“Mencari Nafkah….”

Awal tahun 2013…

Setelah sekitar 7 tahun saya mengajar di SMART Ekselensia Indonesia, saya diberi amanah untuk mendampingi siswa-siswa SMART kelas 5 dalam salah satu kegiatan menjelang mereka Ujian Nasional.

Jika dikonversi, kelas 5 di SMART sama dengan kelas XII SMA di luar SMART. Beberapa bulan menjelang Ujian Nasional, siswa SMART biasanya diberi pembekalan sebagai motivasi untuk menjaga semangat mereka, juga diberi kesempatan untuk refleksi diri. Harapannya melalui refleksi diri ini, dengan memberi banyak energi positif dan membuang semua energi negatif, siswa akan lebih prima untuk tampil minimal hingga mereka lulus dari SMART.

Boot camp adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh SMART terkhusus untuk siswa kelas 5, yang dilakukan di luar lingkungan SMART. Kegiatan ini menurut saya adalah kegiatan eksklusif, karena selain dikhususkan untuk kelas 5, juga karena isi kegiatan di acara ini luar biasa sekali, sangat menginspirasi buat setiap orang yang mengikutinya. Maka buat saya pribadi, mendampingi siswa-siswa memiliki kesan tersendiri.

Boot camp dilakukan selama 2 hari 2 malam. Dan untuk mengoptimalkan program ini, kami meminta fasilitator-fasilitator dari suatu lembaga profesional. Namun yang luar biasa, sekalipun fasilitator tersebut berasal dari luar SMART, siswa mudah untuk beradaptasi dengan fasilitator tersebut, sehingga mereka mendapatkan banyak bekal sepulang dari acara boot camp.

Dalam rangkaian acara boot camp ini, ada bagian yang begitu berkesan bagi saya untuk diingat dan juga berhikmah. “Mencari nafkah” adalah salah satu sesi pada acara tersebut. Siswa disebar di suatu tempat dengan modal badan mereka sendiri dan diminta untuk bisa mengumpulkan uang dengan target jumlah tertentu dan pada waktu tertentu.

Siswa bertebaran ke pasar, ke warung-warung, ke toko-toko, ke masjid, ke jalan-jalan raya dan lain-lain untuk menawarkan jasa ataupun kemampuan kepada pemilik toko atau apapun yang diperkirakan membutuhkan tenaga atau jasa mereka, serta mereka akan mendapatkan imbalan dari hasil kerja mereka. Intinya mereka tidak mengemis, namun mereka bisa memberikan berbagai macam kontribusi, baik tenaga, pikiran atau lainnya, sehingga jerih payah mereka nanti akan menghasilkan uang.

Salah seorang siswa, setelah berkeliling kesana kemari menawarkan jasa namun berkali-kali ditolak, maka dia berinisiatif untuk mengamen dengan modal suara yang menurutnya cukup bagus untuk didengar.   Bagus, sebutlah nama siswa tersebut. Bagus memasuki beberapa toko ataupun kerumunan orang-orang untuk menyanyi tanpa alat musik dengan modal suara yang ia miliki dan ia yakini bisa menghibur orang-orang serta akan mendapat hasil. Dan yang tidak kalah penting adalah modal menahan malu serta percaya diri.   Bagus pun berjalan dari satu toko ke toko yang lain untuk bernyanyi, namun begitu sedikit bahkan hampir tidak ada satupun orang yang menanggapinya. Hingga sampailah Bagus bernyanyi di salah satu kios penjual buah-buahan. “Permisi Pak”, begitu sapaan pertama Bagus kepada penjual buah. Lalu dengan semangat, bagus langsung bernyanyi sambil bertepuk-tepuk tangan sendiri tanpa peduli didengar atau dinikmati oleh penjual buah itu ataukah tidak. Karena memang hanya itu modal yang ia miliki. Namun belum lagi Bagus selesai bernyanyi untuk satu bait, tiba-tiba penjual buah tersebut memberi 2 buah salak kepada Bagus, dengan berkata: “Sudah dek, ini salak!”. Hal ini dipahami agar Bagus segera berhenti bernyanyi dan pergi. “Deg” mungkin degup jantung itu yang terdengar apabila bisa didengar. Akhirnya Bagus bergegas pergi setelah menerima salak tersebut, karena juga tidak ingin lama-lama ditonton oleh pedagang lainnya. Maluuu itu perasaan yang ada pada saat itu. Bagus berlari jauh sambil mencari teman-teman lainnya yang juga sedang mengadu nasib untuk menutupi rasa malunya.

