,

Perkenalan Tak Terlupakan Dengan Lima Siswa Hebat SMART

Perkenalan Tak Terlupakan Dengan Lima Siswa Hebat SMART

Oleh: M. Syafiie, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan   Dalam mengajar dan mendidik anak-anak SMART Ekselensia Indonesia, saya selalu menekankan aspek ibadah dan akhlak mulia. Bukan hanya karena saya dulu mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), namun memang bagi saya tujuan belajar adalah agar siswa benar dalam beribadah dan memiliki akhlak mulia. Ini selalu saya sampaikan kepada anak-anak. Anak-anak sudah paham jika pelajaran PAI, maka mereka harus mengambil air wudhu terlebih dahulu. Kemudian, sebelum pelajaran dimulai, saya mengajak anak-anak untuk berzikir dan berdoa. Mudah mudahan materi pelajaran yang dipelajari hari itu menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah. “Siapa yang belum wudhu?” tanya saya satu hari ketika akan memulai pelajaran. “Aldo dan Johan, Ustaz,” jawab Ridho menyebutkan teman-temannya yang belum berwudhu. Saya memandang ke arah Aldo dan Johan. Keduanya segera menuju tempat wudhu. Rupanya mereka sudah paham dengan isyarat pandangan mata saya. Tidak lama keduanya telah kembali ke masjid (kami biasa belajar PAI di masjid) dengan wajah yang basah dengan air wudhu. “Baiklah, seperti biasa kita mulai berzikir dan berdoa terlebih dahulu,” terang saya. Anak-anak mulai berzikir diawali dengan membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas. Lalu, berzikir kalimat tahlil seratus kali dan ditutup dengan doa sesuai hajat masing-masing. Kegiatan ini berlangsung sekitar 10-15 menit. Bagi saya, tak masalah memberikan waktu 10- 15 menit untuk melakukan kegiatan ini di awal pembelajaran karena manfaatnya yang besar. Pertama kali saya memberlakukan kegiatan ini, sebagian anak-anak protes. “Ustaz, kenapa sih kalau pelajaran Ustaz kita harus berwudhu dulu, lalu berzikir dan berdoa?” protes beberapa anak. “Kamu tahu kisah Imam Syafi’i yang mengadukan hafalannya yang lemah kepada gurunya, Imam Waqi’?” tanya saya. “Belum tahu, Ustaz!” sahut mereka serempak.  “Begini, Imam Syafi’i pernah mengadukan hafalannya yang lemah kepada Imam Waqi’ gurunya. Lalu, Imam Waqi’ menjawab, ‘Ilmu itu cahaya Allah. Dan ia tidak diberikan kepada pelaku maksiat’.”Kalian bayangkan,” terang saya lagi, “seberapa kecilnya maksiat yang dilakukan oleh Imam Syafi’i? Tapi, beliau masih merasa hafalannya lemah. Padahal, Imam Syafi’i hafal Al- Qur`an 30 juz, 12 kitab Al Muwatha` karya Imam Malik, dan puluhan kitab lainnya. Terapi itulah yang diberikan gurunya agar Imam Syafi’i menjauhi maksiat.“Oh, kami paham. Jadi, kita berwudhu, berzikir, dan berdoa sebelum belajar agar dosa-dosa yang kami lakukan diampuni oleh Allah sehingga ilmu yang kami pelajari dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat. Gitu kan, Ustaz?” sahut Zuhad. “Yes, that’s the point,” tegas saya. Setelah menyadari penting dan manfaatnya, mereka tidak pernah protes lagi. Mereka berusaha selalu berwudhu, berzikir, dan berdoa sebelum belajar PAI. Semoga selanjutnya menjadi terbiasa untuk berwudhu, berzikir, dan berdoa setiap kali akan belajar. Awalnya dipaksa, lama-lama jadi bisa dan terbiasa, akhirnya menjadi habit dan value. Cara pandang saya tentang belajar rupanya membuat beberapa anak sangat tertarik untuk mengobrol dan sharing. Beberapa anak yang cukup sering mengobrol dan sharing dengan saya adalah Fajar Sidiq, Sandi, Faiq, Zamroni, dan Ikhwan. Banyak hal yang mereka curhatkan kepada saya. Tapi, lebih banyak tentang masa depan, impian, dan cita-cita. Fajar adalah anak yang suka berorganisasi. Ia pernah menjadi presiden OASE SMART Ekselensia Indonesia. Ia juga tertarik dengan dunia tulis-menulis. Ketika menulis Karya Ilmiah Siswa SMART (KISS), saya dan seorang Ustaz bernama Andi Rahman menjadi pembimbingnya. “Fajar, kamu tulis KISS-nya dengan serius. Nanti, Ustaz akan terbitkan jadi buku,” tantang saya ketika itu. “Wah berat, Ustaz, tapi saya akan usahakan,” jawab Fajar. “Kamu pasti bisa menulis dengan baik. Kamu akan menjadi siswa pertama yang KISS-nya diterbitkan menjadi buku,” tegas saya. Alhamdulillah, Fajar berhasil menulis KISS-nya dengan baik, dan diterbitkan menjadi buku. Buku karyanya diluncurkan saat ia wisuda. Bukan hanya itu, KISS yang ditulis Fajar juga terpilih sebagai KISS terbaik tahun itu. “Terima kasih kepada Ustaz Andi dan Ustaz Syafi’ie yang telah membimbing saya menulis KISS dan menerbitkannya menjadi buku,” demikian sepenggal cuplikan sambutan Fajar saat peluncuran bukunya. Fajar kini telah lulus dari Teknik Geologi Universitas Diponegoro. Sandi adalah anak yang visioner. Pikirannya jauh ke depan. Pada usianya yang masih belia, ia kerap mengobrol dengan saya tentang peran pemuda dalam kebangkitan Islam. Semangat belajarnya tinggi. Sandi memiliki kemampuan menulis yang baik. Ia sering aktif dalam forum-forum kepenulisan, seperti magang di Kompas sebagai wartawan muda. “Ustaz, coba Ustaz baca tulisan saya dan berikan masukan atau komentar?” ujar Sandi sambil menyodorkan beberapa lembar kertas. “Oke, tapi tidak sekarang, ya. Ustaz ada kerjaan. Insya Allah besok Ustadz kasih komentarnya,” jawab saya. Besoknya saya bertemu dengan Sandi. “San, tulisan kamu sudah oke. Ustaz tantang kamu untuk menulis buku,” sahut saya. “Insya Allah, Ustaz. Tapi, tidak dalam waktu dekat ini karena saya mau fokus mempersiapkan diri untuk UN dan SNMPTN dulu,” jawabnya. Semoga Sandi masih ingat dengan tantangan saya ini. Kini, Sandi telah lulus dari Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB). Faiq adalah seorang anak yang cenderung pendiam. Cool and calm. Tapi, di balik itu potensinya luar biasa. Ia anak yang cerdas, mudah menangkap pelajaran. Adapun Zamroni, ia adalah anak yang sangat santun kepada guru dan teman-temannya. Teman-temannya menjulukinya sebagai anak yang paling saleh. Semangat belajarnya tinggi dan gigih dalam belajar. Selain karena mengajar mereka, saya dekat dengan Zamroni dan Faiq karena keduanya adalah redaktur buletin Muqaddas. Saya pembimbing buletin terbitan OASE. Kami sering mengobrol dan berdiskusi menyiapkan buletin setiap kali akan terbit. Kini, Faiq telah lulus dari Teknik Elektro Universitas Indonesia, sedangkan Zamroni telah lulus dari Agrobisnis Perikanan Universitas Brawijaya. Satu siswa lagi yang sering mengobrol dengan saya adalah Ikhwan. Ia adik kelas Fajar, Sandi, Faiq, dan Zamroni. Ikhwan anak yang sangat rajin. Semua tugas dari guru dikerjakannya dengan baik. Ia selalu antusias dan semangat saat belajar dan gemar membaca buku. Kini, Ikhwan kuliah di Manajemen Universitas Diponegoro. Selain berbakat dan cerdas, Fajar, Sandi, Faiq, Zamroni, dan Ikhwan adalah anak-anak yang baik dan rajin ibadahnya. Saya memang selalu pesankan hal ini setiap kali mereka mengobrol dengan saya. “Kamu boleh kuliah di luar negeri, mengejar segudang prestasi, tapi ingatlah bahwa taat beribadah dan akhlak mulia adalah fondasinya. Jika kamu taat beribadah dan berakhlak mulia, insya Allah kamu akan diberikan kemudahan dalam meraih cita-citamu,” pesan saya. Fajar, Sandi, Faiq, Zamroni, dan Ikhwan sangat menjaga shalat lima waktu berjamaah. Mereka juga terbiasa berpuasa Senin-Kamis. Selain itu, hafalan Al-Qur`an mereka juga cukup banyak. Mereka hafal juz 28, 29, dan 30. Bahkan Zamroni lebih banyak lagi hafalannya. Menjaga ibadah dan berakhlak mulia akan menerangkan hati. Hati kita akan disinari oleh cahaya hidayah dan taufik dari Allah Swt. Jika Allah telah memberikan hidayah dan taufik-Nya, maka kita akan memperoleh kemudahan dalam menyerap ilmu dan pelajaran. Lebih dari itu, ilmu yang kita miliki akan bermanfaat dan berkah. Saya berdoa untuk mereka, juga untuk anak-anak SMART lainnya, semoga senantiasa diberikan hidayah dan taufik oleh Allah sehingga memperoleh kemudahan dalam meraih cita-cita. Kemudian, menjadi manusia yang mampu menebar manfaat sebanyak-banyaknya bagi sesama dan lingkungannya.  
,

