Penghancuran Buku dari Masa ke Masa, Refleksi Kekuatan Buku

_20161005_211801

Oleh: Nasrul Azmy, Kelas XI IPS. 

Pagi itu langit cerah. Seperti biasa aku bersiap-siap ke sekolah dengan hati riang, hari itu aku nampak sangat siap menyambut hari yang kuyakini akan penuh dengan kebaikan. Benar saja, ternyata hari itu pihak sekolah memutuskan untuk mengefektifkan waktu belajar menjadi dua puluh menit dari yang biasanya tiga puluh menit per mata pelajaran. Usut punya usut ternyata ada tiga kegiatan yang membuat kegiatan belajar mengajar di SMART dipadatkan antara lain Rapat Akbar Olimpiade Humaniora Nusantara (OHARA) 2016, Bedah Buku “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” yang diadakan oleh Pusat Sumber Belajar Komunitas (PSBK) Makmal Pendidikan, dan “Pelatihan Mengenal Diri” dari kakak-kakak jurusan psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Seluruh rangkaian acara tersebut diadakan pukul 13.00 WIB, setelah melaksanakan Shalat Dzhuhur para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Para siswa kelas 7 dan 8 diminta berkumpul di masjid untuk mengikuti “Pelatihan Mengenal Diri”. Siswa kelas 9, 10, 11, 12 yang menjadi panitiia OHARA 2016 diminta berkumpul di Aula Al-Insan. Nah sisanya diarahkan untuk menghadiri acara bedah buku di PSBK. Aku termasuk siswa yang tersisa tersebut hehe.

Sebelum acara dimulai, para peserta bedah buku diminta mengisi daftar presensi yang sudah disediakan. Sambil menunggu peserta lain datang, kami yang hadir diperkenankan untuk membaca buku “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” yang dibedah kala itu.setelah beberapa lama menunggu akhirnya acara dimulai juga. Acara yang diiisi oleh ibu Lita Soerdjadinata, penerjemah buku “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” yang ditulis oleh Fernando Baez. Fernando Baez merupakan pakar perbukuan asal Venezuela, buku yang dibedah siang itu terinspirasi dari pengalamannya ketika ia tengah berada di Irak saat pasukan Amerika Serikat menggempur Bagdad pada Mei 2003. Di Universitas Bagdad ia melihat bagaimana salah satu pusat pendidikan di Timur Tengah itu hancur dan semua buku yang ada di perpustakaan universitas tersebut dibakar dan dijarah. Ketika itu seorang mahasiswa sejarah menghampiri dan bertanya kepadanya, “Mengapa orang menghancurkan buku-buku? Bukankah Anda ahlinya?”

Pertanyaan tersebut ibu Lita jelaskan secara gamblang kepada kami yang hadir. Menurutnya dalam buku yang merupakan hasil penelitian Baez selama 12 tahun tersebut, Fernando Baez memaparkan sejarah penghancuran buku berdasarkan kronologi waktu yang dibagi dalam tiga bagian, mulai dari Zaman Dunia Kuno, Byzantium hingga abad ke 19, dan dari abad ke 20 hingga sekarang. Di bagian pertama Baez mengemukakan bahwa penghancuran buku dalam sejarah dimulai di Sumeria di mana di tempat itu buku muncul untuk pertama kali dalam peradaban manusia. Berdasarkan temuan arkeologis pada 1924, ada 100.000 buku yang saat itu masih dalam bentuk tablet (lempengan yang dibuat dari tanah liat) telah hancur akibat perang yang terus berkecamuk di wilayah itu. Ibu Lita juga menerangkan kejadian penghancuran buku di Mesir, Yunani, Israel, Cina, Romawi, beserta kisah berdiri dan runtuhnya perpustakaan Alexandria dan perpustakaan kuno lainnya. Dengan gaya bahasa yang mudah dicerna ibu Lita mengungkapkan bagaimana buku dihancurkan dengan berbagai cara, nah yang mengejutkan ternyata Plato juga pernah membakar buku lho.

Selain karena perang, penghancuran buku ternyata juga dilakukan oleh otoritas gereja terutama untuk buku-buku yang dianggap sesat/bid’ah. Semua buku yang dianggap sesat dibakar di muka umum, bahkan tidak hanya buku, penulisnya pun kerap dibakar bersama dengan buku-bukunya yang ditulis. Mengerikaaaan, kami mendengarnya sampai bergidik.

Ibu Lita juga mengingatkan kami bahwa hal lain yang secara tidak langsung menghancurkan buku adalah sang pemilik buku yang membiarkan bukunya begitu saja dan tak ingin membacanya. Ia mengutip quote salah satu penulis “Setiap buku yang dihancurkan adalah paspor menuju neraka”. Jleb, aku seperti disindir.

Setelah penyampaian materi yang cukup panjang namun menyenangkan, akhirnya dibukalah sesi bertanya. Ternyata yang bertanya banyak juga, dan pertanyaan yang dilontarkan bagus-bagus sekali. “Bagaimana caranya untuk menjaga buku dengan baik dan benar?” tanya seorang peserta. “Musuh utama buku adalah pemiliknya,” ujarnya mantap, “Beberapa cara untuk menjaga buku adalah menjaga kkelembapan buku agar lembaran buku tidak menguning serta menaburkan merica disekitar buku, agar buku tidak dirusak serangga,” tandasnya.

Aku kagum karena buku ini mampu merangkai sejarah penghancuran buku dari masa ke masa dalam rentang waktu 55 abad diseluruh dunia termasuk Indonesia. Walau Indonesia memiliki sejarah panjang juga tentang pemberangusan buku, namun dalam buku ini hanya disebutkan satu kasus saja yang terjadi pada 2007 silam. “Atas alasan yang lebih politis, pada 2007 pihak berwenang di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan, Indonesia juga membakar lebih dari 30.000 buku ajar SMA dihadapan para siswa. Buku-buku itu tidak sejalan dengan sejarah versi pemerintah tentang usaha kudeta tahun 1965 di Indonesia, yang selama puluhan tahun dikambinghitamkan pada orang-orang komunis,” tambah ibu Lita.

Sesi demi sesi kami lalui, kami seperti dibawa menjelajah ke masa lalu, sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Sejarah penghancuran buku lewat paparan Fernando Baez membuka mata kami akan besarnya pengaruh buku. Buku mampu membuat mereka yang haus akan kekuasaan ketakutan sehingga mereka harus memusnahkan ingatan dan budaya daerah kekuasaannya dengan cara membakar buku-buku yang ada.

Semoga aku bisa menjadi orang yang lebih cinta akan buku, karena buku itu jendela dunia yang tak tergantikan.