Oleh: Ervan, Guru SMART

 

Hari ini adalah Guru Nasional. Hari para pendidik se-Indonesia, yang berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Amanat yang sungguh luar biasa. Hari yang mengapresiasi peradaban tujuan hidup manusia di bumi yaitu belajar selagi hidup.

 

Selamat hari guru…

 

Pendidikan merupakan investasi yang penting dan membutuhkan waktu yang lama. Produk konkret belajar adalah perubahan diri pada civitas akademika. Bukan benda, bukan uang dan bukan jabatan, namun proses belajar yang lama itu menghasilkan karakter, sikap dan kedudukan yang baik di hadapan manusia dan hadapan Tuhan, Allah Yang Maha Esa.

 

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa belajar, Nabi Muhammad saw. pernah menyatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib. Kewajiban untuk belajar berdampak terhadap peningkatan proses tumbuh dan kembangnya setiap diri manusia. Logikanya manusia semakin berilmu maka semakin bijak.

 

Selamat hari guru…

 

Tahun 2020 memang berbeda, berbeda dalam situasi dan kondisi kehidupan hingga saat ini manusia memasuki masa gelombang kedua Pandemi Covid-19. Covid-19, makhluk mikroskopis ini memberikan ilmu pelajaran yang sangat berguna. Di HGN ini, kita jadi belajar bagaimana menjaga kebersihan diri, kebersihan fisik, kebersihan lingkungan dan kebersihan pola hidup manusia. Covid-19 mengajarkan manusia untuk mencuci tangan dengan sabun, kebiasaan yang jarang bagi kita manusia untuk bersikap bijak dalam menjaga kebersihan makanan dan tangan kita.

 

Covid-19 juga mengajarkan kita untuk menghargai arti sehat. Kesehatan sungguh berharga untuk tahun ini. Semua manusia merasa takut akan tanda-tanda keberadaan Covid-19. Virus ini memang tidak terlihat, namun menunjukkan eksistensinya di tubuh dan lingkungan manusia. Manusia merasa jaga jarak dan jaga diri ketika dalam kerumunan.

 

Selamat hari guru…

 

Semester 2 di tahun ajaran 2019-2020 semua sekolah berubah dalam pola belajar konvensional menjadi pola belajar jarak jauh. Pola yang sepertinya sering terlihat di sekolah terbuka, menjadi pola yang dirasa aman dalam kondisi Covid-19. Pola belajar jarak jauh, Covid-19 ini membuat manusia, membuat civitas akademika yang biasa tatap muka menjadi jauh muka, dari yang biasa bersosialisasi interaksi konkrit dengan manusia menjadi terisolasi diri, membatasi interaksi, dan membatasi ruang gerak sosial.

 

Gebrakan pertama adalah mencoba mengenal seluk beluk virus Covid-19. Mencoba mengenal karakteristik virus pernapasan ini. Dalam situasional mengenal virus Covid-19, maka jalan aman sementara adalah membatasi interaksi sosial manusia. Pola belajar jarak jauh berlanjut hingga semester 1 tahun ajaran 2020-2021. Pola belajar jarak jauh semakin mengeratkan civitas akademika dengan dunia digital, dunia virtual dan dunia internet.

 

Tanpa internet, tanpa gadget, tanpa laptop dan tanpa kuota data maka proses interaksi sosial manusia, interaksi belajar menjadi terhenti. Sungguh luar biasa kondisi yang dibuat oleh virus Covid-19. Namun, apakah gegap gempita kita dalam memandang virus Covid-19 dengan menyatakan bahwa langkah 3M, yaitu mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak masih memberi potensi besar akan tertular dan terinfeksi virus pernapasan ini?

 

Konsep hidup dalam masa pandemi ini adalah virus tersebut merupakan virus pernapasan, yang artinya perlu menjaga diri dalam pernapasan kita. Udara sehat mutlak diperlukan, namun udara yang terkontaminasi virus ya berbahaya, disaat tubuh dalam kondisi yang tidak sehat.

 

Imunitas diri dan pola hidup yang bersih, etika lingkungan dan etika interaksi sosial perlu untuk dibenahi. Pola belajar jarak jauh yang hampir dilakukan selama 8 bulan, memberi kepada kita konsekuensi kualitas pendidikan Indonesia yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

 

Guru dan peserta didik membutuhkan interaksi tatap muka yang konkret dalam proses belajar mengajar. Peserta didik sekolah dasar dan menengah masih sangat tergantung dengan guru atau orang dewasa. Pembelajaran jarak jauh apakah masih dilakukan di tahun 2021?

