Jangan Ragukan Potensi Dalam Diri Siswa

Oleh : Uci Febria Guru SMART Ekselensia Indonesia

 

“Wah, hari ini Rizky lagi deh yang jadi guru, Zah,” ujar Fatiur sambil menghampiri saya yang sedang berjalan menuju kelas setelah menikmati makan siang.

Ya, siang itu saya memang memerhatikan kalau Rizky belum menyelesaikan makan siangnya bersama beberapa orang teman sekelasnya. Apa hubungan makan siang dengan menjadi guru? Bukankah harusnya saya yang setelah makan siang ini mempunyai jadwal mengajar di kelas mereka? Mengapa Fatiur berujar seperti itu?

Ide ini muncul begitu saja. Suatu ketika saya menyelesaikan makan siang lebih cepat dari biasanya sehingga saat saya memasuki kelas sebagian besar siswa belum masuk. Hanya ada beberapa siswa yang sedang asyik bersenda gurau. Ketika melihat banyak kursi siswa yang masih kosong, saya memutuskan untuk duduk di samping salah seorang siswa. Mengajak mereka bercerita. Satu per satu siswa yang lain masuk dan menduduki kursinya masing-masing.

Lima menit menjelang bel masuk berbunyi, tersisa empat kursi kosong, yang artinya masih ada empat siswa belum memasuki kelas. Tanpa perencanaan tiba-tiba saja terlontar kalimat, “Siapa yang telat dan enggak kebagian kursi, jadi guru, ya. Ustadzah mau merasakan jadi siswa hari ini.”

Beneran, Dzah?”

“Ustazah mau jadi siswa? Terus yang ngajar kita siapa?”

“Tugas yang jadi guru apaan, Zah?” Siswa-siswa langsung berkomentar.

Namanya juga ide dadakan, saya jadi bingung saat ditanya para siswa.

“Nanti gurunya bertugas membuka pelajaran dan memberikan motivasi buat siswanya. Ustazah ikutan jadi siswa. Yang ngasih materi tetap Ustazah,” jelas saya.

“Wah, seru nih!” seorang siswa berkata sambil langsung mengambil posisi duduk. Takut tidak kebagian kursi.

Seorang siswa tiba-tiba saja beranjak dari posisi duduknya dan berjalan keluar kelas. Saya sempat berpikir mengapa dia malah meninggalkan kursinya, sedangkan teman-temannya berebutan untuk duduk.

 “Ayo buruan masuk. Yang terakhir masuk dan tidak kebagian kursi nanti bakalan jadi guru lho!”

Oh, ternyata ia ingin mengingatkan teman-temannya yang masih berada di luar kelas.

Beberapa siswa yang masih berada di luar kelas pun berlari menuju kelas. Berusaha sekuat tenaga dan secepat mungkin menemukan kursi yang masih kosong. Tak peduli harus bertabrakan dengan kursi atau meja. Yang terpenting bagi mereka saat itu adalah menemukan kursi untuk duduk dan menghindari tugas jadi guru.

“Alhamdulillah!” Devon akhirnya bisa bernapas lega setelah mendapatkan kursi. Disusul satu per satu siswa lain yang juga mendapat kursi. Saya melihat satu siswa masih berdiri, namanya Rizky, siswa yang berasal dari Bandung.

Rizky pun saya minta maju ke depan untuk membuka pelajaran. Rizky bisa enggak ya? Apakah setelah ini ia akan malu? Apakah ia akan merasa kesal? Berbagai pertanyaan melintas di kepala saya. Saat itu, saya berusaha mengondisikan Rizky agar nyaman dengan posisinya. Untungnya, teman-temannya mendukung posisi Rizky yang saat itu jadi guru.

“Saya harus ngapain, Zah?” tanya Rizky.

“Rizky nanti membuka kelas. Sama seperti Ustazah membuka kelas seperti biasanya. Nanti Rizky tunjuk salah seorang siswa untuk memimpin doa dan tilawah,” jelas saya kepada Rizky.

“Oke, Zah, siap.”

Wah, ternyata pikiran bahwa Rizky akan malu dan tidak mau melaksanakan tugasnya harus saya buang jauh-jauh. Rizky malah terlihat bersemangat dan penuh percaya diri. Rizky semakin menikmati posisinya sebagai guru saat seorang temannya mengingatkan cita-citanya.

Ayo, Ki. Kan katanya kamu mau jadi guru. Nah, mumpung sekarang punya kesempatan manfaatkanlah!”

“Ustazah jadi siswa kan? Saya minta Ustazah untuk memimpin doanya,” pinta Rizky.

“Let’s pray together.” Saya memimpin doa dalam bahasa Inggris karena setiap Rabu di SMART Ekselensia Indonesia ada program English Day. Guru-guru wajib membuka pelajaran dengan bahasa Inggris.

Setelah siswa membaca doa, Rizky langsung melanjutkan tugasnya dengan menanyakan kabar kami. “How are you this morning?”

Pertanyaan Rizky langsung kami jawab, “Alhamdulillah. Extraordinary. Keep spirit. Keep smile. Allahu Akbar!”

Tanpa saya duga Rizky langsung melanjutkan pembukaan kelas saat itu sesuai dengan kebiasaan saya. Rizky berteriak, “Physic!” Serempak kami pun menjawab, “Yes… yes… yes… we can!”

Ritual pembukaan berlanjut dengan tilawah dan sesi motivasi. Dan alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Siswa-siswa terlihat bersemangat. Ide spontanitas ini pun akhirnya menjadi kebiasaan saya di kelas tersebut sampai satu semester berakhir. Saya melihat ini sebagai sebuah kegiatan positif. Siswa bisa melatih rasa percaya dirinya untuk berbicara di depan teman-temannya. Dan saya melihat siswa-siswa pun menikmatinya. Setiap Rabu siang ,mereka akan selalu bertanya-tanya siapakah yang akan jadi guru hari itu.

 

Hembusan Angin di Salaki

Oleh: Habib

Laut tak akan surut,
Matahari jelas dipanggang
Di punggung ombak biru
Di situ, tatap kita bertemu
–Pas satu sentuhan angin
Menggugurkan kelopak
Bunga waru.

(pan-tai,2017 )

Inilah SMART, Sekolah Kebanggaan Kami

 

Pada dasarnya pendidikan merupakan hak asasi semua warga negara Republik ini. Tanpa terkecuali bagi anak-anak marjinal. Kondisi ekonomi yang membelit keluarga menghilangkan kesempatan mereka untuk sekolah. Cita-cita yang lazim diinginkan anak-anak seusia mereka pun seolah tidak berhak diraih. Padahal, mereka juga mengharapkan kehidupan layak seperti anak-anak lainnya. Inilah kondisi yang pahit dirasakan oleh anak-anak marjinal di tanah air. Panggilan untuk mengangkat bakat dan harkat anak-anak marjinal itulah yang melatari lahirnya SMART Ekselensia Indonesia.

