Meski Candramawa, Ia Akan Indah pada Waktunya

Oleh: J. Firman Sofyan, Guru SMART Ekselensia Indonesia

 

Istilah  pembelajaran  dapat  didefinisikan  dari  berbagai  sudut pandang.  Dari  sudut  pandang  behavioristik,  pembelajaran  sebagai proses  pengubahan  tingkah  laku  siswa  melalui  pengoptimalan lingkungan  sebagai  sumber  stimulus  belajar.  Sejalan  dengan banyaknya  paham  behavioristik  yang  dikembangkan  para  ahli, pembelajaran  ditafsirkan  sebagai  upaya  pemahiran  keterampilan melalui  pembiasaan  siswa  secara  bertahap  dan  terperinci  dalam memberikan respons atau stimulus yang diterimanya yang diperkuat oleh tingkah laku yang patut dari para pengajar (Yunus, 2014).

Berdasarkan definisi tersebut, dapat disintesikan bahwa terdapat dua tujuan utama yang ingin dicapai dalam pembelajaran yaitu perubahan tingkah laku dan peningkatan pengetahuan siswa. Akan tetapi, pengalaman empiris observasi di sekolah dan diskusi dengan guru, ketika hasil belajar peserta didik tidak memenuhi target yang diinginkan, pasti peserta didik sering menjadi kambing hitam.

Ada beberapa keluhan yang disampaikan, seperti peserta didik kurang memperhatikan pelajaran, peserta didik tidak dapat konsentrasi menerima pelajaran dalam sesuai durasi mata pelajaran, bahkan peserta didik yang tetidur saat KBM berlangsung. Akan tetapi, sudahkah pada guru kelas atau guru mata pelajaran melakukan refleksi diri terhadap kerja profesi sebagai pendidik profesional? Apakah para guru telah menyiapkan segenap kemampuan pedagogik dalam mengajar peserta didik?

Selaras dengan tuntutan profesi sebagai pendidik, guru memiliki empat kompetensi yakni kepribadian, profesional, pedagogik, dan sosial. Untuk mencapai dua tujuan utama pembelajaran, mereduksi fakta empiris di kelas yang cukup mencengangkan, serta merevitalisasi kembali empat kompetensi guru, SMART Ekselensia Indonesia bekerja sama dengan Magister Psikologi Pendidikan, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, menyenggarakan lokakarya Peningkatan Keterampilan Guru dalam Membangun Lingkungan Belajar yang Kondusif dan Sportif.

Adapun tujuan utama lokakarya ini adalah melatih keterampilan guru terkait cara mengidentifikasi dan menangani perilaku bermasalah pada siswa serta bagaiman membangun hubungan interpersonal yang hangat dengan siswa kepada guru dalam kegiatan pembelajaran di SMART Ekselensia Indonesia.

Lokakarya dilaksanakan pada Selasa (30/11) di Aula Masjid Al Insan, Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD). Lokakarya, yang kemudian disebut juga intervensi ini, dibuka oleh Ustaz Troy sebagai pewara. Ustaz Rudy Purwanto, kepala SMA SMART Ekselensia Indonesia, memberikan sambutan sekaligus memotivasi agar seluruh guru senantiasa bekerja dengan keras dan cerdas.

Seluruh pendidik SMART, baik sekolah maupun asrama, mengikuti lokakarya dengan penuh semangat dan atraktif. Seluruh guru begitu antusias menyimak materi-materi yang disampaikan oleh dua fasilitator yaitu Amalia Fauziah dan Husnul Muasyaroh, mahasiswa Magister Psikologi Pendidikan, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia.

Lokakarya dilaksanakan dalam lima sesi. Sesi pertama dan kedua dibawakan  Amalia Fauziah dengan aktif, atraktif, dan penuh semangat. Dalam sesi pertama disampaikan materi Karakteristik Siswa dan Konteks serta Bersahabat dengan Siswa Ada beberapa submateri yang disampaikan untuk materi Karakteristik Siswa dan Konteks, antara lain konteks siswa, karakteristik umum remaja, perkembangan sosial, hingga perkembangan emosi. Adapun submateri sesi kedua antara lain kebutuhan siswa,empat dimensi kepribadian guru, cara membangun relasfi positif dengan siswa, hingga pemecahan kasus siswa.

Sesi kedua diisi Husnul Muasyaroh. Fasilitator kedua pun begitu andal dalam mempresentasikan seluruh materi. Adapun materi pada sesi kedua adalah Guru Bermartabat dengan submateri mengenal perilaku siswa bermasalah, identifikasi tujuan perilaku bermasalah siswa, penanganan siswa bermasalah, serta pembahasan kasus.

Sesi keempat dan kelima adalah persiapan roleplay serta pelaksanaan roleplay. Dalam roleplay, seluruh peserta dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok tersebut dilkasifikasikan atas empat alasan siswa melakukan perilaku bermasalah, yaitu attention seeking behaviour, power seeking behaviour, revenge seeking behaviour, dan avoidance of failure behaviour.

Roleplay dilaksanakan dengan prosedur berikut:

  1. kelompok membuat skenario identifikasi dan penanganan perilaku siswa
  2. masing-masing kelompok memainkan skenario
  3. kelompok lain mengidentifikasi tujuan perilaku bermaslaah yang disampaikan
  4. berdiskusi selama 25 menit dan presentasi 10 menit
  5. fasilitator mengaitkan kasus siswa bermasalah dengan upaya membangun relasi positif dengan siswa

Lokakarya disampaikan dengan metode active learning dan brainstorming, yang berarti seluruh peserta terlibat aktif dalam bertanya, berargumen, serta beraktivitas. Peserta bahkan selalu diajak diskusi untuk mencari solusi dari setiap studi kasus yang disampaikan. Agar sejalan dengan zaman, media yang digunakan fasilitator sangat mutakhir, misalnya penggunaan Google Form untuk pretes, Slido untuk angket, serta salindia yang yang komprehensif.

Tepat pukul 12.00, lokakarya ditutup kembali oleh pewara. Lokakarya berlangsung menarik, atraktif, komunikatif, dan solutif. Solutif dalam taraf yang relatif tentu saja karena berdasarkan hasil diskusi fasilitator dan peserta menangani masalah siswa dengan berbagai latar belakang yang berbeda sangatlah sulit dan kompleks.

Namun, seperti pesan salah satu fasilitator: semoga seluruh tenaga, waktu, pikiran yang dikerahkan untuk mendidik benih yang tidak kita tanam menjadi amal jariah bagi kita semua. Tugas guru baik di sekolah, maupun di asrama, hanyalah mendidik dengan sebaik-baiknya, dengan mengaplikasikan seluruh pengetahuan dan keterampilan yang ada . Hasil yang dicapai mungkin candramawa, namun percayalah seluruh usaha akan indah pada akhirnya.