Wah Ini Dia Kenyamanan HQQ yang Patut Milenials Tahu

 

Sejak angkatan pertama hingga angkatan lima belas ada sebuah kegiatan yang membuat kami selalu merasa nyaman berada di SMART. Bukan hanya nyaman, tapi juga ada perasaan tenang yang menyusup diantara penatnya pikiran kami akan banyaknya pelajaran yang haus akan perhatian.

“Lalu kegiatan apakah itu?” nah kamu sudah mulai penasaran deh, kami menyebutnya SMART Ma’tsurat. SMART Ma’tsurat merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap Selasa, Rabu, dan Jumat lepas Salat Asar. Semua siswa wajib mengikuti kegiatan ini, tak ada kecuali. Kami yang berjumlah 240 orang berkumpul di Masjid Al-Insan, satu orang memimpin dan memandu kami selama Al-Ma’tsurat dibacakan, sisanya mengikuti.

Selama kurang lebih tiga puluh menit kami bersama-sama membaca Ma’tsurat dengan khidmat dan penuh kesyahduan. Suasana sangat tenang, damai, dan penuh kesejukan. Suara kami menggema ke seantero area masjid, tak jarang hingga membuat mereka yang lalu lalang berhenti untuk turut serta.

“SMART Ma’tsurat merupakan kegiatan yang selalu kutunggu, karena aku bisa membaca Ma’tsurat bersama teman-tema sekelasku dan kakak kelas yang lain,” ujar Dimas, kelas V. “Kebersamaannya yang membuatku kangen,” tambahnya.

Tapi tahukah kamu kalau membaca Al-Ma’tsurat memiliki beberapa keutamaan yang baik untukmu, antara lain:

  • Diriwayatkan dari Sya’bi dari Ibnu Mas’ud: “Siapa yang membaca 10 ayat dari surat Al-Baqarah di rumah, setan tidak masuk ke rumah tersebut malam itu hingga pagi hari, empat ayat yang pertama, ayat kursi, dan dua ayat setelahnya, dan penutupnya ( tiga ayat terakhir). (HR.Thabrani )
  • Dari Abdullah bin Hubaib berkata rasulullah saw bersabda kepadaku, “bacalah Qul huwallahu ahad’, dan mu’awwadzataini (qul a’udzubirabbil falaq.. dan qul a’udzubirabbinnas.. ketika pagi dan sore tiga kali, cukup untukmu segala sesuatu’. (HR.abu Dawud dan Turmudzi)
  • Keutamaan membaca Al-Ma’tsurt lainnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan Dari Ibnu Abbas ra. Berkata, Rasulullah saw. bersabda, “siapa yang mengucapkan ketika pagi hari, ‘Allahumma inni asbahtu minka fi ni’matin’ tiga kali ketika pagi hari dan tiga kali ketika sore, Allah menyempurnakan nikmatnya atasnya” (HR.Ibnu Saunni)
  • Dari Abdullah bin Ghannam Al-Bayadhi, sesungguhnya Rasulullah saw., bersabda,” Siapa yang membaca ketika pagi ‘Allahumma maa ashbaha bii min ni’matin au bi ahadin min khalkika falakal hamdu walakasyukr’ sungguh telah menunaikan syukur hari itu, dan siapa yang membaca pada sore hari, sungguh telah menunaikan syukur malamnya”.  (HR.Abu Dawud)
  • Dari Tsauban, berkata Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa yang mengucapkan ketika sore hari “radhitu billahi rabba wabil islami diina wabi muhammadin nabiyyah adalah hak atas Allah untuk menjadikan dia ridha”. ( HR.Turmudzi)
  • Ibnu Abbas berkata Rasulullah saw. Keluar dari (menemui) Juwairiyyah, dan dia berada di mushalanya dan beliau kembali sedang Juwairiyyah masih di mushallanya. Lantas Rasulullah bersabda, ”Engkau tak henti-hentinya di mushollamu ini“. Dia menjawab, “ya beliau bersabda “sungguh aku telah mengucapkan empat kalimat tiga kali kalau ditimbang dengan apa yang engkau katakan niscaya lebih berat dari yang engkau ucapkan,” ” Subhanallahu wabihamdihi ‘adada kholqihi”(HR.Muslim).
  • Dari Utsman bin Affan ra. Berkata, Rasulullah bersabda, ”Tidak ada seorang hamba membaca pada pagi hari setiap hari dan pada sore hari setiap malam, “Bismillaahi lladzi laa yadzurru m’asmihi syai’un……’ tiga kali maka tidak ada satu pun yang membahayakannya”. (HR.Abu dawud dan Turmudzi).
  • Dari Abi Sa’id Al-Khudri berkata, beliau bersabda,”Katakanlah jika engkau masuk pagi dan di sore hari “Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazani, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali” Ia berkata,” maka aku lakukan hal itu lantas Allah menghilangkan kesusahanku dan menunaikan utangnya”. (HR.Abu Dawud).
  • Dari Abdurrohman bin Abi Bakrah dia berkata kepada bapaknya, ”wahai bapakku, sungguh aku mendengar engkau berdoa setiap pagi: ‘ Allahumma ‘aafini fi badani ….’engkau ulang tiga kali setiap pagi dan sore, dan engkau juga mengucapkan ‘ Allahumma inni a’udzubika minal kufri wal faqri…’ engkau ulang tiga kali tiap pagi dan sore. ‘ dia berkata. ”Ya wahai anakku, aku mendengar Nabi Muhammad saw. berdoa dengannya dan aku ingin mengikuti sunnahnya”. (HR.Abu Dawud, Ahmad, dan Nasai).
  • Dari Nabi saw, “penghulu istighfar adalah Allahumma anta rabbi ’barangsiapa membacanya di siang hari yakin dengannya, kemudian mati hari itu sebelum sore hari maka dia termasuk ahli surga, dan siapa yang membaca pada malam hari yakin dengannya lalu ia mati sebelum pagi hari, maka dia termasuk ahli surga”. (HR.Bukhari)
  • Dari Abu Ayyasy, sesungguhnya Rasulullah Saw, bersabda, ‘siapa yang mengucapkan ketika pagi hari ‘Laa ilaaha illallah….adalah baginya sebanding memerdekakan budak dari putra Isma’il, ditulis untuknya sepuluh kebaikan, dihapus sepuluh kesalahan, diangkat sepuluh derajat, dan dia dalam penjagaan dari setan hingga sore, dan jika ia baca ketika masuk sore maka baginya seperti itu pula (HR.Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Hibban).

