ajang bagi para peserta untuk menuangkan gagasan mereka tentang kebudayaan nusantara. FAKN atau Festival Akulturasi Kuliner Nusantara adalah kompetisi memadukan dua atau lebih kuliner dari daerah yang berbeda, namun tidak meninggalkan kekhasannya.

OVJ, singkatan dari Opera Van Jampang adalah pentas drama bernuansa budaya berbumbu humor, namun tetap memiliki pesan moral. Cerita yang diangkat dalam OVJ biasanya adalah dongeng khas nusantara. Sedangkan Story Telling adalah kompetisi keahlian menceritakan kembali cerita rakyat nusantara menggunakan bahasa Inggris. Dan, Lintara atau Lintas Nusantara, merupakan lomba masterpiece SMART yang memadukan tes tulis, permainan tradisional, cosplay, dan jelajah lintas alam, kesemua tantangan tersebut tetap benuansakan budaya Indonesia.

SMART sendiri adalah sekolah menengah berasrama bebas biaya yang didirikan oleh Dompet Dhuafa untuk anak-anak berprestasi dengan keterbatasan ekonomi dari seluruh Indonesia. Siswa SMART menjalani sekolah SMP-SMA secara akselerasi dengan sistem kredit semester (SKS) dan program pendidikan kepemimpinan. OHARA merupakan bentuk apresiasi para siswa SMART terhadap keragaman budaya dari daerah-daerah asal mereka. (NRS)

Olimpiade Humaniora Nusantara

Yang Muda Yang Satukan Harmoni Budaya Nusantara di OHARA

Yang Muda Yang Satukan Harmoni Budaya Nusantara di OHARA

Bogor – Tak terasa setahun telah berlalu dan Olimpiade Humaniora Nusantara 2017 telah lama pergi meninggalkan kami.  Rasa sedih sempat menghampiri, namun hidup harus terus berjalan kan Sob?

Sekarang kami tak sedih lagi karena pada Rabu dan Kamis (23-24 Oktober) SMART Ekselensia Indonesia Boarding Islamic School akhirnya kembali mengadakan OHARA.

Olimpiade Humaniora Nusantara

 

Seperti yang kamu ketahui OHARA bertujuan untuk menyadarkan generasi muda untuk lebih perhatian terhadap budaya bangsanya. Kebanyakan anak muda zaman sekarang beranggapan bahwa budaya adalah suatu hal yang “kaku” dan “kuno”, padahal sebagai negeri yang memiliki banyak kekayaan budaya seharusnya menjadi suatu kebanggaan bagi para pemuda. Pemuda, sebagaimana pernyataan dari Soekarno, adalah tonggak suatu bangsa karena itulah SMART ingin turut serta berkontribusi terhadap  pengembangan budaya tanah air melalui lomba-lomba yang dapat membuat para pemuda semakin mencintai budaya.

Tahun ini OHARA mengusung tema “Satukan Harmoni Budaya Nusantara” sebagai pengingat jika indonesia adalah negeri dengan budaya sangat melimpah. Ada lima lomba yang dijagokan antara lain: Lintara, FAKN, Story Telling, Essay, dan OVJ.

Lintara alias Lintas Nusantara merupakan lomba yang ditujukkan untuk siswa SMP di seluruh indonesia. Lomba ini mengajak peserta untuk lebih mengenal budaya nusantara lebih dalam. Di Lintara, peserta akan merasakan budaya nusantara melalui berbagai mata lomba yang akan diadakan di indoor maupun outdoor. Tidak hanya budaya, peserta akan diajak untuk lebih dekat dengan alam.

Berbeda dengan Lintara, FAKN (Festival Akulturasi Kuliner Nusantara) adalah lomba yang akan menguji kereativitas para peserta untuk mengakulturasikan dua masakan khas daerah menjadi suatu sajian yang enak dan memilki nilai jual.

Ada juga lomba Story Telling, namun berbeda dengan lomba sejenis, di OHARA peserta WAJIB menggunakan bahasa daerah dari cerita yang mereka bawakan. Pokoknya keren deh Sob

Selain tiga lomba di atas di OHARA tahun ini  Essay turut mengambil porsinya sebagai lomba baru yang digadang mampu menyelaraskan kemampuan berpikir generasi muda dan kemampuan mereka menggerakan di masyarakat. Sst ada yang spesial di Essay nih Sob, karena para peserta akan kami ajak mengikuti pelatihan Social Leader forum bertajuk “Berkontribusi Nyata Terhadap Kemajuan Bangsa”.