Bakat dan harkat anak-anak marjinal itu dapat diangkat ke permukaan apabila pendidikan yang diberikan kepada mereka dilakukan dengan baik dan benar. Kehadiran SMART tidak ingin sekadar menjadi sekolah bebas biaya namun abai pada soal kualitas. Selain akses pendidikan yang tidak merata, kualitas guru yang rendah melengkapi potret gelap dunia pendidikan kita. Tidak heran bila dunia pendidikan kita tertinggal jauh dibandingkan negaranegara maju. Karena kualitas gurunya rendah, tidak aneh bila kualitas anak didiknya pun tidak berbeda jauh.

Wajah pendidikan di tanah air juga masih dihiasi kenyataan bahwa siswa dibebani untuk lebih mengejar capaian-capaian akademis. Tidak banyak sekolah yang memilih untuk mengedepankan pembangunan karakter siswa. Akibatnya, maraklah fenomena sontek massal dalam pelaksanaan Ujian Nasional, tawuran antarpelajar, penggunaan narkoba, hingga pergaulan bebas.

Menghadapi tantangan zaman yang terus berubah, sekolah butuh guru yang berkualitas dalam pengajaran sekaligus juga mampu menjadi model bagi siswa. Dua hal ini mutlak adanya untuk membentuk karakter dan prestasi siswa, tidak terkecuali anak-anak marjinal. Sejak didirikan, para pengelola SMART optimis bahwa SMART merupakan modal dasar yang penting untuk memberikan nilai dan karakter kepada anak-anak marjinal. Dalam kondisi pendidikan nasional jauh dari ideal untuk menanamkan nilai dan karakter, SMART memilih untuk membina siswa lulusan SD. Selain sudah bisa dilatih untuk tidak bergantung kepada orangtua masingmasing, siswa pada usia ini lebih mudah dibina sehingga nilai dan karakter dapat tertanam sejak dini.

Pembinaan nilai dan karakter diutamakan karena lulusan SD yang masuk SMART memang dipersiapkan untuk mengikuti program akselerasi. Setamatnya dari jenjang SMA, pendidikan bagi mereka masih berlanjut. Mereka tidak dicetak untuk hanya berpuas diri karena mampu lulus SMA, kemudian menjadikannya sebagai modal untuk mencari pekerjaan. Sebaliknya, mereka justru dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bonafide di dalam dan luar negeri. Untuk membina dan menempa nilai dan karakter sekolah kepada siswa, SMART didesain sebagai sekolah berasrama (boarding school). Sistem sekolah berasrama cocok untuk mengondisikan para siswa agar fokus menggapai mimpimimpinya.

Melalui sekolah berasrama, siswa tidak sekadar dibina secara nilai dan karakter, namun juga disiapkan untuk menempuh pendidikan akselerasi, yakni menyelesaikan jenjang pendidikan SMP SMA selama lima tahun. Siswa ditempatkan di asrama karena akan memudahkan dalam pengayaan materi pelajaran. Saat yang sama, lebih efektif dan efisien secara waktu karena konsentrasi mereka dilatih agar terpusat pada aktivitas belajar.

Penerapan program SKS di SMART dapat dilakukan karena dalam setiap pelajaran memuat materi esensial dan non-esensial, sebagaimana yang diatur dalam Sistem Kurikulum Pendidikan Nasional. Dengan menerapkan skala prioritas di antara materi esensial dan non-esensial, pemberian pelajaran dapat diefisiensikan sekaligus diefektifkan. Dengan demikian, masa pendidikan yang umumnya enam tahun dapat ditempuh dalam waktu lima tahun tanpa ada pengurangan kualitas pengajaran ataupun prestasi akademis peserta didik. Ringkasnya, program akselerasi di SMART bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan bernalar siswa secara lebih komprehensif dan optimal, serta mengembangkan kreativitas siswa secara optimal.

 

Siswa SMART berasal dari seluruh penjuru tanah air. Mereka dipersatukan oleh kesamaan latar belakang ekonomi keluarga. Keragaman menjadi niscaya seiring bertemunya anak-anak berbakat itu di SMART. Menghadapi perbedaan suku, bahasa, bahkan karakter, SMART memiliki kiat-kiat khusus untuk mendayagunakannya sebagai sebuah kekuatan. SMART membiasakannya semua warganya untuk bersikap toleran dan saling menghargai perbedaan yang ada. Dalam pembelajaran, siswa selalu diingatkan dan disadarkan bahwa mereka adalah orang Indonesia yang memiliki kewajiban menjaga harkat dan martabat sebagai bangsa yang besar. Siswa juga belajar untuk menghargai adat istiadat tempatnya berasal. Rasa keindonesiaan yang kental dalam lingkungan SMART membuat mereka siap menghadapi kehidupan global yang tanpa sekat seperti saat ini. Efek teknologi yang sangat pesat menjadikan batas-batas geografis sebuah negara tidak menjadi penghalang bagi siapa pun untuk dapat menjalin hubungan, termasuk pada siswa yang berlatar belakang dari keluarga marjinal.

Kesadaran ini dibangun di SMART untuk memberikan pemahaman kepada setiap siswa bahwa mereka bukan saja pantas maju sebagai warga Indonesia, tapi juga sebagai warga dunia. Dengan demikian, siswa SMART mampu menjadi pemimpin global dengan tetap memegang warna keindonesiaannya

 

Pada awal berdiri, SMART sudah berkreasi mengembangkan program khas yang diimplementasikan di sekolah dan akan dikontribusikan bagi dunia pendidikan di tanah air. Bentuknya berupa pembentukan karakter, kepemimpinan, wirausaha, program kemandirian, program interaktif dengan masyarakat, serta penanaman disiplin. Saat awal berdiri, para siswa SMART sudah dicitakan tidak hanya menduduki kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) berkelas di tanah air, namun juga di kampus-kampus mancanegara. Untuk mencapainya, siswa SMART sudah dikondisikan dengan penggunaan dwibahasa (bilingual). Tidak ada yang salah dengan mendorong anak-anak marjinal untuk terus menggapai impiannya yang setinggi langit sekalipun. Terbukti siswa-siswa dari pelbagai penjuru tanah air itu mampu menembus ketatnya persaingan menjadi mahasiswa kampus negeri favorit. Sampai saat ini, SMART masih mempertahankan tradisi setiap tahun lulusannya 100 persen dapat menembus PTN terbaik dan berakreditasi A. Atas capaian yang ada itu, segenap jajaran di SMART tidak ingin berpuas diri. Masih ada capaian yang perlu dituju: menjadikan SMART sebagai Sekolah Kelas Dunia (World Class School).

Untuk menjawab visi menjadi Sekolah Kelas Dunia, SMART membuat beberapa strategi, yakni menyiapkan SDM berkualitas dan berdaya saing global, menjalankan sistem pendidikan terbuka dan diakui dunia, menyiapkan fasilitas dan teknologi yang bernuansa budaya global, menghasilkan lulusan yang berkarakter dan berdaya saing global, serta membangun jaringan dengan seluruh pemangku kepentingan. []

 

“Sometimes, getting things done is not easy. I think the most important thing is just do and finish it. At least when I don’t get what I want, I learn something”

Kutipan di atas kami ambil dari akun IG Kak Panji, Alhamdulillah Kak Panji telah menyelesaikan studinya di Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan MIPA Departemen Biologi lho Sob. Nah untuk membangkitkan semangat kalian, kami mengunggah tulisan pengalaman Kak Panji selama mengenyam pendidikan di SMART. Yuk kita baca Sob!

