, ,

Hidup Memang Seru Sob!

Sepilu hidup seperti paku

Kadang hidup terasa ngilu

Walaupun itu memang perlu

Agar hidup lebih berlaku

 

Sepilu hidup seperti paku

Menghadapi hidup penuh kelu

Walaupun kadang penuh tipu

Tapi hidup terasa seru

 

,

Si Sunyi Bernama Sunyi

Si Sunyi Bernama Sunyi

Karya Muhammad Habibur Rohman

Alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di FIB UNS

 

Bagi Kesunyian

Bagi kesunyian

Hening adalah bunga

Atau semacam cahaya

Yang menyala di rimbun angkasa

 

Bagi kesunyian

Senyap bukan ketiadaan

Atau tahun-tahun yang usang

Yang begitu jauh dan terlupakan

 

Sajak ini, bagimu

Hanyalah semacam nyanyian

Pada suatu pagi, pada sebuah kesunyian

 

,

Sepi

Sepi

Oleh: Karya Nadhif Putra Widiansah

Sepi, sepi, sepi
sepi bukan mimpi
sepi bukan imaji
sepi bukan ilusi
sepi bukan puisi
sepi bukan diksi
sepi bukan narasi
sepi bukan petisi
sepi bukan mosi
sepi bukan intuisi
sepi juga bukan hati
sepi, sepi, sepi
sepi, untuk diriku sendiri

(Buitenzorg, 2017)

,

Asal Ada Kemauan untuk Bekerja Keras, Kamu Pasti Bisa!

Asal Ada Kemauan untuk Bekerja Keras, Kamu Pasti Bisa!

 

Oleh: M.Atiatul Muqtadir, Ketua BM KM UGM

 

 

 

“Kerja Mengungguli bakat” begitu tulisan Richard St. John dalam bukunya 8 To Be Great. Delapan hal itu adalah kesimpulan dari penelitian dan wawancaranya dari lebih dari lima ratus orang sukses dunia.

 

 

 

Dalam perjalanan menuju Jakarta, aku menemukan sebuah paragraf menarik yang mengembalikan kesadaran kita tentang bakat selama ini.

 

 

 

Pernahkah dalam proses kerja keras kita, sesekali terpikir “coba saja aku punya bakat di sini, aku ga harus kerja sekeras ini”? Ya, kita terkadang menganggap, bakat sebagai satu-satunya modal yang harus dimiliki untuk mencapai kesuksesan di bidang itu.

 

 

 

Padahal Mozart, seorang pianis ternama dan ‘berbakat’ harus menghabiskan waktu dua belas jam sehari selama lebih dari satu dekade untuk menghasilkan masterpiece pertamanya. Pun begitu dengan Michaelangelo, seorang seniman dunia, dalam wawancaranya ia justru berterimakasih pada kerjanya dibandingkan dengan bakatnya. “Jika orang-orang tahu betapa keras aku bekerja untuk ini,” katanya yakin, “semuanya mungkin tak nampak menakjubkan lagi”.

 

 

 

Tidak semua orang berbakat mendapatkan kesuksesan. Bakat yang tidak disertai dengan kerja keras adalah harta karun yang disia-siakan. Mutiara yang tidak diasah. Emas yang tidak ditempa.

 

 

 

Mereka yang berpikir hanya dengan bakat ia dapat berjalan menuju sukses, sehingga tidak mengutamakan kerja, justru orang yang sedang mengikis bakatnya untuk lama-lama menghilang. Michael Jordan misalnya, merasa bakatnya cukup baik lantas permainannya mengendur saat berada di Tim universitasnya, hingga sang pelatih pun mengeluarkannya.

 

 

 

Syukurlah ia tersadar, bahwa permainannya tak bergantung pada bakat semata. Orang malas itu telah bertaubat dan menjadi salah satu pemain basket yang bekerja paling keras. Dan saat ini, siapa yang tidak mengenalnya?

 

 

 

“Kita terlalu memuja bakat,” kata Richard memulai paragraf terkahir di sub bab ini, “menandang rendah kerja karena kita tidak melihat segala usaha dibalik suatu kesuksesan. Yang kita lihat adalah ketenaran selama lima belas menit dari penari ‘berbakat’ dan bukannya usaha selama lima belas tahun untuk meraihnya. Kita melihat dua ratus halaman buku, dan bukan 20.000 jam penuh keringat yang dihabiskan oleh penulis ‘berbakat’.

 

 

 

Anda, saya, kita semua, mungkin telah memiliki percikan bakat untuk memulai, tapi kerjalah yang mengubah percikan tersebut menjadi nyala api yang bergelora. Ketahuilah, bakat memang merupakan suatu karunia, tetapi yang lebih besar dari itu adalah karunia berupa kemauan untuk bekerja keras.

 

 

,

Jangan Asal Ngecap dong Sob!

Jangan Asal Ngecap dong Sob!

Oleh: Reza Bagus Yustriawan
Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX, Mahasiswa Sosiatri FISIP UGM 2017

 

Anak IPS? Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata IPS? Nakal? Suka tawuran? Kumpulan begundal? Kalau ya, berarti pikiranmu sudah terkontaminasi dengan “pepatah”  orang tua zaman dulu. Memang, kata siapa semua anak IPS itu begundal? Anak IPS itu seharusnya dihormati tahu, karena anak IPS gemar melestarikan budaya Indonesia melalui beragam ilmu sosial yang diajarkan para guru tercinta.