Untuk lomba terakhir kami memiliki OVJ (Opera Van Jampang). Lomba ini adalah bentuk visual budaya nusantara yang dijadikan ke dalam bentuk opera disertai dengan guyonan-guyonan untuk menambah keseruan Para peserta dituntut mampu membuat pertunjukkan lucu berdasarkan cerita-cerita budaya di Indonesia. Menghibur dan seru sekali, kamu kudu nonton juga.

OHARA dapat terselenggara berkat dukungan darimu dan berbagai pihak. Kami harap OHARA mampu menjadi wadah untuk menampung inovasi-inovasi brilian anak bangsa demi menyatukan harmoni budaya nusantara. Tunggu reportase kami selanjutnya (AR).

SALAM OHARA….

41bbc033-7ed2-4575-9d3a-fb0919a07929

OHARA siap digelar, ayo segera daftar

Halo para Pejuang Budaya di seluruh Indonesia!

Lomba budaya tingkat nasional dengan hadiah puluhan juta rupiah, Olimpiade Humaniora Nusantara 2018, masih terus dibuka pendaftarannya hingga 7 Oktober 2018!

OHARA kali ini bertemakan “Satukan Harmoni Budaya Nusantara” yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 s.d. 25 Oktober 2018.

Ayo para pelajar SMP dan SMA/sederajat di seluruh Indonesia, kesempatan untuk meraih piala bergilir Kemendikbud, Gubernur Jawa Barat, sertifikat tingkat nasional serta keseruan bertemu para peserta se-Indonesia masih terbuka lebar!

Terdapat 5 lomba kece yang sangat mudah untuk diikuti dalam OHARA 2018, kamu pun bisa langsung mendaftar secara online di link yang tertera:
1. Festival Akulturasi Kuliner Nusantara (SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_fakn]
2. Opera Van Jampang (SMP dan SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_ovj]
3. Lintas Nusantara (SMP sederajat) [bit.ly/ohara2k18_lintara]
4. Lomba Esai (SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_esai]
5. Story Telling (SMP dan SMA sederajat) [bit.ly/ohara2k18_storytelling_SMP atau bit.ly/ohara2k18_storytelling_SMA]

Tunggu apa lagi, ayo segera daftarkan dirimu dan tunjukkan bahwa sekolahmu adalah yang terbaik dalam OHARA 2018!

Jangan lupa untuk sebarkan info ini ke seluruh teman-teman dan sekolahmu!

Ikuti terus perkembangan #ohara2018 di akun sosial media kami:

Fanspage : Olimpiade Humaniora Nusantara
Twitter : @cintaohara
Instagram : @cintaohara
Web : ohara.smartekselensia.net
WA :
0813 1571 4190 (Erdiansyah)

ef6d4c0e-971e-4192-aef9-ebf2bb647b96

SMART Ekselensia Indonesia
,

Jaya Terus Anak IPS!

Jaya Terus Anak IPS!

Oleh: Reza Bagus Yustriawan
Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX, Mahasiswa Sosiatri FISIP UGM 2017

Anak IPS? Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata IPS? Nakal? Suka tawuran? Kumpulan begundal? Kalau ya, berarti pikiranmu sudah terkontaminasi dengan “pepatah”  orangtua zaman dulu. Memang, kata siapa semua anak IPS itu begundal? Anak IPS itu seharusnya dihormati tahu, karena anak IPS gemar melestarikan budaya Indonesia melalui beragam ilmu sosial yang diajarkan para guru tercinta.

Namun, suka duka sebagai anak IPS yaa banyak juga sih, diantaranya, dicap kalau mereka yang masuk jurusan IPS itu tak elok dan akan sulit mencari pekerjaan di masa depan. Padahal nih yaa, tanpa kehadiran anak IPS, mungkin anak cucu kita tak akan tahu Tari Saman asal Aceh, Kujang, Rencong, Sejarah Indonesia, bahkan sejarah aku dan dia. Ini bercanda hehe.