Waaah ternyata banyak sekali ya keutamaan membaca Al-Ma’tsurat, kami jadi semakin semangat mengikuti SMART Ma’Tsurat, selain mendamaikan juga banyak kebaikannya. Yuk kita biasakan membaca Al-Ma’tsurat agar Allah meridhoi semua hajat yang ingin kita lakukan. (AR)

Aku Bukan Kamu

Karya : Reza Bagus Yustriawan
SMART Angkatan 9 Berkuliah di UGM Jurusan Sosiatri

Aku
bukan kamu
apalagi dia
aku ya aku
bukan juga balapan kuda

Kamu
bukan aku
apalagi dia
kamu ya kamu
iya kamu

Aku ini bukan binatang
apalagi belalang
walaupun ada parang
bisa dikalahin sama benang
biar pulang
nggak bilang-bilang

Biar panah menusuk dadaku
aku tetap maju
terus menerjang
biarlah sampe pop es-ku tumpeh-tumpeh
dan aku lebih tidak peduli
aku mau tidur seribu tahun lagi

Asal Yakin Semua Hal Bisa Kamu Raih Sob!

 

 

“Berawal dari sebuah mimpi yang dituliskan di sebuah kertas ketika masih menjadi maba, dan kini mimpi tersebut nyata adanya dan gelar Mahasiswa Berprestasi Fakultas Bahasa dan Seni 2019 itu pun dinobatkan padanya”.

 

 

Halo Sob! Perkenalkan nama saya Muhammad Ikrom Azzam, saya  lahir di Jakarta pada 02 April 2000, anak pertama dari empat bersaudara. Saya adalah alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX. Dua tahun yang lalu, pada saat mengikuti masa pengenalan akademik sebagai mahasiswa baru Universitas Negeri Jakarta (UNJ), saya pernah menuliskan sebuah impian di sebuah kertas. Ketika itu, panitia meminta untuk menuliskan tiga impian sebelum resmi menjadi mahasiswa di UNJ. Tak banyak berpikir panjang, saat itu segera saja saya tuliskan impian yang ingin dicapai dari dahulu, yakni: Selama kuliah ingin sekali rasanya bisa keluar negeri naik pesawat, ingin memenangkan berbagai macam perlombaan antar universitas dan menjadi Mahasiswa Berprestasi UNJ. Impian yang agak mustahil sebenarnya bisa saya capai pada saat itu, tapi tekad kuat membuat saya ingin merealisasikan impian tersebut. Alhasil dengan beraninya saya menempelkan kertas impian tersebut di lemari buku asrama.

 

 

Awal perjuangan belajar di kehidupan perkuliahan dimulai ketika masuk semester pertama, kesan manis dan pahit terhampar di masa ini. Awalnya merasa kewalahan dengan pembelajaran yang saya ikuti di perkuliahan karena merasa salah jurusan semakin menguat tiap harinya. Terlebih lagi karena memang dasar pelajaran yang belum banyak di bidang bahasa Arab membuat saya seringkali kesulitan. Tapi komitmen membuat saya terus berusaha, meskipun berat akan saya hadapi dengan kemampuan terbaik. Yang terpenting sudah berani mencoba.

 

 

Kesulitan pembelajaran selama kuliah pernah membuat hampir putus asa dan memutuskan mengubur jauh-jauh tiga mimpi di atas. Tapi rasa-rasanya akan sangat sayang sekali jika saya harus berhenti dan kerja keras yang sudah saya lakukan sampai saat ini, beasiswa demi beasiswa yang saya dapatkan sejak SMP hingga kuliah saat ini tak sepatutnya  manfaatnya berhenti hanya untuk saya, tapi sudah seharusnya terus dilanjutkan manfaatnya ke banyak oranglah yang memacu semangat saya untuk terus berusaha, belajar, dan bekerja keras untuk menggapai semua mimpi-mimpi saya. Pada saat semester dua, entah kenapa rasa optimis untuk tetap berjuang dan berprestasi kembali semakin memuncak. Karena itulah saya mulai mengikuti beragam perlombaan di beberapa PTS dan PTN di wilayah Jabodetabek, nasional, dan memberanikan diri untuk mengikuti perlombaan internasional.