 

Namun, suka duka sebagai anak IPS yaa banyak juga sih, diantaranya, dicap kalau mereka yang masuk jurusan IPS itu tak elok dan akan sulit mencari pekerjaan di masa depan. Padahal nih yaa, tanpa kehadiran anak IPS, mungkin anak cucu kita tak akan tahu Tari Saman asal Aceh, Kujang, Rencong, Sejarah Indonesia, bahkan sejarah aku dan dia. Ini bercanda hehe.

 

Walau begitu, ada enaknya juga jadi anak IPS, misalnya, tak perlu berurusan dengan angka-angka ajaib, tak perlu mencari bilangan-bilangan rumit, dan tak perlu berpikir terlalu banyak (maksudnya tak perlu berurusan dengan kimia, matematika, fisika, dan pelajaran eksakta lainnya). Jadi, kalau belajar yaa gitu-gitu aja, enak, nyantai, nggak perlu kalkulator, nggak perlu ngitung-ngitung pergerakan setiap benda di bumi. Palingan ngitung-ngitung cuma dipake sekali-kali­—misal di kantin, ngitung utang—.

 

Hayoo… Ngaku…

 

Kalau nggak enaknya jadi Anak IPS juga banyak, salah satu yang paling bikin kesal itu kita harus ngapalin nama-nama orang luar yang nggak jelas. Ada juga tanggal-tanggal. Boro-boro nginget tanggal lahir orang, tanggal lahir orang tua aja nggak tau, ya nggak? Ngaku! Sedangkan, tanggal peristiwa kesaktian aku saja, aku nggak inget, apalagi Hari Kesaktian Pancasila??

 

Jangan dikira jadi anak IPS itu nggak ribet. Mungkin selama ini banyak yang bilang kalau yang ribet itu cuma anak IPA doang, harus bawa termometer lah, labu melerleyer lah, spiritus lah. Eh! Jangan salah! Anak IPS juga ribet, malah lebih ribet, disuruh bawa peta lah, buat peta lah, menggali fosil lah, buat peta sambil menggali fosil lah, berkomunikasi dengan manusia-manusia purba lah. Ribetan mana hayo??

 

Yaa, ribet dua-duanya lah.

 

Aku sebenarnya agak resah, soalnya IPS di Indonesia dianggap tempatnya anak-anak buangan.

 

Aku nggak setuju!!

 

Pertama, karena aku juga anak IPS. Kedua, yaitu kalau nggak ada IPS nggak ada psikolog, kalau nggak ada psikolog nggak ada yang bisa nolongin orang stres, kalau terlalu banyak orang stres semua jadi stres, kalau semua orang stres entar mati. Wahhh!!! Kalau nggak ada anak IPS ujung-ujungnya nyawa semua orang mati. Ngeri banget kan akibatnya??

 

*Ngaco

,

Tentang Alif, Tentang SMART

The Power of Words

Irani Soraya

 

Bayangkan ditangan anda saat ini ada dua bilah golok. Golok pertama amat indah, rapi, mengkilap lagi terasah dengan baik seolah mencerminkan ketajaman dan kekuatannya. Golok kedua, adalah golok yang terlihat tidak meyakinkan, permukaanya dipenuhi karat, tampak tidak rapi apalagi meyakinkan. Golok yang mana yang akan anda pilih jika anda hendak memotong sebatang bambu? Golok pertama pasti yang terpilih, permukaannya yang halus, mengkilap lagi memperlihatkan ketajamannya. Tapi bagaimana jika golok pertama tidak dihujamkan dengan sekuat tenaga, akan tetapi hanya dipantulkan atau di pukul-pukulkan saja dengan sekenanya pada sepotong bambu, apakah bambu akan terpotong, mungkin tergores atau lecet tapi tidak akan terpotong. Dan bagaimana jika golok kedua yang karatan lagi tak meyakinkan kita hujamkan dengan sekuat tenaga keatas bambu, mungkin butuh waktu lama akan tetapi pasti bambu dapat terpotong oleh golok yang kedua.

 

Kisah tersebut diceritakan oleh salah seorang ustaz dalam kisah negeri lima menara yang ditulis oleh Ahmad Fuadi[1].  Petuah ini diberikan saat sosok Alif diceritakan mulai nyantri di pesantren Madani, proses pendidikan yang dialami Alif kecil ini tidak semulus beberapa teman dekatnya, alif yang masuk ke dunia pesantren dengan “terpaksa” beberapa kali terkena hukuman akibat ketidak disiplinan, diceritakan juga betapa Alif begitu kesulitan untuk menghafal pelajaran-pelajarannya di pesantren madani, dibandingkan dengan Baso tokoh sahabat dekatnya yang begitu jenius.

 

Kisah tentang golok diatas diceritakan oleh salah satu pimpinan pondok Pesantren Madani yang diceritakan oleh Fuadi.  Sebuah semangat untuk bekerja keras dalam mencapai apapun, dan semangat untuk melakukan sesuatu dengan sepenuh hati, dengan sebuah totalitas.

