Saatnya Kita Belajar Untuk Belajar Sob

Oleh: Saiful Choirudin

Alumni SMART Angkatan 1

Assalamu’alaikum. Nama saya Saiful Choirudin, lulusan angkatan pertama SMART. Ini adalah sepenggal kisah pengalaman berharga saya.

Sejak kuliah di Universitas Paramadina, saya sudah mengajar membuat kartun di SMP Islam Al- Syukro Universal, Ciputat. Di sana, saya mengajar ekstrakurikuler khusus untuk membuat dan belajar mengetahui apa-apa saja yang berhubungan dengan kartun. Saya tahu ada lowongan kerja sambilan di sekolah itu dari seorang ustadz yang sebelumnya pernah mengajar pelajaran bahasa Inggris dan juga menjadi kepala asrama di SMART yaitu Ustadz Heri Sriyanto.

Saya mengajar untuk satu tujuan yang besar, yaitu untuk belajar. Jadi, saya masih ingin belajar meskipun sudah bekerja. Hanya belajar dan belajar.

Setelah mendapat gelar S1, saya masih ingin belajar lagi. Saat itu, belum ada pikiran yang muncul tentang mencari kerja. Kalau teman-teman saya sudah banyak yang mencari lowongan pekerjaan, saya tidak. Saya masih ingin belajar. Seakan-akan hanya ada pemikiran tentang belajar saja. Saya mengajar di SLB (Sekolah Luar Biasa) Mahardika juga masih untuk belajar, tepatnya belajar bersyukur.

Mungkin kebanyakan orang menganggap anak-anak yang berada di SLB itu gila, jelek, kotor, dsb. Tetapi saya tidak. Saya menggunakan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah Swt. sebagai tempat untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan pada kita semua.

Di SLB sendiri ada banyak hal yang unik dan berbeda dari sekolah-sekolah biasa. Satu kelas di SLB hanya berisi 5-8 siswa. Berbeda dari sekolah biasa yang bisa menampung lebih dari 20 siswa untuk satu kelas. Ketika mengajar, harus ada tenaga ekstra untuk memerhatikan dan mengawasi para siswa. Apabila seorang pengajar lalai sedikit saja, salah satu muridnya bisa melakukan hal yang tidak baik.

Saya pernah mengalami hal seperti itu. Saya pernah mengajar menggambar dan saya sedikit lalai. Apa yang terjadi? Salah satu murid saya ada yang memakan krayon yang dipegangnya. Mungkin dia mengira bahwa itu adalah sebuah permen. Saya juga pernah diludahi ketika masuk ke sebuah kelas. Saya sudah terbiasa akan hal seperti itu. Apabila di sekolah biasa seorang pengajar bisa mengajar setiap hari, di SLB tidak bisa. Seorang pengajar biasanya hanya mengajar 3 kali dalam seminggu.

Ada hal unik lain di SLB. Salah satunya adalah para orangtua murid yang selalu bersemangat mengawasi anak-anaknya. Mereka bagaikan mesin penjaga 24 jam bagi anak mereka.

Anak-anak yang bersekolah di SLB memang memiliki banyak kekurangan. Tetapi di balik kekurangan tersebut, tersimpan banyak hal yang kadang tidak dimiliki oleh orang biasa.

Bangunlah Pemuda!

Oleh : Anggi Nur Kholis Alumni SMART 9 Berkuliah di Universitas Brawijaya

PEMUDA!!
Pemudakan lah diri kalian!

Pemuda:
Bukan identitas;
Bukan status.

Pemuda:
Amanah;
Bertanggung jawab;
Berkarakter;
itu KITA!

Sadarnya pemuda, bangkitnya pemuda
Bangkitnya pemuda, bangkitnya negara
Bangkitnya negara, memengaruhi dunia.

Yuk Kita Belajar Dari Umar bin Khattab, Sob

Oleh: Aidil Ritonga

Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendirian. Ia selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad Saw) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya.”

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk di antara penduduk Mekah yang paling kejam.

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil 2 pelajaran yaitu sebagai berikut:

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah Saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan itu diawali dengan merubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah SAW menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut akidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

Akidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, akidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satu pun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa akidah yang benar. Jika akidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam

Rasa Itu Bernama SMART

 

Oleh: Ahfie Rofi

Alumni SMART Angkatan 7

Saat Ini Berkuliah di Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab

 

Diujung tanduk!

