Kaget

vikram

 

Oleh: Vikram Makrif.

“Jreng jeng jreng jeng…. Hadirmu tempat berlindungku… Dari kejahatan syahwatku… Tuhanku… Merestuiku… Dijadikan engkau istriku… Engkaulah bidadari surgaku… Jreng jeng” petikan gitar dan suara pengamen di Bus Pusaka tujuan Bogor ini melengking tepat di pintu Bus bagian depan ia berdiri menghadap para penumpang. Lagu “Bidadari Surgaku” yang dinyanyikannya mengingatkanku pada almarhum Ustadz Jerfi Al-Bukhori.

Dalam Bus yang sempit ini, aku berdiri tepat selangkah di depan pengamen tersebut. Aku memegang kursi disebelah kananku dengan tangan kanan dan tangan kiriku menggenggam tali tas yang kugendong di punggung. Desak-desakkan dengan penumpang yang berdiri di belakang membuatku kesal. Kepalaku juga menjadi pusing karena sempit dan gerahnya berdiri lama di bus ini. Kakiku mulai pegal dan hatiku masih belum ikhlas, karena tadi diawal ketika aku masuk bus sang kenek meminta ongkos dengan tarif Rp 15 ribu rupiah. Padahal setahuku dari Jampang ke Bogor tarifnya hanya Rp 10 ribu, apalagi aku hanya berhenti dipertigaan jalan baru yang tarifnya mungkin cuma Rp 7 ribu. Alasannya karena Lebaran, sehingga tarif angkutan umum naik.

 

Kesal, sungguh kesal. Uang di kantong hanya 15 ribu sudah habis begitu saja cuma buat bayar bus, padahal tadi sudah aku siapin Rp 10 ribu buat bayar bis, Rp 5 ribu buat bayar angkot ke Cibinong. Ah sudahlah semoga saja ntar pas silaturahmi ke rumah saudara di Cibinong dapat THR. Hehe..

 

“ENGKAULAH BIDADARI SURGAKU…. ya sekian dari saya semoga bapak ibu selamat sampai tujuan, jangan lupa jaga barang bawaan Anda, periksa kembali sebelum turun, karena kejahatan selalu ada di mana-mana, terimakasih selamat siang,” ucap sang pengamen dengan intonasi yang cepat setelah selesai bernyanyi dan membuka topi yang ia kenakan, membaliknya dan menyodorkannya kepada para penumpang. Beberapa dari penumpang meletakkan uang recehnya dalam topi pengamen tersebut dan beberapa hanya mengangkat tangan kanan setinggi dada tanda tidak memberi apa-apa. Setelah selesai, sang pengamen melompat dari Bus yang berjalan lambat di tengah macet. “Tuk tuk tuk…” sang kenek memukul langit-langit Bus Pusaka. Seketika bus berhenti dan seorang laki-laki di belakangku mendorongku ke depan. “Misi dek, mau keluar nih, menghalangi jalan aja!” dengan suara sedikt membentak dan berjalan tergesa-gesa, lalu melompat turun dari bis. Hatiku sedikit kesal dengan laki-laki tadi yang dengan seenaknya dia membentak dan mendorongku. Sudah tahu Bus ini sempit, masih saja mendorong dengan kerasnya. Ya sudahlah, bersabar saja.

Kulihat ke jendela sebelah kanan, ternyata Bus sudah berada di depan Yogya Supermarket. Aku segera berjalan mendekat ke pintu bagian depan, tempat pengamen tadi berdiri. Tujuanku adalah berhenti di jalan baru untuk naik angkot ke arah Citeureup menuju Cibinong. Sehingga sebentar lagi aku turun dari bus di Jalan Baru.

“Kiri, bang, kiri, bang! Saya mau turun!” teriakku kepada sopir Bus Pusaka yang sedang menyetir. Seketika semua mata penumpang tertuju padaku kecuali penumpang di bagian depan.          Heran nih, kok pada ngeliatin, sih? Ah, sudahlah, tak penting, yang penting turun dulu.

Aku langsung lompat keluar dari bus, karena bus sudah berhenti di jalan baru. Kuberlari kecil ke pinggiran jalan raya dan berhenti sejenak untuk menunggu angkot ke arah Cibinong atau Citeureup. Menunggu dan terus menunggu.