 

Karena Tak Ada Perjuangan yang Sia-Sia!

Oleh: Panji Laksono

Alumni SMART Angkatan 5, Berkuliah IPB Jurusan Biologi

 

“Hati-hati ya le.. jaga diri di sana”

Tangan saya masih meggenggam pinggiran baju ibu. Terang dalam ingatan, air muka ibu masih tenang sementara saya beriak-riak tak karuan. Selain memang sedang tak enak badan, ada gejolak yang lebih tak enak yang saya rasakan. Saat itu lepas tengah hari tapi entah mengapa saya tidak ingin waktu menuntun sore datang lagi. Sebab saya tahu, itu adalah waktu terakhir –yaa dapat dikatakan demikian— sebelum udara membawa saya pergi jauh. Lebih jauh dari mimpi meneruskan sekolah di kampung saya yang ada di tengah hijaunya Kalimantan Selatan.

Bercerita tentang hal ini memaksa saya menilik lagi album masa lalu. Mereka ulang refrain lama yang tak akan saya lupakan. Saat di mana dejavu begitu pertama kali lewat di depan masjid sekolah, atau mengantre mandi demi mengejar apel pagi. Saat paket makanan dari orang tua adalah harta ghanimah yang patut dibagi-bagi, atau telepon genggam asrama yang hanya bisa kami pakai seminggu sekali. Berkisah tentang hal ini memaksa saya belajar kembali. Tentang kata ‘berani’ yang tipis makna dengan ‘nekat’. ‘Berani’ untuk merantau bahkan saat gigi susu terakhir baru tanggal dari barisannya. Tentang keikhlasan dari sapaan terakhir ibu di ujung gerbang pemeriksaan bandara juga senyum simpul dari ustadz ustadzah di sana.

Perkataan ustaz ustazah tentang sekolah SMART Ekselensia Indonesia yang merupakan Kawah Candradimuka buat saya bukan cuma kata-kata. Mereka tampaknya benar-benar serius dengan hal ini. SMART membuka mata saya kalau dunia tidak sebatas tutupan kanopi pohon karet dan tidak sedamai aliran sungai Martapura. Di inkubator ini, mereka sedang meretas mimpi-mimpi. Ya, tak terkecuali mimpi saya yang kini Alhamdulillah tengah bertengger di tingkat akhir perguruan tinggi pertanian Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Kuliah? Saya tidak ingat tuh kapan terakhir kali mimpi masuk SMP favorit di daerah saya. Tapi kemudian di sana saya diberi banyak sekali pelajaran. Tak hanya pelajaran akademik, tapi juga pelajaran hidup. Sistem pengajaran di sana tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Guru-guru yang luar biasa tak hanya mengajar lewat bicara, namun juga lewat teladan nyata.

Dari dulu mungkin ustaz ustazah SMART sudah tahu kalau saya memang suka berorganisasi. Sedari dulu ikut OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia) sebagai Staf Departemen Sosial (2009), kemudian Wakil Kepala Departemen Keuangan (2010), sampai jadi Presiden OASE (2011). Pernah bergabung di Komisi Penegak Kedisiplinan (KPK) SMART dan ikut Squad Ensamble SMART. Mungkin belum patut dibanggakan, tapi sangat berkesan. Lewat hal itu saya banyak belajar tentang organisasi. Setidaknya puing pengalaman ini akan sangat berguna di kemudian hari.

Entah dapat disebut menarik atau tidak, saya termasuk lima orang terakhir dari SMART yang masih harus berjuang ke perguruan tinggi selagi kawan-kawan yang lain sudah beranjak. Masih teringat saat itu layar komputer masih menampilkan tulisan merah—itu artinya kamu nggak lulus bro—yang biasa. Berkali gagal lantas pikiran mulai terbang ke mana-mana. Berpikir utuk pulang ke Kalimantan saja dan menyimpan mimpi ini tahun depan. Sampai saatnya ayah mengultimatum di seberang telepon

“Kamu gak boleh pulang sebelum semua ujian kamu selesaikan,” dan saya cuma diam.

Lika-liku berbumbu drama ‘ketinggalan kereta’ pun sempat jadi cerita. Sampai harus luntang-lantung di Jogja mencari angkutan ke Malang agar bisa daftar ulang di Universitas Brawijaya. Lantas akhirnya kembali ke Bogor dan berkuliah di sana ikut jadi refrain yang saya kenang sekarang. Jika ditanya kenapa masuk IPB jurusan Biologi, saya hanya menjawab inilah yang diberi Allah pada saya. Dan saya sangat bersyukur atas hal itu. Allah tidak kasih apa yang saya mau, tapi saya percaya Dia kasih yang saya butuh.

Perjalanan sampai menjadi presiden mahasiswa IPB dilalui dengan banyak cerita. Bermula dari kadiv di kepanitiaan Semarak Bidikmisi 2013, aktif di BEM seperti menjadi kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM TPB 2013-2014, Staff Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FMIPA 2014-2015, sampai diamanah sekarang sebagai Ketua BEM FMIPA 2015-2016. Cerita lainnya adalah jadi sejarah menjadi Ketua pelaksana Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) dua tahun berturut-turut untuk angkatan 51 dan 52 IPB. Banyak tantangan yang dihadapi dalam masing-masing cerita. Banyak pula pembelajaran yang bisa didapatkan dari setiap tantangan yang ada. Buat saya tidak ada orang yang benar-benar selesai dengan urusannya, yang ada adalah orang yang mengakselerasi dirinya untuk orang lain.

Terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membalas apa yang sudah diberikan ustaz ustazah, SMART, maupun semua pihak yang turut berperan di dalamnya. Masih teringat dan sangat membekas apa yang pernah disampaikan oleh ustadz Yasyfi M Ya’qub, bahwa “Hidup dengan berani karena mati cuma sekali”. Dari sana apa yang ingin saya bagikan untuk kawan-kawan di SMART maupun kawan-kawan yang lain adalah mari ambil peran, mari ambil bagian. Selamanya kita bisa saja terus berharap atau bermimpi. Yang membedakan pemimpi dan pemimpin adalah bukan hanya huruf ‘n’ pada akhir katanya, tapi juga kesediaanya untuk berjalan lebih jauh, tidur lebih sedikit, dan kesiapan untuk memiliki tanggung jawab lebih banyak. SMART mengajarkan banyak hal yang sangat berguna untuk masa depan. Manfaatkan keberadaan di kawah chandradimuka ini sebagai ajang untuk mengasah diri, mengaktualisasikan diri, dan belajar untuk bisa berperan bagi orang lain.

