,

Cerita Ramadan Masa Kecilku

Oleh: Guru SMART 

Mangkuyudan (atau sebelumnya bernama Mertonegaran), adalah salah satu dari sekian banyak nama kampung yang ada di kota Yogyakarta. Berada di di ujung selatan, kampung berbentuk segi empat  ini berbatasan dengan Kabupaten Bantul.

Ia memang tak setenar kampung Kauman, kampung legendaris tempat lahir dan berkembangnya organisasi Muhammadiyah.

Ia juga mungkin tak sehebat kampung Krapyak, dimana di dalamnya terdapat Pondok Pesantren Al Munawwir, yang diasuh (pada waktu itu) oleh KH Zainal Abidin Munawwir yang dijuluki sanggga ne langit (penyangga langit) oleh warga Nahdliyyin karena ketawadluan dan konsistensinya memegang  fiqh.

Atau yang terkini, Mangkuyudan memang tidak sesempurna kampung Jogokaryan, yang kegiatan sosial keagamaannya sangat banyak dan menasional.

Akan tetapi, bagi saya Kampung Mangkuyudan memiliki peran yang sangat penting. Selain karena memang saya lahir dan besar di sana, kampung Mangkuyudan juga sedikit banyak mempengaruhi alam pikiran dan wawasan saya terhadap ilmu keislaman.Dan inilah yang akan saya ceritakan dalam risalah singkat ini.

Berasal dari keluarga abangan, tentu tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk menambah wawasan saya tentang dunia islam.Satu-satunya jalan yang ada adalah memanfaatkan momentum Bulan Ramadan di Kampung Mangkuyudan pada saat itu.

Ramadan di Jawa, biasanya diawali dengan tradisi padusan, yaitu tradisi mandi untuk menyucikan diri memasuki bulan puasa.Ritual ini sangat di nanti-nanti oleh anak anak,hingga dewasa.Tak heran, tempat-tempat pemandian,kolam renang,dan lain-lain sampai sekarang  menjadi penuh oleh riuhnya masyarakat yang ingin mengikuti tradisi padusan.Pernah suatu ketika saya bersama teman-teman sebaya seperti Bayu, Ndaru, Yudi dan beberapa yang lain yang saya lupa namanya, dikoordinir oleh Mas Kindarto pergi padusan ke sebuah pemandian di daerah Kulon Progo.Pergi pagi-pagi sekali hanya untuk tidak melewatkan tradisi padusan sebagai kegiatan awal saat memasuki bulan Ramadan.

Kegiatan berikutnya adalah pengajian menjelang buka puasa, yang pada waktu itu pesertanya di bagi per kelas..Ada kelas A sampai D kalau tidak salah.Di sini diajarkan membaca Al-Qur’an, Azan, dan pengetahuan keislaman lainnya sesuai dengan jenjang kelasnya masing-masing, dan dikoordinir oleh RIMMY (Remaja Islam Masjid Mangkuyudan Yogyakarta), organisasi untuk remaja masjid Mangkuyudan yang di kemudian hari saya pernah menjadi ketuanya. Seru sekali kegiatan anak anak di sore hari menjelang buka puasa. Ya antara keseruan dan kenakalan anak-anak. Ada yang menangis rebutan makanan ringan buka puasa, ada yang main-main air kran untuk wudhu,minuman yang tumpah, bahkan sampai ada yang iseng mematikan sekering listrik, sehingga masjidnya menjadi gelap gulita menjelang maghrib.Dan yang terakhir ini, pelakunya adalah saya sendiri.Saya menjadi bulan-bulanan kemarahan bapak-bapak pengurus masjid pada waktu itu.

Srralat Tarawih berjamaah adalah kegiatan seru berikutnya.Pada masa saya dulu, kegiatan tarawih untuk anak-anak dilakukan di tempat yang terpisah dengan jamaah dewasa.Tarawih jamaah dewasa dilakukan di Masjid Mangkuyudan, untuk jamaah anak-anak bertempat di Balai Rukun Kampung Mangkuyudan dan dikoordinir oleh pengurus RIMMY sebagai imam dan pengisi kultum nya. Keseruan dan kenakalan anak-anak lagi- lagi mewarnai kegiatan shalat tarawih ini.Suatu ketika yang menjadi imam dan kultum adalah mas Suharmedi.Entah karena lupa atau apa, ketika di rakaat kedua  shalat witir beliau nampaknya kesulitan untuk mengakhiri bacaan Surat Al kafirun, sehingga yang terdengar oleh makmum di belakangnya hanyalah bacaan wala antum abidu namaa antum, wala ana aa bidu namaa antum  begitu terus menerus diulang-ulang tanpa ada satupun makmum yang bisa mengoreksinya,lha karena semua makmumnya adalah anak-anak.Tiba-tiba dengan suara lantang membahana terdengar celetukan salah seorang makmum yang posisinya tepat di belakang imam.” Wis mas, nek ora apal surate, langsung ruku’ wae.kesuwen, di bolan-baleni ra rampung-rampung” (Sudahlah mas, kalau nggak hafal surat nya, langsung ruku’ aja, kelamaan, diulang-ulang nggak selesai-selesai).Makmum bersuara lantang  itu bernama  Adit Cahyanto.  

Keseruan Ramadan di Kampung Mangkuyudan berakhir di malam takbiran, yang dilakukan dengan lomba dan pawai takbir keliling se wilayah Kecamatan Mantrijeron.Dulu takbir keliling belum mengenal lampion, dan lain-lain seperti sekarang.Pawai hanya bermodalkan oncor atau obor yang terbuat dari bambu dan diiisi minyak tanah sebagai bahan bakar.Mengingat di Jogja bambu sudah jarang ditemukan, maka kadang-kadang mencari bambu nya sampai Bantul, Kulon Progo, bahkan pernah sampai ke daerah sekitar Purworejo.Sekitar ba’da Duhur di hari terakhir  Ramadan, kehebohan sudah nampak di pelataran Masjid Mangkuyudan.Anak-anak dengan wajah gembira menanti pembagian obor yang dilakukan oleh kakak-kakak Pembina.Kadang-kadang saking semangatnya jadi lupa kalau bambunya itu masih ada lugutnya, semacam duri atau apa yang sangat gatal kalau terpegang.Ketika pulang membawa obor, raut muka bahagia terpancar dari raut wajah bocah-bocah itu

Sekitar ba’da Isya’ pawai takbir keliling dimulai.Dengan semangat membara anak-anak mengumandangkan takbir tiada henti sambil tangan kanannya membawa obor.Berseragam merah putih (baju seragam sekolah) dibalut rompi batik yang kadang kekecilan atau kegedean, berkopiah hitam anak-anak rela menyusuri jalan berkilo-kilo meter jaraknya.Didampingi orang tuanya masing-masing dan tentu saja kakak- kakak Pembina,anak-anak seusia SD itu dengan bangganya  berjalan bak anggota TNI/Polri .Keisengan dan kenakalan anak-anak tentu saja kembali terjadi.Entah karena capek atau apa sering terjadi barisan di belakang menabrak barisan di depannya.Akibatnya obor yang dipegang mengenai badan, punggung  atau bahkan kepala anak-anak di depannya, sehingga badannya menjadi bau minyak tanah.Untungnya tidak terbakar.Dan lagi-lagi yang sering melakukan hal tersebut adalah Adit Cahyanto.