Milenials Kamu Kudu Baca Ini!

Oleh: Insan Maulana

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di UPI Bandung

 

Aku rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku aku bebas.”

 –Muhammad Hatta-

Zaman sekarang, teknologi mengambil peran penting dalam kehidupan manusia dan seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang dan semakin maju. Kemajuan teknologi membuat kita semakin mudah melakukan segala sesuatu, kita ambil contoh jika kita ingin melakukan komunikasi antar kota, puluhan tahun yang lalu kita harus menggunakan surat dan membutuhkan waktu yang lama, itu komunikasi antar kota. Bagaimana dengan komunikasi antar benua? Sepertinya mustahil dilakukan. Namun, sekarang teknologi menyediakan berbagai fitur yang membuat komunikasi antar benua menjadi lebih mudah, selain itu waktu yang dibutuhkan pun teramat singkat. Teknologi seperti e-mail, SMS (Short Message Service), telepon atau media sosial seperti facebook-lah yang membuatnya mungkin. Termasuk untuk mencari informasi, kini tersedia internet yang teramat mudah diakses, bandingkan saat abad 20 ketika itu hanya tersedia surat kabar dan buku sebagai sumber informasi.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet cukup banyak dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Sebuah agensi marketing sosial mengeluarkan sebuah laporan pada Maret 2015 mengenai data jumlah pengguna website dan media sosial di Indonesia. Ternyata, jumlahnya menembus angka 72,7 juta pengguna aktif internet dan 74 juta pengguna aktif media sosial.[1] Angka ini meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Padahal, di awal pendiriannya, jaringan internet hanya menghubungkan beberapa universitas di Amerika, sekarang internet sudah menjadi viral dan menyasar berbagai kalangan, mulai dari dewasa, remaja bahkan anak usia sekolah dasar sudah mengenal dunia internet.

Sangat mudahnya mendapat informasi melalui internet ini adalah faktor utama turunnya minat untuk membaca buku. Selain punya banyak pengguna internet, Indonesia juga merupakan negara dengan tingkat minat membaca buku yang sangat rendah dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, H.R Agung Laksono, di Media Tempo pada 12 Januari 2012, menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah dimana prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen, artinya dalam 10.000 orang hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia ini masih jauh ketinggalan dibandingkan negara lain seperti Jepang yang mencapai 45 persen dan Singapura yang menyentuh angka 55 persen. Bahkan berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN.[2] Hal ini sungguh memprihatinkan, padahal informasi yang kita dapat dari buku lebih detil daripada informasi yang didapat dari internet. Masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung haus akan informasi, seperti contoh mereka selalu ingin mengetahui kabar, kegiatan dan foto-foto temannya. Cara yang tepat bagi mereka tentu menggunakan media sosial seperti Facebook, Twiter dan Instagram. Fenomena inilah yang membuat perspektif mayoritas orang terhadap kegiatan membaca buku atau menulis cerita terlihat kuno atau ketinggalan zaman. Selain itu, kutu buku juga sering dikucilkan dan dianggap culun.

Dalam segala kemudahan yang ditawarkan, media sosial juga kerap kali membawa serta dampak negatif bagi penggunanya. Lupa waktu karena keasyikan, tidak mau membaca buku, dan sering ditemukan hal yang tidak penting seperti kata-kata kotor, kasar bahkan gambar vulgar adalah sedikit dari banyaknya dampak negatif internet. Sekarang mari kita bahas tentang buku. Memang jika kita teliti buku-buku zaman sekarang banyak yang mengandung  konten negatif seperti komik dan novel yang berlabel “dewasa” di bagiam sampulnya. Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan sumber daya manusia di suatu negara menjadi hancur secara pikiran maupun perilaku. Maka dari itu, dalam membaca buku pun kita tetap harus selektif.

Berlatar belakang hal-hal di atas, menurut saya perlu beberapa cara suntuk meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat terutama kalangan muda yang masih duduk di bangku sekolah. Pertama, pemerintah harus memberikan imbauan kepada seluruh sekolah supaya menasihati siswa-siswinya untuk tidak terlalu sering dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial apalagi menyalahgunakannya. Selain itu, penting juga untuk menginformasikan tentang pentingnya membaca buku dan berlatih menulis. Kedua, pemerintah harus mengadakan lomba tentang literasi supaya siswa yang sudah berkembang kemampuan literasinya bisa menyalurkan kemampuan dan bersaing dengan orang lain.

Untuk itu, akan lebih baik jika kita membaca buku yang berisi tentang ilmu pengetahuan atau novel yang berisi cerita orang-orang sukses yang inspiratif dan memotivasi daripada menghabiskan waktu menggunakan media sosial. Tidak salah bila kita menggunakan media sosial dan internet untuk mencari informasi karena lebih mudah, namun kita harus menyadari bahwa dengan membaca buku, ilmu yang kita dapat akan lebih banyak.

 

Setiap orang ingin sukses. Tidak ada yang ingin menjadi pecundang, gagal, dan kalah. Mungkin arti sukses di dunia ini sebanyak jumlah manusia itu sendiri, karena setiap orang memiliki arti sukses mereka sendiri. Sukses adalah sesuatu yang kasat mata. Ia ada dalam diri kita, ada dalam pikiran kita. Sebenarnya untuk apa kita mengejar kesuksesan? Apa yang menjadi dasar alasan yang mendorong kita untuk meraih kesuksesan? Ada banyak hal yang menjadi alasan kenapa kita rela bekerja keras demi meraih kesuksesan yang kita impikan.

 

Being Happy

 

Menjadi bahagia adalah sebuah hal yang harus dimiliki semua orang tanpa terkecuali. Tubuh yang bahagia akan lebih mudah dalam menjalankan aktivitas. Ketika kita sukses menyelesaikan sekolah, kuliah, atau pekerjaan, kita akan merasa bahagia. Ketika kita sukses menjadi seorang pengusaha kita bahagia. Saat kita sukses menjadi apa yang kita inginkan, kita akan merasa bahagia. Kebahagiaan tidak hanya kita rasakan saat kesuksesan tersebut sudah dapat kita raih. Tapi melalui proses yang kita lalui, bekerja, dan berusaha meraih kesuksesan.

