Laporan TO

IMG_3794

“Insyaallah akan ibu bantu untuk acara ini, tapi ibu pelajari dulu ya, insyallah hari senin sudah ada kejelasan ibu pilih paket mana” jawab ummi hani setelah kami bertanya tentang pilihan paket kontrapretasi. Presentasi proposal yang cukup memuaskan untuk ukuran siswa kelas 2 SMA yang sedang mencari dana untuk acara “kecil-kecilan” yang mereka buat. Kami—siswa kelas 2 SMA program IPS—telah merencanakan acara “kecil-kecilan” ini selama berminggu-minggu.

Ya, kuulangi, kami siswa kelas 2 SMA telah merencanakan acara yang cukup besar untuk ukuran kami yang belum berpengalaman. Inisiator acara ini adalah guru kami sendiri, ustazah Nurhayati, yang akrab disapa zah Yati atau Bunda yati. Beliau adalah guru bahasa indonesia di sekolah kami, SMART Ekselensia Indonesia, sekolah akselerasi, berasrama dan bebas biaya yang pertama di Indonesia. Diusung oleh Dompet Dhuafa untuk para generasi penerus indonesia yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata namun orangtuanya memiliki keterbatasan dibidang finansial.

Belajar di SMART Ekselensia Indonesia tak ubahnya penggodokan di kawah Candradimuka. Tak pernah ada kata membosankan, biasa atau yang lainnya disini. Selalu penuh kejutan, penuh tantangan, juga sarat dengan pembelajaran. Pembelajaran SMP-SMA yang seharusnya 6 tahun disingkat menjadi 5 tahun membuat kami tak hanya berlari disaat yang lain berjalan. Namun memacu dan mematahkan batas-batas yang orang lain anggap tak mungkin.

SMP-SMA yang ditempuh selama 5 tahun bukannya membuat kami setiap hari harus duduk di kelas dan mendengar ceramah dari guru—ini rahasia kita, hal yang kusebutkan tadi adalah hal yang paling ku benci di sekolah—namun banyak sekali peran yang harus kami jalankan selain menjadi pelajar. Mulai dari tukang laundry (kami nyuci sendiri, lho), event organizer (kami memiliki acara tahunan yang berskala nasional, Olimpiade Humaniora), Artist (banyak sekali pilihannya, mau jadi penari, pemain musik, penyanyi dll) hal itulah yang membuat kami tak pernah bosan untuk menimba ilmu di SMART Ekselensia Indonesia. Kembali ke acara yang kami adakan. Sebenarnya ini adalah usul guru bahasa indonesia kami kala belajar tentang proposal. Yah, kalian pasti tahu apa itu proposal, namun mungkin kalian belum pernah mempresentasikannya pada calon sponsor, mengurus tetek-bengek acara, menerima komplain dari guru pendamping peserta, kan? Nah, dari pada kami hanya belajar dikelas, mendengarkan penjelasan guru— sudah kubilang, aku benci yang satu itu—dan tertidur ditengah pelajaran, lebih baik praktek langsung. Lebih seru, menantang dan juga mendapatkan pelajaran yang kita takkan pernah dapat jika hanya mendengarkan penjelasan guru.

Lalu setujulah semua anggota kelas untuk membuat acara alih-alih mendengarkan penjelasan panjang lebar dari guru—yang sudah kubilang, itu membosankan—dan memacu adrenalin kami hingga tingkat tinggi. Awalnya kami sekelas—yang berjumlah 20 orang—dibagi menjadi 2 kelompok yang akan mengadakan 2 acara yang berbeda. Sempat terjadi ketegangan antara kami dengan guru kami, karena kami berpendapat tak mampu untuk membuat acara yang berpanitia 10 orang. Sebelum ketegangan berlarut-larut terjadi kompromi diantara kami. Akhirnya kami sepakat untuk membuat acara TryOut untuk siswa kelas tiga SMP yang berpanitiakan seluruh anggota kelas 4 IPS. Masalah baru muncul, awal bulan mei nanti siswa-siswi kelas 3 SMP akan melaksanakan UN, sementara itu kami memiliki jadwal kegiatan yang cukup padat di bulan april, maka diputuskanlah bahwa acara akan diadakan pada hari minggu, 10 april 2016 satu-satunya akhir pekan yang bebas dari acara lain.

Dimulailah perencanaan acara dari awal, rapat-rapat sampai begadang, pembuatan proposal, dan seterusnya. Setelah perencanaan selesai, kami siap mencari sponsor untuk acara yang akan kami buat. Seluruh warga kelas ditugaskan untuk mencari sponsor ke berbagai perusahaan. Aku dan dua temanku mendapat tugas untuk mempresentasikan proposal kami pada seorang pengusaha yoghurt yang kebetulan adalah ibu dari kakak kelas kami yang sudah lulus. Kami yang awalnya malu-malu untuk presentasi mendapat kepercayaan diri setelah mendapat sambutan yang hangat oleh tuan rumah. Tak disangka, calon sponsor kami langsung memberi respon positif atas acara yang akan kami buat. Beliau menyanggupi saat ditanya akankah beliau akan bekerjasama dengan kami. Namun belum sampai keluar nominal berapa yang beliau sanggup tanggung. Kejutan selanjutnya adalah ternyata tak hanya kami disambut dengan ramah, namun saat kami pulang kami dibekali dengan seplastik besar yoghurt beserta pesan untuk membagikannya di asrama.

Tak terasa sudah di H-2, atmosfer acara sudah mulai terasa, tegangnya saat memastikan kedatangan peserta, mempersiapkan logistik acara, dan seabrek keperluan lain yang dibutuhkan untuk suksesnya acara ini. Lebih sering bekerja jaauh malam tak membuat kami tumbang, namun malah memacu semangat kami. Karena bukan hanya siswa yang ikut andil dalam persiapan malam tersebut, namun guru kami juga. memang bukan ustazah yati sendiri yang mengontrol pekerjaan kami, namun ada seorang guru bahasa inggris yang rumahnya dekat dengan sekolah sehingga dapat mengarahkan kami. The Moment of Truth datang, keriuhan acara yang hanya sekitar 6 jam itu sukses membuat kami bernegosiasi dengan kasur lebih lama dari pada biasanya. Meminjam istilah Tere Liye di Kau, aku dan sepucuk angpau merah, hari itu tak hanya fisik yang di forsir, namun juga perasaan yang seakan dibawa mobil jip ber-offroad ria. Tak terasa, aku yang bertugas sebagai penanggung jawab dokumentasi selesai mengerjakan tugas di acara itu, namun bukan berarti selesainya acara itu selesailah kewajiban kami. Kami (masih) harus membereskan seluruh tempat yang digunakan untuk acara. Namun segala lelah seakan menguap saat mendapat apresiasi dari guru Bahasa Indonesia kami, Ustazah Yati atas acara yang telah sukses kami jalankan.

DSCN0289 DSCN0303 DSCN0315 DSCN0228