Oleh: bunda Hayati, Guru Bahasa Indonesia SMART

 

Dikisahkan seorang anak sekolah dasar harus segera pulang sekolah dan berlari cepat karena seragam (baju/ celana pendek) dan sepatu yang dikenakannya harus segera digunakan oleh kakaknya yang juga akan berangkat sekolah. Di rumah Ibu dan kakak menunggu dengan penuh kekhawatiran akan kedatangan sang adik. Setiba adiknya datang, segera dilucutinya pakaian seragam dan sepatu kemudian segera dikenakan oleh kakaknya.  Sang kakak pun tidak kalah cepat larinya agar tidak terlambat masuk sekolah. Namun, apa daya tidak jarang ia pun dimarahi guru karena datang terlambat. Hal itu setiap hari mereka lakukan tanpa mengeluh.

 

Suatu hari walikota mengadakan perlombaan lari untuk para pelajar. Sang kakak

pun tertarik mengikuti pertandingan tersebut untuk memperoleh juara tiga. Mengapa harus juara tiga bukan juara satu? Karena juara tiga memperoleh hadiah yang sangat didambakan, yaitu sepasang sepatu. Sepasang sepatu yang harus digunakan oleh kakak beradik. Namun, pada akhirnya sang kakak memperoleh juara satu? Allah Maha Penyayang dan Maha Mengetahui yang dibutuhkan oleh hambanya.

 

Berangkat dari film  yang ditonton para peserta didik untuk memulai pembelajaran proposal kegiatan dan negosiasi dari mata pelajaran Bahasa Indonesia, guru mencoba membuka mata dan hati peserta didik agar dapat merasakan yang dirasakan tokoh dalam film pendek tersebut. “Bagaimana perasaan kalian setelah menonton film tadi,” tanya guru kepada sang pembelajar sejati.

“Sedih, Ustazah.”

“Kasihan, Ustazah.”

“Tidak tega, Ustazah. Sepasang sepatu yang sudah rusak harus digunakan bergantian oleh kakak beradik.”

“Apa yang dapat kita lakukan jika hal itu ada di sekitar kita?” tanya guru lagi.

“Membantunya, Ustazah.”

“Membelikan mereka sepatu, Ustazah.

”Membelikan mereka seragam sekolah, Ustazah.”

“Tepat sekali! Masih banyak di sekitar kita anak-anak tidak mampu yang mempunyai semangat untuk sekolah harus mengalami kisah sedih, bahkan lebih sedih dari itu pun masih banyak. Bersyukurlah kalian berada di sini, Alhamduillah semua kebutuhan sudah disediakan dan difasilitasi. Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan emas yang sedang kalian nikmati”

“Lantas apa hubungannya dengan materi yang akan kita pelajari?” tanya salah satu peserta didik.

“Di antara kalian, ada yang tahu?”

Salah satu peserta didik tunjuk tangan, “kita akan membantu anak-anak yang tidak mampu, seperti kita.”

“Dengan apa kita membantu mereka? Kami berada di sini pun karena para donator yang menggerakkan hatinya untuk beramal dan berzakat di Dompet Dhuafa.”

“Anak-anakku, ingatlah, yang menggerakkan hati mereka, yang menggerakkan orang-orang beriman untuk menyisihkan sebagian hartanya, yang menggerakkan para donatur memutuskan untuk berinfak ke dompet Dhuafa semata-mata  karena hatinya digerakkan oleh  Allah Swt. Semoga Allah pun menggerakkan hati kalian untuk dapat membantu yang perlu dibantu walaupun dalam keadaan kekurangan. Anak-anakku ….,  Sebentar lagi, Ramadan, bulan suci, bulan keberkahan, bulan pelimbahan rahmat, bulan dilipatgandakan setiap amal kebaikan akan datang. Nah, kesempatan baik untuk kalian membuat sesuatu yang bermanfaat, memberi kesempatan kepada malaikat untuk mencatan kebaikan yang insya Allah pahalanya akan terus mengalir walaupun kenikmatan dunia tidak lagi dirasakan, walaupun ruh dan jasad sudah tidak lagi bersatu.” papar guru.

 

Di atas merupakan sekelumit pembelajaran di SMART Ekselensia Indonesia.

SMART merupakan sekolah berasrama bording school yang bebas biaya atau gratis untuk anak-anak, terkhusus laki-laki dari beberapa provinsi di Indonesia yang kekurangan dalam ekonomi, tetapi memiliki kelebihan dalam akademik. Mereka dibiayai dari dana zakat, sedekah, amal yang dikelola oleh Dompet Dhuafa.

