,

Kami Bangga Jadi Anak Kreatif

Kami Bangga Jadi Anak Kreatif

Dalam wacana kreativitas di dunia pendidikan, semangat mencoba dan mau tampil beda merupakan syarat utama untuk bisa mendalami dan menggelutinya. Banyaknya jam terbang dalam menjalaninya, juga bagian yang mampu menajamkan potensi diri menjadi inspirasi yang imajiner kala mengembangkan ide-ide segar. Berani memandang dari sisi yang bukan pada umumnya adalah bagian keunikan yang bersifat orisinal dan alamiah.

Inspirasi untuk memberdayakan siswa marginal yang tergabung di SMART Ekselensia Indonesia merupakan tantangan tersendiri. Bukanlah hal yang mudah untuk dapat mengembangkan bakat dan potensi mereka. Butuh berbagai variasi ketajaman teori perkembangan peserta didik dan keluasan referensi metode mendidik yang tidak hanya mengajar secara konvensional.

Sentuhannya bukan hanya semangat, melainkan juga tambahan suplemen pengorbanan dan tingginya tingkat kepedulian. Inilah perpaduan tangguh untuk menjadikan siswa kreatif. Bentuk inspirasi itu antara lain berupa gabungan mengolah sampah anorganik menjadi tampilan musik. Istilah yang sering dikenal orang banyak adalah trashic (trash music) atau musik sampah.

Awal kali gagasan ini dimunculkan memang cukup mengerutkan dahi yang mendengarnya. Bisa dibayangkan, panci bolong, wajan usang, pelek motor bekas, tempat jemuran, semua ini difungsikan sebagai perkusi. Ditambah ritmis suara yang mengaplikasi dari gema hukum fisika pada botol yang berisikan air. Alat-alat musik kagetan ini mampu mengeluarkan harmoni tangga nada yang memainkan peran sebagai melodi. Dan sebagai penguat semangat warna musik terdapat pada bas yang dimainkan dari tong plastik berkapasitas 100 liter, yang berteman setia pada jeriken minyak plastik berkapasitas 20 liter. Fungsi esensinya pada ritme keterpaduan cara pukul dan waktu masuk dalam satu alunan lagu.

“Kok bisa ya, Pak? Itu semua kan barang yang enggak layak pakai? Terus cara ngedapatinnya juga harus keliling satu RW, ya?”

Cetus keheranan salah satu anggota masyarakat itu bukan sekali saya dengar. Awalnya, sebagian (besar) orang memandangnya aneh bercampur heran, tapi berikutnya mereka akan memuji setelah alat-alat perkusi itu dimainkan oleh siswa SMART. Permainan musik ala siswa-siswa SMART ini pernah meraih penghargaan pemenang pertama dalam sebuah acara unjuk kreativitas di sebuah stasiun televisi  swasta nasional.

“Wah, keren-keren! Ini baru yang namanya kreatif. Jarang-jarang yang bisa kaya begini.”

Awal mula dibentuknya musik trashic ini berdasarkan pada keisengan siswa-siswa SMART. Sekolah ini memang berupaya menggali potensi kecerdasan siswanya, salah satu nya dalam bakat bermusik. Keisengan mereka berupa seringnya memukul-mukul bangku, meja, dinding pembatas kelas, bahkan ujung ballpoint dan pensil, menjadi inspirasi  untuk membuat satu alat musik yang dijadikan sebagai sarana hiburan mereka. Bakat-bakat siswa itu kemudian di berdayakan dalam satu wadah yang mendukung pembelajaran mereka di kelas. Tantangan kepada mereka untuk bisa mengaransemen satu lagu dalam wadah dan alat yang telah disediakan dari barang bekas tersebut ternyata disambut dengan penuh antusias.

Regenerasi tim yang ada juga sudah tertata dengan sistem yang cukup baik. Setiap angkatan baru masuk, semangat memainkan alat musik trashic sudah ditularkan. Dorongan memotivasi juga diembuskan kepada siswa kelas 1 itu dengan menjelaskan manfaat ikut bergabung dalam trashic.

“Selain waktu untuk berjalan-jalan semakin luas dan lama, tabungan kalian juga bisa bertambah banyak.” Kata-kata ini diberikan untuk membangkitkan ketertarikan para siswa.

Ya, karena bergabung dalam trashic memiliki keuntungan tersendiri. Selain mereka bisa menghibur orang lain, terkadang mereka menerima uang amplop dari pihak pengundang. Isi dalam amplop itu diatur seadil mungkin dalam pembagiannya. Dari lima tahun mereka berada di SMART, mereka akan menerima undangan untuk menghibur orang banyak dalam beberapa kali kesempatan. Dari pembagian ini, para siswa itu bisa menabung. Tabungan para alumni SMART sendiri cukup terbilang besar, setidaknya dalam ukuran mereka, yakni rata-rata satu juta rupiah.

Satu juta rupiah bagi anak-anak kota mungkin tidaklah besar. Namun, bagi siswa SMART, yang semuanya memang berlatar belakang anak marginal, satu juta rupiah adalah spirit, kesabaran, daya juang, ekspresi seni, dan semangat penuh ketangguhan. Satu juta yang dihasilkan dari niat yang tulus menghibur, berkampanye mengenai pemanasan global, peduli terhadap lingkungan, dan yang terpenting adalah usaha mereka untuk mau dan mampu menjadi manusia Indonesia yang mandiri, cerdas, dan penuh keimanan. []