The Power of Kepepet yang Berbuah Manis. Kenangan Indah Bersama TRASHIC

The Power of Kepepet yang Berbuah Manis. Sebuah Kenangan Indah Bersama TRASHIC

 

“Ayo, cepetan!” Sebuah suara memintaku untuk segera bergabung.
“Tunggu sebentar!” Suaraku ikut menggema pagi itu. “Oke, oke aku siap!”
Kuambil langkah seribu dan langsung memburu. Di sana, Yunus, Arif, Jayeng, dan Syahid teman-temanku sudah menanti. Kami tergabung dalam tim TRASHIC (Trash Music) SMART Ekselensia Indonesia. Hari itu kami menggelar pertunjukan musik di kantor Kementerian Keuangan.

Musik? Musik macam apa itu? Mungkin jika orang melihat kami, alis tertaut dan kening berkerut sembari bertanya-tanya: “apa ini? Mau apa mereka?” Akan segera bertengger tanya di ujung benak. Aku dapat banyak pengalaman dengan jerigen, drum, kaleng-kaleng, dan botol kaca. Dari barang-barang bekas ini aku dapat belajar bagaimana bicara di depan orang lain, membangun kepercayaan diri, dan menampilkan sesuatu yang terbaik bagi orang lain.

“Reza enggak bisa ikut nih, gimana dong?”
“Tenang saja, Ustaz, ada Yunus.”
Kami meyakinkan pembimbing.
“Emang Reza ke mana?”
“Sakit, Ustaz. Enggak memungkinkan untuk ikut,” jelasku.

Kami masih menyibak pagi dengan ketukan-ketukan ritmis sembari merapat nada, mencoba menirukan lagu yang nanti kami mainkan. Tak jarang kami berhenti, mengoreksi, menimbang-nimbang, dan mengulangnya lagi. Lagi dan lagi. Ini memang sulit. Reza tak bisa datang dan kami tak punya banyak pilihan. Yunus yang paling memungkinkan pun masih terasa berbeda. Salah dan teledor, sudah biasa.

Waktu takkan mau berbelas kasih menunggu kami. Namun, bukanlah TRASHIC jika berhenti dan lantas beranjak pergi. Kami terus mencoba dan mencoba lagi. Sedikit rasa malu karena mata-mata yang mencuri pandang dan dengar tak mengentaskan usaha kami. Langit masih biru dan kini ruangan itu mulai ramai dijejali orang. Aku tak kenal dan tak begitu peduli dengan semua itu. Yang kupikirkan adalah bagaimana kami tampil sebaik mungkin dan menghibur mereka semua.

Sesapu pandang kulihat. Warna berkilau, kesan mewah dan kesan priyayi terasa dari bagian depan tamu-tamu yang hadir. Pikirku jahil menari-nari.
“Kementerian Keuangan, wanita-wanita itu istri para pemegang uang, kudengar ini acara ibu-ibu arisan, wah bisa dibayangkan….”
“Ayo masuk!” Arif menyenggolku.
“Ya, ya, santai bro hehehe….”

Kami memasuki ruangan khusus pengisi acara. Sembari menunggu, kami bersantai sejenak. Lelah, pusing, dan pegal masih menggantung. Pikiranku kembali menari. “Apa yang kubawa nanti ya? Aku ingin sekali memberikan sesuatu padanya. Uangku tak mungkin kugunakan karena untuk persediaan hingga pulang kampung. Mungkin, bisa.

“Coba lagi yuk, lancari.” Kuambil stik dan mengajak anggota yang lain ikut bergabung.
“Habis ini siap-siap ya!”
“Sip, Ustaz!”

Yang kami yakini adalah kami harus bermain sebaik-baiknya dan jangan pikirkan soal imbalan. Luruskan niat bahwa kami ingin menghibur dan memberikan yang terbaik. Ustaz selalu berkata demikian.

Aku hanya percaya bahwa aku masih bisa memberikan sesuatu untuknya, untuk mereka.

Kami dipanggil. Kaki melangkah, dan kami telah siap. Kami mulai. Kami tenggelam dalam ketukan dan harmonisasi. Menjaga dan coba selaraskan hingga akhir. Sejenak terlupa tentang apa yang harus kubawa untuknya. Lagu berakhir, kami beristirahat sejenak.

Kubuka percakapan. Kusebut seperti itu dengan penonton. Tidak percakapan dalam arti sebenarnya namun tetap kuanggap begitu. Sekadar hilangkan ketegangan. Aku cukup bisa membaur. Mereka terlihat antusias dan menginginkan satu lagi dari kami.

Penampilan selanjutnya berjalan cukup baik. Yunus lupa dan kehilangan ketukan. Improvisasi darinya selamatkan penampilan kami. Penonton riuh redam, tepuk tangan menyerbu. Kami berhasil lagi. Sedikit celetukan mengatakan bahwa kami harus bermain sekali lagi. Waktu kami habis. Sedikit basa-basi dan penutup dariku, lantas kami turun dari panggung. Senang TRASHIC selalu bisa membuatku senang pada saat seperti ini. Melihat sambutan tadi, aku kembali menepi. Berpikir bahwa kami memang punya sesuatu.

Di ujung acara kami kembali dipanggil. Bukan untuk kembali menggebuk drum, jerigen, dan kaleng namun untuk menerima ‘sedikit’ bingkisan. Jepretan kamera dan blitz silih berganti. Pasang senyum dan bertindak wajar sukses!

Wanita yang menyerahkan bingkisan ini pastilah orang penting. Aku lupa siapa atau posisinya, yang jelas ia seperti orang yang memiliki pengaruh besar.

Sedikit berat bingkisan ini. Tak tahulah apa isinya. Bukan sekarang saatnya. Kami kembali ke ruangan pengisi acara. Bingkisan dibuka dan aku langsung berpikir untuk memberikan ini pada mereka.

“Al-Qur`an untuk Ayah dan Ibu. Pasti mereka senang!” Sorakku dalam hati.

Aku harap generasi TRASHIC terbaru di SMART juga memiliki semangat pantang kendur dalam situasi apapun. Ingat kalau kalian adalah anak-anak terplih maka lakukan yang terbaik.

 

 

