,

Iya SMART Emang Beda Sob!

 

Oleh : Imtinanika Syahara, Guru SMART

 

WFH atau kependekkan dari Work From Home adalah sebuah istilah lama yang tenar kembali setelah merebaknya pandemi covid-19 atau virus corona. Virus yang datang tak diundang ini membuat pemerintah harus menerapkan kebijakan WFH bagi para karyawan untuk bekerja di rumah saja dalam rangka meminimalisir penyebarannya.

 

Dompet Dhuafa Pendidikan adalah sebuah lembaga yang turut serta menerapkan sistem WFH bagi para karyawannya. Namun, tidak seperti kebanyakan lembaga atau perusahaan lain yang menerapkan WFH full bagi seluruh karyawannya, sebagian dari karyawan lembaga DD Pendidikan masih tetap harus bekerja seperti biasanya. Hal ini dikarenakan lembaga ini memiliki beberapa jaringan program yang salah satunya adalah SMART Ekselensia Indonesia, sebuah sekolah kepemimpinan berasrama 5 tahun yang notabene siswanya berasal dari masyarakat marginal dari seluruh wilayah Indonesia.

 

Terdapat 192 siswa SMART yang sampai detik ini masih berada di asrama. Mereka tidak diperkenankan keluar dari area asrama sebagai zona aman mereka. Mereka pun harus menghadapi kenyataan tak bisa pulang kampung menikmati hari raya bersama keluarga setelah satu tahun lalu mengalami perubahan kebijakan.

 

Bagaimana dengan proses KBM di SMART? Di tengah maraknya aplikasi meeting online yang sedang naik daun sebagai media tatap muka virtual, guru dan siswa SMART urung melakukannya. Namun semangat memfasilitasi siswa SMART belajar masih membumbung tinggi.

 

Kami menggantikan proses itu dengan proses penugasan. Jadwal dirancang tidak sepadat biasanya, hanya 2 mata pelajaran dalam sehari. Itupun dalam kurun waktu belajar yang cukup pendek, hanya satu jam untuk satu pelajaran dengan bobot penugasan yang disesuaikan. Sisanya anak-anak beraktifitas sesuai minat mereka, ada yang memilih untuk berolahraga, menyalurkan hobi memasaknya, berkreasi diruang jahit, bereksplorasi mencukur rambut teman-temannya, nonton TV, membaca novel atau komik favoritnya atau ada juga yang memilih rebahan sekedar leyeh-leyeh sembari bercerita bersama teman-teman.

 

Kami hanya datang disaat piket saja, sisanya mengikuti kebijakan bekerja di rumah. Guru piket mendistribusikan tugas pada ketua kelas dan mengumpulkannya kembali serta meletakan di meja guru pengampu untuk nanti diperiksa setelah jadwal piketnya ke sekolah tiba. Kami tak bisa dengan leluasa berinteraksi dengan siswa seperti biasanya. Aturan physical distancing harus diterapkan. Memakai masker, menjaga jarak aman dan rajin mencuci tangan. Setidaknya itu upaya yang bisa kami lakukan agar semua tetap aman.

 

SMART memang beda!!! Setidaknya itu yang selalu dirasakan. Di sini bukan tempatnya guru pencari perhatian, di sini bukan tempatnya guru penggila jabatan. Di sini adalah tempatnya guru yang senang membagikan kebersamaan.

 

Tuntutan wali murid (orang tua) yang menyerahkan sepenuhnya  tanggung pendidikan anaknya  di sekolah kepada gurunya tak pernah kami rasakan, melainkan kamilah yang berperan menggantikan posisi mereka baik di sekolah maupun di asrama. Beragamnya komentar mereka dengan segala beban tugas yang harus dikerjakan anak-anaknya dirumah pun tak kami dapatkan. Yang ada adalah titipan doa-doa tulus sepenuh hati agar anak-anak dan kami gurunya selalu dilindungi Allah swt dimanapun berada.

 

Kotak bingkisan menjelang ramadhan dari wali murid pun tak pernah kami khayalkan, yang ada justru momen bisa berbagi dengan anak-anak lah yang kami selalu rindukan.

,

Asyiknya Aktivitas Ramadan Bersama Al-Qur’an  

Oleh: Unang, Guru SMART

 

Al-Qur’an merupakan kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dengan perantara malaikat Jibril alahi salam, mukjizat secara lafadznya, dan berpahala bagi yang membacanya.

 

Allah Subhanahu wata’ala memuliakan apa dan siapa saja yang berinteraksi dengan Al- Quran. Sebagaimana Allah memuliakan nabi Muhammad saw dikarenakan diturunkannya Al-Qur’an kepada beliau. Allah Swt berfirman:

 

“Katakanlah (Muhammad), seseungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa” (QS. Al-Kahfi : 110)

 

Dalam tafsir Al-Baghawi (Ma’alim Tanzil), Ibnu Abbas berkata terkait ayat di atas: Allah SWT mengajarkan kepada Rasulullah saw sifat tawadhu’, maka dari itu Allah memmerintahkan kepada Rasulullah saw untuk mengatakan bahwa sesungguhnya aku (Muhammad) hanya manusia seperti kalian akan tetapi aku diberikan kekhususan dengan diturunkannya wahyu (Al-Qur’an), dan Allah memuliakan aku dengannya (Al-Qur’an) , diwahyukan kepadaku sesungguhnya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa.

 

Begitupun Allah SWT memuliakan malaikat Jibril alaihi salam, salah satunya dikarenkan malaikat Jibril ditugaskan oleh Allah Swt untuk menyampaikan wahyu (Al-Qur’an) kepada Nabi Muhammad saw. Allah SWT banyak mensifatkan malaikat Jibril dalam Al-Qur’an:

إِنَّه لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍ (19) ذِى قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍ (20)

“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki Arsy.” (QS. At- Takwir : 19-20)

 

Begitupula denga bulan Ramadhan, Allah menjadikan bulan ramadahan menjadi bulan yang istimewa selain dengan puasa Ramadhan, juga salah satunya diturunkannya Al-Qur’an di bulan tersebut.

 

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil).,,” (QS. Al-Baqarah : 185)

Malam diturunkannya Al Quran, menjadi malam yang terbaik, lebih baik dari pada seribu bulan yaitu lailatul qadar.

إِنَّآ أَنْزَلْنٰهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)

 

“ Sesungguhnya kami  telah menurunkannya (Al-Qur’an ) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr : 1-3)

 

Para sahabat ridwanullahi alaihim menjadi generasi yang terbaik dikarenakan mereka berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam aqidah, ibadah, dan muamalah. Rasulullah saw bersabda :

 

“Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” (HR. Ahmad)

 

Bulan ramadhan merupakan momentum untuk kita berinteraksi dengan Al-Qur’an, sebgaiman Rasulullah saw di bulan ramadhan beliau mentalaqikan bacaan Al-Qur’an kepada malaikat Jibril. Para sahabat ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu tiga hari, bahkan ada yang mengkhatamkannya dalam sehari semalam. Begitupun para ulama, salah satunya Imam as-Syafi’i beliau mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan ramadhan sebanyak enam puluh kali.

 

Di SMART Ekselensia Indonesia, kami membiasakan siswa untuk berinterkasi dengan Al-Qur’an setiap harinya. Ada program wajib menghapal setiap 3 kali dalam sepekan dengan target minimal ½ juz tiap semester. Jadi siswa diwajibkan menghapal minimal 5 juz selama sekolah di SMART. Selain program regular, ada juga program takhassus yaitu siswa yang mempunyai bakat dalam menghapal melebihi rata-rata, mereka dibimbing untuk bisa menghapal Al-Qur’an 30 juz. Peserta program takhassus diambil perwakilan setiap angkatannya. Tujuan dari program ini adalah sarana untuk mengeimbangi keilmuan siswa, selian cerdas secara pengetahuan keilmun umum juga crdas secara spiritual dan tentunya untuk mendapatkan kemulian di sisi Allah Swt baik di dunia maupun diakhirat.

