Cita-Cita?

Oleh: Afdal Firman.

Kelas 5 Jurusan IPA Angkatan 8.

 

DSC_0146“Apa cita-citamu, Afdal? Tanya ayahku. Pertanyaan itu dilontarkan oleh ayahku lima tahun yang lalu. Lantas aku menjawabnya, “pemain bola professional, yah”. Ia terlihat manggut-manggut seraya bertanya kembali, “memang itu bisa dikatakan cita-cita?” sekenanya aku menjawab, “Cuma itu yang aku tahu yah, dan aku rasa aku bisa bermain bola. Lagipula jadi TNI, dokter, Polisi sudah pasaran yah”. Ayahku termangu mendengar jawabanku, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya setelah itu. Ada jeda panjang yang membuat suasana tak mengenakkan kala itu.

Dulu mungkin aku tidak tahu kenapa ayah menanyakan cita-cita kepadaku, tapi sekarang aku tahu jawabannya. Tak ubahnya seorang guru, ayahku merupakan orang pertama yang ingin melihat anaknya sukses. Begitu pun ibuku.

Ketika itu aku ingin masuk SSB selepas SD, namun sekolah menawarkan beasiswa SMART padaku. Dengan restu orang tua aku mengikuti tes beasiswa tersebut. Selepas tes aku yakin sekali tidak lulus. Banyak sekali kotak jawaban yang kosong. Lalu aku berpikir mungkin menjadi pesepakbola merupakan pilihan yang tepat, oleh karenanya aku aku meminta kepada ayahku untuk dibelikan sepatu bola. Setelah sekian lama nego akhirnya ayah membelikanku sepatu bola. “Nih Dal sepatu bolanya. Besok daftarnya ayah temanin,” ucap ayahku. Ucapannya membuat hatiku senang, namun kesenangan itu tak bertahan lama, rasa bahagia itu digantikan rasa sedih yang menggelora. Namun ini bukan sedih pada umumnya, rasa sedih ini merupakan ungkapan kebahagiaan yang tidak dapat digambarkan.

Aku lulus seleksi beasiswa SMART, yap aku lulus, hilang sudah perbendaharaan kata-kataku setelah melihat pengumuman itu. Sebentar lagi aku akan berpisah dengan mereka yang kucintai. Cita-citaku kukubur, sepatu itu? Sepatu itu hanya kutaruh di dapur. Sedih, namun orang tuaku selalu punya obat untuk kesedihanku. “Ingat ketika dulu ayah bertanya tentang cita-cita?” Tanya ayahku seraya meredakan suasana hatiku. “Ya ayah,” jawabku singkat. “Sebagaimana darah Minang mengalir dalam tubuhku, aku ingin menjadi pengusaha,” jawabku sekenanya lagi. Berbinar mata ayahku mendengar kata-kata tersebut. Tentu ayahku senang karena anak-anaknya memiliki cita-cita yang jelas. Menurut ayahku, cita-cita yang tak jelas. SMART serasa menjawab semuanya.

Sekarang aku diambang pintu untuk memulai perjalanan mencari perwujudan cita-citaku. Tak terasa 5 tahun ditempa di kawah candradimuka SMART Ekselensia Indonesia telah kulewati segala prosesnya dengan caraku sendiri. Cita-cita yang kubanggakan dulu benar-benar telah kukubur untuk selamanya. Kini udara terasa sangat sejuk untuk kuhirup. Sebentar lagi aku akan melihat wajah bahagia orangtuaku. Yang dulu teramat sulit untuk menemukannya. Namun pada saat harinya tiba, wajah bahagia itu akan sangat mudah ditemukan. Semudah membalik telapak tangan

Ke mana sekarang?

Mengejar perwujudan cita-citaku!!!

 

Bogor, 26 Mei 2016