,

Karena Perjuangan Pasti Berbuah Manis

Karena Perjuangan Pasti Berbuah Manis

Oleh: Devon, Alumni SMART Angkatan X berkuliah di Undip 2018

 

Kisah kami dimulai dari kelas akhir pada awal semester dua. “Anak-anak, bimbel  (bimbingan belajar) akan dimulai pada Senin depan ya,” itulah kalimat sakti dari Ustazah Ulfi, kalimat yang membuat siswa kelas akhir harus merelakan waktu paginya untuk mempelajari materi SBMPTN. Di saat yang lainnya berangkat ke sekolah pukul 06.30, kami, siswa akhir harus berangkat pukul  06.00. Udara Bogor yang dingin kerap kali membuat kami enggan untuk menyentuh air yang sedingin es. Namun, kami harus tetap memaksakan diri untuk selalu mandi, menata kamar, dan merapikan tugas-tugas sepagi itu. Jika dihitung-hitung, waktu persiapan kami hanya sekitar tiga puluh sampai empat puluh menit saja. Otomatis, kami harus melaksanakan semua lis di atas dengan cekatan. Mungkin pada waktu itu saya berpikir bahwa hal itu sangat melelahkan, menjalani hari-hari dengan sedikit malas, dan menganggap semua itu sia-sia. Namun, akhirnya saya menyadari bahwa semua yang saya lakukan waktu itu membuahkan hasil yang baik serta membentuk kebiasaan diri menjadi lebih baik.

Pada saat melakukan  bimbingan belajar, kami dibekali dengan buku sakti, sebuah buku tebal berisi materi SBMPTN. Karena setebal bantal kadang kami jadikan alas kepala dikala belajar malam hari sampai tertidur. Buku ini harus kami bawa setiap hari pada saat bimbel dilaksanakan karena menjadi acuan kami pada saat pembelajaran. “SBMPTN itu levelnya lebih sulit, tidak seperti UN atau soal-soal lainnya, jadi kalian harus belajar lebih giat lagi,” ucap seorang ustazah yang membuat kami kembali merenung dan berpikir lebih keras. Ucapan terngiang terus dan membuat kami harus belajar lebih keraas bagai kuda.

Hari pun berlalu, ketika kami memasuki H-2 bulan menjelang UN dan SBMPTN kegiatan belajar mengajar di kelas mulai dikurangi karena materi pelajaran reguler telah kami selesaikan dan digantikan dengan mendalami soal-soal UN dan SBMPTN. Memasuki hari H kami, Angkatan X, berkumpul untuk mmbicarakan program yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan belajar kami. Seringkali kami berkumpul di malam hari. Kami menikmati sangat menikmati momen tersebut, momen yang mungkin tidak bisa kami dapatkan ketika kuliah nanti.

Jadwal kami sangatlah padat, bahkan di akhir pekan kami dihujani dengan berbagai latihan. Setumpuk jadwal try out kami laksanakan dengan sepenuh hati. Nilai-nilai try out tersebut nantinya menjadi acuan bagi kami dan pihak sekolah, kami berharap nilai tinggi tetapi kami harus realistis dengan nilai yang ada.

Kami dijadwalkan untuk melakukan bimbingan konseling dengan Ustazah Amal, Guru Konseling, hal itu dilakukan untuk mengarahkan minat kami, terlepas dari acuan nilai yang akan tetap dipakai unuk menentukan jurusan yang akan kami pilih. Pada sistem penyeleksian universitas terdapat jalur SNMPN sebelum SBMPTN, jalur ini merupakan jalur undangan tanpa tes, jadi kami para siswa hanya memasukkan  nilai di web. Setelah itu, akan dipilih 50% dari total siswa untuk selanjutnya diseleksi dengan siswa lain se-indonesia. Saya pada awalnya berniat untuk masuk ke jurusan Teknik Kimia di Universitas Diponegoro, universitas ini berada di luar daerah SMA saya, sehingga kurang menguntungkan jika dipilih di jalur SNMPTN. Saya memang sedikit berharap masuk ke 50% siswa tersebut tetapi saya masih bingung jurusan apa yang akan saya ambil, jika saya tetap pada jurusan yang saya hendaki, kemungkinan untuk lolos sangat kecil.