“Jika bergerak adalah pilhan, maka aku memilih untuk tidak tinggal diam”

Dunia Impian Ini Untukku

Karya Azzam

 

 

Aku,

Yang kini berada di dunia impian

Menerbangkan jutaan harapan

Yang entah kapan jadi  kenyataan

 

Percaya,

Aku percaya pada harapan yang jadi kenyataan

Karena sejatinya

Semuanya ada di kehendak Tuhan

 

Ikhtiar,

Langkah perjuangan yang harus diteruskan

Capek, sakit, dan terluka hal yang terus dilakukan

Karena ingatlah! Tanpa ikhtiar semua akan jadi sia-sia

 

Doa,

Wujud penghargaan dan kesungguhan

Pelengkap ikhtiar dan rasa percaya

Akan seluruh impian yang diterbangkan

Demi tercapianya kenyataan

 

Dan tawakal,

Hal yang harus diyakini

Karena takdir telah tertulis

Selalu mengigatkan

Bahwa Tuhan pasti memberi yang terbaik

 

 

Kenangan Pembangkit Semangat di SMART

Oleh: Sandy Girsang alumni SMART Angkatan VI saat ini bekerja di Price Water House Cooopers (PWC) Consulting sebagai Associate Consultan.

 

Tiba-tiba mata Kakakku tertuju pada tumpukan koran bekas di kolong tempat duduk warung nasi. Entah karena pang­gilan dari mana ia tertarik dengan tumpukan koran usang tersebut. Padahal, sebelumnya sekalipun ia tidak pernah ter­tarik untuk mengotak-atik apalagi membaca tumpukan koran bekas.

Dibukanya ikatan tali plastik yang mengikat rapi koran dengan perlahan. Dipilihnya lipatan koran paling bagus di an­tara semuanya, lalu setelah dipilih ia buka lipatan koran itu secara perlahan. Ia perhatikan lembar demi lembar hingga sebuah iklan di pojok kolom menarik perhatiannya. Kakak tersenyum. Diambilnya gunting dari tas, lalu dengan hati-hati ia gunting kolom iklan itu. Tampaknya iklan itulah yang sejak tadi memanggil-manggilnya.

“Ya, mungkin dengan potongan iklan 5×4 cm itu dapat mengubah kondisi keluarga saya,” gumam Kakak. Sejurus ke­mudian ia teringat dengan perjuangan adik paling kecilnya.

Seribu Rupiah mungkin hanya nilai yang kecil bagi banyak orang, tetapi justru karena seribu Rupiah itulah si adik terkecil sering berjalan empat kilometer berangkat sekolah. Demi seribu Rupiah itu si adik terkecil memulung tumpukan sampah sekitar kampung. Suatu hari sang adik bercerita bah­wa ketika lapar ia pernah hampir memakan kertas. Bukannya terlihat sedih, ia malah tertawa meskipun takut kalau makan kertas ia bisa sakit. Untuk itu, ia menggantinya dengan berimajinasi makan makanan enak sambil terus menjilati sendok.

Setetes air yang menggenang di pelupuk mata menyadar­kan Kakak dari lamunannya.

Adikku pasti bisa sekolah tinggi, ia harus mencoba seleksi masuk sekolah ini,” gumamnya sembari menggenggam erat potongan iklan.

Empat bulan kemudian, si adik dinyatakan lulus.

Andaikan kehidupan merupakan cakram DVD, ia akan memutar balik adegan lima tahun berikutnya di SMART Ekselensia Indonesia. Begitu banyak hikmah yang patut dikenang. Tak terasa si adik telah menghabiskan waktu lima tahunnya yang berharga di sana. Adik kecil itu tidak lain adalah saya, Kurnia Sandy Girsang asal Medan.

 

 

Satu hal yang terus menjadi pertanyaan retorik dalam pikiran saya mengenai SMART Ekselensia Indonesia, mengapa sekolah ini begitu idealis? Di saat sekolah lain li­bur, sekolah ini masuk. Di saat sekolah lain masuk, sekolah ini libur. Saat sekolah berasrama lain memberikan kesempatan leluasa kepada siswanya untuk bertemu keluarga, sekolah ini malah memberikan waktu liburan ‘hanya’ tiga minggu tiap tahun. Dan di saat sekolah lain punya heterogenitas gender, sekolah ini tumbuh bangga dengan homogenitasnya dengan hanya menerima siswa dari kaum Adam.

Idealis tersebut tidak hanya diwujudkan dalam sistem yang bersifat abstrak, perangkat yang berada di dalamnya pun hidup beriringan dengan menciptakan sebuah kausalitas yang membingungkan: sistem yang sengaja dibuat idealis un­tuk memaksa anggota berlaku idealis, ataukah anggota yang idealis yang memaksa sistem berlaku idealis.

Idealisme para ustaz dan ustazah SMART Ekselensia Indonesia saya rasakan ketika saya belum mengerti kosakata idealisme itu sendiri, yakni ketika saya masih siswa baru. Ke­tika baru pertama kali masuk di SMART, seperti di film Indiana Jones, saya seperti melihat dunia baru yang sebelumnya be­lum pernah saya temukan. Lingkungan tempat saya pertama kali melihat sekelompok manusia yang selalu tersenyum, sa­bar dalam mengayomi, lingkungan yang tidak ada kosakata ‘materi sentris’ di dalamnya, dan lingkungan yang tidak per­nah ada kata lelah dalam berbagi untuk sesama.

Saya memiliki rasa sensitif yang tinggi dan saya melihat fenomena ini sebagai fenomena yang aneh. Bayangkan, sebe­lumnya ketika masih tinggal di Medan dan Jakarta, saya tidak pernah melihat bahkan mendengar kisah sebuah lingkungan yang memiliki asas kebermanfaatan dan kemanusiaan yang tinggi. Bukan sekadar pleonasme. Seperti sebuah legenda, lingkungan SMART Ekselensia Indonesia menurut saya memang seperti lingkungan yang sangat langka yang orang lain dapat temukan di muka bumi ini.

Butuh proses beradaptasi dengan lingkungan mul­tikultural seperti di SMART Ekselensia Indonesia mengingat siswanya berasal dari berbagai latar belakang dan budaya. Saya pribadi membutuhkan waktu sekitar satu semester untuk memahami situasi di SMART. Saya orang Medan. Orang Medan terkenal dengan ketegasannya dan selalu bicara apa adanya. Budaya bicara apa adanya ini terasa begitu pedas bagi orang yang belum pernah bersinggungan dengan kami. Beberapa bulan pertama merupakan waktu yang berat dalam beradap­tasi. Saya terus berusaha menekan ego khas orang Medan saya serendah-rendahnya. Gaya bicara nyelekit saya ubah sedikit demi sedikit. Alhamdulillah, dengan bantuan wali asrama dan para guru, saya dapat melewati tahap beradaptasi ini.

Jika disuruh mengatakan satu kata yang cukup untuk mewakili SMART Ekselensia Indonesia, saya akan berkata: keikhlasan. Merupakan sebuah keberuntungan yang besar bagi saya dapat hidup dengan sosok-sosok yang begitu luar biasa ikhlasnya dalam menjalani amanah sebagai tenaga pen­didik. Dulu, ketika saya masih menjalani pendidikan di kam­pung halaman, hanya ada dua tipe guru yang saya kenal: guru kejam dan guru baik. Kenapa saya lebih dahulu mengatakan guru kejam? Ya, sebab mereka sangat memorable sekali di alam pikiran saya. Bagian tata usaha sekolah sampai harus membeli penggaris kayu sebulan sekali akibat ulah guru-guru tersebut.

