Hari Patah Hati Nasional Para Generasi Z

indowarkop-1495532789606

Sejak dua hari lalu media sosial gencar dengan pemberitaan seputar Raisa dan Hamish Daud. Seperti yang kamu ketahui Raisa dikenal sebagai penyanyi bersuara merdu dengan tembang hits tak berkesudahan, maka tak heran bila ia diganjar dengan banyak piala Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2016 kemarin. Sedangkan Hamish Daud dikenal sebagai seorang arsitek, pengusaha, dan pembawa acara sebuah program petualangan. Hubungan keduanya diresmikan pada Minggu (21-05) kemarin.

Sontak saja publik dibuat geger terutama kaum adam pencinta Raisa dan kaum hawa pencinta Hamish Daud. Saking gegernya muncullah tagar #HariPatahHatiNasional di Twitter dan Instagram sebagai bentuk rasa sedih para fans setia keduanya. Muda mudi, tua muda, mengungkapkan rasa sedih mereka dengan mentwit  dan mempos beragam kalimat serta meme yang notabene mencerminkan perasaan mereka saat itu. Ada yang galau, ada yang sekadar lucu-lucuan, dan ada pula yang bereaksi secara berlebihan.

Dengan jumlah pengguna Internet terbesar keenam di dunia, jelas saja tagar #HariPatahHatiNasional mendulang kesuksesan dan menduduki posisi topik paling tren pertama baik di Indonesia maupun dunia. Seakan tak mau melewatkan momen penting tersebut, berita daring terus menerus memborbardir kita dengan informasi seputar keduanya setiap hari hingga detik ini. Lalu apakah kita semua butuh informasi seperti itu? Jelas tidak!

Coba kamu perhatikan, berapa banyak berita tentang prestasi anak bangsa di kancah nasional atau internasional yang diangkat media besar (baik daring maupun cetak)? Jika jawabanmu sedikit, maka kamu benar. Sudah terlalu lama kita dijejali dengan berita-berita yang tak membangkitkan semangat pemuda negeri ini untuk bangkit berprestasi. Zaman semakin maju, gawai semakin canggih tetapi tetap saja pemuda pemudi Indonesia tertinggal dari negara-negara berkembang lain. Kenapa? Karena kita terlalu asyik dengan berita remeh-temeh. Maka tak bisa dipungkiri jika pelajar saat ini lebih senang mengakses akun berita gosip dibandingkan mengakses berita seputar dunia masa kini, berswafoto dengan pose seronok karena mencontoh selebgram dibandingkan melirik biografi tokoh-tokoh penuh inspirasi, dan memilih untuk menjadi hits dengan cara yang salah. Fenomena seperti ini jika dibiarkan terus menerus bisa membahayakan keberlangsungan dan regenerasi pemuda-pemudi dengan kualitas pemimpin di Indonesia lho.

“Lalu (si)apa yang salah?”

Dalam hal ini media memiliki peran aktif terbesar dalam penyampaian pesan melalui berita. Alih-alih menyampaikan berita penuh prestasi saat ini, konten berita malah lebih menekankan pada sensasi. Sayangnya kita tak bisa serta merta menyalahkan media, karena faktanya partisipasimu serta kebutuhanmu akan berita tak mutu juga ikut ambil bagian dalam proses penciptaan generasi tanpa prestasi.

Sebelum masuk ke pembahasan,  kami yakin kamu semua pasti mendambakan prestasi mumpuni untuk dibanggakan. Akan tetapi, gimana mau mulai berprestasi kalau yang kamu konsumsi hanyalah informasi tanpa isi. “Aduh serba salah ya? Harus bagaimana dong?” Pertama, mulai sekarang, kita sebagai generasi emas Indonesia harus pintar dalam menggunakan gawai. Gawai tercipta sebagai alat penunjang aktivitas dan pelengkap kebutuhan komunikasi kita. Mudahnya pencarian informasi di gawai menambah daftar panjang “masalah” kita saat ini. Kita semakin malas membaca koran atau buku karena akun-akun gosip serta hiburan ternyata lebih menarik hati. Padahal konten di dalamnya belum tentu menunjang kebutuhan kita sebagai pelajar.

Kedua, jauhkan dirimu dari akun-akun tak mutu serta media berisi informasi sampah, dan mulailah mengikuti akun-akun yang akan mengasah kemampuan serta bakatmu.

Ketiga, buatlah jadwal penggunaan gawai seefektif mungkin; jangan sampai gawai malah menguasaimu sehingga membuatmu terbelenggu dari kata prestasi.

Keempat, cari kesibukan dengan mengikuti kegiatan luar ruang yang nantinya akan menggiringmu kepada prestasi.

Kelima, manfaatkan gawaimu untuk membuat inovasi baru sesuai minat dan bakatmu.

Dibandingkan puluhan tahun lalu, saat ini kita hidup di zaman di mana informasi terkini bisa kamu dapatkan dengan mudahnya. Saking mudahnya, kita lupa untuk kembali menilik apakah informasi tersebut benar-benar mengakomodasi kita sebagai pelajar atau tidak. Sebagai pelajar, tugas kita adalah belajar. Kata pelajar bukanlah sekadar titel tempelan tanpa arti. Kita memiliki tanggung jawab untuk membuat negeri ini berprestasi agar tak kalah dengan negara lain di bumi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? (AR).