 

 

Selama proses mengikuti dan memenangi berbagai perlombaan di bidang public speaking, literasi, dan penelitian Ilmiah selama semester dua dan semester tiga berkuliah di UNJ. Alhamdulillah semua prestasi saya mampu mengantarkan menjadi peserta termuda pada seleksi pemilihan Mahasiswa Berprestasi di UNJ pada 2019. Tak ada yang menyangka memang, mahasiswa semester tiga yang sebenarnya agak salah jurusan kuliah ini karena dasar bahasa Arabnya yang belum banyak dibandingkan mahasiswa pendidikan bahasa Arab UNJ lainnya mampu diamanahkan untuk mewakili prodi ke tingkat fakultas dan universitas sebagai mahasiswa berprestasi. Bukan sebuah undian berhadiah saya bisa terpilih menjadi Perwakilan Prodi Pendidikan Bahasa Arab maju pada pemilihan mahasiswa berprestasi karena pada saat itu syarat utamanya adalah harus punya IPK sementara di atas 3,5 dan Alhamdulillahnya IPK sementara saya dari semester 1-3 masuk syarat kualifikasi tersebut yakni 3,65 dan memiliki poin lebih karena punya 9 prestasi individu tingkat nasional, 1 prestasi kelompok tingkat nasional, dan 2 prestasi Internasional selama berkuliah dari semester 1-3 kuliah di UNJ.

 

 

Dalam pemilihan mahasiswa berprestasi, saya harus sering berlatih dan mempersiapkan mental karena aspek yang diujikan dalam pemilihan mahasiswa berprestasi meliputi kemampuan bahasa Inggris, kemampuan komunikasi, nilai IPK yang setinggi mungkin (rata-rata IPK di atas 3,5), memiliki karya ilmiah yang solutif, memiliki kepribadian yang baik dan lolos tahap wawancara psikologi. Saya selalu menekankan pada diri bahwa kalah menang itu biasa, yang penting ialah tetap semangat. Setiap mengikuti seleksi menjadi mahasiswa berprestasi di UNJ, saya selalu menyempatkan diri berdoa, berharap menjadi yang terbaik, dan tak lupa meminta restu orangtua. Meskipun saya pada saat itu masih semester tiga, dan harus bersaing dengan kakak kelas saya dari jurusan lainnya di Fakultas Bahasa dan Seni tak membuat gentar karena saya percaya bisa mengejar cita-cita selama kuliah sesuai impian di kertas lemari saya sebagai pemacu agar terus menampilkan yang terbaik. Alhamdulillah, “Kun FA Yakun” Allah menakdirkan saya menjadi Juara dua Mahasiswa Berprestasi Fakultas Bahasa dan Seni di UNJ setelah melewati proses seleksi di Grand Final Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Fakultas Bahasa dan Seni 2019 secara ketat dan kompetitif. Tangis haru dan sujud syukur saya panjatkan Kepada Allah Swt. di depan panggung pada saat prosesi pembagian hadiah pemilihan mahasiswa berprestasi, sungguh terharu karena mampu merealisasikan mimpi yang di catatan kala itu, tak sia-sia usaha keras pada awal menjadi mahasiswa baru. Meskipun pada awalnya tidak ada yang pernah percaya bahwa mahasiswa semester 3 tanpa dasar pelajaran Bahasa Arab dan sering mengira kalau ia salah masuk jurusan kuliah namun dengan semangat dan tekad ia mampu melawan semua keterbatasan.

 

 

Terima kasih atas segala doa, dan dukungan yang diberikan terkhusus untuk orang tua, para donatur, ustaz ustazah SMART Ekselensia Indonesia, dan para dosen di UNJ sehingga gelar dan kepercayaan menjadi Mahasiswa Berprestasi ini mampu saya raih dan semoga bisa jadi motivasi bagi adik-adik kelas dan kamu semua ya Sob supaya berani menuliskan mimpi dan berusaha melawan semua keterbatasan dengan tekad dan keyakinan yang besar bahwa kita mampu meraih segala mimpi yang kita harapkan. Aaamin. Semangat Berprestasi!

 

Belajar Sambil Maksimalkan Potensi di SMART Edutrip 2023

Setelah tiga tahun terbentur pandemi, akhirnya SMART Ekselensia Indonesia bisa memboyong seluruh siswanya ke Bandung guna mengikuti SMART Edutrip 2023 bertajuk Belajar dari Lingkungan.

Selama dua hari, Rabu dan Kamis (11 & 12 Januari), para siswa diajak melakukan proses  pembelajaran di luar kelas di tiga lokasi yakni Museum Geologi Bandung, Saung Angklung Udjo, dan Wana Wisata Ranca Upas.

Di Museum Geologi Bandung para siswa belajar sejarah pembentukan lempeng bumi, dampak bencana, bebatuan mulia, hingga mengenal binatang dan manusia purba.

Di Saung Angklung Udjo mereka dikenalkan kekayaan budaya pasundan, melihat lakon wayang golek dan penampilan dari warga Saung Angklung Udjo, dan belajar memainkan angklung.

Diharapkan Edutrip 2023 membuat siswa lebih giat belajar dan semakin semangat memaksimalkan potensi diri. (AR)

Dunia Impian Ini Untukku

Karya Azzam

 

 

Aku,

Yang kini berada di dunia impian

Menerbangkan jutaan harapan

Yang entah kapan jadi  kenyataan

 

Percaya,

Aku percaya pada harapan yang jadi kenyataan

Karena sejatinya

Semuanya ada di kehendak Tuhan

 

Ikhtiar,

Langkah perjuangan yang harus diteruskan

Capek, sakit, dan terluka hal yang terus dilakukan

Karena ingatlah! Tanpa ikhtiar semua akan jadi sia-sia

 

Doa,

Wujud penghargaan dan kesungguhan

Pelengkap ikhtiar dan rasa percaya

Akan seluruh impian yang diterbangkan

Demi tercapianya kenyataan

 

Dan tawakal,

Hal yang harus diyakini

Karena takdir telah tertulis

Selalu mengigatkan

Bahwa Tuhan pasti memberi yang terbaik

 

 

Inilah SMART, Sekolah Kebanggaan Kami

 

Pada dasarnya pendidikan merupakan hak asasi semua warga negara Republik ini. Tanpa terkecuali bagi anak-anak marjinal. Kondisi ekonomi yang membelit keluarga menghilangkan kesempatan mereka untuk sekolah. Cita-cita yang lazim diinginkan anak-anak seusia mereka pun seolah tidak berhak diraih. Padahal, mereka juga mengharapkan kehidupan layak seperti anak-anak lainnya. Inilah kondisi yang pahit dirasakan oleh anak-anak marjinal di tanah air. Panggilan untuk mengangkat bakat dan harkat anak-anak marjinal itulah yang melatari lahirnya SMART Ekselensia Indonesia.

