,

Saatnya Kita Belajar Untuk Belajar Sob

Saatnya Kita Belajar Untuk Belajar Sob

Oleh: Saiful Choirudin

Alumni SMART Angkatan 1

Assalamu’alaikum. Nama saya Saiful Choirudin, lulusan angkatan pertama SMART. Ini adalah sepenggal kisah pengalaman berharga saya.

Sejak kuliah di Universitas Paramadina, saya sudah mengajar membuat kartun di SMP Islam Al- Syukro Universal, Ciputat. Di sana, saya mengajar ekstrakurikuler khusus untuk membuat dan belajar mengetahui apa-apa saja yang berhubungan dengan kartun. Saya tahu ada lowongan kerja sambilan di sekolah itu dari seorang ustadz yang sebelumnya pernah mengajar pelajaran bahasa Inggris dan juga menjadi kepala asrama di SMART yaitu Ustadz Heri Sriyanto.

Saya mengajar untuk satu tujuan yang besar, yaitu untuk belajar. Jadi, saya masih ingin belajar meskipun sudah bekerja. Hanya belajar dan belajar.

Setelah mendapat gelar S1, saya masih ingin belajar lagi. Saat itu, belum ada pikiran yang muncul tentang mencari kerja. Kalau teman-teman saya sudah banyak yang mencari lowongan pekerjaan, saya tidak. Saya masih ingin belajar. Seakan-akan hanya ada pemikiran tentang belajar saja. Saya mengajar di SLB (Sekolah Luar Biasa) Mahardika juga masih untuk belajar, tepatnya belajar bersyukur.

Mungkin kebanyakan orang menganggap anak-anak yang berada di SLB itu gila, jelek, kotor, dsb. Tetapi saya tidak. Saya menggunakan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah Swt. sebagai tempat untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan pada kita semua.

Di SLB sendiri ada banyak hal yang unik dan berbeda dari sekolah-sekolah biasa. Satu kelas di SLB hanya berisi 5-8 siswa. Berbeda dari sekolah biasa yang bisa menampung lebih dari 20 siswa untuk satu kelas. Ketika mengajar, harus ada tenaga ekstra untuk memerhatikan dan mengawasi para siswa. Apabila seorang pengajar lalai sedikit saja, salah satu muridnya bisa melakukan hal yang tidak baik.

Saya pernah mengalami hal seperti itu. Saya pernah mengajar menggambar dan saya sedikit lalai. Apa yang terjadi? Salah satu murid saya ada yang memakan krayon yang dipegangnya. Mungkin dia mengira bahwa itu adalah sebuah permen. Saya juga pernah diludahi ketika masuk ke sebuah kelas. Saya sudah terbiasa akan hal seperti itu. Apabila di sekolah biasa seorang pengajar bisa mengajar setiap hari, di SLB tidak bisa. Seorang pengajar biasanya hanya mengajar 3 kali dalam seminggu.

Ada hal unik lain di SLB. Salah satunya adalah para orangtua murid yang selalu bersemangat mengawasi anak-anaknya. Mereka bagaikan mesin penjaga 24 jam bagi anak mereka.

Anak-anak yang bersekolah di SLB memang memiliki banyak kekurangan. Tetapi di balik kekurangan tersebut, tersimpan banyak hal yang kadang tidak dimiliki oleh orang biasa.

,

Cinta Budaya Daerah? Kenapa Tidak

Cinta Budaya Daerah? Kenapa Tidak

Oleh: Syahrizal Rachim

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan X, Hukum Unpad 2018

Indonesia adalah negeri yang sangat kaya, kaya akan budaya dan adat istiadat masyarakatnya. Salah satu dari kekayaan Bangsa Indonesia adalah bahasa yang beragam di seluruh penjuru negeri untuk dijaga sebagai warisan budaya nusantara.

Dewasa ini, perkembangan zaman sangatlah pesat. Globalisasi semakin menyebar  ke segala penjuru dunia. Perkembangan teknologi dan semakin mudahnya berkomunikasi menjadi sebagian kecil dampak positif globalisasi.

Para pemuda saat ini sangatlah mudah terpengaruh dampak dari globalisasi. Tanpa disadari, perkembangan globalisasi yang pesat pada generasi muda memengaruhi  kelestarian budaya negeri, salah satunya budaya daerah. Pengaruh globalisasi yang kuat mengubah kecintaan terhadap bahasa daerahnya sendiri ke budaya asing tanpa disaring terlebih dahulu.

