Piala Pertamaku

Siang itu, kami para siswa tangguh SMART Ekselensia Indonesia dan beberapa ustadz pergi ke Masjid Raya Kahuripan. Kami semua sangat bersemangat dalam perjalanan kali ini walaupun harus berjalan kaki dan terkadang berlari. Setelah berjalan dan berlari akhirnya berangsur-angsur kami sudah sampai ke tempat tujuan. Di sana para ustadzah yang pergi dengan naik kendaraan masing-masing sudah menunggu kedatangan kami.

Sebelum Shalat Zuhur dan makan siang, para siswa diminta ke lantai dua masjid. Inilah saat untuk asyik-asyikan. Ustadz Ahmad sudah mempersiapkan beberapa permainan yang akan kami mainkan per kelas. Kunci dari permainan-permainan ini adalah kerja sama tim yang baik. Permainan ini dimulai dari memindahkan bola kecil dengan menggunakan paha. Cara bermainnya adalah seluruh siswa duduk berjejer, lalu cara memindahkan bolanya dengan mengoperkannya dari satu paha ke paha yang lainnya.

Permainan selanjutnya tidak kalah seru, yaitu satu siswa dengan siswa yang lainnya per kelas harus menduduki paha temanya, dan temanya itu juga harus menduduki teman yang lainnya lagi. Permainan pun dimulai, kami pun saling menduduki paha teman satu dan yang lainnya. Awal-awalnya sih biasa saja. Tetapi, selang beberapa menit, rasa pegal pun mulai merambat. Satu per satu kelompok mulai berjatuhan hingga 15 menit. Akhirnya permainan pun dihentikan dan menyisakan empat kelompok sebagai pemenangnya.

Setelah semua permainan selesai, kami melaksanakan shalat berjamaah. Setelah itu kami diminta untuk mengambil nasi boks yang telah disediakan untuk makan siang. Setelah membuka boks makan, yang kulihat adalah… hati. Oh tidak! Dari kecil aku memang kurang menyukai yang namanya jeroan. Untunglah di dalam boks itu juga ada buah kesukaanku, semangka. Yes, alhamdulillah. Ternyata bukan hanya terdapat kekurangan tetapi juga ada kelebihannya.

Kami pun menunggu jemputan pulang. Sambil menunggu, aku bermain-main dengan teman-teman. Karena capek berdiri terus, aku pun duduk di teras dan kebetulan di samping kiriku ada Ustadzah Dina dan Ustadzah Iif. Di sana saya mengobrol dengan teman di samping kananku.

Beberapa saat kemudian Ustadzah Iif baru menyadari kehadiranku. “Eh ada Opick.”

“Bukannya Opick itu nama panggilan Ade Mustopic?” tanya Ustadzah Dina kepada Ustadzah Iif.

“Iya, tapi Rafi di rumahnya juga dipanggil Opick,” jawab Ustadzah Iif.

Ustadzah Dina berseru tanda paham. Kemudian mereka mengobrol, entah membicarakan apa.

Beberapa saat kemudian obrolan kedua guruku berakhir.
“Pick, siap-siap lomba ya!” Tiba-tiba Ustadzah Iif berkata padaku.
“Lomba Dzah?” Aku bertanya.
“Iya,” jawab Ustadzah Iif beberapa saat kemudian.
Aku pun berkata dalam hati, “Yes, akhirnya lomba juga!”

Aku begitu riang. Maklumlah, dari kelas 1 sampai saat itu aku belum pernah mengikuti lomba resmi.

Beberapa hari kemudian aku diberikan contoh soal Olimpiade Matematika oleh Kak Afdhal Firman. Soalnya susah-susah juga, batinku. Ternyata yang mengikuti lomba bukan hanya aku. Ada lima orang lainnya, yaitu teman seangkatanku Ade Mustopic, dan sisanya siswa Angkatan 8, yaitu Kak Fatih, KaK Afdhal, Kak Muhib, dan Kak Dion. Kami dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Kak Fatih, Kak Afdhal; sisanya tergabung dalam kelompok kedua.

Inilah hari pertama kami mengikuti Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten Bogor. Sekitar pukul 06.30 kami sudah siap untuk berangkat ke MAN 2 Bogor, tempat pelaksanaan lomba. Sambil menunggu pelaksanaan dimulai, kami mengerjakan Shalat Dhuha terlebih dahulu di Masjid Raya Bogor, menyusul kemudian berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam mengikuti lomba.

Kami kembali ke MAN 2 Bogor untuk mengikuti acara pembukaan. Setelah selesai pembukaan, para peserta pun memasuki ruangan lomba yang sudah disediakan. Ruangannya cukup sederhana dengan kursi dan meja yang terbuat dari kayu. Juga ada kreasi siswa yang menghiasi dinding ruangan itu.

Para pengawas yang merupakan mahasiswa mulai membagikan soal olimpiade dan juga kertas buram untuk corat-coret. Beberapa menit kemudian kami pun mulai membuka soal dan mengisi biodata kami. Berikutnya kami mulai mengerjakan soal.

Menit demi menit berlalu. Akhirnya waktu pun habis dan kami berhasil menjawab 14 soal dari 25 soal. Setelah itu kami pun langsung keluar kelas lalu kemudian melaksanakan Shalat Zuhur. Setelah shalat kami langsung makan di rumah makan padang sebelum akhirnya kami pulang.

Beberapa saat kemudian, kami pun mendapatkan informasi bahwa kami lolos ke babak selanjutnya, yaitu olimpiade tingkat provinsi di Bandung. Alhamdulillah, kelompokku lolos, namun ternyata kelompok Ade Mustopic belum berhasil lolos.

Dalam perlombaan tingkat provinsi kami menghadapi dua sekolah yang dikenal tangguh. Kami sudah berusaha keras, dan hasilnya kami meraih juara ketiga. Meskipun belum hasil sebagai juara pertama, aku senang sekali memberikan piala untuk SMART. Itulah piala pertamaku dan piala pertama di Angkatan 9. Semoga piala tersebut bukanlah piala pertama sekaligus piala terakhirku. Semoga aku masih bisa mendapat juara lagi ke depannya.

Kontributor : M. Fatihkur Rafi