 

Upaya membiasakan siswa sehari-hari berinteraksi dengan Al-Qur’an tidak hanya di sekolah, begitu juga di asrama. Ada juga program untuk memurajaah (mengulang) hapalan. Di bulan Ramadhan kali ini siswa tetap berada di asrama, yang semula dijadwalkan untuk pulang kampung, qadarullah harus di tunda dikarenakan adanya penyebaran wabah covid-19. Maka dari itu, ramadhan kali ini siswa dianjurkan untuk lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an mengingat kemuliaan dan kekhususan bulan ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an.

 

Ketika sudah terbiasa sehari-hari berinteraksi dengan Al-Qur’an, maka bukan hal yang berat untuk bisa lebih giat untuk bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak mungkin di bulan Ramadan. Mudah-mudahan Allah Swt memberikan kita kemudahan untuk bisa memfokuskan diri membaca, mentadabburi Al-Qur’an di Ramadan kali ini.

 

 

, ,

Kudu Sinergi Supaya Pendidikan Berarti

 

Oleh: Syahrizal Rachim

Alumnis SMART Angkatan 9 berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran

 

Pendidikan merupakan salah satu sasaran pokok pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pada kehidupan sekarang ini semua orang berkepentingan terhadap jalannya pendidikan karena pendidikan merupakan wadah pembinaan  tenaga kerja, dapat untuk menambah lapangan pekerjaan, serta  untuk memperoleh status tertentu dalam masyarakat. Dunia. pendidikan sekarang ini dihadapkan pada tantangan kemajuan zaman. Dengan adanya kemajuan zaman ini, banyak aspek‐aspek kehidupan yang berubah dan bergeser. Oleh karena itu, mau tidak  mau paradigma dan sistem pendidikan harus disesuaikan dengan  tuntutan zaman. Tentu saja perubahan tersebut diharapkan dapat  menuju pendidikan masa depan yang lebih baik.

Perubahan pendidikan yang pertama berkaitan dengan sistem pendidikan, yakni sistem pendidikan tradisional direformasi menjadi sistem pendidikan empowering of people. Hal ini dilakukan karena pendidikan gaya lama (tradisional) menganggap siswa sebagai objek yang harus menerima apa saja yang diberikan guru, sistem pendidikan empowering of people tersebut diharapkan dapat mengembangkan kemampuan masyarakat.

Reformasi yang kedua berkaitan dengan orientasi pendidikan.  Pendidikan sekarang ini harus berorientasi pada dunia kerja, sehingga penekanannya tidak semata‐mata pada aspek kognitif, namun juga pada aspek‐aspek kepribadian lainnya yang justru lebih penting, seperti aspek afektif dan psikomotorik. Dengan demikian, pendidikan sekarang ini harus betul‐betul berorientasi pada life skill. Sekarang sudah saatnya menyiapkan peserta didik melalui pendidikan dengan pola, konsep, dan model baru yang dapatmengembangkan kepribadian. Pendidikan harus membantu  pengembangan peserta didik dalam konsep life skill yang  menyiapkan peserta didik agar memiliki kecakapan hidup yang  bermakna dan berguna di kemudian hari. Dengan adanya orientasi, paradigma, dan sistem pendidikan yang baru diharapkan dapat mengatasi masalah pengangguran yang saat ini merupakan salah satu dari berbagai masalah ketenagakerjaan di Indonesia.

Berbagai cara telah diupayakan oleh pemerintah melalui dunia pendidikan, diantaranya dengan dikembangkannya pendidikan yang bercirikan keterkaitan dan kesepadanan (link and match) dan dikembangkannya pendidikan berbasis kompetensi. Cara‐cara tersebut menunjukkan bahwa pendidikan yang dilaksanakan harus sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga keterserapan lulusan oleh dunia kerja menjadi tinggi. Oleh karena itu, pendidikan harus memperhatikan kompetensi yang ada pada dunia kerja untuk dikembangkan dalam pembelajaran, sehingga  peserta didik memiliki kompetensi seperti harapan dunia kerja.  Dengan demikian, pendidikan saat ini harus berorientasi pada kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja atau dunia usaha.

Pentingnya Akreditasi Perguruan Tinggi

Akreditasi merupakan salah satu bentuk penilaian (evaluasi) mutu dan kelayakan institusi perguruan tinggi atau program studi yang dilakukan oleh organisasi atau badan mandiri di luar perguruan tinggi. Bentuk penilaian mutu eksternal yang lain adalah penilaian yang berkaitan dengan akuntabilitas, pemberian izin, pemberian lisensi oleh badan tertentu. Ada juga pengumpulan data oleh badan pemerintah bagi tujuan tertentu, dan survei untuk menentukan peringkat (ranking) perguruan tinggi.[1]

Akreditasi merupakan suatu proses dan hasil. Sebagai proses, akreditasi merupakan suatu upaya BAN-PT untuk menilai dan menentukan status mutu program studi di perguruan tinggi berdasarkan standar mutu yang telah ditetapkan. Sebagai hasil, akreditasi merupakan status mutu perguruan tinggi yang diumumkan kepada masyarakat. Dengan demikian, tujuan dan manfaat akreditasi program studi adalah sebagai berikut:[2]

  1. Memberikan jaminan bahwa program studi yang terakreditasi telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh BAN-PT, sehingga mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat dari penyelenggaraan program studi yang tidak memenuhi standar.
  2. Mendorong program studi/perguruan tinggi untuk terus menerus melakukan perbaikan dan mempertahankan mutu yang tinggi
  3. Hasil akreditasi dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam transfer kredit, usulan bantuan dan alokasi dana, serta mendapat pengakuan dari badan atau instansi yang berkepentingan.

Menilik Mutu Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi merupakan lembaga pelaksana fungsi Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta mengelola Iptek pada bidang studi yang dikelolanya.[3] Untuk menopang dedikasi dan fungsi tersebut, perguruan tinggi harus mampu mengatur diri sendiri dalam upaya meningkatkan dan menjamin mutu secara berkelanjutan, baik yang berkenaan dengan masukan, proses maupun keluaran program akademik dan layanan yang diberikan kepada masyarakat selaras dengan bidang studi yang dikelolanya.

Dalam rangka mewujudkan akuntabilitas publik, perguruan tinggi harus secara aktif membangun sistem penjaminan mutu internal. Untuk membuktikan bahwa sistem penjaminan mutu internal telah dilaksanakan dengan baik dan benar, institusi tersebut harus diakreditasi oleh lembaga penjaminan mutu eksternal. Dengan sistem penjaminan mutu yang baik dan benar, perguruan tinggi akan mampu meningkatkan mutu, menegakkan otonomi, dan mengembangkan diri sebagai penyelenggara program akademik/ profesional sesuai dengan bidang studi yang dikelolanya, dan turut serta dalam meningkatkan kekuatan moral masyarakat secara berkelanjutan.

Guna mendukung penjaminan mutu perguruan tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) berkewajiban melakukan akreditasi bagi semua program studi beserta semua institusi perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Berdasarkan perundang-undangan yang berlaku dan berbagai pertimbangan, Kemdikbud memberikan tanggung jawab pelaksanaan akreditasi program kepada Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Akreditasi institusi merupakan proses evaluasi dan penilaian secara komprehensif atas komitmen institusi terhadap mutu dan kapasitas penyelenggaraan program tridarma perguruan tinggi, guna menentukan kelayakan perguruan tinggi untuk menyelenggarakan program akademiknya. Kriteria untuk mengevaluasi dan menilai komitmen tersebut dijabarkan dalam sejumlah standar akreditasi beserta parameternya.