Banyak pemuda menganggap bahasa daerah itu kuno, tidak berkembang dan tidak sesuai tren. Tidak sedikit para pemuda zaman sekarang yang bangga menggunakan bahasa asing ketimbang bahasa daerahnya. Kurangnya rasa bangga menggunakan bahasa daerah semakin membuat warisan budaya nusantara ini hilang tergerus oleh perkembangan zaman.

Generasi  muda zaman sekarang lebih banyak yang tertarik mendalami dan menggunakan bahasa asing. Terdapat segelintir pemuda yang takut masa depannya tidak berkembang jika mempelajari bahasa daerah. Kurang optimalnya sosialisasi yang menyeluruh kepada generasi muda tentang pentingya menjaga kelestarian bahasa daerah turut menjadikan bahasa daerah hilang tergerus zaman. Aktivitas-aktivitas belajar bahasa daerah di sekolah ataupun di tempat-tempat lainnya masih sangat sedikit dan hanya digunakan sebagai bahan pelengkap nilai rapor siswa.

Aktivitas-aktivitas pelestarian bahasa daerah di abad ke-21 harus senantiasa ditingkatkan. Kegiatan pelestarian bahasa daerah dapat diisi dengan kegiatan yang kreatif dan inovatif. Berbagai pihak dapat memanfaatkan tren generasi muda sekarang yang banyak menggunakan jejaring sosial.  Dengan total 93 juta pengguna jejaring sosial di Indonesia tahun 2016, berbagai pihak terkait dapat memanfaatkan kampanye-kampanye pemertahanan bahasa daerah lebih luas jangkauannya dan sesuai dengan tren generasi muda saat ini.

Para pemuda dapat menunjukan geliatnya dalam pelestarian bahasa daerah dengan mengikuti lomba-lomba bernuansa kearifan lokal. Semangat nyata pemuda cinta bahasa daerah dapat disalurkan pula dengan menciptakan berbagai kreasi, baik dalam bentuk tulisan, gambar ataupun media-media lainnya seraya mengasah inovasi dalam pelestarian bahasa. Pengaplikasian inovasi dari para pemuda haruslah senantiasa diteruskan sehingga pemertahanan bahasa daerah tidak terehenti pada satu orang saja serta tertanam sebagai nilai moral dan persaudaraan dari kebudayaan daerah itu sendiri.

Peran aktif dari berbagai pihak diperlukan untuk mewujudkan secercah harapan generasi muda peduli bahasa. Para orangtua dan pemangku kebijakan harus selalu menanamkan pentingnya pemertahanan bahasa daerah sebagai salah satu identitas bangsa serta kebanggaan negeri kini dan nanti.

,

Serunya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMART

Serunya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMART

 

Bukan bagian dari umat kami kecuali dia yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati serta menghargai yang tua”.  Begitulah inti dari hadis nabi yang disampaikan kepala sekolah kami, Pak July Siswanto pada apel pagi Senin lalu. Sebagai punggawa tertinggi di SMART Ekselensia Indonesia beliau memiliki kewajiban untuk mengingatkan kami, para siswanya, agar saling menghargai. Apalagi sekarang SMART kedatangan banyak personel baru.

***

Senin, 16 Juli 2017 – Pagi itu begitu indah. Selagi berangkat ke sekolah kami melihat sejumlah siswa berbaris rapi di depan masjid. Mereka mengenakan seragam kebangsaan SMP (karena mereka saat ini belum diizinkan memakai seragam SMA sebelum MPLS selesai), tetapi ada yang membedakan yakni mereka juga mengalungkan nametag (terbuat dari kardus bekas) dengan beragam tulisan unik. Ah sepertinya baru kemarin kami merasakan libur panjang di asrama, tiba-tiba saja hari ini kami sudah masuk sekolah lagi. Oh iya, beberapa hari lalu, SMART kedatangan empat puluh siswa baru yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia lho. Keempat puluh siswa baru tersebut resmi menjadi Angkatan 15 SMART Ekselensia Indonesia.

SMART Ekselensia Indonesia

Alhamdulillah di tahun ajaran baru ini kami telah duduk di kelas yang baru, adik-adik kelas Angkatan 15 juga akan merasakan kehidupan di SMART yang seru. Layaknya budaya di sekolah lain, di SMART saat ini sedang digelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) lho. MPLS sendiri dilaksanakan setiap tahun ajaran baru dimulai, peserta MPLS ditujukan hanya untuk mereka yang duduk di Kelas IV dan Kelas I saja. Selama tiga hari  para peserta akan mengikuti berbagai kegiatan yang akan membuka wawasan seputar SMART.

