Jejak Potensi di Sketsa Pensil

Jalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan. Itulah salah satu tujuan field trip kami ketika itu bersama rombongan guru dan siswa SMART Ekselensia Indonesia dari kelas 1 sampai kelas 5. Tentunya ini suatu kegiatan yang meriah dan menyenangkan. Senang rasanya melihat antusiasme para siswa, terutama siswa-siswa kelas 1, yang begitu bersemangat untuk menjumpai atau sekadar menyapa hewan-hewan yang biasanya hanya mereka tonton di TV atau gambar. Aku bertugas mendampingi wali kelas 1 untuk membantu mengawasi dan mendampingi siswa-siswanya. Aku juga naik kendaraan yang sama bersama mereka. Karena aku belum hafal betul nama seluruh siswa kelas 1 dan takut sok tahu serta salah panggil, akhirnya aku bertanya nama dan asal mereka.

 “Hamzah dari Jakarta, Dzah,” jawab anak tinggi kurus yang duduk di samping jendela mobil.

“Saya Sukrismon dari Padang, Dzah,” sahut anak kedua yang duduknya persis di sebelahku.

“Wah… sama dong, Ustadzah juga orang Padang!” kataku senang.

Akhirnya, obrolan kami pun mengalir sepanjangperjalanan. Aku terus berusaha mengetahui latar belakang mereka melalui obrolan-obrolan ringan itu.

“Hamzah sudah pernah ke kebun binatang sebelumnya atau belum?” tanyaku.

“Udah pernah, Dzah, sekali, waktu saya masih SD,” jawab Hamzah.

“Kalau Sukrismon, sudah pernah?”

Belum pernah, Dzah. Ada sih di dekat rumah saya, tapi kami hanya sekadar lewat, tidak pernah ke sana,” katanya dengan logat Sumatera yang masih kental.

“Lho, kok belum pernah? Memangnya kenapa Sukrismon?” tanyaku penasaran.

“Pengen sih Dzah, tapi gak punya uang,” sahutnya polos.

Nyeesss… rasanya wajahku langsung memerah, bodoh sekali menanyakan hal itu dan tidak peka untuk dapat memprediksi jawabannya. Tetapi ia menjawab dengan ringan saja, tanpa beban, walaupun terlihat sekilas keinginannya yang sangat untuk pergi ke sana.

Dalam sekelebat, aku kilas balik ke masa SD. Aku sangat menikmati masa kecilku, terutama saat-saat yang tak terlupakan. Sangat menyenangkan rasanya di waktu istirahat bisa bermain petak umpet, petak jongkok, benteng, main karet, dan lain sebagainya. Begitu pun waktu diajak jalan-jalan ke Taman Mini, Ancol, Ragunan, dan tempat-tempat rekreasi lainnya. Aku pun merasa bahwa seharusnya di masa itu—masa tanpa beban dan menikmati hidup, aku menyebutnya—semua anak kecil sepatutnya sudah pernah

mengunjungi tempat-tempat rekreasi walaupun hanya sekali. Ah, betapa naifnya aku, ternyata masih ada juga anakanak yang kurang beruntung. Aku sungguh terkesan oleh kepolosan Sukrismon. Hmmm, beberapa kali terlintas di benakku, mengapa ia diberi nama Sukrismon? Ia lahir pada tahun 1998, bertepatan dengan tahun terjadinya gonjang-ganjing perekonomian di Indonesia, yang kita kenal dengan sebutan ‘krismon’, krisis moneter. Apakah orangtuanya tidak tahu arti dari krismon? Bukankah nama itu adalah sebuah doa? Apakah menurut mereka nama Sukrismon itu artinya baik? Tak tahulah aku.

Setelah Field Trip ke Ragunan, nama Sukrismon kembali hadir. Bukan karena ia sedaerah asal denganku. Seiring rutinitas sekolah berlanjut, aku cukup sering mendengar bahwa Sukrismon acap kali menjadi biang ribut. Ia tidak henti-hentinya mengganggu teman-temannya. Dengan alasan sekadar iseng, hampir semua dilakukannya secara spontan dan tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Tidak banyak kawannya yang dengan senang hati bersedia menjadi teman dekatnya. Aku jadi bertanya-tanya, mengapa ia seperti itu? Apakah ia tipikal anak yang hiperaktif atau hanya ingin diperhatikan saja? Mungkin saja ia memiliki kelebihan energi yang belum dapat tersalurkan dengan baik.

Sebagai penanggung jawab bidang perlombaan, aku bertekad ingin mengetahui potensi Sukrismon. Ia pasti punya potensi yang menonjol di bidang tertentu, dan semestinya dapat menjadi curahan perhatian hingga energinya bisa disalurkan untuk melakukan hal-hal yang positif. Sampai suatu hari aku dimintai tolong oleh Ustadzah Uci yang ketika itu berhalangan hadir karena tugas lembaga.

Hari itu ada jam pelajarannya, dan aku diminta tolong menyampaikan kepada anak-anak bahwa tugas mereka hari itu adalah meneruskan produk membuat buku yang dikerjakan secara berkelompok sesuai pertemuan sebelumnya.

