,

SMART Bukan Penjara  

SMART Bukan Penjara

Oleh: Ahfie Rofi. Alumni SMART Angkatan 7. Saat Ini Berkuliah di Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab

 

Diujung tanduk!

Sisa waktuku di SMART kala itu tinggal hitungan hari. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….

Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?

Lalu apa kata Ustazah Dini, guruku, menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata,

 

“Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”

Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.

Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan adzan dzuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orangtua kami masing-masing.

Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.

Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART Ekselensia Indonesia dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.

Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.

Sekarang kami sudah besar. Sebentar lagi berpisah, yang artinya sudah hampir lima tahun kami bersama-sama. Syukurlah, sekarang tidak ada lagi “musuhan-musuhan” ala anak-anak. Ah, indahnya.

Mimpi Anak Marjinal
,

Jangan Sampai Kerlipmu Menghilang

Menghilang

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

 

Ada bunga
Pelan-pelan
Pudar wanginya
Pelan-pelan sekali
Hilang kerlipnya
Dengan hati-hati
Menuju mati

(Kamis, 2017)

,

Sudah Pagi Kawan

Sudah Pagi Kawan

Karya: Laksmana Khatulistiwa

Kala senja tiba
Waktunya menatap duka
Melupakan luka
Menurunkan senjata

Kala senja tiba
Mentari meredupkan sinarnya
Tanda dunia tlah sirna
Dari dunia yang fana

Kala senja tiba
Hari beranjak gelap
Mengajak untuk terlelap
Beranjak dari siap

Kala senja tiba
Cahaya meredup muram
Meninggalkan rasa suram
Hari tlah beranjak malam

Bila malam tiba
Muncul serdadu gerilya
Menciptakan bahaya
Menyiagakan semua

Bila malam tiba
Hati takkan tenang
Sulit berharap menang
Apalagi untuk bersenang

Bila malam tiba
Rasa takut meninggi
Seakan tak mau pergi
Hingga mulailah pagi

Sudah pagi
Mentari bersinar cerah
Memulai pertumpahan darah
Menuju ke satu arah

Sudah pagi
Waktunya merengkuh duka
Menerima luka
Waktunya mengangkat senjata

,

Cara Jitu Mengatasi Siswa Mogok Sekolah

Cara Jitu Mengatasi Siswa Mogok Sekolah

Oleh: Ari Kholis Fazari, Guru SMART Ekselensia Indonesia

 

 

Cerita ini tentang pengalaman saya selaku wali kelas di SMART Ekselensia Indonesia. Suatu pagi saya mendapat laporan dari wali asrama bahwa salah seorang siswa saya tidak mau sekolah.

“Penyebabnya apa, ya, Pak?” tanya saya pada wali asrama.

“Dia selalu ingat rumah, kampung halamannya. Dia selalu ingat ibunya.”

“Oh, begitu, ya, Pak.”

Selepas kerja, pada hari yang sama, saya ke asrama menemui siswa tersebut. Saya coba mengajaknya mengobrol.

Tapi, jawabannya hanya satu, yaitu diam seribu bahasa. Saya tahu ia tidak mungkin langsung percaya dengan saya sehingga ketika saya menemuinya, ia hanya diam. Akhirnya, saya pun pulang dengan tangan hampa.

Keesokan harinya saya mencoba lagi. Kali ini saya mencari tahu ke teman-teman guru yang dekat dengannya supaya saya bisa menggali banyak informasi. Dengan banyak mengetahui informasi tentangnya, saya bisa membantunya kembali bersemangat ke sekolah.

Hari itu juga ia masih dengan kondisi yang sama. Ia tidak mau sekolah, dan ingin pulang ke kampung halamannya tanpa alasan yang jelas. Saya pun tidak putus asa membujuknya untuk kembali ke sekolah.

Saya menggali lagi informasi ke beberapa guru yang bekerja lebih lama dari saya di SMART.

“Kenapa ya siswa saya itu tidak mau sekolah?” kembali saya mengajukan pertanyaaan yang sama.

“Hal yang wajar terjadi di sini, Taz. Itu adalah masa ia beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Wajar jika terjadi pada siswa kelas 1,” tukas salah seorang guru.

Jawaban dari rekan guru itu membuat saya bersemangat.

Hanya soal adaptasi. Tetapi, dalam hati saya bergemuruh: harus saya mulai dari mana mengatasinya?

Jangankan untuk kembali sekolah, mengajaknya mengobrol saja ia bergeming.

Sehari, dua hari, sampai satu minggu, belum ada cara yang tepat untuk mendekati anak ini. Tiba-tiba saya

teringat perkataan seorang teman bahwa segala sesuatu itu tergantung ridha orang tua kita. Jadi, dalam hal ini doa orangtua sangat berpengaruh pada kesuksesan anaknya.

Saya pun bertanya kembali ke salah seorang wali asrama. “Penyebab dia tidak mau sekolah apa ya, Pak?”

“Dia selalu ingat ibunya, Taz,” jawab seorang ustaz.

Mendengar jawaban itu, saya langsung berpikir, mungkin ketika ia berangkat ke SMART, ibunya belum sepenuhnya ridha melepas kepergian anaknya.

Saya pun langsung menghubungi ibunya. Kemudian saya, selaku wali kelas, menjelaskan persoalan anaknya di SMART.

“Bu, anak Ibu sudah beberapa minggu ini tidak mau sekolah.”