 

SMART Ekselensia Indonesia

Oh iya, tahu tidak kalau MPLS tahun ini dipegang oleh siswa lho. Pelaksanaan MPLS khusus Kelas I dipegang siswa kelas III, dan pelaksanaan MPLS kelas IV dipegang siswa-siswa dari kelas V. Tenang saja pergerakan kami diawasi langsung oleh para guru kok Sob.

 

SMART Ekselensia Indonesia

Sejak hari pertama MPLS kami sangat senang melihat antusiasme para peserta, terutama adik-adik Angkatan 15. Mungkin karena ini pengalaman pertama mereka melaksanakan MPLS sehingga terlihat sangat serius, wajah tegang nampak jelas di wajah mereka, namun semangat mereka luar biasa. Pun para peserta Kelas IV memperlihatkan hal serupa walau mereka telah di SMART selama beberapa tahun. Kami sangat berharap kegiatan ini akan menguatkan rasa cinta para siswa SMART dengan cara yang menyenangkan.

SMART Ekselensia Indonesia

Selamat menempuh tahun ajaran baru ya! Semangat di kelas untuk Kelas IV dan semangat menikmati sekolah baru ya Kelas I. Yuk bahu membahu membuat SMART semakin  berprestasi. (AR).

 

,

Kalo Ada Kemauan Pasti Ada Jalan

Kalo Ada Kemauan Pasti Ada Jalan

Oleh: Nurkholis.

Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan 4

 

Awal cerita saya bisa bersekolah dan merasakan manisnya beasiswa di SMART Ekselensia Indonesia berawal dari informasi dan tawaran dari seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kamalaputi, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah melalui proses seleksi regional NTT, akhirnya saya berhasil menjadi perwakilan penerima beasiswa bersekolah gratis SMP dan SMA di SMART Ekselensia Indonesia selama 5 tahun (akselerasi). Sekolah ini merupakan sekolah bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki kecerdasan yang mumpuni. Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayah berwiraswasta dengan menjajakan kue dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang membantu suaminya. Keluarga kami memang kurang mampu namun kami memiliki kemampuan bertahan yang sangat tinggi. Pekerja keras. Hal ini yang selalu coba saya tanamkan dalam diri untuk menjadi “orang” nantinya.

Awal mula berada di SMART Ekselensia Indonesia saya sempat mengalami hal yang sulit, maklum anak rantau. Saya menyebutnya sindrom kangen rumah. Kurang lebih selama 2 tahun saya (masih) mengalami gejala-gejala ingin pulang, sehingga masa-masa SMP tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kurun waktu dua tahun saya pergunakan untuk beradaptasi. Yap, saya termasuk tipe orang yang butuh waktu untuk beradaptasi lebih. Singkat cerita, saya mulai terbiasa dengan dunia akademis di tahun berikutnya, cara pandang mulai visioner. Mulai tahu harus jadi apa saya di masa yang akan datang. 3 tahun berikutnya, saya mulai merintis nilai rapor saya untuk mendapatkan angka 8 di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN). Dan selama 3 tahun menjalani masa SMA, saya cukup berkembang dalam hal akademis serta keorganisasian.

Tiba saatnya ketika akhir masa SMA untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya ingin bercerita sedikit mengenai proses masuk perguruan tinggi negeri. Ketika itu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti “SNMPTN undangan” di mana proses seleksi hanya dilihat dari berkas-berkas yang ada tanpa dilakukan ujian tulis. Saya bukanlah orang jenius atau pun orang paling pintar di angkatan saya. Akan tetapi, berkat kerja keras ketika masa SMA, di 6 mata pelajaran dasar (yang diujikan dalam UN) saya menduduki peringkat pertama dengan grafik progresivitas yang meningkat. Walaupun jika di total semua pelajaran saya tidak akan mendapat posisi pertama. Dengan kondisi tersebut, saya mencoba memilih jurusan dan universitas yang menurut saya terbaik saat itu. Saya bertekad memilih jurusan pendidikan dokter di Universitas Indonesia. Pertimbangan saat itu adalah saya suka biologi sehingga menurut saya jurusan terbaik bidang itu adalah kedokteran, saya menduduki posisi pertama yang dapat dibilang saya murid rekomendasi sekolah, dan juga jikalau hasilnya pun tidak lolos saya masih ada kesempatan di ujian tulis nanti. Dengan membaca Bismillah, saya memilih pilihan pertama Fakultas Kedokteran UI dan pilihan kedua jurusan non-kedokteran di Universitas Airlangga.

