In House Training I SMA SMART Ekselensia Indonesia

img-20161022-wa0005-1

(Soal Sangar hingga Pemateri Tenar)

Oleh: J. Firman Sofyan, Guru Bahasa Indonesia SMART Ekselensia Indonesia

Kemendikbud melakukan kembali penataan implementasi Kurikulum 2013. Pendampingan tahun 2016 ini dilakukan dengan pendekatan whole school, yang berarti pendampingan tidak hanya diberikan kepada guru mata pelajaran, melainkan juga seluruh unsur sekolah yang terlibat di dalam proses pendidikan.

Salah satu bentuk kegiatan pendampingan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah menengah atas (SMA) adalah In House Training (IHT).

Pelaksanaan kegiatan IHT implementasi Kurikulum 2013 SMA SMART Ekselensia berkoordinasi dan bekerja sama dengan Direktorat Pembinaan SMA.
Kegiatan pendampingan pertama dilaksanakan pada hari Jumat, 21 Oktober 2016 di aula SMART Ekselensia Indonesia. Tepat pukul 07.15 kami sudah harus berada di tempat yang terletak tepat berada di bawah masjid utama sekolah kami. Sebelum memasuki ruangan, kami disambut oleh Pak Sahat, kepala tata usaha, dengan senyum menggoda. Beliau tampak semangat dan ceria dengan batik bermotif kontemporer kombinasi biru dan merah. Di depannya, tersedia kertas daftar hadir seluruh peserta pendampingan. Kami harus membubuhkan tanda tangan sebanyak enam kali pada kertas tersebut.

Karena kami terbiasa tiba di sekolah pukul 06.30, bukan halangan bagi kami untuk berkumpul 07.15. Hanya saja, ada beberapa guru yang mengeluh karena belum sempat menyantap sarapannya, entah sebungkus nasi bakar atau nasi uduk, sepotong roti, salad ditemani segelas susu hangat, semangkuk bubur nikmat, atau sekadar ubi bakar Cilembu yang manis dahsyat.

Kepala SMA SMART Ekselensia Indonesia, July Siswanto, membuka sekaligus menyampaikan sambutan untuk pendampingan pertama ini. Sambutannya singkat, padat, dan tentu seperti biasanya: cermat. Ada alasan khusus atas singkatnya pembukaan yang beliau sampaikan. Alasannya adalah karena kami harus terlebih dahulu mengerjakan pretes sebelum kegiatan pendampingan dilaksanakan. Pretes harus selesai tepat pukul 08.00. Beberapa peserta, atau mungkin sebagian besar peserta, sepertinya kehilangan selera sarapan ketika dihadapkan pada kertas berisi 40 soal tersebut. Rasa lapar dikalahkan soal-soal sangar!

Tampaknya hanya guru yang diharuskan mengerjakan pretes tersebut. Mas Ridwan, Mas Edo, Mas Teguh, Mas Habib, Mas Dian, Pak Irsan, Ketua OASE (OSIS), dan Pak Sahat, para unsur sekolah, tampaknya hanya menjadi saksi kebingungan dan keseriusan kami dalam mengerjakan soal.

Tepat pukul 08.00, semua guru telah tuntas mengerjakan pretes. Semoga saja para guru mendapatkan hasil terbaik, karena jujur saja, soal-soalnya sangat sulit meski kami harus mengeluarkan peluh tetes demi tetes.

GM Sekolah Model, M. Syafei El Bantanie, membakar semangat kami dengan materi Peran Keluarga dalam Pembelajaran Siswa. Dengan berbagai ilmu dan pengetahunnya, beliau menyampaikan materi tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Beliau menyampaikan pola pengasuhan berdasar kisah Nabi Ibrahim dan Imran. Tidak lupa juga dipaparkan mengenai pola pengasuhan yang harus diberikan kepada anak sejak lahir, anak-anak, baligh, hingga dewasa. Untuk memperkuat materinya, dengan pengalamannya menulis banyak buku dan mengisi entah berapa ratus pelatihan, beliau menghipnotis kami dengan ilmu baru yang tentu saja tetap berlandaskan Al Quran.

Pukul 08.43, pengawas sekolah, Drs. Anwar Rusmin, tiba di aula. Kedatangan beliau disambut juga dengan datangnya kudapan yang terlihat menggoda, terutama untuk para peserta yang belum mengisi perutnya. Kudapan kami nikmati dalam rehat pertama hingga pukul 09.00.

Gambar presiden ketiga Indonesia, B.J. Habibie, memulai sesi kedua bersama Pak Anwar. Gambar tersebut menjadi pembuka materi pada sesi berikutnya, yaitu pembelajaran aktif. Gambar tersebut berikuanya menjadi media utama yang membuat kami memahami konsep pembelajaran Kurikulum 2013: 5M (mengamati, menanya, mengumpulkan data, mengasosiasi, dan menyimpulkan). Pembawaannya tenang, namun meyakinkan. Bahasa Inggrisnya bagus dan tata bahasanya cukup menawan.

Satu jam berlalu dari pukul 09.00. Saatnya salah satu Instruktur Kabupuaten (IK) yang dimiliki SMART Ekselensia, sekaligus rekan seruangan dengan saya, Bu Nurhayati, memberikan ilmunya tentang Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Meski usianya cukup jauh di atas saya dan beberapa guru lain, semangat beliau tetap membara. Hanya beliau pemateri yang menyiapkan yel-yel di hari pertama. Suara dan semangatnya stabil selama menjadi pembicara. Sungguh, seorang guru yang layak dijadikan anutan bagi para guru muda.

Dengan ekspresi yang kelelahan, Bapak Drs. Hidayat, M.M., Kasi SMA Disdik Bogor, akhirnya tiba di aula pukul 10.46. Beliau kelelahan karena harus melakukan mendaki gunung lewati lembah dari Pamijahan menuju Kemang. Beliau memberikan kami ilmu tentang Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti dan Sekolah Aman, namun karena waktu pada sesi pertama ini dibatasi hingga pukul 11.30, materi tersebut belum seluruhnya tersampaikan.

Tepat pukul 11.30, kami sudah mendapatkan berbagai ilmu baru, kudapan dan nasi kotak tentu saja. Para guru pria harus bergegas menuju masjid, mendatangi panggilan untuk beribadah kepada Sang Maha Pencipta. Para guru wanita pun harus melakukan hal yang sama, meski tidak harus berada di lokasi yang sama dengan para guru pria.
Ini memang hari pertama, namun ini adalah awal bagi kami untuk mengaplikasikan segala ilmu yang telah kami terima. Terima kasih kami ucapkan kepada para pemateri yang adiguna.