,

Sebuah Pelajaran Berharga di Angkot Menuju Parung

Sebuah Pelajaran Berharga di Angkot Menuju Parung

Oleh: Muh. Ikhwanul Muslim (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)   Matahari sore bersinar malu-malu, kulirik jam di tanganku, waktu menunjukkan pukul 17.00. Aku baru saja selesai berobat di Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) di Ciputat. LKC adalah lembaga kesehatan nonprofit di bawah naungan Dompet Dhuafa yang diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Hujan deras mengguyur kawasan Ciputat, membuatku terpaksa berteduh di sana. Padahal, sesuai izinku, harusnya aku sudah berada di asrama pukul 17.00 tepat. Setelah aku keluar dari LKC, tak satu pun angkot 29 jurusan Parung-Ciputat yang terlihat berlalu lalang. Aku lirik jam tanganku, sudah pukul 17.30. Tidak terasa hari mulai gelap, Lampu-lampu gerobak tukang gorengan sudah menyala menunggu pengunjung yang datang ke lapaknya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku ke LKC tanpa ada teman dari SMART. Alhamdulillah pertolongan dari Allah datang. Beberapa menit kemudian setelah lama menunggu, angkot 29 jurusan Parung-Ciputat tampak di jalanan Ciputat. Aku langsung bergegas naik ke dalam angkot, sembari menahan rasa dingin yang kurasakan karena bajuku basah kuyup diterjang air hujan. Di dalam angkot, aku tersadar menjadi pusat perhatian para penumpang. Mereka seakan berpikiran, “Ngapain nih anak jam segini baru pulang, mana bajunya basah lagi.” Tak kuhiraukan tatapan mereka kepadaku. Aku santai saja menikmati perjalanan. Aku melihat keluar kaca mobil angkot, terlihat genangan air membanjiri jalanan Ciputat. Kemacetan pun tak terelakkan. Aku pun harus rela menunggu angkot yang aku tumpangi keluar dari rantai kemacetan ini. Jam tanganku telah menunjukkan pukul 18.00. Setelah beberapa waktu tertidur di dalam angkot, akhirnya aku sampai di Pasar Parung. Kulihat orang-orang berlalu lalang di jalanan pasar bergegas lari dari rintik hujan. Lampu-lampu yang ada di gerobak pedagang kaki lima sangat menyilaukan mataku sehingga tanpa sadar aku salah menapakkan kaki. Sepatuku kotor terjerembab ke dalam lumpur jalanan Pasar Parung. Jalanan yang basah dan becek menyulitkan langkahku untuk terus berjalan mencari angkot 06 jurusan Parung-Bogor. Alhamdulillah, akhirnya aku menemukan juga angkot 06 jurusan Parung-Bogor. Aku langsung masuk angkot. Di dalam angkot, kulihat para penumpang memasang muka kelelahan dan kedinginan. Muka yang telah membuktikan kerja keras mereka dalam bekerja mulai pagi hingga petang. Inilah kehidupan, butuh perjuangan agar tetap bertahan. Di antara deretan penumpang angkot kulihat sosok nenek tua yang menurutku sedang gelisah. Ia terus saja berbicara sendiri tanpa ada yang memberi perhatian kepadanya. Hingga akhirnya ia membuka percakapan denganku. “Nak, sekolah di mana?” Tanya si nenek kepadaku. “SMART Ekselensia Indonesia, Nek.” Jawabku dengan nada polos. “Nak, Nenek ini sekarang hidup sendiri,” ujar si nenek kepadaku dengan nada sedih. “Hmm….” Ujarku dengan santai. Detik berikutnya, aku hanya bisa diam tanpa dapat berkata-kata. Mukaku tertunduk hanya bisa mendengarkan cerita nenek itu. Ia terus saja berbincang denganku. Para penumpang tak acuh dengan yang diceritakannya. Hanya aku yang merasa simpati dengan apa yang terjadi pada si nenek. “Nak, Nenek baru habis jatuh. Lutut Nenek luka. Nenek udah enggak punya siapa-siapa lagi. Anak-anak Nenek udah pada nikah. Setiap kali anak Nenek yang pertama datang ke rumah, kerjaannya marah-marahin nenek terus. Dipukullah, ditendanglah. Nenek enggak pernah dikasih duit sama mereka.”Nenek kalau mau makan ngarepin dari tetangga. Di rumah itu kadang ada makanan, kadang enggak ada. Anak-anak Nenek itu udah enggak pernah jenguk lagi. Cuma si anak yang pertama yang sering ke rumah. Itu pun niatnya mau ngusir Nenek dari rumah. Katanya, rumah Nenek mau dijual buat kepentingan dia. Sekarang saja Nenek cuma punya uang dua ribu buat pulang. Enggak ada uang lagi buat makan.” Nenek itu berkata dengan nada penuh kecewa. “Memangnya rumah Nenek di mana?” Tanya salah satu penumpang. “Jampang, Pak. Tolong, Pak bantuin Nenek. Nenek lagi kena musibah,” pinta nenek itu dengan rasa sedih. “Iya… Iya. Sekarang Nenek pegang saja itu uang dua ribu. Biarin Bapak saja yang bayar ongkos pulang Nenek,” kata si penumpang yang bertanya tadi. “Makasih, makasih, Pak. Nenek udah enggak punya uang lagi.” Nenek itu tampak bungah. “Iya… Iya… udah nenek tenang saja,”ujar si penumpang. Aku hanya bisa kembali diam. Duduk termangu mendengarkan penuturan nenek tua itu. Tapi, nenek itu mengajakku berbincang. “Nak, pamali kan durhaka sama orangtua?” tanyanya kepadaku. “Iya, Nek,” jawabku dengan singkat. “Itu si Sinyo kerjaannya marah-marah terus sama Nenek. Nenek doain kalau hidupnya melarat. Doanya ibu kepada anaknya itu bener kan ya, Nak?” “Iya, Nek,” ujarku dengan rasa was-was. Begitu kecewanya si nenek terhadap anak-anaknya hingga ia mendoakan anaknya dengan doa yang tidak baik. Setahuku, doa ibu itu paling mujarab mengingat berkat jasanyalah kita dapat hidup di dunia ini. Tidak sepatutnya kita melecehkan kehidupannya. Kita harus tetap memerhatikannya walaupun sudah berkeluarga. Perlahan-lahan aku mulai melihat bangunan kokoh berwarna hijau yang terpampang jelas di mataku. Akhirnya aku telah sampai di kampus SMART Ekselensia Indonesia. Aku pun pamit kepada si nenek. “Nek, aku pamit dulu ya.” “Iya. Nenek pesen: jangan pernah durhaka sama orangtua ya.” Aku pun langsung memberikan kode kepada supir angkot untuk berhenti. Setelah itu aku membayar ongkos. Lantas, aku masuk ke lingkungan SMART. Kulirik lagi jam tanganku: pukul 19.15. Aku belum Salat Magrib. Aku pun bergegas ke masjid dan langsung menunaikannya. Setelah salat, sejenak aku memikirkan ungkapan hati nenek di angkot tadi. Ia begitu kecewa dengan perbuatan anak-anaknya. Ini menjadi perjalanan kehidupanku. Aku harus berpikir kembali, untuk apa aku hidup dan dedikasi apa yang harus aku torehkan sebelum nantinya aku meninggalkan dunia ini. Pertemuan dengan nenek tadi menjadi cambuk semangatku untuk menghargai hasil jerih payah seorang ibu sekaligus pemicu semangatku untuk menatap masa depan yang lebih indah. Jangan sampai kita menjadi hamba Allah yang kufur nikmat yang tak menghargai nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Yang terjadi pada si nenek di angkot menjadi pelajaran dan petuah kehidupan bagi diriku khususnya dalam bersungguh-sungguh menjalani hidup ini. []  
,

Hembusan Angin di Salaki

Hembusan Angin di Salaki

Oleh: Habib

Laut tak akan surut,
Matahari jelas dipanggang
Di punggung ombak biru
Di situ, tatap kita bertemu
–Pas satu sentuhan angin
Menggugurkan kelopak
Bunga waru.

(pan-tai,2017 )

,

Sebuah Harapan Besar Guru Komputer Kami

Sebuah Harapan Besar Guru Komputer Kami

Oleh: Ari Kholis Fazari Guru TIK SMART Ekselensia Indonesia

 

Awal semester sebentar lagi akan dimulai,  tak ada yang berbeda masih sama seperti dulu ketika pertama kali saya berada di SMART Ekselensia Indonesia. Masing-masing anak di SMART mempunyai karakteristik berbeda, bahkan kemampuan tentang penguasaan teknologi juga berbeda; terutama kemampuan mereka tentang komputer khususnya pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), mata pelajaran yang saya ajarkan untuk anak-anak kelas 1 dan 2.

Saat memulai pelajaran pun jelas terlihat kebingungan mereka ketika berkenalan dengan komputer.

“Ustaz gimana cara nyalain TV-nya?” salah seorang anak bertanya kepada saya.

“TV yang mana, Dik?”

Anak tadi kemudian menunjuk ke monitor komputer. Itulah sebagian dari keawaman anak SMART ketika baru pertama kali masuk ke kelas komputer. Ketika pertama kali saya berada di sini, saya pun sempat kebingungan mulai dari mana saya harus mengajar. Sebabnya, masing-masing dari mereka mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang berbeda tentang komputer, mulai dari yang benar-benar tidak tahu nama masing-masing hardware komputer sampai yang sudah tahu komputer. Apalagi, SMART mempunyai target yang cukup tinggi terhadap siswanya dalam hal penguasaan komputer.

Tantangan lain, sistem operasi komputer yang digunakan di SMART berbeda dengan sistem operasi komputer yang ada di sekolah-sekolah pada umumnya, yakni menggunakan open source software. Otomatis saya harus membuat sendiri administrasi pembelajaran mulai dari silabus sampai ke Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sebab saya belum menemukan sekolah setingkat SMP yang belajar sistem operasi dan program-program yang sama seperti yang ada di SMART ini.

Ada suatu pengalaman yang tidak mudah saya lupakan ketika awal saya bekerja di sini sebagai guru komputer. Ketika itu, saya dihadapkan oleh komputer yang tidak sebanding dengan jumlah siswanya, dalam arti jumlah komputer yang bisa digunakan hanya separuh dari jumlah siswa yang ada. Terlebih lagi komputer komputer tersebut tampak sudah jadul di eranya. Jadi, secara otomatis banyak masalah ketika mulai digunakan oleh siswa yang notabene siswa kelas 1 yang masih belum mengerti sama sekali tentang komputer, apalagi pada saat itu warnet atau rental-rental komputer belum menjamur seperti sekarang ini. Ketika saya tanya sebagian siswa tentang pengetahuan komputer, hampir semuanya belum pernah memegang komputer sama sekali. Belum lagi ada beberapa siswa yang menangis ketika belajar komputer lantaran rindu dengan orangtuanya. Ketika itu saya bertanya pada diri saya sendiri, “Harus dimulai dari manakah semua ini?”

