Mendidik Anak Biasa menjadi Anak Luar Biasa

SKS PSB Membangun bisnis modal Ide 19 Apr 2018

Oleh : J. Firman Sofyan (Guru SMART Ekselensia Indonesia)

Seekor katak spesies baru telah ditemukan di wilayah Ghats Barat, India (Kompas, 11 September 2012). Katak tersebut memiliki perbedaan dengan katak pada umumnya. Katak tersebut seolah-olah mengubah semua teori biologi selama ini. Teori yang mengatakan bahwa katak merupakan hewan amfibi yang melakukan sebuah tahapan kehidupan yang unik, berbeda dengan makhluk hidup pada umumnya. Sebuah tahapan kehidupan yang disebut dengan metamorfosis. Katak yang kemudian diberi nama Shrub Kakachi (Raorcgestes Kakachi) ini tidak mengalami metamorfosis seperti spesies katak lainnya. Katak ini tidak mengalami fase berudu. Jadi, bisa dikatakan setelah menetas dari telurnya, katak ini langsung dewasa.

Di bagian barat Pulau Jawa, seorang anak bernama Fajar Sidiq Abdul Mutholib, tampaknya mengalami fase kehidupan yang hampir sama dengan katak di atas. Anak tersebut menempuh sebuah jenjang pendidikan tingkat menengah dan atas yang berbeda dengan anak lainnya di negara kepulauan terluas di dunia ini. Anak tersebut menyandang gelar siswa hanya selama lima tahun untuk jenjang SMP dan SMA. Tentu berbeda dengan siswa lainnya yang harus menyelesaikan dua jenjang sekolah tersebut dalam waktu enam tahun. Realitas yang sepertinya membuat siswa lain di Indonesia ini menjadi cemburu dan iri. Kedua fakta tersebut menyimpulkan sebuah persamaan antara Fajar Sidiq A.M. dan Shrub Kakachi dalam hal keunikan.

Analogi yang tidak terlalu signifikan memang. Alasannya, Tuhan memang mengodratkan manusia menjadi makhluk paling istimewa di dunia ini. Kodrat yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Perbedaan itu pun terjadi dalam fase kehidupan antara Fajar dengan Kakachi. Fajar, dalam tahap kehidupannya yang unik, membuktikan bahwa kodrat yang diberikan Tuhan itu tidaklah salah.

Salah satu yang Tuhan berikan kepada manusia, khususnya siswa ini, adalah kecerdasan. Kecerdasan inilah yang membuat Fajar kembali bermetamorfosis, kali ini metamorfosis yang sempurna. Metamorfosis dari seorang anak dhuafa yang awalnya tidak pernah membayangkan untuk melanjutkan pendidikan setelah dinyatakan lulus dari sekolah dasar hingga kini telah menjadi seorang penulis buku. Penulis buku ilmiah di usianya yang bahkan belum genap 17 tahun. Metamorfosis tersebut bahkan disempurnakan dengan statusnya yang telah menjadi seorang mahasiswa Teknik Geologi Universitas Diponegoro.

Kisah keberhasilan pemuda yang juga pernah menjadi presiden sebuah organisasi internal di sekolahnya tersebut hanyalah satu rangkaian cerita inspiratif tentang metamorfosis anak-anak dhuafa dari seluruh Indonesia hingga mendapatkan keberhasilannya masing-masing. Keberhasilan setelah lima tahun berbagi suka, duka, keakraban, dan berbagai macam rasa dengan para anak bertakdir sama dan dengan para orangtua yang tidak sungkan harus membacakan sebuah kisah klasik demi redanya tangisan mereka. Tangisan karena harus merelakan lima tahunnya jauh dari kedua orangtua kandungnya.

Lima tahun yang sungguh-sungguh spesial. Lima tahun hidup dengan berbagai metafora kehidupan. Kehidupan yang tentu tidak terlepas dari berbagai intrik. Di dalamnya ada sesuatu yang intim tentang saat-saat istimewa berbagi cerita. Cerita tentang bagaimana awal kedatangan mereka dengan bahasa ibunya masing-masing. Awal bagaimana mereka masih terlalu kecil untuk “disapih” dari orangtua kandungnya masing-masing. Kecil dalam arti sesungguhnya. Benar-benar kecil sehingga baju dan jaket yang mereka kenakan di awal kedatangan mereka ke sekolah ini terlihat kebesaran. Namun, dalam ukuran tubuh mini tersebut tersimpan berbagai harapan besar untuk mendapatkan kesuksesan yang lebih besar.

Cerita-cerita tentang keberhasilan yang diawali dari keterbatasan tersebut mungkin telah banyak kita lihat di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Kumpulan cerita orang-orang papa yang akhirnya meraih sukses tersebut pun sudah sering ditampilkan di berbagai acara talk show. Tidak sedikit juga buku yang mengangkat tema yang sama. Fakta yang seolah-olah telah mengubah sesuatu yang tidak istimewa menjadi istimewa. Namun, kisah-kisah tentang anak-anak dhuafa yang meraih keberhasilan di dalam buku ini akan tetap istimewa. Istimewa karena cerita-cerita tersebut disampaikan dengan jujur tanpa manipulasi dari para “orangtua” mereka selama lima tahun di asrama dan sekolah: guru.

Dalam buku ini, akan kita lihat bagaimana perjuangan anak-anak dhuafa dari seluruh Indonesia berdinamika dengan berbagai unsur kehidupan. Dalam buku ini akan kita lihat bagaimana cara anak-anak cerdas tersebut memandang dan berinteraksi dengan dunia. Cerita-cerita di sebuah sekolah bernama SMART Ekselensia Indonesia. Sekolah yang dikelola sebuah lembaga zakat Dompet Dhuafa. Semua cerita tersebut disampaikan apa adanya dari sudut pandang guru sekolah maupun wali asrama. Para pendidik yang membantu para siswa bermetamorfosis. Pendidik yang selama lima tahun tanpa pernah sungkan—apalagi bosan—untuk menyusun rencana pembelajaran. Bukan, bukan hanya rencana pembelajaran, melainkan juga rencana keberhasilan. Inilah sebuah Marginal Parenting, sebuah pengalaman pengasuhan anak-anak dhuafa hingga mereka berani mimpi untuk jadi manusia luar biasa. []