Walau begitu, ada enaknya juga jadi anak IPS, misalnya, tak perlu berurusan dengan angka-angka ajaib, tak perlu mencari bilangan-bilangan rumit, dan tak perlu berpikir terlalu banyak (maksudnya tak perlu berurusan dengan kimia, matematika, fisika, dan pelajaran eksakta lainnya). Jadi, kalau belajar yaa gitu-gitu aja, enak, nyantai, nggak perlu kalkulator, nggak perlu ngitung-ngitung pergerakan setiap benda di bumi. Palingan ngitung-ngitung cuma dipake sekali-kali­—misal di kantin, ngitung utang—.

Hayoo… Ngaku…

Kalau nggak enaknya jadi Anak IPS juga banyak, salah satu yang paling gue keselin itu kita harus ngapalin nama-nama orang luar yang nggak jelas. Ada juga tanggal-tanggal. Boro-boro nginget tanggal lahir orang, tanggal lahir orang tua aja nggak tau, ya nggak?? Ngaku lho!! Ngaku!! Sedangkan, tanggal peristiwa kesaktian aku saja, aku nggak inget, apalagi hari kesaktian pancasila??

Jangan dikira jadi anak IPS itu nggak ribet. Mungkin selama ini banyak yang bilang kalau yang ribet itu cuma anak IPA doang, harus bawa termometer lah, labu melerleyer lah, spiritus lah. Eh!! Jangan salah!! Anak IPS juga ribet, malah lebih ribet, disuruh bawa peta lah, buat peta lah, menggali fosil lah, buat peta sambil menggali fosil lah, berkomunikasi dengan manusia-manusia purba lah. Ribetan mana hayo??

Yaa, ribet dua-duanya lah.

Aku sebenarnya agak resah, soalnya IPS di Indonesia dianggap tempatnya anak-anak buangan.

Aku nggak setuju!!

Pertama, karena aku juga anak IPS. Kedua, yaitu kalau nggak ada IPS nggak ada psikolog, kalau nggak ada psikolog nggak ada yang bisa nolongin orang stres, kalau terlalu banyak orang stres semua jadi stres, kalau semua orang stres entar mati. Wahhh!!! Kalau nggak ada anak IPS ujung-ujungnya nyawa semua orang mati. Ngeri banget kan akibatnya??

*Ngaco

SMART Ekselensia Indonesia
,

Hoax Menghibur? Baca Di Sini Sob!

Hoax Menghibur? Baca Di Sini Sob!

Oleh: Anisa Sholihat.

Duta Gemari Baca PSB Makmal Pendidikan, saat ini berkuliah di Fakultas Pendidikan Guru SD (UNJ). Kontributor SMART Corner

Pada zaman modern seperti saat ini, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi sudah semakin maju. Proses penyampaian pesan dan informasi tidak hanya dilakukan melalui surat menyurat ataupun Short Message Service (SMS), melainkan dapat dilakukan melalui gadget dan media sosial yang mutakhir seperti Twitter, Facebook (FB), Instagram (IG), Whatsapp (WA) dan BlackBerry Messenger (BBM). Hal itu mengakibatkan melesatnya penyampaian informasi yang terjadi di masyarakat. Membludaknya informasi yang kita terima melalui media sosial merupakan salah satu bukti kemajuan teknologi. Sayangnya, kemudahan untuk mendapatkan informasi tidak selalu memberikan dampak positif, terselip pula beberapa dampak negatif seperti mudah tersebarnya berbagai berita bohong yang tidak jelas kebenarannya atau berita hoax.

Berita-berita hoax sangat mudah kita temui ketika sedang berselancar di dunia maya. Parahnya, berita tersebut amat mudah tersebar dan menjadi viral di kalangan masyarakat. Rendahnya sikap kritis masyarakat ketika mendapatkan berita, menjadi salah satu penyebab menjamurnya peredaran berita hoax. Berita yang diterima melalui media sosial, biasanya ditelan mentah-mentah, kemudian segera dibagikan kepada khalayak ramai.