Saya pun berusaha mencari metode-metode yang sesuai untuk menangani hal ini, mulai dari mencoba sesuai dengan text book sampai dengan saya coba-coba sendiri. Pada akhirnya, saya mulai mengerti bahwa yang saya hadapi adalah anak-anak cerdas dan saya yakin mereka akan cepat belajar. Itulah yang muncul dari dalam hati saya sampai saat ini. Ketika saya berpikir mereka adalah anak-anak cerdas, maka saya akan semakin bersemangat untuk belajar dan belajar lagi.

Tidak terasa, tahun kelima akan dilalui para siswa SMART. Sesuai tradisi di SMART, setiap anak yang akan meninggalkan sekolah atau lulus dari sini mereka wajib mengerjakan Karya Ilmiah Siswa SMART (KISS). Ada beberapa siswa yang membuat saya terharu ketika saya mengujikan KISS, karena judul KISS yang diajukan berkaitan dengan komputer. Ya, mereka mengambil topik seputar dunia komputer. Entah mengapa ada perasaan bangga ketika mereka lulus dari sidang KISS.  Segera saja saya teringat masa lalu mereka tatkala pertama kali mengenal mouse, keyboard, monitor, Linux, OpenOffice, sampai akhirnya ia dapat menganalisis kekurangan dan kelebihan sebuah sotiware komputer.

Dan tibalah saatnya mereka harus meninggalkan SMART untuk mengarungi dunia yang sesungguhnya. Momentum wisuda SMART menjadi pembuka semua itu. Pada saat prosesi wisuda, seperti angkatan sebelumnya, para siswa memberikan bunga kertas kepada guru- guru mereka. Ketika itu ada salah satu siswa memberikan bunga kepada saya. Padahal, saya sudah diberi bunga kertas oleh siswa yang lain. Tiba-tiba siswa itu datang dan memeluk saya sambil menangis.

“Ini buat Ustadz. Terima kasih, Ustadz, selama ini sudah membimbing saya, dan maatian saya….”

Setelah ia melepaskan pelukan, saya pun terdiam. Dalam hati saya bertanya-tanya, “Apa sih yang pernah saya berikan pada mereka?”

Meskipun “hanya” mengajar komputer, saya juga ingin membangun harapan untuk mereka. Karena bagaimanapun juga, saya sudah menjadi bagian dari keluarga SMART yang berusaha mengubah senyum-senyum anak bangsa semakin lebar. Saya rasa, mungkin seperti inilah kebanggaan seorang guru, sebuah profesi yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Semoga anak-anak didik saya itu bisa mengamalkan ilmu komputer yang didapat di kemudian hari untuk kebaikan.

 

,

Inilah SMART, Sekolah Kebanggaan Tempat Kami Berjuang

Inilah SMART, Sekolah Kebanggaan Kami

 

Pada dasarnya pendidikan merupakan hak asasi semua warga negara Republik ini. Tanpa terkecuali bagi anak-anak marjinal. Kondisi ekonomi yang membelit keluarga menghilangkan kesempatan mereka untuk sekolah. Cita-cita yang lazim diinginkan anak-anak seusia mereka pun seolah tidak berhak diraih. Padahal, mereka juga mengharapkan kehidupan layak seperti anak-anak lainnya. Inilah kondisi yang pahit dirasakan oleh anak-anak marjinal di tanah air. Panggilan untuk mengangkat bakat dan harkat anak-anak marjinal itulah yang melatari lahirnya SMART Ekselensia Indonesia.

Bakat dan harkat anak-anak marjinal itu dapat diangkat ke permukaan apabila pendidikan yang diberikan kepada mereka dilakukan dengan baik dan benar. Kehadiran SMART tidak ingin sekadar menjadi sekolah bebas biaya namun abai pada soal kualitas. Selain akses pendidikan yang tidak merata, kualitas guru yang rendah melengkapi potret gelap dunia pendidikan kita. Tidak heran bila dunia pendidikan kita tertinggal jauh dibandingkan negaranegara maju. Karena kualitas gurunya rendah, tidak aneh bila kualitas anak didiknya pun tidak berbeda jauh.

Wajah pendidikan di tanah air juga masih dihiasi kenyataan bahwa siswa dibebani untuk lebih mengejar capaian-capaian akademis. Tidak banyak sekolah yang memilih untuk mengedepankan pembangunan karakter siswa. Akibatnya, maraklah fenomena sontek massal dalam pelaksanaan Ujian Nasional, tawuran antarpelajar, penggunaan narkoba, hingga pergaulan bebas.

Menghadapi tantangan zaman yang terus berubah, sekolah butuh guru yang berkualitas dalam pengajaran sekaligus juga mampu menjadi model bagi siswa. Dua hal ini mutlak adanya untuk membentuk karakter dan prestasi siswa, tidak terkecuali anak-anak marjinal. Sejak didirikan, para pengelola SMART optimis bahwa SMART merupakan modal dasar yang penting untuk memberikan nilai dan karakter kepada anak-anak marjinal. Dalam kondisi pendidikan nasional jauh dari ideal untuk menanamkan nilai dan karakter, SMART memilih untuk membina siswa lulusan SD. Selain sudah bisa dilatih untuk tidak bergantung kepada orangtua masingmasing, siswa pada usia ini lebih mudah dibina sehingga nilai dan karakter dapat tertanam sejak dini.

Pembinaan nilai dan karakter diutamakan karena lulusan SD yang masuk SMART memang dipersiapkan untuk mengikuti program akselerasi. Setamatnya dari jenjang SMA, pendidikan bagi mereka masih berlanjut. Mereka tidak dicetak untuk hanya berpuas diri karena mampu lulus SMA, kemudian menjadikannya sebagai modal untuk mencari pekerjaan. Sebaliknya, mereka justru dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bonafide di dalam dan luar negeri. Untuk membina dan menempa nilai dan karakter sekolah kepada siswa, SMART didesain sebagai sekolah berasrama (boarding school). Sistem sekolah berasrama cocok untuk mengondisikan para siswa agar fokus menggapai mimpimimpinya.

Melalui sekolah berasrama, siswa tidak sekadar dibina secara nilai dan karakter, namun juga disiapkan untuk menempuh pendidikan akselerasi, yakni menyelesaikan jenjang pendidikan SMP SMA selama lima tahun. Siswa ditempatkan di asrama karena akan memudahkan dalam pengayaan materi pelajaran. Saat yang sama, lebih efektif dan efisien secara waktu karena konsentrasi mereka dilatih agar terpusat pada aktivitas belajar.

Penerapan program SKS di SMART dapat dilakukan karena dalam setiap pelajaran memuat materi esensial dan non-esensial, sebagaimana yang diatur dalam Sistem Kurikulum Pendidikan Nasional. Dengan menerapkan skala prioritas di antara materi esensial dan non-esensial, pemberian pelajaran dapat diefisiensikan sekaligus diefektifkan. Dengan demikian, masa pendidikan yang umumnya enam tahun dapat ditempuh dalam waktu lima tahun tanpa ada pengurangan kualitas pengajaran ataupun prestasi akademis peserta didik. Ringkasnya, program akselerasi di SMART bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan bernalar siswa secara lebih komprehensif dan optimal, serta mengembangkan kreativitas siswa secara optimal.

 

Siswa SMART berasal dari seluruh penjuru tanah air. Mereka dipersatukan oleh kesamaan latar belakang ekonomi keluarga. Keragaman menjadi niscaya seiring bertemunya anak-anak berbakat itu di SMART. Menghadapi perbedaan suku, bahasa, bahkan karakter, SMART memiliki kiat-kiat khusus untuk mendayagunakannya sebagai sebuah kekuatan. SMART membiasakannya semua warganya untuk bersikap toleran dan saling menghargai perbedaan yang ada. Dalam pembelajaran, siswa selalu diingatkan dan disadarkan bahwa mereka adalah orang Indonesia yang memiliki kewajiban menjaga harkat dan martabat sebagai bangsa yang besar. Siswa juga belajar untuk menghargai adat istiadat tempatnya berasal. Rasa keindonesiaan yang kental dalam lingkungan SMART membuat mereka siap menghadapi kehidupan global yang tanpa sekat seperti saat ini. Efek teknologi yang sangat pesat menjadikan batas-batas geografis sebuah negara tidak menjadi penghalang bagi siapa pun untuk dapat menjalin hubungan, termasuk pada siswa yang berlatar belakang dari keluarga marjinal.

Kesadaran ini dibangun di SMART untuk memberikan pemahaman kepada setiap siswa bahwa mereka bukan saja pantas maju sebagai warga Indonesia, tapi juga sebagai warga dunia. Dengan demikian, siswa SMART mampu menjadi pemimpin global dengan tetap memegang warna keindonesiaannya

 

Pada awal berdiri, SMART sudah berkreasi mengembangkan program khas yang diimplementasikan di sekolah dan akan dikontribusikan bagi dunia pendidikan di tanah air. Bentuknya berupa pembentukan karakter, kepemimpinan, wirausaha, program kemandirian, program interaktif dengan masyarakat, serta penanaman disiplin. Saat awal berdiri, para siswa SMART sudah dicitakan tidak hanya menduduki kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) berkelas di tanah air, namun juga di kampus-kampus mancanegara. Untuk mencapainya, siswa SMART sudah dikondisikan dengan penggunaan dwibahasa (bilingual). Tidak ada yang salah dengan mendorong anak-anak marjinal untuk terus menggapai impiannya yang setinggi langit sekalipun. Terbukti siswa-siswa dari pelbagai penjuru tanah air itu mampu menembus ketatnya persaingan menjadi mahasiswa kampus negeri favorit. Sampai saat ini, SMART masih mempertahankan tradisi setiap tahun lulusannya 100 persen dapat menembus PTN terbaik dan berakreditasi A. Atas capaian yang ada itu, segenap jajaran di SMART tidak ingin berpuas diri. Masih ada capaian yang perlu dituju: menjadikan SMART sebagai Sekolah Kelas Dunia (World Class School).

Untuk menjawab visi menjadi Sekolah Kelas Dunia, SMART membuat beberapa strategi, yakni menyiapkan SDM berkualitas dan berdaya saing global, menjalankan sistem pendidikan terbuka dan diakui dunia, menyiapkan fasilitas dan teknologi yang bernuansa budaya global, menghasilkan lulusan yang berkarakter dan berdaya saing global, serta membangun jaringan dengan seluruh pemangku kepentingan. []

 

,

Karena Tak Ada Perjuangan yang Sia-Sia!

“Sometimes, getting things done is not easy. I think the most important thing is just do and finish it. At least when I don’t get what I want, I learn something”

Kutipan di atas kami ambil dari akun IG Kak Panji, Alhamdulillah Kak Panji telah menyelesaikan studinya di Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan MIPA Departemen Biologi lho Sob. Nah untuk membangkitkan semangat kalian, kami mengunggah tulisan pengalaman Kak Panji selama mengenyam pendidikan di SMART. Yuk kita baca Sob!

 

Karena Tak Ada Perjuangan yang Sia-Sia!

Oleh: Panji Laksono

Alumni SMART Angkatan 5, Berkuliah IPB Jurusan Biologi

 

“Hati-hati ya le.. jaga diri di sana”

Tangan saya masih meggenggam pinggiran baju ibu. Terang dalam ingatan, air muka ibu masih tenang sementara saya beriak-riak tak karuan. Selain memang sedang tak enak badan, ada gejolak yang lebih tak enak yang saya rasakan. Saat itu lepas tengah hari tapi entah mengapa saya tidak ingin waktu menuntun sore datang lagi. Sebab saya tahu, itu adalah waktu terakhir –yaa dapat dikatakan demikian— sebelum udara membawa saya pergi jauh. Lebih jauh dari mimpi meneruskan sekolah di kampung saya yang ada di tengah hijaunya Kalimantan Selatan.

Bercerita tentang hal ini memaksa saya menilik lagi album masa lalu. Mereka ulang refrain lama yang tak akan saya lupakan. Saat di mana dejavu begitu pertama kali lewat di depan masjid sekolah, atau mengantre mandi demi mengejar apel pagi. Saat paket makanan dari orang tua adalah harta ghanimah yang patut dibagi-bagi, atau telepon genggam asrama yang hanya bisa kami pakai seminggu sekali. Berkisah tentang hal ini memaksa saya belajar kembali. Tentang kata ‘berani’ yang tipis makna dengan ‘nekat’. ‘Berani’ untuk merantau bahkan saat gigi susu terakhir baru tanggal dari barisannya. Tentang keikhlasan dari sapaan terakhir ibu di ujung gerbang pemeriksaan bandara juga senyum simpul dari ustadz ustadzah di sana.

Perkataan ustaz ustazah tentang sekolah SMART Ekselensia Indonesia yang merupakan Kawah Candradimuka buat saya bukan cuma kata-kata. Mereka tampaknya benar-benar serius dengan hal ini. SMART membuka mata saya kalau dunia tidak sebatas tutupan kanopi pohon karet dan tidak sedamai aliran sungai Martapura. Di inkubator ini, mereka sedang meretas mimpi-mimpi. Ya, tak terkecuali mimpi saya yang kini Alhamdulillah tengah bertengger di tingkat akhir perguruan tinggi pertanian Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Kuliah? Saya tidak ingat tuh kapan terakhir kali mimpi masuk SMP favorit di daerah saya. Tapi kemudian di sana saya diberi banyak sekali pelajaran. Tak hanya pelajaran akademik, tapi juga pelajaran hidup. Sistem pengajaran di sana tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Guru-guru yang luar biasa tak hanya mengajar lewat bicara, namun juga lewat teladan nyata.

Dari dulu mungkin ustaz ustazah SMART sudah tahu kalau saya memang suka berorganisasi. Sedari dulu ikut OASE (Organisasi Akademika SMART Ekselensia) sebagai Staf Departemen Sosial (2009), kemudian Wakil Kepala Departemen Keuangan (2010), sampai jadi Presiden OASE (2011). Pernah bergabung di Komisi Penegak Kedisiplinan (KPK) SMART dan ikut Squad Ensamble SMART. Mungkin belum patut dibanggakan, tapi sangat berkesan. Lewat hal itu saya banyak belajar tentang organisasi. Setidaknya puing pengalaman ini akan sangat berguna di kemudian hari.

Entah dapat disebut menarik atau tidak, saya termasuk lima orang terakhir dari SMART yang masih harus berjuang ke perguruan tinggi selagi kawan-kawan yang lain sudah beranjak. Masih teringat saat itu layar komputer masih menampilkan tulisan merah—itu artinya kamu nggak lulus bro—yang biasa. Berkali gagal lantas pikiran mulai terbang ke mana-mana. Berpikir utuk pulang ke Kalimantan saja dan menyimpan mimpi ini tahun depan. Sampai saatnya ayah mengultimatum di seberang telepon

“Kamu gak boleh pulang sebelum semua ujian kamu selesaikan,” dan saya cuma diam.

Lika-liku berbumbu drama ‘ketinggalan kereta’ pun sempat jadi cerita. Sampai harus luntang-lantung di Jogja mencari angkutan ke Malang agar bisa daftar ulang di Universitas Brawijaya. Lantas akhirnya kembali ke Bogor dan berkuliah di sana ikut jadi refrain yang saya kenang sekarang. Jika ditanya kenapa masuk IPB jurusan Biologi, saya hanya menjawab inilah yang diberi Allah pada saya. Dan saya sangat bersyukur atas hal itu. Allah tidak kasih apa yang saya mau, tapi saya percaya Dia kasih yang saya butuh.

Perjalanan sampai menjadi presiden mahasiswa IPB dilalui dengan banyak cerita. Bermula dari kadiv di kepanitiaan Semarak Bidikmisi 2013, aktif di BEM seperti menjadi kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM TPB 2013-2014, Staff Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FMIPA 2014-2015, sampai diamanah sekarang sebagai Ketua BEM FMIPA 2015-2016. Cerita lainnya adalah jadi sejarah menjadi Ketua pelaksana Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) dua tahun berturut-turut untuk angkatan 51 dan 52 IPB. Banyak tantangan yang dihadapi dalam masing-masing cerita. Banyak pula pembelajaran yang bisa didapatkan dari setiap tantangan yang ada. Buat saya tidak ada orang yang benar-benar selesai dengan urusannya, yang ada adalah orang yang mengakselerasi dirinya untuk orang lain.

Terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membalas apa yang sudah diberikan ustaz ustazah, SMART, maupun semua pihak yang turut berperan di dalamnya. Masih teringat dan sangat membekas apa yang pernah disampaikan oleh ustadz Yasyfi M Ya’qub, bahwa “Hidup dengan berani karena mati cuma sekali”. Dari sana apa yang ingin saya bagikan untuk kawan-kawan di SMART maupun kawan-kawan yang lain adalah mari ambil peran, mari ambil bagian. Selamanya kita bisa saja terus berharap atau bermimpi. Yang membedakan pemimpi dan pemimpin adalah bukan hanya huruf ‘n’ pada akhir katanya, tapi juga kesediaanya untuk berjalan lebih jauh, tidur lebih sedikit, dan kesiapan untuk memiliki tanggung jawab lebih banyak. SMART mengajarkan banyak hal yang sangat berguna untuk masa depan. Manfaatkan keberadaan di kawah chandradimuka ini sebagai ajang untuk mengasah diri, mengaktualisasikan diri, dan belajar untuk bisa berperan bagi orang lain.

“Jika bergerak adalah pilhan, maka aku memilih untuk tidak tinggal diam”

,

Parlemen Remaja dan Titik Balik Hidup Kak Rofai

Parlemen Remaja dan Titik Balik Hidup Kak Rofai

Oleh: Ahmad Rofai alumni SMART Angkatan VI

 

SMART Ekselensia Indonesia telah membawaku ke dalam dunia yang tak pernah kuduga sebelumnya. Tinggal jauh dari kasih sayang Ibu dan Ayah, kebersamaan keluarga yang begitu jauh dalam dirasa. Rasa rindu yang tiada terkira selalu merayap dalam segala malamku, dalam segala sepiku, pun dalam segala lamunanku.

Hari-hari pun berlalu. Kulihat sekelilingku. Lihatlah, be­gitu ceria sekali teman-temanku. Mengapa aku tak dapat seperti mereka, tetap tersenyum dan tertawa walau jauh dari rumah? Beginikah sikap yang harusnya aku miliki: tertawa riang meski jauh dari pandangan keluargaku? Tuhan, sungguh, aku tak yakin olehnya, kertasku selalu basah oleh air mataku keti­ka aku tengah menulis. Pandanganku selalu kosong pada saat sekelilingku tengah asyik bercanda ria satu sama lain.

Dalam keadaan rindu tiada tara yang tengah melanda, guru mengetahui kondisiku, hingga akhirnya dia mengham­piriku dan bernyanyi, tertawa riang menyorotkan mata yang indah dengan ekspresi cantik tak dapat dikata.

Belajar dari ketiadaan

Belajar untuk kemandirian

Mengasah potensi,

Mengukir prestasi,

Bersama kita majukan negeri

Belajar hilangkan kebodohan

Bersama jauhkan kemalasan

Satukan asa, tekadkan jiwa, bersama kita meraih cita

Sekolah kami SMART Ekselensia

Kami dari Sumatera hingga Papua

Hanya satu tekad di dalam diri,

Menjadi pembelajar sejati

Glek! Sungguh kala itu tangisku tumpah ruah, mendengar lagu yang disenandungkan begitu semangat dengan polesan se­nyumnya yang begitu manis—pahlawan tanpa tanda jasaku.

“Itu benar sekali, Zah,” ucapku sambil mengusap mata.

Nyanyian itu telah menyadarkanku dari mimpi buruk berkepanjangan, yang telah menggerogoti semangatku, se­mangat untuk belajar, semangat untuk bermimpi. Begitulah hari-hari pertama yang aku rasakan saat tinggal dan berseko­lah di sini. Sekarang, masa-masa lima tahun itu telah kulalui dengan tangis, canda, dan tawa bersama teman sepermainan dan seperjuanganku. Bertukar rasa, bertukar asa.

Lampuku yang dulu redup kini tengah bersinar kembali karena mereka yang kini telah menjadi bagian keluarga dalam hidupku. Bersama-sama melawan rasa rindu untuk tetap bela­jar demi masa depan yang telah kami impikan. Mimpiku yang hampir sirna kini kembali dan membentuk diriku menjadi tangguh tiada tandingan.

Dari sekian banyak cerita, cita rasa, dan segala asa yang aku dapatkan di sekolah tercinta ini, ada satu yang ingin kubagi untuk adik kelasku di SMART yakni kenangan bersama teman se-Indonesia dalam sebuah acara kerja sama Dewan Perwakilan Rakyat dan Universitas Indonesia, yakni Parlemen Remaja 2012.

Cerita berawal dari sebuah lembaran berwarna kuning ukuran A3 dengan gambar latar belakang gedung kura-kura, tertulis besar-besar “PARLEMEN REMAJA 2012” yang diserah­kan kepadaku oleh Ustaz Sucipto.

“Fai, ikutin sana, tulis esai, siapa tahu saja kamu keterima,” ajaknya.

Aku baca sebentar lembaran tersebut. Tertulis sebuah syarat untuk dapat mengikuti acara itu. Acara diperuntukkan bagi siswa-siswi SMA sederajat, diimbau untuk dapat mengirimkan karya tulis esai tentang pandangan mereka mengenai peran DPR terhadap kemajuan demokrasi di Indonesia, selan­jutnya akan dipilih karya terbaik untuk mengikuti acara Parlemen Remaja 2012. Tanpa berpikir panjang segera aku mencari informasi, browsing internet untuk mencari ba­han penulisanku.

Hari berlalu, telah kukirimkan karyaku bersama empat temanku yang juga tertarik. Hari-hari kulalui menunggu pengumuman, dan itu benar-benar telah banyak menyita waktuku. Aku begitu takut, deg-degan, dan gelisah. Semua bercampur aduk selama aku menunggu pengumuman.

Dua mingu berlalu. Hari itu adalah pengumuman esai terbaik yang berhak mengikuti serangkaian acara Parlemen Remaja 2012. Hari puncak campur aduk hatiku datang jua. Dengan langkah gontai beserta jantung yang berdenyut begitu cepatnya aku menuju layar komputer untuk membaca pengumuman. Kulihat daftar nama-nama siswa terpilih. Aku tidak menemukan namaku. Aku gulir mouse ke bawah, mataku tetap menelisik membaca satu per satu nama tertulis dan sesuatu telah membuatku tersentak!

Tertulis sebuah nama: Ahmad Rofai.

Alhamdulillah, ya Allah, segala puji bagi-Mu, namaku ter­tulis dalam jajaran nama siswa pembuat esai terbaik. Hari itu aku sungguh bahagia, tak pernah sedikit pun tebersit dalam pikiranku untuk dapat lolos seleksi. Segera setelah membaca, sontak saat itu juga aku letakkan keningku di atas lantai, ber­tasbih dan memuji-Nya sebagai tanda rasa syukurku atas kesempatan yang diberikan oleh-Nya untukku.

Telah tiba saatnya aku beserta ketiga temanku yang juga lolos seleksi pergi ke acara Parlemen Remaja 2012. Kami diantar Ustaz Wildan dengan mobil angkot langganan kami menuju tempat pertama acara, yakni Balai Sidang Universitas Indonesia. Cuaca begitu terik kala itu, ditambah lagi dengan pengapnya udara dalam angkot jelas membuatku perutku terasa mual. Untuk menghilangkan rasa mual, aku berusaha untuk tidur dalam angkot. Tak terasa ketika aku membuka mata, tujuan telah sampai.

Terlihat siswa-siswi tengah berbincang, saling berkenalan satu sama lain, berfoto-foto ria sembari menunggu acara pembukaan. Sedangkan kami, siswa SMART, hanya berempat, mengobrol sendiri, bermain sendiri. Tak sedikit pun rasa be­rani dari kami untuk dapat berkenalan dengan siswa-siswi lain. Bagaimana tidak, semua dari mereka memakai baju ba­gus dan bermerek pada saat kami hanya memakai seragam yang dibalut jas almamater sekolah kami. Mereka memegang kamera mewah masing-masing, sedangkan kami hanya mem­bawa handycam kecil, yang hasilnya buruk jika digunakan un­tuk berfoto; satu untuk berempat pula. Mereka juga masing-masing membawa notebook, sedangkan handphone pun kami tak punya.

Cuek is the best-lah yang menjadi jargon utama kami kala itu. Kami tetap tidak peduli akan keglamoran mereka. Kami tetap rendah hati dan percaya diri.

Pukul 14.00, semua peserta dari seluruh penjuru Nusan­tara telah datang dan berkumpul dalam ruangan. Telah ter­pilih 132 siswa-siswi SMA se-Indonesia dari ratusan pengirim esai. Berbagai sambutan dan rangkaian acara pun telah ter­lewati.

Acara akan diadakan selama empat hari, tiga hari per­tama kami menginap di Wisma DPR RI Griya Sabha Bogor. Satu hari terakhir menginap di Wisma Makara UI. Sekiranya inilah yang panitia sampaikan kepada kami. Setelah itu, terketuklah palu oleh ketua panitia bahwa acara Parlemen Remaja 2012 resmi dibuka. Riuh tepuk tangan membuncah sudah, memba­hana memenuhi ruangan beribu kursi itu.

Kini kurasakan betapa nikmat tiada tara dapat tidur di atas kasur yang begitu empuk, ber-AC, mencicipi mandi air panas dengan shower, menonton TV dengan puluhan channel tersedia.

Setiap pagi diawali dengan senam pagi di lapangan, kami berbaris, terlihat beberapa teman teriak, senyum, tertawa terbahak-bahak. Begitu pun aku, menunjukkan betapa baha­gia sekali kami waktu itu.

Siang pun datang, saatnya kami bersiap menuju ruang rapat sidang DPR. Sungguh pertama kali aku memasuki ruangan itu, beribu rasa bangga mencuat dari dalam hatiku. Me­makai jas hitam yang ketika kupakai tampak seperti eksekutif muda yang super penting dalam suatu tatanan negara.

Ruangan itu begitu luas dengan tembok ala bangunan luar negeri seperti yang selalu kulihat dalam film-film, ber­jejer ribuan kursi empuk berwarna cokelat dengan puluhan jejeran meja elegan di depannya. Sungguh tak bisa kugam­barkan bagaimana keindahan serta luasnya ruangan bagi aku yang sejatinya hanyalah siswa papa.

Aku duduk di atas kursi empuk dengan tersodorkan mik­rofon di depanku.

“Selamat datang para pemuda-pemudi gagah Indonesia!”

