Menziarahi Nenek Moyang

cover

Pada momen Pulang Kampungnya SMART kali ini saya bersama keluarga mengunjungi Museum Sangiran. Museum Sangiran ini bertempat di Desa Sangiran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Tepatnya tak jauh dari tempat tinggal saya yaitu di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen.

Sebenarnya keluarga saya tinggal di Kota Semarang, akan tetapi pada pulang kampung tahun ini saya pulang ke rumah nenek. Kenapa saya pergi mengunjungi Museum Sangiran? Alasannya hanya satu: karena dekat. Namun seiring berjalannya waktu alasan-alasan lain pun bermunculan.

Kami berangkat menggunakan bus kecil jurusan Sumberlawang-Solo. Dengan biaya Rp 5000saja dalam seperempat jam kami tiba di gapura penyambutan Kecamatan Kalijambe. Gerbang yang cukup besar untuk memasuki Kecamatan Kalijambe yang berupa jalan lurus beraspal. Untuk tiba di Museum Sangiran, kami perlu sekali lagi menggunakan kendaraan bermotor. Maklum, karena jarak dari Gapura Kecamatan Kalijambe menuju Museum Sangiran sekitar 4 km jauhnya. Tapi tenang, di dekat gapura ada pangkalan ojek yang siap mengantar.

Gerbang Museum Sangiran terlihat megah dengan dua gading yang saling menyilang, entah itu gading mammoth atau taring harimau purba, yang jelas gadingnya panjang dan besar. Biaya masuk ke dalam museum terbilang terjangkau, untuk dewasa dikenakan biaya sebesar Rp 3500, sedangkan anak-anak dikenakan biaya sebesar Rp 1500. Juga ditambah biaya parkir untuk yang membawa motor sebesar Rp 1500.

img_20161228_105157

Museum Sangiran dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama berisi penjabaran teori big bang dan hubungannya dengan situs Sangiran. Bagian yang kedua berupa pameran benda-benda hasil penemuan para arkeolog. Lanjut ke bagian yang ketiga berisi peragaan diorama tentang bagaimana para arkeolog bisa menemukan situs sangiran beserta isinya.

Nah, setelah sekian lama berkeliling saya menemukan alasan utama kami mengunjungi Museum Sangiran. Di Museum Sangiran kita bisa mempelajari bagaimana kehidupan zaman pra aksara, seperti yang pernah diajarkan oleh bu Vera dulu ketika saya kelas 2 SMP. Yah, seperti melengkapi pelajaran dengan belajar mandiri mengunjungi situs terkait.

img_20161228_1058381 img_20161228_1032541

Jalan-jalan ke Museum Sangiran itu seru, tapi kenapa yang ke sana hanya orang-orang itu saja? Seorang bapak, ibu, beserta anak-anaknya. Walaupun anak mudanya ada, tapi sayang bisa dihitung jari. Mengapa bisa begitu? Mungkin karena tempatnya yang cukup sulit untuk dijangkau dengan keterbatasan angkutan umum. Padahal sudah dipromosikan oleh Kemendikbud.

Yah, harapan saya semoga para generasi muda pelopor bangsa lebih peka terhadap apa yang dimiliki oleh bangsanya. Hidup itu tidak hanya memikirkan untuk ke depannya, kadang kita juga harus menengok ke belakang untuk introspeksi diri. Seperti itulah yang saya rasakan selama berada di kawasan Museum Sangiran, walaupun sepertinya agak terlalu jauh. Atau begini saja, “Wahai para generasi muda yang (katanya) kekinian, di Sangiran terdapat banyak spot untuk berfoto-foto. Dijamin hasilnya keren dan layak mendapat ribuan likers. Mungkin”. Sekian.

 

Salam hangat dari Sragen yang sedang “hangat-hangatnya”,

 

Muhammad Al Hamid

(Kelas XII IPA)