 

Alif kecil hanyalah seorang anak dari tepi danau Maninjau yang begitu bermimpi untuk masuk SMA untuk kemudian melanjutkan ke Universitas, namun jalan hidupnya berkata lain, ibundanya menitipkan cita-cita baginya untuk belajar agama, sebuah permintaan dari bunda yang ytak mungkin ditolak. Alif kecil akhirnya menjalani harapan dari orang tua yang amat dikasihi serta dihormatinya itu, dan pada akhirnya pendidikan dalam pesantren Madani itulah yang banyak mewarnai segala perjuangan Alif dalam mencapai impiannya untuk bisa menginjakkan kaki ke Amerika. Kekuatan Alif berasal dari 2 kalimat yang dilantunkan berkali-kali di pesantren madani yaitu “Man Jadda Wa Jadda (siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan sampai pada yang dicita-citakan)”dan kalimat yang kedua adalah “Man Shabara, Dzafira(siapa yang bersabar ia akan menang)”. Inilah energi yang banyak menggubah jiwa, energi yang berasal dari kata-kata baik. Energi inilah kiranya yang kita dapat tangkap dalam kisah negeri lima menaranya Fuadi, bahwa dalam memperjuangkan segala impiannya manusia pasti akan mengalami berbagai tantangan dan hambatan, akan tetapi hanya mereka yang mampu tetap totalitas, tetap bekerja keraslah yang akhirnya akan mencapai garis akhir.

 

Begitupula yang guru-guru SMART rasakan, mendidik para pemuda yan berasal dari berbagai daerah, memisahkan mereka dari kampung halaman dan dari kasih sayang keluarga. Proses pendidikan yang dilalui pun bukan setahun dua tahun tapi lima tahun, meliputi tiga tahun pendidikan SMP dan dua tahun tingkat pendidikan SMA, tantangan jadi semakin berat, sebagaimana pesantren madani yang Alif dan kawan-kawannya rasakan, di SMART pun menerapkan sistem asrama dengan aturan ketat soal keluar masuk maupun soal barang elektronik. Bayangkan seorang anak SMP di tahun 2020 bukankah biasanya sedang kerajingan handpone dan PS? namun di SMART mereka harus menghafal Qur’an, giat belajar, dan berjuang demi masa depan. Siswa-siswa SMART adalah harapan bagi dirinya, bagi keluarganya, dan bagi daerahnya.Cinta ilmu, kerja keras, santun, jujur dan bertanggung jawab adala nilai-nilai yang senantiasa kami tanamkan kepada pemuda-pemuda ini.

 

Sebuah pepatah pernah berkata: “seorang jenius selalu bisa dikalahkan oleh seorang yang bekerja keras, dan seorang pekerja keras akan selalu dikalahkan oleh seorang yang mencintai pekerjaannya[2]”, pepatah tua ini berbicara banyak, bahwa manusia tidak boleh hanya berbangga hati dengan kecerdasan yang tinggi, karena kecerdasan yang tinggi tanpa adanya dorongan untuk berbagi dan bermanfaat maka akan seperti pepatah lainnya “ Ilmu tanpa amal maka bagaikan pohon tanpa buah[3]” artinya kemanfaatannya kurang dapat dirasakan oleh orang lain. Begitu pula cerita tentang dua bilah golok diatas, meskipun golok pertama tampak rapi, mengkilap akan tetapi tanpa usaha yang sungguh sungguh dalam menghujamkannya ke bilah bambu maka golok tersebut hanya menyebabkan lecet-lecet saja. Inilah gambaran orang yang merasa cukup dengan kejeniusan dan kecerdasan semata.

 

Pepatah-pepatah dan kisah-kisah telah lama digunakan sebagai pelipur lara dan penghiburan, namun penggunaanya sebagai sebuah motivasi belum banyak tergali. Jika Alif kecil seorang anak dari kampung di tepi danau Maninjau akhirnya mampu menginjakkan kakinya di benua Amerika dengan diantar oleh “kekuatan kata”dari ustaz dan guru-gurunya, kiranya kita dapat memulai untuk mengucapkan kata kata yang memberi inspirasi, kata-kata yang menumbuhkan jiwa orang orang terdekat dan kerabat, kata kata yang mampu menyembuhkan , maka masihkan kita biarkan lisan ini untuk mengeluarkan kekecewaan dan kemarahan?

 

[1]    Ahmad Fuadi, Negeri Lima Menara.Gramedia Pustaka, 2009. Jakarta.

[2]    Kata-kata ini diucapkan dalam Drama Korea”Love and Bread”saat kakek menasehati Kim Tak Gu, Indosiar, 2010.

[3]    Aslinya berbunyi “al ilmu bila ‘amalin kasajari bila tsamarin’ biasanya ditulis didinding -dinding pesantren sebagai motivasi santri

,

Iya SMART Emang Beda Sob!

 

Oleh : Imtinanika Syahara, Guru SMART

 

WFH atau kependekkan dari Work From Home adalah sebuah istilah lama yang tenar kembali setelah merebaknya pandemi covid-19 atau virus corona. Virus yang datang tak diundang ini membuat pemerintah harus menerapkan kebijakan WFH bagi para karyawan untuk bekerja di rumah saja dalam rangka meminimalisir penyebarannya.

 

Dompet Dhuafa Pendidikan adalah sebuah lembaga yang turut serta menerapkan sistem WFH bagi para karyawannya. Namun, tidak seperti kebanyakan lembaga atau perusahaan lain yang menerapkan WFH full bagi seluruh karyawannya, sebagian dari karyawan lembaga DD Pendidikan masih tetap harus bekerja seperti biasanya. Hal ini dikarenakan lembaga ini memiliki beberapa jaringan program yang salah satunya adalah SMART Ekselensia Indonesia, sebuah sekolah kepemimpinan berasrama 5 tahun yang notabene siswanya berasal dari masyarakat marginal dari seluruh wilayah Indonesia.

 

Terdapat 192 siswa SMART yang sampai detik ini masih berada di asrama. Mereka tidak diperkenankan keluar dari area asrama sebagai zona aman mereka. Mereka pun harus menghadapi kenyataan tak bisa pulang kampung menikmati hari raya bersama keluarga setelah satu tahun lalu mengalami perubahan kebijakan.