Setelah saya di SMART, saya mengenal tipe guru ketiga: guru ikhlas. Bayangkan, ketika saya rindu dengan sosok orang­tua nun jauh di sana, guru-guru dapat berperan seakan orang­tua saya sendiri. Ketika saya butuh teman diskusi, guru-guru dapat berperan seperti selayaknya seorang teman dekat. Ti­dak ada anggapan saya lebih pintar dari murid saya, dan Anda selaku murid harus mengiyakan apa kata saya ucapkan karena saya lebih pintar. Tidak ada. Semua guru di SMART Ekselensia Indonesia merupakan teman diskusi paling nyaman. Mereka mendengarkan sekaligus memberikan bimbingan dengan be­gitu sabar dan lembut.

Ya, guru-guru SMART seperti pemeran dalam sebuah si­netron kehidupan. Sinetron sering kali lebay, guru-guru saya ini pun sangat lebay dalam mengayomi siswa. Betapa tidak lebay, sering kali mereka menyisihkan waktu berharga mereka dengan keluarga di rumah hanya untuk mengurus nilai atau sekadar mendampingi lomba siswa. Sering kali adegan dalam sinetron merupakan imajinasi yang tak pernah tersen­tuh dalam realitas nyata. Begitu pun guru-guru SMART, sikap mereka seperti hanya mengambang dalam imajinasi. Bedanya dengan sinetron, imajinasi itu terimplementasikan dalam re­alitas nyata. Guru SMART pun sangat pintar berganti peran dari seorang guru, menjadi seorang teman, malah tak jarang pula tampak seakan sahabat karib.

Kadang tebersit pertanyaan di kepala saya, sebera­pa pentingkah saya dan teman-teman saya bagi mereka sam­pai membuat mereka rela mendampingi kami hingga lembur tanpa digaji? Seberapa pentingkah kami di mata guru-guru ini hingga mereka rela menyisihkan waktu berharganya dengan keluarga? Kalau kenyataannya demikian, apakah kami meru­pakan bagian dari keluarga mereka? Saya terharu ketika sendirian memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini. Ternyata masih ada keluarga di tanah rantau yang sungguh asing bagi kami bocah-bocah dari pelosok Indonesia.

Kenapa kita selalu berbeda dengan sekolah lain?” Ung­kap salah seorang ustaz dalam tausyiah apel pagi.

“Karena kita satu dua langkah lebih maju dibanding­kan teman-teman kita di luar sana. Mereka mungkin sekolah diantar orang tuanya, bisa keluar lingkungan pendidikan ka­pan saja mereka mau, sedangkan kalian hanya sekali dalam seminggu diperbolehkan keluar. Mereka diberi uang jajan tiap hari, tak perlu repot-repot mencuci baju sendiri karena sudah dicucikan orangtua atau pembantu.”

“Kalian berbeda! Kalian melakukan semuanya dengan mandiri, dengan disiplin tinggi. Kalian jauh dari handai tolan, bahkan hanya sekali dalam setahun kalian bertemu dengan sanak saudara. Akan tetapi, ini adalah proses untuk mem­bayar kesuksesan besar kalian di masa depan!”

Ustaz tersebut kembali menambahkan.

“InsyaAllah, dengan penggodokan dalam sebuah inku­bator ilmu selama lima tahun, kawah candradimuka SMART Ekselensia ini akan menghasilkan generasi peduli dan berkarakter sehingga dapat berkontribusi positif aktif bagi kemajuan bangsa Indonesia!”

Tausyiah pagi tersebut ditutup dengan riuh tepuk tangan para siswa peserta apel pagi. Ada yang tepuk tangan karena mengerti esensi tausyiah ustaz tersebut, ada yang ikut-ikutan, ada pula yang hanya sebatas ironi. Golongan terakhir ini yang sering meratapi nasib ‘kurang beruntung’ mereka rajin membanding­kan diri dengan teman-teman di luar sekolah SMART Ekselensia Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, entah itu masih sebagai siswa atau ketika sudah menjadi alumni, golongan ironi ini akan sa­dar dan melakukan yang terbaik sebagai ucapan terima ka­sih mereka kepada para ustaz dan ustazah serta Dompet Dhuafa Pendidikan selaku pucuk organisasi sekolah SMART.

 

Siapa sih yang gak mau jadi orang sukses Sob? Kami rasa kita semua pasti ingin menjadi orang sukses sesuai versinya masing-masing. Tapi tak jarang banyak dari kita yang masih bingung untuk menemukan jalan menjadi orang sukses, eits jangan patah arang dulu ya karena kamu harus pahami jika semua orang sukses berawal dari perjuangan tanpa henti dan pembelajaran tanpa kenal lelah lho. Kalau menurut Richard St. John ada delapan ciri orang sukses nih, penasaran kan?
  1. Passion (Love what you do) berarti kita selalu bersungguh-sungguh dan tidak akan bosan ketika melakukan sesuatu. Bukan itu saja, selama melakukan hal tersebut kita merasakan kesenangan hakiki dan mencintainya teramat tulus.
  2. Work (Work really hard) Kalau mau sukses kita harus mau bekerja dan berusaha sungguh-sungguh. Penting kamu ingat kalau usaha tak akan mengkhianati hasiln dan ketika kita berusaha sungguh-sungguh Allah akan melihat usaha kita.
  3. Focus (Focus on one thing not everything) Fokus saja sama pencapain kesuksesanmu, jangan pedulikan omongan orang yang menganggap kamu tak mampu melakukan ini itu. Setiap orang sukses memiliki satu dua kebisaan menonjol dalam hidupnya dan mereka akan fokus memaksimalkan kebisaan.
  4. Push (Keep pushing yourself) Malas itu manusiawi, tapi jangan sampai kamu terbuai hingga lupa akan tujuan utamamu untuk sukses. Dorong terus kemauan dalam dirimu supaya tetap semangat dalam mengejar kesuksesan.
  5. Ideas (Come up with good ideas) Perbanyak membaca buku, perbanyak mencari referensi, supaya isi kepalamu selalu ada ide-ide baru yang inovatif dan solutif yang dapat mengantarkanmu menuju ke gerbang kesuksesan.
  6. Improve (Keep improving what you do) Jika ingin sukses jangan terpaku di satu titik, kamu harus bergerak dinamis supaya bisa terus meningkatkan kemampuan dan memperbesar lingkaran suksesmu.
  7. Serve (Serve other something value) Melayani dan berbagi dengan masyarakat penting dilakukan agar bisa mengasah kepekaan kita akan pentingnya berbagi kebahagiaan dengan sesama. Pasti rasanya akan menyenangkan sekali apalagi hasil dari jerih payah kita sendiri kan?
  8. Persist (Because there’s no overnight success) Kalau kamu sudah tau apa yang ingin kamu capai, maka kamu mesti banget punya tekad kuat untuk terus melakukan yang terbaik secara konsisten. Sebab tak ada kesuksesan yang terjadi dalam semalam, setuju tidak?
Semoga delapan hal di atas mencirikan kamu semua ya. Tak ada yang bisa melakukannya sebaik dirimu sendiri, ingat untuk tetap berusaha dan tetap semangat.

