Pengalaman HOME STAY yang Tak Akan Pernah Kulupakan

Meski Ramadan telah berlalu namun kenangan menjalankan puasa di SMART tak akan pernah aku lupakan. Aku yang sekarang telah menyandang status mahasiswa selalu merindukan masa-masa di mana bisa berbuka bersama teman-teman di asrama. Mengobati rasa rindu itu aku menuliskan pengalamanku kala mengikuti program HOME STAY sebagai pengingat kalau Ramadan di SMART tak tergantikan.  

 

Pengalaman HOME STAY yang Tak Akan Pernah Kulupakan

Oleh: Aldi Maulana, Alumni SMART Ekselensia Indonesia Angkatan IX

 

Pertengahan Ramadhan tahun 2012 tiba. Siswa SMART Ekselensia Indonesia diprogramkan untuk beriktikaf di masjid-masjid selama liburan dua minggu menjelang Idul Fitri. Karena kala itu aku baru kelas 1 SMP, aku beriktikaf di Masjid Al-Insan, masjid yang berada di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan. Kelas yang lebih besar dari kelasku beriktikaf di luar lingkungan SMART, ada yang sampai Ciputat.

Bagi sebagian temanku, iktikaf di luar lingkungan SMART terasa menyenangkan. Ada suasana baru, katanya. Tapi, aku lebih suka di masjid sekolah karena aku belum terbiasa dengan lingkungan asing.

Satu dua hari aku memang masih bisa menikmati. Barulah pada hari ketiga aku mulai bosan tinggal di dalam masjid. Tiga hari saja sudah terasa bosan, apalagi dua minggu. Walau begitu, aku berusaha untuk bertahan. Bocoran dari kakak kelas, dua minggu itu tidak hanya melaksanakan iktikaf, tetapi ada kegiatan lainnya yakni HOME STAY. Aku yang masih hijau kebingungan karena belum pernah mendengar HOME STAY, daripada larut dalam penasaran akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada kakak kelas.

“Kak, HOME STAY itu apa sih?” tanyaku. “HOME STAY itu program tahunan untuk mengajak anak SMART berlebaran dan tinggal selama beberapa hari bersama donatur DD Pendidikan,” jawabnya.

Mendengar jawaban itu aku mulai merasa tidak bosan tinggal di masjid. Aku juga berpikir kenapa harus bosan di masjid padahal berada di dalamnya diniatkan untuk ibadah. Dua hari kemudian aku mendapat kabar dari ustaz yang beriktikaf bersama kami bahwa aku dan temanku Ade mendapat undangan untuk HOME STAY bersama donatur yang katanya seorang Perwira TNI. Aku dan Ade tentu saja sangat senang karena tidak semua siswa mendapatkan mengikuti program ini.

Karena sudah tak sabar setiap hari aku menunggu kabar penjemputan, katanya sih donatur akan menjemput kami. Lalu aku mendapat kabar dari ustaz kalau jadwal HOME STAY untukku dan Ade dibatalkan karena sang donatur ada urusan lebih penting. Mendengar penjelasan itu, aku dan Ade kecewa dan sedih. Aku berusaha bersabar dan berkata dalam hati bahwa mungkin itu bukan rezekiku.

Hari kecewa dan sedih sudah berlalu. Waktunya untuk semangat lagi dengan memperbanyak ibadah. Satu minggu berlalu aku pun sudah mengkhatamkan Alquran. Saat itu pun aku senang karena baru pertama kali aku mengkhatamkan Alquran. Setelah khatam, aku tidak berhenti membaca Alquran, aku pun mulai dari awal lagi. Tidak lama kemudian aku mendapat kabar lagi dari ustaz yang beriktikaf bersama kami bahwa aku mendapat undangan HOME STAY lagi dari donatur lain. Kali kedua itu tidak hanya aku, ada Ade, Kak Dian, dan Kak Umar. Kami semua sangat senang, setelah itu aku langsung bersyukur pada Allah.