Bagi sebagian besar orang, berita hoax dianggap sangat meresahkan dan mengganggu. Namun, bagi beberapa orang yang memiliki daya kreativitas yang tinggi, viralnya berita hoax di masyarakat dimanfaatkan untuk membuat akun parodi yang memuat berita-berita hoax yang menggelitik dan memancing tawa pembaca. Berita-berita hoax tersebut tentunya sangat tidak serius dan hanya bertujuan untuk menghibur masyarakat, namun di sisi lain, mereka tetap meraup keuntungan, misalnya pendapatan dari iklan suatu produk karena viralnya berita yang mereka buat.

Berikut ini beberapa akun media sosial yang kerap mengunggah berita dan menyampaikan informasi yang tidak benar atau hoax dari sisi parodi yang tentunya sangat tidak serius dan menggelitik.

Liputan9

Akun Liputan9 merupakan akun parodi dari Liputan6 yang digagas oleh Federal Marcos dan diasuh oleh co founder Rahmat Saputra. Akun yang memiliki tagline kedaluwarsa, tumpul dan tidak dapat dipercaya ini dibentuk pada 14 Februari 2012. Latar belakang dibentuknya akun Liputan9 karena melihat peluang di mana saat itu belum banyak akun yang menyiarkan berita-berita parodi. Liputan9 hadir sebagai salah satu akun penyebar  berita parodi di sosial media. Tanggapan positif mereka terima dari masyarakat yang merasa terhibur, namun ada beberapa pihak yang kontra ketika membahas isu politik.

Selama lima tahun menggeluti akun Liputan9, tentu saja banyak sekali pengalaman dan suka duka yang tim Liputan9 rasakan diantaranya kebahagiaan karena mendapatkan keuntungan berupa invoice dari viralnya berita yang mereka buat serta iklan dari beberapa produk. Selain kisah bahagia, tentu terdapat pula kisah kurang menyenangkan, semisal, karya yang mereka buat diklaim oleh akun lain.

Berawal dari keisengan, kini, akun Liputan9 telah memiliki follower dalam jumlah fantastis, yaitu 868.000 pengikut di twitter, 9.000 pengikut di instagram dan 39.500 penyuka di LINE.

Contoh berita yang diunggah Liputan9:

“Perplocoan di dunia satwa, flamingo ini disetrap dengan mengangkat satu kaki.”

“Hormati bulan Ramadhan, Arsenal datang ke Indonesia dengan puasa gelar selama 8 tahun”.

“Harga bawang naik, Nia Ramadhani dan Revalina S. Temat sepi job”.

Rahmat Saputra, selaku co-founder liputan9, merasa sangat prihatin dengan banyaknya berita hoax yang beredar di media sosial dan dapat membuat orang lain saling membenci dan bermusuhan. Lebih disayangkan lagi, menurutnya, hoax menjadi bisnis menggiurkan bagi pihak tertentu. Meskipun ia juga memanfaatkan momen viralnya berita hoax, namun liputan9 tidak memprovokasi ataupun memberitakan kabar yang dapat meresahkan masyarakat. Berita-berita hoax yang diunggahnya, tak lain hanya bertujuan untuk menghibur masyarakat.

Berita Ngakak (@BeritaBodor)

Akun twitter Berita Ngakak (@BeritaBodor) dibuat pada 2011, setelah mengamati tren di kalangan anak muda. Seperti halnya Liputan9, akun Berita Ngakak pun menyajikan berita-berita parodi yang bertujuan menghibur pembaca, biasanya berita yang disiarkan berupa plesetan dari berita sungguhan.

Contoh berita yang diunggah Berita Ngakak di Twitter:

“Karena mata duitan, Tuan Crab ditangkap dan diperiksa KPK”

“Karena maraknya kebakaran akibat arus listrik hubungan pendek maka PLN akan merubah arus listrik jadi hubungan LDR.”

“Karena kebut-kebutan, jenazah di dalam mobil jenazah kini terbangun dan sopir mobil jenazah tersebut tewas karena terkena serangan jantung.”

Sampai saat ini, pengikut di akun twitter @BeritaBodor sebanyak 950.000 follower, sedang di instagram sebanyak 135.000 pengikut. Dengan followers sebanyak itu, bukan hal yang aneh jika mereka mendapatkan banyak sekali tawaran iklan dari berbagai produk. Dari situlah, mereka mendapatkan keuntungan.