 

Bagaimana dengan proses KBM di SMART? Di tengah maraknya aplikasi meeting online yang sedang naik daun sebagai media tatap muka virtual, guru dan siswa SMART urung melakukannya. Namun semangat memfasilitasi siswa SMART belajar masih membumbung tinggi.

 

Kami menggantikan proses itu dengan proses penugasan. Jadwal dirancang tidak sepadat biasanya, hanya 2 mata pelajaran dalam sehari. Itupun dalam kurun waktu belajar yang cukup pendek, hanya satu jam untuk satu pelajaran dengan bobot penugasan yang disesuaikan. Sisanya anak-anak beraktifitas sesuai minat mereka, ada yang memilih untuk berolahraga, menyalurkan hobi memasaknya, berkreasi diruang jahit, bereksplorasi mencukur rambut teman-temannya, nonton TV, membaca novel atau komik favoritnya atau ada juga yang memilih rebahan sekedar leyeh-leyeh sembari bercerita bersama teman-teman.

 

Kami hanya datang disaat piket saja, sisanya mengikuti kebijakan bekerja di rumah. Guru piket mendistribusikan tugas pada ketua kelas dan mengumpulkannya kembali serta meletakan di meja guru pengampu untuk nanti diperiksa setelah jadwal piketnya ke sekolah tiba. Kami tak bisa dengan leluasa berinteraksi dengan siswa seperti biasanya. Aturan physical distancing harus diterapkan. Memakai masker, menjaga jarak aman dan rajin mencuci tangan. Setidaknya itu upaya yang bisa kami lakukan agar semua tetap aman.

 

SMART memang beda!!! Setidaknya itu yang selalu dirasakan. Di sini bukan tempatnya guru pencari perhatian, di sini bukan tempatnya guru penggila jabatan. Di sini adalah tempatnya guru yang senang membagikan kebersamaan.

 

Tuntutan wali murid (orang tua) yang menyerahkan sepenuhnya  tanggung pendidikan anaknya  di sekolah kepada gurunya tak pernah kami rasakan, melainkan kamilah yang berperan menggantikan posisi mereka baik di sekolah maupun di asrama. Beragamnya komentar mereka dengan segala beban tugas yang harus dikerjakan anak-anaknya dirumah pun tak kami dapatkan. Yang ada adalah titipan doa-doa tulus sepenuh hati agar anak-anak dan kami gurunya selalu dilindungi Allah swt dimanapun berada.

 

Kotak bingkisan menjelang ramadhan dari wali murid pun tak pernah kami khayalkan, yang ada justru momen bisa berbagi dengan anak-anak lah yang kami selalu rindukan.

,

Kami Tidak Mudik Tahun Ini

Oleh: Rizki Uni Utami, S.Pd., Gr., Guru SMART

 

Ada yang ditunggu ketika momen Idul Fitri tiba, yakni mudik. Perantau akan pulang ke udik. Penjelajah akan pulang ke daerah asalnya. Begitu juga, anak-anak penuntut ilmu akan menantikan kembali ke rumah tercinta. Mudik identik dengan pergerakan massa yang masif. Semua jalan lintas provinsi dan kota akan ramai. Semua moda transportasi: darat, laut, dan udara akan menggeliat. Tapi sejarah sepertinya akan mencatat tahun 2020 adalah tahun tanpa mudik akibat pagebluk Covid-19 yang masih belum usai. Virus SARS-Cov-2 atau korona masih menghantui, tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Hal ini membawa imbas di pelbagai aspek ekonomi dan sosial.

 

Data Kementerian Perhubungan tahun 2019 menyebutkan bahwa ada 17,8 juta pergerakan manusia di akhir ramadan. Ini artinya ada aktivitas mudik dari suatu tempat ke tempat lain dengan segala moda transportasi. Angka ini adalah angka yang sangat mengkhawatirkan di tengah wabah seperti sekarang. Virus sangat mudah menyebar di keramaian. Pergerakan massa yang masif adalah lahan subur penyebaran virus berbahaya ini.

 

Data Gugus Tugas Covid-19 Republik Indonesia per 21 April 2020, menyatakan sudah ada 7135 kasus positif dengan jumlah kematian mencapai 616. Rasio penyebarannya di kisaran 8,6 persen. Artinya dari tiap 100 orang, akan ada 8 orang yang terinfeksi. Angka ini jelas mengkhawatirkan. Data per 21 April 2020 dari CEBM Oxford, Indonesia menempati peringkat 10 global rasio kematian dengan yang terinfeksi korona (Case Fatality Rate).

 

Tingkat fatalitas dari Covid-19 akan semakin meningkat jika langkah pencegahannya tidak segera dilaksanakan. Dengan tertatih-tatih, Indonesia akhirnya melakukan kebijakan untuk mengurangi laju penyebaran virus dengan berbagai cara, di antaranya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), Work From Home, dan pembelajaran daring untuk siswa sekolah. Ikhtiar ini diselaraskan dengan ikhtiar global yakni pembatasan fisik (physical distancing).

 

Dompet Dhuafa Pendidikan, sebagai salah satu pilar program pemberdayaan Dompet Dhuafa memiliki program SMP dan SMA SMART Ekselensia Indonesia, yakni sebuah program beasiswa untuk anak-anak dhuafa dari seluruh Indonesia. Program ini menempatkan siswa untuk tinggal dalam asrama sebagai bagian dari proses pembinaan. Setiap tahunnya, mudik bagi siswa yang tinggal di asrama, terutama siswa SMART Ekselensia adalah hal yang ditunggu-tunggu. Kerinduan akan keluarga adalah hal utama yang ditunggu-tunggu setiap siswa. Berkumpul dengan sanak keluarga menjadi panggilan hati yang tidak bisa disia-siakan begitu saja.

