,

Manusia Kodratnya Bergerak. Maka Bergeraklah Sob!

Assalamualaikum. Selamat pagi Sob! Alhamdulillah ya kita masih dipertemukan dengan Senin yang cerah ini. Bagaimana liburan kalian? Semoga menyenangkan ya. Nah kami mau berbagi cerita dari Kak Ahmad Darmansyah, alumni SMART, yang penuh dengan pelajaran berharga. Yuk kita baca sama-sama.

Manusia Kodratnya Bergerak. Maka Bergeraklah Sob!

Oleh: Ahmad Darmansyah (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)   Desa. Apa yang terpikirkan dalam kata ‘desa’? Asri, indah, damai, tenteram? Kalau seperti itu, alangkah beruntungnya aku. Atau, justru terbelakang, marginal, terisolasi? Jika begitu, betapa kasih dan sayangnya Allah menakdirkanku sebagai anak desa. Terlahir di desa membuatku menjadi orang yang sederhana sekaligus tersederhanakan. Aku senang sederhana karena sederhana membuatku nyaman, tak banyak pikiran. Ya, apa yang harus dipikirkan jika untuk menanak nasi dengan tungku belaka? Atau, apa yang memusingkan jika hanya bermain congklak dan petak umpet? Apa yang memusingkan dan membebani pikiran? Tapi, hidupku harus beranjak. Aku perlu beranjak dari tempat satu ke tempat lain. Tak boleh tidak. Karena, kata ibuku, manusia kodratnya berpindah, bergerak, tumbuh. Maksudnya? Tak tahulah aku apa arti pastinya. Yang jelas, aku harus berpindah tempat. Maka, hidupku tak boleh selamanya sederhana. Oh bukan, tak boleh sepenuhnya sederhana karena aku masih senang sederhana. Tawaran berpindah pun datang. Takdir Allah datang berupa status menjadi siswa SMART Ekselensia Indonesia. Sekarang SMART Ekselensia Indonesia sudah dan akan tetap menjadi bagian besar dalam hidupku. Mengapa bisa begitu? Apa spesialnya? Aku jawab, ya 100%. Sebab, SMART telah banyak mengambil peran dalam hidupku. Satu hal terpenting yang SMART ajarkan kepadaku adalah bagaimana mengubah paradigma kesederhanaan itu. Saya tidak perlu menjauhi sederhana untuk sebuah perpindahan. Berkat rahmat Allah, dukungan dan doa dari orang-orang tercinta, aku bisa naik pesawat. Pesawat yang bahkan waktu kecil aku hanya bisa mendongakkan kepala ke atas untuk mencari di mana dan ke mana burung besi itu pergi. Tak jarang, hanya suara menderu dan silau sinar matahari yang aku dapatkan. Tiket pesawat itu aku raih setelah melewati dan memenangi sebuah kompetisi. Kata orang, sering kali momen pertama itu paling berkesan. Tapi, aku tak mau momen mengesankan naik pesawat menjadi momen menggelikan. Agar tidak terjadi, aku persiapkan baik-baik supaya semua lancar pada waktunya. Menurut Ustaz Mulyadi, guruku di SMART (sekarang beliau sudah tak memegang jabatan sebagai guru lagi), visualisasi itu penting. Visualisasi tentang apa yang ingin kita raih, tentang apa yang ingin kita lakukan pada masa mendatang. Aku pakai jurus itu, visualisasi. Visualisasi pertamaku adalah orang yang naik pesawat umumnya membawa koper. Sebenarnya aku lebih nyaman dan sreg memakai tas safari. Tapi, aku berpikir, aku tak boleh sepenuhnya lagi sederhana. Aku pun mencari teman yang berasal dari luar Jawa (karena mereka datang menggunakan pesawat yang biayanya ditanggung SMART). Target didapat. Eko namanya. Aku mencarinya di kamar Kairo. “Eko, pinjam koper lo dong?!” “Buat apa? Oh, buat ke Medan ya?” Tanyanya sambil tersenyum. “Hehe… Iya. Masak gue harus bawa tas? Koperlah!” “Oh, gitu. Ya sudah, tuh kopernya di atas lemari!” Aku pun mengambil koper itu. Ringan karena isinya mungkin kosong. “Kodenya?” Eko pun memberitahukannya, tapi sejurus kemudian dia berkata, “Tapi lo jangan ngomong ke siapa-siapa.” “Sip! Percaya deh sama gue!” Aku sesuaikan kodenya. Klik! Terbuka. Kopernya bersih, hanya beberapa bagian luar yang sedikit berdebu sehingga aku tidak perlu mencucinya terlebih dulu. Aku melihat-lihat koper tersebut. Ada tulisan nama pemiliknya, Eko. Hal pertama yang kulakukan adalah menutupnya dengan perekat ganda kertas. Selanjutnya, aku menuliskan namaku di kertas tersebut. Masih di kamar Kairo, aku duduk di kasur Eko, di sampingnya. “Pengalaman lo gimana?” Tanyaku. “Maksud?” “Ya, naik pesawat. Kasih gue gambaran dong!” “Oh, itu. Lo rombongan kan? Paling nanti diurus pendamping.” “Maksudnya?” “Ya, nanti kan dikasih tiket. Tiket nanti dikasihkan ke petugasnya, check-in. Terus, angkat barang-barang ke bagasi. Habis itu, lo dapat boarding pass, bayar airport tax, terus nunggu pesawat deh.” “Oh, gitu.” “Ya. Tapi, biasanya diurus sama dinas mungkin. Lo yang penting tinggal ikut, bawa barang, udah selesai.” “Thanks, Ko.” Aku kembali ke kamar, bersiap-siap untuk hari esok. Sambil memaket-maketkan barang, aku mengingat-ingat kata-kata Eko. Semua harus lancar, tanpa masalah. Hari H tiba. Aku dan rombongan sudah datang dan berkumpul. Kami memasuki bandara. Aku hanya mengikuti arus rombongan, dan yang penting percaya teman, percaya pada perkataan Eko tempo hari. Hanya ikut, bawa barang, selesai. Akhirnya benar. Setelah beberapa menit menunggu, aku memasuki pesawat. Semua lancar. Hanya saja, aku sedikit menyesal. Menyesal telah menghindari kesederhanaan yang selama ini aku senangi. Aku memilih jaket tipis yang terlihat modis daripada jaket tebal yang terkesan biasa saja. Sementara itu, di dalam pesawat pendingin ruangan sudah membuat banyak orang kedinginan. Kesederhanaan malah ditunjukkan seorang teman dari rombongan. Dia duduk di sebelahku. Dia telah membawa sarung sejak di ruang tunggu. Padahal, kalau dilihat dari sekolah asalnya, dia dapat dipastikan bukan anak orang sembarangan. “Yang penting nyaman, cuek aja!” Katanya. Aku tersadar akan makna penting dari kata ‘sederhana’. Sederhana bukan masalah seorang membeli barang mahal ataupun murah, modis atau kurang modis, bukan masalah kaya atau miskin. Sederhana hanya masalah tentang bagaimana kita nyaman, tanpa berpikir repot-repot segala urusan pernak-pernik yang menyertainya. Ternyata Allah telah menakdirkan yang terbaik bagiku sedemikian rupa. Allah memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puja-puji syukur kupanjatkan ke hadirat-Mu, ya Allah. Dzat yang telah mengirimku ke dalam kepompong ini. Kepompong yang membuatku bermetamorfosis demi masa depan yang lebih baik. Kepompong yang akan mengeluarkanku sebagai orang yang akan dan terus peduli dengan kemanusiaan. Kepompong bernama SMART Ekselensia Indonesia.