Alhamdulillah, saya berhasil masuk sebagai siswa kedua dari sekolah yang masuk kedokteran UI setelah sebelumnya senior saya juga masuk melalui jalur yang sama. Saat itu, saya langsung sujud syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Saya percaya itu memang takdir yang dibuat oleh-Nya, bukan takdir yang sekadar dibuat-buat melainkan takdir yang sebenarya dibuat & patut disyukuri dengan kesungguhan dalam mengembannya. Dengan perasaan yang senang bercampur haru saya kabari keluarga di NTT dan betapa bahagianya mereka, sempat tidak percaya, dan akhirnya mereka menerimanya dengan tangisan bahagia. Sungguh perkataan “berikan ikhtiar terbaikmu dan serahkan segala hasilnya kepada Allah” sangat patut dilakukan disetiap kegiatan kita. Karena Allah lah yang paling tahu kebutuhan terbaik hambanya. Terimakasih Allah SWT. Terimakasih SMART Ekselensia Indonesia.

,

Hiduplah Dengan Berani Karena Mati Hanya Sekali Sob

Hiduplah Dengan Berani Karena Mati Hanya Sekali Sob

 

Panji Laksono, Presiden Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (KM) IPB tahun 2017 tercatat sebagai mahasiswa Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) angkatan 50. Pria kelahiran 22 Mei 1996 di Desa Danau Salak, Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini merupakan salah satu penerima Beasiswa Aktivis Nusantara angkatan 2017.

Titik balik kehidupan seorang Panji dimulai pada awal kelulusan dari sekolah dasar (SD). Seorang guru menyarankannya untuk masuk ke Sekolah SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa yang terletak di Parung, Bogor, Jawa Barat. Dari sepuluh orang pendaftar yang berasal dari Kalimantan Selatan, Panji adalah satu-satunya siswa yang diterima di sekolah tersebut.

Kehidupan sekolah asrama tentu bukan perkara mudah bagi seorang anak yang baru lulus dari bangku SD. Sebagai siswa baru, Panji tidak diizinkan keluar dari asrama selama dua bulan. Ia pun hanya memiliki waktu 20 menit selama seminggu untuk menelpon keluarganya di Kalimantan. Dengan jadwal sekolah yang padat, perlahan Panji mulai terbiasa dengan kehidupan di SMART Ekselensia Indonesia. Ia pun hanya bisa pulang ke Kalimantan setiap satu tahun sekali pada liburan awal tahun, sedangkan liburan Ramadan biasa dihabiskan bersama keluarga donatur atau teman seasramanya.

Selama di sekolah, Panji aktif mengikuti kegiatan non akademik seperti Organisasi Siswa SMART Ekselensia Indonesia (OASE) atau biasa dikenal dengan OSIS dan tim perkusi sekolah. Ia pernah menjadi staf OASE sewaktu SMP, Menteri Keuangan, dan Presiden OASE sewaktu SMA. Baginya, pengalaman paling berharga didapat melalui tim perkusi sekolah. Ia pernah tampil di berbagai tempat, mulai dari kementerian hingga pemukiman kumuh. Di sinilah ia mulai belajar mengenai kehidupan bahwa dunia ini tidak sekadar tegakan pohon karet seperti di desanya di Kalimantan.

Perjuangan Panji untuk menjadi mahasiswa pun bukan perkara mudah. Panji mencoba semua kemungkinan untuk dapat diterima di perguruan tinggi negeri (PTN). Ada tiga PTN yang saat itu menerimanya, hingga akhirnya ia menentukan pilihan pada IPB.

Pilihannya tidak salah, banyak pengalaman berharga yang Panji dapatkan selama menjadi mahasiswa IPB. Mulai dari menjadi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Program Pendidikan Kompetensi Umum (PPKU), Ketua Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) 51 dan 52, anggota BEM FMIPA, Ketua BEM FMIPA, dan kini menjadi Presiden Mahasiswa.