 

Being a Child

Sebenarnya ketika kita ingin menjadi orang sukses kita harus berpikir seperti anak kecil. Mengapa? Ternyata banyak sekali sifat positif anak kecil yang tidak dimiliki oleh orang dewasa. Sifat pantang menyerah, seorang anak kecil memiliki sifat ini yaitu pada umumnya seorang anak kecil atau baby selalu berusaha mempelajari sesuatu hingga mereka berhasil, coba kamu perhatikan ketika anak kamu mulai belajar berjalan, dia mulai dari merangkak kemudian berdiri dan terjatuh lagi, entah tak terhitung berapa kali seorang anak kecil terjatuh dalam proses belajar berjalan namun tak pernah berhenti untuk belajar meskipun selalu terjatuh, bandingkan dengan diri kamu sudah berapakali kamu terjatuh dan bangkit lagi karena itu jika kamu ingin sukses miliki sifat pantang menyera, karena itu jangan lihat berapa kali kamu gagal tapi lihatlah sudah berapa kali kamu bangkit dari kegagalan.

 

Kedua mudah memaafkan, kalau kita mencermati perilaku anak kecil kadang mereka bertengkar satu sama lain hingga sala satu diantara mereka menangis, namun uniknya sesudah mereka menangis mereka kembali bermain bersama. Semua ini bisa terjadi karena adanya sifat yang mereka miliki yaitu mudah memaafkan kesalahan orang lain, dan susah melupakan kebaikan orang lain, bagaimana denganmu? Apakah kamu memiliki sifat pemaaf ini?

 

Ketiga positif thinking, seorang anak kecil di dalam pola pikirnya selalu melihat masalah secara positif dan dalam benaknya tak pernah ada kata gagal dan selalu ingin belajar dan mencoba hingga berhasil,coba saja kamu tanya anak kecil mau jadi apa dia pasti dia menjawab mau jadi polisi bahkan presiden mungkin juga kasus seperti ini kamu alami juga di waktu kecil, kenapa cita-cita mereka sangat tinggi semua itu disebabkan pikiran positif pada anak kecil sangat dominan, nanti setelah dewasa karena adanya faktor lingkungan maupun keluarga hingga pikiran negatif itu mulai mendominasi sehingga mereka tidak mengejar lagi cita-citanya, karena itu jika kamu ingin sukses bumi dan langit senantiasa berfikir positif dalam menghadapi masalah termasuk berpikiran positif kepada Tuhan.

 

Being a Striker

Konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu atau fokus ketika menjalani kehidupan sekitarnya bahkan ketika mereka bermain bola selalu fokus pada saat itu, mereka tidak berfikir akan hari esok bahkan hari kemarin,mereka menyadari eksistensinya pada saat itu juga, sehingga mereka senantiasa bahagia,sangat kontras dengan kamu yang lebih fokus akan hari esok sehingga selalu gelisah dan tak tenang, karena itu kalau kamu ingin sukses maka fokuslah. Kekuatan fokus ini sungguh dahsyat lihat saja cahaya matahari kalau difokuskan bisa membakar apapun. Karena itu fokuslah sebagai langkah awal kamu menjadi sukses.

 

 

 

Oleh: Dede Iwanah

Badannya ramping, mungkin paling ramping di kelas atau bahkan angkatannya kala itu. Rona wajahnya suram, entah bakat alam atau sekadar untuk memperdaya para lawan bicara. Bisa swafoto dengan senyumnya adalah sebuah hal langka. Tutur kata dan gesturnya hampir berbanding lurus dengan ekspresinya. Tobi, itulah namanya. Ia adalah salah satu siswa kelas cerdas istimewa di SMART Ekselensia Indonesia. Kini, Tobi telah mendahului kami semua, ia telah berpulang ke Rahmatullah beberapa tahun lalu.

Adapun Icha, tampak kontras dengan Tobi Ifanda Putra. Ia senantiasa memberikan senyuman dan sapaan kepada setiap insan. Pipinya tembam apalagi saat tertawa. Gemas sekali melihatnya. Ia pun tidak sungkan menyapa orang yang baru dilihatnya. Tidak jelas memang ucapannya, namun semua memakluminya. Ya, maklumlah karena Icha hanyalah seorang balita. Tiga tahun usianya.

Tobi adalah anak didik umi*, sedangkan Icha adalah anak kandung umi. Bukan tanpa maksud umi menyandingkan keduanya di pelaminan, eh, di dalam tulisan maksud umi.

Icha, putri bungsu umi, kini tidak bisa jauh dari tempat umi bekerja. Ia kini belajar, bermain, dan beraktivitas di day care Bumi Pengembangan Insani. Ini adalah sebuah program baru yang berada di Lembaga Pengembangan Insani, sebuah program yang sangat membantu para karyawan yang memiliki putra atau putri yang masih harus mendapatkan perhatian ekstra.

Icha dan Hira menjadi peserta perdana program tersebut. Dua balita cantik, aktif, cerdas, dan menggemaskan, terutama bagian pipi mereka tentu saja. Icha telah beberapa kali berganti pengasuh sehingga cukup mudah beradaptasi dengan orang-orang baru. Terkadang tidak sulit bagi Icha untuk menunjukkan rasa sayang kepada pengasuhnya. Akan tetapi, beberapa kali Icha pun kesulitan untuk dekat dengan pengasuh lainnya meski sang pengasuh sudah menjaga Icha dalam durasi cukup lama. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada jalan lain selain mencari pengasuh baru. Mungkin benar apa kata orang, anak kecil tidak bisa berbohong, dia bisa merasakan kasih sayang dan ketulusan hati seseorang.

Sore itu, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Waktunya Icha pulang belajar dari day care, tempatnya belajar. Akan tetapi, karena sore itu umi harus mengikuti rapat di kantor, Icha pun harus turut serta dalam rapat tersebut. Tak lama berselang, Icha merasa bosan dan memutuskan bermain dengan Hira yang juga turut menunggu bundanya yang sedang rapat. Akhirnya, umi mengantar Icha menemui Hira di Pusat Sumber Belajar (PSB). Sesampainya di sana, Icha menemukan Hira sedang bermain dengan kak Tobi. Melihat wajah kak Tobi, Icha pun urung mendatangi Hira dan sang lelaki asing.

