Pembelajaran Kimia dalam Pentas Drama

Pembelajaran Kimia dalam Pentas Drama

Pelajaran yang termasuk ke rumpun matematika dan ilmu pengetahuan alam, khususnya pelajaran Kimia, banyak ditakuti bahkan tidak disukai oleh para siswa. Kimia menjadi bagian pelajaran yang tergolong pada mata pelajaran MAFIA (Matematika, Fisika, dan Kimia) dan mempunyai predikat “mengerikan” serta menjadi momok di sekolah. Sudah lumrah bahwa pelajaran tersebut identik dengan perhitungan yang rumit dan membuat kepala pening tujuh keliling.

Di samping berlimpah dengan rumus-rumus dan perhitungan yang rumit, pelajaran Kimia juga dikenal jauh dari nilai-nilai seni dan otak kanan. Bahkan siswa-siswa yang masuk ke dalam penjurusan IPA dikenal dengan “siswa kiri”, yakni siswa yang memiliki kemampuan otak kiri yang dominan dan konon kurang kreatif

Tetapi, stigma tersebut tidak berlaku di SMART Ekselensia Indonesia. Siswa-siswa SMART, dalam pandangan saya, rata-rata kreatif dan mempunyai nalar seni yang bagus. Pandangan saya ini bukan tanpa dasar. Banyak fakta yang saya temukan di SMART yang menunjukkan bahwa mereka kreatif dan berselera seni tinggi, salah satunya terlihat pada trashic (trasch music).

Mendapati anak-anak dengan kreativitas yang tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi saya sebagai seorang guru; bagaimana saya harus mengelola pembelajaran dalam kelas dan berusaha menyuguhkan pembelajaran yang kreatif, terutama dalam memberikan pembelajaran Kimia kepada siswa kelas 4 dan 5 IPA yang pada tingkatan ini penuh dengan rumus dan perhitungan rumit. Untuk mengajar anak-anak dengan kecerdasan di atas rata-rata (diketahui dari hasil psikotes pada saat seleksi penerimaan siswa) dan tingkat kreativitas yang bagus, saya pun lebih memosisikan diri sebagai fasilitator. Artinya, 60-70 persen siswa yang aktif di dalam proses pembelajaran, sedangkan saya hanya melihat dan menilai serta memberikan arahan.

Seperti dalam pembelajaran kimia untuk kelas 4 IPA. Ketika membahas materi hidrolisis garam, saya menggunakan metode Developmentally Appropriate Practices, yaitu suatu metode pembelajaran yang didasarkan pada potensi kemampuan siswa. Karena siswa SMART umumnya mempunyai kecerdasan seni yang bagus, saya pun memanfaatkan potensi ini dalam pembelajaran Kimia.

Saya meminta siswa untuk membuat komik tentang beberapa subbab di dalam bab hidrolisis garam secara berkelompok. Komik yang telah mereka buat kemudian dipentaskan menjadi drama. Dalam pembelajaran ini siswa terasah otak kiri maupun otak kanannya, yaitu menyampaikan pesan berupa teori kimia dalam sebuah pementasan.

Tahapan dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

Pertama, setiap siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk memahami tema subbab yang diberikan, dan membuat konsep pembuatan komik. Kedua, siswa membuat komik yang telah mereka konsep. Dan ketiga, mementaskan komik yang telah dibuat dalam sebuah drama.

Peran saya sebagai guru pada tahapan pertama adalah menjadi fasilitator untuk menjawab pertanyaan para siswa jika ada konsep dalam teori yang tidak bisa mereka pecahkan dalam kelompok. Pada tahapan kedua saya berperan memberikan penilaian terhadap proses pembuatan komik. Pada tahapan ketiga, saya berperan melakukan penilaian performa dan memberikan konfirmasi terhadap penampilan siswa.

Metode pembelajaran seperti ini membuat 100 persen siswa terlibat aktif di kelas sehingga tidak ada siswa yang mengantuk atau tertidur. Di lain pihak, saya sebagai guru bisa memaksimalkan fungsi sebagai fasilitator yang melakukan kontrol kelas, penilaian, dan konfirmasi terhadap apa yang dilakukan siswa. Di samping itu, metode pembelajaran ini merangsang kreativitas siswa.

Saya tercengang melihat kreativitas siswa, yang menurut saya luar biasa. Kreativitas mereka terlihat jelas pada saat pembuatan komik. Komik yang mereka buat bagusbagus; tidak hanya kualitas gambarnya, isi ceritanya pun menarik. Yang membuat saya lebih tercengang lagi adalah saat mereka menampilkan drama. Saya tidak menyangka bahwa siswa begitu menghayati peran dalam drama tersebut. Saya pikir karena pelajaran ini pelajaran eksakta mereka akan menampilkan drama biasa-biasa saja. Tetapi dugaan saya salah, ternyata mereka menampilkan drama dengan penghayatan yang sangat bagus, dan menyiapkan secara sungguh-sungguh properti-properti tambahan untuk penampilannya.

Setelah penampilan drama dilakukan, selanjutnya saya menguji pengetahuan mereka dengan mengadakan posttest. Hasilnya mengjutkan dimana mereka mendapatkan nilai rata-rata post-test yang bagus, yaitu 80.55, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran cukup berhasil. Mereka dapat menjelaskan konsep teori dalam hidrolisis garam dengan penampilan drama, dan pesan-pesan dalam drama itu tertangkap baik pula oleh setiap kelompok.

Kembali harus saya akui dan syukuri, siswa-siswa SMART tidak hanya cerdas otak kirinya saja, tetapi juga cerdas otak kanannya. Mengajar di SMART memberikan peluang bagi saya untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik dalam mengajar dan mengembangkan berbagai metode pembelajaran karena siswanya kooperatif dan mampu mengikuti setiap metode yang saya berikan.

Abdul Gani
Guru SMART Ekselensia Indonesia