Perubahan di Ujung Doa

Pukul 16.15, sekolah sudah mulai sepi. Hanya beberapa siswa yang masih beraktivitas di beberapa kelas. Ada yang remedial, ada yang , ada yang mempersiapkan acara OASE, ada juga yang sekadar mengobrol bersama teman-temannya. Aku sendiri masih menunggu dua orang siswa. Aku memutuskan untuk memanggil mereka setelah selesai rapat penilaian Ujian Akhir Semester (UAS) semester ganjil.

“Ustadz memanggil saya?” kata seorang siswa setelah mengucapkan salam.

“Iya,” jawabku, “silakan duduk. Mana Fajar?”

Dua siswa yang aku panggil adalah Dian dan Fajar. Dian sudah berada di depanku, tapi Fajar belum datang. Mereka berdua adalah siswa kelas 4 SMART Ekselensia Indonesia.

“Saya tidak ketemu, Ustadz. Tapi dia sudah tahu kok,” jawab Dian.

Tatapanku tajam pada muka Dian. Ia tampak penasaran karena tidak tahu alasan aku memanggilnya.

“Ya sudah, mungkin Fajar tidak datang, nanti saja menyusul,” kataku.

“Memangnya ada apa, Ustadz?” tanya Dian penasaran.

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menyampaikan berita itu padanya. Mungkin bagi sebagian guru hal ini wajar-wajar saja, tapi tidak untukku. Begitu juga untuk anak itu seharusnya. Mata pelajaran yang aku ajarkan adalah mata pelajaran wajib jurusan. Setiap siswa yang mengambil jurusan IPA harus lulus pelajaran ini.

“Kamu masih ingat, dulu di awal semester saya pernah memanggil kamu sama Fajar?” kataku dengan nada rendah dan agak berat.

“Iya, Ustadz.”

“Dulu saya mengingatkan kamu bahwa dengan cara belajar, sikap, dan semangat kamu yang seperti itu, kamu sulit untuk lulus pelajaran saya,” kataku lagi.

“Iya, Ustadz, saya ingat.” Dian menunduk, mungkin ia sudah bisa menebak apa yang akan aku sampaikan. Fisika. Mayoritas anak SMA merasa bahwa pelajaran ini cukup sulit untuk dikuasai. Bahkan ada yang menganggap lulus saja sudah cukup. Tidak usah mengharapkan nilai yang muluk-muluk. Aku sendiri saat masih pelajar SMA juga merasakan bahwa Fisika itu tidak mudah. Akibatnya, guru Fisika sering kali merasa bahwa siswa harus berusaha lebih keras agar mendapatkan nilai baik. Tidak sedikit guru yang terkesan galak agar para siswanya bisa menjaga keseriusan dan konsentrasi selama belajar Fisika.

“Saya baru selesai rapat nilai. Dan kamu, maaf, belum lulus.”

Dian terdiam. Aku tidak tahu apa kira-kira yang ada dalam benaknya saat itu. Tapi bisa jadi ini adalah sesuatu yang berat bagi dia, mengingat bahwa nilai Fisika menentukan naik kelas atau tidaknya siswa jurusan IPA. Tetapi karena ini baru nilai UAS semester ganjil, maka tidak berpengaruh pada kenaikan kelas, asalkan saat ujian kenaikan kelas hasilnya bagus.

Ketika rapat nilai bersama guru-guru SMA, wali kelas, wakil kurikulum, dan kepala sekolah, tidak sedikit yang terkejut dengan ketidaklulusan kedua siswaku itu. Terkejut karena khawatir nilai itu akan berpengaruh pada saat SNMPTN Undangan. Ada peserta rapat yang menyarankan kepadaku agar kedua siswa itu diberi kesempatan untuk memperbaiki nilainya. Tetapi, guru-guru yang lain mengingatkan bahwa nilai hasil rapat hari itu adalah final dan sudah tidak bisa diubah lagi. Aku sendiri bertanggung jawab penuh atas nilai yang kuberikan. Sebenarnya bisa saja aku memberikan beberapa tugas tambahan sebelum rapat nilai untuk mendongkrak nilai mereka. Tapi, jauh dalam batinku bertanya: apakah ini esensi dari pendidikan yang aku berikan pada mereka, siswa-siswaku? Apakah memang orientasinya angka-angka saja? Aku yakin tidak. Biarlah nilai kedua anak itu apa adanya agar mereka bisa belajar dari sana bahwa nilai sebesar itulah yang bisa mereka peroleh dengan tingkat usaha yang mereka lakukan selama ini.