“Iya, Pak, saya juga sudah dapat informasi ini dari anak saya melalui telepon,” ibunya menjawab sambil terisak menahan tangis.

“Bu, dia tidak mau sekolah karena selalu ingat akan kampung halaman, dan dia selalu ingat Ibu.”

Sebelum berbicara dengan ibu anak itu, saya selalu berkonsultasi dengan guru Bimbingan Konseling (BK). Dari guru BK-lah saya mendapatkan data psikologis siswa tersebut, seperti hasil psikotes.

“Bu, cobalah untuk mengikhlaskan dia untuk sekolah di sini. Karena doa Ibulah yang bisa mengantarkan kesuksesan anak Ibu. Anak Ibu cerdas. Akan tetapi, semuanya tergantung Ibu, yang bisa Ibu lakukan sekarang berdoa, dan saya pun di sini berusaha semampu saya agar bisa membimbing putra Ibu.”

Ibunya pun menjawab, “Iya, Pak, memang salah saya juga, saya selalu ingat dia.”

“Nah, mungkin itu, Bu, yang menjadi penyebabnya. Jadi, mulai sekarang, coba Ibu relakan kepergiannya untuk sementara ini, dan berdoa untuk kesuksesan dirinya.”

“Baik, Pak, akan saya coba.”

Keesokan harinya saya pun berupaya kembali membujuk anak itu untuk bersekolah.

Siang itu, saya ke asrama ditemani guru BK. Sampai di asrama, kami mencarinya. Terlihat ia sedang menangis di sudut koridor asrama sambil memegang buku. Saya mendekatinya. Ia sebenarnya tahu kehadiran saya. Tapi, sepertinya ada penolakan dari dalam hatinya sehingga ia langsung diam sambil berpura-pura melihat bukunya.

Saya coba mengajaknya bicara, sekadar menanyakan kabar. Seperti biasa, ia hanya diam. Pandangan mata saya beralih ke bukunya. Buku yang dipegangnya buku Fisika.

Sepertinya ia sangat suka dengan pelajaran tersebut. Tiba- tiba saya mendapatkan ide.

“Lagi belajar apa, Dik?”

Ia tidak menjawab dengan lisannya, hanya menunjukkan bukunya dan bab yang sedang dipelajarinya.

Saya pun duduk di sebelahnya. “Kamu sangat suka pelajaran Fisika, ya, Dik?” Anak itu hanya mengangguk.

“Wah, hebat, ya, tapi sayang kalau kemampuan dan kesukaan kamu harus berhenti di sini.”

Dia pun menatap saya. Saya pun mencoba membuka diri.

“Saya juga lulusan Teknik, Dik, Teknik Elektro, tepatnya. Dasar dari beberapa kuliah teknik adalah Fisika.”

Dia masih menatap saya.

“Kamu asalnya dari mana?”

Saya sebenarnya tahu jawabannya, tapi sengaja mengajukan pertanyaan ini untuk melancarkan “aksi” berikutnya.

Benar! Ia akhirnya menjawab untuk pertama kalinya ke saya, “Saya dari Sumatera Barat, Pak.”

“Bukannya di Sumatera itu banyak sekali pertambangan?” Ia mengangguk.

“Wah, harusnya kamu bangga bisa sekolah di sini! Bakat kamu bisa tersalurkan. Setelah kamu selesai sekolah di sini, kamu bisa kuliah di Teknik karena sekolah ini membantu kamu sampai masuk kuliah. Kalau kamu memaksakan diri untuk pulang, apa kamu bisa sekolah seperti sekolah di sini? Guru-guru di sini sangat perhatian dan baik ke kamu.” Ia terdiam.

“Sekolah ini siap mengantarkan kamu ke tempat kuliah yang kamu inginkan. Apalagi di Sumatera banyak sekali pertambangan. Kamu bisa kuliah di Teknik Pertambangan, Teknik Geologi, atau Teknik Perminyakan karena dasar Fisika kamu bagus. Selepas kuliah, kamu bisa kembali ke rumah kamu, dan insya Allah posisi kamu ketika bekerja di sana akan lebih dihargai karena keahlianmu. Tetapi, kalau kamu berhenti di sini, dan kamu pulang, apa yang kamu dapat? Kamu tidak akan dapat apa-apa. Selepas sekolah, apakah kamu bisa kuliah? Apakah sekolah kamu akan sama dengan sekolah di sini, yang mencarikan siswanya beasiswa?” Ia masih bungkam.

“Cobalah pikirkan lagi, Dik, kamu punya kesempatan untuk sukses. Jangan disia-siakan.”

Ia tetap membisu, tidak sepatah kata pun keluar dari lisannya. Saya pun pamit padanya.

Saya terkejut bercampur senang. Anak itu tampak di sekolah bersama teman-temannya. Berminggu-minggu tidak mau sekolah, akhirnya ia kembali seperti anak-anak SMART. Ceria belajar dan bermain dengan teman temannya. Ia juga sudah tidak canggung lagi mengobrol dengan saya.

Saya tahu, ia anak yang cerdas. Terbukti, pelajaran yang ditinggalkan selama ia mogok sekolah mampu dikejarnya. Ia tidak lagi rapuh hanya karena merindukan keluarganya di rumah, terutama sang ibu.