Juno

Halo Adik Kelasku Sang Mahasiswa Baru, Semangat Ya!

Halo Adik Kelasku Sang Mahasiswa Baru, Semangat Ya!

Oleh: Johan FJR, Angkatan 7 saat ini berkuliah Universitas Gajah Mada jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK).

Tak pernah terbayang dalam hidupku, seorang perantauan di Bogor yang tinggal di asrama, ditolak kampus sekelas UI. Yap, aku dari dulu memang mengidamankan UI. Kampus yang punya segudang fasilitas, dan almamater serba kuning ini telah memikat hatiku. Aku dan Ahfie Rofi, sahabat Sunda-Cinaku, menargetkan UI dari berbagai seleksi masuk kampus yang ada. Terhitung sudah ada 3 jenis seleksi yang kami coba: SNMPTN, SBMPTN, dan SIMAK UI. Dan Alhamdulillah semua ditolak mentah-mentah sama kampus serba ‘wah’ itu. Entah kenapa kami yang memang sedari SMP sudah bersahabat, ternyata berlanjut sampai kuliah. Beruntung kami ditolak di UI, tapi masih diterima di UGM, dan masih bersama hehehe. Mungkin memang takdir persahabatan kami tak berlanjut di UI. Aku sudah mencoba segala cara agar bisa masuk UI. Di SNMPTN, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Arkeologi UI. Di SIMAK UI, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Kriminologi. Tapi takdirku justru hadir di pilihan kedua SBMPTN. Berbrda dengan Rofi yang selalu mencantumkan Sastra Arab (Sasbar) ditiap pilihannya.

***

Sore itu gerimis mengguyur Parung, gemericiknya runut membentuk notasi begitu menyentuh aspal. Aroma tanah basah menyeruak, hidung-hidung kami bisa dengan jelas merasakannya dan semburat sinar matahari berusaha menembus awan, memberikan secercah cahayanya untuk aku yang sedang menelpon ibu di balkon barat lantai 4. “Gantian woi!” Aku melangkah gontai, resah menunggu pengumuman SNMPTN. Tanganku meraih modul bimbel di atas lemari. Ya, ini buku ‘sakti’ terakhirku. Aku ogah keluar banyak cuma buat beli buku-buku SBMPTN seperti teman-teman yang lain, buku-buku itu pada akhirnya tak berguna karena aku lebih suka liat kunci jawaban langsung atau sekadar ke warnet buat menjajal simulasi daring UN, aku tak mau buang-buang uang. Keesokan harinya datang juga hari yang kutunggu, hari di mana pengumuman penerimaan via SNMPTN diumumkan. Seharusnya hasil SNMPTN sudah diumumkan pukul 09.00 WIB di TOA sekolah, tapi ternyata belum ada juga. Walau punya nilai rapor yang gak jelek-jelek amat, seuprit prestasi, juga rekam jejak yang gak neko-neko di sekolah, namun hari itu aku gusar. Aku membayangkan kalau aku diterima di UI lewat SNMPTN pasti mengasyikan sekali, membayangkan memakai jaket kuning saja membuat hati ini berdebar. Belum lagi kampusnya lengkap, berangkat kuliah bisa naik kereta, kalau ngekos dekat-dekat situ bisa berangkat kuliah naik sepeda, dan yang jelas bisa naik bis kuning yang hits itu. Aku sudah merencanakan apa saja yang mau aku lakukan di UI. Ikut lomba ini-itu, ikutan di BEM, nge-gym, tinggal di asrama, ngekos di Pocin, banyak! Bahkan aku juga sudah memutuskan kerja apa di Margonda nanti. Karena tak kunjung ada juga pengumuman lewat TOA, aku mengajak Rofi untuk bertanya langsung ke guru di ruang BK. Aku yakin, di sana guru BK kami pasti sedang mengotak-atik data.

