Menjadi Sahabat bagi Siswa

Menjadi SAhabat Bagi SIswa

Dalam mengajar dan mendidik anak-anak SMART Ekselensia Indonesia, saya selalu menekankan aspek ibadah dan akhlak mulia. Bukan hanya karena saya mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), namun memang bagi saya tujuan belajar adalah agar siswa benar dalam beribadah dan memiliki akhlak mulia. Ini selalu saya sampaikan kepada anak-anak. Anak-anak sudah paham jika pelajaran PAI, maka mereka harus mengambil air wudhu terlebih dahulu. Kemudian, sebelum pelajaran dimulai, saya mengajak anak-anak untuk berzikir dan berdoa. Mudah mudahan materi pelajaran yang dipelajari hari itu menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah.

 “Siapa yang belum wudhu?” tanya saya satu hari ketika akan memulai pelajaran.

“Aldo dan Johan, Ustadz,” jawab Ridho menyebutkan teman-temannya yang belum berwudhu.

Saya memandang ke arah Aldo dan Johan. Keduanya segera menuju tempat wudhu. Rupanya mereka sudah paham dengan isyarat pandangan mata saya. Tidak lama keduanya telah kembali ke masjid (kami biasa belajar PAI di masjid) dengan wajah yang basah dengan air wudhu.

“Baiklah, seperti biasa kita mulai berzikir dan berdoa terlebih dahulu,” terang saya.

Anak-anak mulai berzikir diawali dengan membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas. Lalu, berzikir kalimat tahlil seratus kali dan ditutup dengan doa sesuai hajat masing-masing. Kegiatan ini berlangsung sekitar 10-15 menit. Bagi saya, tak masalah memberikan waktu 10- 15 menit untuk melakukan kegiatan ini di awal pembelajaran karena manfaatnya yang besar.

Pertama kali saya memberlakukan kegiatan ini, sebagian anak-anak protes.

Ustadz, kenapa sih kalau pelajaran Ustadz kita harus berwudhu dulu, lalu berzikir dan berdoa?” protes beberapa anak.

“Kamu tahu kisah Imam Syafi’i yang mengadukan hafalannya yang lemah kepada gurunya, Imam Waqi’?” tanya saya.

“Belum tahu, Ustadz!” sahut mereka serempak.

 “Begini, Imam Syafi’i pernah mengadukan hafalannya yang lemah kepada Imam Waqi’ gurunya. Lalu, Imam Waqi’ menjawab, ‘Ilmu itu cahaya Allah. Dan ia tidak diberikan kepada pelaku maksiat’.”

Kalian bayangkan,” terang saya lagi, “seberapa kecilnya maksiat yang dilakukan oleh Imam Syafi’i? Tapi, beliau masih merasa hafalannya lemah. Padahal, Imam Syafi’i hafal Al- Qur`an 30 juz, 12 kitab Al Muwatha` karya Imam Malik, dan puluhan kitab lainnya. Terapi itulah yang diberikan gurunya agar Imam Syafi’i menjauhi maksiat.

“Oh, kami paham. Jadi, kita berwudhu, berzikir, danberdoa sebelum belajar agar dosa-dosa yang kami lakukan diampuni oleh Allah sehingga ilmu yang kami pelajari dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat. Gitu kan, Ustadz?” sahut Zuhad.

Yes, that’s point,” tegas saya.

Setelah menyadari penting dan manfaatnya, mereka tidak pernah protes lagi. Mereka berusaha selalu berwudhu, berzikir, dan berdoa sebelum belajar PAI. Semoga selanjutnya menjadi terbiasa untuk berwudhu, berzikir, dan berdoa setiap kali akan belajar. Awalnya dipaksa, lama-lama jadi bisa dan terbiasa, akhirnya menjadi habit dan value.

Cara pandang saya tentang belajar rupanya membuat beberapa anak sangat tertarik untuk mengobrol dan sharing. Beberapa anak yang cukup sering mengobrol dan sharing dengan saya adalah Fajar Sidiq, Sandi, Faiq, Zamroni, dan Ikhwan. Banyak hal yang mereka curhatkan kepada saya. Tapi, lebih banyak tentang masa depan, impian, dan cita-cita.

Fajar adalah anak yang suka berorganisasi. Ia pernah menjadi presiden OASE SMART Ekselensia Indonesia. Ia juga tertarik dengan dunia tulis-menulis. Ketika menulis Karya Ilmiah Siswa SMART (KISS), saya dan Ustadz Andi Rahman menjadi pembimbingnya.

“Fajar, kamu tulis KISS-nya dengan serius. Nanti, Ustadz akan terbitkan jadi buku,” tantang saya ketika itu.

“Wah berat, Ustadz, tapi saya akan usahakan,” jawab Fajar.

“Kamu pasti bisa menulis dengan baik. Kamu akan menjadi siswa pertama yang KISS-nya diterbitkan menjadi buku,” tegas saya.