Sisa waktuku di SMART tinggal hitungan hari kala itu. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….

Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?

Lalu apa kata seoranng ustazah menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata, “Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”

Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.

Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan Azan Zuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orangtua kami masing-masing.

Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.

Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.

Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.

Sekarang kami sudah besar, sudah hampir lulus kuliah, teman-teman yang tadinya selalu dekat sekarang sudah mulai berjauhan. Sungguh pun aku kangen akan masa-masa itu, tak terasa lima tahun di SMART telah kulewati, ingin rasanya kuulang momen kebersamaan yang tak terlupakan. Terima kasih SMART atas banyak hal yang semakin kusyukuri keberadaannya.

Oleh: Reza Bagus Yustriawan

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX, Mahasiswa Sosiatri FISIP UGM 2017

 

Anak IPS??  Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata IPS? Nakal? Suka tawuran? Kumpulan begundal? Kalau ya, berarti pikiranmu sudah terkontaminasi dengan “pepatah”  orangtua zaman dulu. Memang, kata siapa semua anak IPS itu begundal? Anak IPS itu seharusnya dihormati tahu, karena anak IPS gemar melestarikan budaya Indonesia melalui beragam ilmu sosial yang diajarkan para guru tercinta.

 

Namun, suka duka sebagai anak IPS yaa banyak juga sih, diantaranya, dicap kalau mereka yang masuk jurusan IPS itu tak elok dan akan sulit mencari pekerjaan di masa depan. Padahal nih yaa, tanpa kehadiran anak IPS, mungkin anak cucu kita tak akan tahu Tari Saman asal Aceh, Kujang, Rencong, Sejarah Indonesia, bahkan sejarah aku dan dia. Ini bercanda hehe.

 

Walau begitu, ada enaknya juga jadi anak IPS, misalnya, tak perlu berurusan dengan angka-angka ajaib, tak perlu mencari bilangan-bilangan rumit, dan tak perlu berpikir terlalu banyak (maksudnya tak perlu berurusan dengan kimia, matematika, fisika, dan pelajaran eksakta lainnya). Jadi, kalau belajar yaa gitu-gitu aja, enak, nyantai, nggak perlu kalkulator, nggak perlu ngitung-ngitung pergerakan setiap benda di bumi. Palingan ngitung-ngitung cuma dipake sekali-kali­—misal di kantin, ngitung utang—.

 

Hayoo… Ngaku…

 

Kalau nggak enaknya jadi Anak IPS juga banyak, salah satu yang paling gue keselin itu kita harus ngapalin nama-nama orang luar yang nggak jelas. Ada juga tanggal-tanggal. Boro-boro nginget tanggal lahir orang, tanggal lahir orang tua aja nggak tau, ya nggak?? Ngaku lho!! Ngaku!! Sedangkan, tanggal peristiwa kesaktian aku saja, aku nggak inget, apalagi hari kesaktian pancasila??

 

Jangan dikira jadi anak IPS itu nggak ribet. Mungkin selama ini banyak yang bilang kalau yang ribet itu cuma anak IPA doang, harus bawa termometer lah, labu melerleyer lah, spiritus lah. Eh!! Jangan salah!! Anak IPS juga ribet, malah lebih ribet, disuruh bawa peta lah, buat peta lah, menggali fosil lah, buat peta sambil menggali fosil lah, berkomunikasi dengan manusia-manusia purba lah. Ribetan mana hayo??

 

Yaa, ribet dua-duanya lah.

 

Aku sebenarnya agak resah, soalnya IPS di Indonesia dianggap tempatnya anak-anak buangan.

Aku nggak setuju!!

 

Pertama, karena aku juga anak IPS. Kedua, yaitu kalau nggak ada IPS nggak ada psikolog, kalau nggak ada psikolog nggak ada yang bisa nolongin orang stres, kalau terlalu banyak orang stres semua jadi stres, kalau semua orang stres entar mati. Wahhh!!! Kalau nggak ada anak IPS ujung-ujungnya nyawa semua orang mati. Ngeri banget kan akibatnya??

*Ngaco

Oleh: Syahrizal Rachim,

Alumni SMART berkuliah di UNPAD Jurusan Hukum

 

Indonesia adalah negeri yang sangat kaya, kaya akan budaya dan adat istiadat masyarakatnya. Salah satu dari kekayaan Bangsa Indonesia adalah bahasa yang beragam di seluruh penjuru negeri untuk dijaga sebagai warisan budaya nusantara.

