Kangen Masakan Bunda

img-20161031-wa0007

Oleh: Syafei Al Bantanie, GM Sekolah Model.

Pernahkah Bunda mengalami suatu hari setelah memasak masakan kesukaan anak Bunda, lalu menelpon anak remaja Bunda dan terjadilah dialog seperti ini,

Bunda  : “Nak, sekolahnya sudah pulang kan? Sudah sampe mana?”
Anak  : “Iya, Bun. Sekolah sudah bubar. Tapi, maaf Bun, aku nggak langsung pulang ya. Sekarang aku lagi jalan sama temen-temen mau makan ke Hokben.”
Bunda  : “Oh gitu ya? Padahal, Bunda sudah masak masakan kesukaanmu, lho.”
Anak  : Oh, gitu ya, Bun. Kalau gitu, oke deh aku segera pulang ya Bun. Bunda jangan makan dulu ya. Tungguin aku. Nanti kita makan bareng.”

Lalu, anak Bunda bilang ke teman-temannya, “Teman-teman, maaf ya aku nggak jadi ikut ke Hokben. Bundaku sudah masak masakan kesukaanku.”

Bunda yang baik, bagaimana perasaan Bunda saat merasakan pengalaman seperti itu? Tentu merasa dihargai kan? Jerih payah Bunda dalam memasak tidak sia-sia. Karena, anak Bunda lebih memilih pulang dan makan di rumah daripada makan bersama teman-temannya. Inilah rahasianya mengapa Bunda mesti bisa memasak.

Memang secara Fiqh memasak bukan lah kewajiban seorang istri atau Ibu. Artinya, seorang istri atau Ibu bisa mewakilkan kepada khadimat (pembantu). Namun, dalam perspektif pengasuhan anak, memasak adalah keterampilan yang penting dikuasai oleh seorang Ibu. Karena, setelah yurdhi’na, masakan Bunda lah yang membuat anak kangen pulang.

Bukankah kita yang sudah dewasa saja, seringkali kangen masakan Ibu kita. Dan, saat akan pulang kampung, kita memesan kepada Ibu untuk dimasakkin masakan kesukaan kita? Ini menjadi bukti nyata bahwa masakan Ibu adalah pengikat emosi agar anak kangen pulang. Bahkan, saat diajak makan di luar oleh teman-temannya sekalipun, anak lebih memilih pulang dan menikmati masakan Bundanya.

Mengapa masakan bisa menjadi ikatan emosi antara anak dan Bundanya? Karena, dalam memasak tidak sekadar menyiapkan makanan, melainkan ada bukti cinta di sana. Cinta dan kasih sayang seorang Bunda kepada anak-anaknya. Maka, memasak menjadi hal yang mengasyikkan dan membahagiakan. Terbayang saat masakan sudah matang, lalu anak-anaknya menyantap masakan buatannya dengan lahap diiringi pujian anak kepada Bundanya.

Ah, sungguh ini sangat bermakna sekali bagi seorang Bunda. Pun, masakan tersebut bernilai istimewa bagi si anak. Bukan masakan yang mahal-mahal. Bisa jadi masakan ikan asin, sayur asem, tempe, sambal, dan lalapan terasa nikmat sekali mengalahkan masakan produksi hotel bintang lima sekalipun. Di sinilah ikatan emosi antara Ibu dan anak dirajut lebih erat lagi setelah yurdhi’na.

Anak saya, Nasywa Aqeela Mazaya El-Humayra, usianya lima tahun, saat sedang asyik main dengan temannya, lalu Bundanya memanggilnya untuk makan siang. Terjadilah dialog seperti ini,

Bunda  : Teteh Nasywa, pulang yuk makan dulu. Bunda masak ayam kecap kesukaan teteh.”
Nasywa : “Yang bener, Bun, Bunda masak ayam kecap?”
Bunda  : “Iya, Bunda masak ayam kecap. Ayo pulang yuk, makan.”
Nasywa : “Oke, Bun. Teteh pulang.”

Nasywa pun makan dengan lahap. Setelah menikmati masakan Bundanya, tak lupa Nasywa mengucapkan terima kasih kepada Bundanya. Kalimat polos itu berbunyi, “Bunda, makasih sudah masakin buat Teteh Nasywa. Masakan Bunda enak banget.”

Kelak, saat remaja, bahkan hingga dewasa, memori nikmatnya masakan Bunda ini menjadi kenangan indah yang ingin diulang kembali. Makanya, meski sudah beranjak remaja atau bahkan dewasa, anak tetap kangen pulang. Berjumpa dan menikmati masakan Bundanya yang ngangenin.

Karena itu, sesibuk apapun Bunda berkarier, sempatkanlah masak untuk anak-anakmu. Jangan relakan anak-anakmu tumbuh besar dengan masakan pembantu. Harus masakan Bunda yang disantap anak-anakmu agar terjalin ikatan emosi yang kuat. Maka, Bunda yang baik, selamat memasak masakan kesukaan anak-anakmu ya!

Semoga kau menjadi Bunda yang selalu dirindukan anak-anakmu karena kesediaanmu memasak masakan kesukaan mereka dengan penuh kecintaan.