***

Aku baru ingat tadi ongkos Rp 5 ribu buat angkot sudah aku kasih ke kenek Pusaka Rp 15 ribu. Uang di kantongku sekarang tidak ada lagi. Ya itulah kebiasaanku setiap keluar asrama, selalu menyiapkan uang di kantong hanya pas untuk ongkos menuju suatu tempat. Tapi perkiraanku salah, Lebaran kali ini sungguh membuatku rugi biaya karena ongkos yang naik. Sisa uangku aku simpan di dalam tas bagian depan berapapun jumlahnya, sedangkan yang di kantong hanyalah untuk ongkos. Pada Lebaran kali ini, uang di tas yang kusimpan adalah Rp 215 ribu, Rp 15 ribu untuk ongkos uang ke sana dan Rp 200 ribu untuk belanja sepulang dari silaturahmi.

Selagi menunggu angkot, kubuka tas bagian depan untuk mengambil uang Rp 5 ribu, ongkos untuk ke Cibinong. Sepersekian detik kemudian tangan kananku langsung merogoh isi dalam tas bagian depan, terus mencari uang dan membuka tas lebih lebar lagi. Namun, uang Rp 215 ribu tersebut telah tiada. Kuingat-ingat lagi saat di Bus ada seorang laki-laki yang mendorongku dari belakang dan tergesa-gesa untuk turun dari bis. Aku mengira bahwa laki-laki itu lah yang telah mengambil uang Rp 215 ribu dari tasku saat berdiri sempit-sempitan dalam Bus Pusaka.

           

Aduh memang sudah nasib, di dalam bus kesal, turun bus kesal juga. Sudah bayar bus Rp 15 ribu, dicopet, ke Cibinong jauh, pulang ke asrama juga jauh, uang di kantong habis, sial… mau ke mana lagi coba? Dasar ah pencopet bikin sial saja… ya sudah deh mending aku duduk saja dulu di pinggir jalan ini sambil baca buku novel ‘Api Tauhid’, siapa tahu ada orang baik yang mengasih uang hehe..

.

Baru lima halaman aku baca novel, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki berlari sangat cepat di depanku, sehingga novel yang ku baca terjatuh dari tangan. Laki-laki itu berpakaian seperti preman pasar, tingginya kira-kira hanya sedaguku. Aku kaget dan langsung berlari cepat mengejar laki-laki tersebut, karena teriakan perempuan separuh baya “TOLONG! TOLONG! COPET! TOLONG COPET!” tak ada yang mau membantu perempuan itu yang berteriak sambil berlari mengejar copet sendirian. Karena itu lah tanpa berpikir panjang aku langsung berlari untuk membantu mengejar copet tersebut kemanapun ia kabur.

Sang pencopet berlari sangat cepat, walaupun tubuhnya lebih pendek dariku juga sambil membawa tas yang dicopetnya. Bagaikan orang yang dikejar anjing, dia berlari kemanapun arah kakinya melangkah. Aku terus mengejarnya lebih cepat, kakiku tak mau kalah dari kaki pencopet itu. Kusuruh kaki ini terus berlari lebih cepat dan lebih cepat lagi agar dapat menyusul pencopet yang telah mengambil tas ibu-ibu tadi. Semakin cepat pencopet berlari semakin cepat pula aku berlari mengejarnya.

“GUBRAK!!” pencopet menabrak sepeda yang dinaiki seorang anak laki-laki berusia belasan tahun. Pencopet tersungkur ke depan dan anak itu terhimpit sepedanya mengaduh kesakitan. Saat sang pencopet bangkit aku telah di belakangnya dan menarik bahunya dan segera memukul wajahnya dengan tangan kiriku. Dia terjatuh sambil memegangi pipi kanannya yang ku pukul. Sedetik kemudian dia bangkit dan menusukan pisau yang dipegang ditangan kanannya kebadanku. Sebuah keberuntungan atau kebetulan, badanku sudah menghindar ke kanan dan segera kaki kananku menendang ulu hatinya sampai terlempar dua meter dariku. Tas perempuan yang dicopetnya terlepas dari tangan kirinya. Pencopet itu segera bangkit lagi dari jatuhnya dan aku sudah siap untuk serangan berikutnya. Ia mengambil lagi pisaunya dan kembali menatapku. Dengan langkah mundur-mundur ia mengacungkan pisaunya kepadaku dan berteriak “Awas KAU Ya!”. Langsung ia berlari terbirit-birit dariku meninggalkan tas yang sudah tergeletak di tanah.

 

***

Cerahnya pagi menerpa kulit sawo matangku. Udara sejuk kuhirup dalam-dalam. Kaki ini terus berjalan melewati asrama ‘Darussalam’ SMART Ekselensia Indonesia dan berhenti tepat di depan pos sekuriti SMART. Tanganku langsung menodorkan sebuah kertas berwarna kuning seukuran setengah dari kertas A4 kepada sekuriti yang sedang berjaga hari ini. Kertas itu adalah kartu izin keluar asrama untuk para siswa SMART di masa-masa libur Lebaran.

