Kreatif Mengolah Kelas Tahfizh

Oleh : Syahid Abdul Qodir Thohir

Guru Tahsin Tilawah-Tahfizh Al Quran dan Penggagas Metode Tahfiz Quranuna

Ada 42 anak dalam satu sesi kelas tahfizh gabungan dari kelas 2A dan 2B di SMART Ekselensia Indonesia. Bagaimana mengolah sejumlah besar siswa tersebut dalam satu kegiatan belajar-mengajar yang hampir-hampir mustahil bisa efektif. Ditambah lagi waktunya yang disediakan setelah Dzhuhur. Waktu di saat siswa justru sedang keletihan dan rentan mengantuk bahkan terkadang dalam keadaan puasa sunnah, karena pelajarannya memang bertepatan di hari Senin dan Kamis. Namun demikian semangat mereka sungguh luar biasa, berikut ini saya ceritakan apa yang telah berjalan di kelas tahfizh.

Semua siswa aktif memainkan kesepuluh jari tangannya masing-masing. Berbagai cara mereka menggerakkan jari-jari sesuai rumus Quranuna Tahfizh Metode Jari yang sudah mereka kuasai. Setelah bersenam jari sambil mengulang hafalan kepala ayat dari surat Al Mulk, semua siswa bergegas menuju halaman masjid untuk melanjutkan tahfiz pendekatan kungfu. Berjurus kungfu dengan instruksi menggunakan perkataan dari setiap kepala ayat yang terdapat di dalam surah ke-67.

Gambaran kegiatan tahfizh pada paragraf kedua tersebut di atas, saya ceritakan pada paragraf berikutnya di bawah ini;

  1. SENAM 10 JARI DAN TAHFIZH

Rumus Jari:    

Dimulai dengan senam  10 jari dari genggaman, dibuka satu per satu dari jari paling kecil (kelingking), jari manis, jari tengah, telunjuk sehingga ibu jari (jempol).  Sambil membuka satu per satu jari-jari tersebut diucapkan angka 1 sehingga 5. Ini berarti sebgai berikut;

  • Angka 1: Jari kelingking dibuka sedangkan keempat jari yang lainnya digenggam
  • Angka 2: Jari kelingking dan jari manis dibuka dan ketiga jari yang lainnya digenggam/dilipat.
  • Angka 3: Jari kelingking, jari manis dan tengah dibuka dan kedua jari yang lainnya digenggam/dilipat.
  • Angka 4: Keempat jari dari kelingking hingga telunjuk dibuka sedangkan ibu jari dilipat/digenggam.
  • Angka 5: Kelima jari semuanya dibuka.

Aplikasi Rumus Jari:  

Genggam kelima jari tangan kanan kita, kemudian kita buka jari kelingking kita dan kita baca ayat pertama dari Al Muthoffifin. Masih posisi kelingking terbuka, kita lanjutkan dengan membuka jari manis, lalu kit abaca ayat yang ke-2 dari Al Muthoffifin. Dan begitu seterusnya aplikasi rumus jari untuk ayat 1 sampai dengan 5.

Rumus jari ini merupakan salah satu metode dari total 10 metode Quranuna untuk menghafal Al Quran.

 

  1. BERJURUS DAN TAHFIZH

Seperti biasanya, kegiatan belajar-mengajar dimulai dengan doa belajar dan diteruskan dengan pengecekan kehadiran (absensi) siswa satu per satu. Hari ini ada beberapa siswa yang datang ke kelas agak telat dengan sebab seperti lazimnya setiap kali belajar Al Quran, beberapa siswa asyik berwudhu sambil bercanda.

Saya berinisiatif untuk memberikan sanksi ringan dengan setting-an olahraga. Semua siswa yang masuk ke masjid (kelas Al- Quran) setelah melebihi 5 menit dari waktu yang seharusnya mereka sudah berada di dalam masjid (10.05), saya minta agar mereka berdiri sejenak di pintu masuk dan agar mereka berjalan dengan lutut dengan kedua tangan diletakkan di kepala bagian belakang. Mereka harus berjalan terseok dari pintu masuk hingga ke mihrab (kira-kira 3 meter).

“Oke. Karena diantara kalian masih ada yang telat masuk kelas dan harus melalui sanksi fisik, maka kali ini kita akan menghafal At Takwir ala kungfu. Silahkan semua berdiri membentuk barisan sehingga 3 shaf,” saya meminta seluruh siswa berdiri dan bersedia mengikuti gerakan apa saja yang saya lakukan (jurus-jurus kungfu). Saya memeragakan gerakan satu sehingga gerakan lima dalam simulasi pukulan genggam. Gerakan satu dibacakan ayat pertama dari At Takwir, gerakan dua dibacakan ayat kedua dan begitu seterusnya sehingga beberapa gerakan. Intinya adalah berjurus sambil menghafal.

