Pengalaman Seru Bersama Pesantren Literasi

Oleh: Nazrul Azmy

“Kling… klung… dung…”, kurang lebih seperti itu suara alunan musik penghilang penat yang menyambut kami saat tiba di Kampung Sindang Barang. Alat-alat musik itu adalah rangkaian bambu yang bergoyang dan menari yang biasa disebut “Angklung” dan sebuah gendang. Alat-alat musik itu dimainkan oleh beberapa orang. Salah seorang pemain mengatakan bahwa seni musik tersebut dinamakan “Angklung Gubrak”. Setelah disambut, kami pun memasuki kawasan yang dapat membuat kami cukup tertarik.

Setelah itu, kami dipersilakan duduk di sebuah saung yang cukup besar. Dari tempat kami disambut sampai ke saung cukup jauh, belum lagi kami dipayungi oleh panasnya mentari, puasa pula. Sesampainya kami di saung, kami dipersilakan untuk menonton Tari Jaipong yang dibawakan oleh teh Asih, beliau adalah angkatan pertama yang mendirikan Kampung Sindang Barang. Teh Asih menari dengan lagu “Bajidor Kahot”. Setelah menyaksikan tarian, kami diberi tahu tentang budaya Sunda oleh kang Ukang. Salah satu budaya Sunda yang beliau jelaskan adalah  “Cimande”, seni seni bela diri. Setelah mendapat penjelasan, kami pun melaksanakan Salat Dzhuhur. Setelah salat, kami kembali ke saung untuk mengikuti kegiatan pelatihan menulis.

“Kita latihan konsentrasi dulu, yuk…!” ajak kak Dini kepada kami. Kemudian, kami disuruh untuk membuat barisan berbentuk lingkaran. Latihan konsentrasi ini dilakukan dengan cara menghitung sambil menunjuk orang yang harus menghitung selanjutnya. Jika sudah ditunjuk, namun masih berpikir lama, maka orang itu akan keluar memisah dari barisan. Pada saat giliranku ditunjuk, aku masih berpikir panjang, aku pun memisahkan diri. Saat aku mundur, aku terpleset dan akhirnya terjatuh. Para manusia yang ada banyak yang menertawaiku, namun ada juga yang merasa kasihan kepadaku. “Kamu kenapa?” tanya mbak Hani. “Tidak apa, kak! Sekadar jatuh terpeleset,” jawabku.

Setelah latihan konsentrasi, kami dipersilakan untuk berkumpul per kelompok. Setelah itu, kami diberikan pertanyaan tentang kepenulisan, lalu mendiskusikan jawabannya. Kemudian, kami—per kelompok—disuruh untuk menjajarkan barang-barang yang kami miliki sampai sepanjang-panjangnya. Waktu penjajaran adalah sesuai dengan habisnya dua putaran sebuah lagu. Kelompok yang paling panjang adalah pemenangnya. Lalu, kami diberikan materi tentang menulis. Sebelum pelatihan, kak Hikaru, sang pelatih, memberikan kalimat persuasif. “Kita harus membawa bekal dari sini!” seperti itu yang dikatakan kak Hikaru.

Tak terasa, jarum jam terus berputar dan sudah menunjukkan pukul lima belas. Kak Hikaru pun memberikan dua hasil karyanya—yang diikut lombakan—kepada kami. Setelah itu, Kak Hikaru memerintahkan kami untuk menulis—dengan jenis tulisan bebas—tentang wisata budaya ke Kampung Sindang Barang. Waktu yang diberikan hanya selama lima menit. Setelah itu, kami dipersilakan untuk beristirahat dan Salat Ashar dengan waktu hanya lima belas menit, setelahnya kembali lagi ke saung.

Setelah istirahat, kami disuruh untuk membaca, menganalisis, dan memahami isi naskah yang dibuat oleh kak Hikaru. Kami disuruh untuk menemukan perbedaan jenis tulisan dari kedua naskah itu; fiksi atau nonfiksi. Setelah itu, diberitahukan tulisan terbaik tentang wisata tadi. Ternyata, diambil empat karya terbaik, yaitu milik kak Emil, teh Mutsla, kak Anisa, dan mbak Diah. Mereka pun diberi hadiah berupa magnet dari Thailand.

Mentari pun mulai bosan dan lelah berada di atas, turunlah dia ke arah barat. Kak Hikaru berpamitan untuk pulang. Aku dan kawan-kawanku masih bermain permainan tradisional. Para peserta perempuan malah selfie-selfie-an dengan kamera yang mereka miliki—walau sekadar kamera di telepon genggam.

“Dasar, cewek-cewek, sok-sok cakep ye…” sindir kak Akhie.

“Tahu tuh, padahal yang cakap saja tidak ikut foto-foto,” gurau diriku.

“Hm.. Hm..” sahut Teh Lia. “Ada apa, Teh?” tanyaku. “Nggak… dengar sesuatu aja”, jawabnya.

Intensitas cahaya di langit pun mulai berkurang. Kami juga dipersilakan untuk bersiap-siap pulang. Berpamitlah kami kepada kang Ukang. Berjalan pulang sambil menunggu waktu Magrib datang. Capek, kepala pusing, dan gembira menjadi satu rasa dalam diri. “Alhamdulillah, kegiatan tersebut dapat mengisi waktu liburan saat Ramadhan.”