Garut Takkan Terlupa

15826609_1212476385513960_6554398596821635491_n

Pulang Kampung, satu kata yang dapat membuat mimik wajah hampir seluruh siswa SMART Ekselensia Indonesia berubah dari seperti belum makan tiga hari menjadi seperti baru dapat uang Rp 100 juta secara cuma-cuma. “Mengapa?” Karena sebagian besar siswa SMART merupakan perantau sejati, mereka berasal dari Padang, Medan, Makassar bahkan (yang paling jauh) dari Merauke. Kami mendapat jatah pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga setahun sekali, biasanya Pulang Kampung dimulai di akhir Desember sampai awal Januari, selama kurang lebih 3 minggu kami semua menghabiskan waktu di tanah kelahiran. Meskipun ada juga yang rumahnya dekat, seperti temanku yang rumahnya dekat dengan SMART, ibaratnya kalau dia terpeleset bisa langsung sampai rumah dengan mimik bahagia.

Begitupun deganku, momen Pulang Kampung merupakan waktu yang paling kutunggu karena bisa berkumpul dengan keluarga tercinta. Dengan menggunakan maskapai (baca: bus) Primajasa, pada Minggu (25-12) aku menuju Bandung pukul 5 pagi. Namun waktu mendaratnya harus ditunda, harusnya sekitar pukul 08.00 aku telah sampai Bandung namun ternyata pukul 09.00 aku baru sampai Bandung. Kenapa? Karena Jembatan Cisomang sedang diperbaiki, kabarnya ada bagian dari jembatan yang retak.

Setelah beberapa hari di rumah, aku kembali melakukan perjalanan ke kota yang terkenal dengan dodol sebagai makanan khasnya. Bisa tebak kota apa? Yak benar Garut! Aku pergi bersama saudaraku ke Garut untuk bersilaturahmi, selain bersilaturahmi aku juga melakukan beberapa kegiatan seperti berkebun. Berbekal ikan asin buatan kakek, aku bersama saudaraku pergi ke kebun untuk menemui uwaku (uwak adalah sebutan untuk kakaknya ayah dalam bahasa Sunda). Sebelumnya kami mendapat amanah dari kakek untuk mencari daun singkong untuk pakan ikan di danau, dengan senang hati kami mengiyakan titah kakek. Setelah kurang lebih 30 menit berjalan melewati medan menanjak, akhirnya kami sampai di saung uwak Usman dengan bermandi peluh dan kaki terasa lumpuh.

15823170_1212394235522175_6920162901741039660_n 15895051_1212396285521970_3173559559634581218_n

Sesampainya di saung kami makan bersama dengan nasi liwet buatan uwakku dan ikan asin yang kami bawa. Nikmatnya makan di saung dengan pemandangan yang menakjubkan, rasa capai rasanya seketika hilang. Setelah makan bersama, uwak Usman meminta kami untuk memetik cabai, kami menyambut permintaan uwak dengan  hati berbunga-bunga. Pasalnya untuk kami yang dilahirkan di kota besar kegiatan seperti ini tidak lah biasa,kami senang bukan kepalang sampai-sampai uwakku geleng-geleng kepala melihat kami yang kegirangan. Setelah beberapa menit memetik cabai kami sukses mengumpulkan cabai sampai 3 kilogram. Tentu saja jika cabai yang kami petik dijual maka akan menjadi uang, apalagi ternyata harga cabai di awal tahun 2017 sedang pedas-pedasnya. Bayangkan harga cabai rawit saat ini mencapai Rp 140.000 per kilogramnya. Hmmm “pedas” sekali kan?

15871608_1212396442188621_5823308393246124477_n

Azan Zuhur berkumandang, meski suaranya tidak sampai ke saung (karena jarak dari masjid cukup jauh) tetapi sayup-sayup masih terdengar suara merdunya. Tanpa komando dari uwak Usman, kami serempak berwudhu dengan air seadanya dan melaksanakan Salat Zuhur. Selepas bertemu dengan-Nya, kami melanjutkan tugas kami untuk mencari daun singkong. Ratusan detik berlalu,  akhirnya kami berhasil mengumpulkan sekarung daun singkong seberat 15-20 kilogram.

Melihat langit yang sudah berwarna celana anak SMA alias abu-abu, kami segera bergegas pulang. Belum setengah perjalanan pulang, hujan pun turun. Hmmm ternyata langit sedang tidak bersahabat dengan kami, gumamku. Meskipun tidak terlalu deras, tetapi itu cukup untuk membuat jalan setapak yang kulewati menjadi super licin apalagi jalurnya menurun curam. Akibatnya berkali-kali aku dan saudaraku terpeleset namun tidak sampai terjatuh. Lebih dari 1000 detik kemudian, kami yang tertatih membawa sekarung daun singkong akhirnya sampai juga di rumah kakek dan memberikan bawaan kami tersebut.

Selama lima hari di Garut, banyak pengalaman baru kudapatkan. Selain memetik cabai, aku juga berkenalan dengan olahraga voli (bahkan ikut pertandingannya) dan jatuh hati karenanya.  Aku dan saudaraku sudah berniat  pulang ke Bandung hingga pada satu malam sebelum kepulangan ke Bandung aku mendengar suara wanita menjerit ketakutan sambil berkata “kahuruan di tonggoh” yang artinya ” kebakaran di atas”. Maksud kata “di atas” ialah sebuah daerah di satu perkampungan yang letak geografisnya berada lebih tinggi dari kampung kakek. Kami bergegas membantu dan kurang lebih 20 menit kemudian api berhasil dipadamkan. Kami pulang ke rumah uwak dengan perasaan campur aduk dan lelah, dan tidak lama kemudian kami tertidur pulas.

Besoknya kami pulang ke Bandung menggunakan motor, kami  memulai perjalanan pukul 10.00 dan aku sampai di Bandung pukul 12.30. Sungguh pengalaman Pulang Kampungnya SMART tahun ini takkan pernah terlupakan.

 

-Tamat-

 

Salam ceria dari Bandung,

Insan Maulana

#PulangKampungnyaSMART