 

Dewasa ini, perkembangan zaman sangatlah pesat. Globalisasi semakin menyebar  ke segala penjuru dunia. Perkembangan teknologi dan semakin mudahnya berkomunikasi menjadi sebagian kecil dampak positif globalisasi.

 

Para pemuda saat ini sangatlah mudah terpengaruh dampak dari globalisasi. Tanpa disadari, perkembangan globalisasi yang pesat pada generasi muda memengaruhi  kelestarian budaya negeri, salah satunya budaya daerah. Pengaruh globalisasi yang kuat mengubah kecintaan terhadap bahasa daerahnya sendiri ke budaya asing tanpa disaring terlebih dahulu.

 

Banyak pemuda menganggap bahasa daerah itu kuno, tidak berkembang dan tidak sesuai tren. Tidak sedikit para pemuda zaman sekarang yang bangga menggunakan bahasa asing ketimbang bahasa daerahnya. Kurangnya rasa bangga menggunakan bahasa daerah semakin membuat warisan budaya nusantara ini hilang tergerus oleh perkembangan zaman.

 

Generasi  muda zaman sekarang lebih banyak yang tertarik mendalami dan menggunakan bahasa asing. Terdapat segelintir pemuda yang takut masa depannya tidak berkembang jika mempelajari bahasa daerah. Kurang optimalnya sosialisasi yang menyeluruh kepada generasi muda tentang pentingya menjaga kelestarian bahasa daerah turut menjadikan bahasa daerah hilang tergerus zaman. Aktivitas-aktivitas belajar bahasa daerah di sekolah ataupun di tempat-tempat lainnya masih sangat sedikit dan hanya digunakan sebagai bahan pelengkap nilai rapor siswa.

 

Aktivitas-aktivitas pelestarian bahasa daerah di abad ke-21 harus senantiasa ditingkatkan. Kegiatan pelestarian bahasa daerah dapat diisi dengan kegiatan yang kreatif dan inovatif. Berbagai pihak dapat memanfaatkan tren generasi muda sekarang yang banyak menggunakan jejaring sosial.  Dengan total 93 juta pengguna jejaring sosial di Indonesia tahun 2016, berbagai pihak terkait dapat memanfaatkan kampanye-kampanye pemertahanan bahasa daerah lebih luas jangkauannya dan sesuai dengan tren generasi muda saat ini.

 

Para pemuda dapat menunjukan geliatnya dalam pelestarian bahasa daerah dengan mengikuti lomba-lomba bernuansa kearifan lokal. Semangat nyata pemuda cinta bahasa daerah dapat disalurkan pula dengan menciptakan berbagai kreasi, baik dalam bentuk tulisan, gambar ataupun media-media lainnya seraya mengasah inovasi dalam pelestarian bahasa. Pengaplikasian inovasi dari para pemuda haruslah senantiasa diteruskan sehingga pemertahanan bahasa daerah tidak terehenti pada satu orang saja serta tertanam sebagai nilai moral dan persaudaraan dari kebudayaan daerah itu sendiri.

 

Peran aktif dari berbagai pihak diperlukan untuk mewujudkan secercah harapan generasi muda peduli bahasa. Para orangtua dan pemangku kebijakan harus selalu menanamkan pentingnya pemertahanan bahasa daerah sebagai salah satu identitas bangsa serta kebanggaan negeri kini dan nanti.

Sob batik telah menjadi warisan budaya nusantara sejak dahulu kala, terutama di keraton Jawa. Kata “batik” sendiri berasal dari gabungan kata bahasa Jawa “hamba” dan “titik”, yang artinya menulis dalam titik. Awalnya membatik menjadi kegiatan pembinaan kerohanian bagi putra-putri keraton. Hal ini karena membatik memerlukan konsentrasi tinggi dan kesabaran sehingga bisa menuntun pada kebersihan jiwa.

 

 

Seiring berjalannya waktu, saat ini batik telah menjamur di penjuru nusantara dengan kekhasan corak masing-masing daerah. Batik Indonesia juga telah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan dunia pada tahun 2009. Prestasi tersebut diperkuat pada tahun 2014 saat Yogyakarta dinobatkan sebagai Kota Batik dunia.

 

 

Di dalam negeri, batik pun kian menguat menjadi identitas bangsa Indonesia. Pada satu dekade belakangan ini pemerintah gencar mewajibkan pemakaian batik sebagai seragam di banyak instansi baik negeri maupun swasta. Tentunya bukan karena coraknya yang menawan saja, namun diharapkan filosofi batik dapat merasuk ke dalam jiwa setiap anak bangsa.

 

 

Ya, batik adalah kita. Selamat Hari Batik Nasional!

Oleh: Muhammad Fatih Daffa

Alumni SMART Angkatan 8, Saat Ini Berkuliah Di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan School of Life Science and Technology Engineering Program

 

 

Kuliah. Masa perubahan status, siswa menjadi ‘maha’siswa. Ya, kini aku adalah seorang mahasiswa. Saat paling tepat untuk membentuk diri, menentukan seperti apa diriku ke depannya. Bertansformasi, layaknya sebuah gerabah yang baru keluar dari cetakannya. Sukses terbentuk menjadi sebuah kendi yang indah, atau pecah karena tak mampu bertahan dalam tungku pembakaran.

 

 

Masa-masa akhir di kelas XII di SMART, walaupun nilai Ujian Nasionalku tidak cukup memuaskan. Meskipun aku tidak lolos dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan. Aku merasa sangat bersemangat. Seorang remaja yang selama lima tahun terakhirnya selalu diawasi, dibina, diatur, dan didukung, akan tiba saat baginya dilepaskan menuju fase kehidupan selanjutnya. Mengawasi dan mengatur setiap hal yang dilakukan diri. Mencari dukungan dan membuat dukungan untuk diri agar bisa menemukan jalan terbaik bertahan di jalan itu.

 

 

 

Kini aku berada di posisi itu. Saat aku bebas mengatur diri, memilih tempat, mencari suasana. Terkadang kebebasan tersebut untuk membuat diriku berada di lingkungan yang baik. Namun, terkadang pula kebebasan tersebut hanya untuk membuat diriku nyaman. Entah apakah itu baik atau buruk. Sangat sulit, benar-benar sulit. Itu yang saat ini kurasakan, betapa aku merindukan saat-saat ketika berada di SMART. Bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat ketika aku bersama teman-temanku merasakan pelatihan dari KOPASSUS. Melakukan posisi taubat (tanyakan pada yang pernah merasakan selainku hehe). Saat itu mungkin fisikku mendapatkan hal “istimewa”, namun aku merasa saat itu lebih baik dari saat ini.

 

 

 

Kenyataan adalah kenyataan. Hanya Allah swt. dan diriku yang mampu mengubah takdir dan nasibku. Guruku di SMART selalu menyampaikan ini: “Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha, hasil itu hak prerogatifnya Allah swt”. Untuk setiap orang yang membaca tulisan ini. Kusampaikan padamu, “Hiduplah sesukamu. Namun ingatlah, hal yang baik hanya untuk orang yang baik”.

 

Sekian.