 

Akan tetapi situasi berubah 180 derajat di tahun ini. Situasi pagebluk Covid-19 membuat siswa di sekolah berformat asrama menjadi sangat tidak direkomendasikan untuk mudik. Hal ini membuat aktivitas mudik menjadi sangat tidak dianjurkan. Belakangan, pemerintah akhirnya melarang secara resmi kegiatan mudik lebaran per 24 April 2020 sebagai upaya menekan angka penularan virus korona di masyarakat.

 

Begitu pun dengan siswa SMART Ekselensia Indonesia, mudik ditiadakan di momen Idul Fitri 2020 ini. Hal ini tentu berat untuk mereka. Kerinduan kepada keluarga menjadi hal yang sangat utama. Sebut saja Rian. Ia menyatakan keinginannya untuk bisa pulang ke kampung halamannya meskipun situasi tidak memungkinkan.

 

“Kangen sama orang tua”, ujar siswa asal provinsi Bali itu.

 

Ia melanjutkan, “sudah hampir setahun tidak bertemu”.

 

Lain hal dengan Syarif, siswa asal Sulawesi Tenggara. Ia bisa memahami situasi untuk tidak mudik karena banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi

 

“Karena mudik sendiri lebih banyak efek sampingnya. Bisa jadi saya yang bawa virus korona ke rumah dengan situasi (fisik) orang tua yang mungkin sudah melemah” ujar siswa yang kerap meraih medali dalam kompetisi pencak silat dan atletik tersebut.

 

Apa yang dirasakan Rian dan Syarif tentu mewakili 198 siswa di asrama SMART Ekselensia Indonesia yang berasal dari 28 provinsi. Kerinduan untuk pulang harus ditahan karena situasi tidak memungkinkan. Mereka menahan rindu sejenak untuk mengalahkan pandemi.

 

Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di jalan. Jangan sampai kita hanya bisa menyesal di kemudian hari akibat tidak mematuhi larangan mudik.

 

This too shall pass.

 

**

,

Asyiknya Aktivitas Ramadan Bersama Al-Qur’an  

Oleh: Unang, Guru SMART

 

Al-Qur’an merupakan kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dengan perantara malaikat Jibril alahi salam, mukjizat secara lafadznya, dan berpahala bagi yang membacanya.

 

Allah Subhanahu wata’ala memuliakan apa dan siapa saja yang berinteraksi dengan Al- Quran. Sebagaimana Allah memuliakan nabi Muhammad saw dikarenakan diturunkannya Al-Qur’an kepada beliau. Allah Swt berfirman:

 

“Katakanlah (Muhammad), seseungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa” (QS. Al-Kahfi : 110)

 

Dalam tafsir Al-Baghawi (Ma’alim Tanzil), Ibnu Abbas berkata terkait ayat di atas: Allah SWT mengajarkan kepada Rasulullah saw sifat tawadhu’, maka dari itu Allah memmerintahkan kepada Rasulullah saw untuk mengatakan bahwa sesungguhnya aku (Muhammad) hanya manusia seperti kalian akan tetapi aku diberikan kekhususan dengan diturunkannya wahyu (Al-Qur’an), dan Allah memuliakan aku dengannya (Al-Qur’an) , diwahyukan kepadaku sesungguhnya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa.

 

Begitupun Allah SWT memuliakan malaikat Jibril alaihi salam, salah satunya dikarenkan malaikat Jibril ditugaskan oleh Allah Swt untuk menyampaikan wahyu (Al-Qur’an) kepada Nabi Muhammad saw. Allah SWT banyak mensifatkan malaikat Jibril dalam Al-Qur’an:

إِنَّه لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍ (19) ذِى قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍ (20)

“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki Arsy.” (QS. At- Takwir : 19-20)

 

Begitupula denga bulan Ramadhan, Allah menjadikan bulan ramadahan menjadi bulan yang istimewa selain dengan puasa Ramadhan, juga salah satunya diturunkannya Al-Qur’an di bulan tersebut.

 

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil).,,” (QS. Al-Baqarah : 185)

Malam diturunkannya Al Quran, menjadi malam yang terbaik, lebih baik dari pada seribu bulan yaitu lailatul qadar.

إِنَّآ أَنْزَلْنٰهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)

 

“ Sesungguhnya kami  telah menurunkannya (Al-Qur’an ) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr : 1-3)

 

Para sahabat ridwanullahi alaihim menjadi generasi yang terbaik dikarenakan mereka berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam aqidah, ibadah, dan muamalah. Rasulullah saw bersabda :

 

“Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” (HR. Ahmad)

 

Bulan ramadhan merupakan momentum untuk kita berinteraksi dengan Al-Qur’an, sebgaiman Rasulullah saw di bulan ramadhan beliau mentalaqikan bacaan Al-Qur’an kepada malaikat Jibril. Para sahabat ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu tiga hari, bahkan ada yang mengkhatamkannya dalam sehari semalam. Begitupun para ulama, salah satunya Imam as-Syafi’i beliau mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan ramadhan sebanyak enam puluh kali.