Alasan Panji memilih terjun di dunia aktivis cukup sederhana. Ia hanya ingin belajar sesuatu yang tidak mungkin ia dapatkan di dalam ruang kelas. Dengan menjadi seorang aktivis, banyak pengalaman dan kesempatan baru yang ia dapatkan. Contohnya ketika ia mengikuti Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa Tingkat Lanjut (LKMM-TL) belum lama ini. Pertemuannya dengan salah satu peserta LKMM mengubah cara berpikir Panji dalam membangun Indonesia.

Kembali ke kampung halaman merupakan impian seorang Panji. Ia ingin membangun usaha keluarga dengan memanfaatkan potensi lahan di daerahnya. Panji juga bermimpi untuk menjadi Kepala Desa di desanya. Ia percaya bahwa pembangunan harus dimulai dari lini terkecil yaitu desa. Indonesia tentu akan maju jika para pemudanya mau kembali dan membangun ke desanya masing-masing.

Inilah pembeda Panji dengan penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) lainnya. Kehidupan semasa sekolah asrama telah mengubah seorang Panji. Dari anak SD yang ‘cengeng’ menjadi remaja mandiri yang mampu tinggal di tanah Jawa seorang diri. Masa kampusnya pun diwarnai dengan banyak halang rintang. Tidak mudah memimpin kepanitiaan terbesar dengan jumlah peserta terbanyak di IPB selama dua tahun berturut-turut, yaitu MPKMB 51 dan 52.

Sebagai Presiden KM IPB, Panji bukan hanya bertanggung jawab dengan anggota BEM-nya saja tapi juga seluruh mahasiswa IPB. Ia mewakili suara mahasiswa dalam Majelis Wali Amanat (MWA) di IPB dan menjadi ujung tonggak perjuangan pada pemilihan rektor mendatang. Di tataran BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), Panji merupakan representasi dari mahasiswa IPB serta menjadi penanggung jawab isu pertanian BEM SI bersama dengan teman-teman Kementerian Kebijakan BEM KM IPB.

Ada satu motivasi dari Kepala Asrama di SMART Ekselensia Indonesia yang masih dipegang teguh oleh Panji. ‘Hiduplah dengan berani karena mati hanya sekali.’ Panji menjalani kehidupannya dengan penuh keberanian sesuai dengan pesan Kepala Asramanya. Baginya, jika ada kesempatan untuk belajar, maka cobalah kesempatan tersebut. Karena setiap perjalanan hidup tentu terdapat pembelajaran di dalamnya.(MI)

,

Ini SMART, Ini (Bukan) Penjara!

Ini SMART, Ini (Bukan) Penjara!

Oleh: Ahfie Rofi

Alumni SMART Angkatan 7

Saat Ini Berkuliah di Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab

 

Diujung tanduk!
Sisa waktuku di SMART kala itu tinggal hitungan hari. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu. Tapi apa hakku? Dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, sekarang aku merasa ini “rumah” yang nyaman. Sebentar lagi lulus… Tidak terasa….
Yang kubayangkan waktu itu, SMART tak ubahnya seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Di satu sisi rasanya tidak sabar ingin cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?
Lalu apa kata Ustazah Dini, guruku, menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata,

 

“Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”
Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.
Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul 12.00 WIB bertepatan dengan adzan dzuhur. Mobil jemputan kami tiba di tanah Dompet Dhuafa Pendidikan tercinta, membawaku dan dua temanku, Farhan (yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan padahal seorang gamer) dan Fadlillah (yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi “Dewa”-nya Fisika di angkatanku) serta orangtua kami masing-masing.
Aku juga ingat pernah diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari kota penghasil timah agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal anak yang sebenarnya postur badannya lebih kecil itu malah amat senang menggangguku. Tapi tidak apa itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.

 

Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari atas ke bawah (kamar kami menggunakan kasur susun) gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!” Untungnya dia mendarat di ranjang yang lain alih-alih langsung ke permukaan lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.
Dan diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART Ekselensia Indonesia dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.
Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.
Sekarang kami sudah besar. Sebentar lagi berpisah, yang artinya sudah hampir lima tahun kami bersama-sama. Syukurlah, sekarang tidak ada lagi “musuhan-musuhan” ala anak-anak. Ah, indahnya.

