Makna Kesuksesan dan Berdisiplin

Makna Kesuksesan dan Disiplin

Usai melaksanakan Shalat Ashar berjamaah, seorang siswa SMART Ekselensia Indonesia datang menghampiri saya.

“Ustadz, bolehkah saya bertanya? Bagaimana caranya agar kita bisa sukses?”

Sejenak saya berpikir, kemudian saya menjawab pertanyaan siswa tersebut.

“Nak, ketahuilah, sungguh sangat sederhana sekali untuk bisa sukses dan berhasil atas target kita. Kita hanya butuh sebuah keyakinan; yakin akan tercapainya setiap target kita.”

 “Allah tidak meminta kita bagaimana memikirkan caranya. Yakinlah bahwa Allah akan memberikan jalan kemudahan dalam setiap tahapan pencapaian target kita karena Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Kalau kita yakin bisa berhasil, maka Allah akan memudahkan tercapainya target kita.” Siswa ini menyimak serius perkataan saya.

“Nak, bukankah Rasulullah pada saat berada dalam situasi sulit, seperti saat Perang Badar, selalu yakin bahwa Allah bakal memberikan kemenangan? Nak, kesuksesan dan keberhasilan atas target kita adalah sejauh mana keyakinan kita. Silakan kamu baca kisah-kisah sukses orang-orang hebat di seluruh dunia. Bekal mereka satu: yakin bahwa mereka akan bisa melakukannya.”

“Mereka tidak pernah memikirkan caranya. Sebab, memikirkan caranya, justru hanya akan merintangi proses kreatif yang berjalan di benak mereka. Mereka hanya perlu untuk pandai-pandai melihat peluang, memanfaatkannya, dan kemudian menikmati hasilnya,” lanjut saya menjelaskan.

Memotivasi siswa yang bertanya sudah menjadi kewajiban saya. Mereka harus didampingi agar bisa mencapai cita-citanya. Bersama mimpi-mimpi mereka, saya tanamkan pentingnya berusaha. Dan sebagai konsekuensi dari sekolah unggulan, mereka harus tetap terpantau untuk terus berada dalam jalur yang tepat.

Setelah siswa pertama pergi, datang temannya seorang diri. Seorang siswa kelas 2 yang baru terkena hukuman sekolah berupa rambut dicukur sampai gundul.

“Ustadz, apa hikmah di balik kejadian pahit?”

Tampaknya siswa ini mencoba merefleksikan hukuman yang baru saja diterimanya. Penggundulan rambut siswa di SMART biasanya terkait dengan satu tindakan siswa yang melanggar peraturan.

“Kejadian pahit itu dapat digolongkan menjadi dua: sebagian dari kejadian pahit itu dikarenakan diri kita sendiri, dan sebagian lainnya tidak berada dalam kuasa kita,” jawab saya.

“Nak,” jelas saya, “kebanyakan kejadian pahit dalam kehidupan kita muncul dari tidak adanya ketelitian dan manajemen yang baik dari diri kita. Bila kita tidak menjaga kebersihan, maka kita akan mudah sakit. Di sini kita yang bersalah. Bila kita tidak menaati peraturan berlalu lintas, maka kita rentan mengalami kecelakaan di jalan. Di sini kita juga yang bersalah. Sementara sebagian kejadian pahit yang di luar dari kehendak kita memiliki banyak sebab. Kesulitan membuat tumbuh dan sempurnanya manusia.”

“Kejadian-kejadian pahit dalam kehidupan manusia, kebanyakan sebagai tebusan atas kesalahan-kesalahan manusia sendiri,” tegas saya.

Sejatinya, saya ingin mengajak siswa ini untuk sadar atas akibat perbuatannya yang tidak berdisiplin. Hukuman yang diberikan di SMART tetap dalam kerangka untuk mengingatkan para siswa. Jangan sampai mereka mudai lalai, atau bahkan meremehkan peraturan. Sebagai orang yang diamanahi dalam hal kedisiplinan siswa, saya menyadari tanggung jawab ini tidaklah mudah.

Teringat ketika pertama kali diminta sebagai guru Pendidikan Agama Islam dan tim kedisiplinan di SMART, tertanam dalam hati saya tekad untuk mendisiplinkan siswa dengan segala risiko yang ada di dalamnya. Sadar bahwa bakal ada pro dan kontra terkait dengan pendisiplinan, entah

itu datang dari siswa atau bahkan dari dewan guru, ketika niat sudah tertancap dan ikhlas sudah mendarah, maka saya harus menjalankan amanah ini.

Saya menyadari bahwa pendidikan tanpa disiplin bakal menjadikan siswa liar, sedangkan disiplin tanpa hukuman hanyalah omong kosong. Hukuman dalam dunia pendidikan mutlak adanya. Tentu saja bukan untuk sarana melepaskan amarah, melainkan untuk menunjukkan kualitas disiplin di lembaga pendidikan itu masih terjaga dan peraturan yang dibuat dilaksanakan dengan sepenuhnya. Oleh karena itu, yang menghukum dan dihukum sekalipun harus terikat disiplin yang ada. Hukuman yang ditegakkan harus dalam sarana mengingatkan dan meluruskan. Jadi, kalau dijewer saja bisa mengingatkan tingkah salah siswa, mengapa siswa harus dicubit? Jika dicubit bisa meluruskan perilaku siswa, mengapa siswa harus dipukul?

Semoga siswa-siswa SMART menyadari arti berdisiplin, termasuk ketika mereka menerima hukuman akibat melanggar peraturan sekolah. Pada waktunya nanti, semoga mereka memahami bahwa pendisiplinan merupakan tangga yang akan membimbing mereka meraih kesuksesan. [] (Asep Rogia, Guru SMART Ekselensia Indonesia)

*Diambil dari buku “Marginal Parenting”