Pengusaha Sukses itu Harus Sabar

6

Dibalik kesuksesan seorang kak Syaiful Burhan, alumni  SMART angkatan 2, ternyata tak lepas dari peran kak Sahid Ismail. Kak Sahid Ismail merupakan alumni SMART angkatan 1, ia merupakan inspirasi kak Burhan dalam menjalankan usahanya. Kak Sahid telah lebih dulu menjalankan usaha miliknya, bisa dibilang saat ini ia telah berada di puncak karir.

Kak Burhan kini tengah menjalankan kuliahnya di USU (Universitas Sumatera Utara), selain sibuk kuliah, kini ia juga sibuk mengembangkan usahanya, “Molen Arab”.

Lahir di Pemalang pada 30 Maret 1993 dari seorang penjual es keliling dan guru honorer menjadikan dirinya merasa memiliki tanggungjawab untuk memperbaiki kondisi keluarga, terlebih lagi ia adalah anak tertua dari enam bersaudara. Sehingga ia memikirkan cara agar minimal “Tidak minta dari orang tua,” ungkapnya. Sejak duduk di bangku SD ia sering berjualan gorengan untuk membantu orangtua dan juga untuk menambah uang saku. Bahkan saat kelas 5, ia pernah menjadi pemulung barang bekas.

Dari dulu ia tidak pernah bercita-cita sebagai pengusaha. Cita-citanya sejak kecil ialah menjadi Fisikawan dan Menristek. Namun, ia juga pernah berpikir untuk menjadi pengusaha. Pengalamannya berjualan saat masih SD ternyata mendorongnya melakukan usaha. Usaha yang dijalankannya saat ini ternyata lahir dari kondisi “kepepet”, karena saat itu merupakan masa tersulit selama ia berkuliah. Kala itu, adiknya harus dioperasi dan orangtuanya harus mengeluarkan banyak uang, dan saat itu pula sebulan lagi ia harus membayar uang sewa tempat tinggalnya sebesar Rp 2 juta. Untuk membayar uang sewa tersebut, ia pun meminta kepada orangtuanya dan orangtuanya memberikan uang sebesar Rp 2,5 juta.

Ia berpikir bahwa uang 500 ribu dari sisa membayar uang sewa tidak akan cukup untuk biaya hidupnya. Sehingga ia memberanikan diri menaruhkan uang Rp 2,5 juta untuk dijadikan modal menjalankan usaha. Ia juga memiliki kekhawatiran akan tempat tinggalnya, jika ia tidak bisa menjalankan usahanya dengan baik, maka ia tidak akan punya tempat tinggal.

Awalnya ia bingung ingin usaha apa, yang ia tahu adalah ia hanya ingin usaha makanan karena jika tidak laku masih bisa dimakan olehnya, ia bingung makanan apa yang akan ia jual. Hingga ia teringat bahwa saat masih bersekolah di SMART, ia sering makan molen yang ukurannya besar, selain itu ia juga suka sekali dengan molen. Dari situ ia mendapatkan ide untuk berjualan molen yang ukurannya besar, yang ia namai Molen Arab.

Awal menjalankan usaha ia bekerja sendirian, selama seminggu ia memasarkan Molen Arabnya dan ternyata mendapatkan respon baik dari konsumen. Saat itu ia merasa tidak sanggup bekerja sendirian dan “udah mau mati,” ungkapnya. Dua bulan pertama ia bekerja begitu keras sendirian hingga hampir menyerah, motivasi dari kak Sahid  yang membuatnya tetap bertahan. Di dua bulan tersebut, ia hanya bisa tidur tak lebih dari dua jam. Di sela-sela waktu tidurnya yang pendek tersebut ia selalu menjalankan saran dari ustad Syahid, guru kami di SMART, untuk melaksanakan qiyamulail. Merasa tidak sanggup bekerja sendirian, ia mengajak tiga orang temannya yang juga lulusan SMART untuk bekerja dengannya, tiap orang ia gaji Rp 600 ribu.

Semenjak itu usahanya terus berkembang dan ia pun mulai mencari agen untuk menjual Molen Arab kreasinya. Kini ia telah memiliki 50 karyawan yang terdiri dari 11 orang yang bertugas memproduksi Molen dan sisanya bertugas untuk memasarkan molen tersebut. Dan saat ini ia mengandalkan asisten pribadinya untuk mengatur usahanya tersebut.

Respon yang baik dari masyarakat membuat kak Burhan ingin mengembangkan bisnis yang ia bangun. Rencananya ia akan membuat PT (Perseroan Terbatas) dan ingin membuka kafe. Kafe bertema pisang akan ia gadang, jelas seluruh menunya akan berhubungan dengan pisang, seperti pancake, lasagna, es krim, keripik, peyek, dan lain-lain.

“Insya Allah, pada September nanti usaha saya akan memperbanyak produksi, dari yang sebelumnya sebanyak 2000 molen per hari, menjadi 4000 molen per hari. Selain itu saya juga harus menambah karyawan, dan sepertinya akan membuat shift agar lebih efektif. Jadi akan dibagi dalam tiga waktu,” ungkapnya.

Itu semua ia lakukan karena banyaknya pesanan yang ia terima, mulai dari Jakarta hingga Sumatera seperti ingin merasakan kenikmatan Molen Arab buatannya. Namun ia belum berani menerima pesanan tersebut karena sulit mengirim molen tetap bagus kualitasnya hingga ke Jakarta atau Sumatera. Selain lewat pemesanan, ia juga memasarkan molennya di kampus-kampus di Medan. Selain itu, ia juga akan memperluas wilayah pemasarannya menjadi tujuh kampus. Selain lewat kampus, ia juga memiliki outlet berlantai dua; lantai satu dijadikan kantor, sedangkan lantai dua dijadikan tempat produksi. Di outlet tersebut produksi dilakukan, dan biasanya pukul 14.00,2000 molen telah habis terjual. Dari molen-molen tersebut ia meraih omset Rp 8 juta per harinya, bahkan pernah sampai Rp 16 juta sehari.

Selain itu, ia juga menggunakan dunia maya untuk mempromosikan molennya, khususnya blog dan website. Kemampuan nge-blog yang ia dapat di SMART begitu bermanfaat. Namun karena sekarang makin sibuk, ia telah jarang mengurus blognya (www.buffhans.com). Dalam waktu dekat ia akan merekrut orang untuk mengurus laman web Molen Arab yanf beralamat di www.molenarab.com. Website tersebut khusus untuk usaha yang akan memudahkan konsumen untuk memesan molennya. Selain itu, web Molen Arab juga berfungsi sebagai media informasi bagi konsumen mengenai hal terbaru dari usahanya.

Menurut Kak Burhan, posisinya saat ini tak lepas dari dukungan orangtua dan juga kak Sahid Ismail yang telah memberinya banyak motivasi dan menjadi inspirasi baginya. Selain itu, SMART berperan besar baginya terutama dalam hal mental dasar, seperti kemandirian. Dan ia tidak pernah lupa motivasi dari Ustadzah Latifah, “Jadilah ikan besar di kolam yang kecil daripada menjadi ikan kecil di kolam yang besar”.

#SMARTSemangat #MembentangKebaikan