 

Di SMART Ekselensia Indonesia, kami membiasakan siswa untuk berinterkasi dengan Al-Qur’an setiap harinya. Ada program wajib menghapal setiap 3 kali dalam sepekan dengan target minimal ½ juz tiap semester. Jadi siswa diwajibkan menghapal minimal 5 juz selama sekolah di SMART. Selain program regular, ada juga program takhassus yaitu siswa yang mempunyai bakat dalam menghapal melebihi rata-rata, mereka dibimbing untuk bisa menghapal Al-Qur’an 30 juz. Peserta program takhassus diambil perwakilan setiap angkatannya. Tujuan dari program ini adalah sarana untuk mengeimbangi keilmuan siswa, selian cerdas secara pengetahuan keilmun umum juga crdas secara spiritual dan tentunya untuk mendapatkan kemulian di sisi Allah Swt baik di dunia maupun diakhirat.

 

Upaya membiasakan siswa sehari-hari berinteraksi dengan Al-Qur’an tidak hanya di sekolah, begitu juga di asrama. Ada juga program untuk memurajaah (mengulang) hapalan. Di bulan Ramadhan kali ini siswa tetap berada di asrama, yang semula dijadwalkan untuk pulang kampung, qadarullah harus di tunda dikarenakan adanya penyebaran wabah covid-19. Maka dari itu, ramadhan kali ini siswa dianjurkan untuk lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an mengingat kemuliaan dan kekhususan bulan ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an.

 

Ketika sudah terbiasa sehari-hari berinteraksi dengan Al-Qur’an, maka bukan hal yang berat untuk bisa lebih giat untuk bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak mungkin di bulan Ramadan. Mudah-mudahan Allah Swt memberikan kita kemudahan untuk bisa memfokuskan diri membaca, mentadabburi Al-Qur’an di Ramadan kali ini.

 

 

, ,

Kudu Sinergi Supaya Pendidikan Berarti

 

Oleh: Syahrizal Rachim

Alumnis SMART Angkatan 9 berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran

 

Pendidikan merupakan salah satu sasaran pokok pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pada kehidupan sekarang ini semua orang berkepentingan terhadap jalannya pendidikan karena pendidikan merupakan wadah pembinaan  tenaga kerja, dapat untuk menambah lapangan pekerjaan, serta  untuk memperoleh status tertentu dalam masyarakat. Dunia. pendidikan sekarang ini dihadapkan pada tantangan kemajuan zaman. Dengan adanya kemajuan zaman ini, banyak aspek‐aspek kehidupan yang berubah dan bergeser. Oleh karena itu, mau tidak  mau paradigma dan sistem pendidikan harus disesuaikan dengan  tuntutan zaman. Tentu saja perubahan tersebut diharapkan dapat  menuju pendidikan masa depan yang lebih baik.

Perubahan pendidikan yang pertama berkaitan dengan sistem pendidikan, yakni sistem pendidikan tradisional direformasi menjadi sistem pendidikan empowering of people. Hal ini dilakukan karena pendidikan gaya lama (tradisional) menganggap siswa sebagai objek yang harus menerima apa saja yang diberikan guru, sistem pendidikan empowering of people tersebut diharapkan dapat mengembangkan kemampuan masyarakat.

Reformasi yang kedua berkaitan dengan orientasi pendidikan.  Pendidikan sekarang ini harus berorientasi pada dunia kerja, sehingga penekanannya tidak semata‐mata pada aspek kognitif, namun juga pada aspek‐aspek kepribadian lainnya yang justru lebih penting, seperti aspek afektif dan psikomotorik. Dengan demikian, pendidikan sekarang ini harus betul‐betul berorientasi pada life skill. Sekarang sudah saatnya menyiapkan peserta didik melalui pendidikan dengan pola, konsep, dan model baru yang dapatmengembangkan kepribadian. Pendidikan harus membantu  pengembangan peserta didik dalam konsep life skill yang  menyiapkan peserta didik agar memiliki kecakapan hidup yang  bermakna dan berguna di kemudian hari. Dengan adanya orientasi, paradigma, dan sistem pendidikan yang baru diharapkan dapat mengatasi masalah pengangguran yang saat ini merupakan salah satu dari berbagai masalah ketenagakerjaan di Indonesia.

Berbagai cara telah diupayakan oleh pemerintah melalui dunia pendidikan, diantaranya dengan dikembangkannya pendidikan yang bercirikan keterkaitan dan kesepadanan (link and match) dan dikembangkannya pendidikan berbasis kompetensi. Cara‐cara tersebut menunjukkan bahwa pendidikan yang dilaksanakan harus sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga keterserapan lulusan oleh dunia kerja menjadi tinggi. Oleh karena itu, pendidikan harus memperhatikan kompetensi yang ada pada dunia kerja untuk dikembangkan dalam pembelajaran, sehingga  peserta didik memiliki kompetensi seperti harapan dunia kerja.  Dengan demikian, pendidikan saat ini harus berorientasi pada kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja atau dunia usaha.

