,

Membekas di Kalbu Kenangan Ramadanku di SMART

Membekas di Kalbu Kenangan Ramadanku di SMART

Oleh: Syahrizal Rachim

Alumni SMART Angkatan 10 berkuliah di Universitas Padjajaran Jurusan Hukum 2018

“…waktu telah menunjukan pukul empat pagi. Segera bangun dan santap sahur di kantin!” seru seorang wali asrama kami yang membangunkan siswa-siswa tercintanya untuk santap sahur melalui pelantang suara.

Hari itu masihlah sangat gelap. Ayam-ayam pun belum sempat berkokok tanda mentari masih malu-malu menampakan dirinya. Akan tetapi, kami sudah harus bangun dan bersemangat memulai aktivitas di bulan penuh ampunan ini. Santap sahur secara bersama mengawali aktivitas harian kami kala itu. Sebenarnya tidak ada perasaan sahur yang berbeda dengan sahur di bulan-bulan lainnya, karena di asrama pun kami sudah dibiasakan sahur untuk menjalankan puasa sunnah. Lantas, setelah dirasa cukup kenyang, kami langsung bersiap menuju masjid untuk melaksanakan Salat Subuh berjamaah. Banyak siswa juga yang memaksimalkan waktu untuk mencapai target tilawah di bulan penuh berkah.

Kegiatan belajar di sekolah secara reguler tetap dilaksanakan walau ada sedikit perbedaan kegiatan di siang hari, yaitu kultum yang disampaikan oleh para ustaz. Mereka tidak bosan-bosan untuk memotivasi siswa agar memaksimalkan potensi ibadah.

Terbenamnya matahari menjadi tanda akan dilaksanakannya  buka puasa bersama. Buka puasa bersama menjadi momen menjalin silaturahim dan melepas penat secara menyenangkan setelah berpuasa seharian penuh. Para siswa biasanya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil sesuai dengan nama sahabat Rasul, dari kelas satu hingga lima.

Momen kece selanjutnya adalah Salat Tarawih. Seluruh siswa diwajibkan mengikuti Salat Tarawih secara tertib dan berjamaah. Hampir tidak ada yang berbeda dari pelaksanaan Salat Tarawih kebanyakan, kami tidak luput untuk menambah tabungan tilawah setelahnya. Buku-buku pelajaran sekolah telah menanti untuk dibaca sebelum kami beristirahat menutup hari yang indah di bulan penuh rahmat. Kebetulan, pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun (PAT) bertepatan dengan Ramadan. Akan tetapi, kami tetap bersemangat dan fokus meraih hasil ujian yang terbaik.

Setelah bergulat dengan soal-soal ujian, akhirnya, tiba juga liburan akhir semester. Dalam liburan saat itu, kami mengisi hari dengan berbagai kegiatan menyemarakkan Ramadan. Dari sisi kreativitas dan seni, terdapat lomba menghias kamar dan asrama serta menghias parsel. Setiap siswa saling bekerja sama mengembangkan kreativitas dan potensi untuk meraih hasil yang terbaik. Tak pelak, seluruh sudut asrama penuh dengan dekorasi bertema Ramadan, Sahabat Nabi, kota-kota bersejarah, dan lainnya. Parsel-parsel lebaran juga disulap menjadi rapi dan menarik serta memilliki nilai lebih tinggi.

Dari sisi olah suara, terdapat lomba azan. Para muazin-muazin terbaik SMART saling beradu kemampuan untuk menjadi yang terbaik dalam kompetisi ini. Masing-masing pemenang lomba mendapatkan hadiah menarik dan pastinya memotivasi kita untuk menjadi lebih baik dalam semarak Ramadan.

Setelah asyik berkecimpung dalam dunia lomba-lomba, pada malam tujuh belas Ramadan, diadakanlah sebuah acara untuk memeringati pertama kalinya diturunkan Al-Quran, Nuzulul Quran. Setiap siswa dibagi menjadi beberapa halaqoh untuk menuntaskan tilawah 30 Juz. Setelah tilawah usai, ustaz-ustaz memberikan kajian tentang keutamaan Al-Quran dan memberikan penghargaan kepada siswa dengan tilawah terbanyak. Tak disangka, banyak diantara teman-temanku mendapatkan penghargaan tersebut. Kegiatan ini semakin menguatkan semangatku untuk selalu berusaha terbaik.

Di saat sepuluh malam terakhir,terdapat sebuah kegiatan yang menjadi rutinitas kami selama Ramadan, Itikaf. Dalam kegiatan Itikaf, siswa-siswa disebar ke berbagai masjid untuk melaksanakan sunnah Nabi tersebut. Di sana kami tidak hanya sekadar beristirahat melainkan menambah keberkahan Ramadan dengan mengikuti kajian-kajian, bertilawah, dan salat tarawih serta tahajud berjamaah. Banyak diantara kami saling bercengkrama dengan sesama peserta Itikaf dari berbagai daerah untuk saling menebar keceriaan dan pesan-pesan Ramadan.  Malam yang paling kami nantikan dan harapkan akan tiba, Lailatul Qadar. Walaupun tidak ada yang tahu persis kapan ada Lailatul Qadar, tetapi beberapa sumber banyak yang menyebutkan bahwa malam yang lebih baik daripada 1000 bulan tersebut jatuh pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan. Banyak peserta Itikaf yang bersungguh-sungguh dalam beribadah untuk mendapatkan kesempatan malam penuh dengan kedamaian tersebut.

Selain mengikuti Itikaf, beberapa teman kami terpilih untuk mengikuti kegiatan HOME STAY. Dalam kegiatan HOME STAY, dipilihlah beberapa siswa scmenginap bersama keluarga donatur untuk saling berbagi keceriaan di bulan penuh kemuliaan. Selain itu, dengan mengikuti HOME STAY, diharapkan mendapat  inspirasi-inspirasi untuk menggapai kesuksesan di masa depan.

Di masa pengujung bulan kemuliaan, sebuah aktivitas yang kami nantikan akhirnya tiba, takbiran. Seluruh siswa bersuka cita menyambut datangnya Idul Fitri sekaligus sedih ditinggal bulan penuh dengan rahmat dan hidayah. Semoga Ramadan-Ramadan selanjutnya kita lebih maksimal beribadah dan banyak menebar keceriaan serta senyuman impian sesama umat manusia.

Sekarang saya telah lulus dari SMART, walau belum mulai berkuliah namun perasaan yang dulu singgah tetap terpetri di hati. Kangen? Jeas, karena ini kali pertama saya tak berpuasa di SMART. Ah sungguhpun SMART membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik.

***

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekahmu melalui nomor rekening: 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika