Disini Hujan Juga

Di sini, sebutir embun jelas bukan lagi kesunyian paling dingin: gerimis turun sebagai sesuatu yang tak tertampung– hujan melenting dari atap rumah, menggali lubang-lubang kecil dan membenamkan dirinya sendiri ke dalam tanah.

Kupikir, kesunyian jelas bukan cuma lengang jalan tanpa orang-orang, atau sebuah narasi tentang hujan di halaman rumahmu.

Tetapi, pernahkah kaudengar teriak lantang secuil batu?

Pernahkah kaudengar rintih ranting-ranting jambu?

Pernahkah kaudengar suara merdu perempuan bisu?

Atau pernahkah kaudengar embun menyampaikan sesuatu setelah membaca matamu?

Di suatu kota, barangkali ada yang sedang duduk membaca sesuatu di luar jendela. Lalu sayup-sayup terdengar suaramu di sela-sela hujan yang melenting jatuh itu.

‘Di sini hujan juga.’

 

Karya: Muhammad Habibur Rohman, Kelas XII IPA