Sontak suara itu memecahkan suasana yang awalnya tenang menjadi membakar-bakar, sorak-sorai kami bersama tepuk tangan tumpah sudah.

Dua hari tepatnya kami di sana dipersiapkan untuk melakukan simulasi rapat sidang paripurna DPR. Kami diberi berbagai materi tentang apa itu DPR, bagaimana peran par­lemen dalam sebuah negara, serta pemberian pengajaran dalam bentuk pelatihan tentang bagaimana rapat paripurna DPR dapat berlangsung.

Sungguh benar-benar di luar dugaanku, pelatihan-pelatihan yang mereka berikan kepada kami telah membuatku sadar bahwa butuh waktu seharian penuh atau bahkan puluhan hari untuk membahas suatu rumusan undang-undang. Penentuan judul suatu undang-undang saja begitu lama penyelesaian­nya.

Pemberian materi beserta latihan-latihan kepada kami dilakukan dari jam delapan pagi sampai jam sembilan malam. Cukup melelahkan memang, namun herannya semua berja­lan begitu menyenangkan sehingga tidak terasa waktu terus bergulir.

Di gedung kura-kura, pelaksanaan simulasi sidang paripurna DPR RI. Merupakan hari ketiga dari kegiatan ini, acara puncak dari sekian kegiatan yang kami jalani. Setelah subuh, telah tersedia bus yang siap mengantar kami menuju Senayan.

Sebelum ke tempat persidangan, kami menuju ruang tamu DPR terlebih dahulu. Seperti biasa ada sambutan dan acara pembukaan. Setelah itu, kami segera menuju ruang sidang paripurna. Berbagai pemeriksaan ketat pun terjadi. Tas kami disensor oleh alat pendeteksi, begitu pula dengan tubuh kami.

Benar-benar mataku tak dapat berkedip. Tempat si­dang itu begitu luas. Deretan kursi terbagi atas fraksi-fraksi, kursinya pun empuk tak terelakkan, mikrofon tersedia di de­pan kami, tertempel di atas meja.

“Acara ini akan disiarkan di TVRI pukul 07.30,” ucap salah satu panitia kepada kami.

Segera aku menghubungi keluargaku di rumah (lewat ponsel yang dipinjamkan pihak asrama) untuk dapat menon­ton diriku, memakai jas hitam, duduk di atas kursi mewah berperan sebagai Dewan Perwakilan Rakyat.

Mungkin pengalaman ini biasa saja buat beberapa orang, namun tidak buatku. Ada satu pelajaran berharga yang telah aku dapatkan. Berdiskusi bersama anak-anak se-Indonesia dalam acara tersebut membuatku lebih aktif dan kritis selaku pelajar. Selain itu, aku tersadar bahwa selaku pemuda, aku merupakan agen perubahan dalam sebuah dinamika kehidupan.

Aku bersyukur atas berbagai pengalaman di SMART, ucapan terima kasih rasanya tak akan pernah cukup.

,

Tak Kenal, Maka Kenalan Sob! Yuk Mengenal SMART

Tak Kenal, Maka Kenalan Sob! Yuk Mengenal SMART

 

Sob dalam perjalanan mewujudkan visi sebagai Sekolah Kelas Dunia, SMART Ekselensia Indonesia banyak menelurkan sistem manajemen profesional pengelolaan sekolah lho. Nah upaya ini salah satunya untuk mematahkan stigma buruk bahwa manajemen sekolah bagi kaum papa selalu dikelola seadanya.

Sekolah kami menolak stigma itu karena pada dasarnya siswa marjinal tak bisa hanya sekadar bisa bersekolah, lebih dari itu kami diharapkan dapat menorehkan banyak prestasi. Untuk itulah, input, proses, dan output yang terlibat dalam SMART harus berkualitas. Dari input (siswa dan guru) yang berkualitas, dan proses (kurikulum, metode pembelajaran, infrastruktur) yang berkualitas pula, diharapkan memunculkan output berkualitas. Harapannya dengan hadirnya output berkualitas, rantai kemiskinan yang ada di tengah masyarakat dapat terputus.

SMART sendiri memiliki guru-guru dengan latar belakang pendidikan minimal S-1 dari berbagai kampus terkemuka di Indonesia seperti UI, ITB, UGM, dan IPB. Di SMART keteladanan adalah hal yang selalu dibuktikan oleh para guru ke dalam gerak-gerik keseharian, mengingat SMART menghendaki kami menjadi yang terbaik. SMART memberikan ruang kepada guru-guru untuk tidak sekadar mengajar, namun juga memberikan arti lebih dalam dari sebuah makna mendidik. Guru-guru SMART tidak hanya memberikan pelajaran di kelas, namun juga memberikan pendidikan moral dan karakter di luar kelas. Dengan demikian, guru-guru SMART memiliki karakter sebagai pendidik yang patut digugu dan ditiru oleh siswanya.

Sebagai sekolah model bagi anak-anak marjinal, tentu memiliki tantangan tersendiri bagi setiap guru SMART. Oleh karena itu Sob, setiap guru SMART dilatih dan dikondisikan untuk menjadi figur yang bersikap optimis, bersemangat, dan penuh kerja keras.

Dalam pertemuan rutin pun, guru senantiasa diingatkan tentang visi dan misi SMART. Demikian pula dalam pelbagai training pengembangan SDM SMART, guru selalu diingatkan tentang tugas dan tanggung jawabnya bagi anak-anak Indonesia yang kelak menjadi pemimpin- pemimpin bangsa. Jadi, selain menjadikan para siswa sebagai manusia unggul dan berkarakter, SMART pun menghendaki para guru sebagai manusia visioner.

Tahukah kamu Sob kalau siswa SMART adalah anak-anak cerdas yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia dengan latar belakang adat istiadat dan budaya yang berbeda-beda? Nah dengan latar belakang keluarga marjinal, kami mempunyai tekad kuat untuk belajar. Kondisi yang jauh dari keluarga menjadikan kami terlatih untuk mandiri dan gigih
belajar. Sehari-hari kami terbiasa untuk saling menyemangati satu sama lain, baik dalam kehidupan akademis ataupun non-akademis. Kami selalu berupaya untuk berprestasi bersama-sama; bukan melangkah maju seorang diri. Hasilnya, kami mampu mencapai kelulusan Ujian Nasional tanpa meninggalkan satu orang pun rekan mereka yang gagal. Demikian pula saat mereka bersama-sama berhasil meraih kursi PTN favorit.

Lalu untuk memenuhi kebutuhan kognitif kami, SMART memberikan dukungan penuh dengan menyediakan sistem Moving Class, Ceruk Ilmu, dan fasilitas buku yang lengkap di Pusat Sumber Belajar dan Komunitas (PSBK). Nah agar kemampuan psikomotorik kami terpenuhi SMART juga menyediakan laboratorium komputer dan laboratorium MIPA. Walau kami tinggal di asrama tapi banyak hal bisa kami lakukan Sob, karena SMART telah menyediakan banyak sarana dan prasarana seperti lapangan olahraga (sepak bola, futsal, basket), ruang musik dan peralatan musik (gitar, organ, biola, arumba, trash music) di dalamnya.

Bersekolah di SMART menjadikan kami pribadi mandiri yang siap menghadapi dunia dengan wajah berseri,

 

 

,

Kenangan Pembangkit Semangat di SMART

Kenangan Pembangkit Semangat di SMART

Oleh: Sandy Girsang alumni SMART Angkatan VI saat ini bekerja di Price Water House Cooopers (PWC) Consulting sebagai Associate Consultan.

 

Tiba-tiba mata Kakakku tertuju pada tumpukan koran bekas di kolong tempat duduk warung nasi. Entah karena pang­gilan dari mana ia tertarik dengan tumpukan koran usang tersebut. Padahal, sebelumnya sekalipun ia tidak pernah ter­tarik untuk mengotak-atik apalagi membaca tumpukan koran bekas.

Dibukanya ikatan tali plastik yang mengikat rapi koran dengan perlahan. Dipilihnya lipatan koran paling bagus di an­tara semuanya, lalu setelah dipilih ia buka lipatan koran itu secara perlahan. Ia perhatikan lembar demi lembar hingga sebuah iklan di pojok kolom menarik perhatiannya. Kakak tersenyum. Diambilnya gunting dari tas, lalu dengan hati-hati ia gunting kolom iklan itu. Tampaknya iklan itulah yang sejak tadi memanggil-manggilnya.

“Ya, mungkin dengan potongan iklan 5×4 cm itu dapat mengubah kondisi keluarga saya,” gumam Kakak. Sejurus ke­mudian ia teringat dengan perjuangan adik paling kecilnya.

Seribu Rupiah mungkin hanya nilai yang kecil bagi banyak orang, tetapi justru karena seribu Rupiah itulah si adik terkecil sering berjalan empat kilometer berangkat sekolah. Demi seribu Rupiah itu si adik terkecil memulung tumpukan sampah sekitar kampung. Suatu hari sang adik bercerita bah­wa ketika lapar ia pernah hampir memakan kertas. Bukannya terlihat sedih, ia malah tertawa meskipun takut kalau makan kertas ia bisa sakit. Untuk itu, ia menggantinya dengan berimajinasi makan makanan enak sambil terus menjilati sendok.