Pentingnya Akreditasi Perguruan Tinggi

Akreditasi merupakan salah satu bentuk penilaian (evaluasi) mutu dan kelayakan institusi perguruan tinggi atau program studi yang dilakukan oleh organisasi atau badan mandiri di luar perguruan tinggi. Bentuk penilaian mutu eksternal yang lain adalah penilaian yang berkaitan dengan akuntabilitas, pemberian izin, pemberian lisensi oleh badan tertentu. Ada juga pengumpulan data oleh badan pemerintah bagi tujuan tertentu, dan survei untuk menentukan peringkat (ranking) perguruan tinggi.[1]

Akreditasi merupakan suatu proses dan hasil. Sebagai proses, akreditasi merupakan suatu upaya BAN-PT untuk menilai dan menentukan status mutu program studi di perguruan tinggi berdasarkan standar mutu yang telah ditetapkan. Sebagai hasil, akreditasi merupakan status mutu perguruan tinggi yang diumumkan kepada masyarakat. Dengan demikian, tujuan dan manfaat akreditasi program studi adalah sebagai berikut:[2]

  1. Memberikan jaminan bahwa program studi yang terakreditasi telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh BAN-PT, sehingga mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat dari penyelenggaraan program studi yang tidak memenuhi standar.
  2. Mendorong program studi/perguruan tinggi untuk terus menerus melakukan perbaikan dan mempertahankan mutu yang tinggi
  3. Hasil akreditasi dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam transfer kredit, usulan bantuan dan alokasi dana, serta mendapat pengakuan dari badan atau instansi yang berkepentingan.

Menilik Mutu Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi merupakan lembaga pelaksana fungsi Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta mengelola Iptek pada bidang studi yang dikelolanya.[3] Untuk menopang dedikasi dan fungsi tersebut, perguruan tinggi harus mampu mengatur diri sendiri dalam upaya meningkatkan dan menjamin mutu secara berkelanjutan, baik yang berkenaan dengan masukan, proses maupun keluaran program akademik dan layanan yang diberikan kepada masyarakat selaras dengan bidang studi yang dikelolanya.

Dalam rangka mewujudkan akuntabilitas publik, perguruan tinggi harus secara aktif membangun sistem penjaminan mutu internal. Untuk membuktikan bahwa sistem penjaminan mutu internal telah dilaksanakan dengan baik dan benar, institusi tersebut harus diakreditasi oleh lembaga penjaminan mutu eksternal. Dengan sistem penjaminan mutu yang baik dan benar, perguruan tinggi akan mampu meningkatkan mutu, menegakkan otonomi, dan mengembangkan diri sebagai penyelenggara program akademik/ profesional sesuai dengan bidang studi yang dikelolanya, dan turut serta dalam meningkatkan kekuatan moral masyarakat secara berkelanjutan.

Guna mendukung penjaminan mutu perguruan tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) berkewajiban melakukan akreditasi bagi semua program studi beserta semua institusi perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Berdasarkan perundang-undangan yang berlaku dan berbagai pertimbangan, Kemdikbud memberikan tanggung jawab pelaksanaan akreditasi program kepada Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Akreditasi institusi merupakan proses evaluasi dan penilaian secara komprehensif atas komitmen institusi terhadap mutu dan kapasitas penyelenggaraan program tridarma perguruan tinggi, guna menentukan kelayakan perguruan tinggi untuk menyelenggarakan program akademiknya. Kriteria untuk mengevaluasi dan menilai komitmen tersebut dijabarkan dalam sejumlah standar akreditasi beserta parameternya.

Akreditasi perguruan tinggi cukup beralasan dilaksanakan sebagai bentuk tanggung jawab penyelenggara pendidikan tinggi kepada stakeholders yaitu masyarakat pengguna lulusan tentang keadaan dan upaya penyelenggara pendidikan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan untuk tiap satuan pendidikan yang bersangkutan.

Di samping itu, melalui akreditasi beberapa manfaat diraih institusi perguruan tinggi, yaitu:[4]

  1. Memberikan jaminan bahwa institusi perguruan tinggi yang terakreditasi telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh BAN-PT, sehingga mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat dari penyelenggaraan perguruan tinggi yang tidak memenuhi standar.
  2. Mendorong perguruan tinggi untuk terus menerus melakukan perbaikan dan mempertahankan mutu yang tinggi.
  3. Hasil akreditasi dapat dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam transfer kredit perguruan tinggi, pemberian bantuan dan alokasi dana, sertapengakuan dari badan atau instansi yang lain.

Urgensi Membangun Kerja Sama Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah

Pengembangan pendidikan tinggi perlu memperhatikan prioritas kebutuhan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Pada sisi lain, pemerintah daerah dapat berperan menunjang pengembangan pendidikan tinggi, khususnya kegiatan perguruan tinggi di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini dapat terlaksana apabila ada upaya nyata untuk mendorong kerjasama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Keberhasilan pemerintah daerah di berbagai sektor meningkatkan kemampuan bangsa dalam mengatasi masalah-masalah nasional, dan pada gilirannya akan meningkatkan daya saing bangsa di tingkat internasional.[5]

  1. Peran Perguruan Tinggi dalam Mengatasi Kesenjangan Antardaerah

Peran pendidikan tinggi dalam mengatasi kesenjangan antar daerah dapat ditempuh melalui beberapa program kegiatan perguruan tinggi, antara lain: melalui program pendidikan guru, yang diharapkan mampu mengatasi kesenjangan mutu pendidikan; melalui program pengembangan sumber daya manusia termasuk pegawai pemerintah daerah, yang diharapkan mampu mengembangkan mutu pengelolaan sumber daya daerah, termasuk meningkatkan sumber daya alam yang potensial; melalui program penelitian, yang diharapkan mampu mengidentifikasi permasalahan, potensi sumber daya, dan prioritas pembangunan daerah; melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat, yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan sesuai dengan prioritas daerah yang bersangkutan.