Oleh: Amma Muliya Romadoni

Mahasiswa S2 Thermal-Fluid Engineering ITB

 

Lahir dan dibesarkan di Jakarta, tidak serta merta membuat saya menjadi terlena dengan segala kegemerlapan ibukota. Segala sesuatu harus diperjuangkan dan diperlukan kegigihan untuk mencapai tujuan hidup. Seluruh nikmat yang diperoleh patut disyukuri, salah satunya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan jenjang sekolah menengah di Bogor. Untuk bisa bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun. Sekolah berasrama bertaraf internasional, akselerasi SMP-SMA hanya ditempuh 5 tahun, dan diperuntukan bagi anak-anak berprestasi dari seluruh Indonesia yang memiliki keterbatasan finansial. Sekolah ini pertama kali dirintis pada tahun 2004 sebagai salah satu program Dompet Dhuafa dalam bidang pendidikan. Saya adalah angkatan pertama Smart Ekselensia Indonesia.

 

Bagi saya, Jakarta dan Bogor sangatlah jauh karena harus terpisah dari orangtua untuk menjalani kehidupan sebagai seorang siswa berasrama layaknya tinggal di pesantren. Kondisi seperti ini harus bisa dilewati agar bisa beradaptasi dengan mudah terhadap lingkungan dan keluarga baru. SMART Ekselensia Indonesia, sebagai sekolah unggulan diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter dan berdaya saing global. Terbukti dari prestasi yang telah ditorehkan baik perlombaan tingkat nasional dan internasional. Misalnya Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan lainnya.

 

Kombinasi antara keilmuan dan spiritualitas menjadi ciri khas sekolah ini. Pelajaran Bahasa Arab dan Al-Quran menjadi pembeda sekaligus menjadi ruh dari sekolah SMART Ekselensia Indonesia ini. Selain itu pelajaran umum lainn­ya diajarkan berdasarkan kurikulum pendidikan di Indonesia. Saya adalah salah satu siswa yang berhasil menjadi Finalis Indonesian Science Project Olympiad (ISPO), serta menjuarai perlombaan Karya Ilmiah lain yang diadakan di wilayah Bogor dan sekitarnya. Selain itu, terpilih menjadi asisten pada mata pelajaran Al-Quran merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, disamping prestasi akademik lainnya. Dekat dengan Al-Quran akan membuat segala aktivitas duniawi terasa lebih mudah untuk dijalani. Hal ini dikarenakan keberkahan yang ada pada Al-Quran. Walhasil, Alhamdulillah saya lulus dari SMART Ekselensia Indonesia berbekal 4 Juz hafalan Al-Qur’an.

 

Setelah menjadi alumni SMART Ekselensia Indonesia, saya melanjutkan studi di Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU) melalui jalur Ujian Masuk Bersama (UMB). Awalnya, diterimanya sebagai mahasiswa USU tidak mendapatkan restu dari orangtua, karena lagi-lagi harus terpisah jarak dengan orangtua di Jakarta. Akan tetapi, saya memberikan pemahaman kepada orangtua bahwa ini merupakan sebuah proses yang harus dijalani. Allah telah menentukan pilihan terbaik bagi hamba Nya, hanya saja sebagai seorang hamba, kita tidak pernah tahu rahasia apa yang akan Allah berikan pada kita. Dengan bermodalkan ilmu dan kegigihan untuk belajar, saya beranikan diri untuk berangkat ke Medan bersama beberapa teman lainnya. Kultur yang berbeda, mengharuskan saya untuk selalu sigap dalam beradaptasi selama menjalani kehidupan di Medan. Ada anggapan bahwa masyarakat Medan keras dalam berbicara, tapi bagi saya itulah ciri khas yang dimiliki kota Medan. Disinilah saya berproses dan belajar banyak hal yang baru. Banyak hal yang bisa diperoleh dari kota yang terkenal dengan oleh-oleh “Bika Ambonnya” ini.

 

Layaknya seperti mahasiswa lainnya, perkuliahan terasa belum sempurna tanpa diisi dengan aktivitas organisasi untuk meng-upgrade kemampuan softskill. Tercatat selama menjadi mahasiswa di USU, saya pernah diamanahkan untuk memimpin beberapa organisasi, baik organisasi kerohanian, Unit Kegiatan Mahasiswa, ataupun Riset Mahasiswa. Klimaksnya, ketika saya bersama teman-teman Tim Horas USU lainnya bisa membanggakan Indonesia di kancah Internasional pada perlombaan mobil hemat energi, Shell Eco-marathon Asia 2014. Bagi saya, menimba ilmu bukan hanya duduk dan mendengarkan dosen berbicara memaparkan materi yang dijelaskannya. Banyak hal di luar sana yang bisa diambil untuk dijadikan ilmu, hanya saja kita harus cerdas untuk memilah-milih ilmu tersebut sehingga sesuai dengan kebutuhan. Janganlah terlalu menghabiskan waktu untuk hal yang kurang bermanfaat. “Waktu adalah pedang”. Maka gunakan waktu dengan bijak untuk memperoleh kebermanfaatan. Kemampuan berwirausaha juga sangat dibutuhkan bagi seorang mahasiswa. Selain pernah mendapatkan bantuan wirausaha dari Student Enterpreneurship Center (SEC) USU, pada akhir semester saya juga membuat sebuah lembaga training khusus Engineering Software untuk mengasah skill technopreneurship.

 

Fitrah sebagai seorang manusia, kita tidak akan pernah merasa puas terhadap ilmu. Setelah menyandang gelar sarjana, Alhamdulillah Allah mengizinkan saya untuk melanjutkan ke jenjang master melalui program beasiswa LPDP dari Kementrian Keuangan RI. Setelah Jakarta, Bogor, dan Medan, maka Bandung merupakan destinasi selanjutnya untuk tempat menimba ilmu. Tentunya setiap tempat memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri yang harus diambil hikmah kehidupannya. Thermal-Fluid Engineering Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan rumah baru saya untuk menimba ilmu selama di Bandung. Saya harus siap untuk memulai petualangan baru menjalani kehidupan di Bandung. Karena target saya berikutnya adalah menyelesaikan perkuliahan dengan hasil yang memuaskan dan menuntaskan hafalan 30 Juz yang merupakan cita-cita sejak dulu. Semoga harapan itu bisa terwujud. Aamiin..

Kalo Ada Kemauan Pasti Ada Jalan

Oleh: Nurkholis.

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4

 

Awal cerita saya bisa bersekolah dan merasakan manisnya beasiswa di SMART Ekselensia Indonesia berawal dari informasi dan tawaran dari seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kamalaputi, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah melalui proses seleksi regional NTT, akhirnya saya berhasil menjadi perwakilan penerima beasiswa bersekolah gratis SMP dan SMA di SMART Ekselensia Indonesia selama 5 tahun (akselerasi). Sekolah ini merupakan sekolah bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki kecerdasan yang mumpuni. Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayah berwiraswasta dengan menjajakan kue dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang membantu suaminya. Keluarga kami memang kurang mampu namun kami memiliki kemampuan bertahan yang sangat tinggi. Pekerja keras. Hal ini yang selalu coba saya tanamkan dalam diri untuk menjadi “orang” nantinya.

