Pengalaman Baru ketika Homestay

melalui-homestay-dompet-dhuafa-ajak-orang-tua-asuh-inspirasi-siswa-_150718084717-449

Pertengahan Ramadhan pun tiba. Siswa SMART Ekselensia Indonesia diprogramkan untuk beriktikaf di masjid-masjid selama liburan dua minggu menjelang Idul Fitri. Karena aku baru kelas 1 SMP, aku beriktikaf di Masjid “Al-Insan”, masjid satu lingkungan dengan sekolahku. Kelas yang lebih besar dari kelasku beriktikaf di luar lingkungan SMART, ada yang sampai Ciputat.

Bagi sebagian temanku, iktikaf di luar lingkungan SMART terasa menyenangkan. Ada suasana baru, katanya. Tapi, aku lebih suka di masjid dekat asrama karena aku belum terbiasa dengan lingkungan asing.

Satu dua hari aku memang masih bisa menikmati. Barulah pada hari ketiga aku sudah mulai bosan tinggal di dalam masjid. Tiga hari saja sudah terasa bosan, apalagi dua Minggu. Walau begitu, aku berusaha untuk bertahan. Bocoran dari kakak kelas, dua minggu itu tidak hanya iktikaf yang dilaksanakan, tetapi ada kegiatan satu lagi, yaitu home stay.


“Kak, home stay itu apa sih?” tanyaku pada seorang kakak kelas.
“Home stay itu kegiatan mengajak anak dhuafa untuk bersenang-senang oleh para donatur lembaga.”

Mendengar jawaban itu aku mulai merasa tidak bosan tinggal di masjid. Aku juga berpikir kenapa harus bosan di masjid padahal berada di dalamnya diniatkan untuk ibadah.
Dua hari kemudian aku mendapat kabar dari ustadz yang beriktikaf bersama kami bahwa aku dan temanku Ade mendapat undangan untuk home stay bersama donatur yang katanya seorang perwira TNI. Aku dan Ade tentu saja sangat senang karena tidak semua siswa mendapatkan home stay.

Menunggu Penjemputan

Hari-hari demi hari aku menunggu untuk mendapat jemputan dari donatur yang mau mengajak kami. Setelah dinanti-nanti aku mendapat kabar lagi dari ustadz yang sama bahwa home stay aku dan Ade dibatalkan. Sang donatur ada urusan yang lebih penting. Mendengar penjelasan itu, aku dan Ade merasa kecewa dan sedih. Aku berusaha bersabar dan berkata dalam hati bahwa mungkin itu bukan rezekiku.

Hari kecewa dan sedih sudah berlalu. Waktunya untuk semangat memperbanyak ibadah. Saat iktikaf kami paling banyak membaca Al-Quran. Selain membacanya merupakan perintah Allah, guru mengaji kami juga menyuruh semua siswa untuk mengkhatamkan Al-Quran saat Ramadhan.

Satu minggu berlalu aku pun sudah mengkhatamkan Al-Quran. Saat itu pun aku senang karena baru pertama kali aku mengkhatamkan Al-Quran. Setelah khatam, aku tidak berhenti membaca Al-Qur`an, aku pun mulai dari awal lagi. Tidak lama kemudian aku mendapat kabar lagi dari ustadz yang beriktikaf bersama kami bahwa aku mendapat undangan home stay lagi dari donatur lain. Kali kedua itu tidak hanya aku, ada Ade, Kak Dian, dan Kak Umar. Kami semua sangat senang, setelah itu aku langsung bersyukur pada Allah

Seperti biasa, sebelum berangkat home stay kami menunggu jemputan dari donatur. Detik demi detik mulai berlalu, menit demi menit berlalu, jam demi jam berlalu. Tidak sia-sia aku bersabar akhirnya datang juga jemputan. Aku berangkat dua hari sebelum Lebaran. Aku menaiki angkot untuk mencapai tujuan.

Pengalaman di “Rumah Baru”

Saat aku sampai di tujuan, tampaklah rumah yang cukup bagus, halamannya luas, dan banyak sepedanya. Di dalam satu area itu ada empat rumah. Rumah ke satu adalah rumah yang mengantar kami. Rumah yang kedua rumah saudaranya; di sanalah aku dan Ade tinggal. Rumah yang ketiga dan keempat masih rumah saudaranya juga. Jadi, satu area itu sekeluarga.

Saat masuk rumah aku merasa malu dilihat orangtua home stayku. Saat aku masuk ke rumah dengan mengucapkan salam, saat itu juga aku langsung disuruh duduk oleh orang yang dipanggil ‘Bapak’. Aku dan Ade ditanya nama asal daerah, kelas, dan cita-cita.

Tidak lama kemudian seorang wanita keluar dari kamar mandi dengan membawa anak kecil yang baru saja dimandikan. Beliau bertanya kepada kami hal yang sama, setelah itu kami disuruh menyimpan barang-barang kami di kamar. Kami disuruh mandi terlebih dulu sebelum akhirnya diminta ke meja makan untuk berbuka puasa bersama.

Aku senang sekali karena baru pertama kali datang sudah diajak berbuka puasa bersama. Berbukanya pun dengan sup buah makanan. Setelah berbuka bersama kami langsung pergi ke masjid untuk melaksanakan Shalat Maghrib berjamaah. Sepulangnya ke rumah, aku menonton televisi terlebih dahulu sembari menunggu azan isya. Setelah azan berkumandang, kami kembali ke masjid untuk melaksanakan Shalat Isya dan Tarawih. Keesokan harinya, setelah Shalat Subuh pagi-pagi sekali kami diajak untuk bersepeda mengelilingi kompleks. Sore hari, aktivitas kami di rumah itu sama seperti kemarin harinya.

Pada malam takbiran atau semalam sebelum Lebaran, aku dikasih oleh Ibu baju lebaran yang sangat bagus. Setelah itu aku dan Ade diajak untuk makan malam bersama. Saat itu banyak keluarga Bapak dan Ibu berdatangan untuk silaturahim. Aku merasa malu, saat itu hanya aku, Ade, Kak Dian dan Kak Umar saja yang bukan anggota keluarga mereka. Padahal, sebenarnya aku dan yang lainnya dianggap sebagai keluarga oleh Bapak, Ibu, dan yang lainnya. Malam itu juga langit dihiasi oleh bintang kembang api yang meledak-ledak di udara. Tak terasa malam sudah menjemput, rasa kantuk sukar dielakkan. Aku pun langsung ke kamar untuk tidur.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami berangkat untuk menunaikan Shalat Idul Fitri. Setelah shalat kami mengunjungi para tetangga untuk bersilaturahim; setelah itu, kembali ke rumah untuk menyambut tamu yang datang.

Pada hari Lebaran kedua, aku dan Ade diajak Bapak dan Ibu ke Bandung. Di Bandung aku tinggal bersama anak-anak Bapak dan Ibu. Saat diajak aku sangat senang sekali karena tempat saudara yang mau dikunjungi itu dekat dengan rumah ibu kandungku. Dengan demikian, ibu kandungku bisa bertemu denganku walaupun hanya sebentar.

Setelah ibu kandungku pulang, kami langsung kembali lagi ke Bogor. []

Kontributor : Aldi Maulana (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)