Dari asrama lantai 4, kami melewati wisma guru di lantai 2, dan anak-anak yang sukanya menyaksikan ISL kalau sore di kantin lantai dasar. Asrama kami memang satu komplek dengan sekolah, dalam tiga menit sampailah kami di sekolah dan langsung berpapasan sama bu Ana dan bu Uci. “Assalamualaikum bu, hasilnya udah keluar belom?” “Udah, ini bentar lagi ibu mau umumin.” Aku sama Rofi mempersilakan bu Ana dan bu Uci masuk ke ruang TOA. Ding dang ding dung bunyi TOA yang kami kenal mulai mengudara. Ada suara berdehem, sejurus kemudian pengumuman pun terpampang nyata! “Assalamualaikum. Hari ini telah didapatkan 11 mahasiswa … blablabla … melalui jalur SNMPTN. Ustadzah ucapkan selamat kepada …” Jantungku deg-degan BANGET! Rofi menunduk sambil memasukkan tangannya ke saku jaket angkatan kami. Aku menahan napas, berusaha fokus mendengarkan pengumuman beliau. “ … Karunia Adiyuda Dilaga, diterima di blablablabla. Muhammad Zulkifli, diterima di blablablabla … ” Perasaanku mulai gak karuan ketika nama kedelapan disebutkan. Apakah nama kami ada di sana? “ … Yodie Ikhwana, diterima di blablablabla. Dan Juniar Tirja Pratama Gamgulu, diterima di blablablabla … ” … nama kesebelas pun terucap. Namaku gak ada. NAMAKU GAK ADA! NAMAKU GAK ADA! “NAMA AKU GAK ADA FI!” “GAK ADA!” “GAK ADAAAK!” Panik kugoyang-goyangkan bahu Rofi yang kecil. Tremor sudah! “NAMAKU JUGA!” ujar Rofi Nyesek dan bertanya-tanya, ‘Masa sih nama kami nggak ada?’ Kami berdua mengerubungi bu Ana, disusul beberapa anak yang baru datang dari asrama. Beliau memberikan selebaran lembar ketikan. Dan benar, nama kami tidak ada. Tanganku lemas sembari membalikan kertas tadi ke pangkuan bu Ana. Aku diam. Aku gak nyangka, kami berdua gak diterima lewat jalur undangan. Kami berdua pasrah. Hujan deras pun mengguyur kala itu.

***

Kami berdua melangkah lemas, mewek dikit, dan menghindari kerumunan massa. Kami menghindari tangga barat di mana anak-anak sedang nonton teve, takut banyak yang menanyakan kondisi kami akhirnya kami memutar ke tangga timur. Suara jeritan anak-anak yang diterima SNMPTN menggema sampai ke lantai dasar. Gemanya terus terngiang di pikiran kami berdua. NYESEK bro! Aku dan Rofi cuma duduk-duduk di tangga bawah. Merenung dan sedikit bersedih. Gak disangka ternyata kami berdua memang kurang memenuhi persyaratan SNMPTN. Aku sendiri menyadari kalau nilai Ekonomiku anjlok sejadi-jadinya. Tapi masih lebih beruntung dari Rofi yang anjlok sana-sini, hehehe. Rasanya nyesegh dan pengin maki-maki diri sendiri, ‘Kenapa ya aku gak belajar serajin-rajinnya, atau ibadah 24×7 gitu.’ Dalam kondisi ini, kayaknya aku jadi lebih dekat sama Tuhan, mencurahkan segala isi hati, segala gusar, dan berusaha menenangkan diri dengan baca Quran. Ya, aku yang sebelumnya lemas gegara tak lolos di SNMPTN, makin terpacu karena aku berpikir, “Tuhan mungkin gak memuluskan jalan aku lewat SNMPTN karena menurut-Nya, jalur itu terlalu mudah buat aku. Maka, Ia mencoba menguji kemampuan dan kesabaran aku melalui SBMPTN”.