Tidak lama duduk bersama Umi, lagi-lagi Icha merasa bosan dan keluar ruangan tanpa ucapan. Beberapa waktu kemudian, Bunda Hira menyampaikan bahwa Icha sudah bergabung dengan Hira dan kak Tobi menjadi tiga sekawan. Awalnya umi heran, namun rasa tersebut terlupakan saat Hira tersenyum menawan. Setelah rapat selesai, akhirnya Icha pamit kepada Hira dan kak Tobi untuk pulang.

Keesokan harinya, Icha belajar kembali di PSB dan bertemu dengan kak Tobi untuk kali kedua. Sesekali terlihat Icha berusaha merebut hati kak Tobi dari Hira. Tampaknya konflik dan intrik akan segera terjadi di antara mereka bertiga. Hira yang telah menganggap Kak Tobi bagaikan kakak kandungnya, tentu tak rela kehilangan kasih sayang sang kakak. Icha, sebagai seorang balita, tentu ingin menunjukkan egonya. Ia ingin juga mendapatkan hati Tobi Ifanda Putra. Sungguh kisah drama yang adiwarna.

Entah dengan ilmu apa, entah dengan teori siapa, Tobi bisa menyatukan hati Hira dan Icha. Kini mereka menjadi trio tak terpisahkan. Trio unik dan nyentrik yang terdiri seorang remaja dan dua orang balita.

Sore itu, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, sudah waktunya Icha dan Hira pulang. Mereka berdua bersiap-siap untuk segera pulang. Dan, di saat itu juga, Icha melihat kak Tobi dengan kakak lainnya menuju lapangan futsal SMART Ekselensia Indonesia. Drama kembali terjadi. Icha seolah tak ikhlas memalingkan pandangan dari kak Tobi. Icha ingin menyaksikan bagaimana perjuangan Kak Tobi saat beradu fisik dan strategi di lapangan futsal hingga tiga puluh menit beranjak dari pukul 16.00.

Sampai pukul 16.30, Icha tetap tidak mau beranjak dari duduknya. Berkali-kali umi berhitung memberikan kesempatan Icha menonton permainan futsal, namun usaha itu selalu gagal. Icha tetap tidak mau pulang.

Mulut kecilnya berujar bahwa Icha hanya mau pulang jika diantar kak Tobi! Seketika itu umi terkaget bukan kepalang. Umi pun kemudian berusaha memberikan pengertian bahwa kaka Tobi sedang bermain, tidak bisa mengantar Icha pulang. Usaha umi kembali gagal sehingga umi meminta tolong kepada seorang kakak yang berada dekat tempat Icha duduk untuk menyampaikan permintaan Icha kepada kak Tobi nan cemerlang.

Untuk beberapa saat, kak Tobi tidak memenuhi permintaan Icha karena sedang asyik bermain futsal. Icha terlihat sedih sekali. Air hangat seolah akan segera meleleh dari mata sayunya. Kekecewaan nyaris saja menghinggapi dirinya. Namun, tidak beberapa lama kemudian, sang pahlawan pun datang. Akhirnya, kak Tobi keluar lapangan dan memenuhi permintaan dan mengantar Icha pulang. Tidak sampai rumah memang. Sampai parkir motor pun sudah membuat Hira senang. Icha dan kak Tobi pun harus mengucapkan salam perpisahan di sore hari yang mendung dan cukup kelam.

Sejak hari itu, berbagai pertanyaan timbul di benak saya. Entah mengapa Hira dan Icha begitu nyaman bermain dengan seorang Tobi Ifanda Putra. Bukan karena fisik pastinya. Bukan juga karena harta tentu saja. Mungkin hanya ketulusan hati anak-anak kecil itu yang bisa menjawabnya.

Di balik wajahnya yang (maaf) suram dan kelam itu, ternyata seorang Tobi memiliki hati istimewa. Hati yang mungkin tidak dimiliki orang lain yang berpenampilan lebih wah. Tobi memiliki kekayaan dan ketulusan hati untuk mencintai anak-anak kecil yang manja. Ia tulus, tanpa meminta apa-apa. Sorot mata Tobi menunjukkan betapa ikhlasnya saat ia bersama Hira dan Icha. Pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak peraih beasiswa Dompet Dhuafa Pendidikan. Darinya, kita belajar bahwa penampian fisik bukanlah segalanya, darinya kami belajar keikhlasan. Terima kasih, Tobi Ifanda Putra.

Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik, aamiin.

 

*umi merupakan panggilan sayang siswa SMART, anak, dan suami kepada ibu Dede (red.)

Assalamualaikum Sob!

 

 

Pasti kamu sudah nungguin pengumuman lanjutan kan? Tenang Sob, setelah melewati ragam proses ini dan itu, sore ini kami  mengumumkan nama-nama yang LOLOS Seleksi Akademik SNB SMART Ekselensia Indonesia tahun pelajaran 2021/2022.

Pengumuman ini bukan kaleng-kaleng karena semua berdasarkan Surat Keputusan Nomor: 029/SMART/Pcl/Seleksi/III/2021 tentang Penetapan Hasil Seleksi Nasional Beasiswa ya Sob.

 

Daripada berlama-lama kuy cek pengumuman yang lolos dan juga jadwal wawancara di bawah ini:

INI DIA NAMA-NAMA YANG LOLOS SMP

INI DIA NAMA-NAMA YANG LOLOS SMA

 

Berikut jadwal wawancaranya ya:

JADWAL WAWANCARA SMP

JADWAL WAWANCARA SMA

 

 

Kami ucapkan selamat untuk kamu yang lolos Seleksi Akademik SNB SMART Ekselensia Indonesia tahun pelajaran 2021/2022. Tetap semangat ya!