Akreditasi perguruan tinggi cukup beralasan dilaksanakan sebagai bentuk tanggung jawab penyelenggara pendidikan tinggi kepada stakeholders yaitu masyarakat pengguna lulusan tentang keadaan dan upaya penyelenggara pendidikan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan untuk tiap satuan pendidikan yang bersangkutan.

Di samping itu, melalui akreditasi beberapa manfaat diraih institusi perguruan tinggi, yaitu:[4]

  1. Memberikan jaminan bahwa institusi perguruan tinggi yang terakreditasi telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh BAN-PT, sehingga mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat dari penyelenggaraan perguruan tinggi yang tidak memenuhi standar.
  2. Mendorong perguruan tinggi untuk terus menerus melakukan perbaikan dan mempertahankan mutu yang tinggi.
  3. Hasil akreditasi dapat dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam transfer kredit perguruan tinggi, pemberian bantuan dan alokasi dana, sertapengakuan dari badan atau instansi yang lain.

Urgensi Membangun Kerja Sama Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah

Pengembangan pendidikan tinggi perlu memperhatikan prioritas kebutuhan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Pada sisi lain, pemerintah daerah dapat berperan menunjang pengembangan pendidikan tinggi, khususnya kegiatan perguruan tinggi di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini dapat terlaksana apabila ada upaya nyata untuk mendorong kerjasama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Keberhasilan pemerintah daerah di berbagai sektor meningkatkan kemampuan bangsa dalam mengatasi masalah-masalah nasional, dan pada gilirannya akan meningkatkan daya saing bangsa di tingkat internasional.[5]

  1. Peran Perguruan Tinggi dalam Mengatasi Kesenjangan Antardaerah

Peran pendidikan tinggi dalam mengatasi kesenjangan antar daerah dapat ditempuh melalui beberapa program kegiatan perguruan tinggi, antara lain: melalui program pendidikan guru, yang diharapkan mampu mengatasi kesenjangan mutu pendidikan; melalui program pengembangan sumber daya manusia termasuk pegawai pemerintah daerah, yang diharapkan mampu mengembangkan mutu pengelolaan sumber daya daerah, termasuk meningkatkan sumber daya alam yang potensial; melalui program penelitian, yang diharapkan mampu mengidentifikasi permasalahan, potensi sumber daya, dan prioritas pembangunan daerah; melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat, yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan sesuai dengan prioritas daerah yang bersangkutan.

  1. Peningkatan Kualitas SDM Pemerintah Daerah

Kerjasama antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam mencerdaskan masyarakat tidak saja terbataspada peningkatan kualitas guru tetapi juga dalam upaya mengembangkan kemampuan pegawai pemerintah daerah. Peningkatan kualitas pegawai pemerintah daerah tersebut dapat ditempuh melalui berbagai skema kerjasama, yaitubaik melalui jalur program pendidikan formal, maupun melalui berbagai program pelatihan  yang bisa disediakan perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan pemerintah daerah. Skema kerjasama ini dilaksanakan dengan target untuk mencapai tingkat kualitas kemampuan pegawai sesuai dengan standar kompetensi SDM secara nasional maupun internasional.

Peningkatan kesejahteraan melalui program pengabdian kepada masyarakat perguruan tinggi di suatu daerah baik negeri maupun swasta diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah melalui kegiatan pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat dengan menitikberatkan pada potensi dan kebutuhan daerah setempat. Kegiatan pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat tersebut dapat diarahkan pada penyelesaian masalah suatu daerah yang langsung bermanfaat pada masyarakat. Kegiatan tersebut dapat dibiayai oleh perguruan tinggi, dana rutin pemerintah maupun oleh sponsor. Dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerintah daerah dapat mengalokasikan dana bagi perguruan tinggi guna melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hal tersebut mengingatkan pada konsep “link and match”, konsep kerjasama berdasarkan asas kesesuaian dan saling menguntungkan.

Keberlanjutan Pembiayaan

Tanggung jawab Pembiayaan Sektor Pendidikan Dalam peraturan perundangan, biaya peningkatan sektor pendidikan, termasuk biaya peningkatan sektor pendidikan, termasuk bagi pendidikan tinggi merupakan komitmen dan tanggung jawab pemerintah (pusat dan daerah) serta masyarakat. Jika pemerintah daerah, meyakini peran pendidikan tinggi semakin penting dan relevan dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah, maka langkah pemerintah daerah mengalokasikan dana bagi kerjasama dengan pendidikan tinggi perlu didukung. Perlu diketahui bahwa perguruan tinggi otonom memerlukan dukungan pembiayaan partisipatif dari berbagai sumber daya keuangan, baik dari pusat, daerah, masyarakat maupun industri yang akan dikelola secara sinergis.

Alokasi pembiayaan kerjasama pemerintah daerah dan perguruan tinggi apabila pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk pengembangan pendidikan tinggi, maka berbagai program kerjasama antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dapat dikembangkan melalui berbagai skenario alokasi anggaran dan kegiatan sebagai berikut:[6]

  1. Alokasi anggaran ditujukan kepada program yang diprioritaskan, misal: program peningkatan SDM guru-guru dan program studi lanjut staf pemerintah daerah.
  2. Alokasi anggaran diberikan kepada institusi, misalnya dalam kasus kerjasama penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, pemerintah daerah bisa langsung mengalokasikan dana kepada perguruan tinggi.
  3. Alokasi anggaran ditujukan langsung kepada masyarakat atau individu-individu di daerah tertentu, misalnya berupa beasiswa kepada para mahasiswa daerah setempat, atau model-model lain dalam menggalang dana masyarakat maupun industri melalui peran pemerintah daerah sebagai leading sector dalam pembangunan daerah

Target Kondisi Di Masa Depan

Peningkatan pendidikan untuk mengatasi kesenjangan antar daerah di masa depan, perguruan tinggi dan pemerintah daerah harus berperan secara proaktif dan partisipatif untuk menciptakan sinergi dalam mengurangi kesenjangan antar wilayah terutama kesenjangan dalam hal kualitas pendidikan masyarakat dan kesenjangan pembangunan daerah.

Mendukung pengembangan sektor ekonomi, sosial, dan budaya pengembangan perguruan tinggi diharapkan juga dapat menunjang upaya pemerintah daerah dalam pembangunan daerah, antara baik dalam pengembangan sektor-sektor ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat. Hal itu dilakukan dengan pengembangan relevansi dan kompetensi perguruan tinggi dengan memperhatikan prioritas kebutuhan daerah dan potensi unggulan daerah.

Peningkatan kualitas SDM menjadi perhatian semua pihak dalam memasuki era globalisasi ini. Terlebih dalam suasana multidimensi, masyarakat membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk menghadapi persaingan bebas, untuk itu isu pendidikan memegang peranan penting bagi peningkatan kualitas sumber daya yang dimiliki. Agar tidak tertinggal dengan masyarakat dan bangsa di dunia, maka peningkatan pendidikan menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan potensi dasar yang dimiliki masyarakat dan bangsa Indonesia.  Peningkatan kualitas pendidikan akan memiliki makna bagi perbaikan kualitas Indonesia secara keseluruhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi. Pedoman Penilaian Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi. Buku I. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2011.

Tim Pusat Data Statistik Pendidikan. Analisis Kualitas Program Studi Perguruan Tinggi dalam Mendukung Pencapaian Koridor Ekonomi Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2013.

