Kehidupanku Sebagai Mahasiswa dan Kenanganku di SMART

Kuliah. Masa perubahan status, siswa menjadi ‘maha’siswa. Ya, kini aku adalah seorang mahasiswa. Saat paling tepat untuk membentuk diri, menentukan seperti apa diriku ke depannya. Bertansformasi, layaknya sebuah gerabah yang baru keluar dari cetakannya. Sukses terbentuk menjadi sebuah kendi yang indah, atau pecah karena tak mampu bertahan dalam tungku pembakaran.

Masa-masa akhir di kelas lima di SMART Ekselensia Indonesia. Walaupun nilai UN-ku tidak cukup memuaskan. Meskipun aku tidak lolos dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan. Aku merasa sangat bersemangat. Seorang remaja yang selama lima tahun terakhirnya selalu diawasi, dibina, diatur, dan didukung, akan tiba saat baginya dilepaskan. Menuju fase kehidupan selanjutnya. Mengawasi dan mengatur setiap hal yang dilakukan diri. Mencari dukungan dan membuat dukungan untuk diri agar bisa menemukan jalan terbaik bertahan di jalan itu.

Kini aku berada di posisi itu. Saat aku bebas mengatur diri. Memilih tempat. Mencari suasana. Terkadang untuk membuat diriku berada di lingkungan yang baik. Namun, terkadang pula hanya untuk membuat diriku nyaman. Entah itu baik atau buruk. Sangat sulit. Benar-benar sulit. Itu yang kurasakan di situasiku saat ini. Betapa aku merindukan saat-saat ketika berada di SMART. Bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat ketika aku bersama teman-temanku merasakan pelatihan dari KOPASSUS. Melakukan posisi taubat (tanyakan pada yang pernah merasakan selainku). Saat itu mungkin fisikku sangat mendapat hal yang “istimewa”. Namun, saat ini aku merasa saat itu lebih baik dari saat ini.

Kenyataan adalah kenyataan. Hanya Allah swt. dan diriku yang mampu mengubah takdir dan nasibku. Seorang guruku di SMART selalu menyampaikan ini padaku, “tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha, hasil itu hak prerogatifnya Allah swt”.

Untuk setiap orang yang membaca tulisan ini. Kusampaikan padamu, “Hiduplah sesukamu. Namun ingatlah, hal yang baik hanya untuk orang yang baik”. Sekian.