 

Model pembelajaran kita perlu waktu transisi. Hari guru di tahun 2020 membutuhkan pendekatan psikologis, kinestetik dan mentalitas dalam belajar. Ada pendapat yang menyatakan peserta didik mulai ‘bosan’ dan ‘jenuh’ belajar di rumah. Lebih enak dan asyik belajar di sekolah. Peserta didik terbatasi ruang geraknya. Keterbatasan ruang gerak ini karena munculnya dugaan bahwa lingkungan sekitar belum aman dari Covid-19.

 

Sekolah di Indonesia juga belum dinyatakan steril dari Covid-19. Karena Covid-19 hidup, tumbuh dan berkembang di dalam diri manusia. Peserta didik dan pendidik hingga warga sekolah belum dinyatakan steril dan terbebas dari Covid-19. Artinya setiap sekolah memungkinkan menjadi cluster baru akan adanya Covid-19. Bagaimana solusinya?

 

Jadi bagaimana….?

 

Model pembelajaran tetap mengacu dua cara, cara konvensional dan cara digital atau jarak jauh. Dalam satu pekan pembelajaran diperlukan tatap muka dengan protokol kesehatan, teknis nya jam belajar dan jam istirahat dikurangi dan tidak ada jam makan di sekolah. Waktu belajar yang dibatasi dan pemantauan 3 M yang terjadwal dengan baik.

 

Peserta didik perlu interaksi sosial dengan peserta didik lainnya, satu pekan masuk belajar tatap muka sebanyak dua atau tiga kali cukup untuk memberikan ruang interaksi sosial sesama dalam belajar. Waktu belajar lima jam dalam sesi pembelajaran untuk jam pertemuan mata pelajaran selama 30 menit cukup untuk mengurangi beban belajar jarak jauh peserta didik. Pertemuan tatap muka adalah proses belajar materi esessial atau materi penting/ susah apabila di pelajari secara mandiri oleh peserta didik.

 

Warga sekolah baik kepala sekolah dan guru telah menyiapkan materi essensial yang akan di ajarkan selama tatap muka, dan pemberian tugas untuk pembelajaran jarak jauh. Guru dan wali kelas menyediakan waktu konsultasi belajar per individu dan antar peserta didik dapat terjadi peer teaching atau kolaborasi dengan media digital dalam belajar di saat model pembelajaran jarak jauh.

 

Selamat hari guru…

 

Masa transisional learning methode mesti di gelorakan. Tidaklah mungkin belajar tanpa tatap muka, pasti ada keterbatasan dan ketertinggalan kualitas output pembelajaran. Karakter peserta didik akan berbeda pada masa belajar jarak jauh, dan akan memulai dari zero pembentukan karakter belajar di semester dua ini.

 

Siapapun akan memperkirakan kebimbangan semua pihak dalam mencerna dan mengaplikasikan proses belajar para peserta didik. Belajar yang dilaksanakan jarak jauh di rumah akan cukup berat bila dijalankan hingga tiga tahun kedepan. Pembelajaran konvensional dan digital mesti bersebelahan dalam kondisi masa pandemi ini.

 

Belajar esensial pasti memerlukan kehadiran guru, belajar non esensial dapat dilakukan secara mandiri dengan bimbingan atau arahan guru dari jarak jauh. Teknologi sudah dikenal dan dimanfaatkan.

 

Menyambut hari guru nasional, pembelajaran dengan kehadiran peserta didik dan guru sudah menjadi keniscayaan, satuan tugas Covid-19 akan bersedia membimbing dan memantau keberlangsungan prosesi belajar mengajar di setiap satuan pendidikan.

 

Kesehatan dan imunitas hingga protokol kesehatan akan menjadi keharusan dan tanggung jawab bersama. Pendidikan bermutu dan peserta didik yang bersemangat meraih cita dan prestasi akan menjadi keberlanjutan generasi muda Indonesia.

 

Dirgahayu Hari Guru Nasional tahun 2020, tanpa guru dan orang tua, generasi muda akan berjalan tanpa bimbingan meraih prestasi. Mari kita kembalikan kejayaan bangsa dan negara Indonesia dengan pendidikan yang bermutu dan berhasil.