Bakat dan harkat anak-anak marjinal itu dapat diangkat ke permukaan apabila pendidikan yang diberikan kepada mereka dilakukan dengan baik dan benar. Kehadiran SMART tidak ingin sekadar menjadi sekolah bebas biaya namun abai pada soal kualitas. Selain akses pendidikan yang tidak merata, kualitas guru yang rendah melengkapi potret gelap dunia pendidikan kita. Tidak heran bila dunia pendidikan kita tertinggal jauh dibandingkan negaranegara maju. Karena kualitas gurunya rendah, tidak aneh bila kualitas anak didiknya pun tidak berbeda jauh.

Wajah pendidikan di tanah air juga masih dihiasi kenyataan bahwa siswa dibebani untuk lebih mengejar capaian-capaian akademis. Tidak banyak sekolah yang memilih untuk mengedepankan pembangunan karakter siswa. Akibatnya, maraklah fenomena sontek massal dalam pelaksanaan Ujian Nasional, tawuran antarpelajar, penggunaan narkoba, hingga pergaulan bebas.

Menghadapi tantangan zaman yang terus berubah, sekolah butuh guru yang berkualitas dalam pengajaran sekaligus juga mampu menjadi model bagi siswa. Dua hal ini mutlak adanya untuk membentuk karakter dan prestasi siswa, tidak terkecuali anak-anak marjinal. Sejak didirikan, para pengelola SMART optimis bahwa SMART merupakan modal dasar yang penting untuk memberikan nilai dan karakter kepada anak-anak marjinal. Dalam kondisi pendidikan nasional jauh dari ideal untuk menanamkan nilai dan karakter, SMART memilih untuk membina siswa lulusan SD. Selain sudah bisa dilatih untuk tidak bergantung kepada orangtua masingmasing, siswa pada usia ini lebih mudah dibina sehingga nilai dan karakter dapat tertanam sejak dini.

Pembinaan nilai dan karakter diutamakan karena lulusan SD yang masuk SMART memang dipersiapkan untuk mengikuti program akselerasi. Setamatnya dari jenjang SMA, pendidikan bagi mereka masih berlanjut. Mereka tidak dicetak untuk hanya berpuas diri karena mampu lulus SMA, kemudian menjadikannya sebagai modal untuk mencari pekerjaan. Sebaliknya, mereka justru dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bonafide di dalam dan luar negeri. Untuk membina dan menempa nilai dan karakter sekolah kepada siswa, SMART didesain sebagai sekolah berasrama (boarding school). Sistem sekolah berasrama cocok untuk mengondisikan para siswa agar fokus menggapai mimpimimpinya.

Melalui sekolah berasrama, siswa tidak sekadar dibina secara nilai dan karakter, namun juga disiapkan untuk menempuh pendidikan akselerasi, yakni menyelesaikan jenjang pendidikan SMP SMA selama lima tahun. Siswa ditempatkan di asrama karena akan memudahkan dalam pengayaan materi pelajaran. Saat yang sama, lebih efektif dan efisien secara waktu karena konsentrasi mereka dilatih agar terpusat pada aktivitas belajar.

Penerapan program SKS di SMART dapat dilakukan karena dalam setiap pelajaran memuat materi esensial dan non-esensial, sebagaimana yang diatur dalam Sistem Kurikulum Pendidikan Nasional. Dengan menerapkan skala prioritas di antara materi esensial dan non-esensial, pemberian pelajaran dapat diefisiensikan sekaligus diefektifkan. Dengan demikian, masa pendidikan yang umumnya enam tahun dapat ditempuh dalam waktu lima tahun tanpa ada pengurangan kualitas pengajaran ataupun prestasi akademis peserta didik. Ringkasnya, program akselerasi di SMART bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan bernalar siswa secara lebih komprehensif dan optimal, serta mengembangkan kreativitas siswa secara optimal.

 

Siswa SMART berasal dari seluruh penjuru tanah air. Mereka dipersatukan oleh kesamaan latar belakang ekonomi keluarga. Keragaman menjadi niscaya seiring bertemunya anak-anak berbakat itu di SMART. Menghadapi perbedaan suku, bahasa, bahkan karakter, SMART memiliki kiat-kiat khusus untuk mendayagunakannya sebagai sebuah kekuatan. SMART membiasakannya semua warganya untuk bersikap toleran dan saling menghargai perbedaan yang ada. Dalam pembelajaran, siswa selalu diingatkan dan disadarkan bahwa mereka adalah orang Indonesia yang memiliki kewajiban menjaga harkat dan martabat sebagai bangsa yang besar. Siswa juga belajar untuk menghargai adat istiadat tempatnya berasal. Rasa keindonesiaan yang kental dalam lingkungan SMART membuat mereka siap menghadapi kehidupan global yang tanpa sekat seperti saat ini. Efek teknologi yang sangat pesat menjadikan batas-batas geografis sebuah negara tidak menjadi penghalang bagi siapa pun untuk dapat menjalin hubungan, termasuk pada siswa yang berlatar belakang dari keluarga marjinal.