“Assalamualaikum Ustad,” sambil tersenyum kuberikan kartu izin itu kepada sekuriti di pos SMART.

“Walaikummussalam Vikram, mau izin ke mana nih?”

“Saya mau ke Cibinong Stad, silaturahmi kerumah saudara. Sudah boleh izin Stad?”

“Nanti Kram 30 menit lagi, cepat-cepat banget mau izinnya”

“Iya Stad gapapa, saya duduk dulu di sana ya mau baca novel dulu”

“Oh iya silahkan!”

Kubuka tasku dan langsung mengambil buku novel karya J.R.R.Tolkien yang berjudul “The Lord Of The Rings the fellowship of The Ring”. Tanganku langsung membuka halaman 409 yang bertuliskan ‘Bab 6 LOTHLORIEN’, di halaman itu juga ada sebuah pembatas buku yang sengaja kuletakkan saat di asrama sebelum bersiap-siap izin keluar asrama. Ada empat buah pembatas buku yang kusimpan, dengan ukuran yang sama di halaman yang sama. Lalu kubaca buku itu sampai tiba waktunya para siswa SMART boleh izin keluar asrama yaitu pukul 08.00 WIB.

“Kak Vi gak keluar?” sapa teman ku Azzam.

“Oh Azzam, keluar kok. Kalo kamu keluar gak Zam?” tanyaku pada Azzam.

“Keluar dong, mau silaturahmi ke rumah keluarga di Jakarta, kalo kamu ke mana kak Vi?”

“Ke Cibinong ke rumah saudara, ke Jakarta naik apa Zam?”

“Naik motor, nanti ada paman yang jemput.”

“Ooh, oke deh. Sudah boleh keluar belum nih?” tanyaku

“Kayaknya sudah boleh, coba saja tanya ustad sekuriti!”

“Oke lah kutanya dulu ya Zam”

Aku berjalan mendekat ke petugas keamanan yang tadi pagi kusapa. Kulihat dia sedang membaca koran “Radar Bogor” hari ini dengan sangat serius. Matanya dengan sangat cepat melirik kiri-kanan berita yang terpampang pada lembaran koran. Sesekali beliau mengambil secangkir kopi hangat yang ada diatas mejanya. Lalu segera menyeruput kopi itu dan meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja.

“Permisi Ustad, udah boleh keluar blom Stad?” tanyaku pada beliau.

“Oh Vikram, udah boleh kok, silahkan taruh aja di atas meja kartu izinnya!”

“Iya Stad makasih,” tersenyum sambil meletakkan kartu kuning yang tadi pagi kupegang.

“Oh iya sama-sama,” tetap menatap lembaran koran dengan kepala mengangguk-angguk.

Gerbang yang sedari tadi sudah terbuka lebar ku lewati dengan berjalan santai sampai ke pinggir jalan. Di sana aku menunggu sebuah angkutan umum yang dapat membawaku berangkat menuju Cibinong. Aku merogoh saku celana bagian kanan untuk mengecek apakah masih ada uang Rp 10 ribu yang sudah ku siapkan untuk membayar ongkos Bus Pusaka. Juga kucek saku celana bagian kiri untuk mengecek uang Rp 5 ribu yang sudah kusiapkan untuk ongkos angkot menuju Cibinong saat nanti tiba di jalan baru.

Beberapa saat kemudian, tampaklah sebuah Bus Pusaka berjalan mendekatiku. Dengan tangan sakti yang melambai-lambai kuhentikan bus tersebut tepat di pinggir jalan tempatku berdiri. Seketika aku naik ke dalam bus itu dari pintu bagian depan dengan mendahului kaki kanan dan memegang tiang bus tersebut. bus langsung melaju begitu aku sudah ada di dalam. Sang kenek bus penagih tarif menghampiriku dan mengulurkan tangan kanannya, tanda meminta ongkos.

“Nih bang uangnya,” kataku sambil memberikan uang Rp 10 ribu kepada kenek bis.

“Wah kurang dek, 5 ribu lagi,” meletakkan uang Rp 10 ribuku di tangan kirinya.

“Lah bukannya biasanya segitu bang, saya juga Cuma sampe Jalan Baru,” sedikit kesal.

“Sekarang Lebaran dek, tarifnya naik,” masih menyodorkan tangan kanan menagih 5 ribu uangku.