Abduh Syamsir. Strategi Membangun Kerjasama Perguruan Tinggi Dengan Pemerintah Daerah. 2013.

[1] Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi. Pedoman Penilaian Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi. Buku I. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2011.

[2] Tim Pusat Data Statistik Pendidikan. Analisis Kualitas Program Studi Perguruan Tinggi dalam Mendukung Pencapaian Koridor Ekonomi Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2013. Hlm. 23.

[3] Ibid. Hlm. 25.

[4] Ibid. hlm. 27.

[5] Abduh Syamsir. Strategi Membangun Kerjasama Perguruan Tinggi Dengan Pemerintah Daerah. 2013.

[6] Tim Pusat Data Statistik Pendidikan. Op.cit. hlm. 78.

,

Tentang Alif, Tentang SMART

The Power of Words

Irani Soraya

 

Bayangkan ditangan anda saat ini ada dua bilah golok. Golok pertama amat indah, rapi, mengkilap lagi terasah dengan baik seolah mencerminkan ketajaman dan kekuatannya. Golok kedua, adalah golok yang terlihat tidak meyakinkan, permukaanya dipenuhi karat, tampak tidak rapi apalagi meyakinkan. Golok yang mana yang akan anda pilih jika anda hendak memotong sebatang bambu? Golok pertama pasti yang terpilih, permukaannya yang halus, mengkilap lagi memperlihatkan ketajamannya. Tapi bagaimana jika golok pertama tidak dihujamkan dengan sekuat tenaga, akan tetapi hanya dipantulkan atau di pukul-pukulkan saja dengan sekenanya pada sepotong bambu, apakah bambu akan terpotong, mungkin tergores atau lecet tapi tidak akan terpotong. Dan bagaimana jika golok kedua yang karatan lagi tak meyakinkan kita hujamkan dengan sekuat tenaga keatas bambu, mungkin butuh waktu lama akan tetapi pasti bambu dapat terpotong oleh golok yang kedua.

 

Kisah tersebut diceritakan oleh salah seorang ustaz dalam kisah negeri lima menara yang ditulis oleh Ahmad Fuadi[1].  Petuah ini diberikan saat sosok Alif diceritakan mulai nyantri di pesantren Madani, proses pendidikan yang dialami Alif kecil ini tidak semulus beberapa teman dekatnya, alif yang masuk ke dunia pesantren dengan “terpaksa” beberapa kali terkena hukuman akibat ketidak disiplinan, diceritakan juga betapa Alif begitu kesulitan untuk menghafal pelajaran-pelajarannya di pesantren madani, dibandingkan dengan Baso tokoh sahabat dekatnya yang begitu jenius.

 

Kisah tentang golok diatas diceritakan oleh salah satu pimpinan pondok Pesantren Madani yang diceritakan oleh Fuadi.  Sebuah semangat untuk bekerja keras dalam mencapai apapun, dan semangat untuk melakukan sesuatu dengan sepenuh hati, dengan sebuah totalitas.

 

Alif kecil hanyalah seorang anak dari tepi danau Maninjau yang begitu bermimpi untuk masuk SMA untuk kemudian melanjutkan ke Universitas, namun jalan hidupnya berkata lain, ibundanya menitipkan cita-cita baginya untuk belajar agama, sebuah permintaan dari bunda yang ytak mungkin ditolak. Alif kecil akhirnya menjalani harapan dari orang tua yang amat dikasihi serta dihormatinya itu, dan pada akhirnya pendidikan dalam pesantren Madani itulah yang banyak mewarnai segala perjuangan Alif dalam mencapai impiannya untuk bisa menginjakkan kaki ke Amerika. Kekuatan Alif berasal dari 2 kalimat yang dilantunkan berkali-kali di pesantren madani yaitu “Man Jadda Wa Jadda (siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan sampai pada yang dicita-citakan)”dan kalimat yang kedua adalah “Man Shabara, Dzafira(siapa yang bersabar ia akan menang)”. Inilah energi yang banyak menggubah jiwa, energi yang berasal dari kata-kata baik. Energi inilah kiranya yang kita dapat tangkap dalam kisah negeri lima menaranya Fuadi, bahwa dalam memperjuangkan segala impiannya manusia pasti akan mengalami berbagai tantangan dan hambatan, akan tetapi hanya mereka yang mampu tetap totalitas, tetap bekerja keraslah yang akhirnya akan mencapai garis akhir.

 

Begitupula yang guru-guru SMART rasakan, mendidik para pemuda yan berasal dari berbagai daerah, memisahkan mereka dari kampung halaman dan dari kasih sayang keluarga. Proses pendidikan yang dilalui pun bukan setahun dua tahun tapi lima tahun, meliputi tiga tahun pendidikan SMP dan dua tahun tingkat pendidikan SMA, tantangan jadi semakin berat, sebagaimana pesantren madani yang Alif dan kawan-kawannya rasakan, di SMART pun menerapkan sistem asrama dengan aturan ketat soal keluar masuk maupun soal barang elektronik. Bayangkan seorang anak SMP di tahun 2020 bukankah biasanya sedang kerajingan handpone dan PS? namun di SMART mereka harus menghafal Qur’an, giat belajar, dan berjuang demi masa depan. Siswa-siswa SMART adalah harapan bagi dirinya, bagi keluarganya, dan bagi daerahnya.Cinta ilmu, kerja keras, santun, jujur dan bertanggung jawab adala nilai-nilai yang senantiasa kami tanamkan kepada pemuda-pemuda ini.

 

Sebuah pepatah pernah berkata: “seorang jenius selalu bisa dikalahkan oleh seorang yang bekerja keras, dan seorang pekerja keras akan selalu dikalahkan oleh seorang yang mencintai pekerjaannya[2]”, pepatah tua ini berbicara banyak, bahwa manusia tidak boleh hanya berbangga hati dengan kecerdasan yang tinggi, karena kecerdasan yang tinggi tanpa adanya dorongan untuk berbagi dan bermanfaat maka akan seperti pepatah lainnya “ Ilmu tanpa amal maka bagaikan pohon tanpa buah[3]” artinya kemanfaatannya kurang dapat dirasakan oleh orang lain. Begitu pula cerita tentang dua bilah golok diatas, meskipun golok pertama tampak rapi, mengkilap akan tetapi tanpa usaha yang sungguh sungguh dalam menghujamkannya ke bilah bambu maka golok tersebut hanya menyebabkan lecet-lecet saja. Inilah gambaran orang yang merasa cukup dengan kejeniusan dan kecerdasan semata.

 

Pepatah-pepatah dan kisah-kisah telah lama digunakan sebagai pelipur lara dan penghiburan, namun penggunaanya sebagai sebuah motivasi belum banyak tergali. Jika Alif kecil seorang anak dari kampung di tepi danau Maninjau akhirnya mampu menginjakkan kakinya di benua Amerika dengan diantar oleh “kekuatan kata”dari ustaz dan guru-gurunya, kiranya kita dapat memulai untuk mengucapkan kata kata yang memberi inspirasi, kata-kata yang menumbuhkan jiwa orang orang terdekat dan kerabat, kata kata yang mampu menyembuhkan , maka masihkan kita biarkan lisan ini untuk mengeluarkan kekecewaan dan kemarahan?

 

[1]    Ahmad Fuadi, Negeri Lima Menara.Gramedia Pustaka, 2009. Jakarta.

[2]    Kata-kata ini diucapkan dalam Drama Korea”Love and Bread”saat kakek menasehati Kim Tak Gu, Indosiar, 2010.

