Lebih Dekat Dengan SMART

img-20161015-wa0001-01

Salah satu hal yang membuat saya bertahan di Dompet Dhuafa Pendidikan sampai sekarang adalah anak-anak yang bertebaran di seantero Lembaga Pengembangan Insani (LPI). Mereka seperti oksigen yang kerap membuat saya merasa hidup dan bernyawa.

Siswa SMART bagi saya bukan saja seperti adik tapi juga guru yang mengajarkan saya untuk terus bersemangat meraih impian juga hidup penuh syukur.

Oleh karena itu, setiap ada kesempatan saya akan mencoba lebih dekat dengan mereka. Kemudian bertanya apa yang bisa saya lakukan untuk membuat mereka dan tentunya saya sendiri  semakin yakin bahwa Man Jadda Wajada adalah mantra hebat untuk menjadi ‘kuat’!

Hal ini dibuktikan mereka pada sore kemarin. Hanya berbekal latihan 2 kali mereka mampu tampil menawan dihadapan mantan Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan para tokoh budaya serta museum yang hadir pada acara 5th Museum Awards 2016 Malam Anugerah Purwakalagrha di Anjungan Provinsi Kalimantan Barat, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Semua orang memuji penampilan adik-adik SMART mulai dari teman-teman Putri Indonesia, Komunitas Koko Cici Jakarta, teman-teman Abang None hingga SBY sendiri saat bersalaman dengan mereka. Hasilnya adik-adik begitu bahagia sampai terus bercerita tak habis-habisnya tentang semua hal yang terjadi sebelum dan setelah tampil. Di mobil saat perjalanan pulang ke Parung mereka sudah seperti radio yang menemani saya dan Pak Neming menerobos jalan-jalan Jakarta yang padat.

img-20161016-wa0003

Pertunjukan Operet van Museum dengan judul Bilung dan Lingling adalah naskah drama pertama yang saya tulis dengan spontanitas dalam waktu satu jam. Drama ini berlatar tahun 1800-an di Mempawah, Kalimantan. Saat di mana banyak kongsi Tionghoa yang kala itu berniaga emas dan orang Dayak dengan hasil buminya selalu diteror Kompeni Belanda terkait monopoli perdagangan juga upeti yang tidak masuk  akal. Karena khawatir membosankan maka saya masukkan kisah cinta antara Bilung (Dayak) dan Lingling (Tionghoa) yang menjadi simbol pertentangan hubungan beda ras dan strata sosial. Operet yang -hanya- berdurasi 25 menit ini apik dibawakan oleh Bobby sebagai Pengganggu Lingling, Reza dan Indra sebagai pedagang Tionghoa, Anto dan Hafizh sebagai pedagang Dayak, dan Sandy sebagai Bineng adik Bilung.

img-20161015-wa0005

Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada Ust Juli & para ustad asrama yang memberi izin kepada adik-adik untuk bisa bergabung dalam acara operet ini. Juga untuk para ustadz dan ustadzah yang sudah sangat baik dan tulus mendidik adik-adik SMART ini menjadi pribadi yang hebat. Akhir kata, jika ada sumur di ladang bolehlah kami menumpang mandi, jika ada umur kami panjang bolehlah kami bermain drama di LPI.

img-20161016-wa0007-01 img-20161016-wa0006

With love,

Dini Wikartaatmadja

Creative Librarian Dompet Dhuafa Pendidikan