Gen Z VS Guru Abad 21

gurusmart

Oleh: Nurul Aeni

Creative Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Pendidikan.

Salah satu ciri khas manusia abad 21 ialah tangan yang hampir tak pernah lepas dari gawai, hal ini tentu saja merupakan implikasi dari perubahan teknologi yang ekstrem.  Saat ini orang mengubah cara hidup secara radikal, baik itu dari cara berbelanja, ke bank, mengambil foto, mengerjakan tugas, berpolitik, berbagi informasi dan masih banyak lagi yang lainnya. Perubahan tersebut terjadi sangat  cepat namun tetap terlihat di depan mata walau kita tidak menyadarinya.

Dahsyatnya perubahan ini secara tidak langsung memengaruhi perubahan keyakinan dan perilaku, perubahan tersebut sangat berat diterima oleh orang dewasa namun diterima dengan riang oleh anak-anak yang terlahir di masa ini. Perubahan merupakan proses dari kehidupan itu sendiri, di mana orang dewasa/orang tua juga mengalaminya. Dulu pesawat terbang dianggap tidak mungkin ada, namun sekarang hampir setiap orang menaikinya.  Bedanya perubahan saat ini sangat cepat sehingga orang dewasa menerima ini dengan kemampuan yang lebih terbatas.

Sementara anak–anak yang lahir di era ini tumbuh dan menerima dengan suka cita kondisi tersebut, mereka adalah Digital Native, Don Tapscott menamai mereka dengan generasi Z. Generasi Z ialah mereka yang lahir di tahun 1998 hingga sekarang. Mereka lahir seiring dengan perkembangan teknologi tersebut, bahkan sebelum lahir mereka merasakan kehadiran teknologi ketika masih dalam kandungan ibunya, sejumlah alat USG terkini dan berbagai peralatan medis lain hadir menyertai kelahiran generasi ini. Setelah lahir mereka juga tumbuh berkembang dikelilingi teknologi diberagam bidang. Memang mereka tidak mengalami perubahan dalam setiap hal, namun perkembangan pengalaman, cara berpikir dan intelektual berubah secara cepat dan massive.

Celakanya, walaupun perubahan tersebut terlihat jelas baik di rumah maupun di sekolah, beberapa pendidik masih mengajar dengan cara yang sama dan melalaikan bahkan ada yang menolak perubahan penting tersebut. Padahal, di lingkungan mereka teknologi saling bersaing untuk mendapatkan perhatian anak-anak, baik melalui film, musik, permainan, teve, game daring, media sosial, dan lainnya. Mereka memposisikan diri sebagai konsumen aktif yang menghabiskan waktu untuk mempelajari atau menggunakan teknologi tersebut, sementara sebagian para pendidik masih mencoba untuk mendidik anak-anak dengan metode dan piranti tahun 80-an.

Di sekolah anak-anak mengalami kebosanan terutama ketika banyak pertanyaan–pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh guru, namun bisa dijawab dengan mudah oleh Google. Usai sekolah, mereka akan bergumul dengan teknologi karena banyak hal yang bisa mereka pelajari sendiri di sana, utamanya karena mereka tertarik dan rasanya menyenangkan. Jim Groom menyebut hal ini dengan istilah edupunk, ialah pendekatan proses belajar mengajar yang dihasilkan dari sikap DIY (Do It Yourself). Sikap DIY ini memungkinkan anak-anak secara mandiri dapat mempelajari dan menyelesaikan tugasnya, ini sangat memungkinkan sekali dilakukan oleh anak-anak karena informasi dapat dengan mudah didapatkan hanya dengan gawai yang mereka miliki. Namun bukan berarti, anak–anak ini akan jadi lebih baik dan bijaksana, terdapat juga informasi yang mungkin dapat menyesatkan mereka, bagaimanapun kondisi psikologi dan fisik mereka tetaplah sesuai usianya, di sini pendidik perlu hadir untuk meluruskan kesalahpamahan tentunya harus dengan metode baru sesuai kebutuhan mereka saat ini.

Lalu apa yang perlu dipersiapkan oleh guru abad 21? Apa yang perlu dikuasai para guru abad 21 agar dapat bersahabat dengan Gen Z ini? British Council membagi keterampilan dasar pengajaran abad 21 ke dalam enam bagian yaitu:

  1. Berpikir kritis dan kemampuan menyelesaikan masalah
  2. Komunikasi dan kolaborasi
  3. Kreatif dan Imajinatif
  4. Kewarganegaraan digital
  5. Literasi digital
  6. Kepemimpinan siswa dan pengembangan diri.

Pada game daring yang sering dimainkan anak saat ini, pada level kompleks mereka akan belajar bagaimana menyelesaikan masalah yang sulit, mereka dilatih mengambil kesimpulan ilmiah dan harus membuat keputusan yang efektif di bawah tekanan, maka jika anak–anak sudah melakukan tahap ini, pendidik harus lebih mampu menguasainya. Anak–anak juga menggunakan teknologi digital untuk berkomunikasi dan berkolaborasi dalam jarak jauh, maka guru harus berperan memfasilitasi hal ini di dalam pembelajaran. Guru memfasilitasi mereka dalam mendemonstrasikan hasil kreativitas dan inovasi mereka dalam bidang teknologi, dalam hal ini mereka tidak selalu jadi konsumen teknologi namun mereka mampu menghasilkan karya orisinil, hal ini butuh dukungan pendidik sehingga anak–anak dapat mengekspresikan karyanya.

Di tengah gencarnya teknologi berbasis digital yang mudah di akses anak, guru dituntut memberikan penyadaran praktik penggunaan informasi dan teknologi bahwa anak–anak  harus menggunakannya secara bijak, penuh tanggung jawab, dan mampu menunjukkan sikap yang baik ketika menggunakan teknologi. Di samping itu mereka dituntut cerdas mengelola informasi digital, mulai dari menemukan, menganilis, mengevaluasi, mensinstesis dan menggunakan informasi tersebut sesuai kebutuhan secara etis dan penuh tanggung jawab.

Dengan enam keterampilan dasar tersebut harapannya akan tercipta persahabatan antara guru abad  21 dengan Gen Z ini di tengah perubahan yang sangat cepat , yang menurut Atsususi “2c Hirumi” kecepatannya setingkat atom.

 

Referensi