[3]    Aslinya berbunyi “al ilmu bila ‘amalin kasajari bila tsamarin’ biasanya ditulis didinding -dinding pesantren sebagai motivasi santri

,

Cerita Ramadan Masa Kecilku

Oleh: Guru SMART 

Mangkuyudan (atau sebelumnya bernama Mertonegaran), adalah salah satu dari sekian banyak nama kampung yang ada di kota Yogyakarta. Berada di di ujung selatan, kampung berbentuk segi empat  ini berbatasan dengan Kabupaten Bantul.

Ia memang tak setenar kampung Kauman, kampung legendaris tempat lahir dan berkembangnya organisasi Muhammadiyah.

Ia juga mungkin tak sehebat kampung Krapyak, dimana di dalamnya terdapat Pondok Pesantren Al Munawwir, yang diasuh (pada waktu itu) oleh KH Zainal Abidin Munawwir yang dijuluki sanggga ne langit (penyangga langit) oleh warga Nahdliyyin karena ketawadluan dan konsistensinya memegang  fiqh.

Atau yang terkini, Mangkuyudan memang tidak sesempurna kampung Jogokaryan, yang kegiatan sosial keagamaannya sangat banyak dan menasional.

Akan tetapi, bagi saya Kampung Mangkuyudan memiliki peran yang sangat penting. Selain karena memang saya lahir dan besar di sana, kampung Mangkuyudan juga sedikit banyak mempengaruhi alam pikiran dan wawasan saya terhadap ilmu keislaman.Dan inilah yang akan saya ceritakan dalam risalah singkat ini.

Berasal dari keluarga abangan, tentu tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk menambah wawasan saya tentang dunia islam.Satu-satunya jalan yang ada adalah memanfaatkan momentum Bulan Ramadan di Kampung Mangkuyudan pada saat itu.

Ramadan di Jawa, biasanya diawali dengan tradisi padusan, yaitu tradisi mandi untuk menyucikan diri memasuki bulan puasa.Ritual ini sangat di nanti-nanti oleh anak anak,hingga dewasa.Tak heran, tempat-tempat pemandian,kolam renang,dan lain-lain sampai sekarang  menjadi penuh oleh riuhnya masyarakat yang ingin mengikuti tradisi padusan.Pernah suatu ketika saya bersama teman-teman sebaya seperti Bayu, Ndaru, Yudi dan beberapa yang lain yang saya lupa namanya, dikoordinir oleh Mas Kindarto pergi padusan ke sebuah pemandian di daerah Kulon Progo.Pergi pagi-pagi sekali hanya untuk tidak melewatkan tradisi padusan sebagai kegiatan awal saat memasuki bulan Ramadan.

Kegiatan berikutnya adalah pengajian menjelang buka puasa, yang pada waktu itu pesertanya di bagi per kelas..Ada kelas A sampai D kalau tidak salah.Di sini diajarkan membaca Al-Qur’an, Azan, dan pengetahuan keislaman lainnya sesuai dengan jenjang kelasnya masing-masing, dan dikoordinir oleh RIMMY (Remaja Islam Masjid Mangkuyudan Yogyakarta), organisasi untuk remaja masjid Mangkuyudan yang di kemudian hari saya pernah menjadi ketuanya. Seru sekali kegiatan anak anak di sore hari menjelang buka puasa. Ya antara keseruan dan kenakalan anak-anak. Ada yang menangis rebutan makanan ringan buka puasa, ada yang main-main air kran untuk wudhu,minuman yang tumpah, bahkan sampai ada yang iseng mematikan sekering listrik, sehingga masjidnya menjadi gelap gulita menjelang maghrib.Dan yang terakhir ini, pelakunya adalah saya sendiri.Saya menjadi bulan-bulanan kemarahan bapak-bapak pengurus masjid pada waktu itu.

Srralat Tarawih berjamaah adalah kegiatan seru berikutnya.Pada masa saya dulu, kegiatan tarawih untuk anak-anak dilakukan di tempat yang terpisah dengan jamaah dewasa.Tarawih jamaah dewasa dilakukan di Masjid Mangkuyudan, untuk jamaah anak-anak bertempat di Balai Rukun Kampung Mangkuyudan dan dikoordinir oleh pengurus RIMMY sebagai imam dan pengisi kultum nya. Keseruan dan kenakalan anak-anak lagi- lagi mewarnai kegiatan shalat tarawih ini.Suatu ketika yang menjadi imam dan kultum adalah mas Suharmedi.Entah karena lupa atau apa, ketika di rakaat kedua  shalat witir beliau nampaknya kesulitan untuk mengakhiri bacaan Surat Al kafirun, sehingga yang terdengar oleh makmum di belakangnya hanyalah bacaan wala antum abidu namaa antum, wala ana aa bidu namaa antum  begitu terus menerus diulang-ulang tanpa ada satupun makmum yang bisa mengoreksinya,lha karena semua makmumnya adalah anak-anak.Tiba-tiba dengan suara lantang membahana terdengar celetukan salah seorang makmum yang posisinya tepat di belakang imam.” Wis mas, nek ora apal surate, langsung ruku’ wae.kesuwen, di bolan-baleni ra rampung-rampung” (Sudahlah mas, kalau nggak hafal surat nya, langsung ruku’ aja, kelamaan, diulang-ulang nggak selesai-selesai).Makmum bersuara lantang  itu bernama  Adit Cahyanto.  

Keseruan Ramadan di Kampung Mangkuyudan berakhir di malam takbiran, yang dilakukan dengan lomba dan pawai takbir keliling se wilayah Kecamatan Mantrijeron.Dulu takbir keliling belum mengenal lampion, dan lain-lain seperti sekarang.Pawai hanya bermodalkan oncor atau obor yang terbuat dari bambu dan diiisi minyak tanah sebagai bahan bakar.Mengingat di Jogja bambu sudah jarang ditemukan, maka kadang-kadang mencari bambu nya sampai Bantul, Kulon Progo, bahkan pernah sampai ke daerah sekitar Purworejo.Sekitar ba’da Duhur di hari terakhir  Ramadan, kehebohan sudah nampak di pelataran Masjid Mangkuyudan.Anak-anak dengan wajah gembira menanti pembagian obor yang dilakukan oleh kakak-kakak Pembina.Kadang-kadang saking semangatnya jadi lupa kalau bambunya itu masih ada lugutnya, semacam duri atau apa yang sangat gatal kalau terpegang.Ketika pulang membawa obor, raut muka bahagia terpancar dari raut wajah bocah-bocah itu

Sekitar ba’da Isya’ pawai takbir keliling dimulai.Dengan semangat membara anak-anak mengumandangkan takbir tiada henti sambil tangan kanannya membawa obor.Berseragam merah putih (baju seragam sekolah) dibalut rompi batik yang kadang kekecilan atau kegedean, berkopiah hitam anak-anak rela menyusuri jalan berkilo-kilo meter jaraknya.Didampingi orang tuanya masing-masing dan tentu saja kakak- kakak Pembina,anak-anak seusia SD itu dengan bangganya  berjalan bak anggota TNI/Polri .Keisengan dan kenakalan anak-anak tentu saja kembali terjadi.Entah karena capek atau apa sering terjadi barisan di belakang menabrak barisan di depannya.Akibatnya obor yang dipegang mengenai badan, punggung  atau bahkan kepala anak-anak di depannya, sehingga badannya menjadi bau minyak tanah.Untungnya tidak terbakar.Dan lagi-lagi yang sering melakukan hal tersebut adalah Adit Cahyanto.