Kesadaran ini dibangun di SMART untuk memberikan pemahaman kepada setiap siswa bahwa mereka bukan saja pantas maju sebagai warga Indonesia, tapi juga sebagai warga dunia. Dengan demikian, siswa SMART mampu menjadi pemimpin global dengan tetap memegang warna keindonesiaannya

 

Pada awal berdiri, SMART sudah berkreasi mengembangkan program khas yang diimplementasikan di sekolah dan akan dikontribusikan bagi dunia pendidikan di tanah air. Bentuknya berupa pembentukan karakter, kepemimpinan, wirausaha, program kemandirian, program interaktif dengan masyarakat, serta penanaman disiplin. Saat awal berdiri, para siswa SMART sudah dicitakan tidak hanya menduduki kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) berkelas di tanah air, namun juga di kampus-kampus mancanegara. Untuk mencapainya, siswa SMART sudah dikondisikan dengan penggunaan dwibahasa (bilingual). Tidak ada yang salah dengan mendorong anak-anak marjinal untuk terus menggapai impiannya yang setinggi langit sekalipun. Terbukti siswa-siswa dari pelbagai penjuru tanah air itu mampu menembus ketatnya persaingan menjadi mahasiswa kampus negeri favorit. Sampai saat ini, SMART masih mempertahankan tradisi setiap tahun lulusannya 100 persen dapat menembus PTN terbaik dan berakreditasi A. Atas capaian yang ada itu, segenap jajaran di SMART tidak ingin berpuas diri. Masih ada capaian yang perlu dituju: menjadikan SMART sebagai Sekolah Kelas Dunia (World Class School).

Untuk menjawab visi menjadi Sekolah Kelas Dunia, SMART membuat beberapa strategi, yakni menyiapkan SDM berkualitas dan berdaya saing global, menjalankan sistem pendidikan terbuka dan diakui dunia, menyiapkan fasilitas dan teknologi yang bernuansa budaya global, menghasilkan lulusan yang berkarakter dan berdaya saing global, serta membangun jaringan dengan seluruh pemangku kepentingan. []

 

“Sometimes, getting things done is not easy. I think the most important thing is just do and finish it. At least when I don’t get what I want, I learn something”

Kutipan di atas kami ambil dari akun IG Kak Panji, Alhamdulillah Kak Panji telah menyelesaikan studinya di Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan MIPA Departemen Biologi lho Sob. Nah untuk membangkitkan semangat kalian, kami mengunggah tulisan pengalaman Kak Panji selama mengenyam pendidikan di SMART. Yuk kita baca Sob!

 

Karena Tak Ada Perjuangan yang Sia-Sia!

Oleh: Panji Laksono

Alumni SMART Angkatan 5, Berkuliah IPB Jurusan Biologi

 

“Hati-hati ya le.. jaga diri di sana”

Tangan saya masih meggenggam pinggiran baju ibu. Terang dalam ingatan, air muka ibu masih tenang sementara saya beriak-riak tak karuan. Selain memang sedang tak enak badan, ada gejolak yang lebih tak enak yang saya rasakan. Saat itu lepas tengah hari tapi entah mengapa saya tidak ingin waktu menuntun sore datang lagi. Sebab saya tahu, itu adalah waktu terakhir –yaa dapat dikatakan demikian— sebelum udara membawa saya pergi jauh. Lebih jauh dari mimpi meneruskan sekolah di kampung saya yang ada di tengah hijaunya Kalimantan Selatan.

Bercerita tentang hal ini memaksa saya menilik lagi album masa lalu. Mereka ulang refrain lama yang tak akan saya lupakan. Saat di mana dejavu begitu pertama kali lewat di depan masjid sekolah, atau mengantre mandi demi mengejar apel pagi. Saat paket makanan dari orang tua adalah harta ghanimah yang patut dibagi-bagi, atau telepon genggam asrama yang hanya bisa kami pakai seminggu sekali. Berkisah tentang hal ini memaksa saya belajar kembali. Tentang kata ‘berani’ yang tipis makna dengan ‘nekat’. ‘Berani’ untuk merantau bahkan saat gigi susu terakhir baru tanggal dari barisannya. Tentang keikhlasan dari sapaan terakhir ibu di ujung gerbang pemeriksaan bandara juga senyum simpul dari ustadz ustadzah di sana.

Perkataan ustaz ustazah tentang sekolah SMART Ekselensia Indonesia yang merupakan Kawah Candradimuka buat saya bukan cuma kata-kata. Mereka tampaknya benar-benar serius dengan hal ini. SMART membuka mata saya kalau dunia tidak sebatas tutupan kanopi pohon karet dan tidak sedamai aliran sungai Martapura. Di inkubator ini, mereka sedang meretas mimpi-mimpi. Ya, tak terkecuali mimpi saya yang kini Alhamdulillah tengah bertengger di tingkat akhir perguruan tinggi pertanian Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Kuliah? Saya tidak ingat tuh kapan terakhir kali mimpi masuk SMP favorit di daerah saya. Tapi kemudian di sana saya diberi banyak sekali pelajaran. Tak hanya pelajaran akademik, tapi juga pelajaran hidup. Sistem pengajaran di sana tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Guru-guru yang luar biasa tak hanya mengajar lewat bicara, namun juga lewat teladan nyata.

Dari dulu mungkin ustaz ustazah SMART sudah tahu kalau saya memang suka berorganisasi. Sedari dulu ikut OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia) sebagai Staf Departemen Sosial (2009), kemudian Wakil Kepala Departemen Keuangan (2010), sampai jadi Presiden OASE (2011). Pernah bergabung di Komisi Penegak Kedisiplinan (KPK) SMART dan ikut Squad Ensamble SMART. Mungkin belum patut dibanggakan, tapi sangat berkesan. Lewat hal itu saya banyak belajar tentang organisasi. Setidaknya puing pengalaman ini akan sangat berguna di kemudian hari.