Setetes air yang menggenang di pelupuk mata menyadar­kan Kakak dari lamunannya.

Adikku pasti bisa sekolah tinggi, ia harus mencoba seleksi masuk sekolah ini,” gumamnya sembari menggenggam erat potongan iklan.

Empat bulan kemudian, si adik dinyatakan lulus.

Andaikan kehidupan merupakan cakram DVD, ia akan memutar balik adegan lima tahun berikutnya di SMART Ekselensia Indonesia. Begitu banyak hikmah yang patut dikenang. Tak terasa si adik telah menghabiskan waktu lima tahunnya yang berharga di sana. Adik kecil itu tidak lain adalah saya, Kurnia Sandy Girsang asal Medan.

 

 

Satu hal yang terus menjadi pertanyaan retorik dalam pikiran saya mengenai SMART Ekselensia Indonesia, mengapa sekolah ini begitu idealis? Di saat sekolah lain li­bur, sekolah ini masuk. Di saat sekolah lain masuk, sekolah ini libur. Saat sekolah berasrama lain memberikan kesempatan leluasa kepada siswanya untuk bertemu keluarga, sekolah ini malah memberikan waktu liburan ‘hanya’ tiga minggu tiap tahun. Dan di saat sekolah lain punya heterogenitas gender, sekolah ini tumbuh bangga dengan homogenitasnya dengan hanya menerima siswa dari kaum Adam.

Idealis tersebut tidak hanya diwujudkan dalam sistem yang bersifat abstrak, perangkat yang berada di dalamnya pun hidup beriringan dengan menciptakan sebuah kausalitas yang membingungkan: sistem yang sengaja dibuat idealis un­tuk memaksa anggota berlaku idealis, ataukah anggota yang idealis yang memaksa sistem berlaku idealis.

Idealisme para ustaz dan ustazah SMART Ekselensia Indonesia saya rasakan ketika saya belum mengerti kosakata idealisme itu sendiri, yakni ketika saya masih siswa baru. Ke­tika baru pertama kali masuk di SMART, seperti di film Indiana Jones, saya seperti melihat dunia baru yang sebelumnya be­lum pernah saya temukan. Lingkungan tempat saya pertama kali melihat sekelompok manusia yang selalu tersenyum, sa­bar dalam mengayomi, lingkungan yang tidak ada kosakata ‘materi sentris’ di dalamnya, dan lingkungan yang tidak per­nah ada kata lelah dalam berbagi untuk sesama.

Saya memiliki rasa sensitif yang tinggi dan saya melihat fenomena ini sebagai fenomena yang aneh. Bayangkan, sebe­lumnya ketika masih tinggal di Medan dan Jakarta, saya tidak pernah melihat bahkan mendengar kisah sebuah lingkungan yang memiliki asas kebermanfaatan dan kemanusiaan yang tinggi. Bukan sekadar pleonasme. Seperti sebuah legenda, lingkungan SMART Ekselensia Indonesia menurut saya memang seperti lingkungan yang sangat langka yang orang lain dapat temukan di muka bumi ini.

Butuh proses beradaptasi dengan lingkungan mul­tikultural seperti di SMART Ekselensia Indonesia mengingat siswanya berasal dari berbagai latar belakang dan budaya. Saya pribadi membutuhkan waktu sekitar satu semester untuk memahami situasi di SMART. Saya orang Medan. Orang Medan terkenal dengan ketegasannya dan selalu bicara apa adanya. Budaya bicara apa adanya ini terasa begitu pedas bagi orang yang belum pernah bersinggungan dengan kami. Beberapa bulan pertama merupakan waktu yang berat dalam beradap­tasi. Saya terus berusaha menekan ego khas orang Medan saya serendah-rendahnya. Gaya bicara nyelekit saya ubah sedikit demi sedikit. Alhamdulillah, dengan bantuan wali asrama dan para guru, saya dapat melewati tahap beradaptasi ini.

Jika disuruh mengatakan satu kata yang cukup untuk mewakili SMART Ekselensia Indonesia, saya akan berkata: keikhlasan. Merupakan sebuah keberuntungan yang besar bagi saya dapat hidup dengan sosok-sosok yang begitu luar biasa ikhlasnya dalam menjalani amanah sebagai tenaga pen­didik. Dulu, ketika saya masih menjalani pendidikan di kam­pung halaman, hanya ada dua tipe guru yang saya kenal: guru kejam dan guru baik. Kenapa saya lebih dahulu mengatakan guru kejam? Ya, sebab mereka sangat memorable sekali di alam pikiran saya. Bagian tata usaha sekolah sampai harus membeli penggaris kayu sebulan sekali akibat ulah guru-guru tersebut.

Setelah saya di SMART, saya mengenal tipe guru ketiga: guru ikhlas. Bayangkan, ketika saya rindu dengan sosok orang­tua nun jauh di sana, guru-guru dapat berperan seakan orang­tua saya sendiri. Ketika saya butuh teman diskusi, guru-guru dapat berperan seperti selayaknya seorang teman dekat. Ti­dak ada anggapan saya lebih pintar dari murid saya, dan Anda selaku murid harus mengiyakan apa kata saya ucapkan karena saya lebih pintar. Tidak ada. Semua guru di SMART Ekselensia Indonesia merupakan teman diskusi paling nyaman. Mereka mendengarkan sekaligus memberikan bimbingan dengan be­gitu sabar dan lembut.

Ya, guru-guru SMART seperti pemeran dalam sebuah si­netron kehidupan. Sinetron sering kali lebay, guru-guru saya ini pun sangat lebay dalam mengayomi siswa. Betapa tidak lebay, sering kali mereka menyisihkan waktu berharga mereka dengan keluarga di rumah hanya untuk mengurus nilai atau sekadar mendampingi lomba siswa. Sering kali adegan dalam sinetron merupakan imajinasi yang tak pernah tersen­tuh dalam realitas nyata. Begitu pun guru-guru SMART, sikap mereka seperti hanya mengambang dalam imajinasi. Bedanya dengan sinetron, imajinasi itu terimplementasikan dalam re­alitas nyata. Guru SMART pun sangat pintar berganti peran dari seorang guru, menjadi seorang teman, malah tak jarang pula tampak seakan sahabat karib.

Kadang tebersit pertanyaan di kepala saya, sebera­pa pentingkah saya dan teman-teman saya bagi mereka sam­pai membuat mereka rela mendampingi kami hingga lembur tanpa digaji? Seberapa pentingkah kami di mata guru-guru ini hingga mereka rela menyisihkan waktu berharganya dengan keluarga? Kalau kenyataannya demikian, apakah kami meru­pakan bagian dari keluarga mereka? Saya terharu ketika sendirian memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini. Ternyata masih ada keluarga di tanah rantau yang sungguh asing bagi kami bocah-bocah dari pelosok Indonesia.

Kenapa kita selalu berbeda dengan sekolah lain?” Ung­kap salah seorang ustaz dalam tausyiah apel pagi.

“Karena kita satu dua langkah lebih maju dibanding­kan teman-teman kita di luar sana. Mereka mungkin sekolah diantar orang tuanya, bisa keluar lingkungan pendidikan ka­pan saja mereka mau, sedangkan kalian hanya sekali dalam seminggu diperbolehkan keluar. Mereka diberi uang jajan tiap hari, tak perlu repot-repot mencuci baju sendiri karena sudah dicucikan orangtua atau pembantu.”

“Kalian berbeda! Kalian melakukan semuanya dengan mandiri, dengan disiplin tinggi. Kalian jauh dari handai tolan, bahkan hanya sekali dalam setahun kalian bertemu dengan sanak saudara. Akan tetapi, ini adalah proses untuk mem­bayar kesuksesan besar kalian di masa depan!”

Ustaz tersebut kembali menambahkan.

“InsyaAllah, dengan penggodokan dalam sebuah inku­bator ilmu selama lima tahun, kawah candradimuka SMART Ekselensia ini akan menghasilkan generasi peduli dan berkarakter sehingga dapat berkontribusi positif aktif bagi kemajuan bangsa Indonesia!”

Tausyiah pagi tersebut ditutup dengan riuh tepuk tangan para siswa peserta apel pagi. Ada yang tepuk tangan karena mengerti esensi tausyiah ustaz tersebut, ada yang ikut-ikutan, ada pula yang hanya sebatas ironi. Golongan terakhir ini yang sering meratapi nasib ‘kurang beruntung’ mereka rajin membanding­kan diri dengan teman-teman di luar sekolah SMART Ekselensia Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, entah itu masih sebagai siswa atau ketika sudah menjadi alumni, golongan ironi ini akan sa­dar dan melakukan yang terbaik sebagai ucapan terima ka­sih mereka kepada para ustaz dan ustazah serta Dompet Dhuafa Pendidikan selaku pucuk organisasi sekolah SMART.