Sebenarnya bukan salak yang diharapkan oleh Bagus, karena targetnya adalah mendapatkan uang untuk memenuhi target. Namun untuk menolak salak, juga tidak mungkin, karena memang Bagus juga merasa lapar, maka diterimanya salak itu lalu Bagus pun pergi. Ketika Bagus bertemu dengan teman-temannya yang lain, Bagus langsung bercerita sambil berbagi untuk makan salak. Bagus berkata : “Aduh.., sial gua! Nyanyi belum selesai, sudah dikasih salak!! Kesel gua! Malu tau!”. Bagus mengungkapkan perasaannya sambil makan 1 bagian salak tadi. Karena 2 salak yang diterimanya dibagi rata buat teman-temannya. Bagus memang merasa kalau suaranya sedang serak, tapi Bagus juga yakin, kalau saja diberi kesempatan bernyanyi minimal sampai “Ref”-nya, kayaknya asyik tuh lagu. Tapi apa boleh buat, rupanya orang lain belum tentu paham dengan harapannya.

Rasa senang, kesan lucu sekaligus sedih bercampur menjadi satu ketika sesama siswa kelas 5 bertemu dan saling curhat. Rasa senang muncul manakala mereka mendapat sambutan dan tawaran serta dihargai oleh orang-orang sekitar. Rasa lucu pun muncul ketika mereka benar-benar sudah merasa mempersiapkan diri dengan baik, namun ternyata reaksi orang-orang sekitar justru sebaliknya, mereka dilihat seperti aneh. Rasa sedih pun muncul ketika mereka tidak merasa dihargai sebagaimana harapan mereka. Sehingga bukan saja terbersit bagaimana bisa dihargai oleh orang lain, yang ternyata memang sulit mendapatkannya, juga ternyata untuk mendapatkan uang itu sulit,

Siswa kembali ke base camp dengan hasil apapun yang mereka dapatkan. Karena ternyata bukan saja salak atau uang yang mereka dapatkan, tapi baju kotor, muka, tangan dan kaki yang juga berlumur debu putih juga mereka dapatkan sebagai hasil kerja sebagai kuli panggul beras dan terigu… Minuman “Mijon” dan lain-lain. Emm…, luar biasa….

Di akhir sesi mencari nafkah ini, seluruh siswa diberi kesempatan buat refleksi diri terhadap suka duka selama berada di dunia nyata. Hampir 100% siswa mengatakan bahwa ternyata sulit sekali untuk bisa mendapatkan uang, sehingga mereka mampu menghargai uang yang mereka miliki. Dan yang lebih menarik adalah mereka merasakan rasa persaudaraan yang semakin erat antara satu dan lainnya di antara mereka. Mereka merasakan senasib sepenanggungan ketika berada dalam dunia nyata dimana mereka ditantang untuk bisa mandiri. Sementara orang-orang sekitar yang belum mereka kenal, tidak semua menilai mereka positif. Sehingga mereka benar-benar membutuhkan support diantara mereka.

Melalui program boot camp ini, terlihat perkembangan yang baik dari para siswa. Terbentuk konsep diri yang positif, sehingga mereka lebih tenang dan lebih giat dalam mempersiapkan ujian nasional dan dunia perkuliahan. Yang juga tidak kalah penting adalah mereka mampu menjaga kestabilan persaudaraan di antara mereka. Mereka jauh lebih kompak, lebih care, dan lebih bersahabat diantara mereka.

Subhaanallaah…. Semoga segala ikhtiar yang dilakukan para ustadz-ustadzah buat siswa-siswa SMART bisa memberikan arti dan manfaat buat kehidupan mereka di masa yang akan datang….

 

 

with love….

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.