Semangat Kami Tak Akan Pernah Terisolasi

Oleh: Miftahul Chairi (Alumni SMART Ekselensia Indonesia) Jumat itu azan subuh baru saja selesai dikumandangkan. Tapi, tidak seperti biasanya. Aku telah memakai seragam sekolah untuk Salat Subuh. Bukan cuma aku yang telah bersiap-siap, tapi semua siswa kelas 4 IPS SMART Ekselensia Indonesia juga sudah siap. Beberapa menit kemudian iqamah pun dikumandangkan. Aku langsung bergegas menuju masjid untuk menunaikan salat berjamaah di Masjid “Al-Insan”. Dalam balutan dinginnya subuh, aku tetap menghadapkan diriku ke hadapan-Nya. Aku pun mengikuti rangkaian Salat Subuh mulai dari takbiratul ihram sampai berakhirnya zikir. Setelah menyelesaikan semua tugasku di masjid, aku melanjutkan langkah ke lapangan apel. Dari kejauhan terlihat siswa kelas 4 IPS lainnya sedang menikmati sarapannya masing-masing. Aku terus menyusuri koridor sekolah yang diterangi oleh lampu. Sampai di keramaian tersebut, aku mengambil sarapan yang telah disediakan. Sarapan kali ini nasi goreng yang ditemani satu telur mata sapi dan dua buah nugget. Tanpa basa-basi, aku langsung menyantap sarapan tersebut. Perut yang tadinya kosong akhirnya terisi sebagai penambah kekuatan siang nanti. Setelah selesai makan, aku berjalan mendekati tong sampah untuk membuang kotak nasi yang telah kosong. Aku melihat ada sebuah motor yang memasuki gerbang sekolah. Sorotan cahaya lampu motor tersebut sangat menyilaukan sehingga aku tidak dapat melihat wajah sang pengendaranya. Setelah motor berhenti, barulah terlihat wajah pengendara tersebut walaupun tidak jelas karena matahari belum menampakkan wajahnya. Ternyata itu adalah ustazah yang diantar oleh suaminya. Dialah yang akan mendampingi kami kali ini menuju ke Desa Cibuyutan. Cibuyutan merupakan desa terisolasi di Jawa Barat, letaknya ada di Kecamatan Sukarasa, Kabupaten Bogor. Pukul 06.30 kami mulai memasukkan barang-barang yang akan dibawa ke tempat tujuan. Barang yang dibawa adalah nasi untuk makan siang, air minum, dan snack untuk persediaan di jalan. Setelah semua beres, kami pun berangkat dengan menggunakan dua mobil. Sekitar sepuluh menit setelah meninggalkan lingkungan sekolah, kami harus berhenti lagi untuk menjemput seorang ustaz. Kami menunggu selama kurang lebih 30 menit, setelah itu mobil melanjutkan perjalanannya kembali. Pada saat memasuki tol, aku merasa mengantuk. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tidurku semakin nyenyak, ditambah dengan segarnya udara pagi yang masuk melalui jendela yang sengaja kubiarkan terbuka. Kondisi jalan yang tidak rata membangunkanku dari tidur. Matahari telah sepenuhnya menampakkan dirinya, cahaya mentari mengintip dari sela-sela jendela mobil, cahayanya menyilaukan mataku. Tak terasa mobil telah melewati setengah dari perjalanan. Aku mencoba mengintip dari jendela mobil. Terlihat hamparan sawah yang luas terhampar di sekitar sisi jalan yang kami lewati. Setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya kami semakin dekat dengan tujuan. Justru pada saat itulah hal yang paling memusingkan bagi kami. Ustadz Ahmad dan Ustadzah Dini saling bergantian menanyai warga tentang jalan menuju Desa Cibuyutan. Setelah beberapa kali bolak-balik di jalan yang sama, akhirnya kami menemukan jalan yang menuju ke lokasi yang dicari-cari. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami beristirahat sebentar di sebuah masjid. Di masjid tersebut kami melepas penat selama 15 menit. Kemudian beberapa orang perwakilan dari kami melakukan survei jalan yang akan dilewati. Setelah mendapat laporan dari mereka yang melakukan survei, akhirnya kami menyusul mereka ke sana.

