Oleh: Muhammad Fatih Daffa Alumni SMART Angkatan 8, Saat Ini Berkuliah Di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan School of Life Science and Technology Engineering Program

Kuliah. Masa perubahan status, siswa menjadi ‘maha’siswa. Ya, kini aku adalah seorang mahasiswa dan sebentar lagi akan merasakan yang namanya bekerja. Buatku kuliah adalah saat paling tepat untuk membentuk diri, menentukan seperti apa diriku ke depannya. Bertansformasi, layaknya sebuah gerabah yang baru keluar dari cetakannya. Sukses terbentuk menjadi sebuah kendi yang indah, atau pecah karena tak mampu bertahan dalam tungku pembakaran.

 

Aku jadi teringat masa-masa akhir di kelas XII di SMART lima tahun lalu, kala itu nilai Ujian Nasionalku tidak cukup memuaskan. Meskipun aku tidak lolos SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan, aku tetap merasa sangat bersemangat. Seorang remaja yang selama lima tahun selalu diawasi, dibina, diatur, dan didukung, akan tiba saat baginya dilepaskan menuju fase kehidupan selanjutnya. Mengawasi dan mengatur setiap hal yang dilakukan diri.

 

Mencari dukungan dan membuat dukungan untuk diri agar bisa menemukan jalan terbaik bertahan di jalan itu. Kini aku berada di posisi itu. Saat aku bebas mengatur diri, memilih tempat, mencari suasana. Terkadang kebebasan tersebut untuk membuat diriku berada di lingkungan yang baik. Namun, terkadang pula kebebasan tersebut hanya untuk membuat diriku nyaman. Entah apakah itu baik atau buruk. Sangat sulit, benar-benar sulit. Itu yang saat ini kurasakan, betapa aku merindukan saat-saat ketika berada di SMART. Bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat ketika aku bersama teman-temanku merasakan pelatihan dari KOPASSUS.

 

Melakukan posisi taubat (tanyakan pada yang pernah merasakan selainku hehe). Saat itu mungkin fisikku mendapatkan hal “istimewa”, namun aku merasa saat itu lebih baik dari saat ini. Kenyataan adalah kenyataan. Hanya Allah Swt. dan diriku yang mampu mengubah takdir dan nasibku. Guruku di SMART selalu menyampaikan ini: “Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha, hasil itu hak prerogatifnya Allah Swt”. Untuk setiap orang yang membaca tulisan ini. Kusampaikan padamu, “Hiduplah sesukamu. Namun ingatlah, hal baik hanya untuk orang baik”. Sekian.