Harapanku di Ramadan 2020

 Oleh: Eka Kurniasih, Guru SMART

 

Saat saya menulis ini sudah berlalu lima pekan diberlakukannya WFH (work from home) di Jakarta, Bogor, dan sekitarnya….  Termasuk di lembaga kami  dan juga di SMART diberlakukan WFH terjadwal, dengan diberikan beberapa kriteria. Guru yang diberikan direct WFH adalah guru yang usianya di atas lima puluh tahun, guru yang menyusui, guru yang sakit, guru yang tempat tinggalnya jauh serta mengandalkan kendaraan umum dalam mobilisasi pulang pergi ke sekolah.  Sementara guru-guru lain di luar kriteria tersebut diberikan WFH terjadwal untuk piket dengan waktu sepekan sekali mendapatkan amanah piket.

 

Piket dilakukan untuk mengontrol keberlangsungan penugasan kepada siswa yang tetap berada di asrama.  Anak-anak setiap hari diberikan tugas dari guru-guru tanpa tatap muka.  Pun karena keterbatasan fasilitas elektronik, berupa komputer atau latop ataupun tab, maka tugas yang diberikan kepada anak-anak masih berupa paper and pen.  Semoga dalam waktu dekat fasilitas berupa laptop ataupun tab yang diharapkan dapat segera terwujud.

 

Bulan Ramadan adalah momen yang diharapkan oleh saya, keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan juga yang pasti adalah buat anak-anak SMART.  Sampainya kami di bulan Ramadhan menjadi harapan besar. Semoga Allah meridhoi harapan ini.

 

Buat saya dan keluarga, Ramadan memang banyak istimewanya.  Istimewanya (dalam kondisi normal) seperti saat maghrib tiba diupayakan bisa buka bersama keluarga, sekalipun sudah bertahun-tahun jumlah kami dalam keluarga inti, tidak lengkap… tapi yang tersisa ini sangat mengusahakan bisa berbuka puasa di rumah, kecuali ada jadwal-jadwal khusus buka bersama di luar bersama saudara atau teman-teman atau lainnya.  Tentunya menu yang saya siapkan sekalipun tidak mahal, namun agak istimewa dan disukai oleh kami semua.  Anggaplah sebagai bentuk apresiasi terhadap Ramadan, terhadap diri sendiri dan juga keluarga.  Karena saya ingin Ramadan dilihat sebagai bulan istimewa, bukan sekedar bulan tidak makan siang atau bulan lemas ataupun bulan berhemat.   Istimewa yang lain sebetulnya sama dengan orang-orang lain, seperti tarawih, sahur dan lainnya.

 

Ramadan tahun ini, tanpa direncanakan khusus oleh kami, ternyata menjadi Ramadan istimewa.  Istimewanya bisa jadi dirasakan oleh hampir semua umat Islam di seluruh dunia.  Terutama untuk keluarga yang biasanya anggota keluarga nya menyebar ke beberapa tempat, baik karena studi ataupun karena bekerja di luar kota atau bahkan luar negri.  Mewabahnya Covid-19 menjadi sebab anggota keluarga rata-rata kembali ke rumah untuk work from home (WFH), learn from home (LFH) atau lainnya. Kondisi ini memberi kesan dan hikmah yang besar buat kami.  Kami akan ber-Ramadan bersama keluarga inti dengan lengkap.

 

Dalam rangka mengambil hikmah besar dan memaksimalkan ibadah Ramadan dengan kebersamaan keluarga kecil kami dan dengan kondisi saat ini, kami membuat program pencapaian target ibadah Ramadhan dan pembagian tugas di antara kami.  Sholat berjama’ah menjadi ibadah harian yang sudah kami laksanakan sebelum Ramadhan yang harus terus dipertahankan dan diperbaiki untuk kekurangannya serta dilengkapi dengan tarawih berjama’ah dengan imam bergantian di antara anggota laki-laki yang ada di rumah kami, sehingga menuai optimalisasi pahala ibadah Ramadhan.  Target khatam Qur’an di syahrul Qr’an juga kami targetkan, begitu juga kultum di antara kami yang dipergilirkan  agar kami dapat saling mengingatkan. Semoga Allah memudahkan segala ikhtiar ibadah  kami dalam memanfaatkan kebersamaan Ramadhan di tengah wabah Covid-19 ini.

 

Ramadan pun selalu menjadi hari-hari istimewa bagi anak-anak SMART.  Dalam kondisi normal, kami dan anak-anak SMART seperti biasa tetap belajar di kelas. Menu berbuka dan menu sahur akan menjadi istimewa, karena hadir di saat-saat yang dibutuhkan.  Anak-anak SMART akan berbinar-binar, juga haru manakala di sela-sela hari menjelang berbuka, ada guru, ustaz atau ustazahnya datang dengan memberikan sedikit tambahan makanan berbuka untuk mereka. Ada kebahagiaan tersendiri buat kami, para guru, ustaz ustazahnya ketika menyempatkan memberi atau berbuka bersama anak-anak.

