Hari Baru Menyongsong Masa Depan yang Membentang

“Di kala kau putus asa dan telah lelah mencoba…”

Kulihat kalender, hmmm tanggal 25 Desember 2016, hari yang sangat kunantikan akhirnya tiba juga. Hari di mana aku dan teman-temanku di SMART akan Pulang Kampung ke kampung halaman masing-masing. Malam itu kamarku lebih ramai dari biasanya dan lebih berantakan dari sebelumnya. Teman sekamarku yang lain nampak sibuk berbenah, sama seperti yang aku lakukan. Aku memandang sekeliling dan hanya bisa menghela napas dalam-dalam sembari mendengarkan lagu RAN berjudul Hari Baru. Ya Hari Baru karena selama beberapa pekan aku akan menghabiskan waktu di tanah kelahiran yang dirindu.

“Gagal itu hal biasa. Bukan akhir segalanya. Itulah awal cerita indah…”

Sedari kemarin aku mengepak barang untuk dibawa ke kampung halaman namun tak kunjung jua selesai padahal pukul 23.00 aku sudah harus berangkat menuju bandara. Karena diburu waktu aku mempercepat gerakanku sampai akhirnya selesai sudah urusan mengepak ini itu. Aku berangkat dari SMART pukul 23.30 dan jelang pagi sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta. Perjalanan ke Padang lumayan memakan waktu, namun setidaknya aku bisa istirahat selama beberapa jam.  Sesampainya di Bandara Internasional Minangkabau aku dan kawan-kawanku disambut orangtua masing-masing dan mitra Dompet Dhuafa daerah. Setelah berfoto bersama kami pulang ke rumah.

 

1

***

Tak terasa seminggu berlalu sejak kedatanganku ke Tanjung Gadang, Payakumbuh, Sumatera Barat. Namaku Ringga Eka Putra, kelas XII IPS, selama dikampung halaman ada banyak kegiatan kulakukan, namun ada dua kegiatan yang membuatku sadar akan pentingnya kemandirian dalam hidup. Di SMART kami semua diajarkan arti pentingnya kemandirian, semua hal berbau pribadi kami lakukan sendiri, tak boleh manja; tak boleh menggampangkan. Di sini, aku belajar arti kemandirian serta berjuang dengan keringat sendiri dan aku bangga karenanya.

 

***

“Jangan pernah lelah berlari. Mengejar asa yang kau cari…”

Lagu RAN terus saja terngiang di kepalaku. Hari Baru, lagu yang kudengar sebelum pulang ke kampung seakan tak kunjung hilang dari pikiran. “Ga, selama liburan bantu bapak yuk,” sapa pak Endi tetanggaku membuyarkan lamunanku kala itu. “Bantu apa pak?” tanyaku penasaran. “Bantu bapak di Rumah Penggilingan Padi milik bapak, pokoknya nanti kamu takkan pulang dengan tangan kosong. Bagaimana?” jawabnya. Aku sempat bimbang, namun desakkan dalam diri membuatku berkata “iya pak”.

Fix, selama beberapa hari ke depan Hari Baruku sebagai seorang “pekerja” di  Rumah Penggilingan Padi dimulai. Setiap pagi hingga siang hari aku pergi ke Rumah Penggilingan Padi milik pak Endi, aku memulai pekerjaanku dengan Bismillah dan memasang masker agar partikel kecil dari padi tak masuk ke dalam hidung dan mulutku. Jika persiapan sudah oke maka aku akan mengambil karung kosong yang telah disediakan lalu memasukan padi ke dalam karung, takarannya juga harus pas.

3 3aa

 

Setelah padi giling masuk ke dalam karung aku harus menimbangnya dengan seksama, beratnya juga harus sama, tak boleh kurang atau lebih.

 

4  4a

 

Jika beratnya sudah pas ketika ditimbang maka tahap selanjutnya aku akan merekatkan karung-karung tersebut dengan alat khusus, daaan beras pun siap didistribusikan.

 

5

6

 

Awalnya rasanya berat, karena banyak sekali padi giling harus kumasukan ke dalam karung-karung kosong, belum lagi tahapan lain yang harus kulalui. Tetapi lambat laun aku semakin menikmati mengisi waktu luang liburku di sini, pak Endy banyak mengajarkanku tentang bisnis yang ia geluti selama puluhan tahun. Aku memang masih SMA, tetapi merasa terhormat bisa menjadi bagian dari bisnis besar pak Endy, seperi janjinya ia juga memberikanku bayaran sesuai pekerjaanku. Hanya saja aku tak lagi fokus pada nominal yang kuterima, melainkan pada pengalaman yang kudapat. Pengalaman mencari uang sendiri, pengalaman berbisnis, dan penempaan kemandirian sejak dini ke tahap selanjutnya kudapatkan di sini. Aku sangat bersyukur telah mengiyakan ajakan pak Endy, dan baru kutahu kalau di kampungku para pemudanya memang ditempa untuk menjadi seorang entreprenuer sejak dini.