Saya bersyukur atas perubahan yang dialaminya. Sesyukur saya mengenang kisah yang terjadi lima tahun silam pada Mitra Pargantian. Mitra tidak hanya membahagiakan kami di sini dengan kelulusannya di SMART, tetapi juga mewujudkan impiannya berkuliah di Teknik. Memilih untuk merantau menuntut ilmu di pulau seberang di Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. Sebuah jalan kesuksesan tengah dirintisnya, dengan tetap dibersamai ridha orang tuanya.

,

Tanda Tanya

Tanda Tanya

Puisi Kontemporer Oleh: Anggi Nur Cholis, Alumni SMART Angkatan IX

KAMU?

0 watt

1 watt

5 watt

20 watt

50 watt

100 watt -lampu

 

*penjelasan singkat: manusia itu ibarat lampu. Semakin besar energi dalam lampu semakin terang, bermanfaat, dan makin mahal harganya. Begitu pun manusia. Semakin besar energi posotof dalam diri sesorang semakin hebat, bermanfaat, dan makin dihargaioleh orang lain. Energi positif  itu bisa berupa apa saja. Mulai dari semangat, rasa empati, rasa menghormti, atau pun yang lainnya, asalkan energi itu berupa energi positif.

 

 

, ,

Aku Menemukanku di SMART

Aku Menemukanku di SMART

SMART? Apa itu SMART? Aku tidak tahu SMART itu apa, selain sebuah kata dalam bahasa Inggris yang artinya cerdas atau pintar.

Ini adalah kisahku, seorang perantau asal Medan yang ingin menjadi kebanggaan orang tua di Medan.

Oleh: Rizky Dwi Satrio, alumni SMART Angkatan XI berkuliah di Universitas Sebelas Maret.

Hari itu, saat aku kelas 6 SD, tepatnya pada semester 2, aku mendengar kata “SMART Ekselensia Indonesia” dari guruku. Guruku bertanya padaku, “Apakah Satrio mau sekolah di SMART?” Dalam hati aku malah bertanya, “SMART itu sekolah seperti apa?” Sebelum aku mengutarakannya, guruku langsung menjelaskan hal-hal terkait SMART Ekselensia. Guruku sepertinya sudah tahu kebingunganku.

Setelah mendengar semua penjelasannya, aku pun tahu bahwa SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah berasrama yang didirikan untuk anak berprestasi namun orang tuanya kurang dalam finansial, dibangun oleh Dompet Dhuafa, dananya berasal dari zakat, sedekah, infak, dan lain-lain. “Ini kesempatan untukku,” kataku dalam hati dengan sedikit merenung. “Gimana Satrio?” tanya guruku. “ Oh iya, Bu, saya sih mau, tapi belum tentu dengan orang tua saya.” “Ya sudah, ini formulir pendaftarannya. Jika ayahmu setuju, bilang pada Ibu.”

Waktu terasa sangat lama hari itu. Padahal, aku ingin segera memberitahukannya kepada Ayah. Aku terus melihat jam sekolah yang putarannya terasa lama. Tapi, aku baru ingat kalau Ayah sedang bekerja dan biasanya pulang pada waktu maghrib.

Di rumah, setelah pulang sekolah aku memutuskan untuk tidur siang, agar tidak terasa lama menunggu Ayah datang. Kebetulan hari itu aku tidak ada jadwal mengaji, jadi aku bisa tidur.

Akhirnya, setelah lama menunggu, Ayah datang juga. Wajar saja aku sangat ingin memberitahukan hal itu pada Ayah. Pasalnya, aku dan Ibu sudah tak serumah lagi. Aku tinggal bersama Ayah. Ayah dan Ibu sedang mengurus perceraian mereka. Aku sangat sedih melihat keadaan keluargaku, melihat keduanya bertengkar. Aku sering menangis saat berdoa karena memikirkan keadaan keluargaku.

Setelah Ayah selesai mandi dan salat, aku langsung mengatakan informasi di sekolah tadi. “Yah, Ayah setuju tidak kalau Rio sekolah di SMART di Bogor?” “Sekolahnya jelas atau tidak ?” Ayah langsung bertanya. “Rio juga kurang tahu, coba Ayah telepon guru Rio”.

Ayah langsung menelepon guruku. Setelah selesai berbincang, Ayah berkata padaku, “Rio, kalau tekadmu sudah kuat, silakan kamu sekolah di sana, kalau urusan seleksi Ayah yakin kamu pasti lulus”.

Mendengar perkataan tersebut, jantungku langsung berdegup kencang dan mataku berair. Perasaanku antara senang dan sedih, aku tidak menyangka Ayah akan berkata seperti itu.

Bila benar aku diterima, aku sedih karena akan berjauhan dengan keluarga dan teman-teman. Tapi, di sisi lain, hati kecilku berkata bahwa aku tenang dan jauh dari kesedihan yang dialami keluargaku yang mulai hancur. Dengan pergi ke Bogor, aku akan jauh dari masalah dan juga perceraian orangtuaku. Saat itu aku benar-benar sangat sedih. Sebisa mungkin aku ingin pergi jauh dari rumah.

Hari demi hari berlalu aku lewati dengan perkataan Ayah yang selalu teringat di benakku. Sampai-sampai aku berpikir, apakah ini jalan yang terbaik untukku? Saat aku memikirkannya, aku dengan segera menepis jauh pemikiran galau itu.

Detik, menit, dan jam terus berganti, dan saat itu yang aku lakukan hanyalah persiapan untuk seleksi masuk SMART.