Awalnya saya bingung, apakah saya akan tetap pada pilihan atau mencoba mencari pilihan lain. Untuk meminimalisasi kebingungan akhirnya saya berkonsultasi dengan guru konseling lagi, meminta saran orangtua, dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Alhasil, di jalur SNMPTN saya hanya memilih satu jurusan, yaitu Teknologi Pangan Universitas Padjajaran. Saya merelakan keinginan saya demi kemungkinan yang lebih besar.

Tibalah di saat pengumuman SNMPTN, kami semua yang mengikuti jalur ini cukup cemas, khawatir tidak lolos. Benar saja kecemasan saya menjadi kenyataan, saya tidak lolos. Itu artinya saya harus mengikuti SBMPTN. Saya mulai membangun semangat dan strategi baru yang telah runtuh, saya berkeyakinan untuk masuk di jurusan yang saya minati. Semoga jodoh untuk berkuliah di Undip tercapai.

Strategi yang saya terapkan salah satunya ialah mulai menambah jam belajar. Saya belajar lebih keras lagi untuk mencapai mimpi itu, setiap malam saya menyempatkan diri untuk membaca materi, mengerjakan beberapa soal, menanyakan bagian-bagian yang masih kurang saya pahami kepada teman-teman yang lebih paham, dan meminta bimbingan secara pribadi kepada seorang guru untuk menyelesaikan soal-soal yang belum mampu saya kerjakan.

Usaha telah saya lakukan dengan maksimal. Saya juga tak henti berdoa dan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar saya dan teman-teman diberikan yang terbaik, dimudahkan dalam belajar, dan mampu mengerjakan soal dengan baik. Ujian SBMPTN dilaksanakan tiga hari setelah wisuda dilaksanakan, kami memang harus meluangkan diri untuk mempersiapkan wisuda tetapi tetap tidak boleh lalai untuk terus belajar. Wisuda yang kami laksanakan menjadi semakin mencekam, mengingat sebentar lagi ujian tulis dilakukan.

Pada saat ujian, kami dibagi ke beberapa tempat. Saya di tempatkan di salah satu SMK di Bogor. Kami berangkat pagi-pagi agar bisa mencari tempat duduk yang sesuai dengan nomor pendaftaran. Waktu ujian masih lama, sehingga kami tak henti-hentinya memanjatkan doa dan mengatur hati agar tidak minder ketika melihat saingan darin sekolah lain. Saya mengerjakan tes tulis sepenuh hati, semua soal saya isi sekalipun beberapa soal kurang yakin, tapi  dengan Bismillah saya isi sebaik-baiknya.

Setelah ujian, kami hanya bisa bertawakal, menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Kami hanya bisa berdoa terus menerus, berharap semua dari kami lolos di jalur ini. Pengumuman yang berjarak cukup lama dari jadwal tes tulis membuat kami tak tenang dan harap-harap cemas. Kami tetap optimis dan berdoa agar hasilnya memuaskan.

Pengumuman yang dinantikan tiba. Kami tak sabar ingin melihat hasil yang kami dapat tetapi kami juga cemas apabila tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Beberapa dari kami takut untuk memasukkan nomor pendaftaran kami untuk melihat pengunguman, beberapa dari kami menunggu yang lainnya. Saya, termasuk yang legowo, saya langusung saja memasukkan nomor pendaftaran dan tanggal lahir. Web yang saya akses tidak merespon, wajar saja ribuan bahkan jutaan yang lain juga sedang beraa di depan layar, mengakses web yang sama dengan perasaan yang sama. Hal ini membuat perasaan semakin tak karuan. Dan akhirnya, saya melihaat layar saya, tertulis “SELAMAT Anda lullus dalam seleksi SBMPTN…” saya berteriak dan memeluk ibu saya sembari menangis bahagia. Mungkin benar, saya ditakdirkan untuk masuk di jurusan dan kampus ini, mungkin benar apa yang dikatakan teman saya, bahwa jodoh saya mungkin di situ, maka semoga di sana saya mendapatkan keberkahan.

Beberapa dari kami memang belum lolos, tetapi masih bersemangat dan berusaha untuk mendapatkan kampus yang diminati. Berbagai ujian pun dilakukan. Jadi saya masih tetap berdoa bagi kesuksesan saya dan teman-teman saya, terkhusus bagi teman-teman saya yang masih belum lolos di seleksi SBMPTN. Saya juga berharap, saya dapat menjalani pendidikan saya nantinya dengan penuh keberkahan, mendapatkan kemudahan dalam segala urusan nantinya, dan semoga jalan saya ini membimbing saya untuk menjadi orang yang berhasil di masa depan.