***

Biasanya disela-sela masa liburku “bekerja” di rumah penggilingan padi aku menghabiskan waktu untuk berkeliling Payakumbuh bersama teman-teman. Lalu aku teringat pada pak Al’Arif, guru ngaji yang pertama kali mengenalkanku pada Al-Quran. Tanpa banyak menunda-nunda segera saja aku ke rumah pak Al (panggilan akrabnya) untuk bersilaturahmi, sesampainya di sana aku disambut dengan harum yang sudah kukenal, harum durian. Air liurku seketika menganak sungai. Di kampungku, pak Al memang dikenal sebagai juragan duren dan juragan lemang yang tersohor, ia juga dikenal tak pelit dalam membagi ilmu perniagaani. Tak heran jika usahanya tak pernah sepi.

Ketika melihatku datang ia menyambutku dengan tangan terbuka, ia mempersilakanku masuk ke dalam rumahnya yang merangkap tempat usaha pembuatan lemang. Seingatku, aku terakhir bertemu pak Al sekitar dua atau tiga tahun yang lalu, saat bertemu kembali kami berbincang banyak seputar kenangan waktu aku mengaji dahulu. Ia juga sempat mengutarakan keinginannya untuk memperluas usahanya hingga wilayah Jabodetabek, aku kagum sekali dengan sosok guru ngaji dihadapanku ini. Tapi sejujurnya aku sangat penasaran dengan proses pembuatan lemang.

 

7

 

Seakan mampu membaca air mukaku, pak Al kemudian mengajakku melihat bagaimana proses pembuatan lemang. Lemang merupakan makanan dari beras ketan dan dimasak dalam seruas bambu, setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang.

 

8

9

Gulungan daun bambu berisi beras ketan dicampur santan kelapa ini kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang. Lemang lebih nikmat disantap hangat-hangat dan aku suka sekali dengan rasanya yang gurih dan enak.

 

10

11

 

Setelah melihat proses membuat lemang,pak Al mengajaku ke kebun durian miliknya, beragam durian kualitas terbaik bertengger di pohon-pohon berdaun lebat. Beberapa telah dipetik dan ukurannya membuatku takjub, lebih takjub lagi ketika kucicipi rasanya sungguh aduhaiii nikmat sekali.

 

12

13

 

Tidak sampai di situ saja, pak Al juga mengajakku untuk menikmati lemang durian. Legitnya lemang berpadu serasi dengan harum dan manisnya durian.

 

14

15

 

Selagi menyantap sajian nikmat ini aku diajarkan mengembangkan ilmu berdagang, dengan seksama aku menyimak dan menyerap ilmu yang ia ajarkan.

 

16

 

Pelajaran marketing dari pak Al ini mungkin tak akan kudapat di bangku kuliah kelak, ilmu langsung dari juragan durian dan lemang terkemuka di kampungku. Sayang sesi obrolan dengan pak Al harus diakhiri karena waktu semakin malam dan pak Al harus berangkat ke tempat kerabatnya.

 

***

“Keep holding on pada mimpimu. Terus kejar tanpa kau ragu. Keep moving on, biarkan yang berlalu. Sambut Hari Baru…”

Kembali potongan lirik lagu Hari Baru milik RAN menggema di kepala, lalu tiba-tiba semua pengalaman dan pelajaran beberapa hari ke belakang seakan seiring seirama dengan lirik lagu tersebut. Aku percaya bahwa di dunia ini tak ada kebetulan, semua sudah tertulis dan aku merasa bersyukur karenanya. Semua yang telah kulalui di momen Pulang Kampungnya SMART tahun ini semakin memantapkan diri dan hati ini untuk menggapai mimpi dan impian tanpa kenal ragu. Semoga di masa depan aku bisa menjadi entrepreneur sukses dengan berbekal ilmu  dari dua “mentor” di kampung halamanku. Terima kasih ilmunya yang berharga.

Masa depan akan kusongsong, hari baru akan kusambut, dan kusyukuri setiap detik hidupku mulai saat ini. (AR)

 

Salam hangat dari Payakumbuh,

Ringga Eka Putra