,

Aku Makin Semangat Berbuat Baik Berkat Pengumpul Kertas

Aku Makin Semangat Berbuat Baik Berkat Pengumpul Kertas

Oleh: Bambang Widyatmoko

 

Pagi tadi saat kutatap lamat dari dalam bilik kamar, kulihat tumpukan kertas memenuhi gerobak hijau yang terparkir di depan asrama. Aku bertanya-tanya: “Siapa yang mengumpulkan ya? Buat apa kertas-kertas itu?”
Rasa penasaran mendorongku mendekati objek menarik tersebut. Kulewati lantai pualam asrama yang masih basah bekas jilatan kain pel tiga menit sebelumnya. Tak lama kemudian, muncul seorang anak dengan tubuh kurus tanpa mengenakan alas kaki. Postur tubuhnya pendek untuk anak seusianya, dengan lengan mungilnyan ia menarik gerobak hijau tadi.

Di kejauhan aku dapat melihat wajahnya memerah dengan tetesan keringat meluncur deras melewati pori-pori kulitnya. Walau terengah-engah semangatnya sungguh luar biasa, sesekali kulihat ia beristirahat, mungkin lelah dengan beban yang ia bawa.

Kuberanikan diri untuk mendekatinya sambil menatap tumpukan kertas di gerobak, “hei, kamukah yang mengumpulkan kertas-kertas ini?” tanyaku. Ia menjawab “Iya kak, sama teman satu lagi”. Aku hanya mengangguk. “Oh begitu, boleh kubantu untuk menarik gerobak ini?” pintaku. Iya mengiyakan dengan senyum terbit di wajahnya, tetapi ia terlihat sedikit ragu jika aku sanggup menarik gerobak miliknya. Kujawab keraguannya dengan berkata “Aaah tenang saja aku kuat kok,” lalu kuangkat gerobak tersebut daaaan ya ternyata berat sekali. Melihatku kepayahan ia tergelak sembari berkata “tuh kan benar, sudah kubilang kalau gerobaknya berat”. Akhirmya kami tergelak bersama. “Ya sudah aku yang dorong, kamu yang narik ya. Tapi sampai gerbang SMART saja tak apa kan?” pintaku, “oke tak apa kak. Bismillah saja,” responnya. Bahu membahu kami mendorong gerobak hijau tua itu. Tiba-tiba rasa penasaranku muncul, “kerta-kertas ini mau dijualkah?” tanyaku. “Iya kak  uangnya mau aku tabungkan, lalu sisanya untukku jajan”. Jawabannya sontak menyadarkanku bahwa seharusnya aku lebih banyak bersyukur karena sangat beruntung bisa bersekolah di SMART.

Sepanjang jalan kami bercengkrama dan berkali-kali terpingkal, sayangnya percakapan kami harus disudahi. Aku sedikit sedih ketika harus berpisah dengannya, saat itu juga rasa malu menyelimutiku, benar-benar malu. Usianya jauh di bawahku, tetapi ia memiliki pemikiran yang jauuuuuh lebih dewasa dariku. Semangatnya mengumpulkan pundi-pundi Rupiah memberikan banyak pelajaran bagiku bahwa hidup memang penuh perjuangan, dan mimpi pun sungguh harus diperjuangkan. Kita tak perlu malu untuk terus berusaha, bahkan jika perlu menyusuri jalanan Ibu Kota itupun tak mengapa selama perjuangan tersebut mampu membawa kita kepada mimpi-mimpi yang didamba.

Ini pelajaran hidup berharga untukku, semoga membuatku semakin dewasa.

,

Sepi

Sepi

Oleh: Karya Nadhif Putra Widiansah

Sepi, sepi, sepi
sepi bukan mimpi
sepi bukan imaji
sepi bukan ilusi
sepi bukan puisi
sepi bukan diksi
sepi bukan narasi
sepi bukan petisi
sepi bukan mosi
sepi bukan intuisi
sepi juga bukan hati
sepi, sepi, sepi
sepi, untuk diriku sendiri

(Buitenzorg, 2017)

,

REDUP

———–
REDUP
———–

Oleh: Muhammad Habiburohman

Ada bunga
Pelan-pelan
Pudar wanginya
Pelan-pelan sekali
Hilang kerlipnya
Dengan hati-hati
Menuju mati

(Kamis, 2017)

,

Mamak

Mamak

Hidup atau mati

Keringat bercucuran dari tubuhnya

Teriak keras pada dunia

Sampai nyawa pun rasa tercekat

Hidup

Tampaklah senyum di bibirnya

Bahagia penuh pada hatinya

Walaupun mati di depan mata

Bahagia

Guru terbaik sepanjang masa

Walaupun dia pernah terluka

Senyum bahagia tetap ada