Entah dapat disebut menarik atau tidak, saya termasuk lima orang terakhir dari SMART yang masih harus berjuang ke perguruan tinggi selagi kawan-kawan yang lain sudah beranjak. Masih teringat saat itu layar komputer masih menampilkan tulisan merah—itu artinya kamu nggak lulus bro—yang biasa. Berkali gagal lantas pikiran mulai terbang ke mana-mana. Berpikir utuk pulang ke Kalimantan saja dan menyimpan mimpi ini tahun depan. Sampai saatnya ayah mengultimatum di seberang telepon

“Kamu gak boleh pulang sebelum semua ujian kamu selesaikan,” dan saya cuma diam.

Lika-liku berbumbu drama ‘ketinggalan kereta’ pun sempat jadi cerita. Sampai harus luntang-lantung di Jogja mencari angkutan ke Malang agar bisa daftar ulang di Universitas Brawijaya. Lantas akhirnya kembali ke Bogor dan berkuliah di sana ikut jadi refrain yang saya kenang sekarang. Jika ditanya kenapa masuk IPB jurusan Biologi, saya hanya menjawab inilah yang diberi Allah pada saya. Dan saya sangat bersyukur atas hal itu. Allah tidak kasih apa yang saya mau, tapi saya percaya Dia kasih yang saya butuh.

Perjalanan sampai menjadi presiden mahasiswa IPB dilalui dengan banyak cerita. Bermula dari kadiv di kepanitiaan Semarak Bidikmisi 2013, aktif di BEM seperti menjadi kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM TPB 2013-2014, Staff Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FMIPA 2014-2015, sampai diamanah sekarang sebagai Ketua BEM FMIPA 2015-2016. Cerita lainnya adalah jadi sejarah menjadi Ketua pelaksana Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) dua tahun berturut-turut untuk angkatan 51 dan 52 IPB. Banyak tantangan yang dihadapi dalam masing-masing cerita. Banyak pula pembelajaran yang bisa didapatkan dari setiap tantangan yang ada. Buat saya tidak ada orang yang benar-benar selesai dengan urusannya, yang ada adalah orang yang mengakselerasi dirinya untuk orang lain.

Terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membalas apa yang sudah diberikan ustaz ustazah, SMART, maupun semua pihak yang turut berperan di dalamnya. Masih teringat dan sangat membekas apa yang pernah disampaikan oleh ustadz Yasyfi M Ya’qub, bahwa “Hidup dengan berani karena mati cuma sekali”. Dari sana apa yang ingin saya bagikan untuk kawan-kawan di SMART maupun kawan-kawan yang lain adalah mari ambil peran, mari ambil bagian. Selamanya kita bisa saja terus berharap atau bermimpi. Yang membedakan pemimpi dan pemimpin adalah bukan hanya huruf ‘n’ pada akhir katanya, tapi juga kesediaanya untuk berjalan lebih jauh, tidur lebih sedikit, dan kesiapan untuk memiliki tanggung jawab lebih banyak. SMART mengajarkan banyak hal yang sangat berguna untuk masa depan. Manfaatkan keberadaan di kawah chandradimuka ini sebagai ajang untuk mengasah diri, mengaktualisasikan diri, dan belajar untuk bisa berperan bagi orang lain.

“Jika bergerak adalah pilhan, maka aku memilih untuk tidak tinggal diam”

Sampai Jumpa Tahun Depan!

Sobat SMART, untuk kami 2022 menyimpan banyak cerita; 2022 membuka banyak kesempatan berKolaborAksi; 2022 menyimpan banyak kenangan manis bersama para penerima manfaat, alumni, relawan, serta ragam pihak yang membersamai perjalanan kami; dan tak terasa 2022 akan segera kita lewati.

Kami ucapkan terima kasih untuk doa, dukungan, dan partisipasimu yang terus membersamai kami menebarkan kebermanfaatan di 2022.

Semoga di 2023 kami bisa terus berinovasi, berKolaborAksi, dan meluaskan kebermanfaatan lebih luas lagi.

Sampai jumpa di 2023!

Parlemen Remaja dan Titik Balik Hidup Kak Rofai

Oleh: Ahmad Rofai alumni SMART Angkatan VI

 

SMART Ekselensia Indonesia telah membawaku ke dalam dunia yang tak pernah kuduga sebelumnya. Tinggal jauh dari kasih sayang Ibu dan Ayah, kebersamaan keluarga yang begitu jauh dalam dirasa. Rasa rindu yang tiada terkira selalu merayap dalam segala malamku, dalam segala sepiku, pun dalam segala lamunanku.

Hari-hari pun berlalu. Kulihat sekelilingku. Lihatlah, be­gitu ceria sekali teman-temanku. Mengapa aku tak dapat seperti mereka, tetap tersenyum dan tertawa walau jauh dari rumah? Beginikah sikap yang harusnya aku miliki: tertawa riang meski jauh dari pandangan keluargaku? Tuhan, sungguh, aku tak yakin olehnya, kertasku selalu basah oleh air mataku keti­ka aku tengah menulis. Pandanganku selalu kosong pada saat sekelilingku tengah asyik bercanda ria satu sama lain.

Dalam keadaan rindu tiada tara yang tengah melanda, guru mengetahui kondisiku, hingga akhirnya dia mengham­piriku dan bernyanyi, tertawa riang menyorotkan mata yang indah dengan ekspresi cantik tak dapat dikata.