Awal mula berada di SMART Ekselensia Indonesia saya sempat mengalami hal yang sulit, maklum anak rantau. Saya menyebutnya sindrom kangen rumah. Kurang lebih selama 2 tahun saya (masih) mengalami gejala-gejala ingin pulang, sehingga masa-masa SMP tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kurun waktu dua tahun saya pergunakan untuk beradaptasi. Yap, saya termasuk tipe orang yang butuh waktu untuk beradaptasi lebih. Singkat cerita, saya mulai terbiasa dengan dunia akademis di tahun berikutnya, cara pandang mulai visioner. Mulai tahu harus jadi apa saya di masa yang akan datang. 3 tahun berikutnya, saya mulai merintis nilai rapor saya untuk mendapatkan angka 8 di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN). Dan selama 3 tahun menjalani masa SMA, saya cukup berkembang dalam hal akademis serta keorganisasian.

Tiba saatnya ketika akhir masa SMA untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya ingin bercerita sedikit mengenai proses masuk perguruan tinggi negeri. Ketika itu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti “SNMPTN undangan” di mana proses seleksi hanya dilihat dari berkas-berkas yang ada tanpa dilakukan ujian tulis. Saya bukanlah orang jenius atau pun orang paling pintar di angkatan saya. Akan tetapi, berkat kerja keras ketika masa SMA, di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN) saya menduduki peringkat pertama dengan grafik progresivitas yang meningkat. Walaupun jika di total semua pelajaran saya tidak akan mendapat posisi pertama. Dengan kondisi tersebut, saya mencoba memilih jurusan dan universitas yang menurut saya terbaik saat itu. Saya bertekad memilih jurusan pendidikan dokter di Universitas Indonesia. Pertimbangan saat itu adalah saya suka biologi sehingga menurut saya jurusan terbaik bidang itu adalah kedokteran, saya menduduki posisi pertama yang dapat dibilang saya murid rekomendasi sekolah, dan juga jikalau hasilnya pun tidak lolos saya masih ada kesempatan di ujian tulis nanti. Dengan membaca Bismillah, saya memilih pilihan pertama Fakultas Kedokteran UI dan pilihan kedua jurusan non-kedokteran di Universitas Airlangga.

Alhamdulillah, saya berhasil masuk sebagai siswa kedua dari sekolah yang masuk kedokteran UI setelah sebelumnya senior saya juga masuk melalui jalur yang sama. Saat itu, saya langsung sujud syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Saya percaya itu memang takdir yang dibuat oleh-Nya, bukan takdir yang sekadar dibuat-buat melainkan takdir yang sebenarya dibuat & patut disyukuri dengan kesungguhan dalam mengembannya. Dengan perasaan yang senang bercampur haru saya kabari keluarga di NTT dan betapa bahagianya mereka, sempat tidak percaya, dan akhirnya mereka menerimanya dengan tangisan bahagia. Sungguh perkataan “berikan ikhtiar terbaikmu dan serahkan segala hasilnya kepada Allah” sangat patut dilakukan disetiap kegiatan kita. Karena Allah lah yang paling tahu kebutuhan terbaik hambanya. Terimakasih Allah SWT. Terimakasih SMART Ekselensia Indonesia.

Oleh: Johan FJR, Angkatan 7 saat ini berkuliah Universitas Gajah Mada jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK), saat ini bekerja di NGO

 

Tak pernah terbayang dalam hidupku, seorang perantauan di Bogor yang tinggal di asrama, ditolak kampus sekelas UI. Yap, aku dari dulu memang mengidamankan UI. Kampus yang punya segudang fasilitas, dan almamater serba kuning ini telah memikat hatiku. Aku dan Ahfie Rofi, sahabat Sunda-Cinaku, menargetkan UI dari berbagai seleksi masuk kampus yang ada. Terhitung sudah ada 3 jenis seleksi yang kami coba: SNMPTN, SBMPTN, dan SIMAK UI. Dan Alhamdulillah semua ditolak mentah-mentah sama kampus serba ‘wah’ itu. Entah kenapa kami yang memang sedari SMP sudah bersahabat, ternyata berlanjut sampai kuliah. Beruntung kami ditolak di UI, tapi masih diterima di UGM, dan masih bersama hehehe. Mungkin memang takdir persahabatan kami tak berlanjut di UI. Aku sudah mencoba segala cara agar bisa masuk UI. Di SNMPTN, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Arkeologi UI. Di SIMAK UI, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Kriminologi. Tapi takdirku justru hadir di pilihan kedua SBMPTN. Berbrda dengan Rofi yang selalu mencantumkan Sastra Arab (Sasbar) ditiap pilihannya.

 

***

 

Sore itu gerimis mengguyur Parung, gemericiknya runut membentuk notasi begitu menyentuh aspal. Aroma tanah basah menyeruak, hidung-hidung kami bisa dengan jelas merasakannya dan semburat sinar matahari berusaha menembus awan, memberikan secercah cahayanya untuk aku yang sedang menelpon ibu di balkon barat lantai 4. “Gantian woi!” Aku melangkah gontai, resah menunggu pengumuman SNMPTN. Tanganku meraih modul bimbel di atas lemari. Ya, ini buku ‘sakti’ terakhirku. Aku ogah keluar banyak cuma buat beli buku-buku SBMPTN seperti teman-teman yang lain, buku-buku itu pada akhirnya tak berguna karena aku lebih suka liat kunci jawaban langsung atau sekadar ke warnet buat menjajal simulasi daring UN, aku tak mau buang-buang uang. Keesokan harinya datang juga hari yang kutunggu, hari di mana pengumuman penerimaan via SNMPTN diumumkan. Seharusnya hasil SNMPTN sudah diumumkan pukul 09.00 WIB di TOA sekolah, tapi ternyata belum ada juga. Walau punya nilai rapor yang gak jelek-jelek amat, seuprit prestasi, juga rekam jejak yang gak neko-neko di sekolah, namun hari itu aku gusar. Aku membayangkan kalau aku diterima di UI lewat SNMPTN pasti mengasyikan sekali, membayangkan memakai jaket kuning saja membuat hati ini berdebar. Belum lagi kampusnya lengkap, berangkat kuliah bisa naik kereta, kalau ngekos dekat-dekat situ bisa berangkat kuliah naik sepeda, dan yang jelas bisa naik bis kuning yang hits itu. Aku sudah merencanakan apa saja yang mau aku lakukan di UI. Ikut lomba ini-itu, ikutan di BEM, nge-gym, tinggal di asrama, ngekos di Pocin, banyak! Bahkan aku juga sudah memutuskan kerja apa di Margonda nanti. Karena tak kunjung ada juga pengumuman lewat TOA, aku mengajak Rofi untuk bertanya langsung ke guru di ruang BK. Aku yakin, di sana guru BK kami pasti sedang mengotak-atik data.