Cuma di SMART Aku Bisa Belajar Banyak

Oleh Vikram Makrif

Alumni SMART Angkatan IX, Undip Jurusan Sastra Indonesia 2017

 

 

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya

Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang diamalkan

Sebaik-baik harta adalah harta yang disedekahkan

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat

 

Berawal dari tiga kalimat di atas,aku bertekad untuk menjadi manusia  yang baik dengan cara menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.  Selama ini aku telah menerima banyak manfaat dari harta yang baik yaitu harta yang diberikan oleh para donatur Dompet Dhuafa dengan keikhlasan  hati mereka. Aku merupakan salah satu anak yang mendapatkan bantuan beasiswa pendidikan dari Dompet Dhuafa Pendidikan yakni bersekolah gratis selama 5 tahun untuk  jenjang  SMP dan SMA di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

 

Bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia telah mejadikanku anak yang berpendidikan dan berguna untuk orang lain. Karena dengan bantuan tersebut tersebarlah kebaikan yang kuterima. Namun bagiku Kebaikan tidak boleh putus di penerima manfaat sepertiku saja, tetapi kebaikan harus terus mengalir kepada setiap manusia yang berada

disekitarku.

 

Tiga Kalimat di atas merupakan motivasiku untuk terus berbuat kebaikan. Aku berkeinginan memiliki ilmu yang baik dengan mengamalkan ilmu yang telah diberikan oleh SMART kepadaku. Aku juga bertekad menjadi manusia yang baik dan bermanfaat untuk orang-orang disekitarku serta berkontribusi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dengan generasi yang berpendidikan dan memiliki ilmu yang bermanfaat.

 

Selama ini tak banyak kontribusi yang kupersembahkan untuk negeri ini.  Tak banyak pula kebermanfaatan yang kuberikan untuk orang lain disekitarku. Namun dengan keinginan  yang kuat, aku berusaha untuk dapat berguna untuk orang lain dan berkontribusi sebaik yang kubisa walau hanya sedikit manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain sekitarku.

 

Berada di SMART selama 4 tahun, sudah banyak ilmu yang kudapatkan, mulai dari ilmu dunia sampai ilmu tentang akhirat.  Ilmu-ilmu itu tidak akan berarti jika tidak kuamalkan dan tidak akan bermanfaat bila tidak kusebarkan dan kuajarkan pada orang lain.

 

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya

Jampang Mengaji merupakan program Asrama SMART Ekselensia Indonesia yang bertujuan untuk membimbing anak-anak sekitar Desa Jampang agar lebih cinta terhadap Al-Quran. Hadits Rasul meyatakan “Sebaikbaik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya”. Seperti  yang  termaktub dalam hadits tersebut, aku ingin menjadi manusia yang baik, aku ingin belajar Al-Quran dan mengajarkannya. Jampang mengaji salah satu cara agar aku dapat mengajarkan ilmu yang telah aku dapat kepada anak-anak disekitar Jampang dengan memberikan mereka pengetahuan tentang Al-Quran dengan baik dan benar.

 

Pada program Jampang Mengaji aku ditunjuk menjadi koordinator selama enam bulan atau satu semester. Menjadi koodinator sekaligus pengajar Jampang Mengaji membuatku senang karena dengan begitu aku dapat menyebarkan ilmu yang telah didapat dari SMART kepada anak-anak disekitar Jampang.

 

Aku merasakan kebahagian tersendiri saat dapat melihat para peserta Jampang Mengaji  bersemangat dalam mempelajari  ilmu Al-Quran. Tentunya para pengajar merasa senang, terutama aku sebagai koordinator Jampang Mengaji. Saat para peserta mengaji dengan sungguh-sungguh dan ceria, bahkan ada beberapa peserta Jampang Mengaji yang sudah datang ke SMART pukul 14:00 WIB padahal kegiatan baru dimulai setelah Asar.

 

Mengajar adalah salah satu kegiatan yang aku sukai. Mengajar apapun itu, asalkan dengan mengajar tersebut aku dapat bermanfaat untuk orang lain.  Entah itu mengajarkan pelajaran sekolah seperti matematika,fisika,bahasa, biologi atau yang lain seperti menjahit, silat, dan sebagainya. Semua hal yang berhubungan dengan mengajar akan aku lakukan dengan senang hati dan semampuku tentunya.

 

 

Salah satu kegiatan mengajar dibidang non akademik yang aku lakukan adalah mengajar  pramuka untuk penggalang di SDN Jampang 04. Berbekal modal pelatihan KMD (Kursus Mahir Dasar) untuk menjadi seorang pembina pramuka yang diberikan oleh SMART, aku mencoba untuk terus dapat menyebarkan ilmu yang kumiliki kepada orang yang berada disekitarku yaitu mengajar pramuka kepada para murid kelas 4 dan 5 SDN Jampang  04 setiap Sabtu.

 

Membina Pramuka di SDN Jampang 04 membuatku dapat mewujukkan tekadku untuk mengamalkan ilmu yang kumiliki kepada masyarakat disekitarku.Keinginanku membina pramuka di SDN Jampang 04 adalah untuk membentuk karakteryang baik bagi para peserta didik.

 

Kegiatan mengajar tidak harus selalu diwujudkan mejadi seorang pembina ataupun pengajar.  Tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk menjadi  seorang duta yang dapat memberikankan pengetahuan baru untuk masyarakat. Aku tidak hanya mengajar di satu tempat, karena jika aku hanya mengajar di satu tempat sama maka kebermanfaatan hanya terbatas di tempat itu saja. Maka dari itu aku memutuskan untuk menjadi Duta Gemari Baca 2016 agar aku dapat memberikan pengetahuan baru ke berbagai tempat dan berbagai golongan.

 

Duta Gemari Baca ini bertugas untuk menyebarkan informasi  tentang literasi kepada semua orang dan mengajak orang lain untuk senang membaca. Aku sangat senang dan bangga dapat menjadi bagian dari Duta Gemari Baca yang dibentuk oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Menjadi Duta Gemari Baca membuatku merasa menjadi orang yang berguna untuk mengajak orang lain mengenal dan menyukai literasi.

 

Beberapa kegiatan yang kulakukan selama menjadi Duta Gemari Baca adalah memberikan  pengetahuan baru dan mengajak anak-anak disekitar daerah Bogor untuk mencintai literasi dan gemar membaca. Selain itu, ada pula kegiatan membuka Pojok Baca di Jalan Duren, Depok pada September lalu. Pojok Baca yang dibuat para Duta Gemari Baca tersebut diharapkan menumbuhkan rasa cinta anak-anak yang berada di Desa Jalan Duren semakin gemar membaca .