 

Serasa seperti kepada anak-anak kandung, saling membantu, ada tawa dan juga ada sedikit ke-riweuh-an, tapi menyenangkan. Namun kondisi saat ini, semoga juga tetap istimewa buat anak-anak SMART.  Mereka tidak belajar di kelas, tapi akan tetap belajar, belajar di asrama, belajar di lapangan, belajar di alam, juga bisa belajar di dapur asrama.  Begitu banyak sebetulnya fasilitas belajar yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak di luar kelas.  Yang diperlukan oleh mereka adalah bimbingan, pendampingan, juga pantauan dari guru-guru atau pembina asrama nya.  Keterbatasan kami saat ini adalah tidak dapat membersamai anak-anak dengan full time and full teamSocial distancing, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan lockdown menjadi aturan yang harus kita ikuti, semaksimal mungkin untuk kebaikan anak-anak dan juga guru-guru serta para pembina asrama.

 

Keputusan anak-anak tidak pulang kampung di lebaran tahun ini disebabkan wabah Covid-19 sebetulnya ada harapan terjalinnya kembali ikatan dan kesempatan host parents untuk mengajak anak-anak SMART dalam program home stay.  Dimana program ini sempat terhenti tahun lalu karena anak-anak pulang kampung (berlibur) di rumah mereka masing-masing.  Semoga dalam kondisi mewabahnya Covid-19 inipun tidak menghalangi para donatur, host parent untuk mendukung dan ikut serta program home stay ini. Besar harapan juga, anak-anak yang nantinya terpilih dalam program home stay nanti bisa mencapai 50% dari jumlah anak-anak SMART yang ada saat ini.  Agar batalnya program Pulang Kampung dapat tergantikan dengan berlebaran bersama para donatur dan host parent.  Besar harapan pula agar para donatur dan host parent tidak takut atau kuatir jika menerima kedatangan orang luar, dalam hal ini anak-anak SMART ke rumahnya saat lebaran nanti.

 

Himbauan ber-Ramadan dan Lebaran tahun ini adalah stay at home, juga tidak ada Pulang Kampung.  Bahkan diperkirakan Salat Tarawih tetap di rumah.  Dan bahkan mungkin sholat Idul fitri pun ditiadakan, karena lockdown nya masjid, untuk menghindari kerumunan orang.  Wallaahu a’laam.  Semoga tidak mengurangi esensi dan makna Ramadhan dan berlebaran di hari raya ‘Idul Fitri.

 

Ada hal yang menarik dari kebiasaan Ramadan kami di SMART.  Biasanya menjelang akhir-akhir Ramadhan kami membuat mini parcel yang diperuntukkan buat anak-anak SMART.  Parcel-parcel tersebut berisi kue-kue lebaran, camilan, permen ataupun coklat, minuman-minuman dan lain sebagainya yang kami perkirakan disukai oleh anak-anak SMART.  Parsel-parsel tersebut kami siapkan sebagai bentuk tanda kasih kami buat anak-anak, sehingga lebaran mereka di asrama tetap dapat menikmati kue-kue lebaran seperti hal nya kue-kue lebaran yang biasa ada dan ditemui di rumah-rumah saat lebaran.  Kami biasanya mengumpulkan donasi dari teman-teman guru dan karyawan di sekitar Dompet Dhuafa Pendidikan yang ingin ikut berbagi dalam kegiatan “Parcel Lebaran SMART”.

 

Alhamdulillah sejauh ini, telah bertahun-tahun kami buat program ini selalu mendapat sambutan baik, sehingga parsel lebaran dapat kami buat dan bagi ke semua anak-anak dengan dibuat per-kelas dalam pengemasannya.  Untuk Ramadan tahun ini, kami berharap tetap dapat membuat parsel lebaran buat anak-anak.  Sehingga anak-anak akan merasa bahagia dan merasa seperti berada di rumah, sekalipun pada kenyataannya mereka berlebaran tanpa orang tua.  Ada banyak cara berbagi diantara mereka yang selalu ditumbuhkan agar seberapa banyak rizki yang mereka dapat, dibagi rata dengan adil.  Semoga kebersamaan mereka dapat terus tumbuh dan senantiasa menjaga kekeluargaan yang menjadi dasar ukhuwah mereka selama di asrama.  Karena rasa kekeluargaan ini akan terus mereka bawa dan jaga saat mereka nanti keluar dari SMART.  SMART akan menjadi rumah kedua setelah rumah pertama mereka bersama orang tua mereka.  SMART akan menjadi tempat yang dirindukan dan penuh kenangan buat anak-anak dan juga kami, para guru, ustaz dan ustazahnya.

 

Dari SMART, mereka akan punya cerita, inspirasi dan juga cinta.

 

 

 

Catatan kecil…

by Eka Kurniasih