Mulai dari menambah jam belajar, berdoa, hingga ikhtiar penunjang. Semunya aku lakukan agar aku bisa mengerjakan soal saat tes nanti. Setelah aku sangat lama menunggu hingga berganti bulan, akhirnya hari untuk seleksi pun tiba. Seleksi pertama adalah tes tulis. Pesertanya telah dilihat nilai rapornya terlebih dahulu; jika nilainya di atas rata-rata, ia pantas untuk tes tulis.

Tes tulis itu diadakan di tempat yang cukup jauh dari rumahku. Jadi, aku bersiap pergi ke sana setelah Salat Subuh. Aku berangkat bersama Ayah mengendarai becak. Ayah memang penarik becak. Walaupun begitu, aku tidak pernah malu, bahkan aku selalu bersyukur.

Setelah cukup lama berkendaraan, akhirnya kami sampai juga. Tempat tesnya sebuah kampus. Aku bersegera masuk ke ruangan tes dan langsung duduk. Aku juga sempat belajar sebelum tes dimulai. “Tes akan segera dimulai!” ucap seorang panitia.

Tes yang pertama adalah pelajaran kesukaanku, matematika. Soalnya cukup banyak dan ada gambar pizza di salah satu soal. Aku tak menemui banyak kesulitan pada soal-soalnya karena aku sangat suka matematika, dan soal-soalnya pun sudah pernah kupelajari.

Tes yang kedua adalah bahasa Indonesia. Kali ini tugasnya adalah mengarang dengan tema “Sekolahku Masa Depanku” sebanyak satu halaman kertas dobel folio. Aduh, aku belum ada inspirasi saat mengarang. Akhirnya aku memutuskan untuk meletakkan pulpen di atas meja dan duduk bersandar sambil mencari inspirasi. Alhamdulillah, inspirasiku datang pada saat 30 menit sebelum tes usai. Jadi, aku memutuskan untuk menulis dengan secepat-cepatnya. Aku pun selesai tepat waktu dengan karanganku yang berjudul “Dengan Sekolah Masa Depanku Terbentuk.”

Tes yang terakhir adalah pelajaran Pendidikan Agama Islam. Soalnya tidak susah dan bisa kujawab dengan baik walaupun aku belum belajar. Akhirnya tes tulis usai, aku pun bergegas pulang. Aku tidak menaiki becak Ayah seperti saat aku pergi namun menaiki angkot. Di perjalanan ada beberapa orang yang menertawaiku karena aku memakai seragam sekolah di hari Minggu.

Sekitar dua minggu kemudian, aku pun mendapat informasi bahwa aku lulus tes tulis. Aku pun cukup senang dan bersyukur. Sebelumnya aku sudah yakin bahwa aku akan lulus tes tahap satu ini. Beberapa hari setelah pengumuman itu, aku harus tes lagi. Tapi kali ini berupa psikotes. Aku tak tahu apa-apa mengenai psikotes, jadi aku memutuskan untuk tidak belajar apa pun.

Aku pergi bersama Ayah menaiki becak. Hari itu aku memakai baju seragam SD, tapi aku yakin takkan ada yang menertawaiku karena hari itu bukan Minggu. Setelah perjalanan yang cukup jauh dan lama, akhirnya kami pun sampai. Aku pun langsung memasuki ruang tes. Ternyata sisa peserta hanya tinggal tiga anak, salah satunya selain aku adalah siswa bernama Helmi (satu siswa lagi aku lupa namanya). Kami pun memulai tes tersebut. Tesnya cukup mudah karena seperti tebak-tebakan dan menguji kreativitas. Ada soal yang mengharuskanku untuk menggambar dan menghitung.

Setelah tes tersebut selesai, ada satu lagi yang harus kuikuti, yaitu wawancara. Mungkin wawancara ini salah satu bagian dari psikotes. Ketika giliranku diwawancarai, aku ditanya tentang latar belakang diriku

Sampailah pada pertanyaan yang membuatku sedih. “Hal apa yang paling membuat kamu sedih?” tanya si pewawancara. “Perceraian kedua orang tuaku,” jawabku dengan suara terisak. Aku pun tak bisa membendung air mata. Aku menangis dan menaruh kepala di atas meja. Aku terus menangis tanpa henti. Aku merasa itulah kejadian yang paling membuatku sedih dan tak bisa kulupakan selamanya. “Sudah jangan nangis lagi, sabar aja ya,” pewawancara itu menenangkanku.

Beberapa menit kemudian, wawancara pun selesai. Pulangnya aku diantar oleh Helmi dan ayahnya. Ternyata orang tua Helmi dan orang tuaku teman dekat. Di perjalanan mataku masih saja sembab karena aku menangis saat tes.

Aku lega karena rangkaian tes telah selesai. Hanya ada satu tahap lagi, yaitu home visit. Tapi, home visit tidak begitu melibatkan diriku. Benar saja, beberapa hari kemudian kunjungan ke rumahku dilaksanakan saat aku berada di sekolah.

Sekitar dua pekan setelah home visit dilaksanakan, aku mendapat SMS dari Ayah saat ia sedang bekerja. “Kamu lulus ke SMART”.

Alhamdulillah, ucapku dalam hati. Tidak lama kemudian, aku pun langsung sujud syukur atas kelulusanku. Sekarang aku sudah tak di SMART, sudah menjadi mahasiswa. Aku bersyukur Allah menakdirkanku untuk bersekolah di sini. Aku banyak mendapatkan pelajaran berharga di sini, aku mendapatkan teman dan keluarga baru, dan aku menemukan diriku. 