Kami harus berjalan kaki untuk masuk ke desa tersebut. Jalan yang kami lalui bukanlah jalan aspal, melainkan kumpulan batu yang disusun secara rapi selebar kira-kira 2,5 meter. Setelah berjalan kaki selama 30 menit, kami berkumpul pada sebuah pondok pesantren. Di pondok pesantren itulah kami melakukan makan siang dan Salat Jumat. Kami memilih untuk makan siang terlebih dahulu. Menu untuk makan siang adalah ayam goreng, sayur, dan saus sebagai teman dari nasi. Setelah menyelesaikan santap siang, kami melanjutkan kegiatan dengan Salat Jumat. Setelah menjalankan Salat Jumat, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Cibuyutan. Sebelum berangkat, kami melakukan briefing terlebih dahulu. Setelah semua siap, tibalah tantangan yang sebenarnya. Kami akan berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer. Jalannya pun menanjak dan lebarnya hanya satu meter dan hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua. Mungkin banyak yang iri pada Ustadzah Dini karena beliau pergi dengan menggunakan ojek. Aku berjalan berbarengan dengan Tan dan Kasman. Kami bertiga terus berjalan tanpa ada istirahat. Siswa lain banyak yang memilih beristirahat karena kecapekan. Kami bertiga terus berjalan tanpa henti. Jalan yang terbuat dari batu membuat kaki kami terasa sakit. Panasnya terik matahari terus menemani setiap langkah kaki kami. Jalan yang menanjak ditambah panasnya terik matahari membuat keringat kami mengalir dengan deras dan membasahi baju yang kami kenakan. Tan dan Kasman sempat membuka baju mereka karena kepanasan. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan segerombolan kerbau. Untungnya, kerbau-kerbau tersebut menghindar begitu melihat kami sehingga kami bisa melewatinya. Sementara itu, Ridhwan yang ada di belakang kami terlihat ketakutan melihat kerbau yang mulai lepas kendali. Di sepanjang perjalanan menuju Desa Cibuyutan, aku melihat pemandangan yang sangat indah. Ada hamparan sawah nun luas. Sejauh mata memandang, hanyalah hamparan sawah yang hijau. Kehidupan di sana terlihat masih sangat alami. Belum ada mesin untuk membajak sawah, tenaga kerbau masih menjadi sumber kekuatan untuk membajak sawah. Rumah-rumah yang kulihat juga masih sangat tradisional, kayu masih menjadi bahan dasar dalam pembuatan rumah warga. Kami terus menyusuri jalan yang hanya satu arah tersebut hingga kami dihadapkan pada tantangan baru. Ada dua cabang jalan yang harus kami pilih. Setelah melakukan perundingan, akhirnya kami memutuskan untuk memilih jalan yang kiri. Kami terus berjalan menyusuri jalan tersebut hingga kami menemukan sebuah rumah warga setempat. Dari kejauhan telah terlihat banyak atap-atap rumah yang mengintip dari balik pepohonan yang rindang. Setelah sekian lama berjalan, akhirnya kami mulai memasuki Desa Cibuyutan. Setelah berhasil menemukan sekolah yang dimaksud, kami belum melihat tanda-tanda keberadaan pendamping kami tersebut. Kami terlihat seperti orang yang tak tahu arah tujuan, dan kami memutuskan untuk duduk di sebuah bangku yang terdapat di depan sekolah tersebut. Tak lama kemudian datanglah Zuhhad menghampiri kami dengan wajah yang kelelahan, dan sekarang kami terlihat seperti lima orang siswa yang kebingungan. Setelah mengobrol cukup lama di bangku tersebut, Genta mulai frustrasi dan memilih untuk meninggalkan kami berempat. Tak berselang lama setelah Genta meninggalkan kami, terdengar suara yang memanggil kami dari arah belakang. Setelah