 

Alhamdulilah dengan berbagai kegiatan yang aku lakukan di SMART dapat mewadahi usahaku untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga kebaikan dan kebermanfaatan akan terus mengalir kepada sebanyak mungkin orang membutuhkannya. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat.

 

Bongkar Kebiasaan Lama. Saatnya Pemuda Bangkit!

Oleh: Muhammad Ikrom Azzam

Alumni SMART Angkatan IX, Sastra Arab UNJ 2017

 

Kalau cinta sudah dibuang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang di perbudak jabatan
(*) O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar
O, o, ya o … Ya o … Ya bongkar

Lirik lagu Iwan Fals berjudul “Bongkar” di atas sedikit banyak menggambarkan suara hati dan kegelisahan rakyat Indonesia saat ini. Meski bukan lagu baru, maknanya masih berlaku hingga hari ini.

Bongkar, adalah sebuah kata yang patut kita sampaikan dan perlu kita lakukan terhadap negeri ini. Bagaimana tidak, negeri Indonesia yang makmur ini tengah menjadi rebutan negara-negara adikuasa. Tak heran jika Indonesia selalu menjadi tujuan utama negara-negara adikuasa untuk dimanfaatkan, karena negeri ini adalah negeri yang sungguh kaya, baik sumber daya alam maupun Sumber Daya Manusia (SDM).

Sayangnya bangsa kita sedang galau oleh banyaknya masalah, mulai dari dominanya peran asing, kedaulatan nasional yang digerogoti globalisasi, perpecahan yang mulai menghancurkan persatuan, dan makin lunturnya nasionalisme budaya nasional. Korupsi merajalela yang turut menghancurkan kredibilitas kebangsaan dan kepemimpinan nasional. Negara dilanda ketidakpatuhan dalam hukum dan pemerintahan. Lantas, lupakah bangsa ini pada wawasan kebangsaan yang telah ditanam pejuang Indonesia terdahulu? Dan pemimpin macam apa yang kita butuhkan dalam keadaan Indonesia yang sedang kacau balau ini?

Muhammad Hatta, Wakil Presiden pertama Indonesia mengingatkan: “Dengan ra’jat kita akan naik dan dengan ra’jat kita akan toeroen. Hidoep matinja Indonesia merdeka, semoenja itoe tergantoeng kepada semangat ra’jat. Pengandjoer-pengandjoer dan golongan kaoem terpeladjar baroe ada berarti kaloe dibelakangnya ada ra’jat jang sadar dan insyaf akan kadaoelatan dirinja”. (Daulat Ra’jat, 20 September 1931)

Kita harus mengingatkan masyarakat untuk selalu memahami wawasan kebangsaan yang telah diwariskan para pejuang Indonesia terdahulu. Serta, kita juga harus mengingatkan masyarakat untuk tidak salah memilih calon pemimpin, khususnya memilih Kepala Negara. Rakyat pasti akan salah dalam memahami makna kebangsaan dan salah dalam memilih pemimpin bila rakyat hanya bermodal ”rasa suka”, “selera dangkal”, “cita rasa pop”, tanpa memahami persoalan rakyat sendiri, bangsa dan negara, yang saat ini sedang berada diujung tanduk, terancam dan tergerus globalisasi ganas, oleh hutang-hutang berbunga kepada bangsa asing, dan oleh kegagalan-kegagalan serius pemerintah dan negara menjadi “failed state”. Rakyat akan mampu memilih pemimpinya dan memahami wawasan kebangsaan dengan lebih benar bila menyadari bahwa kedaulatan nasional negara kita sedang dicabik-cabik dan berpengaruh pada bidang politik, budaya, hankam, dan tak terkecuali dalam bidang ekonomi (meliputi pertaniant, industri, teknologi, obat-obatan dasar dan energi).

Patut dicurigai bahwa para pemimpin yang muncul dan dimunculkan media saat ini tidak mengenal Tanah Air Indonesia, sehingga negara kita terus saja ketergantungan bangsa asing dengan hutang-hutang negara yang menjulang tinggi. Padahal secara potensi Indonesia sangat berpeluang menjadi negara paling maju di dunia. Bayangkan saja, negeri ini punya ribuan pulau membentang dengan ragam hayati, budaya, adat, dan kebiasaan yang luar biasa banyak. Semua potensi dan peluang Indonesia tersebut, tak ayal membuat negeri ini begitu heterogen. Dengan landasan keheterogenan itulah Indonesia menganut dan menjunjung tinggi nilai toleransi yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945.

Namun, asas yang hingga kini dianut Indonesia belum mampu menjadikan Indonesia utuh dan sempurna. Masih banyak masalah yang timbul dan hadir di negara ini salah satu contohnya adalah masalah kebangsaan. Tak jarang, isu kebangsaan selalu muncul dalam berbagai situasi sehingga sangat perlu bagi kita memahami lebih dalam tentang wawasan kebangsaan yang sebenarnya, karena dengan memahami makna kebangsaan dapat membantu kita mengatasi berbagai problematika yang kini dihadapi Indonesia.

 “Kita memiliki 750 suku bangsa yang membanggakan, yang bhineka, ibarat pecahan yang beraneka disatukan oleh Pancasila sebagai penyebut yang sama. Pancasila menyatukan yang bhineka menjadi tunggal ika dan persatuan adalah dalam arti “persatuan hati”, satu ruh kehidupan yang sama. “Persatuan” bukan “persatean” (Moh. Hatta, Daulat Ra’jat, 1931)

Oleh: Nurul Aeni

 

Salah satu ciri khas manusia abad 21 ialah tangan yang hampir tak pernah lepas dari gawai, hal ini tentu saja merupakan implikasi dari perubahan teknologi yang ekstrem.  Saat ini orang mengubah cara hidup secara radikal, baik itu dari cara berbelanja, ke bank, mengambil foto, mengerjakan tugas, berpolitik, berbagi informasi dan masih banyak lagi yang lainnya. Perubahan tersebut terjadi sangat  cepat namun tetap terlihat di depan mata walau kita tidak menyadarinya.