,

Serunya Hari Pertama Sekolah di SMART

Serunya Hari Pertama Sekolah di SMART

Siapa sangka kalau liburan 50 hari berlalu dengan sangat cepat, tiba-tiba saja hari ini kami sudah memasuki Hari Pertama Sekolah. Berbeda dengan Hari Pertama Sekolah di sekolah lain, di SMART Hari Pertama Sekolah kami habiskan dengan mengikuti kegiatan Outbond-nya SMART yang diikuti sekitar 230 siswa Sob. Kegiatan ini merupakan  cara SMART membangkitkan semangat belajar kami dan mengeratkan tali kekeluargaan diantara siswa, guru, dan pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan SMART.

Kegiatannya banyak sekali Sob, rata-rata dipenuhi tantangan yang mengasah kemampuan kami dalam memimpin dan membangun kerjasama tim, tentu saja hal ini sejalan dengan misi SMART untuk menciptakan pemimpin unggul di masa depan.

Di setiap sudut lapangan sekolah terlihat wajah-wajah ceria teman kami yang mengikuti ragam tantangan, namun ada juga yang khawatir tak dapat menyelesaikan tantangan dengan baik. Kalau sudah begitu guru kami akan menenangkan dengan berkata “jangan khawatir, anggap saja ini tantangan yang akan kalian hadapi nanti di masa depan”. Kalimat tersebut cukup membuat kami tenang sampai akhirnya mampu menyelesaikan misi dengan baik.

Oh iya sampai lupa kegiatan Outbond SMART diadakan di Lapangan Sepakbola SMART Sob. Kakak-kakak dari Concept Creation dan para guru memfasilitasi kegiatan yang berlangsung sedari pagi hingga sore ini dengan sangat baik. Alhamdulillah kegiatannya menyenangkan sekali dan membuat kami semakin siap menghadapi semester baru di tahun ajaran baru di pertengahan tahun 2019.

Ayo kamu juga semangat dong Sob, jangan sampai liburan terlalu lama membuat kamu mager hingga tak ada gairah untuk menggapai cita. Ingat masa depanmu kamu yang menentukan lho!

,

Pelan-Pelan Meredup

———–
Pelan-Pelan Meredup
———–

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

 

Ada bunga
Pelan-pelan
Pudar wanginya
Pelan-pelan sekali
Hilang kerlipnya
Dengan hati-hati
Menuju mati

 

,

Semangat Kami Tak Akan Pernah Terisolasi

Semangat Kami Tak Akan Pernah Terisolasi

Oleh: Miftahul Chairi (Alumni SMART Ekselensia Indonesia) Jumat itu azan subuh baru saja selesai dikumandangkan. Tapi, tidak seperti biasanya. Aku telah memakai seragam sekolah untuk Salat Subuh. Bukan cuma aku yang telah bersiap-siap, tapi semua siswa kelas 4 IPS SMART Ekselensia Indonesia juga sudah siap. Beberapa menit kemudian iqamah pun dikumandangkan. Aku langsung bergegas menuju masjid untuk menunaikan salat berjamaah di Masjid “Al-Insan”. Dalam balutan dinginnya subuh, aku tetap menghadapkan diriku ke hadapan-Nya. Aku pun mengikuti rangkaian Salat Subuh mulai dari takbiratul ihram sampai berakhirnya zikir. Setelah menyelesaikan semua tugasku di masjid, aku melanjutkan langkah ke lapangan apel. Dari kejauhan terlihat siswa kelas 4 IPS lainnya sedang menikmati sarapannya masing-masing. Aku terus menyusuri koridor sekolah yang diterangi oleh lampu. Sampai di keramaian tersebut, aku mengambil sarapan yang telah disediakan. Sarapan kali ini nasi goreng yang ditemani satu telur mata sapi dan dua buah nugget. Tanpa basa-basi, aku langsung menyantap sarapan tersebut. Perut yang tadinya kosong akhirnya terisi sebagai penambah kekuatan siang nanti. Setelah selesai makan, aku berjalan mendekati tong sampah untuk membuang kotak nasi yang telah kosong. Aku melihat ada sebuah motor yang memasuki gerbang sekolah. Sorotan cahaya lampu motor tersebut sangat menyilaukan sehingga aku tidak dapat melihat wajah sang pengendaranya. Setelah motor berhenti, barulah terlihat wajah pengendara tersebut walaupun tidak jelas karena matahari belum menampakkan wajahnya. Ternyata itu adalah ustazah yang diantar oleh suaminya. Dialah yang akan mendampingi kami kali ini menuju ke Desa Cibuyutan. Cibuyutan merupakan desa terisolasi di Jawa Barat, letaknya ada di Kecamatan Sukarasa, Kabupaten Bogor. Pukul 06.30 kami mulai memasukkan barang-barang yang akan dibawa ke tempat tujuan. Barang yang dibawa adalah nasi untuk makan siang, air minum, dan snack untuk persediaan di jalan. Setelah semua beres, kami pun berangkat dengan menggunakan dua mobil. Sekitar sepuluh menit setelah meninggalkan lingkungan sekolah, kami harus berhenti lagi untuk menjemput seorang ustaz. Kami menunggu selama kurang lebih 30 menit, setelah itu mobil melanjutkan perjalanannya kembali. Pada saat memasuki tol, aku merasa mengantuk. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tidurku semakin nyenyak, ditambah dengan segarnya udara pagi yang masuk melalui jendela yang sengaja kubiarkan terbuka. Kondisi jalan yang tidak rata membangunkanku dari tidur. Matahari telah sepenuhnya menampakkan dirinya, cahaya mentari mengintip dari sela-sela jendela mobil, cahayanya menyilaukan mataku. Tak terasa mobil telah melewati setengah dari perjalanan. Aku mencoba mengintip dari jendela mobil. Terlihat hamparan sawah yang luas terhampar di sekitar sisi jalan yang kami lewati. Setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya kami semakin dekat dengan tujuan. Justru pada saat itulah hal yang paling memusingkan bagi kami. Ustadz Ahmad dan Ustadzah Dini saling bergantian menanyai warga tentang jalan menuju Desa Cibuyutan. Setelah beberapa kali bolak-balik di jalan yang sama, akhirnya kami menemukan jalan yang menuju ke lokasi yang dicari-cari. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami beristirahat sebentar di sebuah masjid. Di masjid tersebut kami melepas penat selama 15 menit. Kemudian beberapa orang perwakilan dari kami melakukan survei jalan yang akan dilewati. Setelah mendapat laporan dari mereka yang melakukan survei, akhirnya kami menyusul mereka ke sana.

