Mumpung Masih SMA, Kudu Paham Quarter Life Crisis

Mumpung Masih SMA, Kudu Paham Quarter Life Crisis

Oleh : Dinni Ramayani

 

“Keberhasilan orang lain bukanlah kegagalan bagimu”

 

Kutipan tersebut merupakan salah satu tulisan yang saya baca di blog Mr.Budi Waluyo. Barangkali, secara tidak sadar kamu sering merasa gagal ketika melihat teman berhasil meraih sesuatu. Kita mulai mengkhawatirkan diri kita sendiri yang berdampak pada menurunnya rasa percaya diri.

 

Berbicara tentang ini, ada inspirasi dari buku teh Novie Ocktaviane Mufti yang berjudul Healing Yourself, buku mantap untuk mereka yang tengah berada di masa Quarter Life Crisis (QLC) atau krisis seperempat abad. Pada zona ini kita rentan terkena virus “membanding-bandingkan dan penuh kekhawatiran”. Teh Novie dalam bukunya menceritakan bahwa semua orang tentunya sama-sama memiliki kekhawatiran pribadi tentang diri, kehidupan, dan masa depan. Pada usia 20-an, orang bilang kekhawatiran itu bertambah-tambah, bahkan mencapai puncaknya. Yap Haqers, itulah yang disebut masa QLC.

 

Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Karena, kata teh Novie dalam bukunya, di usia-usia inilah individu berhadapan dengan keputusan-keputusan yang boleh jadi berdampak permanen untuk kehidupannya, seperti memilih pekerjaan, pasangan hidup, merencanakan masa depan, melanjutkan studi, bahkan keputusan memilih cita. Awalnya mungkin terasa biasa saja melalui fase ini, namun sedikit demi sedikit kebanyakan orang akan bertanya-tanya, “Kok dia hebat ya udah bisa jadi selebgram di usia segitu? Kok dia keren bisa bikin usaha sambil kuliah?” dan pertanyaan lainnya. Disadari atau tidak, pertanyaan itulah yang yang membuat Quarter Life Crisis ini semakin besar , besar, besar dan menjadi monster dalam keseharian kita. Kita merasa tertinggal akan keberhasilan orang lain.

 

Lantas, sebagai seorang muslim, bagaimana kita menghadapi Quarter Life Crisis ini?

 

Pola pikir seorang muslim dan muslimah itu seharusnya tidak sama dengan orang kebanyakan, tidak akan galau. Kenapa ? Tauhid. Tauhid/Keimanan mengajarkan keyakinan dan kebergantungan kepada Allah. Bukan berarti khawatir itu tidak ada, tapi iman membuat kita tahu ke mana kita bisa bergantung dan mengembalikan segala urusan. Jadi, QLC ini bisa terkelola dengan baik dengan iman dan berbaik sangka pada Allah. Nah, sekarang kalau kita galau, coba cek lagi jiwa kita, apakah terpaut sama Allah? Cek juga amalan shalih kita, apakah berantakan?

 

Sebenarnya kita menyadari bahwa khawatir itu melelahkan. Sayangnya, kita sering mengkhawatirkan apa-apa yang sudah Allah tetapkan. Padahal, akan seperti apa pencapaian mimpi-mimpi kita, bagaimana kisah hidup kita, dengan siapa kita menikah, dan bagaimana aktualisasi diri kita sudah Allah atur sedemikian rupa. Teh Novie dalam bukunya juga melempar sebuah pertanyaan yang patut jadi renungan, “Apa mungkin ketika kita mengambil sikap untuk khawatir berarti kita tanpa sadar sedang ragu bahwa Allah adalah yang maha mengatur dan menjamin dengan baik segalanya?” Astaghfirullah.

 

Selalu ingat bahwa kita punya garis start masing-masing, kita punya lintasan masing-masing, punya finish masing-masing, dan yang perlu disadari adalah kita punya waktu masing-masing. Dan semua itu telah Allah desain, dan Allah tahu kapan waktunya semua ingin kita akan tertunaikan. Bukankah semua telah Allah kendalikan? Masa lalu, masa sekarang dan masa depan tak pernah luput dari pengawasan Allah Swt.

 

Lalu, maukah mulai hari ini kita tak lagi khawatir atas apa-apa yang sudah Allah jamin? Maukah mulai hari ini kita tepis segera kekhawatiran itu dengan keimanan pada-Nya?