Halal Itu Penting Sob!

Oleh: Irani Soraya, Guru BK SMART

 

“Maka makanlah yang Halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Alah kepadamu. Dan syukurilah nikmat Allah jika hanya kepadaNya sajalah kamu menyembah” Terjemah QS.An Nahl:114

 

Dalam kehidupan keluarga muslim, menyediakan kebutuhan hidup dengan barang yang halal lagi baik merupakan sebuah kebutuhan. Sedari kecil tentunya kita telah diajarkan bagaimana etika atau adab seorang muslim dalam makan dan minum. Dan Islam adalah sebuah sistem kehidupan yang begitu apik lagi rapi terencana. Contohnya adalah bagaimana islam mengajarkan untuk makan dengan tangan kanan[1], larangan makan dan minum sambil berdiri, larangan bersikap berlebih-lebihan dalam urusan makan dan minum serta sebuah keharusan untuk memilih makanan dan minuman yang tidak hanya halal akan tetapi baik (Thayib).

 

Halalan thayiban adalah sebuah keharusan standar bagi kita, dan bentuk implementasinya adalah mengajarkan sedini mungkin pada anak-anak kita tentang memilih makanan yang halal lagi thayib. Standar kehalalan meski nampak remeh namun memiliki dampak yang besar terhadap diterimanya ibadah-ibadah kita serta doa-doa yang kita panjatkan.

 

Dalam salah satu Hadis Arbain yang diriwayatkan Abu Hurairah ra.  Rasulullah SAW bersabda :

sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik.dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana Dia memerintahkan para RasulNya dengan firmanNya,”Wahai Para Rasul, makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah, dan Dia berfirman,”Wahai orang orang yang beriman , makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rezkikan kepada kalian”, kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, ”Ya Rabbi, Ya Rabb”, Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannaya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan (HR.Muslim)[2].

 

Halalan thayiban juga menjadi salah satu bukti betapa integral dan holistiknya islam mengatur apa apa yang baik bagi manusia dan kehidupannya. Ianya menjadi sebuah tolak ukur bagaimana kita hanya memberi asupan yang terbaik lagi diridhoiNya. Dan kita patut berbangga sebagai seorang muslim karena aturan aturan yang berkenaan dengan pola makan, mutu makanan, kualitas makanan begitu ketat diatur dalam syariah islam. Kebudayaan barat telah membuktikan betapa negara negara multipower semacam Amerika berjuang keras untuk menurunkan persentase obesitas  masyarakat Amerika yang dipengaruhi oleh budaya berlebih-lebihan dalam makan dan minum.

 

Persoalan standardisasi halalan thayiban bukan melulu mengenai makanan atau minuman agar tidak terkandung bahan bahan dari unsur yang diharamkan akan tetapi halalan thayiban telah menjadi etika muslim dalam menentukan standar kualitas dan mutu makanan yang baik, memenuhi standar kesehatan, serta standar bagi sistem pengemasan serta etika lingkungan produsen penghasil makanan[3].

 

Namun ironisnya di Indonesia, negeri yang memiliki umat muslim terbanyak dari seluruh negara di dunia, isu halal hanyalah menjadi topik segelintir orang. Kebutuhan akan standardisasi halalan thayiban tidak menjadi perhatian dari masyarakat sebagai konsumen dan perusahaan sebagai produsen, sebagai contohnya data dari persatuan kosmetik indonesia(porkosmi) menyebutka bahwa dari 744 perusahaan kosmetik di seluruh indonesia baru 23 perusahaan yang mensertifikasi halal dari BPOM-MUI atau senilai 3% saja, sisanya 97% kosmetik yang beredar di pasaran tidak jelas[4].

 

Pada saat ini banyak negara tengah membidik issue halal sebagai sebuah peluang bisnis yang menjanjikan. Anton Apriyanto menggungkapkan:

“sudah selayaknya Indonesia menjadi leader (dalam produk dan standardisasi halal) sebab konsumen muslim kita terbesar sehingga produk-produk di Indonesia harus halal”[5].

