Hakikat Haru Perpisahan

Oleh: Kabul Hidayatulloh.

Kelas 11 IPS Angkatan 8

 

Saat kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia halaman 1436, entri kedua, yang akan kita jumpai adalah kata ‘Temu’ sebagai kata dasar ‘Pertemuan’. Sedangkan, saat kita mencari kata ‘Pertemuan’ di dalam kamus, antonimnya tentulah akan didapati kata ‘Perpisahan’.

Tentu saja semua yang di dunia mempunyai sisi berkebalikan. Ada pertemuan, tentu ada perpisahan, dan diantara keduanya pasti ada perasaan bahagia dan sedih.

Begitu pun  dalam masa perjuangan di SMART EI. Begitu banyak kata pertemuan yang kemudian diiringi dengan perpisahan. Mulai dari pertemuan dengan pengajar maupun dengan kawan seperjuangan. Hanya saja, rasanya ada sebuah variabel tetap ketika perpisahan kembali muncul, haru dan sedih. Baik pada pihak yang ditinggalkan maupun yang meninggalkan. Atau dua-duanya.

Sebagai contoh dalam setiap momen prosesi perpisahan kelas akhir akan ada banyak hujan air mata –atau bahkan badai- karena suasana haru yang begitu menusuk. Entah karena kami (adik kelas atau guru) merasa sedih akan ditinggal, atau wisudawan yang tak sepenuhnya rela meninggalkan kampus penuh cinta berisi kenangan selama 5 tahun.

Tak hanya prosesi wisuda kelulusan, tetapi  juga pada perpisahan-perpisahan yang lainnya. Seperti misalnya ketika seorang guru harus meninggalkan SMART EI. Masih teringat sekali saat seorang ustadz (panggilan kami untuk guru lelaki) tiba-tiba berpamitan di masjid setelah Shalat Ashar. Bisa dibilang sang ustadz tidak terlalu dekat dengan kami semua, kebersamaan dengan beliau selama di SMART EI pun bisa dihitung bulan, akan tetapi entah kenapa saat menyampaikan permintaan maaf sebagai bentuk perpisahan matanya terlihat bekaca-kaca, seperti menahan keharuan. Momen yang tidak biasa kalau menurut saya. Ketika saya hampiri di kelas, di wajahnya jelas terlihat rasa berat hati meninggalkan SMART EI.

Lain halnya dengan seorang ustadzah yang sudah lebih dari 4 tahun mengajar di SMART EI. Saat itu kami tengah melaksanakan apel pagi, setelah selesai beliau berpamitan pada kami semua, menyatakan kepindahannya.  Suasana  seketika hening, kesedihan membawa kesunyian yang mengalahkan panasnya terik matahari pagi itu. Semua terdiam melihat beliau mematung di hadapan kami seperti kehilangan kata-kata.  Lalu beliau tersenyum, di kejauhan kami bisa melihat butiran air mata membasahi pipinya. Suasana semakin sendu, kami membeku penuh haru.

Entahlah hal apa yang memberatkan langkah serta hati mereka ketika meninggalkan SMART EI. Entah faktor apa yang membuat seorang ustadz yang tabu jika terlihat sedih, seketika berkaca-kaca meninggalkan kami. Entah hal apa yang menjadikan seorang ustadzah yang selalu terlihat tegar seketika membeku, perbendaharaan katanya mendadak hilang ketika berpamitan pada kami. Hal tersebut tak terjadi sekali dua kali, namun seperti menjadi tradisi ketika ada yang meninggalkan SMART EI.

Analisis saya, mungkin interaksi sehari-hari di SMART EI menumbuhkan rasa cinta yang mendalam bagi orang yang berada di dalamnya. Walaupun sepertinya selama masih “resmi” menjadi keluarga SMART EI rasa cinta itu belum terlalu terasa, malah mungkin yang ada hanyalah rasa kesal dan jengkel. Namun mungkin itulah lika likunya. Saya menerka, mereka yang pergi meninggalkan SMART EI  merasakan sesuatu yang amat abstrak bernama cinta (atau mungkin faktor lainnya selama berada di sini). Perasaan yang selama ini hanya dapat saya terka-terka nampaknya mulai muncul kebenarannya, di penghujung masa perjuangan ini seakan-akan terhampar semua kenangan penuh cinta di SMART EI. Ada rasa entah apa namanya yang membuat hati terasa sulit menerimanya dan membuat sesak dada.

5 tahun adalah waktu yang lama, tetapi terasa sangat sebentar saat berada di ujung jalan seperti ini.

Setahun yang lalu ketika wisuda kakak kelas Angkatan 7, salah seorang pegawai Dompet Dhuafa Pendidikan ikut bersedih melihat kelulusan mereka, padahal ia baru beberapa bulan saja di sini. Ternyata hari itu akan datang juga pada saya, sebentar lagi saya akan lulus dan meninggalkan SMART EI. Sang pegawai yang dulu bersedih ketika melihat Angkatan 7 diwisuda, sekarang selalu terlihat berkaca-kaca ketika kami, Angkatan 8, ribut membicarakan wisuda dan kelulusan. Waktu cepat sekali berlalu. Dan memang berat mengakuinya.

Bagaimanapun juga ini semua adalah ketentuan Sang Maha. Ada pertemuan tentulah ada perpisahan. Saya jadi teringat, dulu ada seorang ustadz yang mengajar hanya 90 hari, namun ia berlinang air mata saat berpamitan. Ia berpesan: “Pertemuan dan perjumpaan adalah kehendak-Nya, kalaupun rasa kasih sayang telah tumbuh bukan hal yang sulit bagi-Nya untuk mempertemukan kembali”.

 

Parung, 01 Mei 2016

Kala hujan dan kala mempersiapkan diri menghadapi try out SBMPTN di sekolah.