 

 

Dari asrama lantai 4, kami melewati wisma guru di lantai 2, dan anak-anak yang sukanya menyaksikan ISL kalau sore di kantin lantai dasar. Asrama kami memang satu komplek dengan sekolah, dalam tiga menit sampailah kami di sekolah dan langsung berpapasan sama bu Ana dan bu Uci. “Assalamualaikum bu, hasilnya udah keluar belom?” “Udah, ini bentar lagi ibu mau umumin.” Aku sama Rofi mempersilakan bu Ana dan bu Uci masuk ke ruang TOA. Ding dang ding dung bunyi TOA yang kami kenal mulai mengudara. Ada suara berdehem, sejurus kemudian pengumuman pun terpampang nyata! “Assalamualaikum. Hari ini telah didapatkan 11 mahasiswa … blablabla … melalui jalur SNMPTN. Ustadzah ucapkan selamat kepada …” Jantungku deg-degan BANGET! Rofi menunduk sambil memasukkan tangannya ke saku jaket angkatan kami. Aku menahan napas, berusaha fokus mendengarkan pengumuman beliau. “ … Karunia Adiyuda Dilaga, diterima di blablablabla. Muhammad Zulkifli, diterima di blablablabla … ” Perasaanku mulai gak karuan ketika nama kedelapan disebutkan. Apakah nama kami ada di sana? “ … Yodie Ikhwana, diterima di blablablabla. Dan Juniar Tirja Pratama Gamgulu, diterima di blablablabla … ” … nama kesebelas pun terucap. Namaku gak ada. NAMAKU GAK ADA! NAMAKU GAK ADA! “NAMA AKU GAK ADA FI!” “GAK ADA!” “GAK ADAAAK!” Panik kugoyang-goyangkan bahu Rofi yang kecil. Tremor sudah! “NAMAKU JUGA!” ujar Rofi Nyesek dan bertanya-tanya, ‘Masa sih nama kami nggak ada?’ Kami berdua mengerubungi bu Ana, disusul beberapa anak yang baru datang dari asrama. Beliau memberikan selebaran lembar ketikan. Dan benar, nama kami tidak ada. Tanganku lemas sembari membalikan kertas tadi ke pangkuan bu Ana. Aku diam. Aku gak nyangka, kami berdua gak diterima lewat jalur undangan. Kami berdua pasrah. Hujan deras pun mengguyur kala itu.

 

***

 

Kami berdua melangkah lemas, mewek dikit, dan menghindari kerumunan massa. Kami menghindari tangga barat di mana anak-anak sedang nonton teve, takut banyak yang menanyakan kondisi kami akhirnya kami memutar ke tangga timur. Suara jeritan anak-anak yang diterima SNMPTN menggema sampai ke lantai dasar. Gemanya terus terngiang di pikiran kami berdua. NYESEK bro! Aku dan Rofi cuma duduk-duduk di tangga bawah. Merenung dan sedikit bersedih. Gak disangka ternyata kami berdua memang kurang memenuhi persyaratan SNMPTN. Aku sendiri menyadari kalau nilai Ekonomiku anjlok sejadi-jadinya. Tapi masih lebih beruntung dari Rofi yang anjlok sana-sini, hehehe. Rasanya nyesegh dan pengin maki-maki diri sendiri, ‘Kenapa ya aku gak belajar serajin-rajinnya, atau ibadah 24×7 gitu.’ Dalam kondisi ini, kayaknya aku jadi lebih dekat sama Tuhan, mencurahkan segala isi hati, segala gusar, dan berusaha menenangkan diri dengan baca Quran. Ya, aku yang sebelumnya lemas gegara tak lolos di SNMPTN, makin terpacu karena aku berpikir, “Tuhan mungkin gak memuluskan jalan aku lewat SNMPTN karena menurut-Nya, jalur itu terlalu mudah buat aku. Maka, Ia mencoba menguji kemampuan dan kesabaran aku melalui SBMPTN”.

 

***

 

 

Pada akhirnya kelas bimbel di sekolahku dimulai kembali kala itu. Di dalam kelas wajah-wajah lesu nampak mewarnai kelas yang dimulai pukul 6 dan berakhir jam 7 pagi tersebut, berulang kali guruku bilang, “Kalian sebenarnya jauh lebih beruntung, karena yang diterima di SNMPTN HARUS mengambil apa yang mereka pilih agar sekolah tidak di blacklist. Jadi, kalian yang lewat SBMPTN bisa memilih jurusan kalo cocok ato enggak”. Wah, iya juga. Misalnya si Udin memilih Keperawatan. Entah dia milihnya serius atau enggak, pastinya dia harus ambil dong biar sekolahnya nggak di blacklist kampus itu, hehehe. Aku pun jadi lebih bersemangat dan lebih serius untuk memilih jurusan yang kumau. Jujur, aku sendiri bingung BANGET untuk memilih jurusan apa. Terhitung ada ratusan jurusan yang tersedia di kampus. Ketika pembagian jurusan IPA-IPS, maka bisa dibilang berkuranglah jumlahnya. Tapi ketika SBMPTN hanya dikasih 3 kesempatan pilihan, aku kudu banting setir putar otak lompat-lompat sambil lirik-lirik jurusan mana yang prospeknya bagus (ke depannya), juga pastinya santai pas kuliah (#AkuBanget). Setelah melihat profil masing-masing jurusan, cek prospek kerja dan tanya ke alumni sana-sini, aku jatuh hati pada tiga pilihan besar berikut:
1. Ilmu Komunikasi UI Yap, aku suka banget sama dunia jurnalistik dan Ilmu Komunikasi. Menurutku keduanya memiliki keterkaitan dengan hobiku. Selain kampusnya yang udah jelas eksklusif dan kondusif, letak UI yang di Depok strategis buatku jika hendak melancong ke mana-mana: Jakarta, Bogor, Bandung bahkan Singapura. 2. Sosiatri UGM Aku gak tahu sebelumnya kalau jurusan yang getol banget memerhatikan masalah sosial, kebijakan pemerintah, dan dunia perpolitikan ini ternyata sudah berganti nama menjadi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan. Jurusan ajaib yang mempelajari 3 jurusan (Manajemen Kebijakan Publik, Sosiologi, dan Politik Pemerintahan) sekaligus ini ternyata mempunyai prospek cerah karena banyak perusahaan yang membutuhkan CSR dari lulusan ini. Dan, banyak yang langsung diterima usai wisuda dari sini, hehe. 3. Jurnalistik Unpad Jurnalistik Unpad menjadi jurusan cadangan kalau kalau aku gak diterima di Ilkom UI. Sayangnya aku gak diterima di jurusan yang baru dibuka pada 2015 ini. Tapi mengapa, toh tiap kampus pasti ada pers mahasiswanya (persma).

 

***

 

Setelah banting gayung untuk buru-buru mandi mengikuti bimbel pagi, tarik sarung setiap pukul 03.00 WIB, juga belajar sehidup-semati, Alhamdulillah aku diterima di Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) UGM. Yap, hidup baruku mulai diukir di kampus ini, kampus kerakyatan. Akan seperti apa? Aku juga tak tahu. Yang jelas untuk adik-adik kelasku jangan menyerah, belajar yang rajin kalau memang kalian ingin masuk ke jurusan favorit di kampus favorit. Yang jelas (lagi) mau SNMPTN atau SBNMPTN, kelak kamu akan jadi maba yang membawa nama SMART di kancah dunia perkuliahan, jaga baik-baik ya.