Oleh: Rizki Uni Utami, S.Pd., Gr., Guru SMART

 

Ada yang ditunggu ketika momen Idul Fitri tiba, yakni mudik. Perantau akan pulang ke udik. Penjelajah akan pulang ke daerah asalnya. Begitu juga, anak-anak penuntut ilmu akan menantikan kembali ke rumah tercinta. Mudik identik dengan pergerakan massa yang masif. Semua jalan lintas provinsi dan kota akan ramai. Semua moda transportasi: darat, laut, dan udara akan menggeliat. Tapi sejarah sepertinya akan mencatat tahun 2020 adalah tahun tanpa mudik akibat pagebluk Covid-19 yang masih belum usai. Virus SARS-Cov-2 atau korona masih menghantui, tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Hal ini membawa imbas di pelbagai aspek ekonomi dan sosial.

 

Data Kementerian Perhubungan tahun 2019 menyebutkan bahwa ada 17,8 juta pergerakan manusia di akhir ramadan. Ini artinya ada aktivitas mudik dari suatu tempat ke tempat lain dengan segala moda transportasi. Angka ini adalah angka yang sangat mengkhawatirkan di tengah wabah seperti sekarang. Virus sangat mudah menyebar di keramaian. Pergerakan massa yang masif adalah lahan subur penyebaran virus berbahaya ini.

 

Data Gugus Tugas Covid-19 Republik Indonesia per 21 April 2020, menyatakan sudah ada 7135 kasus positif dengan jumlah kematian mencapai 616. Rasio penyebarannya di kisaran 8,6 persen. Artinya dari tiap 100 orang, akan ada 8 orang yang terinfeksi. Angka ini jelas mengkhawatirkan. Data per 21 April 2020 dari CEBM Oxford, Indonesia menempati peringkat 10 global rasio kematian dengan yang terinfeksi korona (Case Fatality Rate).

 

Tingkat fatalitas dari Covid-19 akan semakin meningkat jika langkah pencegahannya tidak segera dilaksanakan. Dengan tertatih-tatih, Indonesia akhirnya melakukan kebijakan untuk mengurangi laju penyebaran virus dengan berbagai cara, di antaranya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), Work From Home, dan pembelajaran daring untuk siswa sekolah. Ikhtiar ini diselaraskan dengan ikhtiar global yakni pembatasan fisik (physical distancing).

 

Dompet Dhuafa Pendidikan, sebagai salah satu pilar program pemberdayaan Dompet Dhuafa memiliki program SMP dan SMA SMART Ekselensia Indonesia, yakni sebuah program beasiswa untuk anak-anak dhuafa dari seluruh Indonesia. Program ini menempatkan siswa untuk tinggal dalam asrama sebagai bagian dari proses pembinaan. Setiap tahunnya, mudik bagi siswa yang tinggal di asrama, terutama siswa SMART Ekselensia adalah hal yang ditunggu-tunggu. Kerinduan akan keluarga adalah hal utama yang ditunggu-tunggu setiap siswa. Berkumpul dengan sanak keluarga menjadi panggilan hati yang tidak bisa disia-siakan begitu saja.

 

Akan tetapi situasi berubah 180 derajat di tahun ini. Situasi pagebluk Covid-19 membuat siswa di sekolah berformat asrama menjadi sangat tidak direkomendasikan untuk mudik. Hal ini membuat aktivitas mudik menjadi sangat tidak dianjurkan. Belakangan, pemerintah akhirnya melarang secara resmi kegiatan mudik lebaran per 24 April 2020 sebagai upaya menekan angka penularan virus korona di masyarakat.

 

Begitu pun dengan siswa SMART Ekselensia Indonesia, mudik ditiadakan di momen Idul Fitri 2020 ini. Hal ini tentu berat untuk mereka. Kerinduan kepada keluarga menjadi hal yang sangat utama. Sebut saja Rian. Ia menyatakan keinginannya untuk bisa pulang ke kampung halamannya meskipun situasi tidak memungkinkan.

 

“Kangen sama orang tua”, ujar siswa asal provinsi Bali itu.

 

Ia melanjutkan, “sudah hampir setahun tidak bertemu”.

 

Lain hal dengan Syarif, siswa asal Sulawesi Tenggara. Ia bisa memahami situasi untuk tidak mudik karena banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi

 

“Karena mudik sendiri lebih banyak efek sampingnya. Bisa jadi saya yang bawa virus korona ke rumah dengan situasi (fisik) orang tua yang mungkin sudah melemah” ujar siswa yang kerap meraih medali dalam kompetisi pencak silat dan atletik tersebut.

 

Apa yang dirasakan Rian dan Syarif tentu mewakili 198 siswa di asrama SMART Ekselensia Indonesia yang berasal dari 28 provinsi. Kerinduan untuk pulang harus ditahan karena situasi tidak memungkinkan. Mereka menahan rindu sejenak untuk mengalahkan pandemi.

 

Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di jalan. Jangan sampai kita hanya bisa menyesal di kemudian hari akibat tidak mematuhi larangan mudik.

 

This too shall pass.

 

**