“Sebenarnya, mungkin wali kelasmu akan menyampaikannya pula. Menyampaikan nilai apa saja yang belum lulus atau perlu ditingkatkan lagi. Tapi, saya ingin menyampaikannya sendiri.”

“Iya, Ustadz,” jawab Dian singkat.

Sepertinya aku tidak melihat raut sedih di wajahnya. Entah aku salah mengira, atau Dian berusaha tegar, atau memang ia tidak sedih dengan nilai yang diperolehnya.

“Saya berharap, di semester depan kamu lebih sungguh-sungguh. Ingat, Fisika adalah mata pelajaran jurusan sehingga jika kamu tidak lulus, maka kamu tidak naik kelas.”

Dian hanya terlihat mengangguk tanpa berkata sepatah kata pun. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Padahal, dalam hatiku, aku merasa banyak sekali yang ingin disampaikan, ingin sekali ketidaklulusannya kujadikan kayu bakar untuk membakar semangatnya sehingga ia bisa mencapai nilai lebih baik di masa depan, tidak hanya semester berikutnya. Ingin sekali aku mengingatkan Dian bahwa ia adalah siswa terpilih; bahwa dalam dirinya terkandung potensi yang sangat besar untuk tumbuh menjadi seorang siswa yang sangat cerdas karena hasil tes tingkat kecerdasannya memang menunjukkan bahwa kemampuannya di atas rata-rata. Entah mengapa, semua itu tidak keluar dari mulutku.

“Baiklah kalau begitu, kamu boleh kembali ke asrama,” kataku menutup pertemuan.

“Baik, Ustadz, makasih Ustadz.” Dian kemudian keluar dari ruangan kelasku setelah bersalaman dan mengucapkan salam.

Adapun Fajar, anak ini mulai menarik perhatianku ketika rapat pra-penjurusan. Guru Bimbingan Konseling mengabarkan bahwa Fajar ingin sepertiku, kuliah di Institut Teknologi Bandung. Tapi waktu itu, di kelas 3 semester 1 ia tidak menunjukkan sikap belajar seperti yang diinginkannya. Guru-guru pun tidak merekomendasikannya masuk IPA, tapi IPS. Berdasarkan informasi dari guru BK itu, selama semester 2 aku memerhatikannya; sikapnya, belajarnya, motivasinya, dan nilai-nilainya. Alhamdulillah, ada peningkatan sehingga di rapat penjurusan aku menyetujui Fajar masuk IPA.

Sayangnya, saat semester 1 kelas 4 itu, lagi-lagi kebiasaan ia semasa kelas 3 muncul. Bukan sekali dua kali aku memergokinya sedang mengisengi temannya dengan mencopot tali sepatu atau hal-hal lain. Sering ia malah berjalan-jalan dan ketawa-tawa di dalam kelas ketika aku memberikan tugas sehingga aku tidak bosan-bosan memanggil dan mengingatkannya. Karena tidak ada perubahan sikap dalam belajar, nilai Fisikanya di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Ia pun terancam tidak lulus dalam pelajaran ini.

Beberapa hari setelah pemanggilan Dian, Fajar datang ke ruanganku. Pertama-tama aku tanya kenapa dirinya tidak hadir pada hari ketika aku menungguinya. Kemudian aku menyampaikan hal yang sama dengan yang aku sampaikan pada Dian. Dan respons Fajar pun tidak jauh berbeda seperti Dian.

Semester 2 dimulai setelah siswa-siswa pulang kampung. Aku tidak henti-hentinya mengamati sikap Dian dan Fajar. Aku bahagia melihatnya. Ada harapan besar. Mereka berubah, mereka lebih rajin dan lebih serius di kelas. Meskipun sesekali keusilan Fajar muncul, aku tetap bahagia karena sudah jauh lebih baik dibandingkan semester 1. Hasil dari perubahan sikap mereka berdua adalah pada ulangan-ulangan Fisika nilai mereka selalu di atas KKM. Bahkan pada ulangan terakhir tentang termodinamika, Fajar memperoleh nilai di atas 90, sedangkan Dian 80-an. Subhanallah. Mahasuci Allah, Dzat yang mampu membolak- balikkan hati hamba-Nya. Semoga Allah menetapkan hati mereka pada kesungguh-sungguhan, keimanan, ketaatan, dan kecintaan pada-Nya. Yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa,’alaa diinika, wa’alaa thaa’atika. [] (Agus Suherman)

*Diambil dari buku “Marginal Parenting”