***

Pada akhirnya kelas bimbel di sekolahku dimulai kembali kala itu. Di dalam kelas wajah-wajah lesu nampak mewarnai kelas yang dimulai pukul 6 dan berakhir jam 7 pagi tersebut, berulang kali guruku bilang, “Kalian sebenarnya jauh lebih beruntung, karena yang diterima di SNMPTN HARUS mengambil apa yang mereka pilih agar sekolah tidak di blacklist. Jadi, kalian yang lewat SBMPTN bisa memilih jurusan kalo cocok ato enggak”. Wah, iya juga. Misalnya si Udin memilih Keperawatan. Entah dia milihnya serius atau enggak, pastinya dia harus ambil dong biar sekolahnya nggak di blacklist kampus itu, hehehe. Aku pun jadi lebih bersemangat dan lebih serius untuk memilih jurusan yang kumau. Jujur, aku sendiri bingung BANGET untuk memilih jurusan apa. Terhitung ada ratusan jurusan yang tersedia di kampus. Ketika pembagian jurusan IPA-IPS, maka bisa dibilang berkuranglah jumlahnya. Tapi ketika SBMPTN hanya dikasih 3 kesempatan pilihan, aku kudu banting setir putar otak lompat-lompat sambil lirik-lirik jurusan mana yang prospeknya bagus (ke depannya), juga pastinya santai pas kuliah (#AkuBanget). Setelah melihat profil masing-masing jurusan, cek prospek kerja dan tanya ke alumni sana-sini, aku jatuh hati pada tiga pilihan besar berikut:
1. Ilmu Komunikasi UI Yap, aku suka banget sama dunia jurnalistik dan Ilmu Komunikasi. Menurutku keduanya memiliki keterkaitan dengan hobiku. Selain kampusnya yang udah jelas eksklusif dan kondusif, letak UI yang di Depok strategis buatku jika hendak melancong ke mana-mana: Jakarta, Bogor, Bandung bahkan Singapura. 2. Sosiatri UGM Aku gak tahu sebelumnya kalau jurusan yang getol banget memerhatikan masalah sosial, kebijakan pemerintah, dan dunia perpolitikan ini ternyata sudah berganti nama menjadi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan. Jurusan ajaib yang mempelajari 3 jurusan (Manajemen Kebijakan Publik, Sosiologi, dan Politik Pemerintahan) sekaligus ini ternyata mempunyai prospek cerah karena banyak perusahaan yang membutuhkan CSR dari lulusan ini. Dan, banyak yang langsung diterima usai wisuda dari sini, hehe. 3. Jurnalistik Unpad Jurnalistik Unpad menjadi jurusan cadangan kalau kalau aku gak diterima di Ilkom UI. Sayangnya aku gak diterima di jurusan yang baru dibuka pada 2015 ini. Tapi mengapa, toh tiap kampus pasti ada pers mahasiswanya (persma).

***

Setelah banting gayung untuk buru-buru mandi mengikuti bimbel pagi, tarik sarung setiap pukul 03.00 WIB, juga belajar sehidup-semati, Alhamdulillah aku diterima di Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) UGM. Yap, hidup baruku mulai diukir di kampus ini, kampus kerakyatan. Akan seperti apa? Aku juga tak tahu. Yang jelas untuk adik-adik kelasku jangan menyerah, belajar yang rajin kalau memang kalian ingin masuk ke jurusan favorit di kampus favorit. Yang jelas (lagi) mau SNMPTN atau SBNMPTN, kelak kamu akan jadi maba yang membawa nama SMART dikancah dunia perkuliahan, jaga baik-baik ya.

Duta Gemari Baca

Cerita Ramadanku di Duta Gemari Baca Batch 1

Cerita Ramadanku di Duta Gemari Baca Batch 1

Oleh: Vikram Makrif

Namaku Vikram makrif, aku merupakan alumni SMART Angkatan IX dan saat berkuliah di Universitas Diponegoro (Undip) jurusan Sastra Indonesia. Aku ingin menceritakan pengalaman perdanaku bertugas sebagai Duta Gemari Baca Batch 1 pada 2016 lalu. Sebelumnya aku tak pernah menyangka jika terpilih menjadi salah satu Duta Gemari Baca Batch 1. Aku tahu kalau tugasku tidak mudah karena aku harus berjuang mensosialisasikan pentingnya membaca pada masyarakat. Kala itu Ramadan, aku dan para Duta Gemari Baca lainnya membuka Pojok Baca Inspirasi di Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat. Itulah kali pertama aku turun lapangan untuk melaksanakan tugasku sebagai seorang Duta.

