Kebersamaan yang Tak Tergantikan

Cover

Tsaury Syidad Putra Sopiandy. Nama itu terpampang di papan pengumuman Pulang Kampung rombongan Bandung. Nama itu milikku, aku duduk dikelas XI jurusan IPA, Angkatan 10. Setahun lamanya aku tak menginjakkan kaki di Kota Kembang dan merasakan kehangatan rumah yang dulu senantiasa menyelimutiku.

Satu, dua, tiga. Hanya tiga minggu saja waktuku menikmati hangatnya kebersamaan dan tawa canda keluarga di rumah, momen yang teramat indah. Sayang dua minggu telah berlalu, di minggu ketiga ini aku telah menjadwalkan untuk pergi melancong bersama seorang kakak kelas dan seorang alumni SMART Angkatan 8.

***

ts2

Kamis (11-01) aku bersama kedua kakak kelasku; M. Syahid Fathurrizqi (Angkatan 9) dan Wildan Khoirulan’am (Angkatan 08), telah menyusun rencana matang untuk perjalanan kami kala itu. Aku senang karena di liburan #PulangKampungnyaSMART tahun ini kak Wildan yang berkuliah di UNPAD sedang libur juga, jadi kami bisa pergi bersama-sama. Namun hampir saja rencana itu sirna karena ayahku pada hari yang sama harus pergi ke Dumai, Riau. Alhamdulillah ternyata jadwal keberangkatan ayahku dan jadwal keberangkatanku berbeda, ayah pergi pukul 01.00 dini hari sementara aku siang hari. Tetapi karena khawatir aku takkan sempat berpamitan maka kuputuskan untuk tidak tidur.

01.20 dini hari ayahku pergi, sebelum pergi beliau memelukku dengan hangat. Aku sedih karena pelukan ini hanya bisa kurasakan setahun sekali. Agar terlihat tegar kutunjukan wajah ceria, aku tak ingin beliau melihatku sedih. Diantara pelukan hangatnya ayah juga menyelipkan nasihat agar aku menjaga diri dan senantiasa mendoakannya (meski hal itu akan aku lakukan tanpa ia minta). Mungkin hanya itu yang dapat beliau sampaikan karena selebihnya pasti ibuku yang berbicara padaku di lain waktu hehe. Keberangkatan ayah jelas membuatku dirundung sedih namun rasa kantukku sungguh tak tebendung, akhirnya aku tertidur hingga Azan Subuh berkumandang.

 

Saat azan berkumandang, aku pun bergegas mengambil air wudhu dan pergi ke masjid untuk memenuhi panggilan Sang Khaliq. Selepas salat dan berdo’a aku kembali ke peraduan sebagai pengganti jadwal tidurku yang hilang.

***

Aku terbangun ketika jam menunjukkan pukul 11.30, aku baru ingat bahwa siang ini kakak kelasku akan datang menjemput untuk pergi melancong. Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang sudah delapan belas jam tidak dibersihkan. Lalu mengambil gawai untuk mengonfirmasi keberadaan mereka. Tiba-tiba LINE-ku berbunyi, ternyata ada pesan dari kak Wildan, ia menanyakan apakah hari ini jadi jalan-jalan atau tidak. Langsung saja kubalas, “ya jadi kak”, sembari menanyakan lokasi ia saat ini. Tak lama aku mendapatkan balasan bahwa kak Wildan sedang berada di warnet. Aku pun menggelengkan kepala sembari menggaruk rambut yang tidak gatal.

 ***

Rencananya liburan ini kami ingin  berangkat menggunakan motor, tapi ibuku tidak mengizinkanku untuk menggunakan motor. Ditambah siang ini ibuku sedang mengikuti pengajian rutin bulanan, untungnya ibuku datang ketika kak Fathur dan kak Wildan selesai makan di rumah. Selesai Salat Asar, aku mencoba membujuk ibuku agar mengizinkan menggunakan motor. Hasilnya ibu setuju, dengan syarat kak Wildan yang harus mengendarai motor, menurut ibu kak Wildan lebih pantas karena telah memiliki SIM dan hal tersebut membuat beliau tenang. Aku hanya manggut-manggut setuju.

ts4

ts5

Pukul 17.00 WIB, kami sampai di rumah kak Fathur yang akan menjadi base camp kami sampai esok pagi. Setibanya di sana kami bertemu sebentar dengan ayah kak Fathur, setelah itu kami menuju pasar untuk membeli persediaan makanan. Rencananya kami akan membakar ikan bawal, tetapi kondisi pasar tidak mendukung karena kios-kios sudah tutup dan kami pun membeli setengah dari setengah kilogram daging ayam, roti, keripik pedas, dan seliter setengah air mineral.

***

Malam tiba, api membara.