“Ustadzah Uci gak masuk ya, Dzah?” tanya seorang anak di awal pertemuan dalam kelas.

Iya, Ustadzah Uci lagi ada tugas lembaga, dan beliau berpesan kepada Ustadzah untuk menyampaikan tugas untuk kalian. Ada yang tahu kira-kira apa tugas dari Ustadzah Uci?” aku coba melempar pertanyaan.

“Pasti ngelanjutin produk membuat buku yang kemarin, ya, Dzah?” tebak salah seorang siswa.

“Iya, betul, bagi yang kemarin tidak masuk, tolong bergabung dengan kelompok yang sudah ditentukan. Temanya sudah diberi tahu, kan? Hanya melanjutkan yang kemarin, masing-masing kelompok sudah dibagi-bagi berdasarkan judul bab. Dikerjakan di kertas HVS yang kemarin sudah dibagikan, pewarna sudah disiapkan Ustadzah Uci bagi yang mau meminjam, dan jangan lupa cantumkan nama-nama kelompok kalian, ya.”

“Dikumpulinnya kapan, Dzah?”

“Dikumpulkan hari ini, ya. Maksimalkan waktu yang masih ada.”

 “Kalo enggak dikumpulin sekarang boleh kan, Dzah?” tawar siswa yang lain.

“Boleh saja kalau mau nilainya dikurangi. Kalau dikumpulkan lewat dari jam pelajaran Ustadzah Uci, maka akan ada pengurangan poin penilaian. Semakin lama kalian mengumpulkan dari batas waktu, maka semakin banyak juga poin produk kelompok kalian yang dikurangi. Ada lagi yang mau ditanyakan?”

Hening sejenak tanda semuanya sudah jelas dan tidak ada lagi yang ditanyakan. Sejenak aku berada di kelas itu, yang dihiasi dengan riuh rendah dan lalu lalang anak-anak yang sibuk mengerjakan dan berkoordinasi dengan teman-teman sekelompoknya, mencari konsep yang sesuai, membagi tugas, maupun berdebat tentang gambar dan pilihan warna. Tampaknya serius sekali. Aku hanya tersenyum.

Beberapa kali aku berkeliling untuk melihat hasil kerja mereka yang masih dalam tahap perampungan. Dan aku tidak heran, gambar mereka umumnya bagus-bagus dan kreatif walaupun mereka baru duduk di bangku kelas 1. Aku tidak tahu apakah karena faktor anak laki-laki yang memang dianugerahi bakat lebih di bidang seni, khususnya menggambar, dibandingkan anak perempuan, ataukah memang kultur di SMART yang siswanya dari zaman ke zaman memiliki bakat menggambar yang menonjol dan di atas rata-rata? Setelah semua karya dikumpulkan, aku beranjak ke ruanganku. Aku pun tergoda untuk melihat hasil kerja anak-anak itu. Aku memeriksanya sambil senyum-senyum, melihat gambar-gambar yang menarik dan kreatif, yang dikolaborasikan dengan teori dan rumus-rumus fisika yang sudah diajarkan Ustadzah Uci. Mereka memang cerdas dan anak-anak pilihan. Sampai tibalah di satu kertas, aku terpana melihat suatu gambar yang sangat indah. Sederhana dibandingkan gambar lain yang penuh warna. Gambar yang menarik minatku itu hanya berupa sketsa pensil. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi tampak nyata sekali. Aku penasaran ingin tahu siapa yang membuat gambar itu.

Keesokan harinya, ustadzah Uci berterima kasih dan meminta produk hasil karya anak-anak yang dikerjakan hari sebelumnya. Saat itu juga aku langsung teringat hal yang membuatku penasaran kemarin.

“UN, kemarin aku lihat gambar sketsa tangan di salah satu produk anak-anak, bagus banget deh, padahal Cuma pake pensil. Uni tahu enggak siapa yang buat?” tanyaku. Aku memang terbiasa memanggil Ustadzah Uci dengan sebutan

Uni” karena kami sama-sama orang Padang.

“Yang mana, Din?” tanya Ustadzah Uci sambil mencaricari gambar yang dimaksud.

“Nah, ini nih, yang ini. Bagus banget kan?” tanyaku meminta persetujuan sambil menunjuk gambar tersebut.

“Oh… iya, emang bagus, ini tuh gambarnya Sukrismon,” kata Ustadzah Uci.

Aku pun agak kaget bercampur senang. Akhirnya aku menemukan bakatnya. Belakangan aku diberi tahu, menurut beberapa rekan guru dan guru seni Sukrismon, ia memang berbakat untuk soal seni.

Sampai saat ini, sudah beberapa kali aku merekomendasikannya untuk mengikuti lomba yang berkaitan dengan menggambar. Walaupun ia belum pernah menang, aku yakin suatu saat nanti Sukrismon bisa membawa pulang piala dan mengharumkan nama SMART Ekselensia Indonesia. Jalan masih panjang untuk mengasah keterampilannya menjadi makin baik lagi. []