kami menoleh ke belakang, ternyata itu adalah suara pendamping kami yang dari tadi kami diajak bermain petak umpat. Ustazah kami mempersilakan kami untuk beristirahat di salah satu ruang sekolah tersebut. Pada saat kami mau memasuki ruangan sekolah tersebut, terlihat seseorang sedang berlari ke arah kami. Ternyata Genta yang tadi meninggalkan kami. Di sekolah tersebut, kami menunggu kedatangan rombongan kami yang lainnya. Setelah semua anggota rombongan lengkap, kami di ajak untuk mengunjungi rumah Pak RT Desa Cibuyutan oleh salah seorang guru di sekolah tersebut. Beliau jugalah yang tadi menyambut kami di sekolah dan menyiapkan minuman. Sampai di rumah Pak RT, kami disambut hangat oleh beliau dan warga desa.

Setelah mendapatkan izin dari Pak RT, barulah kami melaksanakan tugas kami. Kami datang ke desa ini bukan tanpa ada tujuan. Tujuan kami adalah untuk survei lapangan. Bukan hanya itu, kami juga mendapat tugas dari mata pelajaran sosiologi untuk mewawancarai beberapa warga tentang unsur-unsur kebudayaan yang ada di desa tersebut. Sebelumnya kami telah dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan tugas ini. Hasil dari wawancara akan kami buat dalam bentuk makalah. Setelah diberi aba-aba, barulah kami berpencar ke semua sudut desa untuk mencari narasumber yang akan diwawancarai. Setelah berkeliling desa, akhirnya aku dan anggota kelompokku memutuskan untuk menanyai salah seorang ibu yang sedang duduk di teras rumahnya. Sesi wawancara berjalan dengan lancar. Aku dan beberapa kelompok lain yang telah menyelesaikan tugasnya segera berkumpul kembali ke tempat awal. Di sana terlihat ustaz kami sedang asyik makan durian pemberian warga yang baru saja selesai memanennya. Kami pun juga mendapat bagian dalam menyantap buah yang baunya menggoda itu. Setelah semua kelompok berkumpul, kami mengambil beberapa foto untuk dokumentasi sebagai bukti laporan ke sekolah. Selanjutnya kami kembali ke sekolah tadi untuk melaksanakan Salat Ashar. Setelah salat, kami mengambil beberapa foto lagi di depan sekolah tersebut bersama dengan Pak RT dan juga guru yang mengajar di sana. Setelah selesai sesi foto-foto, kami berpamitan pulang kepada Pak RT dan mulai berjalan kembali melewati jalan yang telah membuat kaki kami pegal-pegal. Walaupun tubuh sangat capek, kami senang bisa bersilaturahim dengan orang-orang yang masih bisa bertahan hidup dalam keterisolasian. Kami juga bisa memetik beberapa hikmah dari kunjungan kali ini. Salah satunya adalah kami harus bersyukur karena masih bisa menikmati cahaya lampu di dalam gelapnya malam. Masih bisa menikmati segarnya air dalam jumlah yang banyak, padahal bagi warga Desa Cibuyutan air itu barang berharga yang susah didapatkan. Setelah selesai dengan semua kegiatan di Desa Cibuyutan, kami segera memasuki mobil dan bersiap-siap untuk kembali ke sekolah. Dalam perjalanan pulang, langit mulai mendung dan meneteskan air dari langit. Hujan mulai membasahi bumi yang makin lama makin deras. Hari mulai gelap, matahari mulai menyembunyikan wajahnya. Akhirnya malam pun tiba, kami masih terus melanjutkan perjalanan dengan keadaan jalan yang becek karena hujan.  
Assalamualaikum. Selamat pagi Sob! Alhamdulillah ya kita masih dipertemukan dengan Senin yang cerah ini. Bagaimana liburan kalian? Semoga menyenangkan ya. Nah kami mau berbagi cerita dari Kak Ahmad Darmansyah, alumni SMART, yang penuh dengan pelajaran berharga. Yuk kita baca sama-sama.