 

Dahsyatnya perubahan ini secara tidak langsung memengaruhi perubahan keyakinan dan perilaku, perubahan tersebut sangat berat diterima oleh orang dewasa namun diterima dengan riang oleh anak-anak yang terlahir di masa ini. Perubahan merupakan proses dari kehidupan itu sendiri, di mana orang dewasa/orang tua juga mengalaminya. Dulu pesawat terbang dianggap tidak mungkin ada, namun sekarang hampir setiap orang menaikinya.  Bedanya perubahan saat ini sangat cepat sehingga orang dewasa menerima ini dengan kemampuan yang lebih terbatas.

 

Sementara anak–anak yang lahir di era ini tumbuh dan menerima dengan suka cita kondisi tersebut, mereka adalah Digital Native, Don Tapscott menamai mereka dengan generasi Z. Generasi Z ialah mereka yang lahir di tahun 1998 hingga sekarang. Mereka lahir seiring dengan perkembangan teknologi tersebut, bahkan sebelum lahir mereka merasakan kehadiran teknologi ketika masih dalam kandungan ibunya, sejumlah alat USG terkini dan berbagai peralatan medis lain hadir menyertai kelahiran generasi ini. Setelah lahir mereka juga tumbuh berkembang dikelilingi teknologi diberagam bidang. Memang mereka tidak mengalami perubahan dalam setiap hal, namun perkembangan pengalaman, cara berpikir dan intelektual berubah secara cepat dan massive.

 

Celakanya, walaupun perubahan tersebut terlihat jelas baik di rumah maupun di sekolah, beberapa pendidik masih mengajar dengan cara yang sama dan melalaikan bahkan ada yang menolak perubahan penting tersebut. Padahal, di lingkungan mereka teknologi saling bersaing untuk mendapatkan perhatian anak-anak, baik melalui film, musik, permainan, teve, game daring, media sosial, dan lainnya. Mereka memposisikan diri sebagai konsumen aktif yang menghabiskan waktu untuk mempelajari atau menggunakan teknologi tersebut, sementara sebagian para pendidik masih mencoba untuk mendidik anak-anak dengan metode dan piranti tahun 80-an.

 

Di sekolah anak-anak mengalami kebosanan terutama ketika banyak pertanyaan–pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh guru, namun bisa dijawab dengan mudah oleh Google. Usai sekolah, mereka akan bergumul dengan teknologi karena banyak hal yang bisa mereka pelajari sendiri di sana, utamanya karena mereka tertarik dan rasanya menyenangkan. Jim Groom menyebut hal ini dengan istilah edupunk, ialah pendekatan proses belajar mengajar yang dihasilkan dari sikap DIY (Do It Yourself). Sikap DIY ini memungkinkan anak-anak secara mandiri dapat mempelajari dan menyelesaikan tugasnya, ini sangat memungkinkan sekali dilakukan oleh anak-anak karena informasi dapat dengan mudah didapatkan hanya dengan gawai yang mereka miliki. Namun bukan berarti, anak–anak ini akan jadi lebih baik dan bijaksana, terdapat juga informasi yang mungkin dapat menyesatkan mereka, bagaimanapun kondisi psikologi dan fisik mereka tetaplah sesuai usianya, di sini pendidik perlu hadir untuk meluruskan kesalahpamahan tentunya harus dengan metode baru sesuai kebutuhan mereka saat ini.

 

Lalu apa yang perlu dipersiapkan oleh guru abad 21? Apa yang perlu dikuasai para guru abad 21 agar dapat bersahabat dengan Gen Z ini? British Council membagi keterampilan dasar pengajaran abad 21 ke dalam enam bagian yaitu:

  1. Berpikir kritis dan kemampuan menyelesaikan masalah
  2. Komunikasi dan kolaborasi
  3. Kreatif dan Imajinatif
  4. Kewarganegaraan digital
  5. Literasi digital
  6. Kepemimpinan siswa dan pengembangan diri.

 

Pada game daring yang sering dimainkan anak saat ini, pada level kompleks mereka akan belajar bagaimana menyelesaikan masalah yang sulit, mereka dilatih mengambil kesimpulan ilmiah dan harus membuat keputusan yang efektif di bawah tekanan, maka jika anak–anak sudah melakukan tahap ini, pendidik harus lebih mampu menguasainya. Anak–anak juga menggunakan teknologi digital untuk berkomunikasi dan berkolaborasi dalam jarak jauh, maka guru harus berperan memfasilitasi hal ini di dalam pembelajaran. Guru memfasilitasi mereka dalam mendemonstrasikan hasil kreativitas dan inovasi mereka dalam bidang teknologi, dalam hal ini mereka tidak selalu jadi konsumen teknologi namun mereka mampu menghasilkan karya orisinil, hal ini butuh dukungan pendidik sehingga anak–anak dapat mengekspresikan karyanya.

 

Di tengah gencarnya teknologi berbasis digital yang mudah di akses anak, guru dituntut memberikan penyadaran praktik penggunaan informasi dan teknologi bahwa anak–anak  harus menggunakannya secara bijak, penuh tanggung jawab, dan mampu menunjukkan sikap yang baik ketika menggunakan teknologi. Di samping itu mereka dituntut cerdas mengelola informasi digital, mulai dari menemukan, menganilis, mengevaluasi, mensinstesis dan menggunakan informasi tersebut sesuai kebutuhan secara etis dan penuh tanggung jawab.

 

Dengan enam keterampilan dasar tersebut harapannya akan tercipta persahabatan antara guru abad  21 dengan Gen Z ini di tengah perubahan yang sangat cepat , yang menurut Atsususi “2c Hirumi” kecepatannya setingkat atom.

 

Referensi       

Oleh: Saiful Chorudin

Assalamu’alaikum. Nama saya Saiful Choirudin, lulusan angkatan pertama SMART. Ini adalah sepenggal kisah pengalaman berharga saya.