Seperti biasa, sebelum berangkat HOME STAY kami menunggu jemputan dari donatur. Detik demi detik berlalu, menit demi menit berlalu, jam demi jam berlalu. Tidak sia-sia aku bersabar akhirnya datang juga kesempatanku untuk merasakan HOME STAY. Aku berangkat dua hari sebelum Lebaran menggunakan mobil yang dipesan khusus untuk kami.

Saat aku sampai di tujuan, tampak di kejauhan rumah bagus dengan halaman luas, dan banyak sepeda. Kalau kuhitung dalam satu area itu ada empat rumah. Rumah ke satu adalah rumah yang mengantar kami, rumah kedua rumah saudaranya; di sanalah aku dan Ade tinggal. Rumah ketiga dan keempat masih rumah kerabat donatur. Jadi bisa dibilang kalau satu area itu satu keluarga.

Saat masuk rumah aku merasa malu dilihat orang tua HOME STAY ku. Saat masuk ke dalam rumah aku langsung disuruh duduk oleh orang yang dipanggil ‘Bapak’. Aku dan Ade ditanya nama asal daerah, kelas, dan cita-cita.

Tidak lama kemudian seorang wanita keluar dari kamar mandi dengan membawa anak kecil yang baru saja dimandikan. Beliau bertanya kepada kami hal yang sama, setelah itu kami disuruh menyimpan barang-barang kami di kamar. Kami disuruh mandi terlebih dulu sebelum akhirnya diminta ke meja makan untuk berbuka puasa bersama.

Aku senang sekali karena baru pertama kali datang sudah diajak berbuka puasa bersama. Berbukanya pun dengan sup buah. Setelah berbuka bersama kami langsung pergi ke masjid untuk melaksanakan Salat Magrib berjamaah. Sepulangnya ke rumah, aku menonton televisi terlebih dahulu sembari menunggu Azan Isya. Setelah azan berkumandang, kami kembali ke masjid untuk melaksanakan Salat Isya dan Tarawih. Keesokan harinya, setelah Salat Subuh pagi-pagi sekali kami diajak bersepeda mengelilingi kompleks.

Pada malam takbiran atau semalam sebelum Lebaran, aku diberi baju lebaran yang sangat bagus. Setelah itu aku dan Ade diajak makan malam bersama. Saat itu banyak keluarga Bapak dan Ibu berdatangan untuk silaturahmi Aku merasa malu, saat itu hanya aku, Ade, Kak Dian dan Kak Umar saja yang bukan anggota keluarga mereka. Padahal, sebenarnya aku dan yang lainnya dianggap sebagai keluarga oleh Bapak dan Ibu. Malam itu langit dihiasi kembang api yang meledak-ledak di udara. Tak terasa malam sudah menjemput, rasa kantuk sukar dielakkan. Aku pun langsung ke kamar untuk tidur.

Keesokan harinya kami berangkat untuk menunaikan Salat Idul Fitri. Setelah salat kami mengunjungi tetangga untuk bersilaturahmi; setelah itu, kembali ke rumah untuk menyambut tamu yang datang.

Di Lebaran kedua, aku dan Ade diajak Bapak dan Ibu ke Bandung. Di Bandung aku tinggal bersama anak-anak Bapak dan Ibu. Saat diajak aku sangat senang sekali karena tempat saudara yang mau dikunjungi itu dekat dengan rumahku. Alhamdulillah aku bisa bertemu ibu walaupun hanya sebentar.

Setelah ibuku pulang, kami langsung kembali lagi ke Bogor.

 

Ah kenangan itu rasanya baru saja terjadi kemarin, ternyata sudah tujuh tahun berlalu. Aku berdoa semoga Ibu dan Bapak donatur yang mengajakku HOME STAY selalu sehat dan diberi selalu dalam lindungan Allah Swt. aamiin.