 

Apakah hanya orang yang mampu, orang yang kaya dapat berbagi? Apakah orang yang tidak mampu, kaum fakir/ kaum papa/ kaum marginal tidak dapat membantu sesasama? Tentu saja TIDAK. Siapa pun dapat membantu sesasama. Bagi orang miskin yang mungkin buat makan saja susah, ketika ia bersedekah meskipun cuma sedikit, sedekahnya ini lebih bernilai di sisi Allah. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham“.  Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau jelaskan, “Ada seorang yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan.  Ada pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” (HR. An Nasai)

 

Kekurangan ekonomi, bukan berarti tidak dapat membantu sesama makhluk ciptaan Allah. Kekurangan ekonomi, bukan berarti hanya bisa menerima tanpa bisa memberi. Kekurangan ekonomi, bukan berarti selalu meletakkan tangan di bawah tanpa pernah meletakan posisi tangan di atas. Dengan kekurangan dan kelebihan yang dimiliki siswa SMART keinginan untuk membantu sesama, pun dapat terwujud. Mau tahu caranya? Mau tahu saja … atau mau tahu banget ….? Ayo, lanjutkan membaca tulisan ini!

 

Di atas sudah dipaparkan, peserta didik sedang mempelajari mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan materi  yang dikolaborasikan, yaitu materi proposal dan negosiasi. Bukan hanya kolaborasi materi, tetapi juga kolaborasi dari beberapa mata pelajaran, yaitu Prakarya untuk kelas jurusan IPA dan IPS serta  Sosiologi dan Ekonomi, terkhusus kelas dengan jurusan IPS.

 

Dengan menggunakan pendekatan  contextual teaching and learning Contextual teaching learning peserta didik dapat membantu sesama. Contextual teaching and learning merupakan pendekatan yang “mengaitkan isi mata pelajaran yang diberikan dengan situasi kehidupan yang nyata dan memotivasi peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.” (Chalil dan Hudaya, 2009: 16)

 

Peserta didik mempelajari materi yang kemudian teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik juga memperoleh pembelajaran langsung ke masyarakat dan memiliki pengalaman secara langsung sehingga kegiatan belajar mengajar tidak terpasung dan membusung tanpa makna.

 

Dalam pembelajaran ini, peserta didik tidak hanya belajar menyusun proposal kegiatan, tapi mereka mengajukan proposal kepada lembaga/ perusahaan ataupun individu. Siswa membentuk kelompok yang terdiri dari lima atau enam orang. Setiap kelompok menyusun proposal untuk mengadakan kegiatan “Amal Bakti Ramadan?” dan menyusun proposal untuk mencari investor agar faktor pendukung dapat memonitor sektor kompetensi dasar . Investor ini akan memberikan modal. Modal itu akan digunakan oleh setiap kelompok untuk berjualan.  Adapun kegiatan “Amal Bakti Ramadan” merupakan tujuan akhir dari materi ini, yaitu memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.

 

Setelah menyusun proposal, peserta didik mengajukan proposal ke lembaga/ perusahaan untuk proposal Amal Bakti Ramadan agar memperoleh dana ataupun barang yang dapat diberikan kepada yang membutuhkan. Sedangkan, pengajuan  ke individu (guru SMART/ karyawan Dompet Dhuafa Pendidikan) untuk mengajukan proposal mencari investor. Pada saat pengajuan proposal, peserta didik bernegosiasi. Mereka bernegosiasi agar mencapai kesepakatan sesuai harapan.

 

Setelah memperoleh modal dari investor, peserta didik berjualan. Yang dijual peserta didik adalah produk berupa  makanan/ minuman. Produk yang dijual dibuat oleh peserta didik. Produk tersebut merupakan akulturasi dari beberapa daerah. Hal ini merupakan materi Sosiologi untuk kelas jurusan  IPS.

Sebelum berjualan, peserta didik latihan terlebih dahulu membuat produk yang akan dijual. Latihan membuat produk tersebut merupakan mata pelajaran Prakarya untuk kelas jurusan IPA dan IPS.

 

Terkhusus, kelas jurusan IPS terdapat penilaian mata pelajaran Ekonomi karena ketika menyusun proposal untuk diajukan kepada investor, siswa harus memerincikan dana yang dibutuhkan untuk berjualan. Mereka memerincikan mulau dari kebutuhan bahan pokok sampai kepada keputusan harga produk per mangkok. Setelah berjualan pun, peserta didik harus membuat laporan keuangan untuk mempertanggungjawabkan kepada pemilik modal. Hal itu dibuat juga oleh kelas IPA, tetapi tidak ada penilaian khusus dari mata pelajaran lain, selain Bahasa Indonesia.

 

Adapun produk yang merupakan akuturasi nasional yang dijual di antaranya: Mpek’as/ mpek-mpek kuah asinan (paduan mpek-mpek makanan khas Palembang dan asinan makanan khas Betawi), Sate Bumbu Rendang (paduan makanan khas Madura dan Padang) Bakop/ bala-bala cuko palembang (paduan bala-bala makanan khas Jawa Barat dan kuah mpek-mpek Palembang), Es pisang ijo siram bajigur (paduan Makasar dan Jawa Barat), Cingdol / cingcau dan kuah cendol (paduan minuman Betawi dan Jawa Barat). Bagado/ batagor gado-gadoProduk dijual di selasar gedung utama SMART. Yang membeli produk tersebut, di antaranya: para peserta didik, guru, karyawan Dompet Dhuafa Pendidikan, serta orang tua PAUD.

 

Alhamdulillah, produk habis terjual. Peserta didik sibuk menghitung  pemasukan. Karena masih belajar, setelah dihitung-hitung, walaupun produk laku terjual ada yang memperoleh keuntungan besar, ada yang kecil, ada pula yang hanya cukup untuk mengembalikan modal ke investor. Modal pun dikembalikan kepada investor. Dengan hati yang ikhlas, keuntungan dari berjualan 100% dikumpulkan peserta didik untuk kegiatan  “Amal Bakti Ramadan”. Senyum tak kenal lelah mengulum di wajah mereka, sang pembelajar sejati yang tak pernah berhenti mengkaji ilmu dunia dan akhirat. Sungguh, kebahagian hakiki itu hadir ketika keihklasan terpatri dalam keimanan.

 

Manusia mempunyai rencana dan harapan, Allah juga yang menentukan. Proposal untuk pencarian dana ataupun produk ke lembaga/ perusahaan untuk dapat disumbangkan pada kegiatan “Amal Bakti Ramadan” ada yang berhasil, ada pula yang nihil. Namun, tetap saja harus senantiasa bersyukur agar tidak menjadi orang yang kufur.  Dalam pembelajaran bukan hanya hasil yang dilihat, tetapi proses yang diapresiasi. Jangan resah dan gelisah apalagi putus asa, anak-anakku…. Kalian sudah berjuang untuk kemashlahatan umat. Insyaa Allah, malaikat tersenyum mencatat jerih payah kalian, setan pun lari terbirit-birit karena keteguhan hati kalian.

 

Keuntungan berjualan dan dana dari lembaga/ individu dikumpulkan kemudian dibelikan  snack untuk berbuka puasa serta baju koko dan sarung untuk dikenakan solat tarawih. Peserta didik pun mengemasnya, termasuk Al-Qur’an  dan buku-buku untuk disumbangkan ke Yayasan Ashabul Kahfi yang mengelola Rumah Al-Qur’an bagi anak-anak marginal yang terpaut pada Al-Qur’an .

 

Di bulan yang penuh keberkahan dan di hari yang cerah pembelajar sejati SMART Ekselensia mengunjungi Rumah Al-Qur’an. Dengan berseri-seri wajah-wajah penghafal Al-Qur’an  itu menyambut kedatangan pembelajar sejati dengan senang hati. Kegiatan diawali dengan sambutan, kemudian diikuti dengan pembacaan puisi serta sharing teknik menghafal Al-Qur’an  dari pembelajar sejati kemudian penyerahan santunan dan diakhiri dengan doa. Kegiatan “Amal Bakti Ramadan sederhana. Ya, sangat sederhana kegiatannya, tetapi insya Allah penuh makna dalam jiwa-jiwa insan dari anak-anak marginal.

 

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah Swt. di bulan Ramadan yang penuh berkah peserta didik SMART diberi kesempatan oleh Allah Swt. untuk menabur kebaikan. Walaupun setitik, jika ikhlas berbuat karena Allah, insyaa Allah dia akan membekas dan terus terpatri karena malaikat telah mencatat. Semoga yang telah dilakukan oleh pembelajar sejati Allah lindungi dari perbuatan sombong ataupun riya sehingga lelah dan letih membuahkan pahala yang akan menambahkan berat timbangan kebaikan di akhirat kelak, aamiin. Semoga kepedulian kepada sesama tetap dan selalu tersemat dalam jiwa walaupun sudah tamat dari SMART, aamiin. Terima kasih kami ucapkan kepada lembaga ataupun individu yang telah membantu dan mendukung kegiatan pembelajar sejati. Semoga amal kebaikan ini akan terus mengalir dan mengalir walaupun Allah telah memanggil.