Sejak kuliah di Universitas Paramadina, saya sudah mengajar membuat kartun di SMP Islam Al- Syukro Universal, Ciputat. Di sana, saya mengajar ekstrakurikuler khusus untuk membuat dan belajar mengetahui apa-apa saja yang berhubungan dengan kartun. Saya tahu ada lowongan kerja sambilan di sekolah itu dari seorang ustadz yang sebelumnya pernah mengajar pelajaran bahasa Inggris dan juga menjadi kepala asrama di SMART yaitu Ustaz Heri Sriyanto.

Saya mengajar untuk satu tujuan yang besar, yaitu untuk belajar. Jadi, saya masih ingin belajar meskipun sudah bekerja. Hanya belajar dan belajar. Setelah mendapat gelar S1, saya masih ingin belajar lagi. Saat itu, belum ada pikiran yang muncul tentang mencari kerja. Kalau teman-teman saya sudah banyak yang mencari lowongan pekerjaan, saya tidak. Saya masih ingin belajar. Seakan-akan hanya ada pemikiran tentang belajar saja. Saya mengajar di SLB (Sekolah Luar Biasa) Mahardika juga masih untuk belajar, tepatnya belajar bersyukur.

Mungkin kebanyakan orang menganggap anak-anak yang berada di SLB itu gila, jelek, kotor, dsb. Tetapi saya tidak. Saya menggunakan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah SWT sebagai tempat untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan pada kita semua.

Di SLB sendiri ada banyak hal yang unik dan berbeda dari sekolah-sekolah biasa. Satu kelas di SLB hanya berisi 5-8 siswa. Berbeda dari sekolah biasa yang bisa menampung lebih dari 20 siswa untuk satu kelas. Ketika mengajar, harus ada tenaga ekstra untuk memerhatikan dan mengawasi para siswa. Apabila seorang pengajar lalai sedikit saja, salah satu muridnya bisa melakukan hal yang tidak baik.

Saya pernah mengalami hal seperti itu. Saya pernah mengajar menggambar dan saya sedikit lalai. Apa yang terjadi? Salah satu murid saya ada yang memakan krayon yang dipegangnya. Mungkin dia mengira bahwa itu adalah sebuah permen. Saya juga pernah diludahi ketika masuk ke sebuah kelas. Saya sudah terbiasa akan hal seperti itu. Apabila di sekolah biasa seorang pengajar bisa mengajar setiap hari, di SLB tidak bisa. Seorang pengajar biasanya hanya mengajar tiga kali dalam seminggu.

Ada hal unik lain di SLB. Salah satunya adalah para orangtua murid yang selalu bersemangat mengawasi anak-anaknya. Mereka bagaikan mesin penjaga 24 jam bagi anak mereka. Anak-anak yang bersekolah di SLB memang memiliki banyak kekurangan. Tetapi di balik kekurangan tersebut, tersimpan banyak hal yang kadang tidak dimiliki oleh orang biasa.

Oleh: Ana Mariana Mujahid

 

Pada suatu hari Thomas Alva Edison pulang ke rumah dan memberikan sepucuk surat kepada mamanya. Ia berkata “Guru saya memberikan surat ini pada saya dan berpesan agar surat ini hanya diberikan pada mama.”

Dengan airmata berlinang, sang ibu membacakan isi surat tersebut “Anakmu terlalu jenius, sekolah ini terlalu sederhana dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk melatih dia. Ajarilah dia secara langsung.”

Tahun demi tahun berlalu, mama dari Thomas Alva Edison pun sudah meninggal. Ia sekarang sudah menjadi penemu terhebat sepanjang sejarah.

Suatu ketika dia menemukan surat yang dulu dikirim oleh gurunya di laci meja mamanya. Dia membuka dan membacanya. “Anakmu punya masalah. Ia sangat bodoh. Kami tidak mengizinkan lagi untuk datang ke sekolah ini selamanya.”

Edison menangis berjam-jam dan menulis ini di buku hariannya. “Thomas Alva Edison adalah anak gila yang oleh seorang pahlawan yaitu mama saya, diubahnya menjadi yang paling jenius sepanjang abad.

 

:—————————————————————————————————————:

 

Terlepas dari akurat atau tidaknya cerita yang saya dapatkan dari media sosial di atas, isi ceritanya mengingatkan saya pada istilah labelling. Tidak jarang saya mendengar ungkapan-ungkapan “kamu, nakal sekali sih!” “bodoh, begitu saja tidak bisa”, “dasar pemalas!” dsb, baik itu dari orang tua, guru ataupun teman sebaya. Nakal, bodoh, malas bisa dikategorikan sebagai bentuk labelling atau pemberian cap terhadap seseorang atau sesuatu.

 

Menurut kamus Merriam-Webster, label adalah deskripsi atau identifikasi melalui kata atau frase. Label diberikan kepada anak atau seseorang untuk mendeskripsikan beberapa perilaku yang dimilikinya. Sebagai contoh, menyebutkan seseorang yang telah melanggar hukum sebagai seorang kriminal. Anak yang mendapatkan nilai jelek di sekolah disebut sebagai anak bodoh, anak yang sering mengganggu temannya disebut sebagai anak nakal. Atau anak yang tidak mengumpulkan PR disebut pemalas dll.

 

Dalam teori psikologi sosial, labelling adalah menetapkan atau menggambarkan seseorang dalam hal-hal yang berhubungan dengan perilakunya. Menurut A handbook for The Study of Mental Health, label adalah definisi yang ketika diberikan pada seseorang menjadi identitas diri orang tersebut dan menjelaskan tentang tipe bagaimanakah seseorang itu. Terkadang yang menjadi masalah adalah dengan memberikan label pada seseorang, kita cenderung melihat label tersebut sebagai gambaran keseluruhan, bukan gambaran perilakunya satu per satu.

 

Labelling ada dua macam, label negatif dan label positif. Menurut Mary Sheedy Kurcinka, penulis buku Raising Your Spirited Child (Harper Collins, 1992), label negatif dapat membuat anak kesulitan membangun self-esteem yang baik. Kurcinka berpendapat labelling tidak hanya berpengaruh terhadap perilaku anak tetapi juga terhadap perlakuan orang tua atau orang-orang di lingkungan anak itu sendiri. Orang tua yang menggunakan kata positif daripada label negatif cenderung bertindak kepada anaknya dengan perilaku dan penghargaan yang lebih baik (http://ruangpsikologi.com/topic/labeling-pada-anak/).