Hal ini diungkapkan beliau sebagai sebuah kritik yang menantang dunia usaha dan bisnis. Indonesia mungkin saat ini tengah menjadi role model bagi issu keberagaman agama, toleransi dan kerukunan umat beragama namun sejauh mana nilai-nilai agama dijalankan masih merupakan sebuah pertanyaan.

 

Dalam hal kesadaran, undang-undang mengenai standardisasi produk halal nampaknya Malaysia tengah berada didepan saat ini. Malaysia dipandang oleh ahli ekonomi sebagai sebuah negara yang dinamis dan mengalami masa keemasan. Bisnis dan perbankan syariahnya jauh lebih kuat dan besar ketimbang Indonesia, dan soal standardisasi halal malaysia tidak main main, telah tersedia pendidikan master dibidang halal food analysis, dan kerjasama berbagai departemen dalam mempromosikan serta mempermudah sertifikasi halal, bahkan tiap tahunnya diadakan pameran skala internasional akan potensi pasar halal global di Kuala lumpur. Malaysia rupanya tengah bersiap untuk mengambil kesempatan ini dan bertindak tidak lagi sebagai konsumen akan tetapi sebagai produsen dan tidak hanya sebagai penonton akan tetapi sebagai pemain.

 

Pada tingkat masyarakat dan keluarga di Indonesia bahkan kesadaran akan produk yang halal dan thoyib tidak menjadi perhatian, dengan penduduk muslim mayoritas di dalam negeri masyarakat seolah merasa diri  aman dan tentram asalkan tidak memakan daging babi maupun tidak memakan daging anjing. Masyarakat muslim pada tingkat pedesaan maupun perkotaan, dalam wilaya-wilaya padat tanpa disadari banyak menkonsumsi makanan yang bisa jadi halal namun belum tentu thoyib. Standar thoyib sendiri sangat sulit diterapkan tanpa adanya kesadaran diri akan apa-apa yang baik maupun buruk bagi tubuh kita. Sebagai contoh: seorang yang fit dan baik staminanya dalam usia yang relative muda masih memungkinkan baginya memakan  soto betawi dengan kuah santan serta jeroan, tapi penderita jantung dan hipertensi mengkonsumsi soto betawi dengan kuah santan kental dan daging jeroan ditambah kerupuk emping bisa menjadi ancaman baginya yang membuat makanan tersebut jatuh dalam hukum makruh sampai ke haram.

 

Dan contoh lain sebagai ilustrasi, di masa Ramadan biasanya umat muslim amat sangat menggemari membeli takjil, katakanlah seminimalnya mereka akan beli lontong dengan bumbu kacang ditambah dengan tahu berontak yang hangat dengan cabe rawit, menu yang sudah sangat lumrah bukan bagi sebagian besar kita, kita kadang lupa bawa sebagai muslim tuntunan hidup kita mengacu pada seorang manusia mulia, Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana cara berbuka yan baik, sederhana namun jika contohnya dari rasulullah bukankah itu adalah sebaik-baiknya contoh. Maka masihkan gorengan menghiasi meja berbuka kita, ataukah kurma dan segelas air cukup memenuhi  dahaga kebutuan kita. Wallahu a’lam bi showab.

 

 

 

 

 

[1]    HR.Bukhari muslim diriwayatkan oleh Umar Bin Abu Salamah, terdapat dalam shahih bukhari , bab makanan5/2056, hadits 5061

[2]    HR.Muslim, Hadits Arbain dan Al Ma’tsurat, Indiva Pustaka, Surakarta, 2008

[3]    Www.halalguide.com februari 2010

[4]    Www.halalsehat.com

[5]    Anton apriyanto dalam pidatonya pada Pmeran halal internasional kedua di Jakarta 2010