Panji, Presiden Mahasiswa IPB yang Bercita-cita Jadi Kepala Desa

350_250_PanjiPanji Laksono, Presiden Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (KM) IPB tahun 2017 tercatat sebagai mahasiswa Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) angkatan 50. Pria kelahiran 22 Mei 1996 di Desa Danau Salak, Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini merupakan salah satu penerima Beasiswa Aktivis Nusantara angkatan 2017.

Titik balik kehidupan seorang Panji dimulai pada awal kelulusan dari sekolah dasar (SD). Seorang guru menyarankannya untuk masuk ke Sekolah SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa yang terletak di Parung, Bogor, Jawa Barat. Dari sepuluh orang pendaftar yang berasal dari Kalimantan Selatan, Panji adalah satu-satunya siswa yang diterima di sekolah tersebut.

Kehidupan sekolah asrama tentu bukan perkara mudah bagi seorang anak yang baru lulus dari bangku SD. Sebagai siswa baru, Panji tidak diizinkan keluar dari asrama selama dua bulan. Ia pun hanya memiliki waktu 20 menit selama seminggu untuk menelpon keluarganya di Kalimantan. Dengan jadwal sekolah yang padat, perlahan Panji mulai terbiasa dengan kehidupan di SMART Ekselensia. Ia pun hanya bisa pulang ke Kalimantan setiap satu tahun sekali pada liburan awal tahun, sedangkan liburan Ramadhan biasa dihabiskan bersama keluarga donatur atau teman seasramanya.

Selama di sekolah, Panji aktif mengikuti kegiatan non akademik seperti Organisasi Siswa SMART Ekselensia (OASE) atau biasa dikenal dengan OSIS dan tim perkusi sekolah. Ia pernah menjadi staf OASE sewaktu SMP, Menteri Keuangan, dan Presiden OASE sewaktu SMA. Baginya, pengalaman paling berharga didapat melalui tim perkusi sekolah. Ia pernah tampil di berbagai tempat, mulai dari kementerian hingga pemukiman kumuh. Di sinilah ia mulai belajar mengenai kehidupan bahwa dunia ini tidak sekadar tegakan pohon karet seperti di desanya di Kalimantan.

Perjuangan Panji untuk menjadi mahasiswa pun bukan perkara mudah. Panji mencoba semua kemungkinan untuk dapat diterima di perguruan tinggi negeri (PTN). Ada tiga PTN yang saat itu menerimanya, hingga akhirnya ia menentukan pilihan pada IPB.

Pilihannya tidak salah, banyak pengalaman berharga yang Panji dapatkan selama menjadi mahasiswa IPB. Mulai dari menjadi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Program Pendidikan Kompetensi Umum (PPKU), Ketua Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) 51 dan 52, anggota BEM FMIPA, Ketua BEM FMIPA, dan kini menjadi Presiden Mahasiswa.

Alasan Panji memilih terjun di dunia aktivis cukup sederhana. Ia hanya ingin belajar sesuatu yang tidak mungkin ia dapatkan di dalam ruang kelas. Dengan menjadi seorang aktivis, banyak pengalaman dan kesempatan baru yang ia dapatkan. Contohnya ketika ia mengikuti Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa Tingkat Lanjut (LKMM-TL) belum lama ini. Pertemuannya dengan salah satu peserta LKMM mengubah cara berpikir Panji dalam membangun Indonesia.

Kembali ke kampung halaman merupakan impian seorang Panji. Ia ingin membangun usaha keluarga dengan memanfaatkan potensi lahan di daerahnya. Panji juga bermimpi untuk menjadi Kepala Desa di desanya. Ia percaya bahwa pembangunan harus dimulai dari lini terkecil yaitu desa. Indonesia tentu akan maju jika para pemudanya mau kembali dan membangun ke desanya masing-masing.

Inilah pembeda Panji dengan penerima Beasiswa Aktivis Nusantara lainnya. Kehidupan semasa sekolah asrama telah mengubah seorang Panji. Dari anak SD yang ‘cengeng’ menjadi remaja mandiri yang mampu tinggal di tanah Jawa seorang diri. Masa kampusnya pun diwarnai dengan banyak halang rintang. Tidak mudah memimpin kepanitiaan terbesar dengan jumlah peserta terbanyak di IPB selama dua tahun berturut-turut, yaitu MPKMB 51 dan 52.

Sebagai Presiden KM IPB, Panji bukan hanya bertanggung jawab dengan anggota BEM-nya saja tapi juga seluruh mahasiswa IPB. Ia mewakili suara mahasiswa dalam Majelis Wali Amanat (MWA) di IPB dan menjadi ujung tonggak perjuangan pada pemilihan rektor mendatang. Di tataran BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), Panji merupakan representasi dari mahasiswa IPB serta menjadi penanggung jawab isu pertanian BEM SI bersama dengan teman-teman Kementerian Kebijakan BEM KM IPB.

Ada satu motivasi dari Kepala Asrama di SMART Ekselensia yang masih dipegang teguh oleh Panji. ‘Hiduplah dengan berani karena mati hanya sekali.’ Panji menjalani kehidupannya dengan penuh keberanian sesuai dengan pesan Kepala Asramanya. Baginya, jika ada kesempatan untuk belajar, maka cobalah kesempatan tersebut. Karena setiap perjalanan hidup tentu terdapat pembelajaran di dalamnya.(MI)

Kontak : Panji 0812.1963.3036

Sumber: http://ipbmag.ipb.ac.id/mahasiswaberprestasi/709c1c5f17cb945989c85415c835c32b/Panji-Presiden-Mahasiswa-IPB-yang-Bercita-cita-Jadi-Kepala-Desa#.WPVlhNoI7k0.facebook