 

 

 

 

,

Ini Bukan Paksaan, Jangan Salah Paham

Ditulis oleh: Syahtriyah, Guru SMART

 

Kenapa sih siswa SMART sedikit-sedikit diingatkan makan sambil duduk?. Kenapa sih sering ditegur kalau atributnya tidak lengkap? Kenapa sih ijin masuk labkom atau ke warnet susah? Kenapa sih harus shalat berjamaah di masjid, kan di asrama juga tetap shalat?. Kenapa sih harus hapal-setor Qur’an tiap pagi? Semua aktivitas seolah selalu diawasi, bukan hanya di kelas, lapangan apel, labkom, masjid, koperasi, pantry bahkan sampai ke kamar kecil. Kalau jadi anak SMART mungkin sering bertanya tentang ini ke teman, kakak kelas, bahkan ke guru-guru sambil jutek.

 

Nah, begini Sob.

 

Hidup di zaman teknologi yang berkembang pesat, tepat di saat kita sedang semangat-semangatnya belajar memberikan kemudahan dalam memiliki alat komunikasi yang difasilitasi akses interconnection networking atau internet tentu melengkapi hampir semua yang kita butuhkan. Dengannya, kita dapat mengetahui banyak hal. Banyak jejaring yang menyediakan berbagai informasi didapatkan hanya dengan mengetikkan kata kuncinya.

 

Namun, beberapa fakta yang sudah kita ketahui bersama bahwa menurut wearesoscial-hootsuite dan kominfo.go.id, rata-rata orang Indonesia menggunakan gadget sekitar 8-9 jam per hari, di atas rata-rata pengguna di negara lain yang tidak lebih dari 7,5 jam . Media sosial adalah platform yang paling banyak diakses dimana tingkat kecerewetan di media sosial berada di urutan ke-5 dunia. Juara ya.

 

Korelasikan dengan minat membaca yang menurut World’s Most Literate Nations Ranked, Indonesia berada di rangking 60 dari 61 negara. Fakta lain, menurut UNESCO, dari 1000 orang Indonesia hanya ada 1 orang yang menjadikan membaca sebagai kebiasaan. Sebuah ironi dimana angka penggunaan gadget tinggi namun angka membaca rendah, mungkinkah ini yang menyebabkan kita mudah termakan hoax?

 

Nah, salah satu tantangan global, internet, yang dihadapi remaja seusia kita (13-18 tahun) yang ibarat mata koin, satu sisi menguntungkan tapi di sisi lain merugikan. Membahas satu sisi isu ini saja, akan muncul berbagai cabang tantangan global misalnya banjir informasi yang bercampur fakta dan hoax, apatis dan individualis, fomo, hingga pornografi.

 

Tiap detiknya informasi bisa datang dari berbagai portal online secara acak, akibatnya terjadi banjir informasi antara yang fakta dan hoax. Tanpa mencari tahu kebenaran dan sumbernya dengan teliti, terkadang penggunanya langsung dikelabui dan membagikannya ke berbagai grup online yang ada. Bisa dibayangkan jika berita bohong tersebar besar-besaran dan menimbulkan kecemasan hingga perilaku kejahatan di masyarakat.

 

Sibuknya para pengguna handphone dengan sajian di dalamnya hingga menimbulkan kecanduan berakibat kurang baik terhadap kehidupan sosial. Kecanduan game online berjam-jam dan nafsu ingin naik level sesegera mungkin, menyebabkan apatisme dan individualisme terhadap orang-orang di sekitar. Bagaimana jadinya masyarakat dengan remaja yang tidak lagi peduli, hilang rasa simpati pada kondisi orang lain yang penting dirinya bisa bebas melakukan apapun, terlebih lagi karena sibuk nge-game.

 

FOMO atau fear of missing out atau takut ketinggalan berita atau tren-tren di sosial media, takut nggak update, menambah deretan tantangan ini. Kecanduan untuk selalu ikut tren akan melenakan dan menyibukkan pada hal-hal yang tidak esensial, perubahan suasana hati yang ekstrim, kesepian, minder bahkan depresi. Mengutip dari tirto.id bahwa sebuah studi di Amerika Serikat menyatakan remaja 14 tahun di kawasan midwestern AS rentan mengalami FOMO. Para remaja usia tersebut takut dikucilkan dari kelompok sehingga sangat gelisah. Mereka pun takut tidak bisa mengakses media sosial karena hal itu membuat mereka merasa dikucilkan oleh lingkungan sekitarnya.

 

Pornografi yang kerap muncul dalam iklan-iklan produk atau game online menambah kegelisahan guru dan orang tua dalam mengawasi para remaja. Remaja yang sedang berada pada masa puber rentan terpapar konten-konten dewasa. Begitu dekatnya media sosial dan pornografi, hampir tak terhindarkan diaksesnya konten tersebut secara eksplisit. Rasa ingin tahu yang besar menjadi sasaran empuk pihak-pihak tak bertanggungjawab dari berbagai arah.

 

Beragamnya tantangan global yang dihadapi saat ini menuntut perhatian penuh dari para guru, orang tua dan pengambil kebijakan. Kita tidak bisa menutup mata betapa dekat dan halusnya bahaya yang akan timbul dan mendesaknya strategi yang dibutuhkan agar dapat menjadikan tantangan tersebut berdampak positif bahkan menjadi sumber kekuatan bagi masa depan.

 

Penggunaan labkom yang harus diawasi orang dewasa, ijin keluar diperketat, makan sambil duduk, atribut seragam lengkap, wajibnya shalat berjamaah dan hafalan Qur’an di masjid tentunya bukan untuk mengekang apalagi memenjarakan. Ada alasan yang besar dan berangkat dari visi agung agar di masa depan, tantangan global bisa diatasi, tidak gagap, kalah saing bahkan tersingkirkan.

 

Selain aturan ketat dan tegas, kita memiliki sepaket sikap bernama SMART Values, bagaimana berinteraksi pada lingkup kecil yang nantinya akan menjadi kebiasaan. Pada lingkup lebih luas akan menjadi kepribadian khas siswa SMART sebagaimana yang ingin dibentuk dan diharapkan oleh para guru, orang tua, juga bangsa dan negara.

 

Values atau nilai-nilai seorang siswa SMART yang senantiasa ditanamkan adalah iman dan taqwa, jujur, santun, peduli, disiplin dan sungguh-sungguh. Kemanapun kita pergi, sekurang-kurangnya dengan enam sikap ini, sudah cukup menjadi bekal dalam berinteraksi dengan beragam jenis sifat dan karakter manusia dari berbagai suku bangsa dan identitas lainnya di ranah global.

 

Visi yang diharapkan dari seorang siswa SMART adalah menjadikannya pemimpin bagi dirinya juga lingkungan serta bangsa dan negaranya. Dalam mencapai visi besar tersebut, perlu bekal yang cukup. Perlu berlatih untuk menjaga kualitas imtaq, jujur, santun, peduli, disiplin dan sungguh-sungguh pada hal-hal yang sederhana dan dekat dengan keseharian sampai nanti kita terbiasa. Sikap-sikap positif yang sudah melekat dengan sendirinya akan mampu mengolah tantangan-tantangan yang lebih rumit dan besar.

 

Imtaq dengan menjalankan ibadah tepat waktu, shalat wajib 5 waktu di masjid, bersyukur atas nikmat dan karunia Allah Swt, menjaga lingkungan hidup dan memelihara hubungan baik dengan sesama makhluk ciptaan Allah Swt.

 

Jujur misalnya dengan mandiri dalam tes atau ujian sekolah tanpa menyontek dan plagiat, membayar jajan di koperasi dan kantin OASE (OSIS), melaporkan shalat dhuha atau tidak kepada petugas, menggunakan ijin semestinya, memakai fasilitas seperlunya, tidak bermuka dua di hadapan siapapun, dan berani menerima resiko atas ketidakjujurannya.