Manusia Kodratnya Bergerak. Maka Bergeraklah Sob!

Oleh: Ahmad Darmansyah (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)   Desa. Apa yang terpikirkan dalam kata ‘desa’? Asri, indah, damai, tenteram? Kalau seperti itu, alangkah beruntungnya aku. Atau, justru terbelakang, marginal, terisolasi? Jika begitu, betapa kasih dan sayangnya Allah menakdirkanku sebagai anak desa. Terlahir di desa membuatku menjadi orang yang sederhana sekaligus tersederhanakan. Aku senang sederhana karena sederhana membuatku nyaman, tak banyak pikiran. Ya, apa yang harus dipikirkan jika untuk menanak nasi dengan tungku belaka? Atau, apa yang memusingkan jika hanya bermain congklak dan petak umpet? Apa yang memusingkan dan membebani pikiran? Tapi, hidupku harus beranjak. Aku perlu beranjak dari tempat satu ke tempat lain. Tak boleh tidak. Karena, kata ibuku, manusia kodratnya berpindah, bergerak, tumbuh. Maksudnya? Tak tahulah aku apa arti pastinya. Yang jelas, aku harus berpindah tempat. Maka, hidupku tak boleh selamanya sederhana. Oh bukan, tak boleh sepenuhnya sederhana karena aku masih senang sederhana. Tawaran berpindah pun datang. Takdir Allah datang berupa status menjadi siswa SMART Ekselensia Indonesia. Sekarang SMART Ekselensia Indonesia sudah dan akan tetap menjadi bagian besar dalam hidupku. Mengapa bisa begitu? Apa spesialnya? Aku jawab, ya 100%. Sebab, SMART telah banyak mengambil peran dalam hidupku. Satu hal terpenting yang SMART ajarkan kepadaku adalah bagaimana mengubah paradigma kesederhanaan itu. Saya tidak perlu menjauhi sederhana untuk sebuah perpindahan. Berkat rahmat Allah, dukungan dan doa dari orang-orang tercinta, aku bisa naik pesawat. Pesawat yang bahkan waktu kecil aku hanya bisa mendongakkan kepala ke atas untuk mencari di mana dan ke mana burung besi itu pergi. Tak jarang, hanya suara menderu dan silau sinar matahari yang aku dapatkan. Tiket pesawat itu aku raih setelah melewati dan memenangi sebuah kompetisi. Kata orang, sering kali momen pertama itu paling berkesan. Tapi, aku tak mau momen mengesankan naik pesawat menjadi momen menggelikan. Agar tidak terjadi, aku persiapkan baik-baik supaya semua lancar pada waktunya. Menurut Ustaz Mulyadi, guruku di SMART (sekarang beliau sudah tak memegang jabatan sebagai guru lagi), visualisasi itu penting. Visualisasi tentang apa yang ingin kita raih, tentang apa yang ingin kita lakukan pada masa mendatang. Aku pakai jurus itu, visualisasi. Visualisasi pertamaku adalah orang yang naik pesawat umumnya membawa koper. Sebenarnya aku lebih nyaman dan sreg memakai tas safari. Tapi, aku berpikir, aku tak boleh sepenuhnya lagi sederhana. Aku pun mencari teman yang berasal dari luar Jawa (karena mereka datang menggunakan pesawat yang biayanya ditanggung SMART). Target didapat. Eko namanya. Aku mencarinya di kamar Kairo. “Eko, pinjam koper lo dong?!” “Buat apa? Oh, buat ke Medan ya?” Tanyanya sambil tersenyum. “Hehe… Iya. Masak gue harus bawa tas? Koperlah!” “Oh, gitu. Ya sudah, tuh kopernya di atas lemari!” Aku pun mengambil koper itu. Ringan karena isinya mungkin kosong. “Kodenya?” Eko pun memberitahukannya, tapi sejurus kemudian dia berkata, “Tapi lo jangan ngomong ke siapa-siapa.” “Sip! Percaya deh sama gue!” Aku sesuaikan kodenya. Klik! Terbuka. Kopernya bersih, hanya beberapa bagian luar yang sedikit berdebu sehingga aku tidak perlu mencucinya terlebih dulu. Aku melihat-lihat koper tersebut. Ada tulisan nama pemiliknya, Eko. Hal pertama yang kulakukan adalah menutupnya dengan perekat ganda kertas. Selanjutnya, aku menuliskan namaku di kertas tersebut. Masih di kamar Kairo, aku duduk di kasur Eko, di sampingnya. “Pengalaman lo gimana?” Tanyaku. “Maksud?” “Ya, naik pesawat. Kasih gue gambaran dong!” “Oh, itu. Lo rombongan kan? Paling nanti diurus pendamping.” “Maksudnya?” “Ya, nanti kan dikasih tiket. Tiket nanti dikasihkan ke petugasnya, check-in. Terus, angkat barang-barang ke bagasi. Habis itu, lo dapat boarding pass, bayar airport tax, terus nunggu pesawat deh.” “Oh, gitu.” “Ya. Tapi, biasanya diurus sama dinas mungkin. Lo yang penting tinggal ikut, bawa barang, udah selesai.” “Thanks, Ko.” Aku kembali ke kamar, bersiap-siap untuk hari esok. Sambil memaket-maketkan barang, aku mengingat-ingat kata-kata Eko. Semua harus lancar, tanpa masalah. Hari H tiba. Aku dan rombongan sudah datang dan berkumpul. Kami memasuki bandara. Aku hanya mengikuti arus rombongan, dan yang penting percaya teman, percaya pada perkataan Eko tempo hari. Hanya ikut, bawa barang, selesai. Akhirnya benar. Setelah beberapa menit menunggu, aku memasuki pesawat. Semua lancar. Hanya saja, aku sedikit menyesal. Menyesal telah menghindari kesederhanaan yang selama ini aku senangi. Aku memilih jaket tipis yang terlihat modis daripada jaket tebal yang terkesan biasa saja. Sementara itu, di dalam pesawat pendingin ruangan sudah membuat banyak orang kedinginan. Kesederhanaan malah ditunjukkan seorang teman dari rombongan. Dia duduk di sebelahku. Dia telah membawa sarung sejak di ruang tunggu. Padahal, kalau dilihat dari sekolah asalnya, dia dapat dipastikan bukan anak orang sembarangan. “Yang penting nyaman, cuek aja!” Katanya. Aku tersadar akan makna penting dari kata ‘sederhana’. Sederhana bukan masalah seorang membeli barang mahal ataupun murah, modis atau kurang modis, bukan masalah kaya atau miskin. Sederhana hanya masalah tentang bagaimana kita nyaman, tanpa berpikir repot-repot segala urusan pernak-pernik yang menyertainya. Ternyata Allah telah menakdirkan yang terbaik bagiku sedemikian rupa. Allah memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puja-puji syukur kupanjatkan ke hadirat-Mu, ya Allah. Dzat yang telah mengirimku ke dalam kepompong ini. Kepompong yang membuatku bermetamorfosis demi masa depan yang lebih baik. Kepompong yang akan mengeluarkanku sebagai orang yang akan dan terus peduli dengan kemanusiaan. Kepompong bernama SMART Ekselensia Indonesia.