Kami pun membakar ayam yang sebelumnya kami rebus dengan kuah kopi, entah apa tujuannya yang jelas itu ekspresi kami para pencinta kopi. Kami membagi tugas, aku merebus ayam dan memotong sayur sebagai bahan membuat karedok; kak Wildan menyiapkan bumbu karedok dan ayam bakar; sementara kak Fathur bertanggung jawab atas sumber daya api. Menyiapkan semua bahan yang kami butuhkan dan melakukan proses memasak memerlukan waktu yang cukup lama, namun hanya butuh lima belas menit untuk menghabiskan semuanya. Perut kami kembung karena kekenyangan karena sebelum menyantap ayam bakar dan makanan lainnya, kami telah menyantap roti dan meminum segelas kopi di pertengahan magrib dan isya.

Malam sudah terlalu larut, kenyang sudah ini perut, mata pun akhirnya menutup.

ts3

***

Aku terbangun karena leherku sakit. Kulirik jam di dinding, waktu masih menunjukan pukul 02.00. Kucoba memejamkan mata ini kembali, tapi ia menolak untuk tidur kembali. “Sudahlah aku pasrah,” aku hanya bisa membatin. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu meski air sangat dingin. Lalu aku bersujud kepada-Nya dan memanjatkan satu per satu do’a.

Dua jam berlalu kami, kakak kelasku akhirnya bangun,mereka iba dengan kejadian yang aku alami. Selesai Salat Subuh kami sarapan ringan dengan susu sereal dan biskuit, lalu membereskan rumah yang terlihat seperti kapal pecah karena ulah kami. Setelah matahari terbit, kami siap pergi ke tempat wisata, tetapi sebelumnya kami pamitan terlebih dahulu kepada orangtua kak Fathur.

***

Kawah Putih, Cimanggu, Ciwalini, dan Situ Patenggang. Keempat tempat wisata itu menjadi destinasi melancong kami. Namun tak semua tempat wisata kami kunjungi karena masalah waktu dan uhuk uang hehe. Tapi kami senang kok. Sebenarnya kami berniat untuk masuk ke tempat wisata Kawah Putih namun ada hal lain terjadi sehingga kami memutuskan  untuk berswafoto di luar saja, untuk masuk ke Kawah Outih kamu harus membayar tiket Rp 35.000. Selanjutnya kami meluncur ke Situ Patenggang, sesampainya di sana kami hanya masuk sebentar, karena ingin cepat-cepat untuk berenang di kolam air panas Ciwalini. Sekadar informasi untuk kalian harga tiket masuk ke Situ Patenggang yakni Rp 18.000.

ts6 ts7

***

Perjalanan dari Situ Patenggang menuju Ciwalini sungguh berbeda karena kali ini  akulah yang harus membonceng kak Wildan, alasannya sederhana karena kak Wildan pegal dan selain itu karena aku ingin merasakan sensasi mengendarai motor di daerah pegunungan yang suhunya rendah. Wuiih sensasinya, cetaaaar.

Sesampainya kami di Ciwalini, kami langsung menuju pos penjualan tiket dan membayar tiket seharga Rp 20.000 dan plus Rp 3000 untuk motor. Kemudian kami segera mencari tempat parkir motor, anehnya ketika sampai di gerbang tidak kami lihat petugas satu pun. Kami masuk ke area kolam dan hanya melihat tiga pengunjung lain. Kami seakan tak peduli dan langsung mencari posisi strategis, kami memasukkan badan kami secara perlahan-lahan karena suhu air kolam berbanding terbalik dengan suhu udara yang kami rasakan, Alhamdulillah hanya butuh waktu dua menit untuk menyesuaikan semuanya. Berada di kolam Ciwalini membuat kami makin bersyukur bahwa hidup ternyata indah. Eh tapi kami lupa kalau belum makan hmm. Setelah badan segar kami mampir ke sebuah warung di samping kolam dan memesan  mie dan bakso cuanki seharga Rp 11.000. Puas berenang dan makan segera saja kami menuju tempat parkir motor dan pulang. Dikejauhan  Ciwalini perlahan-lahan hilang dari pandangan. Di tengah perjalanan Allah memberi kami sesuatu yang tak terduga dan niatkan sebelumnya.

ts8

ts9

ts10

Hujan. Iya hujan.

Kak Fathur menyarankan kami untuk menunggu hujan hingga reda. Aku dan kak Wildan sepakat, kami berteduh di sebuah rumah makan. Akhirnya kami memutuskan untuk memesan menu sederhana karena kami berekspetasi harganya akan mahal. Kami memesan tiga porsi nasi putih, dan seporsi sate sapi. Benar saja, ketika hendak membayar kami kaget karena harganya cukup mahal. Tapi tak apalah karena rasa masakannya untuk kami enak, setelah membayar hujan pun reda dan kami kembali menuju tempat kami semula.

 

ts12

ts13

***

Pulang Kampung tahun ini sungguh menggembirakan, tak sedikit pun lelah dan letih ini kurasa karena kebahagiaan yang membuncah. Kebersamaan yang kami miliki semoga bisa bertahan hingga kami tua nanti.

 

Soreang, Kabupaten Bandung

Salam hangat,

Tsaury Syidad Ps