Duta Gemari Baca

Pukul 6 pagi kami sudah berangkat menuju lokasi, ternyata tidak terlalu jauh dari SMART, dan tepat pukul 9 pagi kami memulai acara, para Duta sedari pukul 07.00 WIB telah bersiap dan berdandan untuk menampilkan sebuah drama tentang pentingnya membaca, selesai persiapan akhirnya waktu kami tampil tiba juga.

Penampilan drama kami berlangsung dengan sangat baik, hal tersebut terlihat dari respon adik-adik  yang  memerhatikan dengan seksama dan tergelak karena melihat polah kami di atas panggung. Bahkan setelah penampilan  drama selesai ada anak yang ingin para Duta tampil lagi. “Kak, ada drama lagi tidak?” tanya salah satu peserta padaku. “Maaf ya dik sudah tak ada lagi,” jawabku dengan sedih. Walau kecewa namun mereka mengaku senang sekali dengan penampilan kami, Alhamdulillah.

Setelah penampilan drama, seluruh peserta menuju ke lapangan untuk bermain permainan literasi. Ada banyak jenis permainan yang disodorkan kepada anak-anak, mulai dari estafet tali, estafet bola, memindahkan gelas plastik menggunakan tali dan gelang karet, dan menyusun kalimat dengan mencari kata pada koran. Semua permainan dilakukan dengan tujuan agar kemampuan motorik mereka terasah dengan cara yang menyenangkan. Seluruh peserta juga para Duta mengikuti permainan dengan semangat, dan tak disangka permainan yang kami mainkan malah menambah pengetahuan literasi kami, sungguh pengalaman yang mengasyikkan.

Setelah istirahat dan makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan menggambar dan membuat origami untuk menghias Pojok Baca Inspirasi. Sebelum kegiatan menggambar dimulai, beberapa anak memintaku untuk bercerita. “Kak cerita dong!” pinta mereka.” Cerita apa?” tanyaku.”Cerita yang seram,” jawab mereka dengan semangat. “Cerita apa ya yang seram?” tanyaku sambil menggaruk kepala. “Itu saja kak, Conjuring!” teriak mereka. “Iya kak cerita Conjuring saja yang ke-2!”. Aku sempat berpikir namun akhirnya aku menjawab, ”Iya deh, kakak ceritakan ya,” jawabku lalu menegakkan punggung dan duduk bersila untuk bersiap menceritakan Conjuring 2.

“Di suatu malam terdengar suara perempuan dari dalam sebuah ruangan. Ruangan itu memiliki sebuah lukisan yang sangat besar. Yaitu lukisan seorang perempuan. Tiba-tiba sang pemilik rumah penasaran dengan suara yang berasal dari ruangan itu. Lalu ia mencoba untuk melihatnya. Namun tidak ada siapa-siapa,” jelasku kepada mereka yang sedari tadi memerhatikan dengan saksama. ”Tiba-tiba dari dalam lukisan terdengar KHAAAA,” teriakku sangat kencang. Sampai seluruh anak terkaget-kaget. ”Yaah kakak, jadi kaget kan,” keluh mereka. “Nah, bagaimana? Seram tidak ceritanya?” tanyaku pada mereka sambil tersenyum-senyum melihat mereka kaget. ”Tidak kak, cuma mengagetkan, lagipula aku lebih suka cerita di drama tadi karena lebih bermakna,” jawab salah satu peserta. Aku terdiam karena seharusnya memilih cerita yang lebih berfaedah hehe.

Setelah bercerita barulah acara menggambar dan membuat origami untuk menghias Pojok Baca Inspirasi dimulai. Kegiatan berlangsung hingga waktu Ashar tiba, maka kami segera berbenah merapikan buku dan menggantungkan gambar-gambar yang dibuat sendiri oleh mereka. Pojok Baca Inspirasi akhirnya rampung kami kerjakan, warga Pancoran Mas nampak bahagia karena sekarang ada perpustakaan di wilayah mereka, melihat senyum mereka membuatku makin yakin untuk menjadi duta yang lebih baik lagi.

Hari itu menjadi pengalaman yang sangat mengesankan bagiku dan juga para Duta Gemari Baca 2016. Aku jadi tak sabar membaca pengalaman para Duta Gemari Baca batch 4 (VM x AR)

***

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekahmu melalui nomor rekening: 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika.