Dewasa ini, isu kesehatan mental cukup banyak mengambil perhatian anak muda. Pertengahan bulan Oktober, dunia KPOP dihebohkan dengan meninggalnya dua akrtis Korea Selatan karena bunuh diri. Berita-berita mengabarkan artis tersebut mengalami depresi, setelah menghadapi banyak tekanan dan tuntutan dari netizen selama ini. Pada akhirnya ternyata artis korea tersebut memang hanya manusia yang juga memiliki kerapuhan dan tidak kuat juga menerima komentar-komentar negatif dari banyak orang.

Beberapa kampanye yang muncul terkait kesehatan mental menyebutkan agar kita sadar atas suasana hati yang dirasakan, meskipun itu perasaan negatif seperti sedih atau marah. Kita perlu menerima perasaan kita, setidaknya mengakui pada diri sendiri.

Kecenderungan manusia yaitu berkeluh kesah kepada orang lain “duh, gue capek”, “sedih banget gue mendapat perlakuan seperti ini”, dan sebagainya. Dan anjuran bagi temannya adalah untuk “jangan jawab dengan ‘udah jangan sedih..masih mending lo kayak gitu, banyak yg lebih menderita dari itu’, atau “apa yg lo lakuin masih belum ada apa-apanya dibandingkan X”, atau “yah lemah banget masa gitu aja sedih…?”

Benar kah begitu, ketika kita dilarang menganggap kecil proses yang dilakukan orang terdekat dan membandingkannya dengan proses besar yang telah dilalui?

Mari berpikir ulang, mengapa Alquran sebagian besar isinya adalah tentang kisah orang terdahulu? Baik kisah suksesnya, atau pun kisah kesulitannya. Sirah nabawiyah, kisah sahabat Nabi, tokoh-tokoh pergerakan, atau biografi orang sukses pun masih beredar di kehidupan kita meski orang-orang itu sudah tidak ada di muka bumi.

Dari hal ini, kita semua seharusnya mendapatkan jawaban bahwa membandingkan diri dengan orang lain itu boleh. Tapi yang bijak mengatakannya adalah diri sendiri, dengan catatan kita tidak merendahkan proses yang telah dilakukan. Kisah orang-orang hebat terdahulu dapat kita jadikan pembelajaran, motivasi, dan pemicu diri agar menembus batas-batas yang barangkali kita buat sendiri. Kisah-kisah manusia hebat itu mengangkat makna bahwa, bagaimanapun keberhasilan yang diraih…itu semua masih dilakukan oleh seorang manusia, yang pasti ada salahnya, dan mungkin beberapa kali benar.