 

Hal ini juga berlaku pada seorang pendidik (guru). Seperti cerita Thomas Alva Edison di atas yang terlanjur di cap bodoh oleh gurunya karena kerap tertinggal dalam pelajaran, padahal sebenarnya Edison tidak bodoh. Namun di tangan yang tepat, yakni ibunya yang justru memberi label positif pada anaknya, Edison menjadi penemu terbesar sepanjang sejarah dengan 1093 hak paten.

 

Dalam makalah HERLINA/LABELING_DAN_PERKEMBANGAN_ANAK-salman.pdf. Labelling negatif memberikan dampak melalui tiga cara. Pertama, melalui self labelling (self concept). Menurut Sigmund Freud konsep diri berkembang melalui pengalaman. Terutama perlakuan orang lain terhadap diri sendiri secara berulang-ulang. Dengan menerima label “nakal” dari orang lain, maka dalam diri anak akan terbentuk konsep bahwa dirinya adalah seorang anak yang nakal. Dan anak akan mengukuhkan konsep tersebut dengan menampilkan perilaku tertentu yang menurut anggapan umum disebut perilaku anak nakal.

 

Kedua, melalui persepsi orang dewasa terhadap anak. Persepsi yang berupa, apapun yang anak nakal lakukan pastilah negatif. Walaupun anak berusaha menampilkan perilaku positif , namun dianggap ada niat tersembunyi, atau persepsi “pasti ada maunya nih”, atau “ah paling cuma hari ini dia begitu, besok pasti sudah nakal lagi” sehingga tidak diapresiasi oleh orang dewasa. Hal ini bisa membuat anak frustasi dan tidak mau mengulangi perilaku baiknya.

 

Ketiga, melalui perilaku orang dewasa terhadap anak. Orang dewasa yang sudah menganggap atau melabel anak negatif, tidak memberikan peluang pada anak untuk berubah. Misalnya dengan ungkapan “sudahlah tidak usah dinasihati lagi, buang waktu saja. Anak itu memang nakal, dan tidak akan berubah.” Akibatnya anak makin tidak tahu mana perilaku yang bisa diterima masyarakat dan terus berperilaku negatif.

 

Sebagai seorang pendidik sudah menjadi sebuah tanggungjawab untuk mendidik anak menjadi orang yang baik, memiliki masa depan cerah dan mengembangkan bakat serta potensi yang dimiliki oleh anak didik agar bisa bermanfaat bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk masyarakat. Dalam teori psikososial, erikson mengatakan bahwa dalam diri individu ada dua kutub yang akan berkembang pada setiap tahap perkembangan anak, yaitu kutub positif dan kutub negatif. Kutub mana yang akan berkembang sangat tergantung dari stimulasi lingkungan yang diterimanya. Bila lingkungan memberikan stimulasi yang negatif seperti pemberian label negatif maka kutub negatiflah yang akan berkembang, begitu pula sebaliknya. Perkataan yang buruk dapat merusak moral dan mental seseorang. Perkataan yang baik dapat memotivasi seseorang untuk menjadi yang terbaik.

 

Ada beberapa cara yang berupa stimulasi positif dalam mendidik anak yang bisa dilakukan baik oleh orang tua maupun guru, diantaranya; memberi atau memanggil dengan nama atau julukan yang baik. Memberikan respon yang spesifik, maksudnya berikan respon terhadap perilaku anak bukan pada kepribadiannya. Memberikan pujian dan hukuman secara tepat. Jangan berlebih dan jangan kurang, berikan pujian dan hukuman jika anak menunjukkan perilaku yang diinginkan atau tidak diinginkan. Pujian dan hukuman pun harus disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin anak, misalkan anak laki-laki usia dua tahun akan senang jika diberi permen beda halnya dengan anak usia 12 tahun yang lebih suka jika diberi tas baru daripada permen.

 

Berikutnya adalah konsisten dalam memberikan pujian ataupun hukuman karena inkonsisteni malah akan membuat anak bingung menentukan perilaku yang harus dilakukan dan terakhir jangan lupa untuk memberikan pemahaman mana yang boleh dilakukan dana mana yang tidak boleh dilakukan.

 

Terakhir saya tutup dengan mengutip kata-kata dari Lawrence G lovasik “if you cannot do a kind deed, speak a kind word. If you cannot speak a kind word think a kind thought.”

 

Semoga bermanfaat ya Sob.

Hari Jumat datang lagi nih Sob! Banyak sekali amalan istimewa yang bisa dilakukan di hari ini. Salah satunya membaca surat Al-Kahfi. Kalau kamu ingin sekali bisa menamatkan Al-Kahfi di hari Jumat, tapi waktumu terlalu sibuk PJJ kamu bisa pakai cara ini!

 

 

Caranya, kamu buat waktu membaca menjadi empat sesi. Bisa dimulai membaca di hari Kamis saat Maghrib, sebab hitungan dalam  kalender hijriyah, hitungan satu hari itu dihitung dari awal malam (tepat dengan tenggelamnya matahari malam itu) dan berakhir dengan tenggelamnya matahari pada keesokan harinya (di sore hari).

 

 

  1. Ba’da Magrib di hari Kamis bisa untuk memulai membaca Al-Kahfi dimulai dari ayat 1-31. Pada ayat-ayat ini menceritakan Kisah Ashabul Kahfi.
  2. Ba’da Isya pada malam Kamis/malam Jumat dari ayat 32-59. Ayat-ayat ini menceritakan tentang Kisah Dua Pemilik Kebun
  3. Ba’da Subuh hari Jumat mulai dari ayat 60-83, ayat-ayat ini menceritakan Kisah Nabi Musa dan Khidir
  4. Ba’da Zuhur mulai dari ayat 84-110, ayat-ayat ini menceritakan tentang Zulkarnain dan Yakjuj Makjuj.

 

Selamat membaca ya Sob! Semoga bisa membantumu meraih pahala lebih banyak.