Epilog

Malam meradang,
rembulan balik, memunggungi
sejenak bekas abrasif nadi
memadu rekonstruksi menjelang pagi,
peluh sore tadi kusimpan, buat imaji
pada mimpi yang terpotong pagi, lagi
siluet ini memandangi opsi mati,
belum sempat kutinggal pergi

“Hasta la vista.”,
kekata lah basi, tiada
pokok terhadap masa
yang sepihak memilih prosa,
tanpa sajak yang ku puja, juga
sitiran ungkapan pucuk luna
kau tulis serupa birama, frasa

Hanya gaun malam si nyonya,
yang melena para syair milikku
pada tepi yang lebih memuka
menyisa setitik sisipan silam, masa
penuh ukiran tanpa tema,
selenting tinta;

“Ti amo.”

Oleh: Nadhif Putra Widiansah, kelas 12-IPA