Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan)

 

“al-wahmu nishfu al-da՛i wa al-ithmi՛nanu nishfu al-dawa՛i wa al-shabru bidayatu al-syifa՛i; kecemasan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan,” Ibnu Sina. Pernyataan Ibnu Sina, yang sering disebut sebagai bapak kedokteran Islam, rasanya hari-hari ini menemukan aktualisasinya. Wabah Covid-19 tak bisa dinafikan telah membuat masyarakat merasakan kecemasan dan ketakutan berlebihan.

 

 

Bahkan, sebuah stasiun televisi nasional pernah membahas topik ini. Seorang narasumber acara tersebut, yang berprofesi sebagai dokter kejiwaan (psikiater), menyampaikan bahwa cukup banyak masyarakat yang berkonsultasi karena merasa cemas dan takut akibat wabah Covid-19.

 

 

Kemudian, mereka mengidentifikasikan gejala-gejala Covid-19 kepada dirinya. Ada yang memeriksakan diri karena merasa batuk dan sesak nafas. Namun, ternyata setelah didiagnosa tidak ada peradangan di kerongkongannya dan tidak ada masalah dengan paru-parunya. Mereka mengalami psikosomatis (penyakit fisik akibat tekanan psikis).

 

 

Teman-teman saya pun ada yang mengalami hal demikian. Mereka merasa tertekan secara psikis dan dihantui kekhawatiran berlebihan. Akibatnya, badan terasa lemas dan tidak bergairah. Sebagian ada yang merasa pusing, asam lambungnya naik, dan mual. Padahal, sebenarnya mereka baik-baik saja. Hanya, karena cemas dan tegang memicu gejala-gejala fisik tersebut. Kondisi tersebut sebetulnya merugikan fisik kita. Sistem imun kita akan drop (menurun). Sistem imun akan terhambat memproduksi antibody untuk melawan virus, kuman, dan bakteri yang mungkin masuk ke dalam tubuh. Maka, kemampuan mengelola rasa cemas dan takut berlebihan akibat wabah Covid-19 menjadi penting.

 

 

 

Dari penelusuran penulis, salah satu faktor paling signifikan yang membuat banyak orang merasa cemas berlebihan adalah overload (melewati batas) mengonsumsi informasi seputar Covid-19 melalui media sosial. Masalahnya, informasi seputar Covid-19 yang beredar di media sosial, terutama whatsapp group, tidak sedikit berupa informasi yang justru menimbulkan perasaan horor. Misalnya, sebuah portal berita online pernah menulis dengan judul, virus corona mampu bertahan di udara selama tiga jam, dengan mengutip penjelasan dari WHO (world health organization). Padahal, menurut penjelasan dr. Erlina Burhan, RSUP Persahabatan, pemahamannya tidak seperti itu, kemungkinan tidak membaca utuh penjelasan WHO. Maksud pernyataan WHO bahwa virus corona dapat bertahan tiga jam di udara adalah saat proses intubasi pada pasien Covid-19 untuk pemasangan ventilator terjadi mekanisme aerosol. Maka, WHO mengingatkan para dokter dan tenaga medis agar menggunakan masker N-95, bukan masker bedah untuk perlindungan diri.

 

 

 

Lalu, berita ini dibagikan ke group-group whatsapp, termasuk penulis juga memperoleh broadcast berita ini di sebuah group whatsapp. Apa yang terjadi? Banyak orang semakin merasa cemas dan takut terpapar Covid-19 melalui udara. Maka dari itu, langkah efektif yang bisa dilakukan untuk meminimalisir rasa cemas dan takut berlebihan selama wabah Covid-19 adalah social media distancing, menjaga jarak dari media sosial. Kita tidak bisa mengendalikan isi berita dan pembahasan di media sosial, namun kita mesti bisa mengendalikan diri kita untuk menarik diri dan menjaga jarak dari media sosial.

 

 

Kurangilah aktifitas dan waktu kita dalam bermedia sosial. Lebih baik alokasikan waktu untuk aktifitas yang lebih produktif, seperti membaca buku, bercengkrama dengan keluarga, atau berkebun di pekarangan rumah. Berkebun dapat mengurangi tekanan psikis dan menyeimbangkan mental kita. Dalam psikologi warna, dominasi warna hijau memberikan kesan ketenangan dan mengurangi stres.

 

 

Beberapa penelitian ilmiah mengemukakan bahwa aktifitas yang berhubungan dengan alam dan lingkungan mampu membantu pemulihan kesehatan mental, mengurangi tingkat stres, mengembalikan konsentrasi, dan meningkatkan produktivitas (Maller et al, 2005).

 

 

Selain itu, agar media sosial kita sehat, semestinya ada kesadaran kolektif dari seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak menyebar atau membagikan berita-berita seputar Covid-19 yang dirasa bisa menimbulkan kecemasan dan ketakutan. Berita tentang kematian pasien Covid-19, keganasan virus corona, dan sejenisnya adalah berita-berita yang bisa menekan psikis pembacanya, lalu menimbulkan kecemasan dan ketakutan.

 

 

Janganlah kita menambah beban para tenaga medis dengan menghadirkan kecemasan dan ketakutan di media sosial. Seperti kata Kang Bima Arya, Wali Kota Bogor, “Virus ini menyerang hati dan jiwa sebelum pernafasan dan paru-paru. Social media itu ibarat ICU raksasa. Runtuh mental semua orang kalau digempur berita Covid-19. Drop imunitas.”

 

 

Maka dari itu, selain social media distancing, menjadi warganet yang baik dan bertanggung jawab adalah upaya solutif untuk turut serta menanggulangi wabah Covid-19. Bayangkan jika banyak orang yang merasa cemas dan takut berlebihan, lalu imunitasnya drop. Maka, mereka akan rentan terpapar Covid-19.

 

 

Sebaliknya, jika semua warganet bertanggung jawab dengan cara hanya menyebarkan atau membagikan berita positif di media sosial seputar Covid-19, semisal berita kesembuhan pasien Covid-19, virus corona bisa dilawan dengan imunitas yang baik, maka psikis masyarakat tidak akan terganggu. Justru bisa menimbulkan ketenangan. Dampaknya imunitas tubuh meningkat, sehingga relatif tahan dan kebal dari paparan virus. Harapannya, ini bisa berdampak positif pada upaya mempercepat penanggulangan wabah Covid-19 di negeri kita tercinta.