Kami harus berjalan kaki untuk masuk ke desa tersebut. Jalan yang kami lalui bukanlah jalan aspal, melainkan kumpulan batu yang disusun secara rapi selebar kira-kira 2,5 meter. Setelah berjalan kaki selama 30 menit, kami berkumpul pada sebuah pondok pesantren. Di pondok pesantren itulah kami melakukan makan siang dan Salat Jumat. Kami memilih untuk makan siang terlebih dahulu. Menu untuk makan siang adalah ayam goreng, sayur, dan saus sebagai teman dari nasi. Setelah menyelesaikan santap siang, kami melanjutkan kegiatan dengan Salat Jumat. Setelah menjalankan Salat Jumat, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Cibuyutan. Sebelum berangkat, kami melakukan briefing terlebih dahulu. Setelah semua siap, tibalah tantangan yang sebenarnya. Kami akan berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer. Jalannya pun menanjak dan lebarnya hanya satu meter dan hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua. Mungkin banyak yang iri pada Ustadzah Dini karena beliau pergi dengan menggunakan ojek. Aku berjalan berbarengan dengan Tan dan Kasman. Kami bertiga terus berjalan tanpa ada istirahat. Siswa lain banyak yang memilih beristirahat karena kecapekan. Kami bertiga terus berjalan tanpa henti. Jalan yang terbuat dari batu membuat kaki kami terasa sakit. Panasnya terik matahari terus menemani setiap langkah kaki kami. Jalan yang menanjak ditambah panasnya terik matahari membuat keringat kami mengalir dengan deras dan membasahi baju yang kami kenakan. Tan dan Kasman sempat membuka baju mereka karena kepanasan. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan segerombolan kerbau. Untungnya, kerbau-kerbau tersebut menghindar begitu melihat kami sehingga kami bisa melewatinya. Sementara itu, Ridhwan yang ada di belakang kami terlihat ketakutan melihat kerbau yang mulai lepas kendali. Di sepanjang perjalanan menuju Desa Cibuyutan, aku melihat pemandangan yang sangat indah. Ada hamparan sawah nun luas. Sejauh mata memandang, hanyalah hamparan sawah yang hijau. Kehidupan di sana terlihat masih sangat alami. Belum ada mesin untuk membajak sawah, tenaga kerbau masih menjadi sumber kekuatan untuk membajak sawah. Rumah-rumah yang kulihat juga masih sangat tradisional, kayu masih menjadi bahan dasar dalam pembuatan rumah warga. Kami terus menyusuri jalan yang hanya satu arah tersebut hingga kami dihadapkan pada tantangan baru. Ada dua cabang jalan yang harus kami pilih. Setelah melakukan perundingan, akhirnya kami memutuskan untuk memilih jalan yang kiri. Kami terus berjalan menyusuri jalan tersebut hingga kami menemukan sebuah rumah warga setempat. Dari kejauhan telah terlihat banyak atap-atap rumah yang mengintip dari balik pepohonan yang rindang. Setelah sekian lama berjalan, akhirnya kami mulai memasuki Desa Cibuyutan. Setelah berhasil menemukan sekolah yang dimaksud, kami belum melihat tanda-tanda keberadaan pendamping kami tersebut. Kami terlihat seperti orang yang tak tahu arah tujuan, dan kami memutuskan untuk duduk di sebuah bangku yang terdapat di depan sekolah tersebut. Tak lama kemudian datanglah Zuhhad menghampiri kami dengan wajah yang kelelahan, dan sekarang kami terlihat seperti lima orang siswa yang kebingungan. Setelah mengobrol cukup lama di bangku tersebut, Genta mulai frustrasi dan memilih untuk meninggalkan kami berempat. Tak berselang lama setelah Genta meninggalkan kami, terdengar suara yang memanggil kami dari arah belakang. Setelah kami menoleh ke belakang, ternyata itu adalah suara pendamping kami yang dari tadi kami diajak bermain petak umpat. Ustazah kami mempersilakan kami untuk beristirahat di salah satu ruang sekolah tersebut. Pada saat kami mau memasuki ruangan sekolah tersebut, terlihat seseorang sedang berlari ke arah kami. Ternyata Genta yang tadi meninggalkan kami. Di sekolah tersebut, kami menunggu kedatangan rombongan kami yang lainnya. Setelah semua anggota rombongan lengkap, kami di ajak untuk mengunjungi rumah Pak RT Desa Cibuyutan oleh salah seorang guru di sekolah tersebut. Beliau jugalah yang tadi menyambut kami di sekolah dan menyiapkan minuman. Sampai di rumah Pak RT, kami disambut hangat oleh beliau dan warga desa.