“Nih bang,” memberi uang Rp 5 ribu yang kuambil dari saku celana bagian kiriku.

Di sinilah aku sekarang berada, dalam Bus Pusaka yang sempit. Berdiri beberapa meter dari pintu Bus bagian depan. Aku lihat semua kursi penumpang sudah penuh di bagian kiri juga kanan. Sehingga terpaksa aku berdiri memegang kursi di sebelahku dengan tangan kanan dan menggenggeam tali tas yang kugendong di punggung dengan tangan kiri. Seketika bus berhenti mendadak, membuat tubuhku condong ke depan. Lalu naiklah seorang laki-laki dari pintu bagian belakang dan juga naik seorang pengamen di pintu bagian depan.

***

Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa wajah ku yang penuh peluh. Debu-debu berterbangan mengikuti arah angin bertiup. Batu kerikil juga patahan batu bata tetap terdiam menatapku. Daun kering yang berjatuhan dari pohon besar tertiup angin menimpa kepalaku. Seorang anak kecil ternganga melihatku sambil menegakkan sepedanya yang tadi sempat terjatuh ditabrak sang pencopet. Badanku masih berdiri kokoh dengan kedua tangan mengepal. Sebuah tas cantik berwarna keemasan tergeletak satu meter di depanku.

Kakiku mulai berjalan menuju tas yang tergeletak di depanku. Tanganku mengambil tas itu dengan hati-hati, lalu aku mendekat ke anak kecil yang ternganga melihatku.

“Kamu gapapa dek? Ada yang terluka gak?” tanyaku padanya.

“Gapapa kok kak, tapi kakak keren lo tadi, penjahatnya langsung kabur. Tapi tangan kakak berdarah tuh,” menunjuk-nunjuk ke tangan kiriku.

“Aduh, kok kakak baru tau kalo tangan kiri kakak berdarah,” ucapku sambil memegang tangan kiri.

“Kakak sih keasikan melawan penjahat tadi”

“Oh ya udah deh, kamu pulang dulu sana, ntar dicariin sama orang tuamu!” seruku pada anak kecil itu.

“Iya kak, jadi pahlawan terus ya kak! Nama saya Mim, kakak siapa?”

“Nama kakak Vikram, udah gih sana pulang!”

“Iya kak, dadaa…” sambil pergi meninggalkan ku dengan sepeda warna hitamnya.

Masih dengan memegang tas si ibu, aku berdiri tegap di tempat perkelahian singkat itu. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku untuk membuka tas si ibu dan mengambil isinya. Dari luar terlihat tas itu memiliki isi yang sangat berharga. Kemungkinan besar ada banyak uang di dalamnya. Sehingga aku bisa pulang ke asrama. Tapi hati nuraniku berkata lain, menyuruhku untuk mengembalikan tas itu pada pemiliknya. Sehingga terjadilah perang batin antara aku dan aku. Yaitu sisi baikku melawan sisi burukku.

 

Ambil aja Vikram, lumayan lho bisa buat mengganti uangmu yang dicopet tadi di bus. Tak ada yang lihat kok!

            Jangan Vikram! Tidak baik, itu dosa,dosa, ingat Allah selalu melihatmu. Itu juga bukan hakmu, kembalikan saja kepada pemiliknya.

 

            Akhirnya ku putuskan untuk mengembalikan tas itu. Aku berjalan mencari ibu pemilik tas ini melewati jalan yang telah ku lalui tadi. Dengan sedikit berlari, akhirnya aku menemukan ibu pemilik tas ini sedang duduk tertunduk di tempat aku tadi membaca buku. Perlahan aku mendekati ibu dan tiba-tiba saja beliau sudah menoleh ke arahku. Entah apa ekspresi wajah yang tampak dari wajah si ibu, sebuah ekspresi yang sangat berbeda dari ekspresi saat sebelum beliau menoleh ke arahku. Beliau terlihat senang, namun aku tak dapat melihat lebih jelas ekspresinya, karena kerudung yang menghalangi sebagian wajahnya itu.

“Assalamualaikum bu, maaf ini tas ibu bukan?” tanyaku sambil menyodorkan tasnya.

“Walaikumsalam dek, iya itu tas saya, makasih ya dek,” ucap si ibu sambil menerima tas yang kuberikan.

“Maaf bu, Ibu liat buku novel “Api Tauhid” yang jatoh di sini gak?” tanyaku

“Maaf dek ibu gak liat”.

 

Duh gimana, uang dicopet, gak bisa pulang ke asrama,buku novel punya temen juga hilang.