 

Santun dengan menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, tidak merusak barang-barang pribadi dan lembaga, berbudibahasa yang sopan dan tidak juga dilebih-lebihkan, berpakaian yang rapi dan pantas.

 

Peduli dengan kepekaan hati pada lingkungan, meringankan tangan membantu orang lain tanpa mengharap imbalan, berbagi dengan lapang hati dan terlibat langsung dalam kegiatan sekolah dan asrama serta lingkungan sekitar.

 

Disiplin dengan berseragam lengkap, hadir tepat waktu, mengumpulkan tugas sesuai perjanjian, menggunakan atribut sekolah secara lengkap, dan mematuhi aturan-aturan sekolah dan asrama.

 

Sungguh-sungguh dengan menghadirkan jiwa dan raga di dalam kelas saat pelajaran, bukannya tidur atau menghayal, mendahulukan menghafal Qur’an dibanding ngobrol anime, pantang menyerah menguraikan rumus-rumus matematika yang belum ketemu jawabannya, bersabar puasa Senin Kamis dan berbahagia pada saat berbuka, serta bersabar dalam menuntut ilmu meski jauh dari keluarga.

 

Sampai disini, interaksi dengan lingkup lebih luas secara global itu diperlukan latihan sejak dini dari sekolah, rumah dan diri kita sendiri. Kita belajar bahwa pemimpin-pemimpin negara-negara saat ini pasti dulunya adalah pembelajar-pembelajar yang telah menaklukkan dirinya sebelum menaklukkan dunia. Mereka menepis kemalasan, menjalani berbagai proses dan tempaan, serta bersabar dengan arahan para gurunya, dimulai dari diri sendiri, hal kecil, dan saat ini.

 

Bekal berupa keimanan, ketaqwaan, kejujuran, kesantunan, kepedulian, kedisiplin, dan kesungguhan yang senantiasa ditanamkan pada setiap siswa SMART, yang mungkin sering disalahpahami sebagai sebuah paksaan, tidak lain diniatkan untuk kebaikan dan senjata untuk menjawab tantangan global.

 

Referensi:

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/02/26/indonesia-habiskan-hampir-8-jam-untuk-berinternet

https://kumparan.com/kumparantech/berapa-lama-orang-indonesia-pakai-internet-setiap-hari-1sm18OYziOQ

https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media

https://tirto.id/jomo-atau-betapa-asyiknya-ketinggalan-zaman-eraw

, ,

Indonesia Pasti Bisa Bangkit Sob! Indonesia Kuat!

 

Duka kembali merundung ibu pertiwi. Setelah
rangkaian bencana alam yang meluluh lantakkan
sebagian wilayah, kini Indonesia dihadapkan
pada wabah corona.

Sekolah sepi, jalanan lengang, kantor kosong,
semua orang berdiam di rumah, menjaga jarak,
menjaga corona tak makin merebak. Dari Sabang
sampai Merauke, semua berjaga.

“Kami punya ratusan rencana merangkai mimpi ini
Kami punya sejuta upaya mencerdaskan bangsa ini
Kami punya milyaran semangat membangun negeri ini

Izinkan kami berjuang kembali,
Melanjutkan cita dan asa membangun negeri
Membangun manusia”

Namun kami yakin, kita kuat, Indonesia kuat!
Maka Saudaraku, mari eratkan solidaritas.
Saling dukung, saling jaga. Seraya tak putus
doa, agar wabah corona segera berakhir, agar
kita bisa maksimalkan bakti kembali untuk
negeri ini.

 

,

Antara Lockdown dan Social Distancing dan Covid-19 yang Kian Menjadi

Oleh: M.Atiatul Muqtadir, Presiden Mahasiswa BEM KM UGM 2019. PM BAKTI NUSA

 

Hingga hari ini, kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Data yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan Indonesia per 27 Maret 2020 di situs resminya, sebanyak 1046 orang telah terkonfirmasi Covid-19 dengan korban mencapai 87 orang, pasien sembuh sebanyakan 46 orang, dan 913 pasien dalam perawatan. Ini adalah sebuah tragedi yang sangat memprihatinkan, di mana kurva kasus Covid-19 senantiasa meningkat dibarengi kemampuan tenaga medis berserta ketersediaan alat untuk melindungi mereka kian menurun. Lantas, apa yang harus kita lakukan?

 

Social distancing yang tidak efektif

 

Ketika akhir Februari Covid-19 semakin menyebar, desakan lockdown pun muncul dari kalangan masyarakat. Namun pemerintah mengambil opsi lain, yakni social distancing. Sejatinya lockdown dan social distancing bukanlah istilah yang dipakai di peraturan kita, yakni UU Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan. Berdasarkan UU tersebut istilah lockdown lebih mirip dengan karantina sedangkan social distancing serupa dengan bagian kelima undang-undang ini yakni pembatasan sosial berskala besar.

Sayangnya, social distancing yang dipilih pemerintah sebagai langkah penanggulangan pandemi Covid-19 lebih mirip dengan kampanye daripada sebuah kebijakan. Pasalnya, tak ada peraturan pemerintah yang diterbitkan dengan terminologi yang mengacu pada UU Nomor 6 Tahun 2018. Pemerintah justru bekerja mirip dengan lembaga masyarkat: mengumumkan informasi dan membagian bantuan. Tak salah dengan dua hal tersebut, pemerintah memang perlu melakukan itu, tapi lebih dari itu pemerintah adalah penghasil kebijakan. Di mana seharusnya jika memang pemerintah mengambil opsi ‘social distancing’, perlu diterbitkan peraturan mengenai pembatasan sosial berskala besar mengacu pada UU Nomor 6 Tahun 2018 lengkap dengan segala teknis pelaksanaan, cakupan kebijakan, dan sanksinya.

 

Sebagai contoh, dalam pasal 59 ayat (3) dijelaskan bahwa pembatasan sosial berskala besar paling sedikit meliputi: peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Lantas, dalam pelaksanaannya, masih ada daerah yang menyelenggarakan kegiatan keagamaan, masih ada yang berkumpul di kafe, masih ada kantor yang meminta pegawainya bekerja, masih ada guru yang harus masuk sekolah. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar, kebijakan apa yang sebenarnya diambil oleh pemerintah? Benarkah pemerintah sedang mengambil kebijakan pembatasan sosial berskala besar? Apakah mereka yang saya contohkan di atas dapat disebut melanggar? Atau Apakah mereka dapat dikenai sanksi? Selama tak ada peraturan yang jelas, penanganan Covid-19 ini menjadi buram. Baik bagi aparat yang bertugas, maupun bagi masyarakat.

 

Selain itu, social distancing pada wilayah masyarakat Indonesia memang sulit dilakukan. Devie Rahmawati, Pengamat Sosial Universitas Indonesia mengatakan bahwa masyarakat Indonesia ini memiliki karakter yang komunal dan secara kultural merupakan short term society atau masyarakat jangka pendek. Ketergantungan terhadap orang lain sangat tinggi dan memegang prinsip ‘kita hidup untuk hari ini’. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa seharusnya social distancing bukan sekadar ‘kampanye’ melainkan sebuah kebijakan yang mencakup sanksi maupun pemberian insentif.

 

 

Karantina wilayah seharusnya sejak awal

 

Jauh sebelum Covid-19 menyebar antar wilayah, seharusnya pemerintah secara tegas mengambil opsi karantina wilayah. Sebagaimana tercantum dalam pasal 53 ayat (2) UU Nomor 6 Tahun 2018, “karantina wilayah dilaksanakan kepada seluruh anggota masyarakat di suatu wilayah apabila dari hasil konfirmasi laboratorium sudah terjadi penyebaran penyakit antar anggota masyarakat”. Dari pasal ini kita mengetahui, bahwa karantina wilayah dilakukan ketika penyakit telah menyebar antar masyarakat. Tujuannya agar penyakit ini tidak menyebar ke wilayah lainnya. Berbeda dengan karantina rumah yang dilakukan ketika penyakit hanya terjadi hanya di dalam satu rumah (pasal 50).