Setelah mendapatkan izin dari Pak RT, barulah kami melaksanakan tugas kami. Kami datang ke desa ini bukan tanpa ada tujuan. Tujuan kami adalah untuk survei lapangan. Bukan hanya itu, kami juga mendapat tugas dari mata pelajaran sosiologi untuk mewawancarai beberapa warga tentang unsur-unsur kebudayaan yang ada di desa tersebut. Sebelumnya kami telah dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan tugas ini. Hasil dari wawancara akan kami buat dalam bentuk makalah. Setelah diberi aba-aba, barulah kami berpencar ke semua sudut desa untuk mencari narasumber yang akan diwawancarai. Setelah berkeliling desa, akhirnya aku dan anggota kelompokku memutuskan untuk menanyai salah seorang ibu yang sedang duduk di teras rumahnya. Sesi wawancara berjalan dengan lancar. Aku dan beberapa kelompok lain yang telah menyelesaikan tugasnya segera berkumpul kembali ke tempat awal. Di sana terlihat ustaz kami sedang asyik makan durian pemberian warga yang baru saja selesai memanennya. Kami pun juga mendapat bagian dalam menyantap buah yang baunya menggoda itu. Setelah semua kelompok berkumpul, kami mengambil beberapa foto untuk dokumentasi sebagai bukti laporan ke sekolah. Selanjutnya kami kembali ke sekolah tadi untuk melaksanakan Salat Ashar. Setelah salat, kami mengambil beberapa foto lagi di depan sekolah tersebut bersama dengan Pak RT dan juga guru yang mengajar di sana. Setelah selesai sesi foto-foto, kami berpamitan pulang kepada Pak RT dan mulai berjalan kembali melewati jalan yang telah membuat kaki kami pegal-pegal. Walaupun tubuh sangat capek, kami senang bisa bersilaturahim dengan orang-orang yang masih bisa bertahan hidup dalam keterisolasian. Kami juga bisa memetik beberapa hikmah dari kunjungan kali ini. Salah satunya adalah kami harus bersyukur karena masih bisa menikmati cahaya lampu di dalam gelapnya malam. Masih bisa menikmati segarnya air dalam jumlah yang banyak, padahal bagi warga Desa Cibuyutan air itu barang berharga yang susah didapatkan. Setelah selesai dengan semua kegiatan di Desa Cibuyutan, kami segera memasuki mobil dan bersiap-siap untuk kembali ke sekolah. Dalam perjalanan pulang, langit mulai mendung dan meneteskan air dari langit. Hujan mulai membasahi bumi yang makin lama makin deras. Hari mulai gelap, matahari mulai menyembunyikan wajahnya. Akhirnya malam pun tiba, kami masih terus melanjutkan perjalanan dengan keadaan jalan yang becek karena hujan.  
,

Bakat Ngemsiku Tumbuh Berkat SMART!

Bakat Ngemsiku Tumbuh Berkat SMART!

Oleh: Rizki Idsam Matura alumni Angkatan 4 Nama saya Rizki Idsam Matura. Kata ‘matura’ dalam nama saya bukanlah nama marga atau nama keluarga, melainkan sebuah singkatan yang menurut penuturan Ibu adalah “Menyumbangkan Tenaga Untuk Rakyat”. Sebuah singkatan yang sangat berat untuk dipikul oleh seorang anak kampung yang sekadar bermimpi ke kota pun tak berani. Hingga suatu ketika mau atau tidak mau saya harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Suatu hari, ketika asyik bermain kelereng, saya dipanggil Abang. Dia menanyakan apakah saya ingin melanjutkan pendidikan di luar Lampung. Sontak saya kaget. Bermalam semalam di rumah teman saja saya tidak berani, apalagi untuk tinggal dalam waktu lama di lingkungan yang tidak saya kenal.

Saya pun bertanya terlebih dahulu kepada Ibu, apakah saya diizinkan untuk pergi dan apakah saya kira-kira kuat untuk hidup tanpa didampingi keluarga. Dengan tenang, Ibu mengatakan kalau saya diizinkan. Beliau juga memberikan kepada saya kekuatan untuk berani merantau. Akhirnya dengan semangat menggebu-gebu saya mengiyakan ajakan Abang saya untuk sekolah di Jawa.

Tidak seperti yang saya perkirakan, seleksi untuk menjadi bagian dari sekolah itu sangat sulit. Selain itu, banyak peserta yang menjadi saingan saya. Seleksi awal yang dilakukan adalah seleksi administratif. Tanpa piagam, tanpa sertifikat, dan tanpa nilai yang menonjol, saya memberanikan diri untuk mengikuti seleksi awal. Satu-satunya kebanggaan saya adalah selalu menjadi tiga besar di kelas.