  1. Peningkatan Kualitas SDM Pemerintah Daerah

Kerjasama antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam mencerdaskan masyarakat tidak saja terbataspada peningkatan kualitas guru tetapi juga dalam upaya mengembangkan kemampuan pegawai pemerintah daerah. Peningkatan kualitas pegawai pemerintah daerah tersebut dapat ditempuh melalui berbagai skema kerjasama, yaitubaik melalui jalur program pendidikan formal, maupun melalui berbagai program pelatihan  yang bisa disediakan perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan pemerintah daerah. Skema kerjasama ini dilaksanakan dengan target untuk mencapai tingkat kualitas kemampuan pegawai sesuai dengan standar kompetensi SDM secara nasional maupun internasional.

Peningkatan kesejahteraan melalui program pengabdian kepada masyarakat perguruan tinggi di suatu daerah baik negeri maupun swasta diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah melalui kegiatan pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat dengan menitikberatkan pada potensi dan kebutuhan daerah setempat. Kegiatan pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat tersebut dapat diarahkan pada penyelesaian masalah suatu daerah yang langsung bermanfaat pada masyarakat. Kegiatan tersebut dapat dibiayai oleh perguruan tinggi, dana rutin pemerintah maupun oleh sponsor. Dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerintah daerah dapat mengalokasikan dana bagi perguruan tinggi guna melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hal tersebut mengingatkan pada konsep “link and match”, konsep kerjasama berdasarkan asas kesesuaian dan saling menguntungkan.

Keberlanjutan Pembiayaan

Tanggung jawab Pembiayaan Sektor Pendidikan Dalam peraturan perundangan, biaya peningkatan sektor pendidikan, termasuk biaya peningkatan sektor pendidikan, termasuk bagi pendidikan tinggi merupakan komitmen dan tanggung jawab pemerintah (pusat dan daerah) serta masyarakat. Jika pemerintah daerah, meyakini peran pendidikan tinggi semakin penting dan relevan dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah, maka langkah pemerintah daerah mengalokasikan dana bagi kerjasama dengan pendidikan tinggi perlu didukung. Perlu diketahui bahwa perguruan tinggi otonom memerlukan dukungan pembiayaan partisipatif dari berbagai sumber daya keuangan, baik dari pusat, daerah, masyarakat maupun industri yang akan dikelola secara sinergis.

Alokasi pembiayaan kerjasama pemerintah daerah dan perguruan tinggi apabila pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk pengembangan pendidikan tinggi, maka berbagai program kerjasama antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dapat dikembangkan melalui berbagai skenario alokasi anggaran dan kegiatan sebagai berikut:[6]

  1. Alokasi anggaran ditujukan kepada program yang diprioritaskan, misal: program peningkatan SDM guru-guru dan program studi lanjut staf pemerintah daerah.
  2. Alokasi anggaran diberikan kepada institusi, misalnya dalam kasus kerjasama penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, pemerintah daerah bisa langsung mengalokasikan dana kepada perguruan tinggi.
  3. Alokasi anggaran ditujukan langsung kepada masyarakat atau individu-individu di daerah tertentu, misalnya berupa beasiswa kepada para mahasiswa daerah setempat, atau model-model lain dalam menggalang dana masyarakat maupun industri melalui peran pemerintah daerah sebagai leading sector dalam pembangunan daerah

Target Kondisi Di Masa Depan

Peningkatan pendidikan untuk mengatasi kesenjangan antar daerah di masa depan, perguruan tinggi dan pemerintah daerah harus berperan secara proaktif dan partisipatif untuk menciptakan sinergi dalam mengurangi kesenjangan antar wilayah terutama kesenjangan dalam hal kualitas pendidikan masyarakat dan kesenjangan pembangunan daerah.

Mendukung pengembangan sektor ekonomi, sosial, dan budaya pengembangan perguruan tinggi diharapkan juga dapat menunjang upaya pemerintah daerah dalam pembangunan daerah, antara baik dalam pengembangan sektor-sektor ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat. Hal itu dilakukan dengan pengembangan relevansi dan kompetensi perguruan tinggi dengan memperhatikan prioritas kebutuhan daerah dan potensi unggulan daerah.

Peningkatan kualitas SDM menjadi perhatian semua pihak dalam memasuki era globalisasi ini. Terlebih dalam suasana multidimensi, masyarakat membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk menghadapi persaingan bebas, untuk itu isu pendidikan memegang peranan penting bagi peningkatan kualitas sumber daya yang dimiliki. Agar tidak tertinggal dengan masyarakat dan bangsa di dunia, maka peningkatan pendidikan menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan potensi dasar yang dimiliki masyarakat dan bangsa Indonesia.  Peningkatan kualitas pendidikan akan memiliki makna bagi perbaikan kualitas Indonesia secara keseluruhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi. Pedoman Penilaian Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi. Buku I. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2011.

Tim Pusat Data Statistik Pendidikan. Analisis Kualitas Program Studi Perguruan Tinggi dalam Mendukung Pencapaian Koridor Ekonomi Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2013.

Abduh Syamsir. Strategi Membangun Kerjasama Perguruan Tinggi Dengan Pemerintah Daerah. 2013.

[1] Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi. Pedoman Penilaian Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi. Buku I. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2011.

[2] Tim Pusat Data Statistik Pendidikan. Analisis Kualitas Program Studi Perguruan Tinggi dalam Mendukung Pencapaian Koridor Ekonomi Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2013. Hlm. 23.

[3] Ibid. Hlm. 25.

[4] Ibid. hlm. 27.

[5] Abduh Syamsir. Strategi Membangun Kerjasama Perguruan Tinggi Dengan Pemerintah Daerah. 2013.

[6] Tim Pusat Data Statistik Pendidikan. Op.cit. hlm. 78.