Alhamdulillah, Fajar berhasil menulis KISS-nya dengan baik, dan diterbitkan menjadi buku. Buku karyanya diluncurkan saat ia wisuda. Bukan hanya itu, KISS yang ditulis Fajar juga terpilih sebagai KISS Terbaik I tahun itu.

“Terima kasih kepada Ustadz Andi dan Ustadz Syafi’ie yang telah membimbing saya menulis KISS dan menerbitkannya menjadi buku,” demikian sepenggal cuplikan sambutan Fajar saat peluncuran bukunya. Fajar kini kuliah di Teknik Geologi Universitas Diponegoro.

Sandi adalah anak yang visioner. Pikirannya jauh ke depan. Pada usianya yang masih belia, ia kerap mengobrol dengan saya tentang peran pemuda dalam kebangkitan Islam. Semangatbelajarnya tinggi. Sandi memiliki kemampuan menulis yangbaik. Ia sering aktif dalam forum-forum kepenulisan, seperti magang di Kompas sebagai wartawan muda.

 “Ustadz, coba Ustadz baca tulisan saya dan berikan masukan atau komentar?” ujar Sandi satu ketika sambil menyodorkan beberapa lembar kertas.

“Oke, tapi tidak sekarang, ya. Ustadz ada kerjaan. Insya Allah besok Ustadz kasih komentarnya,” jawab saya. Besoknya saya bertemu dengan Sandi.

“San, tulisan kamu sudah oke. Ustadz tantang kamu untuk menulis buku,” sahut saya.

“Insya Allah, Ustadz. Tapi, tidak dalam waktu dekat ini karena saya mau fokus mempersiapkan diri untuk UN dan SNMPTN dulu,” jawabnya.

Semoga Sandi masih ingat dengan tantangan saya ini. Kini, Sandi kuliah di Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung.

Faiq adalah seorang anak yang cenderung pendiam. Cool and calm. Tapi, di balik itu potensinya luar biasa. Ia anak yang cerdas, mudah menangkap pelajaran. Adapun Zamroni, ia adalah anak yang sangat santun kepada guru dan teman-temannya. Teman-temannya menjulukinya sebagai anak yang paling saleh. Semangat belajarnya tinggi dan gigih dalam belajar.

Selain karena mengajar mereka, saya dekat dengan Zamroni dan Faiq karena keduanya adalah redaktur buletin Muqaddas. Saya pembimbing buletin terbitan OASE. Kami sering mengobrol dan berdiskusi menyiapkan buletin setiap kali akan terbit. Kini, Faiq kuliah di Teknik Elektro Universitas Indonesia, sedangkan Zamroni kuliah di Agrobisnis Perikanan Universitas Brawijaya.

Satu siswa lagi yang sering mengobrol dengan saya adalah Ikhwan. Ia adik kelas Fajar, Sandi, Faiq, dan Zamroni. Ikhwan anak yang sangat rajin. Semua tugas dari guru dikerjakannya dengan baik. Ia selalu antusias dan semangat saat belajar dan gemar membaca buku. Kini, Ikhwan kuliah di Manajemen Universitas Diponegoro. Selain berbakat dan cerdas, Fajar, Sandi, Faiq, Zamroni, dan Ikhwan adalah anak-anak yang baik dan rajin ibadahnya. Saya memang selalu pesankan hal ini setiap kali mereka mengobrol dengan saya.

“Kamu boleh kuliah di luar negeri, mengejar segudang prestasi, tapi ingatlah bahwa taat beribadah dan akhlak mulia adalah fondasinya. Jika kamu taat beribadah dan berakhlak mulia, insya Allah kamu akan diberikan kemudahan dalam meraih cita-citamu,” pesan saya.

Fajar, Sandi, Faiq, Zamroni, dan Ikhwan sangat menjaga shalat lima waktu berjamaah. Mereka juga terbiasa berpuasa Senin-Kamis. Selain itu, hafalan Al-Qur`an mereka juga cukup banyak. Mereka hafal juz 28, 29, dan 30. Bahkan Zamroni lebih banyak lagi hafalannya.

Menjaga ibadah dan berakhlak mulia akan menerangkan hati. Hati kita akan disinari oleh cayaha hidayah dan taufik dari Allah Swt. Jika Allah telah memberikan hidayah dan taufik-Nya, maka kita akan memperoleh kemudahan dalam menyerap ilmu dan pelajaran. Lebih dari itu, ilmu yang kita miliki akan bermanfaat dan berkah.

Saya berdoa untuk mereka, juga untuk anak-anak SMART lainnya, semoga senantiasa diberikan hidayah dan taufik oleh Allah sehingga memperoleh kemudahan dalam meraih cita-cita. Kemudian, menjadi manusia yang mampu menebar manfaat sebanyak-banyaknya bagi sesama dan lingkungannya. []

Kontributor : M. Syafiie (Mantan Guru SMART Ekselensia Indonesia, Direktur DD Pendidikan)