Belajar dari ketiadaan

Belajar untuk kemandirian

Mengasah potensi,

Mengukir prestasi,

Bersama kita majukan negeri

Belajar hilangkan kebodohan

Bersama jauhkan kemalasan

Satukan asa, tekadkan jiwa, bersama kita meraih cita

Sekolah kami SMART Ekselensia

Kami dari Sumatera hingga Papua

Hanya satu tekad di dalam diri,

Menjadi pembelajar sejati

Glek! Sungguh kala itu tangisku tumpah ruah, mendengar lagu yang disenandungkan begitu semangat dengan polesan se­nyumnya yang begitu manis—pahlawan tanpa tanda jasaku.

“Itu benar sekali, Zah,” ucapku sambil mengusap mata.

Nyanyian itu telah menyadarkanku dari mimpi buruk berkepanjangan, yang telah menggerogoti semangatku, se­mangat untuk belajar, semangat untuk bermimpi. Begitulah hari-hari pertama yang aku rasakan saat tinggal dan berseko­lah di sini. Sekarang, masa-masa lima tahun itu telah kulalui dengan tangis, canda, dan tawa bersama teman sepermainan dan seperjuanganku. Bertukar rasa, bertukar asa.

Lampuku yang dulu redup kini tengah bersinar kembali karena mereka yang kini telah menjadi bagian keluarga dalam hidupku. Bersama-sama melawan rasa rindu untuk tetap bela­jar demi masa depan yang telah kami impikan. Mimpiku yang hampir sirna kini kembali dan membentuk diriku menjadi tangguh tiada tandingan.

Dari sekian banyak cerita, cita rasa, dan segala asa yang aku dapatkan di sekolah tercinta ini, ada satu yang ingin kubagi untuk adik kelasku di SMART yakni kenangan bersama teman se-Indonesia dalam sebuah acara kerja sama Dewan Perwakilan Rakyat dan Universitas Indonesia, yakni Parlemen Remaja 2012.

Cerita berawal dari sebuah lembaran berwarna kuning ukuran A3 dengan gambar latar belakang gedung kura-kura, tertulis besar-besar “PARLEMEN REMAJA 2012” yang diserah­kan kepadaku oleh Ustaz Sucipto.

“Fai, ikutin sana, tulis esai, siapa tahu saja kamu keterima,” ajaknya.

Aku baca sebentar lembaran tersebut. Tertulis sebuah syarat untuk dapat mengikuti acara itu. Acara diperuntukkan bagi siswa-siswi SMA sederajat, diimbau untuk dapat mengirimkan karya tulis esai tentang pandangan mereka mengenai peran DPR terhadap kemajuan demokrasi di Indonesia, selan­jutnya akan dipilih karya terbaik untuk mengikuti acara Parlemen Remaja 2012. Tanpa berpikir panjang segera aku mencari informasi, browsing internet untuk mencari ba­han penulisanku.

Hari berlalu, telah kukirimkan karyaku bersama empat temanku yang juga tertarik. Hari-hari kulalui menunggu pengumuman, dan itu benar-benar telah banyak menyita waktuku. Aku begitu takut, deg-degan, dan gelisah. Semua bercampur aduk selama aku menunggu pengumuman.

Dua mingu berlalu. Hari itu adalah pengumuman esai terbaik yang berhak mengikuti serangkaian acara Parlemen Remaja 2012. Hari puncak campur aduk hatiku datang jua. Dengan langkah gontai beserta jantung yang berdenyut begitu cepatnya aku menuju layar komputer untuk membaca pengumuman. Kulihat daftar nama-nama siswa terpilih. Aku tidak menemukan namaku. Aku gulir mouse ke bawah, mataku tetap menelisik membaca satu per satu nama tertulis dan sesuatu telah membuatku tersentak!

Tertulis sebuah nama: Ahmad Rofai.

Alhamdulillah, ya Allah, segala puji bagi-Mu, namaku ter­tulis dalam jajaran nama siswa pembuat esai terbaik. Hari itu aku sungguh bahagia, tak pernah sedikit pun tebersit dalam pikiranku untuk dapat lolos seleksi. Segera setelah membaca, sontak saat itu juga aku letakkan keningku di atas lantai, ber­tasbih dan memuji-Nya sebagai tanda rasa syukurku atas kesempatan yang diberikan oleh-Nya untukku.

Telah tiba saatnya aku beserta ketiga temanku yang juga lolos seleksi pergi ke acara Parlemen Remaja 2012. Kami diantar Ustaz Wildan dengan mobil angkot langganan kami menuju tempat pertama acara, yakni Balai Sidang Universitas Indonesia. Cuaca begitu terik kala itu, ditambah lagi dengan pengapnya udara dalam angkot jelas membuatku perutku terasa mual. Untuk menghilangkan rasa mual, aku berusaha untuk tidur dalam angkot. Tak terasa ketika aku membuka mata, tujuan telah sampai.

Terlihat siswa-siswi tengah berbincang, saling berkenalan satu sama lain, berfoto-foto ria sembari menunggu acara pembukaan. Sedangkan kami, siswa SMART, hanya berempat, mengobrol sendiri, bermain sendiri. Tak sedikit pun rasa be­rani dari kami untuk dapat berkenalan dengan siswa-siswi lain. Bagaimana tidak, semua dari mereka memakai baju ba­gus dan bermerek pada saat kami hanya memakai seragam yang dibalut jas almamater sekolah kami. Mereka memegang kamera mewah masing-masing, sedangkan kami hanya mem­bawa handycam kecil, yang hasilnya buruk jika digunakan un­tuk berfoto; satu untuk berempat pula. Mereka juga masing-masing membawa notebook, sedangkan handphone pun kami tak punya.

Cuek is the best-lah yang menjadi jargon utama kami kala itu. Kami tetap tidak peduli akan keglamoran mereka. Kami tetap rendah hati dan percaya diri.

Pukul 14.00, semua peserta dari seluruh penjuru Nusan­tara telah datang dan berkumpul dalam ruangan. Telah ter­pilih 132 siswa-siswi SMA se-Indonesia dari ratusan pengirim esai. Berbagai sambutan dan rangkaian acara pun telah ter­lewati.

Acara akan diadakan selama empat hari, tiga hari per­tama kami menginap di Wisma DPR RI Griya Sabha Bogor. Satu hari terakhir menginap di Wisma Makara UI. Sekiranya inilah yang panitia sampaikan kepada kami. Setelah itu, terketuklah palu oleh ketua panitia bahwa acara Parlemen Remaja 2012 resmi dibuka. Riuh tepuk tangan membuncah sudah, memba­hana memenuhi ruangan beribu kursi itu.

Kini kurasakan betapa nikmat tiada tara dapat tidur di atas kasur yang begitu empuk, ber-AC, mencicipi mandi air panas dengan shower, menonton TV dengan puluhan channel tersedia.

Setiap pagi diawali dengan senam pagi di lapangan, kami berbaris, terlihat beberapa teman teriak, senyum, tertawa terbahak-bahak. Begitu pun aku, menunjukkan betapa baha­gia sekali kami waktu itu.

Siang pun datang, saatnya kami bersiap menuju ruang rapat sidang DPR. Sungguh pertama kali aku memasuki ruangan itu, beribu rasa bangga mencuat dari dalam hatiku. Me­makai jas hitam yang ketika kupakai tampak seperti eksekutif muda yang super penting dalam suatu tatanan negara.

Ruangan itu begitu luas dengan tembok ala bangunan luar negeri seperti yang selalu kulihat dalam film-film, ber­jejer ribuan kursi empuk berwarna cokelat dengan puluhan jejeran meja elegan di depannya. Sungguh tak bisa kugam­barkan bagaimana keindahan serta luasnya ruangan bagi aku yang sejatinya hanyalah siswa papa.

Aku duduk di atas kursi empuk dengan tersodorkan mik­rofon di depanku.

“Selamat datang para pemuda-pemudi gagah Indonesia!”

Sontak suara itu memecahkan suasana yang awalnya tenang menjadi membakar-bakar, sorak-sorai kami bersama tepuk tangan tumpah sudah.

Dua hari tepatnya kami di sana dipersiapkan untuk melakukan simulasi rapat sidang paripurna DPR. Kami diberi berbagai materi tentang apa itu DPR, bagaimana peran par­lemen dalam sebuah negara, serta pemberian pengajaran dalam bentuk pelatihan tentang bagaimana rapat paripurna DPR dapat berlangsung.

Sungguh benar-benar di luar dugaanku, pelatihan-pelatihan yang mereka berikan kepada kami telah membuatku sadar bahwa butuh waktu seharian penuh atau bahkan puluhan hari untuk membahas suatu rumusan undang-undang. Penentuan judul suatu undang-undang saja begitu lama penyelesaian­nya.

Pemberian materi beserta latihan-latihan kepada kami dilakukan dari jam delapan pagi sampai jam sembilan malam. Cukup melelahkan memang, namun herannya semua berja­lan begitu menyenangkan sehingga tidak terasa waktu terus bergulir.

Di gedung kura-kura, pelaksanaan simulasi sidang paripurna DPR RI. Merupakan hari ketiga dari kegiatan ini, acara puncak dari sekian kegiatan yang kami jalani. Setelah subuh, telah tersedia bus yang siap mengantar kami menuju Senayan.

Sebelum ke tempat persidangan, kami menuju ruang tamu DPR terlebih dahulu. Seperti biasa ada sambutan dan acara pembukaan. Setelah itu, kami segera menuju ruang sidang paripurna. Berbagai pemeriksaan ketat pun terjadi. Tas kami disensor oleh alat pendeteksi, begitu pula dengan tubuh kami.

Benar-benar mataku tak dapat berkedip. Tempat si­dang itu begitu luas. Deretan kursi terbagi atas fraksi-fraksi, kursinya pun empuk tak terelakkan, mikrofon tersedia di de­pan kami, tertempel di atas meja.

“Acara ini akan disiarkan di TVRI pukul 07.30,” ucap salah satu panitia kepada kami.

Segera aku menghubungi keluargaku di rumah (lewat ponsel yang dipinjamkan pihak asrama) untuk dapat menon­ton diriku, memakai jas hitam, duduk di atas kursi mewah berperan sebagai Dewan Perwakilan Rakyat.

Mungkin pengalaman ini biasa saja buat beberapa orang, namun tidak buatku. Ada satu pelajaran berharga yang telah aku dapatkan. Berdiskusi bersama anak-anak se-Indonesia dalam acara tersebut membuatku lebih aktif dan kritis selaku pelajar. Selain itu, aku tersadar bahwa selaku pemuda, aku merupakan agen perubahan dalam sebuah dinamika kehidupan.

Aku bersyukur atas berbagai pengalaman di SMART, ucapan terima kasih rasanya tak akan pernah cukup.

Ini SMART, Ini (Bukan) Penjara!

Oleh: Ahfie Rofi

Alumni SMART Angkatan 7

Saat Ini Berkuliah di Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab

 

Diujung tanduk!
Sisa waktuku di SMART kala itu tinggal hitungan hari. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….
Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?
Lalu apa kata Ustazah Dini, guruku, menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata,

 

“Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”
Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.
Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan adzan dzuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orangtua kami masing-masing.
Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.
Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART Ekselensia Indonesia dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.
Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.
Sekarang kami sudah besar. Sebentar lagi berpisah, yang artinya sudah hampir lima tahun kami bersama-sama. Syukurlah, sekarang tidak ada lagi “musuhan-musuhan” ala anak-anak. Ah, indahnya.