Sejak saat inilah, kemudian saya bertekad untuk memberikan berbagai gerakan jurus kungfu untuk menghafal beberapa ayat dari setiap surah berikutnya yang akan dihafal siswa.

Kreatif, mahal,  dan berharga.

Tidak selalu yang mahal dan berharga itu identik dengan cost (biaya) yang tinggi. Gambaran kelas tahfizh di permulaan tulisan ini sebagai bukti. Dengan modal GERAK JARI DAN BADAN yang sudah tersedia di dalam diri masing-masing siswa, berubah menjadi suasana yang mahal dan berharga. Mahal karena cetusan ide brilian seorang guru tahfiz mengolah proses pembelajarannya dan berharga bagi dirinya, pelajar-pelajar dan bisa jadi untuk umat secara meluas. Orang kulit putih bilang; proses kegiatan belajar-mengajar (KBM) seperti di atas dengan istilah think globally, act locally.

Konon biaya pendidikan di Indonesia sangat mahal. Apalagi sekolah-sekolah yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas canggih dan lengkap. Dan kononnya lagi sekolah-sekolah yang mahal itu banyak peminatnya sebab paradigma yang berkembang adalah semakin berkualitas sebuah sekolah maka akan semakin mahal biayanya. Betulkah? Jawabannya bisa ya dan bahkan lebih besar kemungkinan tidak. Karena memang kualitas pendidikan itu bukan diukur dengan murah dan mahalnya biaya. Sama sekali tidak. Dan perlu Anda tahu, bahwa gambaran kelas tahfiz tersebut terjadi di sebuah sekolah gratis seratus persen untuk anak-anak miskin yang dibiayai dari zakat dan donasi masyarakat.

Kini saatnya, sekolah-sekolah tahfiz dan sekolah-sekolah yang mengunggulkan program tahfiz membuktikan kualitas pendidikan di Indonesia dengan meningkatkan kreatifitas paling mahal dan berharga dalam proses kegiatan belajar-mengajarnya. Semua yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sediakan di bumi ini adalah sebagai fasilitas pendidikan umat manusia, dan bagaimana kita bisa mengolah dan mengkreasikan semua yang tersedia.

 

Menghafal Ayat Terakhir dari Al Baqoroh

Lihatlah juga sebuah rekayasa kelas Tahfiz di sebuah Taman Kanak-Kanak di pinggiran kota Jakarta. Seorang guru tahfiz sedang mengangkat beban; Pertama, ember berisi pasir seberat 10 kg. Kedua, ember berisi pasir 4 kg, dan ketiga kaleng bekas cat berisi pasir 1 kg.

Guru Al-Quran mempertontonkan kemampuannya mengangkat beban tersebut dengan kedua tangannya. Lalu meletakkannya di depan kelas dan meminta satu per satu anak-anak untuk memilih dan mengangkat beban mana yang bisa diangkat. Singkat cerita, setiap anak mampu mengangkat yang ketiga (beban 1 kg). Berlanjut dengan yang kedua, guru meminta agar dua anak maju dan mengangkat beban kedua dan mampu. Namun ketika diminta mengangkat beban yang pertama (10 kg) ternyata mereka berdua kurang kuat, dan akhirnya secara bersama-sama mengangkat beban tersebut sehingga menjadi ringan dan bahkan dengan riangnya diangkat keliling ruang kelas. Saat itulah guru membacakan terjemah Surah Al-Baqarah ayat 286 yang sudah dipasang di dinding kelas berbunyi;

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma’aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Dilanjutkan dengan talaqqi ayat. Guru membacakan ayat tersebut dan anak-anak mengikutinya. Begitulah setiap pagi selama satu minggu anak-anak TK menghafal ayat dan doa yang terkadung di dalamnya. Datang saja ke sekolah, anak-anak sudah bersemangat untuk mengangkat beban-beban yang tersedia. Baik mengangkat bersendirian, berdua dan beramai-ramai sebagaimana juga guru mereka akan membacakan terjemah ayat dan men-talaqqi ayat. Inilah ‘three in one’, jiwa sehat, otak hebat dan otot kuat.

12813903_10204024834981739_7282424751880847051_n

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.