 

“Oh ya dek, ini ada sedikit uang buat kamu, ibu mau pulang dulu, makasih ya sudah bantu ibu” kata Si ibu sambil memberikan uang Rp 300 ribu kepadaku.

“Makasih bu, makasih” kataku sambil tersenyum dan langsung menerima uang yang diberikan oleh si ibu.

Si ibu berpamitan kepadaku dan pergi begitu saja naik angkot ke arah Cibinong. Kali ini suasana hatiku sungguh senang setelah mendapatkan uang 300 ribu. Langsung saja uang itu aku simpan di dalam tas. Biasanya jika mendapatkan uang bernilai besar, aku menyimpannya pada sebuah halaman di buku yang ada dalam tasku. Tanpa pikir panjang lagi Aku ambil buku novel “The Lord Of The Rings” yang ada di dalam tas, dan ku buka halaman terakhir yang tadi pagi aku baca di pos keamanan. Tak disangka-sangka ternyata uang Rp 215 ribu yang aku kira hilang atau di copet ada di dalam buku tersebut. Ada empat lembar uang ribuan, yang pertama dua lembar uang Rp 100 ribu, lalu selembar uang Rp 10 ribu, dan terakhir selembar uang Rp 5 ribu. Ternyata aku hanya lupa meletakkan uang, karena tadi pagi uang Rp 215 ribu ini aku jadikan pembatas buku novel yang ku baca.

***

Kini aku berjalan ke arah Parung untuk pulang ke asrama. Dengan hati yang senang aku berjalan sambil bernyanyi-nyanyi dan tersenyum sendiri. Prasangkaku selama ini ternyata salah, sudah seharusnya aku berterima kasih kepada Allah atas semua nikmat yang di berikan-Nya. Juga selalu berprasangka baik dalam situasi apapun.

“MATI LOE!!!” teriak seorang laki-laki yang tadi mengambil tas Si ibu tepat di belakangku.

“GUBRAK!!!” aku terjatuh ke tengah jalan raya, karena sebelum aku menoleh ke arahnya dia sudah mendorongku dengan kuat.

“HAHAHA, MAMPUS!!!” teriak pencopet yang mendorongku itu.

“Tin tin..” suara klakson motor yang langsung membelokkan stangnya.

“Tuun Tuuun…” terdengar di kejauhan suara mobil Bus Pusaka yang berjalan cepat kearahku.

“AWH SAKIT!” teriakku saat kakiku tergilas ban mobil Kijang Innova berwarna perak yang melaju kencang tanpa memperlambat kecepatannya.

“Tuun Tuuuuuuuuunnnnn,” suara klakson Bus Pusaka semakin terdengar keras dan sedetik kemudian bus itu sudah berada di depan mataku. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa memejamkan mata tanda sudah pasrah dengan semua takdir ini.

“VIKRAM,VIKRAM!” terdengar sayu suara yang memanggil-manggil namaku itu. Seperti suara seseorang yang sangat dekat denganku. Setelah lama memejamkan mata, aku terkaget dan langsung membuka mata lebar-lebar. Disekelilingku penuh dengan warna putih, aku hanya menatap ke depan, ya penuh warna putih yang menyilaukan.

“Vikram, bangun sudah subuh, sudah azan, turun cepat, wudhu!” ucap salah seorang teman sekamarku yang berhasil mengagetkanku dengan memukul-mukul ranjang besi tempatku berbaring sejak tadi malam.

“Apaan sih, lagi enak-enak mimpi dibangunin,” ucapku langsung padanya setelah tubuhku berada tepat dalam posisi duduk menghadapnya.

“Cepat turun, nanti masbuk tidak bisa izin keluar lho, sudah sadar belum?” tanyanya padaku.

“Iya iya, nih mau turun, sudah udah sadar kok,”  jawabku sambil turun dari ranjang besi itu.

Langsung saja aku menuju kamar mandi untuk membasuh wajah dan segera berwudhu. Subuh ini hawa dingin sungguh menusuk tulang tubuhku. Dengan sedikit menggigil, aku segera berjalan menuju kamar sehabis berwudhu untuk bersiap-siap ke masjid melaksanakan Shalat Shubuh. Di kamar aku langsung menuju lemari kayuku dan membuka pintunya dengan tangan yang sedikit bergetar. Di sana aku coba memilih baju yang pantas untuk shalat ke masjid. Namun pikiranku masih melayang-layang memikirkan mimpi tadi malam.

 

            Huh ternyata tadi cuma mimpi, Alhamdulillah tak tertabrak bus beneran. Tapi kok bisa kayak nyata gitu ya? Jadi kaget aku. Ya kaget.

 

Tamat