 

Sebagai contoh, ketika kasus ini telah terkonfirmasi di Jakarta, dengan kasus yang terjadi tidak hanya dalam satu rumah, seharusnya akses keluar masuk Jakarta ditutup sehingga tak menyebar ke wilayah lain. Kita telah mengetahui bersama, kasus Covid-19 yang terjadi di berbagai daerah rata-rata berasal dari orang yang memiliki riwayat perjalanan ke daerah yang telah terjadi penularan antar masyarakat.

 

Melihat situasi hari ini, di mana social distancing tidak berjalan efektif dan angka kematian dan penyebaran Covid-19 terus meningkat, karantina wilayah harus segera diberlakukan. Pemerintah harus segera menyiapkan aturan yang memuat skema karantina wilayah terutama wilayah yang telah terjadi penyebaran Covid-19 antar masyarakat. Belajar dari kampanye social distancing, efektivitas pelaksanaan karantina wilayah bergantung pada peraturan pemerintah yang dibentuk. Jika masih bersifat umum, tidak rinci, dan tidak tegas, karantina wilayah justru dapat menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat. Pemerintah perlu menyiapkan aturan yang memuat skema karantina wilayah lengkap dengan teknis pelaksanaan serta pemberian insentif ataupun bantuan kebutuhan hidup dasar bagi orang di wilayah karantina sebagaimana UU Nomor 6 Tahun 2018. Pasalnya efektif

 

 

Saat ini kesehatan masyarakat Indoenesia bergantung pada ketegasan pemerintah. Sejak awal Covid-19 masuk ke Indonesia, kebijakan yang diambil pemerintah cenderung lamban dan tak tegas. Pada awal kasus ini terjadi, alih-alih memberikan peringatan kepada masyarakat, pemerintah justru menganggap enteng kasus ini bahkan hingga menjadikannya bahan bercandaan. Kini, virus yang sempat kita tertawakan, telah memakan banyak korban. Cukup belajar dari kesalahan, sebelum terlalu jauh terlambat, karantina wilayah perlu segera diberlakukan.

 

 

,

Saatnya Aku Kamu Aksi Seperti Kak Palupi

Saatnya Aku Kamu Aksi Seperti Palupi

Mungkin tak pernah terbayangkan bagi anak-anak di Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, akan memiliki sebuah perpustakaan yang nyaman. Ya, sebuah perpustakaan yang menyenangkan untuk membaca atau pun bermain, kini hadir bagi mereka. Fun Garden of Literacy (FGL) telah membuatkan Pojok Baca ramah anak untuk anak-anak dan warga Pekojan.
FGL didirikan pada 28 Juni 2016 oleh Palupi Mutiasih, mahasiswi PGSD Universitas Negeri Jakarta dan sekarang sedang melanjutkan studi Pasca Sarjana Jurusan Magister Pendidikan Dasar Universitas Pendidikan Indonesia. Oleh Palupi, FGL diarahkan menjadi sebuah taman literasi yang seramah mungkin untuk anak-anak. Di dalamnya ada kegiatan membaca buku, permainan edukatif, dongeng, kreasi, panggung boneka, dan lain sebagainya. Jangkauan aktivitasnya tidak hanya di Pekojan saja, namun melingkupi beberapa wilayah lain di Jakarta.
FGL menjadi sarana bagi Palupi untuk mengaplikasikan ilmu yang didapatnya setelah dinobatkan sebagai Duta Gemari Baca, Dompet Dhuafa Pendidikan. Tugas utama Duta Gemari Baca adalah membudayakan literasi di tengah masyarakat. Sebelumnya, Palupi dan kawan-kawannya mengikuti workshop secara intensif sebagai bekal melaksanakan tugas tersebut.
“Awalnya kehadiran FGL ini dianggap aneh. ‘Apaan sih, ngajak anak-anak baca, dongeng, dan nggak dibayar lagi’, mungkin itu yang terlintas di benak masyarakat Pekojan waktu itu,” kenang Palupi. Namun itu tak membuat Palupi menyerah. Ia pun berupaya menarik minat masyarakat dengan berbagai cara.
Menggaet relawan adalah salah satu caranya. Relawan-relawan ini difokuskan untuk aktivasi Pojok Baca dan menjalankan kegiatan literasi. “Awalnya hanya ada 3 founder, sekarang sudah ada 25 relawan. Di setiap kegiatan yang kami laksanakan, ada sekitar 100 anak yang ikutan,” papar Palupi bangga.
Sejak tahun 2019, FGL melebarkan sayap kegiatannya tidak hanya untuk anak-anak. “Kami mulai mengadakan workshop untuk guru-guru PAUD di Pekojan, juga untuk orang tua. Materinya tentang bagaimana bercerita dan membacakan buku untuk anak. Sehingga semua pihak sama-sama aware bahwa membacakan buku itu penting bagi anak-anak,” terang Palupi.
Keberadaan FGL tidak hanya dirasakan manfaatnya untuk masyarakat Pekojan, namun Palupi sendiri pun merasakan. Dirinya merasa bahwa FGL adalah tabungan energi positifnya. Saat menemui kesulitan dalam menjalankan FGL maupun dalam kehidupan pribadinya, tabungan itu kemudian cair untuk Palupi.
“Bentuknya bantuan, tapi bukan dari mereka yang terbantu, tapi dari orang lain. Sejak mendirikan FGL, saya lebih mudah mendapatkan beasiswa, mudah lanjut jenjang S2, mengikuti workshop, dan sebagainya,” ujar Palupi.
Beasiswa yang didapatkan Palupi tersebut adalah Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) dari Dompet Dhuafa Pendidikan. Beasiswa ini diberikan kepada para aktivis kampus yang memiliki program sosial kemasyarakatan secara nyata. Palupi mendapatkan BAKTI NUSA pada tahun 2017 lalu. Selain mendapatkan dana untuk mendukung keberlangsungan FGL, Palupi juga mendapatkan pembinaan intensif bagaimana membangun kepemimpinan di tengah masyarakat.
Kiprah Palupi untuk warga dan anak-anak Pekojan ini selayaknya menjadi inspirasi bagi para pemuda yang lain. “Akan lebih baik jika energi positif para pemuda digunakan untuk kembali pada masyarakat. Karena mereka benar-benar membutuhkan anak muda untuk membuat perubahan dan inovasi,” pungkasnya.
, ,

Ini Dia AKtivitas Dompet Dhuafa Pendidikan yang Penting Kamu Tahu!

Tak terasa bulan pertama di 2020 sudah terlampaui. Apa saja kegiatanmu di bulan Januari lalu Sob?
Kegiatan kami cukup padat di awal tahun ini, nah semua kegiatan tersebut bisa kamu lihat di bawah ya Sob
Jika ditanya “buat apa sih, awal tahun sudah banyak aktivitas?”  Karena masalah
pendidikan di negeri kita kan juga nggak pakai libur. Maka
sebagai lembaga yang berkhidmat pada kemajuan pendidikan Indonesia, Dompet Dhuafa Pendidikan berupaya
memberikan kontribusi terbaik terhadap pengentasan masalah tersebut.
Terima kasih atas dukunganmu untuk program dan aktivitas yang kami lakukan Sob. Sungguh dukungan Sahabat Pendidikan sangat berarti. Mari kita kembali bersinergi memberikan kontribusi terbaik bagi pendidikan negeri ini.