Alhamdulillah, saya berhasil lolos dalam tahap awal dan siap mengikuti seleksi bidang studi yang diadakan di Ibu Kota. Dalam seleksi inilah saya baru mengenal nama sekolahnya, yaitu SMART Ekselensia Indonesia. Ternyata, setelah bertanya lebih lanjut, saya mengetahui bahwa sekolah ini merupakan salah satu jejaring dari Dompet Dhuafa. Sebelum mengenal SMART, saya terlebih dahulu mengenal Dompet Dhuafa dari programnya yang ada di kabupaten saya, yaitu Kampung Ternak.

Setelah lolos tes bidang studi dan seleksi-seleksi tahap selanjutnya, saya diterima menjadi salah satu bagian dari Siswa SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4. Kelulusan saya ini menjadi cerita tersendiri di desa saya. Betapa tidak, dalam pengumuman tersebut disampaikan pula bahwa saya beserta teman-teman yang terpilih dari Lampung akan pergi dengan menggunakan pesawat.

Sehari sebelum keberangkatan saya, tepatnya pada malam harinya, di rumah saya diadakan syukuran untuk melepas kepergian saya. Dalam acara itu pula tetangga dan kerabat menitipkan nasihat-nasihat untuk saya ketika sudah hidup negeri orang.

Di SMART kami diizinkan untuk mengikuti berbagai ekstrakurikuler untuk menunjang kemampuan non-akademik kami. Ekskul yang saya ikuti adalah English Club, yaitu wadah bagi para siswa SMART yang tertarik untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Selain mempelajari teori-teori dalam kelas, kami juga sering mengetes kemampuan berbahasa Inggris kami dengan orang asing. Caranya? Bule hunting ke tempat-tempat wisata yang banyak dikunjungi turis asing.

Pengalaman bule hunting pertama yang saya ikuti bertempat di Monumen Nasional. Pada kesempatan itu, kami mencari sebanyak-banyaknya turis asing untuk diajak mengobrol. Karena kemampuan berbahasa Inggris saya saat itu tidak terlalu baik, saya lebih sering menjadi pendengar ketika teman-teman saya bertanya kepada bule-bule itu.

Selain sebagai ajang mempraktikkan secara langsung kemampuan berbahasa Inggris, bule hunting merupakan salah satu media kami untuk refreshing mencari udara segar di luar asrama. Maklum, kami hanya diizinkan keluar seminggu sekali. Walaupun begitu, kami tidak serta-merta memanfaatkan aktivitas ini untuk bersenang-senang tak bertanggung jawab karena kami diwajibkan membuat laporan kegiatan (dalam bahasa Inggris tentunya) dan menyerahkan kepada penanggung jawab ekstrakurikuler ini.

Selain bule hunting, sesekali kami menjadi narasumber di RRI Pro 2 Bogor dalam program English Service Programme yang merupakan program kerja sama dengan Dompet Dhuafa Pendidikan. Materi yang dibawakan tidak jauh dari kehidupan kami sebagai anak asrama, seperti suka atau duka menjadi anak asrama. Sesuai namanya, tentu saja kami harus menjawab pertanyaan pembawa acara dengan menggunakan bahasa Inggris. Untuk menghindari kesalahan-kesalahan pada saat menjawab pertanyaan, kami melakukan briefing terlebih dahulu dengan pembawa acara.

Baik ketika kami mendengar program ini atau saat kami menjadi pembicaranya, kemampuan berbahasa Inggris kami sedikit demi sedikit meningkat. Seiring dengan peningkatan kemampuan berbahasa Inggris kami, kami dipercaya untuk menjadi penanggung jawab dalam acara-acara berbahasa Inggris yang diadakan sekolah. Seperti pada saat penyelenggaraan Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA), saya dipercaya untuk menjadi Koordinator lomba story telling. Atau ketika rombongan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris se-Indonesia di bawah Kementerian Agama datang ke sekolah kami, saya dan teman saya di English Club dipercaya menjadi MC di hadapan orang-orang yang sudah pasti mahir berbahasa Inggris. Grogi? Pasti. Tapi kami berusaha menampilkan yang terbaik sebagai tuan rumah. Hasilnya, kami diapresiasi oleh peserta.

Hal yang paling berkesan selama saya menjadi salah satu anggota English Club adalah ketika kami kedatangan tamu dari Negeri Ginseng, Korea Selatan, tepatnya dari sekolah-sekolah di Pulau Jeju. Mereka tergabung dalam Korea Youth Volunteer Programme. Ada dua tim yang dikirim dalam program ini, satu ke Garut dan satu lagi ke Bogor atau tepatnya ke SMART. Beruntungnya, karena sudah sering diberi tanggung jawab untuk menjadi MC dalam kegiatan berbahasa Inggris, saya dan teman saya kembali diberi kepercayaan untuk menjadi MC pada pembukaan dan penutupan program ini.

Pengalaman menjadi MC pada program ini merupakan pengalaman baru bagi saya, terlebih lagi secara tidak langsung saya membawa nama negara. Untuk itu, saya membutuhkan waktu berhari-hari demi mempersiapkan diri. Mulai dari pemilihan kostum, pembuatan run down acara, bahkan kami sempat dilatih Bahasa Korea demi suksesnya acara.

Pada pelaksanaannya, saya tidak hanya berperan sebagai MC yang membuka dan menutup acara, tetapi ikut serta pada program kerelawanan yang mereka lakukan. Selama pelaksanaan program tersebut, kami tidak hanya memperkenalkan dan mengajarkan budaya yang ada di Indonesia, tetapi juga sharing kebudayaan Korea dan Indonesia.